|
| Saran & Komentar | updated on 25 March 2013 |
|||||||
|
CahayaPengharapanMinistries Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan |
|||||||
|
|
|||||||
|
Berbahagialah Orang Yang Murah Hatinya Matius 5:7 - Pesan yang kelima dari 10 tentang
'Ucapan Bahagia' Kita melanjutkan pelajaran Firman Allah pada kata-kata Tuhan Yesus dalam Injil Matius 5:7. Di sini kita membaca: "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan." Sebagaimana kita telah lihat dari minggu ke minggu, ada begitu banyak kekayaan yang Tuhan Yesus padatkan ke dalam ungkapan yang singkat ini. Dan karena mengandung begitu banyak kekayaan, saya benar-benar bingung ketika saya melihat beberapa buku tafsiran yang hanya memberikan sedikit ulasan atas setiap Ucapan Bahagia tersebut. Beberapa dari penafsiran tersebut membutuhkan lebih banyak penafsiran dari ayat itu sendiri. Sejujurnya saya kadang merasa cukup kecewa dan itulah sebabnya saya sangat jarang membaca buku-buku tafsiran. Saya harus mengakui bahwa saya tidak memiliki kecenderungan besar untuk membaca buku-buku tafsiran, tetapi kapanpun ketika saya membacanya, seringkali saya menemui lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, karena ungkapan-ungkapan Tuhan Yesus tersebut begitu dalam, begitu berharga.
Orang Yang Murah Hati Beroleh Keselamatan Izinkan saya menekankan kembali, sebab saya tidak akan bosan menekankan hal ini, bahwa ajaran Tuhan tentang keselamatan bukanlah suatu keselamatan berdasarkan pengakuan iman, juga bukan berdasarkan perbuatan. Tetapi merupakan keselamatan yang dijanjikan pada orang tipe tertentu, dalam hal ini digambarkan sebagai orang yang murah hatinya. Tipe orang tertentu! Jika Anda ingin diselamatkan, Anda harus menjadi orang tipe tersebut. Dan jika kita melihat tipe orang yang dimaksudkan Tuhan Yesus, kita menyadari bahwa pada dasarnya kita tidak mampu menjadi tipe tersebut kecuali oleh kasih karunia Allah. Justru hanya oleh kasih karunia Allah, atau lebih spesifik lagi oleh kasih karunia Allah yang mengubah kita, maka kita dapat menjadi orang tipe tersebut. Kita diselamatkan bukan hanya oleh iman saja, begitu juga bukan oleh perbuatan, melainkan oleh kasih karunia Allah yang mengtransformasi hidup kita. Kasih karunia yang mengtransformasi inilah yang mengubah kita menjadi tipe orang yang kita tidak mampu capai dengan kemampuan kita sendiri.
Secara Manusia Kita Tidak Murah Hati
Melalui Iman Yang Benar Kita Menjadi Murah Hati Saya mau mengatakan sekali lagi agar kita memahami dengan jelas sekali akan hal ini. Ajaran Alkitabiah tentang keselamatan bukanlah keselamatan berdasarkan pengakuan iman maupun perbuatan baik. Keselamatan adalah karena perubahan melalui iman yang merupakan penyerahan total, yakni menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam tangan Allah sehingga Ia dapat melakukan apapun yang perlu atas diri Anda. Saya bukanlah orang yang murah hati, tetapi Allah dapat mengubah saya menjadi bermurah hati. Ini sangat penting untuk dipahami. Saya sangat menghormati Martin Lloyd Jones yang menjadi gembala di tempat saya beribadah selama bertahun-tahun. Tetapi terus terang saja saya sama sekali tidak memahaminya ketika ia berkata, "Jika benar demikian, maka tak seorangpun dapat diselamatkan", maksudnya jika untuk dapat diselamatkan seseorang harus mengampuni dan bermurah hati, maka tak seorang pun dapat diselamatkan. Saya sama sekali tidak mengerti apa yang ia maksudkan dengan pernyataan itu. Tentu saja tak seorang pun dapat menyelamatkan dirinya dengan kekuatannya sendiri. Lantas apakah kasih karunia itu? Kasih karunia itu tidak lain adalah kasih karunia Allah. Apakah artinya kasih karunia itu jika kuasa Allah tidak mampu melakukan apa yang saya tidak sanggup perbuat dengan kekuatan saya sendiri?
