|
| Saran & Komentar | updated on 16 June 2009 |
|||||||
|
CahayaPengharapanMinistries Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan |
|||||||
|
|
|||||||
|
Akankah Yesus mendapati iman di Bumi? II Lukas 18:8b - Disampaikan oleh Pendeta Eric Chang, Canada Summer Camp Hari ini, kita sampai pada materi khotbah kedua dan yang ini adalah khotbah yang terakhir untuk acara retret ini. Mungkin ada beberapa orang dari antara Anda yang menyukai isi khotbah yang disampaikan kemarin (Akankah Yesus mendapati Iman di Bumi I) yang membuka cakrawala Anda, memperluas pandangan Anda. Tetapi Anda mungkin tidak akan menyukai isi khotbah di hari ini. Dan mungkin, setelah mendengarkan khotbah ini, Anda akan berkata dalam hati, "Seandainya saja aku tidak ada di sini hari ini." Kami, sebagai hamba Tuhan, harus menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Tuhan untuk kami sampaikan. Saya beritahu Anda, salah satu aspek dari Injil adalah bahwa isinya tidak akan cocok dengan selera manusia yang dikuasai oleh daging, manusia atau orang Kristen yang duniawi. Firman Allah itu tajam. Pedang bermata dua, sebagaimana yang dikatakan oleh Alkitab, dan Anda tentunya tahu apa gunanya pedang. Hari ini kita datang bukan untuk mengagumi keindahan atau kemampuan pedang itu, bukan untuk mengagumi rancangan, kekuatan maupun ketajamannya. Kita hanya melakukan itu saat pedang itu belum menancap di hati kita. Kristenitas di jaman ini munafik dan tidak setia
kepada Yesus Apakah kalimat-kalimat semacam itu terdengar akrab di telinga Anda? Saat Anda menjadi orang Kristen dan mulai berbicara kepada teman-teman Anda, bahkan teman yang beragama Kristen, mereka akan berkata, "Jangan mengkhayal terlalu jauh. Sedikit kekristenan dicampur dengan sedikit kemewahan akan lebih menyenangkan. Sedikit iman dicampur dengan sedikit kesadaran, hal itu akan menyeimbangkan hidupmu. Satu mata ditujukan kepada iman dan yang satunya lagi biarkanlah bebas. Jangan mengarahkan kedua matamu untuk iman saja." Lalu Anda berpuas diri, dan berkata, "Kami tidak sama dengan orang Kristen duniawi yang lain. Kami masih punya satu mata yang tertuju pada iman. Dan seperti halnya dengan manusia yang lain, kami juga harus bersikap realistis kan?" Hari demi hari, kita berada dalam keadaan di mana kompromi datang tidak selalu sebagai tekanan, melainkan sebagai godaan, dan ini terutama tertuju kepada mereka yang melayani Tuhan sepenuh waktu. Sebagai contoh, dengan mengamati mobil yang dikendari oleh para pelayan full-time dengan mobil orang lain, perbedaannya akan segera terlihat. Baru beberapa hari yang lalu, saudara Guy berkata kepada saya, saat kami bersama-sama dalam sebuah mobil, "Tim kami punya sebuah mobil di Hong Kong, dan jika sewaktu-waktu kami berkendara di dalam kota Hong Kong, mobil itu akan menarik perhatian banyak orang. Mereka pasti heran dari mana kami membeli barang lusuh seperti ini." Ia berkata saat hari sedang hujan, cipratan air terlihat jelas dari sayap ban depan, dan "air mancur" ini tentu saja akan menarik perhatian banyak orang. Mereka mungkin akan berkata, "Coba lihat diri kalian. Ada begitu banyak orang yang memiliki kemampuan dan pendidikan tinggi di antara kalian, dan jika ijazah kalian dikumpulkan maka akan terkumpul satu daftar panjang dari ijazah-ijazah itu. Dan kalian sekarang berkeliling kota dengan barang aneh begini? Sobat, cobalah untuk memijakkan kaki di tanah yang kokoh. Masalah kalian sebenarnya hanya karena kalian mengarahkan kedua mata kalian pada iman." Semestinya mereka hanya mengarahkan satu mata saja pada iman, dan mata yang satunya bisa diarahkan pada dunia. Sekalipun mungkin mereka tidak bisa berkeliling dengan mobil mewah, setidaknya mereka bisa berada di dalam mobil yang cukup layak dari pada mobil "air mancur" ini. Air mancur taman memang hal yang umum, tetapi mobil "air mancur" bukanlah hal yang lazim! Khotbah yang lalu (Akankah Yesus mendapati iman di bumi I), kita sudah melihat bagaimana kompromi ini datang sebagai tekanan yang terus saja mendesak kita untuk menjadi tidak setia kepada Firman Allah, namun kita masih mencoba untuk membohongi diri kita bahwa kita masih setia. Lagipula, bukankah kita masih mempunyai sedikit iman? Dan Hong Kong dipenuhi oleh kekristenan semacam ini. Dan hari ini saya akan mengecam hal tersebut sekali lagi, sekalipun semua pendeta di Hong Kong akan membenci saya. Saya memang tidak pernah berniat untuk menjadi orang yang mereka senangi. Saya akan mengecam sekali lagi perkara menjijikkan yang disebut sebagai kekristenan di Hong Kong. Perkara ini membuat perut saya terasa mual, dan jika bagi saya sudah seperti itu rasanya, lalu bagaimana bagi Yesus Kristus? Bagaimana mungkin orang-orang seperti ini berani berbicara tentang salib dan tentang mengandalkan pada kayu salib? Seharusnya mereka menyingkirkan lagu yang menyinggung masalah salib ini dari buku nyanyian rohani mereka dan tidak usah mencemari kata 'salib' lagi. Perkara yang akan saya bahas hari ini adalah salib. Di ujung khotbah saya yang lalu, saya mulai membahas tentang salib. Bagian-Nya adalah untuk menderita, dan bagian kita adalah