|
| Saran & Komentar | updated on 30 March 2012 |
|||||||
|
CahayaPengharapanMinistries Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan |
|||||||
|
|
|||||||
|
Ucapan Bahagia Dan Doa Bapa Kami Matius 5:3-12 - Pesan Yang Terakhir Dari 10
Tentang 'Ucapan Bahagia' Hari ini kita melanjutkan pelajaran kita akan Firman Allah dalam Khotbah di Bukit. Kita akan terus meneliti Ucapan Bahagia dalam Matius 5 karena terdapat banyak kekayaan disini yang belum kita pertimbangkan. Minggu lalu kita telah melihat hubungan antara buah Roh and Ucapan Bahagia. Kita sudah melihat, seperti dikatakan oleh Paulus di Galatia 6:8, jika kita menabur di dalam Roh, dari Roh itu kita akan menuai hidup yang kekal. Apa artinya menabur di dalam Roh? Nah, kita telah melihat jawabannya di Khotbah di Bukit dan khususnya di Ucapan Bahagia. Banyak kali sebagai seorang Kristen yang baru bertobat, saya bertanya-tanya pada diri saya: ketika Tuhan Yesus berkata, "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu!" [Luk. 13:24] , apa artinya 'berjuanglah'? Apa sebenarnya sih yang harus saya lakukan? Nah, andainya saya melihat satu pintu dan saya diberitahu untuk berjuang untuk masuk melalui pintu itu, saya tahu apa yang harus dilakukan. Saya mengeluarkan sedikit upaya untuk melalui pintu itu. Tapi secara rohani saya tidak tahu apa artinya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan untuk "berjuang untuk masuk melalui pintu yang sesak itu". Namun sekarang kita menemukan jawabannya tepat di sini dalam Ucapan Bahagia: yaitu kita harus berusaha untuk menjadi miskin di hadapan Allah. Kita harus berusaha untuk berdukacita atas dosa, berusaha menjadi lemah lembut, menjadi haus dan lapar akan kebenaran dan sebagainya. Kita menjadikan semua hal ini menjadi gol [atau, tujuan] yang harus dicapai di dalam kehidupan kita. Kita berusaha mencapai hal-hal rohani melalui
anugerah Allah Sebagai misal, buah Roh. Buah Roh adalah kasih, sukacita, damai sejahtera dan hal-hal indah seperti itu. Buah yang pertama dan yang terutama adalah kasih. Tapi sekalipun kasih merupakan buah Roh, kasih juga adalah satu perintah bagi kita. "Kasihilah Tuhan Allahmu." [Mat. 22:37] "Kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri." [Mat. 22:39] Anda harus saling mengasihi. Tuhan Yesus mengatakan di Yohanes 15:12, "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi." Jadi, di satu pihak, ia merupakan satu perintah untuk ditaati; dan kita harus berusaha untuk taat (berarti, kita harus berusaha untuk mencapainya), dan di lain pihak, ia adalah sesuatu yang dilakukan Allah dalam diri kita. Tidak ada pertentangan di dalam Alkitab sama sekali: karena Allah yang memungkinkan kita untuk melakukannya. Kita mendapati hal yang sama, berulang-ulang kali, dalam ajaran Paulus. Di satu pihak Paulus memberitahu kita bahwa kasih adalah buah Roh, dan di lain pihak ia juga memberitahu kita bahwa kasih adalah sesuatu yang kita kejar, sesuatu yang harus diperjuangkan, sesuatu yang harus dicapai lewat usaha. Di 1 Korintus 14:1 Paulus mengatakan, "Kejarlah kasih." Jadikan kasih sasaranmu! Kata Yunani itu berarti "mengejar", "berlari-lari mengejar" kasih supaya mencapainya. Jadi di satu pihak ia adalah satu perintah, namun di lain pihak ia adalah sesuatu yang harus dicapai - dicapai oleh anugerah Allah. Jadi terdapat pekerjaan Allah dan kerinduan kita akan pekerjaan Allah di dalam diri kita. Keduanya saling mengimbangi. Ini bukanlah suatu pertentangan di dalam firman Tuhan. Kedua pernyataan itu harus dipandang sebagai dua pernyataan yang sejajar dan bukan dua isu yang bertentangan. Dengan cara yang sama, sebagai misal, buah Roh di Gal. 5:22-23 adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesetiaan, kelemahlembutan dan hal-hal seperti itu. Di 2Tim. 2:22 Paulus menasihati Timotius untuk menjadikan hal-hal ini sebagai gol. Timotius harus mengejar kasih dan damai dan kesetiaan dan kekudusan. Hal-hal seperti ini harus dia kejar. Dengan kata lain, kita harus 'berjuang' untuk mendapatkan buah Roh. Kita harus berusaha untuk mencapai buah Roh. Ia harus menjadi gol kita, arah kita. Kita mendapati hal yang sama di seluruh Firman Allah. Firman Allah memberitahu kita bahwa Allah yang menyelamatkan kita. Namun begitu, kita juga diperintahkan untuk menyelamatkan diri kita. Rasul Petrus di Kisah 2:40 dalam khotbahnya kepada penduduk Yerusalem mengatakan, "Selamatkanlah dirimu dari angkatan yang jahat ini." Jadi, siapa yang menyelamatkan? Apakah Allah yang menyelamatkan atau kita yang menyelamatkan diri kita? Apakah Allah yang menyelamatkan kita? Atau, apakah kita menyelamatkan diri kita? Nah, sekali lagi kita melihat bahwa Firman Allah tidak melihat kontradiksi dalam hal ini. Allah yang menyelamatkan kita. Tapi Ia tidak menyelamatkan kita tanpa mempertimbangkan kehendak kita. Berarti, jika kita menolak keselamatan, Allah tidak akan memaksakan keselamatan kepada kita. Ia menyelamatkan kita bukan tanpa kerjasama kita. Lalu bagaimana kita menyelamatkan diri kita? Nah, dalam perikop yang sama, Petrus memberitahu mereka bahwa pertama-tama, kita harus bertobat. Jadi Kisah 2:38 menyatakan, "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis." Bahkan sebelum ini, di ayat 21, kita diberi tahu satu hal lagi yang harus dilakukan, kita harus berseru kepada nama Tuhan. Jadi kita menyelamatkan diri kita dengan menyediakan diri kita untuk diselamatkan melalui pertobatan dan berseru kepada nama Tuhan. Hal-hal ini harus kita lakukan supaya Allah menyelamatkan kita. Jadi gambarannya sedikit seperti ini: Allah mengulurkan tangan-Nya untuk menyelamatkan kita, tapi kita harus juga mengulurkan tangan kita untuk memegang tangan-Nya. Itulah tindakan iman. Jika Ia tidak ada disitu untuk menyelamatkan kita, kita tidak ada harapan sama sekali. Percuma kita mengulurkan tangan kita. Jika anda sedang tenggelam di tengah laut dan tidak ada orang disitu untuk menyelamatkan anda, anda bisa terus mengulurkan tangan anda dan berteriak sekuat hati, itu tidak akan menolong anda sama sekali. Tapi jika terulur suatu tangan yang siap untuk menyelamatkan anda, anda bisa mengulurkan tangan anda dan memegang tangan tersebut. Itu adalah bagian yang harus kita lakukan. Sebagai contoh lagi, Yesus mengatakan, "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu, karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kehidupan." Kehidupan adalah suatu anugerah, tapi kita harus berjuang untuk mencapainya. Dengan kata lain, pintu itu terbuka bagi kita, namun Allah tidak memaksa kita masuk ke dalam pintu itu. Kita harus berjuang untuk masuk ke dalam melalui pintu itu. Jika Allah tidak membuka pintu itu, anda bisa berjuang sekuat hati anda, tapi anda tidak mungkin dapat masuk. Jika Ia tidak membuka pintu itu dalam kemurahan-Nya, anda tidak mungkin bisa masuk, tidak kira berapa banyak anda berjuang. Tapi dalam kemurahan-Nya Ia telah membuka pintu itu untuk kita. Ia telah membuka pintu itu. Ia telah menyediakan kehidupan bagi kita. Ia memberikan kehidupan ini dalam Kristus Yesus. Namun begitu kita harus berjuang untuk masuk melalui pintu itu. Jadi saya mau anda memperhatikan dua faktor ini dengan jelas: bahwa tidak terdapat semacam kontradiksi di dalam firman Tuhan diantara anugerah Allah di satu pihak, dan usaha kita di lain pihak. Kedua-duanya dibutuhkan.