Oleh Kasih Karunia, Kita Dapat Diubah Menjadi Murah Hati Mengajarkan pengampunan tanpa mengubah siapa pun (dan itu saja yang Martin Lloyd Jones ingin katakan: bahwa kasih karunia adalah sekadar pengampunan), saya harus katakan bahwa saya tidak dapat menganggapnya sebagai pengajaran Alkitabiah. Saya tidak dapat menemukannya dalam firman Tuhan. Tidak, tidak! Saya yakin kasih karunia Allah secara efektif, dan saya tegaskan sekali lagi secara efektif, dapat mengubah Anda dan saya. Saya bersukacita dan kagum terhadap Injil karena Allah sanggup mengubah seseorang; Ia bahkan mampu merubah orang berdosa yang benar-benar rusak. Saya sudah melihat dan mendengar para gangster dan penjahat yang secara total telah diubahkan oleh kasih karunia tersebut. Saya bermegah dalam kasih karunia yang dapat mengubah seseorang. Bukan sekadar mengampuninya lalu meninggalkannya begitu saja, sehingga ia tetap berbuat dosa setiap hari tanpa ada pengharapan akan perubahan. Itu bukan kasih karunia. Kasih karunia dapat mengubah seseorang; bukankah itu Kabar Baik Injil? Dan karena itu, saya harus mengatakan bahwa saya kecewa terhadap Martin Lloyd Jones dalam hal ini (meskipun saya sangat menghormatinya), karena konsepnya tentang kasih karunia tidak lebih dari sekadar pengampunan. Sedang konsep saya tentang kasih karunia, semoga berdasarkan firman Tuhan, melampaui pengampunan hingga transformasi. Kasih karunia mengampuni sekaligus mengubah sehingga Anda tidak perlu melakukan dosa yang sama berulang kali. Barangsiapa yang sudah berusaha untuk menjalankan kehidupan Kekristenan akan tahu bahwa jika hanya pengampunan yang ditawarkan Injil, Anda hanya akan mengalami rasa frustrasi yang abadi. Karena Anda akan terus menerus melakukan dosa yang sama dan selalu berkata, "Maaf, saya berharap tidak melakukannya tetapi saya telah jatuh ke dalam dosa yang sama lagi." Injil macam apa ini? Lalu mengapa kita membutuhkan Roh Kudus? Apa yang Roh Kudus lakukan untuk saya? Apakah Ia tidak berbuat apapun? Jikalau Roh Kudus tinggal di dalam saya, apakah Roh Kudus melakukan apa-apa sama sekali? Roh Kudus tidak usah tinggal di dalam saya jika yang saya perlukan ialah diberi pengampunan terus menerus. Saya tidak membutuhkan Roh Kudus. Saya hanya perlu setiap hari datang kembali kepada Tuhan dan berkata, "Tuhan, saya minta pengampunan sebab saya melakukannya lagi" dan besoknya saya kembali berkata, "Saya minta pengampunan lagi" lalu "Saya minta pengampunan lagi" dan "Saya minta pengampunan lagi". Lalu apa yang Roh Kudus perbuat? Apakah Ia berbuat sesuatu? Saya berminat untuk mengetahui apa yang Roh Kudus lakukan menurut Martin Lloyd Jones
Roh Kudus Mengakibatkan Perubahan di dalam Diri Kita Watchman Nee juga memberikan beberapa ulasan. Tetapi dalam kasus Watchman Nee, saya khawatir ulasannya membutuhkan lebih banyak penjelasan dibanding yang lain, sebab terus terang saya tidak tahu apa yang ia sedang bicarakan, sehingga saya sangat kecewa. Saya mengatakan ini tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Watchman Nee Ia berkata: "Kemurahan hati adalah sesuatu yang Anda berikan pada seseorang yang sebenarnya tidak berhak menerimanya." Berarti, untuk menunjukkan kemurahan hati adalah memberikan sesuatu yang tidak berhak diterima seseorang. Apa yang dimaksudkan dengan "sesuatu", terus terang saya tidak tahu. Sejujurnya beberapa tafsiran memerlukan lebih banyak lagi penafsiran. Pernyataan seperti ini... apakah yang dimaksud "sesuatu"? Apa artinya "sesuatu" yang kita berikan pada seseorang yang tidak berhak menerimanya? Apakah artinya itu? Apakah maksudnya adalah kebaikan? Ataukah cinta kasih? Itu sepertinya cocok untuk banyak hal, bukan hanya kemurahan hati. Apakah sesuatu itu yang seseorang tidak berhak menerimanya tetapi saya harus berikan padanya? Apakah itu? Saya berharap kepada Tuhan agar saat seseorang membuat suatu uraian, ia menuliskan sesuatu yang jelas dan mudah dipahami. Dalam kalimat selanjutnya ia mengatakan bahwa "Orang Kristen seharusnya tidak mencari keuntungan dari orang lain di dunia ini." Apa hubungannya kalimat itu dengan kemurahan hati, saya kurang mengerti. Apa maksudnya mengambil untung dari orang lain? Itu memerlukan lebih banyak penjelasan definisi daripada sekadar ungkapan singkat yang membingungkan. Sayangnya melihat-lihat buku-buku tafsiran memang merupakan kegiatan yang mengakibatkan frustrasi seperti yang banyak dari Anda pernah alami. Anda akan menjadi lebih bingung sesudah membacanya. Saya kenal seorang teman baik di Inggris yang spesialis dalam membaca buku tafsiran dan ia sering memprotes karena setelah membacakan banyak buku tafsiran, ia tampak jadi bingung. Saya ingin mengatakan ini karena begitu banyak kelemahan di gereja-gereja sekarang terletak pada kenyataan bahwa kita tidak sungguh-sungguh mengerti makna firman Tuhan. Para pengajar kita pula tidak banyak membantu dan bahkan meninggalkan kita dalam kebingungan yang lebih besar setelah mereka menguraikannya. Di Lukas 6:36 Tuhan Yesus berkata bahwa Anda harus murah hati seperti Bapa adalah murah hati. Anda harus "murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." Untuk mematuhi perintah itu, saya harus memahami apa artinya bermurah hati. Bukankah demikian? Bagaimana saya harus mematuhi suatu perintah sekiranya saya tidak mengerti maknanya? Saya tidak mengerti apa artinya bermurah hati. Saya juga tidak merasa tertolong ketika saya diberitahu untuk menunjukkan kemurahan pada seseorang yang tidak berhak menerimanya. Saya tidak tahu apa maksudnya. Sebab dalam situasi apa saya harus memberi seseorang sesuatu yang saya pikir ia tidak berhak menerimanya? Sesuatu apa yang ia tidak pantas menerimanya dan apa yang seharusnya saya berikan pada orang semacam itu? Saya berdoa kepada Tuhan agar sewaktu Anda menyampaikan firman Tuhan, Anda akan mengajarkannya dengan uraian yang lebih jelas. Ketika para pemimpin gereja membahas seperti itu, Anda menjadi curiga bahwa mereka sendiri tidak betul-betul mengerti apa yang Tuhan Yesus sedang katakan. Itu benar-benar merupakan akar permasalahannya. Apabila para pemimpin gereja sendiri tidak tahu apa yang mereka ucapkan, sekiranya para pendeta sendiri mengucapkan ungkapan-ungkapan yang maknanya sekabur itu, lalu bagaimana kita sebagai jemaat akan dapat menaati Firman Allah? Jadi marilah kita membuka firman Tuhan. Marilah kita mencoba untuk memahami dengan jelas apa yang Tuhan Yesus sedang katakan pada kita.