untuk bersenang-senang. Ia mati supaya kita boleh bersenang-senang. Dan saya akan memberitahu Anda bahwa ini bukanlah ajaran yang berasal dari Alkitab. Walaupun semua gereja Kristen akan menentang saya, saya tidak akan gentar sedikitpun akan hal ini. Saya ingin menantang Anda, setelah Anda pulang dari retret ini, untuk membaca lagi isi Alkitab Anda seperti orang yang baru mulai membaca Alkitab. Jika Anda tidak punya pensil warna atau marker, cobalah sisihkan sedikit uang untuk membelinya. Dan mulailah menandai ayat-ayat yang merujuk pada "penderitaan" di dalam Alkitab, mungkin ini akan membuat Alkitab Anda jadi berwarna-warni. Dan setelah Anda mengerjakan hal itu dari halaman depan Alkitab sampai ke halaman yang terakhir, tunjukkan kepada saya ada berapa banyak halaman yang luput dari warna-warni itu. Atau, jika Anda pikir itu terlalu banyak, Anda bisa melakukannya di bagian Perjanjian Baru saja. Jika ada yang bisa membaca seluruh isi Alkitab di dalam sepuluh hari, saya pikir Anda tentunya bisa membaca Perjanjian Baru dalam sekitar dua hari. Mungkin kita jangan terlalu ambisius. Anda bisa saja meluangkan waktu sepuluh hari untuk membaca Perjanjian Baru. Kira-kiranya setelah melewati sepuluh halaman apakah Anda masih punya sisa semangat untuk melanjutkan? Anda mungkin akan berkata, "Sepertinya marker saya sudah mulai kehabisan tinta, apa harus beli yang baru? Berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk urusan ini?" Kita akan lihat, apakah Anda bisa menemukan halaman yang tidak berkaitan dengan pembahasan tentang penderitaan. Sebelumnya sudah saya katakan bahwa Anda mungkin tidak akan suka dengan isi khotbah ini. Tampaknya akan ada banyak dari antara Anda yang tidak menyukainya. Sangat tidak menyenangkan. Anda akan berkata, "Mungkin seharusnya aku datang dengan memakai helm, supaya kepalaku tidak terlalu banyak terkena benturan." Apakah Anda berhasrat untuk mengenal Allah dan
bergairah untuk bertemu dengan-Nya di surga? Gereja dipenuhi oleh orang-orang munafik. Ini bukan berita yang baru buat Anda. Anda tentu sudah tahu akan hal ini bukan? Bagaimana cara kita bisa mengetahuinya? Ada banyak jalan untuk mengetahuinya. Perhatikanlah orang yang akan meninggal dan Anda bisa tahu apakah dia itu Kristen atau bukan. Orang yang berkata, "Tuhan, jangan biarkan aku cepat mati. Aku masih muda. Baru 75 tahun umurku. Hidup ini sangat singkat. Aku tidak bisa meraih semua yang kuimpikan dalam 75 tahun hidupku. Aku belum sempat ke Australia, belum lagi ke Papua New Guinea. Berilah aku sedikit waktu lagi. Aku harus bisa bertemu dengan cucu dari cucuku. Aku baru sempat bertemu dengan cucuku saja. Aku mau bertemu dengan cucunya. Seperti apa rupanya? Apakah ia berambut hijau, kuning atau merah? Aku masih ingin bertemu dengannya. Aku tidak ingin mati sebelum pertemuan itu. Tolonglah, Tuhan. Cepat, suruh pendeta ini datang dengan segera! Pendeta ini kurang bagus. Panggil pendeta yang lain. Nah, yang itu tampaknya punya cukup kuasa. Pastikan kalau aku tidak segera mati." Lalu Anda menggaruk-garuk kepala sambil berkata, "Bukankah orang ini mengasihi Allah? Atau mungkin aku yang salah dengar. Tidakkah ia sering berbicara tentang mengasihi Allah. Mengapa di saat akan bertemu dengan Allah yang dikasihinya, ia justru tidak mau melangkah?" Munafik! Dan gereja penuh dengan orang seperti dia. Apakah kita, termasuk saya, merupakan orang jenis ini? Jika Tuhan memberi Anda kesempatan, perhatikanlah cara saya meninggal. Saya harap yang akan Anda lihat adalah orang yang dipenuhi sukacita, penuh harap akan kemuliaan bagi orang-orang yang meninggal. Saya akan berkata, "Tuhan, aku datang. Sudah lama aku menantikan hal ini. Ini aku, Tuhan. Janganlah ditunda lagi." Apakah saya terlalu membesarkan persoalan? Tidak, saya berbicara tentang isi Alkitab. Itulah hal yang dikatakan oleh rasul Paulus. Dia orang yang aneh, bukankah begitu? Ia berkata, "Jika Engkau memberiku pilihan untuk tinggal atau pergi, akan kuberitahu apa pilihanku. Aku ingin pergi. Aku tidak mau tinggal di sini. Aku tidak sabar mau bertemu dengan Tuhanku. Aku akan tinggal di sini Tuhan, jika Engkau menghendaki agar aku tinggal di sini, demi kepentingan mereka yang masih belum siap untuk menghadap kepada-Mu, apalagi pertemuan dengan-Mu akan merupakan saat-saat yang menggembirakan." Ada satu kesan yang tertanam jauh di dalam hati saya ketika seorang pendeta yang saya kenal baik, seorang pendeta yang cukup ternama di gereja-gereja barat, sedang mengalami saat-saat terakhirnya dalam keadaan terserang kanker. Saya tidak akan menyebutkan namanya. Yang menyedihkan hati saya adalah bahwa pendeta ini berjuang sekuat tenaga untuk bertahan hidup. Malahan, ia berkeliling ke berbagai negara, mencari orang-orang yang memiliki karunia penyembuhan untuk berdoa bagi kesembuhannya. Sudah cukup banyak yang berdoa bagi dia, dan kesembuhan itu tidak terjadi. Lalu orang-orang menggalang dukungan dari berbagai gereja untuk mendoakan kesembuhannya, agar ia tidak cepat-cepat mati. Maaf karena saya telah membicarakan tentang pendeta yang saya kenal baik ini, saya hanya merasa sangat sedih