Allah memberikan
anugerah dan kita berpegang padanya Itulah sebabnya sewaktu saya membahaskan Ucapan Bahagia, saya sentiasa menekankan bahwa hanya Allah yang dapat memungkinkan kita menjadi semua itu, yaitu, menjadi miskin di hadapan Allah, menjadi lemah lembut, untuk menjadi, singkatnya, seorang manusia baru. Tapi kitalah yang harus menghendaki hal-hal itu, dan tidak hanya menghendaki dengan cara yang samar-samar, tapi amat menghendakinya, hingga "berlari-lari mengejarnya", mengutip kata-kata Paulus di Filipi 3:12 . Jadi kita harus memperhatikan kedua aspek ini dengan seksama. Hanya setelah kita memahami kedua aspek ini dengan sepenuhnya dan dengan jernih, kita dapat menghindari bermacam-macam kekeliruan rohani. Saat kita memahami hal ini, kita berada di dalam posisi yang lebih baik untuk memahami Ucapan Bahagia karena, pertama-tama, kita harus menghendakinya, kita harus hendak menjadi miskin di hadapan Allah. Jika kita bahkan tidak mau menjadi miskin di hadapan Allah, bagaimana Allah dapat menjadikan kita miskin di hadapan-Nya? Apakah Ia entah bagaimana memaksa anda menjadi miskin di hadapan-Nya? Jika Ia melakukan itu, kita semua secara otomatis akan diselamatkan. Kita semua secara otomatis akan menjadi miskin di hadapan Allah. Kita semua akan menjadi lemah lembut. Semuanya akan baik-baik saja di dalam gereja. Tapi apakah kita melihat orang-orang di gereja miskin di hadapan Allah? Apakah kita melihat orang-orang di gereja lemah lembut? Apakah kita melihat orang-orang sangat lapar dan haus akan kebenaran? Apakah setiap orang di dalam gereja lapar dengan cara ini? Tentu saja tidak! Apakah anugerah-Nya tidak cukup bagi kita? Atau apakah Allah tidak berbuat apa-apa sama sekali? Apakah anugerah-Nya tidak berkesan? Tentu saja tidak! Lalu mengapa kita tidak semua miskin di hadapan Allah? Mengapa kita bukan manusia-manusia Allah yang besar sebagaimana seharusnya? Tentu saja tanggung jawab itu, saat anda memahami apa yang telah saya katakan sejauh ini, menjadi sangat jelas. Tanggung jawab itu terletak pada kita. Karena kita tidak menghendaki kemiskinan di hadapan Allah ini, kita masih hidup dalam kesombongan kita. Kita tidak mau menjadi miskin. Kita ingin menjadi kaya dalam roh. Kita ingin merasa cukup, bergantung pada diri sendiri. Kita tidak mau bergantung pada Tuhan. Dan saat kita tidak menghendaki hal-hal tersebut, maka tentu saja, kita tidak akan menjadi miskin di hadapan Allah, meskipun Allah, oleh kuasa-Nya, dapat menjadikan kita miskin. Namun kita tidak menghendakinya.