Makna kata "Murah Hati" dalam firman Tuhan Jika kita melihat kata "murah hati" serta bagaimana kata itu dipergunakan dalam Perjanjian Baru, kita mulai mengamati satu faktor yang amat penting. Kita mendapati bahwa kata "murah hati" selalu dipakai dalam konteks firman Tuhan yang berhubungan dengan akibat dosa. Berarti penawar yang dipakai Allah untuk mengatasi racun dosa ialah kemurahan hati. Cara Allah menangani dosa dalam Perjanjian Baru adalah dengan kemurahan hati-Nya. Misalnya kata 'kemurahan hati' dipakai dalam peristiwa orang buta yang berseru-seru pada Tuhan Yesus dan berkata, "Anak Daud, kasihanilah aku!" Apa yang dimintanya? Dalam pikirannya, ia meminta kesembuhan. Tetapi Tuhan Yesus menunjukkan kemurahan dalam pengertian bahwa setiap penyakit jasmani timbul akibat dosa. Seandainya tidak ada dosa di dunia, maka tidak akan ada penyakit dan semua dokter akan kehilangan pekerjaan. Karena jika tidak ada dosa, maka tidak ada penyakit; tetapi karena ada dosa, maka ada penyakit. Namun jangan mengira ada kaitan langsung antara dosa dengan penyakit sehingga jika seseorang sedang menderita sakit berarti ia telah berbuat dosa. Kaitan langsung seperti itu adalah keliru! Anda jangan pernah berkata, "Kamu sakit karena kamu telah berbuat dosa." Tidak ada hubungan seperti itu sama sekali. Kesimpulan semacam itu adalah salah. Itulah sebabnya waktu para murid mengajukan pertanyaan mengenai orang buta itu seperti tertulis di Injil Yohanes 9:2, "Siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya?" Jawab Tuhan Yesus, "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya." Pertanyaannya bukanlah: "Apakah ia buta karena ia telah berbuat dosa, ataukah ia buta karena orang tuanya berbuat dosa?" Ia buta karena ada dosa di dalam dunia; yaitu dosa-dosa di dunia secara umum. Ada penyakit di dunia, dan kita sebagai bagian dari umat manusia harus menderita penyakit-penyakit umum seperti itu. Misalnya, ketika terjadi wabah flu. Apabila saat Anda terserang flu, pertanyaannya bukanlah: "Dosa apa yang telah kuperbuat sehingga aku terserang flu?" Jika demikian, cara tercepat untuk sembuh dari penyakit flu adalah cukup dengan segera berlutut dan bertobat - dan waktu Anda bangkit berdiri, penyakit flu itupun lenyap. Tidak semudah itu. Tidak, tidak! Penyakit flu memang ada di dunia. Anda menderita flu belum tentu karena Anda berdosa tetapi sebab penyakit flu itu memang ada di dunia. Karena seseorang bersin disamping Anda dan menebarkan virus di udara lalu Anda menghirupnya sehingga Anda terserang flu. Itulah cara cepat untuk diserang flu dan itu tidak ada kaitannya apakah Anda telah berbuat dosa atau tidak. Seandainya ada kaitan langsung antara dosa dan penyakit, maka kita akan sangat bahagia sebab semua mafia seharusnya sudah mati sekarang akibat serangan penyakit-penyakit yang paling mengerikan. Sebaliknya kita yang berbuat dosa lebih sedikit akan terserang penyakit-penyakit lebih ringan, seperti pilek. Sementara semua anggota mafia akan merangkak akibat serangan penyakit-penyakit yang menakutkan. Sayangnya, para mafia justru berkeliling mengendarai mobil mewah dengan kondisi kesehatan yang sangat prima sedangkan orang-orang yang baik menjadi lemas karena sakit-penyakit. Jadi sama sekali tidak seperti itu! Tidak ada hubungan langsung antara penyakit dan dosa. Tetapi ada hubungan tidak langsung yakni segala penyakit yang ada di dunia timbul akibat dosa. Bila tidak ada dosa, maka tidak akan ada sakit-penyakit. Saya harus meluangkan sedikit waktu menjelaskan hal ini sebab masih ada konsep yang amat bodoh bahkan di kalangan orang-orang Kristen, yaitu saat seseorang sedang sakit, Anda bertanya, "Dosa apa yang ia perbuat?" Itu pertanyaan konyol! Itu jelas suatu kebodohan! Kesalahan itu masih dilakukan di beberapa kalangan orang Kristen, khususnya saudara-saudara seiman yang banyak menekankan kesembuhan. Anda jangan ikut dalam kesalahan tersebut.
