|
| Saran & Komentar | updated on 30 March 2012 |
|||||||
|
CahayaPengharapanMinistries Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan |
|||||||
|
|
|||||||
|
Ucapan Bahagia Dan Buah Roh Matius 5:3-12 - Pesan yang kesembilan dari 10
tentang 'Ucapan Bahagia' Hari ini kita melanjutkan pelajaran kita dalam Firman Allah seraya kita mempelajari Ucapan Bahagia, yaitu, ucapan-ucapan berkat yang kita baca dari permulaan Khotbah di Bukit. Kalimat-kalimat yang diawali oleh kata-kata "Berbahagialah orang yang..." - semua ucapan-ucapan berkat itu disebut Ucapan Bahagia. Kita telah mempelajari ke-9 Ucapan Bahagia itu, namun hari ini kita harus menanyakan apakah terdapat semacam susunan, apakah terdapat semacam urutan, atau apakah terdapat suatu arah tertentu dalam ucapan-ucapan tersebut. Tujuan kita tidak semata mempelajari ucapan-ucapan tersebut secara individu dan satu demi satu, namun supaya kita juga memahami apakah terdapat semacam hubungan di antara ucapan-ucapan tersebut, apakah mereka membentuk semacam kesatuan; suatu kesatuan yang menyeluruh. Beberapa saran telah diusulkan tentang bagaimana setiap ucapan itu berkaitan dengan yang lain. Setelah meneliti semua saran itu, saya harus mengaku bahwa mereka tidak memuaskan saya. Mereka tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dan saya mendapati bahwa secara eksegese mereka tidak cukup mantap. Lalu, apakah unsur yang menyatukan ucapan-ucapan tersebut? Jadi saya terus mengamati ucapan-ucapan bahagia ini, untuk melihat apakah terdapat semacam penghubung tertentu yang tidak dangkal dan mantap secara eksegese. Itu berarti ia harus berdasarkan eksposisi yang tepat akan ajaran Tuhan dan tidak melangkahi bagian manapun. Dengan kata lain, ia merupakan satu penjelasan yang tidak hanya mempertimbangkan bagaimana 2 atau 3 ucapan bahagia berhubungan dengan 2 atau 3 yang lain, tetapi satu yang menyatukan keseluruhannya. Bagaimana kita dapat menemukan, bagaimana kita dapat memahami ke-9 ucapan bahagia ini? Saya harus mengatakan bahwa, makin saya merenungkan firman Tuhan, makin saya takjub akan keindahan yang terkandung di dalamnya.
Tugas yang Berat:
Menyampaikan Apa yang Dilihat Saya tidak berniat untuk menyatakan bahwa saya telah mencapai kebesaran rohani Yohanes. Dia berada jauh di atas sana, sedangkan saya masih melayang-layang di suatu tempat yang jauh lebih dekat dengan tanah (dan saya berdoa agar oleh anugerah Allah saya akan semakin maju dengan bergulirnya waktu). Namun saya masih juga merasakan masalah yang sama, bahwa, meskipun saya melihat sesuatu - saya melihatnya - namun saya merasa sangat sulit untuk menyampaikannya dengan jelas dan sederhana, dalam bentuk yang mudah dimengerti. Jadi oleh pertolongan Allah, saya akan berusaha untuk melukiskan satu pandangan panorama, semacam visi spiritual bagi ucapan-ucapan bahagia ini. Saya mengaku banyak kali saat saya, bahkan dalam beberapa minggu yang terakhir selama saya berkhotbah tentang Ucapan Bahagia, saya merasa sangat kecil hati karena saya merasa saya tidak benar-benar berhasil dalam menyampaikan apa yang saya lihat. Tapi saya berdoa agar Anda tidak bergantung sepenuhnya pada kata-kata saya untuk mendapatkan visi itu, tapi Roh Allah akan menolong Anda seraya Anda mendengarkan eksposisi firman Allah untuk mengetahui apa yang ingin Tuhan katakan secara langsung kepada Anda. Dengan demikian, mungkin Roh akan melengkapkan, sebenarnya lebih dari melengkapkan, apa saja kekurangan atau keterbatasan dalam ekspresi pada pihak saya.