Bagaimana memahami
perhambaan kehendak Untuk mengatakan bahwa kehendak manusia diperhambakan sehingga ia tidak dapat menghendaki apa yang baik adalah palsu. Itu bertentangan dengan firman Tuhan. Pernyataan ini menyesatkan - dan saya berkata ini menyesatkan karena Paulus tidak pernah mengatakan bahwa kehendak manusia telah diperhambakan. "Aku dapat menghendaki apa yang baik......" Masalah saya bukan karena saya tidak dapat menghendaki, tetapi saya tidak dapat melakukannya. Kita semua tahu tentang azam (resolusi) Tahun Baru. "Pada tahun akan datang, aku akan berbuat ini dan berbuat itu. Aku akan bangun jam 7.00 pagi dari pada jam 8.00 pagi supaya aku dapat membaca Alkitab satu jam lebih dan berdoa lebih lama. Aku akan melakukan sedikit jogging dan sebagainya." Tidak lama kemudian, semuanya menjadi kabur. Saya dapat menghendaki tapi melakukan saya tidak tahu bagaimana. Saya entah mengapa tidak dapat melakukannya. Tidak ada perhambaan kehendak dalam pengertian kita tidak dapat menghendaki apa yang baik. Bahkan orang yang belum lahir kembali juga dapat membuat azam-azam yang baik. Ia dapat menghendaki apa yang baik. Ia dapat menilai apa yang baik. Masalahnya tidak terletak pada ketidakmampuan untuk menghendaki. Masalahnya, ia tidak dapat melakukan apa yang dihendaki. Hal ini benar bukan saja untuk orang yang belum lahir kembali. Saya pasti anda telah mendapati bahwa hal ini berlaku juga untuk orang yang telah lahir kembali. Sebenarnya saat kita datang pada hal-hal rohani, kita dapat sentiasa menghendaki hal-hal yang indah. Tapi kita tidak dapat melakukannya. Itulah masalahnya. Persoalannya ialah kita mungkin bahkan tidak menghendakinya. Saya bahkan tidak hendak menjadi miskin dihadapan Allah. Tapi jika saya mau, saya dapat menghendaki kemiskinan dihadapan Allah itu. Tidak ada perhambaan kehendak dalam hal ini. Kehendak manusia hanya diperhambakan dalam pengertian bahwa, meskipun ia dapat menghendaki, ia tidak dapat melakukannya. Hanya dalam pengertian ini kehendak itu diperhambakan. Dengan kata lain, kehendak itu tidak efektif. Anda tidak dapat melaksanakannya. Di sini sangat penting untuk kita membedakan diantara dua arti perhambaan kehendak ini. Kalau tidak, kita akan jatuh kedalam kesalahan yang serius. Karena jika kita berkata perhambaan kehendak berarti manusia tidak dapat menghendaki apa yang baik - dia bahkan tidak dapat menginginkan keselamatan - maka tentu saja ia tidak mungkin akan dapat berseru kepada nama Tuhan untuk diselamatkan. Jika begitu, tentu saja, kita kembali kepada satu posisi predestinasi: manusia itu sepenuhnya pasif dan apakah dia diselamatkan atau tidak bergantung sepenuhnya kepada apakah Allah telah memilihnya atau tidak. Jika Ia mau anda ke neraka, anda ke neraka. Anda tidak dapat berbuat apa-apa tentang hal itu. Anda tidak mungkin mempunyai keinginan untuk diselamatkan. Nah, ajaran ini tidak Alkitabiah. Paulus dengan jelas mengatakan di Roma 7, "kehendak memang ada di dalam aku" - apakah sudah lahir kembali atau belum. Aku dapat menghendaki apa yang baik. Aku tidak dapat melakukannya. Jika kita telah memahami hal ini, kita akan memahami seluruh ajaran tentang anugerah. Untuk dapat melakukanlah dimana kita membutuhkan anugerah. Saya bisa mempunyai keinginan untuk diselamatkan tetapi saya tidak dapat menyelamatkan diri saya. Namun begitu saya masih harus menginginkannya. Saya harus mempunyai keinginan untuk menyelamatkan diri saya. Saya harus ingin diselamatkan. Dan kemudian anugerah Allah datang dan secara efektif melakukannya. Jadi terdapat dua tahap. Pertama, anda paling tidak harus mempunyai keinginan untuk diselamatkan. Jika anda tidak ingin diselamatkan, apa yang dapat kami lakukan? Saat anda mempunyai keinginan untuk diselamatkan, anda kemudiannya harus bersungguh-sungguh berseru kepada nama Tuhan. Ini sangat penting. Jadi sekarang kita kembali ke Ucapan Bahagia, dan disini prinsip ini berlaku lagi. Pertanyaan pertama adalah: apakah kita ingin menjadi orang yang diberkati yang dibicarakan oleh Tuhan Yesus ini? Jika anda bahkan tidak ingin menjadi orang yang miskin di hadapan Allah, maka anda juga tidak lapar dan haus akan kebenaran; anda begitu mencintai dosa. Jika dosa begitu menyenangkan dan manis, tentu saja anda tidak mau haus dan lapar akan kebenaran. Itu jelas.