Kemurahan Menghapuskan Akibat Dosa Agar lebih spesifik, kita menemukan bahwa kemurahan hati di dalam Perjanjian Baru pada umumnya menunjuk pada pengampunan dosa. Sekali lagi saya katakan, itu pada umumnya. Dan contoh-contohnya terlalu banyak untuk dikutip secara detil. Misalnya di 1 Timotius 1:13 dan 16, Paulus mengatakan ia menerima kemurahan dari Allah saat ia menganiaya orang-orang Kristen serta membunuh beberapa di antara mereka. Ia menerima kemurahan karena ia melakukan perbuatan-perbuatan aniaya terhadap gereja itu karena ketidaktahuannya. Di sini kemurahan secara jelas bermakna pengampunan. Ia menerima kemurahan dalam arti ia menerima pengampunan karena ia menganiaya orang-orang Kristen dalam ketidaktahuan. Ia telah bertindak karena ketidaktahuan. Ia tidak menyadari bahwa Yesus adalah Kristus. Segera setelah menyadarinya, ia bertobat. Di dalam Injil Lukas 1:77-78 Anda akan menemukan bahwa pengampunan dosa yang disebutkan pada ayat 77 memiliki kesamaan arti dengan kemurahan pada ayat 78. Hal itu menjadikan arti kata tersebut sangat spesifik dan sangat jelas. Juga di Surat Roma 11:31 - 32, ketika Paulus berkata bahwa orang-orang bukan Yahudi menerima kemurahan, yang dimaksudkan adalah mereka telah diselamatkan, dan mereka telah diampuni. Kemudian di Surat Efesus 2:4 Paulus berbicara mengenai kemurahan pengampunan Allah yang olehnya kita diselamatkan. Atau di Titus 3:5 ia berkata, "Pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena kemurahan-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus." Ia bermurah hati untuk mengampuni kita dari dosa-dosa kita dan menyelamatkan kita. Jadi waktu kita mempelajarinya, tidak ada yang terlalu sukar maupun membingungkan untuk diperhatikan. Kata "kemurahan hati" tidak perlu dijelaskan dalam ungkapan-ungkapan yang maknanya kabur dan tidak dapat dipahami. Ungkapan seperti "memberikan pada seseorang sesuatu yang ia tidak berhak menerimanya"; itu tidak dapat dipahami. Kita bisa secara sederhana dan spesifik menjabarkannya. Syukur kepada Allah atas Firman-Nya yang begitu spesifik maknanya. Kemurahan hati secara sederhana berarti pengampunan! Bermurah hati berarti mengampuni. Apa yang begitu sulit untuk dimengerti tentang hal itu waktu kita mempelajarinya dalam firman Tuhan? "Berbahagialah orang yang murah hatinya, yakni orang yang mengampuni, karena mereka akan beroleh kemurahan, artinya karena mereka akan diampuni." Artinya begitu lugas, begitu jelas. Mengapa kita perlu mempergunakan ungkapan-ungkapan yang maknanya kabur dan tidak dapat dipahami, kecuali kita sendiri memang tidak memahaminya? Itu merupakan pengajaran mendasar dari Tuhan Yesus, yakni kita diampuni ketika dan jika kita mengampuni. Namun jika kita tidak mengampuni, kita juga tidak akan diampuni. Tuhan Yesus mengatakannya secara jelas di Matius 6:12: "dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami." Kemudian di ayat 14-15, Ia berkata, "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." Kalimat ini sangat jelas maknanya, bagaikan perbedaan yang sejelas hitam dan putih. Tidak ada yang membingungkan seperti para pemimpin gereja kita yang menjabarkan dalam istilah-istilah yang kita tidak bisa mengerti. Semoga mereka sendiri memahami apa yang mereka sampaikan. Sebaliknya Tuhan Yesus sangat spesifik. Jika Anda tidak mengampuni, Anda tidak akan diampuni. Ini justru bertentangan dengan pernyataan dari sahabat kita Martin Lloyd Jones Secara jelas Tuhan Yesus mengungkapkan apakah Anda akan diampuni atau tidak, tergantung apakah Anda akan mengampuni orang lain atau tidak. Apakah saya mengampuni atau tidak, tergantung pada apakah saya telah diubahkan atau belum. Sebab jikalau saya belum diubahkan, Anda tidak akan menerima pengampunan apapun dari saya. Itu sudah pasti akan terjadi karena sifat dasar manusiawi saya, yang mengutamakan diri saya sendiri. Saya tidak akan memberi Anda kesempatan selama Anda berhutang sesuatu pada saya. Saya akan memastikan Anda membayar hutang sampai rupiah terakhir. Tetapi oleh karena Allah sudah mengubahkan hidup saya, maka saya tidak memaksa Anda untuk membayar hingga rupiah terakhir atau mungkin Anda tidak perlu membayar satu rupiah pun. Sebagaimana Allah telah mengampuni saya dengan cuma-cuma, jadi saya juga mengampuni Anda dengan cuma-cuma. Kasih karunia Allahlah yang membuat seluruh pengajaran ini dapat diterapkan. Tetapi kita tidak boleh mengurangi ajaran tersebut. Kita tidak punya hak menguranginya, karena Allah mampu mengubahkan kita.
Kemurahan Hati Berarti Mengampuni Musuh Suatu hari ia datang ke apartemen kami di London, Inggris, dan kebetulan ada seorang teman Jepang di dalam apartemen kami itu. Orang Jepang itu adalah orang Kristen. Dennis datang ke tempat saya dan saya berpikir, "Oh tidak, saya tidak tahu ia akan datang mengunjungi saya saat teman dari Jepang ini sedang ada di apartemen saya." Saya berpikir, "Apa reaksinya nanti waktu saya beritahukan ada orang Jepang di apartemen saya?" Jadi saat ia sedang naik tangga, saya katakan padanya, "Dennis, saya tahu orang Jepang telah melakukan banyak hal buruk terhadapmu dan keluargamu (pamannya ditangkap dan yang lain mengalami hal-hal lainnya). Saat ini ada orang Jepang di apartemen saya, tetapi ia adalah orang Kristen." Dennis menoleh pada saya. Ia berhenti sejenak sambil berpikir. Ia berkata, "Tidak apa-apa. Tidak apa-apa." Jadi ketika kami masuk, Dennis bersalaman dengannya dan menyapanya. Sejenak kemudian Dennis berkata, "Tahukah Anda, saya ingin terus terang bicara, ayah saya dibunuh oleh tentara Jepang." Saya pikir, "Oh, tidak! Apa yang akan terjadi bila hal itu dibahas terus?" Teman dari Jepang itu terlihat sangat sedih mendengarnya. Lalu Dennis melanjutkan, "Tetapi jangan kuatir. Kasih Kristus sudah mengubah hati saya. Saya mengasihimu sama seperti yang lain." Itulah kasih karunia Allah! Wajar saja jika Dennis memandang orang itu dengan penuh kebencian, namun ia berkata, "Saya mengasihimu dalam nama Kristus. Segalanya sudah diampuni." Nah, inilah kasih karunia Allah! Ia bermurah hati terhadap seseorang yang sebenarnya secara manusia ia harus benci. Melainkan Anda mengampuni, Anda tidak akan diampuni. Mengapa Martin Lloyd Jones berkata bahwa jika tergantung pada sikap mengampuni kita maka kita tidak dapat diselamatkan? Alangkah sayangnya ia telah meremehkan kasih karunia Allah. Apakah ia sungguh-sungguh bermaksud mengatakan demikian? Tentu itu bukan hal yang mustahil sebab bersama Allah segalanya menjadi mungkin. Ia dapat memampukan kita untuk mengampuni. Terus terang saya sendiri juga tidak tahan dengan orang Jepang. Berapa banyak orang Cina yang bisa bersabar terhadap orang Jepang setelah mengalami apa yang kami deritai dalam Perang Dunia II? Kita menderita banyak hal. Rumah tangga saya berantakan. Saya bahkan hampir tidak mengenali ayah saya lagi. Ayah saya masuk ke kawasan pendalaman, memutuskan untuk melawan sampai tentara Jepang terakhir bila memang perlu; memutuskan sekiranya kami tidak meraih kemenangan, ia tidak akan melihat wajah-wajah kami lagi. Kami ditinggalkan di belakang barisan tentara Jepang. Saya sudah mengalami kehilangan banyak hal. Tetapi saya dapat belajar mengampuni sebab Allah telah mengubah saya. Hari ini saya mengasihi orang-orang Jepang. Saya dapat secara tulus mengatakan bahwa saya sungguh-sungguh mengasihi mereka. Bukan sekadar mengampuni mereka dan berkata, "Baiklah, lupakan saja!" tetapi saya sungguh mengasihi mereka. Dengan kasih Kristus yang begitu sulit untuk saya pahami, saya tidak tahu mengapa saya mengasihi mereka tetapi saya memang mengasihi mereka.