akan kejadian itu. Saat itu saya berpikir, "Anda, yang memberitakan Injil, yang berkata betapa indahnya Yesus, betapa indahnya berjalan bersama Allah yang hidup, ternyata tidak mau bertemu dengan-Nya." Kami para pendeta juga orang-orang munafik, bukankah begitu? Sungguh memalukan. Dan saya ingin berkata kepada Anda, dengan kasih karunia Allah, perhatikanlah saat-saat ajal saya. Semoga kehidupan saya menyatakan kemuliaan yang lebih lagi di saat menjelang ajal ketimbang di saat masih hidup sehat. Itulah yang dikatakan oleh rasul Paulus, "Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami." (2 Kor 4:10). Apakah Anda akan berkata seperti itu? Atau Anda justru akan berkata, "Tolong jangan sekarang, Tuhan. Aku tidak mau membawa kematian Yesus di dalam tubuhku setiap hari. Hidup ini hanya sekali. Aku hidup bukan untuk mati, bukankah begitu?" Demikianlah, dengan kalimat seperti itu berarti kita sudah memberi bukti kemunafikan kita. Saya menguraikan tentang mengapa kita menjadi tidak setia di dalam khotbah ini. Apa gunanya mencari tahu apakah kita akan tetap setia saat Yesus datang nanti kalau sekarang ini saja kita sudah tidak setia? Kalau sekarang ini saja kita sudah tidak setia, lalu apa gunanya berbicara tentang apakah kita akan tetap setia sepuluh atau lima belas tahun nanti? Jika Anda tidak setia sekarang ini, maka Anda tidak akan setia di Hari itu. Saya rasa kita tidak butuh menjadi seorang jenius untuk bisa memahami hal itu. Untuk bisa memastikan bahwa kita akan tetap setia di Hari itu, maka kita sudah harus setia sejak sekarang, bukankah begitu? Apakah salib itu harus menghunjam di dalam hidup
saya supaya saya bisa memiliki iman? Anda mungkin berkata, "Ah, aku mengerti sekarang. Sepertinya ada jalan lain yang lebih mudah. Bagaimana kalau kita coba dengan meditasi transendental Hindu?" Yang ini memang jauh lebih mudah. Anda tinggal duduk bersila dan menarik nafas dalam-dalam, untuk membantu konsentrasi pikiran Anda. Dan kalau cara ini kurang berhasil, Anda mungkin bisa mencoba berbagai macam gaya yoga, ada yang dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas (headstand), selanjutnya darah Anda akan lebih banyak mengalir ke arah kepala, dengan demikian, akan ada semacam kekuatan spiritual yang akan berkembang. Sebagai kegiatan olah raga, yoga memang bisa bermanfaat. Saya sendiri pernah mendalaminya. Saya dulu terbiasa melakukan posisi latihan dengan kepala di bawah setiap harinya, karena posisi itu dikatakan bisa meningkatkan sirkulasi darah ke otak. Jadi, saya membiasakan diri melatih posisi itu. Saya dulu bahkan mampu melakukan posisi yang sulit seperti misalnya 'gaya merak (peacock stand)'. Namun saya tidak berminat lagi melanjutkan latihan semacam ini, nanti saya terlihat lebih mirip merak daripada penginjil. Saya memutuskan untuk tidak lagi meniru burung merak karena saya sendiri sudah punya banyak masalah dengan kesombongan saya. Gaya ini sangat sulit karena kepala Anda berada di bawah dan kaki Anda mengambil sikap bersila di atas, dan beban berat badan Anda ditumpukan pada kedua tangan yang mengambil posisi menekan perut Anda. Jika Anda pernah mencobanya, maka Anda tentu tahu seperti apa susahnya gaya ini. Saya dulu terbiasa melatih posisi ini karena gaya ini dikatakan bisa meningkatkan sirkulasi di perut. Demikianlah, perut dan otak merupakan hal yang sangat penting bagi orang yang dikuasai oleh daging. Yang pertama adalah perut, di mana makanan diolah, kemudian otak yang diharapkan bisa memberi kita tempat yang membanggakan di tengah masyarakat. Namun saya beritahu Anda, hal-hal seperti meditasi semacam ini, atau jenis yang lainnya, tidak akan memberi kita pemahaman akan perkara-perkara rohani ataupun kuasa rohani. Hanya ada satu jalan menuju hidup, hanya satu jalan menuju kuasa rohani, menuju pemahaman tentang perkara rohani, yaitu jalan iman. Dan jalan iman adalah jalan salib. Nah, kita senang sekali berhenti di titik iman. Anda mungkin berkata, "Ada satu kelebihan kalimat, dan Anda telah merusak pernyataan yang indah ini. Saya baru saja akan menuliskannya. Pernyataan yang sangat indah, puitis. Suatu "kutipan yang layak dikutip" sebagaimana yang terdapat di dalam majalah Reader's Digest. Saya baru saja ingin menjadikannya sebuah plakat yang bertuliskan, 'Jalan menuju hidup kekal, menuju kuasa dan pemahaman rohani adalah iman.' Sangat indah! Dikutip dari Eric Chang. Dicetak dengan huruf berukuran besar. Tetapi Anda telah merusak pernyataan yang indah ini dengan mengatakan bahwa jalan iman itu adalah jalan salib." Saya beritahu Anda, ini bukan perkara penalaran, bukan perkara dogma, teologi ataupun filsafat. Tanyakan saja diri Anda sendiri saat ini: seperti apakah pemahaman rohani Anda? Mampukah Anda memahami perkara-perkara rohani? Mampukah Anda berkata seperti Paulus di dalam 2 Korintus 4:18 bahwa kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal? Apakah kalimat itu nyata di dalam kehidupan Anda? Apakah kalimat itu hanya bisa Anda ucapkan di bibir saja? Semua itu memang kata-kata yang tertulis di dalam Alkitab, dengan demikian kita mempercayainya. Saya tidak mempersoalkan