9 Ucapan Bahagia
dan 9 Buah Roh Apabila Anda menempatkan Ucapan Bahagia, ke-9 ucapan itu di satu sisi, dan buah Roh, semuanya di sisi yang lain, Anda mungkin berkata, "Tidak, aku tidak melihat adanya persesuaian. Satu dimulai dengan 'Berbahagialah orang yang miskin' dan yang satu lagi, 'Buah Roh adalah kasih'." Nah, jangan begitu cepat, jangan begitu cepat, karena Paulus, tentu saja, adalah seorang penafsir. Ingat bahwa sebagai seorang penafsir, dia tidak akan semata-mata mengulangi Ucapan Bahagia begitu saja. Dia akan menjelaskan artinya. Ini adalah satu hal yang sama sekali berbeda.
Apakah Persesuaian
itu Satu Kebetulan? Ketika saya membacakan daftar perbuatan-perbuatan daging sebentar tadi, saya bertanya-tanya apakah Anda menghitungnya. Berapa banyak yang disebutkan Paulus? Ia menyebutkan 15 kategori perbuatan daging. 15 kategori! Nah, sekali lagi saya berminat untuk mengetahui apakah Paulus membuat-buat 15 kategori itu sendiri, hanya dari pikirannya sendiri atau apakah 15 kategori itu juga didasarkan pada suatu tempat dalam pengajaran Yesus. Tentu saja, dengan segera firman Tuhan di Matius dan Markus muncul di pikiran saya dan saya melihat ke dalam ajaran Yesus di Markus 7:21-22 di mana Anda akan menemukan satu daftar yang mengatakan, "sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan." Berapa banyak menurut perhitungan Anda? 13. "Aha!" Anda berkata, "13! Paulus ada 15. Kurang 2!" Jangan begitu cepat karena, tentu saja, kita memiliki apa yang disebut 'kesejajaran sinoptis'. Pesan yang sama ini juga tercatat dalam Injil Matius dan cukup menarik, dengan 2 perbedaan, dan jika Anda menambahkan kedua perbedaan dari perikop sejajar dari Matius ini, berapa yang Anda dapat? 15. Ah! Saya begitu kaget setelah membandingkan kedua daftar itu dan menghitung mereka! Paulus adalah seorang yang sangat teliti. Dia tak akan melalaikan apa-apa. Apakah 2 hal tersebut dalam Matius yang tidak disebut dalam Markus? Nah, dari daftar yang terdapat di Matius (Matius 15:18-19) yang lebih singkat dari Markus, Anda akan menemukan dua butir yang tidak disebut oleh Markus. Salah satunya ada di ayat 19 yaitu 'sumpah palsu'. Istilah 'sumpah palsu' tidak muncul di daftar Markus. Untuk perbedaan yang kedua, jika Anda mengandalkan terjemahan bahasa Inggeris, Anda tidak akan menemukannya. Itulah sebabnya saya berulang kali mengatakan kepada tim pelatihan, "kamu harus belajar untuk berfungsi dalam bahasa Yunani" dan saat ini mereka sangat tekun mempelajari bahasa Yunani. Jika Anda hanya bergantung kepada terjemahan bahasa Inggeris, Anda tidak dapat melihat perbedaannya. Terjemahan Inggeris telah melenyapkan satu perbedaan yang penting melalui terjemahannya. Perhatikan bahwa di Matius 15:18 kata untuk 'pikiran jahat' adalah 'dialogismoi poneroi', yang berarti, pikiran mereka jahat, tapi di Markus kata yang dipakai adalah kata yang berbeda dalam bahasa Yunani. Kata itu bukan 'poneros' tapi 'kakos', satu kata yang berbeda. Namun begitu, jika Anda menyemak Alkitab terjemahan RSV, Anda akan mendapati keduanya diterjemahkan sebagai 'pikiran jahat' seolah-olah teks yang asli mempunyai kata yang sama. Itulah sebabnya mengapa tidak ada penafsir Alkitab, tidak ada ekspositor Alkitab, bisa bergantung pada bahasa Inggeris untuk menjelaskan Alkitab karena perbedaan-perbedaan yang penting telah dihapuskan, tanpa mempertimbangkan perbedaan kata-kata itu. Perbedaannya tidak hanya pada perbedaan kata; tapi juga pada kenyataan bahwa satu mempunyai kata sandang dan yang satu lagi tidak mempunyai kata sandang. Di Matius, kata tersebut muncul tanpa kata sandang, dan sebaliknya di Markus, kata sandang dipakai di bagian ini. Jadi terdapat dua perbedaan yang penting, namun begitu Anda tidak dapat