Kemurahan Hati Berarti Mengasihi Musuh Bahkan seorang murid dapat menjadi musuh gurunya. Ingat apa yang Petrus lakukan? Waktu Tuhan Yesus berkata Ia akan disalibkan, Petrus berkata, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Itu tidak perlu terjadi pada-Mu, Tuhan. Dia berusaha menghalangi perjalanan Tuhan Yesus menuju salib. Dan Tuhan Yesus menjawab, "Enyahlah Iblis." Kata "Iblis" berarti musuh. Kata "Iblis" berarti lawan. Ia berkata [pada Petrus]: "Enyahlah Iblis" karena pada saat itu Petrus sudah menjadi Iblis, sudah menjadi musuh, sudah menjadi musuh Yesus. Oleh karena itu, kemurahan hati mengandung arti mengasihi musuh Anda. Itulah artinya, sebab untuk mengampuni seseorang, yang jika saat itu tidak menyakiti Anda, sehingga ia tidak menjadi musuh Anda, Anda tidak perlu mengampuninya. Tetapi jika ia telah menyakiti Anda, maka Anda perlu mengampuninya. Dan Allah memberikan kita kasih karunia untuk mengampuni semua kerusakan yang orang lain sudah timbulkan pada kita. Orang-orang yang telah memfitnah Anda, bisakah Anda mengampuni? Kita harus mengampuni! Kita harus mengampuni, kalau kita ingin menerima kemurahan hati Allah - karena Ia sudah mengampuni secara menyeluruh. Pada kenyataannya, hal itu begitu penting sehingga Tuhan Yesus menggunakan satu perumpamaan untuk mengajarkan hal yang penting itu.
Kemurahan Hati dalam Perumpamaan Hamba yang Tidak Mengampuni Anda mungkin ingat ada pejabat pemerintahan yang berhutang jutaan dolar kepada tuan dan rajanya. Dan ia tidak mampu membayar hutang jutaan dolar itu. Jadi ia harus dijual dalam perbudakan bersama semua anggota keluarganya, yang menurut kebiasaan zaman itu berlaku bagi para pejabat tinggi pemerintah yang gagal melakukan tugasnya. (Mungkin mereka seharusnya melakukan yang sama pada para pejabat pemerintah masa kini juga, yang mengacau-balaukan kerja mereka.) Tetapi orang itu datang ke hadapan raja dan memohon pengampunan. Katanya, "Aku tidak mampu membayarnya. Kasihanilah aku! Kasihanilah keluargaku! Kasihanilah!" Jawab raja, "Baik, aku mengampunimu. Karena kamu sudah bertobat, aku bebaskan kamu." Saya yakin Anda tahu kelanjutan kisah perumpamaan tersebut. Orang itu pergi keluar dan bertemu seorang rekan pejabat yang berhutang beberapa dolar padanya dan ia menarik temannya itu dengan memegang di leher temannya itu sambil berkata, "Mana uang dolar yang kau hutang padaku? Kamu berhutang 20 dolar padaku. Serahkan 20 dolar itu." Temannya tidak punya 20 dolar untuk diserahkan, maka ia dimasukkan ke penjara. Kemudian ketika kabar itu sampai pada raja, ia memanggil pejabat itu dan berkata, "Aku mengampuni kamu. Aku sudah bermurah hati terhadap kamu. Bukankah seharusnya kamu juga bermurah hati pada orang lain? Karena kamu tidak bermurah hati pada orang itu, maka pengampunan yang sudah kamu terima itu dibatalkan. Karena kamu tidak mengampuni, maka kamu juga tidak akan diampuni" - meskipun sebelumnya ia telah diampuni. Perhatikan ini betul-betul: ajaran Tuhan ini bertentangan dengan doktrin "sekali selamat, tetap selamat". Walaupun ia telah diampuni, namun pengampunan itu dicabut dan selanjutnya ia dimasukkan ke dalam penjara. Di sana dikatakan bahwa ia diserahkan kepada para algojo sampai ia membayar seluruh sisa hutangnya, yang tentunya berarti ia tidak akan pernah dapat melunasinya sebab di dalam penjara, Anda tidak mendapat upah satu sen pun. Tidak ada cara baginya untuk melunasi hutangnya. Ia sudah berakhir. Itu adalah cara lain untuk mengatakan bahwa ia sudah kehilangan segalanya. Karena ia tidak mengampuni, maka ia juga tidak diampuni! Meskipun ia telah menerima pengampunan sebelumnya, namun pengampunannya dicabut karena ia terbukti tidak layak untuk menerima pengampunan itu. Ajaran Tuhan amatlah jelas. Tidak ada makna yang kabur di sini. Tidak ada cara bagi Anda untuk memutarbalikkan kalimat ini atau berkelit-kelit tentang ungkapan tersebut. Mereka sangatlah jelas!