apakah Anda percaya atau tidak pada kalimat itu. Yang ingin saya tanyakan adalah apakah kalimat itu nyata di dalam hidup Anda. Dan jika hal itu tidak merupakan kenyataan di dalam hidup Anda, apa sebabnya? Akan saya katakan kepada Anda, kalimat itu menjadi tidak nyata di dalam hidup Anda karena Anda tidak mengerti apa itu iman. Tanpa bertele-tele akan saya katakan bahwa di dalam Alkitab, di dalam Firman Allah, tidak ada iman tanpa salib. Sama sekali tidak ada! Yang saya bicarakan adalah iman yang menyelamatkan. Yang saya bicarakan adalah iman yang membuat Anda mampu untuk berkata seperti Paulus, "Aku juga memperhatikan hal yang tidak kelihatan, yang kemuliaannya jauh melebihi yang kelihatan sehingga yang kelihatan ini hanya tampak seperti bayang-bayang saja. Hal-hal yang kekal adalah kenyataan yang sesungguhnya." Adakah seseorang di sini yang mengalami semua hal itu sebagai kenyataan? Jawabannya sederhana. Saya akan mengajukan pertanyaan yang sejajar dengan ini, "Adakah seseorang di sini yang mampu berkata bahwa di dalam kehidupan Anda salib itu nyata?" Saya beritahu Anda mengapa saya menjadi Kristen. Saya menjadi Kristen karena saya mempedulikan dunia ini. Anda mungkin bertanya, "Apa saya tidak salah dengar?" Benar, saya mengasihi dunia ini, saya tidak suka mengurung diri di 'atas awan'. Berdiam di atas awan dalam arti hanya menikmati sendiri persekutuan yang indah dengan Allah sementara umat manusia menderita setiap harinya. Sebagai contoh, ada jutaan orang Kamboja yang dibantai di ladang-ladang pembantaian, lalu ada sekitar 6 juta orang Yahudi ditambah sekitar 3 sampai 4 orang Kristen dan yang lainnya yang terbantai oleh Nazi. Apakah Anda akan berpikir bahwa Anda, dan juga saya, memiliki hak untuk terbang ke awan menikmati persekutuan yang indah dengan Allah tanpa harus peduli dengan umat manusia yang lain? Jika Anda berpikir seperti itulah kekristenan, maka Anda masih belum memahami apa arti salib. Salib berarti melibatkan diri dengan penderitaan umat manusia. Kekristenan bukanlah candu yang menolong Anda untuk melarikan diri dari persoalan dan penderitaan ke alam khayal. Kekristenan yang tidak membawa salib bukanlah jenis yang diajarkan dalam Alkitab. Benar, kita semua tahu tentang hal 'dibenarkan oleh iman' dan hanya oleh iman saja, jika kalimat itu Anda sukai. Dan semakin iman itu 'menyendiri' (alone) akan semakin baik. Kita ingin iman yang sangat murni dan menyendiri, sampai-sampai tidak melibatkan hal apapun lagi selain mempercayai tentang satu atau dua hal yang sama sekali tidak berpengaruh apa-apa terhadap hidup kita. Dan ketika kita mencoba untuk memahami perkara-perkara rohani, kita berhadapan dengan tembok yang kosong. Jika kita ingin masuk ke dalam kehidupan rohani, kita harus pegang satu hal ini: yaitu untuk memahami dunia jasmani saja sulit dengan mengandalkan indera jasmani kita, maka tidaklah mungkin bagi kita untuk memahami hal-hal rohani dengan panca indera jasmani kita. Ijinkan saya melanjutkan uraian ini sampai Anda mengerti ke mana arah tujuan saya. Iman yang tidak setia membiarkan Yesus menanggung
semua penderitaan di atas kayu salib Apakah penyakit yang melandasi ketidakpercayaan? Apakah akar dari penyakit tidak percaya? Mengapa orang tidak percaya? Baru saja saya berikan satu jawaban yang sangat penting bagi Anda. Karena kita secara alami adalah manusia duniawi (carnal) atau menurut Alkitab dikuasai oleh daging. Kita bertindak menuruti kemauan daging, mengikuti pandangan mata jasmani, bukannya menuruti roh, bukannya mengikuti apa yang disebut oleh Alkitab sebagai 'manusia batiniah' (inner man). Mana mungkin yang jasmani bisa memahami yang rohani? Dalam batas-batas tertentu, kita semua adalah kaum 'intelektual', bukankah begitu? Kita semua sudah melewati bangku pendidikan dasar. Dan beberapa dari antara kita berhasil melewati jenjang universitas, dan keluar dengan membawa sehelai kertas yang menyatakan bahwa kita berhak menyandang predikat sebagai sarjana. Dan kita mengira bahwa kita sudah menjadi 'intelektual'. Wow, lembaran ini membuat kita merasa diri ini penting, namun tentu saja kita tidak akan terlalu memamerkannya. Kita mengerti betapa pentingnya bersikap rendah hati, terutama bagi mereka yang Kristen. Tapi tidak usahlah membohongi diri sendiri. Semua pendidikan kita telah membentuk kita untuk bergantung pada panca indera kita - pada mata, telinga, hidung lidah, kulit dan otak kita yang mungil ini, yang selalu kita kira memiliki kemampuan yang sangat besar, jauh melampaui kemampuan aslinya. Lalu kita menganggap bahwa kita bisa memproses informasi tentang iman yang tidak melibatkan salib. Kita bahkan menolak 'perbuatan baik' yang merupakan perwujudan dari iman itu. Perbuatan baik itu saja sudah sulit untuk dipahami, jika ditambah lagi dengan salib, sudah pasti kita tidak mau mendengar lagi tentang iman! Ijinkan saya memberitahu Anda, saudara-saudariku, bahwa di dalam Alkitab, tanpa salib tidak ada iman yang menyelamatkan. Dan jika ada salah satu dari Anda di sini bisa membuktikan bahwa saya telah menyatakan hal yang salah, maka saya akan membuat pernyataan tertulis