Ucapan Bahagia
harus dijadikan sebagai pokok doa
Menyelidiki
Kemungkinan Adanya Hubungan Antara Ucapan Bahagia dan Doa Bapa Kami Mari kita melihat hubungan itu. Dalam beberapa butir, hubungannya begitu jelas sehingga mengherankan mengapa tidak seorangpun, menurut pengetahuan saya, yang pernah memperhatikannya. Sebagai contoh, pas di tengah-tengah Doa Bapa Kami dikatakan, "Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya". Kalau kita memahami artinya, kita akan segera melihat hubungannya dengan haus dan lapar akan kebenaran. Namun kebanyakan orang yang berpikir "makanan yang secukupnya" ini merujuk kepada makanan jasmani! Tentu saja ini merupakan satu kekeliruan! Makanan yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus bukanlah makanan jasmani tapi makanan surgawi. Tuhan Yesus berkata, "Aku adalah roti hidup, bekerjalah bukan untuk makanan yang dapat binasa melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal." (Yoh. 6:27, 35, 41, 48) Andai saja kita memahami poin ini, kita pasti dapat melihat hubungan internal diantara Ucapan Bahagia dan Doa Bapa Kami. Tapi kita tidak. Ambil dua yang terakhir yang begitu jelas. "Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat." Apakah dua ucapan bahagia yang terakhir? Dua ucapan yang terakhir justru berhubungan dengan penganiayaan oleh sebab kebenaran (dari mana datangnya pencobaan) dan ucapan yang terakhir berbunyi, "kepadamu difitnahkan segala yang jahat...... Lepaskanlah kami dari pada yang jahat...." Disini kita seharusnya melihat hubungan itu dengan segera. Tapi herannya sejauh yang saya tahu tidak seorangpun yang pernah saya dengarkan yang melihat hubungan itu, meskipun hubungan itu tampaknya sedang terbelalak menatap kita. Jadi, Tuhan Yesus menjadikan Ucapan Bahagia itu sebagai pokok doa di bagian yang disebut Doa Bapa Kami itu. 1. "Bapa kami yang di surga" dan "miskin di
hadapan Allah" Anak-anak kecil adalah mereka yang tidak punya kedudukan di dunia ini. Mereka tidak berarti. Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Sesungguhnya jika kamu tidak merendahkan dirimu dan menjadi orang tak berarti di dunia ini" (seperti anak-anak kecil ini yang berlari keliling tanpa dipandang siapapun, tidak dihiraukan oleh siapapun karena mereka tak berarti. Mereka belum mencapai apa-apa; mereka belum menghasilkan apa-apa), "kecuali kamu menjadi seperti mereka, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga" - kecuali anda menjadi anak kecil, kecuali anda bisa berkata dalam kemiskinan roh, "Bapaku, aku bergantung sepenuhnya kepada Engkau. Aku tak berarti. Aku tak memiliki apa-apa. Aku hanyalah anak-Mu. Perhatikanlah aku." Hubungannya begitu jelas. Bagaimana mungkin kita melalaikan hubungan diantara Ucapan Bahagia dan Doa Bapa Kami ini? "Bapa kami"! Saya pikir tidak ada yang dapat dengan sungguh-sungguh memanggil Allah "Bapa" kecuali orang yang benar-benar miskin dihadapan Allah, orang yang telah menjadi anak kecil secara rohani. Dalam hubungannya dengan Allah, ia semata seorang anak yang bergantung sepenuhnya pada Dia. Apa yang dapat dilakukan oleh seorang anak kecil? Jika anda tidak keluar bekerja, anak anda akan mati kelaparan karena dia tidak bisa keluar cari makan. Anak anda itu tidak punya kekuatan atau pengetahuan maupun pengertian untuk melakukan