Kebutuhan Kita Saat ini akan Kemurahan Hati Pokok yang kedua adalah bagian lain dari kemurahan hati. Bilamana kita mempelajari penggunaan kata kemurahan hati dalam firman Tuhan, kita menemukan dua cara kata kemurahan hati itu dipergunakan. Jikalau kita berhenti pada makna pertama saja, kita akan kehilangan kekayaan makna yang terkandung di dalamnya. Hal pertama berbicara mengenai pengampunan Allah atas dosa-dosa kita, tetapi itu bukan berarti kita memerlukan kemurahan hati hanya ketika pertama kali kita menjadi orang-orang Kristen. Apakah kita memerlukan kemurahan Allah hanya saat kita bertobat atas dosa-dosa kita, kita dibaptis, kita datang pada Kristus, dan selanjutnya kita tidak lagi memerlukan kemurahan, apakah demikian? Bila kita berpikir seperti itu, kita benar-benar salah. Dan kita kehilangan bagian lain dari makna kemurahan hati, yang amat berharga. Anda akan menemukan banyak kali penggunaan kata "kemurahan" dengan makna yang satu lagi di Perjanjian Baru seperti ketika Paulus berkata "kasih karunia, kemurahan dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau. " "Kasih karunia, kemurahan dan damai sejahtera dari Allah Bapa." [diterjemahkan oleh LAI sebagai "rahmat" - pent.] Kita masih membutuhkan kemurahan-Nya yang tak berkesudahan. Hal ini dapat kita temukan pada 1 Timotius 1:2, misalnya saat Paulus berbicara pada Timotius, "kasih karunia, kemurahan dan damai sejahtera dari Allah Bapa..." Kita masih memerlukan kasih karunia. Kita masih membutuhkan kemurahan. Kita masih membutuhkan damai sejahtera. Begitu pula di surat 2 Yohanes 1:3 misalnya, kita menemukan kata-kata yang persis sama: "kasih karunia, kemurahan dan damai sejahtera." Juga di Galatia 6:16, Paulus berkata "damai sejahtera dan kemurahan... atas Israel milik Allah." Saya mengutip contoh-contoh tersebut untuk menunjukkan bahwa kemurahan atau belas kasihan bukan hanya sesuatu yang Anda perlukan di masa lalu ketika Anda diampuni dari dosa-dosa, tetapi kemurahan adalah sesuatu yang kita terus perlukan di masa sekarang. Mengapa? Mengapa kita masih memerlukan kemurahan? Karena kita masih bergumul melawan dosa. Saya baru mengatakan bahwa kemurahan hati adalah penawar yang dipakai Allah terhadap dosa. Kita masih bertempur melawan dosa. Dan karena kita terus bertempur melawan dosa, kita memerlukan dukungan kemurahan Allah dalam perjuangan melawan dosa. Kita melihat kata 'kemurahan' dipakai lagi misalnya di Ibrani 4:16, "Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima kemurahan dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya." Artinya kita terus menerima kemurahan sekarang, bukan hanya di masa lampau. Mengapa kita menghampiri takhta kasih karunia? Mengapa kita datang kepada Allah di dalam doa? Supaya kita menerima kemurahan! Lalu apa artinya di dalam konteks? Konteks di ayat 15 misalnya memberitahukan pada kita, bahwa karena kita dicobai oleh dosa dan kita amat lemah. Kita lemah. Karena kita lemah dan dicobai oleh dosa, kita membutuhkan dukungan kemurahan Allah untuk menopang kita hari demi hari. Kemurahan Allah merupakan jawaban luar biasa dari Allah atas dosa, atas kelemahan rohani kita. Kemurahan-Nya menopang dan mendukung kita. Jadi kemurahan adalah kasih karunia Allah, suatu kasih karunia yang khusus dari Allah (karena kasih karunia adalah satu kata yang sangat luas artinya, tetapi dalam kemurahan kita mempersempit makna kasih karunia kepada pengertian yang khusus, yaitu pertolongan untuk menang atas dosa). Pokok ini sangat jelas dalam firman Tuhan, tidak ada yang kabur atau membingungkan. Kalau kita perhatikan, kemurahan dan penghakiman merupakan kata-kata yang berlawanan. Sebagai contoh, di Yakobus 2:13 kita melihat penjelasan dari Yakobus sendiri atas firman Tuhan. Yakobus 2:13 menuliskan demikian: "Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan." [Kata "kemurahan" dan "belas kasihan" diterjemahkan dari kata Yunani yang sama - pent.] Ingat ayat ini baik-baik. Penghakiman yang tak berbelas kasihan berlaku atas orang yang tidak menunjukkan belas kasihan. Ini adalah sisi negatif dari ajaran Tuhan. Ini merupakan ajaran yang sama tetapi disampaikan dalam bentuk negatif. Namun ada yang bernada positif: "Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman." Itu menunjukkan kemenangan kemurahan Allah atas penghakiman. Belas kasihan Allah, yang merupakan kasih karunia-Nya yang menyelamatkan kita, membebaskan kita dari penghakiman. Itulah sebabnya belas kasihan menang atas penghakiman. Bukankah itu hal yang indah? Tetapi jikalau Anda tidak menunjukkan belas kasihan pada orang lain, maka penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas diri Anda. Anda harus menjadi tipe orang tertentu untuk diselamatkan; yakni, seorang yang murah hatinya. Ah, alangkah indahnya! Kita dipanggil untuk bermurah hati. Kita diwajibkan untuk bermurah hati. Itu bukan pilihan. Keselamatan kita bergantung padanya! Biarlah kasih karunia Allah berkarya dalam hidup kita!