kepada masyarakat umum bahwa saya telah melakukan kesalahan. Saya berjanji, bahwa saya akan menerbitkan pengakuan tentang kesalahan ini dan menanggung sendiri akibatnya. Saya menantang semua teolog atau pendeta untuk membuktikan bahwa saya telah melakukan kesalahan dengan menyatakan bahwa iman di dalam pengajaran Yesus, di dalam pengajaran Paulus, Petrus, atau siapapun itu di dalam Perjanjian Baru, melibatkan penderitaan. Penjelasan mengapa gereja yang kita miliki sekarang ini telah menjadi munafik adalah karena kita telah menyaring unsur penderitaan dari iman, dan membiarkan Yesus menderita sendirian di kayu salib. Jika saya menguraikan tentang penderitaan Yesus kepada Anda, mata Anda mungkin akan berkaca-kaca. Jika hanya sekadar melakukan retorika, saya mampu untuk itu. Saya juga tahu bagaimana caranya memainkan perasaan orang-orang. Saya juga mengerti tentang ketrampilan berkhotbah, namun saya tidak mau memakai hal-hal tersebut. Seperti yang dikatakan oleh rasul Paulus, di dalam 1 Korintus pasal 1 dan 2, "Aku terlatih dalam hikmat duniawi, namun aku tidak akan menyentuh dan memakainya sama sekali. Jika aku memakai hikmat dunia, yang mengandalkan psikologi, filsafat, teologi dan sebagainya, untuk mempengaruhi kalian, maka itu berarti aku telah merampok kuasa dari salib." Paulus berkata, "Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan" (1 Kor 2:2). Bukan hanya salib yang Yesus pikul, tetapi termasuk salib yang saya pikul bersama-Nya karena saya telah disalibkan bersama dengan Dia. Sudahkah Anda disalibkan bersama dengan Dia? Atau apakah Anda hanya mau menjadikan ini sekadar suatu pernyataan legal saja? Saya hafal dengan seluk beluk teologi, dan saya tahu permainan yang dilakukan oleh banyak teolog, yaitu, "Biarlah Yesus saja yang menanggung penderitaan-Nya, bagian kita adalah merentangkan sayap dan terbang menuju rumah surgawi - tentunya tidak terlalu terburu-buru, mungkin setelah kita berusia sekitar 95 tahun - dan sudah pasti kita terbang tanpa memikul salib." Mengapa saya percaya kepada Injil? Jawabannya sudah saya uraikan tadi. Bukan karena saya ingin melarikan diri dan melupakan segala macam hal seperti majikan yang jahat, teman yang buruk, serta segala macam orang yang menyebalkan, lalu pergi ke tempat damai yang hanya berisi mimpi indah berikut meditasi transendental. Kita sering mendengar rayuan seperti ini, bukankah begitu? Begitu banyak pengkhotbah yang dengan fasih berkata bahwa kehidupan Kristen adalah kehidupan yang bebas dari segala macam tekanan. Ini bukan kehidupan yang diajarkan oleh Alkitab. Bukankah sebelumnya sudah saya sampaikan kepada Anda bahwa Anda mungkin tidak akan menyukai khotbah ini? Tentunya akan lebih menyenangkan jika saya berhenti di khotbah yang lalu. Akan saya tegaskan, hal yang seperti itu bukanlah kekristenan. Jika pendeta Anda menyatakan hal yang seperti itu, dari gereja manapun Anda berasal, katakan padanya untuk membaca kembali isi Alkitab dan mengerjakan PR yang sama dengan Anda. Ajak dia untuk membeli sebuah marker dan mencari kata 'penderitaan' serta uraian yang berkaitan dengan penderitaan di dalam Perjanjian Baru. Mungkin setelah melakukan itu, pendeta Anda tidak mau lagi membaca Perjanjian Baru. Mungkin dia bahkan tidak mau lagi menjadi pendeta. Dan mungkin ini lebih baik bagi gereja Anda! Kita akan menjalani hidup yang baru bersama
Kristus hanya setelah kita mati bersama dengan Dia Mengapa? Telusuri saja akar persoalannya. Bagaimana jika suatu hari nanti dokter mendiagnosa bahwa Anda terkena kanker tahap akhir, dan hal itu akan terjadi pada sebagian besar dari antara kita, bukankah begitu? Di Hong Kong, tingkat pengidap kanker sangatlah tinggi, satu dari tiga orang di Hong Kong mati karena penyakit kanker. Hong Kong memegang rekor tertinggi dalam hal tingkat pengidap kanker di dunia. Di Jepang, perbandingannya adalah satu dari antara empat orang yang meninggal. Nah, anggaplah Anda ternyata mengidap kanker tahap akhir, atau jika bukan yang tahap akhir mungkin yang termasuk jenis ganas, dan anggaplah penyakit Anda itu masih bisa untuk diobati. Lalu dokter berkata kepada Anda, "Sobat, jangan khawatir. Telanlah beberapa butir aspirin ini, maka rasa sakitnya akan berlalu, dan Anda akan merasa lebih sehat besok pagi." Lalu Anda berkata, "Saya tidak keberatan menelan aspirin ini. Tetapi bagaimana dengan kanker saya?" "Kanker? Ya, telan saja beberapa butir aspirin lagi. Itu akan menyelesaikan semua persoalan Anda." Dan Anda berkata, "Saya tidak pernah mendengar bahwa aspirin bisa menyembuhkan kanker." "Ah, jangan khawatir sobat. Yang perlu Anda lakukan adalah menambah takaran aspirin Anda jika masih merasa kurang tenang." Nah, bagaimana penilaian Anda terhadap dokter yang seperti itu? Anda tentu akan berpikir, "Keterlaluan! Apa betul orang itu dokter? Lulusan dari mana dia? Siapa yang pernah mendengar bahwa aspirin bisa menyembuhkan kanker? Aku lebih pintar dari dokter itu. Kalau aku yang menjadi dokter, aku akan lebih paham bagaimana menanganinya ketimbang orang itu." Lalu kita berpuas diri. Baiklah, kita memang orang-orang yang bijak. Lalu bagaimana