memperhatikan perbedaan tersebut dari Alkitab bahasa Inggeris sama sekali. Siapa saja yang mempunyai sedikit pengetahuan akan bahasa Yunani tahu bahwa terdapat perbedaan antara 'poneros' dan 'kakos', yakni, kedua kata tersebut tidak mempunyai arti yang sama. Kata-kata tersebut digunakan dengan berbeda. Saya ingin membagikan dengan Anda apa yang disimpulkan oleh Uskup Besar Trent dalam penelitiannya akan sinonim-sinonim dalam PB. Ia menyatakan bahwa perbedaan antara kata 'kakos' dalam Markus dan kata 'poneros' dalam Matius dapat disimpulkan dengan demikian: kata 'kakos' bermakna 'buruk' [tapi kata 'poneros' berarti 'jahat']. Seorang yang 'buruk' atau 'tidak baik' mungkin merasa puas jika dia binasa sendiri karena kejahatannya sendiri, tapi seorang yang 'jahat' tidak puas melainkan dia juga merusakkan orang lain dan menarik mereka ke dalam kebinasaan yang sama seperti dia. Jadi kata 'kakos' dalam Markus menggambarkan seorang yang 'buruk/tidak baik'. Ia puas merusakkan dirinya sendiri atau mengizinkan dirinya dirusakkan. Tapi dalam Matius, yang dipakai adalah kata 'jahat', yaitu, berbeda dengan orang yang buruk, dia tidak hanya merusakkan dirinya sendiri tapi dia ingin juga merusakkan orang lain. Ia ingin menarik orang lain untuk berbuat berdosa. Itu satu perbedaan yang besar. Anda tidak bisa, seperti terjemahan Inggeris, menterjemahkan dua kata yang berbeda dengan kata yang sama - "pikiran jahat". Itu tidak bisa diizinkan. Dari sini kita melihat bahwa kedua daftar itu mempunyai jumlah butir yang sama. Daftar Paulus mempunyai 15 butir. Daftar Matius dan Markus tergabung (karena mereka sejajar) pada kenyataannya juga mengandungi jumlah-bersih 15 butir. Apakah mungkin itu satu kebetulan? Jadi buah Roh dan Ucapan Bahagia masing-masing mengandungi 9 butir, dan perbuatan-perbuatan daging masing-masing mempunyai 15 butir dalam kedua daftar. Saya percaya Anda mulai menyadari bahwa ini tidak mungkin satu kebetulan semata-mata. Tentu saja sebagaimana telah kita perhatikan, buah Roh dan Ucapan Bahagia keduanya merujuk kepada Kerajaan Allah. Hal ini menjadi lebih signifikan mengingat kata "Kerajaan Allah" jarang dipakai oleh Paulus, hanya sebanyak 14 kali dalam tulisan Paulus. Setelah menegakkan poin ini, mari kita kembali ke Ucapan Bahagia untuk mencari suatu unsur yang mempersatukan, suatu unsur spiritual yang mengaitkan ke-9 ucapan bahagia itu. Apakah unsur itu?
Perbuatan-perbuatan Daging adalah Akibat dari Pikiran-pikiran dalam Hati Yesus berbicara tentang sikap dalam hati. Paulus berbicara tentang akibat dari sikap tersebut. Saat kita kembali ke Ucapan Bahagia, kita melihat hal yang persis sama, ucapan-ucapan bahagia berbicara tentang sikap hati. Berbahagialah orang yang miskin di mana? Dalam roh. Berbahagialah orang yang suci hatinya... sekali lagi Yesus berbicara tentang sikap hati; Ia berbicara tentang sikap batiniah seseorang secara rohani. Namun Paulus bukan berbicara tentang itu. Ia berbicara tentang buah Roh, sebagai imbangan kepada perbuatan daging. Di sini, Anda akan mendapati bahwa buah adalah sesuatu yang dihasilkan dari sebatang pohon. Buah tidak berada di dalam pohon itu; ia dihasilkan diluar. Buah adalah manifestasi dari kehidupan dalam pohon itu. Ia adalah sesuatu yang dapat diambil dari pohon tanpa mempengaruhi pohon itu sama sekali. Anda tidak dapat mengambil sikap hati dari seseorang - pikirannya, perasaannya, sikapnya - namun Anda bisa menikmati perbuatannya, yakni buahnya. Kedua hal ini amatlah penting. Dalam setiap kasus, Yesus berbicara tentang sikap hati, dan saya menekankan hal ini sekali lagi, dan dalam kasus Paulus dia sedang menjelaskan apa yang akan terjadi jika Anda mempunyai sikap hati itu. Jika Anda mempunyai sikap hati yang berdosa, maka