apa-apa. Ia tidak dapat berlangsung hidup di dunia ini. Seorang anak kecil bergantung kepada bapanya selama dia masih seorang anak kecil. Itulah rupa hubungan kita dengan Allah. Kita menjadi anak-Nya. Kita tidak menaruh keyakinan pada diri sendiri. Kita tidak berusaha untuk memperoleh keselamatan kita lebih dari seorang anak kecil dapat memperoleh pendapatannya. Ia akan mati kelaparan. Anak perempuan saya sering bercakap-cakap dengan saya dan saya akan bertanya kepadanya, "Kamu ingin jadi apa setelah kamu besar nanti?" Nah, di tahap ini cukup sulit untuk memikirkan suatu pekerjaan yang dapat dilakukannya. Ia bahkan tidak dapat menyapu dengan betul. Apa yang dapat kamu lakukan? Apa yang dapat kamu lakukan untuk mendapat penghasilan? Seorang anak kecil tidak mempunyai sarana guna berlangsung hidup di dunia ini selain daripada belas kasihan orang-orang dewasa, terutama orangtuanya. Mereka tidak dapat bertahan. Dengan cara yang sama kita tidak dapat berlangsung hidup secara rohani. Kita bergantung secara total kepada Allah demi kelangsungan hidup kita. Bergantung secara total! Kita tidak ada pilihan lain. Jadi hanya setelah kita mengakui ketergantungan kita, kita dapat memanggil-Nya Bapa. Terkadang seorang anak kecil tidak menyadari ketergantungannya. Ia berpikir, "Aku dapat melakukannya!" Biarkanlah dia pergi dan lihat apa yang terjadi. Ia tidak bisa melakukannya, tapi terkadang ia pikir ia bisa. Jadi saat kita menyadari keadaan kita yang sebenarnya, dan kita menjadi miskin dihadapan Allah, hanya di saat itu kita dapat berseru, "Bapa kami yang ada di sorga....." Hubungannya begitu jelas, bukan? Tapi jelas hanya setelah dijelaskan. Jadi sekarang bagaimana dengan butir-butir yang lain? Semua butir yang lain mengikut dengan cara yang sama. Sebenarnya saya dapat menjejaki hubungan tersebut di begitu banyak tempat tapi waktu kita tidak cukup untuk ini. Saya dapat menunjukkan kepada anda, misalnya, bahwa Ucapan Bahagia itu dapat ditemukan dimana-mana dalam ajaran Paulus. Ajaran Paulus dipenuhi dengan setiap butir dari Ucapan Bahagia, dan ini menunjukkan betapa pentingnya Ucapan Bahagia itu dalam pemikiran Paulus. Sebenarnya seluruh doktrin keselamatan Paulus didasarkan pada kemiskinan dihadapan Allah ini - bahwa kita tidak dapat menyelamatkan diri kita dengan melakukan Hukum Taurat dan dengan usaha kita sendiri, tapi kita, seperti anak kecil, bergantung sepenuhnya kepada Allah. Roh Allah yang telah disuruh kedalam hati kita itu, yang memungkinkan kita untuk berseru di dalam kemiskinan roh, "ya Abba, ya Bapa." Disinilah letaknya seluruh dasar bagi teologia Paulus. Paulus memahami ajaran Tuhan Yesus dengan begitu baik dan sempurna. Dimana-mana, butir demi butir dari Ucapan Bahagia, dapat ditemukan diseluruh ajaran Paulus. Sebenarnya anda dapat menemukan semuanya bahkan hanya dalam satu surat - dalam surat biografinya, surat Filipi, surat yang saya sebutkan sebagai surat biografi Paulus. Anda dapat menemukan setiap butir dari Ucapan Bahagia di dalam surat ini. Misalnya dia berbicara tentang kehilangan segala sesuatu. Saat anda kehilangan segala sesuatu, anda menjadi miskin. Paulus menganggap semuanya sebagai sampah. Itu adalah kemiskinan di hadapan Allah! Ia menganggap semua itu tidak berharga supaya dia dapat memperoleh Kristus.