cara menangani dosa? Tidak masalah! Nyanyikanlah beberapa lagu rohani. Kita akan merasa lebih baik. Anda mungkin akan berkata, "Jangan bercanda! Kita sedang berbicara tentang masalah dosa." Tunggu, ada seorang Dokter yang pernah melakukan satu karya besar, tahukah Anda apa yang Ia kerjakan? Ia mati karena kanker, Ia mati bagi kanker Anda, dosa Anda. Anda berkata, "Permisi, tapi saya tidak sedang membicarakan tentang kematian-Nya karena kanker. Yang punya kanker adalah saya! Sayalah pasiennya." Nah, yang perlu Anda lakukan adalah percaya dengan segenap hati Anda bahwa Ia telah mati dan kanker yang membuat Ia mati itu sebenarnya adalah kanker Anda. "Oh! Saya mengerti. Ini pasti teori kedokteran yang perlu pemikiran mendalam. Saya harus memikirkannya dulu." Ya, sang Dokter memang berkata seperti itu. Jadi saya perlu memberitahu Anda tentang mengapa Anda tidak tersembuhkan juga. Karena Anda kurang percaya bahwa Dokter besar ini mati bagi kanker Anda. Apakah hal tersebut terdengar seperti lelucon? Mengapa kita sedemikian buta? Tidak pahamkah Anda bahwa pernyataan ini adalah hal yang tidak masuk akal bahwa yang perlu dilakukan adalah sekadar percaya kepada Yesus saja, bahwa Ia telah mengangkut semua dosa dunia ini dan bahwa Ia mati bagi dan karena dosa? Tetapi justru banyak sekali orang Kristen yang berkata, "Ya. Hanya itu yang perlu Anda lakukan. Itu saja. Pendeta mengajarkan itu kepada saya sejak saya masih kecil, sejak masih di sekolah minggu. Ia memberitahu saya bahwa iman adalah percaya kepada Yesus." Saya berani pastikan kepada Anda bahwa sebagian besar gereja di Hong Kong mengajarkan seperti ini, dan mungkin juga di sebagian besar Kanada, Amerika Serikat, dan mungkin di dunia. Anda tinggal percaya bahwa Yesus menanggung kanker dari dosa Anda dan Haleluya, itu saja! Dia yang menderita, dan cukup Dia saja! Anda mungkin berkata, "Hey, tunggu dulu! Apakah Anda bermaksud mengajarkan sesuatu yang berbeda? Jangan-jangan ini ajaran sesat." Saya sudah mempelajari teologi, saudara-saudariku, dan saya rasa apa yang saya pelajari dalam teologi melebihi apa yang sudah dipelajari Anda yang hadir di sini, dan mungkin juga kebanyakan orang di Kanada. Saya tahu hal-hal yang terkait dengan pernyataan saya ini baik secara teologi maupun alkitabiah. Dan saya menantang Anda, dan juga setiap orang yang mungkin mendengarkan rekaman khotbah ini, atau mungkin juga pendeta Anda - jika Anda tidak berasal dari gereja ini - berikanlah rekaman khotbah ini padanya. Dan jika ia tidak begitu mendalami teologi atau Alkitab, sarankanlah agar dia membawa rekaman tersebut ke sekolah Alkitab. Mintalah dia untuk melibatkan orang-orang yang berotoritas dan mejadi rujukan utama tentang pemahaman isi Perjanjian Baru di dunia ini, beberapa dari antara orang-orang ini cukup saya kenal dan beberapa lagi malahan merupakan teman baik saya. Biarlah mereka mendengarkan rekaman khotbah ini, dan lihat apakah mereka berani berkata bahwa isi rekaman khotbah ini sesat. Kebenaran di akhir jaman ini telah diputar menjadi kesesatan, seperti yang dikatakan oleh Yeremia, "Yang gelap dijadikan terang dan yang terang dijadkan gelap" (Yer. 13:16). Saya tidak khawatir apakah seluruh dunia akan menentang saya, seperti yang terjadi pada Yeremia. Anda tahu, pada akhir pelayanannya, Yeremia telah dituduh sebagai pengkhianat oleh kaum sebangsanya, orang-orang Yahudi. Malahan, mereka berusaha membunuhnya, dan percobaan itu dilakukan lebih dari sekali. Dan terhadap saya juga, ada lebih dari sekali orang mencoba untuk membunuh saya. Mungkin suatu hari nanti mereka akan berhasil. Dan saya akan bisa berkata kepada Anda, "Perhatikan cara saya mati." Memang benar bahwa Yesus menanggung dosa-dosa kita di salib. Saya tidak ingin Anda mengira bahwa saya tidak percaya akan hal ini, atau bahwa saya tidak memandang hal ini penting. Di titik ini, analogi saya dengan kisah dokter tersebut memang tidak sejajar, walau ada beberapa hal yang sejajar. Seperti yang Anda ketahui, ada beberapa peneliti di bidang kedokteran yang menguji obat temuan mereka ke diri mereka sendiri. Mereka mengambil resiko mati, untuk mengetahui apakah obat itu memang mujarab atau tidak. Anda tentu sudah mendengar akan hal itu. Jika obat itu ternyata tidak manjur, maka mereka mati. Mereka rela menanggung resiko maut untuk menyelamatkan kita. Dan mereka adalah para pahlawan besar di bidang kedokteran. Orang yang menemukan radium dan bekerja dengan radium, akhirnya meninggal akibat radiasi. Radium telah menjadi salah satu barang penting di dalam perawatan kanker. Si penemu meninggal oleh bahan temuannya. Di pihak lain, ada lagi orang-orang yang mengujikan kemampuan serta kemanjuran suatu obat baru ke diri mereka sendiri. Di dalam pengertian ini, kita bisa melihat adanya parallel dengan Yesus. Akan tetapi, itu tidak berarti bahwa mempercayai bahwa mereka mati bagi kita berarti bahwa obat itu tidak perlu kita pakai. Ingat baik-baik hal ini. Yesus mati bagi Anda dan saya, dan kematian ini bukanlah dalam rangka menjalankan suatu eksperimen, melainkan Ia mati mewakili kita. Ia mengambil semua dosa kita dan menaruh