Anda akan menghasilkan perbuatan-perbuatan daging yang digambarkan oleh 15 butir itu. Jadi, seorang penafsir tidak hanya mengulangi apa yang dikatakan oleh Yesus. Saya tidak menjelaskan Alkitab kepada Anda jika saya hanya membacakan ucapan-ucapan bahagia itu kepada Anda, karena Anda bisa membacanya sendiri. Paulus tidak mengulangi Ucapan Bahagia begitu saja. Ia mengira para pendengarnya, yang terdiri dari orang-orang Kristen, telah diajarkan ajaran Tuhan sebelumnya. Ia sedang menjelaskan kepada mereka apa yang akan terjadi - apakah perbuatan yang muncul dari pikiran jahat seperti itu dan apakah buah yang dihasilkan dari pikiran-pikiran yang suci. Ini sangat penting untuk dimengerti. Sekarang kita sadar bahwa Paulus sedang menerapkan dan menjelaskan apa yang dikatakan oleh Yesus. Yesus tidak menekankan aspek perbuatan daging atau buah Roh karena satu sebab yang sangat sederhana: karena Ia tahu jika Anda memiliki pikiran-pikiran ini, pikiran-pikiran yang suci ini (pikiran-pikiran yang membawa kebahagiaan ini), maka Anda akan menghasilkan buah Roh. Bagian ini adalah pekerjaan Roh. Anda tidak dapat melakukan hal-hal itu. Anda tidak dapat menghasilkan buah itu. Menurut definisi mereka adalah buah dari Roh. Tidak ada apa-apa yang dapat Anda lakukan. Yesus memberitahu kita apa yang harus kita lakukan supaya Allah dapat melakukan sesuatu di dalam diri kita. Jadi Ia meninggalkan bagian itu kepada pekerjaan Roh. Ataupun perbuatan daging, Ia tahu bahwa jika Anda mempunyai pikiran-pikiran jahat itu, apa yang akan terjadi pada waktunya adalah pikiran-pikiran jahat itu akan mengungkapkan dirinya dalam perbuatan-perbuatan daging tersebut. Jadi setelah mengatakan bagian yang pertama, bagian yang kedua akan mengikuti, tapi Paulus sebagai seorang penafsir mempunyai tugas untuk menjelaskan dengan eksplisit apakah hal-hal yang akan mengikuti apakah dalam kasus pikiran suci atau pikiran jahat. Saat Anda memahami semua ini, saya pikir Anda akan mulai melihat bahwa dari semua ini sesuatu yang sangat menakjubkan terjadi.
Miskin di Hadapan
Allah dan Kasih adalah Fondasi Pandanglah hal ini seperti ini: apabila Anda mempelajari ajaran Yesus, janganlah terburu-buru mengeluarkan buku tafsiran dan mempelajari buku tafsiran. Cara yang tepat untuk mempelajari Alkitab adalah menanyakan diri Anda satu pertanyaan. Dan alasan mengapa Paulus dapat menjadi penafsir yang begitu baik, begitu dalam pengertiannya akan firman Allah adalah karena ketika dia mempelajari Alkitab, dia tidak berkata, "Apa yang dikatakan oleh Profesor ini dan Profesor itu?" Atau "Apa yang dikatakan oleh pendeta ini dan pendeta itu?" Apa yang dia lakukan adalah dia melihat firman itu, dan menerapkan firman itu pada dirinya dan lihat apa terjadi. Saat Anda mempelajari Alkitab, belajarlah dengan cara ini: Yesus berkata, "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah empunya kerajaan Surga", dan saya berkata pada diri saya, "Tuhan, tolonglah aku supaya menjadi miskin di hadapan Allah. Tuhan, oleh anugerah-Mu, aku akan menjadi miskin di hadapan Engkau. Aku akan berusaha menjadi miskin." Apa yang akan terjadi pada saya saat saya menjadi miskin dalam roh? Jawabnya akan datang. Jika Anda datang pada Dia dan datang dalam kemiskinan, Anda akan tahu dari pengalaman apa yang akan dilakukan Allah pada Anda. Anda tahu apa yang akan dilakukan Allah pada Anda saat Anda datang pada-Nya dengan penuh ketergantungan: "Aku datang pada Engkau dalam kemiskinan", berarti, "aku datang pada-Mu, Tuhan, seperti pengemis rohani. Aku tidak memiliki apa-apa dalam diriku. Kasihanilah aku seperti Engkau mengasihi seorang pengemis, karena seperti itulah aku dalam roh, aku hanya seorang pengemis." Tahukah Anda apa yang akan dilakukan