Tuhan Menghendaki Belas Kasihan dan Bukan Persembahan Ada banyak sekali orang-orang berdosa dan orang-orang munafik serta orang-orang yang jahat yang sangat beragama. Hal ini sangat memuakkan. Mereka berkeliling melakukan kegiatan-kegiatan agamawi mereka. Mereka berpikir bahwa dengan sejumlah kegiatan-kegiatan agamawi itu - dengan mempersembahkan kurban di meja persembahan, melambai-lambaikan kemenyan, dan menyerukan ungkapan-ungkapan yang tidak jelas namun agar tampak agamawi dan berhenti di beberapa bagian untuk dapat menyerukan beberapa "Haleluya" dan "Puji Tuhan"... dan semua hal semacam itu disebut agama! Tetapi Tuhan Yesus berkata, "Aku tidak peduli tentang kegiatan-kegiatan agamawimu dan kurban-kurban persembahanmu, tetapi yang ingin Aku lihat adalah belas kasihan di dalam hati. Itulah yang Kucari." Jadi apa yang Ia sedang cari? Kita telah melihat pertama itu berarti jika saya bermurah hati atau berbelas kasihan, maka saya harus mengampuni. Oleh anugerah Allah saya mengampuni. Saya tidak mampu melakukannya dengan kekuatan saya sendiri. Tetapi apa artinya yang kedua? Kasih karunia Allah yang menopang bekerja di dalam diri saya. Apa artinya kasih karunia Allah yang menopang bekerja di dalam saya? Saya akan beritahukan.
Membangun Suatu Tim dengan Atmosfir Belas Kasihan Apakah artinya belas kasihan atau kemurahan hati? Maknanya adalah: sesudah orang-orang berbuat salah dalam melaksanakan suatu tugas - sesudah mereka berbuat kesalahan dalam tugasnya dan telah mengacaubalaukan semuanya - maka Anda datang pada mereka dan berkata, "Lihat! Kita sudah melakukan kesalahan. Kita telah berbuat salah dan kita memang patut kalah. Tetapi jangan berkecil hati! Mari kita perbaiki bersama. Mari kita pelajari kesalahan kita; mari kita lihat apa yang telah salah. Janganlah kita menangisi nasi yang telah menjadi bubur. Kita sudah dipermalukan hari ini. Mereka memperlakukan kita seperti sebuah karpet; mereka berjalan menginjak-injak kita. Tetapi itu semua belum berakhir. Mari melapangkan dada; mempelajari kesalahan kita, kegagalan kita dan kelemahan kita; dan berusaha mencari cara untuk memperbaikinya. Kita akan melawan mereka sekali lagi. Mari kita sama-sama berusaha mempelajari dan memperbaiki segala kesalahan kita." Tentu saja itu membutuhkan waktu yang panjang, karena kami berbuat salah dalam segala hal. Maka kami mempelajari semua kesalahan dan kegagalan itu lalu menjabarkannya satu persatu dan barulah kemudian kami menyusun jadwal untuk merencanakan perbaikan atas setiap hal. Di tahun berikutnya, kami berkata pada tim dari sekolah Santo Fransiskus Xaverius: "Bagaimana kalau kita bertanding lagi?" Jawab mereka, "Oh, tidak! Kelompok anak ingusan itu lagi! Mereka terlalu konyol! Mereka membuang waktu kami." Jadi kami berkata, "Baik! Baik! Berikan kami kesempatan sekali lagi bermain dengan tim kalian." Dan mereka setuju, karena kami bersahabat dengan mereka dan demi persahabatan, mereka rela membuang beberapa jam lagi. Maka kami memasuki lapangan dan bermain melawan mereka. Kata mereka, "Hei! Tim ini berbeda!" Hasilnya, mereka mengalami kekalahan! Mereka kalah 12 lawan 8. Mereka amat terkejut karena dalam 12 bulan kami mampu kembali bertanding dan mengalahkan mereka. Pada tahun berikutnya kami bermain di divisi teratas yaitu Divisi A dalam pertandingan antar klub di Shanghai, sementara mereka (tim dari sekolah Santo Fransiskus itu) sedang berjuang untuk mendapatkan satu tempat di Divisi 2. Kami bermain dengan tim-tim yang terbaik!