di dalam hati-Nya, dan mati di kayu salib bagi kita. Saya percaya akan hal ini dengan sepenuh hati karena saya sudah mengalami kuasa dari kematian-Nya yang memberikan keselamatan. Saya tidak akan bebas dari kuasa dosa jika bukan karena kematian-Nya. Itu adalah bagian yang mendasar dalam penebusan. Akan tetapi jika kita berhenti di titik ini, berarti kita sudah menyelewengkan ajaran Yesus sendiri, dan juga menyelewengkan ajaran di dalam Perjanjian Baru. Kematian-Nya di kayu salib memang menebus dosa-dosa kita, akan tetapi di dalam pengalaman hidup kita, kematian-Nya di kayu salib tidak akan pernah membebaskan kita dari kuasa dosa jika kita hanya sekadar percaya akan hal itu di dalam otak saja. Hal yang seperti itu tidak diajarkan di dalam Perjanjian Baru. Tidak ada! Tidak pernahkah Anda membaca kitab Roma? Apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus di kitab Roma? Kita akan hidup bersama Dia dan oleh Dia jika kita mati terlebih dahulu bersama-Nya. Jika Anda mengencerkannya, jika Anda buang pernyataan yang terakhir, berarti Anda telah merusak Injil, hal yang telah dilakukan oleh gereja - dan, sayangnya, dengan sangat berlebihan. Yesus telah mati di kayu salib. Lalu apa yang Yesus katakan kepada kita? Ia berkata, "Ikutlah Aku." Jadi bukan sekadar percaya dalam kapasitas intelektual bahwa Yesus telah mati. Yang terpenting adalah mengikuti jejak langkah-Nya. Iman di dalam Perjanjian Baru: Percaya dan
bersedia untuk menderita bagi Dia Tentunya Anda harus diberitahu apa syaratnya jika Anda ingin memahami perkara-perkara rohani. Perkara rohani hanya bisa dilihat oleh roh. Itu sebabnya Anda tidak bisa melihat perkara rohani. Itu sebabnya Anda hanya bisa melihat perkara duniawi. Dan itu sebabnya Anda berpikir, "Seandainya saja Allah memperlihatkan kerajaan-Nya, maka aku akan percaya." Sobat, Ia tidak akan memperlihatkan kerajaan-Nya kepada Anda. Sebelum bagian khotbah yang satu ini tertanam di dalam benak Anda, Ia tidak akan melakukan hal itu. Sebelum Anda menjawab pertanyaan: apakah Anda bersedia mengikuti jejak-Nya? Jika Anda tidak bersedia, maka makna khotbah ini berakhir sampai di sini bagi Anda. Tak ada lagi hal yang layak untuk dibicarakan. Lupakanlah perkara hidup yang kekal, Allah yang hidup dan perkara mengenal serta berjalan bersama Dia. Tidak ada jalan yang mudah dan murah untuk itu. Saya bukan penjual obat palsu. Tidak ada jalan lain. Anda mungkin berkata, "Tetapi itu kan perkataan Petrus." Baiklah, Anda ingin mendengar perkataan Paulus? Mari kita buka Filipi, salah satu rujukan dari sekian banyak rujukan dalam tulisan Paulus. Sebenarnya, penderitaan adalah salah satu unsur terkuat di dalam tulisan-tulisan Paulus, dan saya heran bagaimana cara Anda membaca Alkitab tanpa bisa melihat unsur penderitaan ini? Sebagai contoh, kita lihat Filipi 1:29 di mana Paulus mengatakan hal yang sama dengan Petrus. Jika Anda tidak suka dengan tulisan Petrus, cobalah membaca tulisan Paulus. Dan ada yang bertanya, siapakah yang terbesar di kerajaan surga? Petrus, Paulus, Yohanes, atau yang lainnya? Saya pikir, jika Anda mengajukan pertanyaan ini langsung kepada Petrus, Paulus dan Yohanes, maka mereka akan tersenyum dan berkata, "Sobat, pertanyaan macam apa ini? Pahami dahulu arti salib, maka kamu akan mendapatkan jawabannya." Apa yang dikatakan oleh Paulus di dalam Filipi 1:29? Sebab kepada kamu (kita semua) dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus (Bukankah sekadar percaya kepada Kristus adalah keinginan kita? Akan tetapi Paulus berkata bukan sekadar percaya saja), melainkan juga untuk menderita untuk Dia. Apakah Anda memahaminya? Sudah tertanamkah hal itu di dalam benak Anda? Anda tidak harus memakai ungkapan 'salib'. Silakan pakai istilah lain yang Anda suka, bisa dengan istilah 'menderita' atau juga dengan istilah 'mengikuti jejak-Nya'. Jadi, bukan sekadar iman saja. Yang dikaruniakan kepada kita bukan sekadar untuk percaya saja, melainkan juga untuk menderita. Jika Anda sulit mengingat isi khotbah ini, saya minta Anda untuk memusatkan ingatan pada satu hal. Saya akan memberikan definisi berikut ini berdasarkan ajaran dalam Perjanjian Baru: Iman menurut Perjanjian Baru adalah tanggapan kepada Yesus yang mencakup kesediaan untuk menderita bagi Dia. Nah, menderita untuk Dia merupakan hal yang penting, jangan asal menderita saja. Saya bisa saja menderita karena teman saya telah bersikap tidak baik terhadap saya. Saya bisa saja menderita karena tekanan rasa rendah diri. Saya bisa saja menderita karena tingkat pendidikan yang rendah, miskin, dan sebagainya. Semua hal itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan Injil. Yang kita bicarakan adalah iman kepada Dia yang mencakup kesediaan untuk menderita bagi Dia. Beranikah Anda, atau para teolog di manapun mereka berada, menghapuskan kata-kata 'menderita untuk Dia' dari dalam Alkitab? Pada tantangan yang lalu, saya meminta Anda untuk menggunakan marker dengan warna yang efeknya membuat kata-kata yang Anda tandai menjadi mencolok, bukannya marker hitam yang akan menghilangkan kata-kata tersebut. Sekarang ini, ada banyak sekali