Allah? Ia akan mencurahkan kebaikan-Nya dan kasih-Nya ke atas diri Anda. Itulah yang akan Dia lakukan. Dan Anda akan mengalami-Nya! Anda tidak perlu buku tafsiran untuk memahami arti ayat itu. Anda akan mengalami curahan kasih-Nya dalam kehidupan Anda. Kemudian Anda mengerti, "Ah, menjadi miskin di hadapan Allah berarti kasih Allah akan dicurahkan ke dalam hati-ku!" Itulah sebabnya Paulus mengatakan itu, persis kata-kata itu di Roma 5:5 bahwa, "kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus." Paulus berbicara tentang pengalaman. Ia berkata, "Aku mengetahuinya karena Ia telah mencurahkan kasih-Nya ke dalam hatiku oleh Roh Kudus." Jika Anda datang pada-Nya sebagai seorang pengemis rohani, Anda akan mengalami kemurahan-Nya, kasih-setia-Nya dan rahmat rohani yang dicurahkan-Nya ke atas diri Anda.
Berdukacita dan
Bersukacita Dapatkah Anda melihat apa yang sedang dilakukan Paulus? Ia sedang menjelaskan akibat dari menerapkan ucapan-ucapan bahagia ke dalam kehidupan Anda. Jika Anda berdukacita karena dosa, karena dosa orang lain, dan karena dosa gereja - maka seperti yang dikatakan juga oleh Yesus di Lukas 6:21, "Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa", yang berarti, Anda akan dipenuhi dengan sukacita. Di sini kita mendapati buah Roh yang kedua bersesuaian dengan sikap hati seorang murid yang bersukacita. Anda berdukacita karena dosa - itu bagian yang perlu Anda lakukan - dan Allah akan, di pihak-Nya oleh Roh, memenuhi Anda dengan sukacita. Dapatkah Anda melihat betapa mudahnya untuk dimengerti? Sangat mudah untuk dimengerti.
Lemah Lembut dan
Damai Sejahtera
Haus dan Lapar
akan Kebenaran dan Kesabaran Saya mendapati begitu banyak orang Kristen yang mudah mundur. Mereka mengalami sedikit kesulitan dan dengan segera bendera putih dikibarkan. Mereka berkata kepada Iblis, "Okay, okay, aku menyerah. Jangan bunuh aku. Aku menyerah." Ada begitu banyak orang Kristen yang menyerah. Mereka belum pernah mengalami apa yang dikatakan Paulus mengenai kehidupan dalam Kristus bahwa, "Kristus, yang selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya." Paulus adalah orang yang tak mengenal apa itu kekalahan rohani karena ia menerapkan prinsip-prinsip rohani itu ke dalam hidupnya dan karena itu sentiasa memperoleh kemenangan. Okay, terkadang kita dirobohkan namun itu bukan berarti kekalahan. Dalam gelanggang tinju, Anda tidak menang hanya dengan menjatuhkan orang itu; Anda harus meng-'KO'-kan orang itu. Paulus berkata, "aku dihempaskan, namun tidak binasa." Dia dirobohkan, namun dia bangun kembali dan mengalahkan lawannya. Itulah caranya. Kita sering dirobohkan, namun tidak dikalahkan! Tidak, tidak, karena Kristus sentiasa memberikan kemenangan kepada kita. Ditinggalkan seorang diri, Iblis dengan mudah dapat menghapuskan kita. Kita menjadi kosek kakinya, diinjak-injak olehnya. Tapi melalui Kristus, kita sentiasa memperoleh kemenangan. Jadi, apa terjadi kepada mereka yang lapar dan haus akan kebenaran? Mereka belajar ketabahan. Apa lagi yang melatih kita dalam hal ketabahan rohani selain dari belajar untuk mempertahankan sikap haus dan lapar akan kebenaran di sepanjang kehidupan rohani kita? Kita tidak harus merasa puas, atau merasa cukup, dan jangan sekali-kali berkata, "Aku sudah mengetahui segala yang perlu diketahui. Aku sudah mempelajari Alkitab selama 20 tahun. Sudah cukup untuk sekarang. Aku tahu segalanya. Aku mengetahui lebih banyak dari kebanyakan orang." Jangan sekali-kali merasa puas sehingga kita berpikir, "Nah, aku sudah mencapai kedewasaan rohani. Aku tidak perlu mengejar lagi." Tidak, tidak. Anda harus terus mengejar karena melaluinya Anda memperoleh ketabahan rohani. Mereka yang tidak terus mengejar adalah mereka yang telah menyerah.