2. "Dikuduskanlah
Nama-Nya" dan "Suci Hatinya" 3. "Datanglah Kerajaan-Mu" dan "Berdukacita" Jadi, hubungannya agak jelas. Jika anda melihat dalam Perjanjian Lama, hubungannya juga sama jelas. Di Mazmur 80:6 pemazmur berbicara tentang air mata, tentang dukacita karena dosa. Di ayat 3 ia berkata, "Bangkitlah, datanglah untuk menyelamatkan kami! Pulihkanlah kami!" Atau di Mazmur 6:7-8 kita melihat hal yang sama. Kita membaca tentang tangisan dan dukacita atas dosa. Di ayat 5 kita baca disitu, "Kembalilah, TUHAN, selamatkanlah aku." Kembalilah dan selamatkan kami. Kembalilah. Datanglah padaku. Selamatkanlah aku. Kerinduan akan kedatangan Allah, karena kedatangan Kerajaan Allah adalah kedatangan Allah sendiri, yaitu, kedatangan Yesus. Jadi anda melihat hubungan yang terus menerus ini diantara dukacita atas dosa dan kerinduan akan kedatangan Allah untuk menyelamatkan. 4. "Jadilah kehendak-Mu" dan "lemah lembut" 5. "Berikanlah kami pada hari ini makanan yang
secukupnya" dan "lapar dan haus akan kebenaran" 6. "Ampunilah kami akan kesalahan kami" dan
"murah hati" 7. "Seperti kami juga mengampuni orang yang
bersalah kepada kami" dan "membawa damai" 8. "Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan"
dan "penganiayaan" Namun begitu, kita jangan meletakkan diri kita di posisi pencobaan. Kita tidak mencari pencobaan. Sekalipun kita mengasihi Allah, kita tidak pergi mencari pencobaan. Doa ini menjadi satu peringatan supaya kita tidak mencari kesusahan. Terdapat cukup banyak kesusahan yang akan datang pada anda tanpa perlu anda mencarinya. Hal ini mengingatkan kita akan gereja awal. Ada diantara mereka, karena semangat yang tak terdidik, pergi mencobai si pencoba. Mereka mencari masalah. Ketika Kaisar Roma mengeluarkan satu dekrit yang memerintahkan penganiayaan terhadap orang-orang Kristen, gubernur kota itu mendapati kantornya dikerumuni sekelompok orang Kristen yang berkata, "Kami disini. Kaisar telah memerintahkan supaya orang-orang Kristen dianiaya. Kami orang Kristen. Silakan saja." Janganlah mencari masalah! "Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan." Ia tidak akan membawa kita dan janganlah anda pergi mencarinya. Tapi pencobaan dan penganiayaan akan datang. Tapi yang terutama, yang paling dikuatirkan adalah pencobaan itu, yaitu, pencobaan untuk murtad ketika kita menghadapi tekanan. Dari pencobaan seperti inilah kita berdoa untuk dilepaskan. 9. "Lepaskanlah kami dari pada yang jahat" dan
"difitnahkan segala yang jahat'
Doa Bapa Kami