Keindahan Kemurahan dalam Kehidupan Rohani Bagaimana Anda akan menolong orang seperti ini? Melalui penghakiman, Anda telah menghancurkan orang itu karena dia telah gagal. Tetapi sebenarnya Anda bisa mengambil sikap bermurah hati dan berkata, "Anda telah gagal. Anda sudah mengacaukan semuanya. Anda benar-benar sudah mengacaukan semuanya." Anda harus berbicara dengan terus terang, kekacauan adalah kekacauan. "Tetapi kasih karunia Allah itu cukup. Jangan menyerah! Marilah maju bersama-sama. Mari mencoba lagi. Mungkin Anda akan gagal lagi, tetapi tidak akan seburuk kali ini. Dan selanjutnya Anda mungkin masih gagal lagi tetapi... kemudian Anda berhasil oleh karena kasih karunia Allah. Anda akan meraih kemenangan pada akhirnya. Anda akan mencapai kemenangan. Anda pasti berhasil mencapainya. Pasti!" Anda memberikan orang itu harapan melalui kemurahan hati. Tetapi bila Anda memaki orang itu Anda telah mengusir semua harapan dari orang itu. Semuanya akan berakhir di situ! Saya bertanya-tanya berapa banyak orang yang melakukan bunuh diri karena sesudah seseorang menghakimi mereka dan memaki mereka dengan berkata, "Kamu ini tidak ada harapan, kamu tidak menghasilkan apa-apa, kamu tidak berguna"? Karena tidak ada lagi pengharapan, mereka melakukan tindakan bunuh diri. Hidup tidak lagi berarti. Tetapi kemurahan belas kasihan Allah, yakni kasih sayang Allah, merupakan anugerah yang Ia sediakan. Daud berdosa dan Allah bisa saja berkata, "Kamu ini sampah. Jadi Aku akan membuangmu." Namun Allah berbelas kasihan atas dia. Daud bertobat dan berkata, "Tuhan, aku sudah berdosa. Aku telah berbuat salah besar! Sekarang, perlakukanlah aku menurut keadilan-Mu." Dan Allah mengadilinya tetapi Allah menaruh belas kasihan. Allah tidak membuangnya. Selanjutnya Daud berdosa lagi tetapi Allah kembali menaruh belas kasihan atasnya, waktu ia bertobat. Itulah sikap yang benar. Sikap bermurah hati berlawanan dengan sikap menghakimi. Di Matius 7:1-2, Tuhan Yesus berkata (dan ini merupakan makna lain dari bermurah hati): "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." Kadang kala kita bersikap sangat keras terhadap saudara-saudara seiman karena kita mengharapkan standar yang tinggi dari mereka. Dan saya juga mengakui kadang saya bersikap amat keras terhadap sesama Kristen; karena saya mengharapkan suatu standar yang tinggi. Tetapi saya menjadi amat kecewa dan kadang kala frustrasi, lalu menjadi emosi dan marah, sewaktu melihat orang-orang Kristen gagal. Tetapi bilamana saja ada pertobatan dan sikap menyesal, dan mereka bertobat dengan sungguh-sungguh di hadapan Allah, kita harus bermurah hati. "Anda telah membuat kekacauan. Anda harus memulai dari awal dan mencoba lagi." Jika semua anggota tim berfungsi seperti itu, jika setiap anggota gereja berfungsi dengan cara ini, saya percaya kita dapat membentuk sebuah tim kerohanian yang berkemenangan. Saya menjadi heran dengan apa yang dapat dihasilkan oleh sekelompok anak-anak jalanan yang belum pernah melihat permainan bola dalam hidup mereka, lalu melatih mereka selama 12 bulan dan mereka bisa bermain dengan standar yang mengejutkan. Lalu melatih mereka lagi dalam 12 bulan berikutnya dan mereka bisa bermain dengan yang terbaik. Itu sangat menakjubkan, tetapi itu bisa terjadi karena kita secara terus menerus memberikan dorongan kepada mereka. Di Shanghai, banyak tim mengalami kehancuran akibat perselisihan antar pemain sendiri, perkelahian, saling menuduh, saling menjatuhkan secara diam-diam, dan sebagainya. Tetapi tim kami bersatu dalam semangat kemurahan terhadap satu dengan yang lain karena kami telah memulai segalanya dari awal dengan membuat sejumlah besar kesalahan dan akhirnya kami belajar untuk saling mengampuni. Dan bersama kami bertumbuh dan meningkat hingga kami menjadi bagian dari yang terbaik. Saya menemukan hal itu merupakan pelajaran rohani yang amat berharga, yaitu belajar bermurah hati terhadap mereka yang lemah. Jadi firman Tuhan mengajar kita untuk bermurah hati kepada mereka yang gagal. Tolonglah mereka! Tolonglah mereka bangkit kembali! Berbicaralah kepada mereka! Jangan menjatuhkan mereka. Berteriak pada mereka atau memaki mereka tidak akan menolong mereka sama sekali. Sekarang ijinkan saya mengatakan hal berikut ini. Kadang kala saya temukan banyak hubungan suami-istri gagal karena sang suami atau istri bersikap tidak mau mengampuni pasangannya. Akhirnya Anda berkata "Aku sudah muak dengan kamu. Kamu sudah melakukan kesalahan ini 50 kali dan aku sudah jenuh karenanya. Sekarang hentikan semua ini. Aku sangat marah!" Kita bisa terus berhubungan seperti ini, tetapi saya tidak yakin akan bisa bertahan. Hubungan kasih mula-mula mulai memudar menjadi sikap mudah menghakimi, dan saat itu terjadi pernikahan mulai mengarah pada kehancuran. Pernikahan hanya dapat bertahan jika Anda berperan bagaikan seorang anggota tim, dengan mengatakan, "Nah! Itu memang kesalahan yang buruk. Kamu sudah menimbulkan banyak kekacauan. Tapi kita akan mencoba lagi. Kita akan berusaha melakukan yang lebih baik lain kali. Jangan patah semangat. Kita akan maju bersama-sama. Bagaimanapun kita akan memenangkan peperangan ini." Begitulah indahnya kehidupan Kekristenan. Jadi marilah kita mengakhiri dan menyimpulkan pelajaran ini. Kini kita memahami makna kemurahan hati. Pertama-tama, kemurahan hati artinya mengampuni, tetapi itu juga berarti secara terus-menerus memberi dorongan semangat kepada mereka yang lemah. Menolong mereka berjalan menuju kemenangan hingga akhirnya mereka mampu berkemenangan atas dosa. Itulah ajaran Tuhan yang begitu indah. Jika kita hidup dengan cara ini: mengampuni musuh-musuh kita, mengampuni mereka yang telah menyakiti kita, dan menolong mereka untuk mengalami kemenangan rohani, maka kita ada keyakinan bahwa kita pasti menerima kemurahan Allah pada hari itu. |
Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.
Ucapan Bahagia: - Berbahagialah Orang Yang Miskin Di Hadapan Allah (Matius 5:3) - Berbahagialah Orang Yang Berdukacita (Matius 5:4) - Berbahagialah Orang Yang Lembut Hatinya (Matius 5:5) - Berbahagialah Orang Yang Lapar Dan Haus Akan Kebenaran (Matius 5:6) - Berbahagialah Orang Yang Murah Hatinya (Matius 5:7) - Berbahagialah Orang Yang Suci Hatinya (Matius 5:8) - Berbahagialah Orang Yang Membawa Damai (Matius 5:9) |
|||||
|
Copyright 2003-2013. Semua materi di situs ini
adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries. |
|||||||