Murah hati dan
Kemurahan
Hati yang Suci dan
Kebaikan
Membawa Damai dan
Kesetiaan
Penganiayaan dan
Kelemahlembutan Di sini kita melihat sekali lagi kesejajaran antara Ucapan Bahagia dan buah Roh. "Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran" dan kemudian buah Roh yang dihasilkan. Apakah berkat yang dihasilkan? Berkat rohani itu wujud dalam kualitas kelemah-lembutan, dan kemudian dalam bentuk mewarisi kerajaan Allah. Buah yang muncul adalah kelemahlembutan. Buah Roh adalah kelemahlembutan dalam penganiayaan. Di mana dapat kita melihat kelemahlembutan yang sejati dari seseorang? Hanya di saat penganiayaan. Kita semua bisa tersenyum ramah pada waktu-waktu yang menyenangkan. Siapa diri kita yang sesungguhnya akan tampak ketika kita menghadapi waktu-waktu yang sulit.
Penganiayaan dan
Penguasaan Diri
Yang Mana Datang
Dulu - Ucapan Bahagia atau Buah Roh? Dengan kata lain, kita melemparkan kesalahan kembali kepada Allah atas kegagalan rohani kita. Anda berkata, "Aku bukan seorang Paulus karena Engkau tidak menjadikan aku seorang Paulus. Ingat? Paulus adalah Paulus, aku adalah aku. Dan aku sangat orisinal. Aku tidak seperti Paulus. Jadi, jika Engkau ingin aku menjadi manusia rohani, Engkau harus melakukannya. Buat sementara waktu aku akan melanjutkan urusanku sehingga Engkau mengubah aku. Kemudian aku akan menjadi manusia rohani. Namun pada hari itu ketika aku berdiri di hadapan takhta penghakiman, jangan Engkau berkata, 'Mengapa kamu tidak setaraf dengan Paulus?' Nah, kerana Engkau tidak menjadikan aku seorang Paulus. Aku tidak ditentukan untuk menjadi seorang Paulus. Aku hanyalah 'aku' yang rendah ini." Izinkan saya untuk mengatakan, bahwa Yesus tidak akan menerima percakapan semacam ini. Tidak, tidak, Ia tidak akan mengizinkan ini. Kita tidak dapat melemparkan kesalahan kembali kepada-Nya dan berkata, "Nah, semuanya salah Kau bahwa aku dalam keadaan begini." Mari kita catatkan perbedaan ini. Khotbah di Bukit berbicara tentang sikap di dalam hati kita dan buah Roh adalah apa yang dihasilkan oleh Roh Allah di dalam diri kita, tapi yang mana datang dulu? Kita ingin berkata, "Buah Roh datang dulu dan kemudian kita akan menjadi miskin di hadapan Allah, kita akan melakukan ini dan melakukan itu, setelah Allah melakukan semua itu di dalam diri kita. Namun karena Ia belum melakukan semua itu di dalam diri kita, maka lihatlah kami sebagai sebuah gereja - kami semua adalah pengemis-pengemis rohani yang menyedihkan. Apa yang dapat kami lakukan karena Allah sendiri belum melakukan apa-apa?" Sampai di sini kedengaran masuk akal. Biarkan saya katakan kepada Anda: jika Anda tidak memahami teksnya, bacalah tafsirannya, yaitu, bacalah apa yang dikatakan Paulus.