mewujudkan intisari dari Ucapan Bahagia Saya dibesarkan di sebuah sekolah Katolik Roma. Salah satu dari doa-doa pertama yang pernah saya pelajari adalah, "Bapa kami yang ada di sorga" dan saya bahkan tidak tahu apa yang saya ucapkan. Setiap hari saya bertelut ditempat tidur dan mendoakan ini sehingga pada akhirnya saya memutuskan untuk tidak lagi berurusan dengan agama Kristen dan tidak lagi berdoa dan tidak lagi berpikir tentang gereja dan orang Kristen. Banyak tahun kemudian Tuhan membawa saya kembali dan membawa saya ke dalam Kerajaan-Nya. Tapi di sekolah Katolik tersebut, seperti semua anak-anak yang lain, anda hanya mengulangi apa saja yang diajarkan. Saya hanya bertelut ditempat tidur dan berkata, "Bapa kami yang ada di sorga....." dan seterusnya. Terkadang saya berpikir, "Ini sedikit terlalu cepat." Jadi saya berkomat-kamit mengucapkan sekali lagi, "Bapa kami yang ada di sorga....." Saya pikir sangat menyedihkan karena terdapat banyak orang di gereja hari ini yang menggunakan rosario untuk menghitung berapa banyak kali mereka berkata, "Bapa kami.....". Dan kadang-kala jika anda pergi kepada seorang pastor untuk pengakuan dosa, pastor itu akan berkata kepada anda, "Oke, memandangkan kamu telah mengaku dosa-dosamu, aku memberikan pengampunan dosa, tapi kamu harus mengucapkan Doa Bapa Kami 20 kali." Jadi orang itu pergi dan bertelut dan mengucapkan doa itu, "Bapa kami di sorga....", lebih cepat diucapkan, lebih cepat selesai. (Anda menekan satu manik di rosario and kemudian satu lagi untuk menghitung berapa banyak kali anda telah mengucapkan doa itu.) Sangat memualkan! Adalah benar-benar menyedihkan jika orang harus disuruh melakukan hal-hal yang mereka sendiri tidak memahaminya. Kita harus mendoakan hal-hal ini jika kita ingin berdoa dengan betul, hanya dengan memahami Ucapan Bahagia di dalam hati kita, yaitu, hanya jika memahami dengan benar apa yang sedang kita lakukan.
Suci di dalam hati
- Menghendaki satu hal Doa Bapa Kami, sebagaimana telah kita sebutkan tadi, adalah satu model doa. Itu berarti Tuhan tidak semata berkata, "Hanya ulangi perkataan-perkataan ini", tapi sebaliknya, "Jadikannya sebagai suatu pokok doa, jadikannya sebagai pola bagi doa anda. Teladanilah doa anda atas doa model ini" Dan setiap kali anda mengucapkan Doa Bapa Kami ini, anda telah meliputi setiap butir dalam Ucapan Bahagia itu. Hal ini benar-benar indah. Semoga Allah membolehkan kita untuk benar-benar masuk ke dalam semangat Doa Bapa Kami dengan memahami dengan lebih mendalam dan dengan lebih jelas Ucapan Bahagia itu. Renungkanlah hal ini. Dan seperti yang saya katakan dari permulaan, jadikanlah Ucapan Bahagia suatu pokok doa seperti yang diajarkan oleh Tuhan dalam apa yang disebut Doa Bapa Kami ini. |
Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.
Ucapan Bahagia: - Berbahagialah Orang Yang Miskin Di Hadapan Allah (Matius 5:3) - Berbahagialah Orang Yang Berdukacita (Matius 5:4) - Berbahagialah Orang Yang Lembut Hatinya (Matius 5:5) - Berbahagialah Orang Yang Lapar Dan Haus Akan Kebenaran (Matius 5:6) - Berbahagialah Orang Yang Murah Hatinya (Matius 5:7) - Berbahagialah Orang Yang Suci Hatinya (Matius 5:8) - Berbahagialah Orang Yang Membawa Damai (Matius 5:9) |
|||||
|
Copyright 2003-2012. Semua materi di situs ini
adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries. |
|||||||