Kita akan Menuai
Apa yang Kita Tabur! Anda tidak dapat maju menjadi seorang yang rohani jika Anda terus menabur dalam daging. Semua yang akan Anda tuai dari menabur dalam daging adalah kebinasaan dan maut. Makanya di ayat 9 Paulus melanjutkan untuk berkata, "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah." Jadi di sini kita melihat unsur kesabaran. Anda terus menerus lapar dan haus akan kebenaran, Anda akan memperoleh kesabaran. Anda tidak menjadi jemu. "Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman." Sekarang saya berharap Anda dapat melihat yang mana datang dulu. Hasil tuaian atau penaburan? Buah Roh adalah manifestasi lahiriah dari apa yang dilakukan oleh Allah di dalam diri kita, namun untuk mendapatkan buah itu, Anda harus menaburkan sesuatu; buah adalah tuaian itu. Anda tidak akan mendapat tuaian apapun jika Anda tidak menabur. Jadi Paulus melanjutkan untuk berkata, "jika Anda menabur dalam Roh, Anda akan menuai buahnya. Jika Anda tidak menaburkan apa-apa, Anda tidak mendapat apa-apa. Jika Anda menabur dalam daging, Anda akan menuai kebinasaan." "Orang yang menabur sedikit," dia mengatakan di tempat lain, "akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga." Apakah Anda mendapat tuaian yang besar atau kecil bergantung juga pada apa yang ditabur dan berapa banyak yang ditabur. Dengan kata lain, kita melihat bahwa Paulus melemparkan tanggung jawab itu kembali kepada Anda, kembali kepada saya. Ia tidak mengizinkan kita untuk berkata, "Tuhan, aku tidak mendapat hasil tuaian yang besar karena Engkau tidak melakukan banyak pekerjaan dalam diriku." Ini merupakan satu penghinaan terhadap Allah. Kuasa Allah cukup besar untuk menghasilkan tuaian yang besar dan tersedia dengan sepenuhnya untuk semua orang. Semuanya bergantung pada apa yang ditaburkan Anda.
Belajarlah dari
Paulus - Kejarlah Hal-hal yang Rohani! Oleh karena itu, Ucapan Bahagia harus datang dulu! Itulah inputnya. Itulah yang kita tabur. Jika Anda berkata, seperti Paulus, "Aku akan menjadikan tujuan hidupku, gol rohani aku; untuk mengejar dengan kebulatan tekad yang tak terbagi-bagi supaya menjadi miskin di hadapan Allah. Yaitu, aku datang padanya sebagai seorang yang bergantung sepenuhnya pada Dia. Aku akan datang pada Tuhan sebagai seorang yang berkomitmen total pada-Nya, sebagai seorang yang menyerah sepenuhnya, yang sama sekali terbuka pada-Nya seperti seorang pengemis rohani, agar Dia memenuhi aku dengan kepenuhan-Nya." Jika Anda datang dengan sikap seperti itu, Anda akan dipenuhi dengan kepenuhan Allah. "Ia akan mencurahkan kasih-Nya ke dalam hati saya dalam ukuran yang berkelimpahan oleh Roh Kudus-Nya karena sekarang hati saya terbuka luas kepada-Nya. Saya telah menaburkan satu sikap rohani yang memungkinkan Dia memberi satu tuaian rohani kepada saya. Jika aku belajar untuk berdukacita atas dosa, atas dosa saya sendiri dan juga dosa orang lain, maka Allah akan memenuhi saya dengan sukacita. Jika aku berusaha untuk menjadi lemah lembut oleh anugerah Allah, maka jalannya terbuka untuk Allah memenuhi saya dengan damai sejahtera. Dan sekalipun saya belum begitu mencintai kebenaran, namun saya menjadikan sasaran saya untuk haus dan lapar akan kebenaran, maka Dia akan menghasilkan buah Roh di dalam diri saya."
Bagian Allah dan
Bagian kita
Berusahalah
Menjadi Orang yang Dapat Diberkati Allah! |
Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.
Ucapan Bahagia: - Berbahagialah Orang Yang Miskin Di Hadapan Allah (Matius 5:3) - Berbahagialah Orang Yang Berdukacita (Matius 5:4) - Berbahagialah Orang Yang Lembut Hatinya (Matius 5:5) - Berbahagialah Orang Yang Lapar Dan Haus Akan Kebenaran (Matius 5:6) - Berbahagialah Orang Yang Murah Hatinya (Matius 5:7) - Berbahagialah Orang Yang Suci Hatinya (Matius 5:8) - Berbahagialah Orang Yang Membawa Damai (Matius 5:9) |
|||||
|
Copyright 2003-2012. Semua materi di situs ini
adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries. |
|||||||