teolog yang membaca dengan marker hitam di tangan. Dan ketika mereka sampai kepada kata-kata yang tidak mereka sukai, mereka segera mencoretnya dengan marker hitam, dan kata tersebut tertutup, hilang. Mungkin marker hitam terlalu menarik perhatian, jadi bisa diganti dengan tip-ex. Nah, tip-ex jaman sekarang lapisannya sangat tipis, jadi tidak akan ada orang yang tahu bahwa kata-kata yang dihapus itu pernah ada di sana. Saya percaya pada salib Yesus Apa makna dari baptisan? Saat yang indah? Baptisan adalah lambang bagi kematian. Anda mati dan bangkit lagi di dalam hidup yang baru. Peristiwa itu melambangkan sesuatu yang telah terjadi jauh di dalam hati Anda. Jika peristiwa di dalam hati itu tidak terjadi, Anda bisa saja keluar-masuk air sampai ratusan atau ribuan kali, atau bahkan berenang seharian di air, dan pada saat keluar dari air, Anda tetap sebagai manusia lama, masih seperti yang dulu. Lalu orang lain mengamati kehidupan Anda dan berkata, "Saya tidak melihat ada perubahan dalam hidupmu." Iman Anda tidak menghasilkan apa-apa. Hanya ketidaksetiaan. Apakah Yesus mendapati iman yang setia, yang
tidak terpisahkan dari salib, sekarang ini? Tidak! Kamu akan menjual Tuhanmu demi uang Ide pokok di dalam buku ini adalah bahwa Peter Wright berusaha membuktikan bahwa dinas rahasia Inggris (MI5) telah disusupi oleh agen-agen Rusia, dan Peter Wright memiliki posisi yang cukup menguntungkan dalam hal ini karena ia pernah menjadi asisten direktur. Tentu saja bagi mereka yang tinggal di Inggris, atau yang gemar memantau berita tentang Inggris, di tahun 50-60an hal ini bukanlah sesuatu yang baru. Ada banyak agen penting, berkebangsaan Inggris, yang merangkap sebagai agen Uni Soviet. Posisi mereka cukup tinggi di dalam dinas rahasia Inggris. Setidaknya ada sekitar 4 atau 5 orang agen top Rusia yang menyusup ke dalam dinas rahasia Inggris, baik itu MI5 dan juga MI6 (yang dapat kita samakan dengan CIA di AS). Walaupun kedok orang-orang itu terungkap, Peter Wright - si penulis buku - yakin bahwa masih ada banyak lagi hal yang belum terungkap. Mengapa ia berkesimpulan demikian? Karena, bagi Anda yang sudah membaca atau mendengar berita tentang buku ini, para agen top tersebut berhasil meloloskan diri sebelum ditangkap. Dengan kata lain, mereka berhasil diloloskan. Jadi Peter Wright tahu bahwa ada orang yang memiliki akses ke bagian informasi terpenting di dalam dinas rahasia yang ikut bermain di dalam urusan ini. Dan karena mereka yang terungkap sebagai agen Rusia itu sebelumnya sudah memegang jabatan penting seperti kepala bagian di dalam dinas rahasia, maka orang yang meloloskan mereka tentulah memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Lalu Peter Wright menyimpulkan bahwa bos-nya sendirilah, yaitu direktur MI5, yang merupakan agen ganda yang meloloskan mereka. Sekarang Anda tentunya paham mengapa pemerintah Inggris tidak mau buku ini beredar luas. Roger Hollis, direktur MI5, telah berkarir di dalam dinas rahasia Inggris dalam jangka waktu yang sangat panjang, bisa dikatakan seluruh karirnya dihabiskan di sana. Ia telah menjadi pimpinan di sana dalam waktu sekitar dua atau tiga dekade. Ia mengetahui segala rahasia di dalam MI5. Peter Wright sendiri bukanlah seorang agen rahasia, ia adalah seorang ilmuwan. Ia belajar elektronika di Cambridge. Ia tidak pernah bercita-cita untuk menjadi seorang agen rahasia. Ia dimasukkan ke dalam dinas rahasia untuk bekerja di bagian penyadapan dengan menggunakan berbagai macam peralatan yang canggih. Dan ia menjumpai kejutan besar di sana, dinas rahasia tempatnya bekerja ternyata telah disusupi agen pihak lain. Lewat kerja kerasnya, dengan berbagai peralatan yang dikembangkan secara canggih, beberapa agen ganda terungkap kedoknya, namun mereka berhasil meloloskan diri. Malahan belum lama ini, salah satu dari yang lolos itu sempat muncul dalam wawancara di stasiun TV milik Soviet. Pengkhianatan semacam ini membuat kita muak, bukankah begitu? Ada satu kata untuk menyebut orang-orang ini: Pengkhianat. Orang-orang itu berkhianat terhadap negaranya sendiri, mereka tidak punya moral dan bekerja untuk kepentingan musuh. Sungguh menjijikkan. Tapi kita jangan terburu-buru merendahkan mereka. Sebenarnya, ketidaksetiaan semacam itulah yang akan Yesus temui di dalam diri kebanyakan orang yang menyebut dirinya 'orang Kristen'. Janganlah berpuas diri dan berkata, "Kami tidak akan berbuat seperti itu." Pihak berwenang di Inggris berusaha untuk menyeret Roger Hollis ke pengadilan. Akan tetapi penyelidikan terhadap kasus ini memakan waktu yang terlalu lama, dan di waktu itu Roger Hollis sudah memasuki masa pensiunnya, dan ada pihak-pihak yang menyembunyikan berbagai bukti. Akhirnya, arti penting dari upaya menyeret Roger Hollis ke pengadilan menjadi tidak bernilai lagi. Hal itu hanya akan menimbulkan ketidakpercayaan yang meluas terhadap dinas rahasia Inggris, baik oleh rakyat maupun oleh agen-agennya sendiri, dan ini bisa mengakibatkan lembaga itu mengalami ambruk. Tampaknya, menurut mereka, lebih baik perkara ini dipendam saja. Dan itulah yang kemudian dilakukan oleh pemerintah Inggris. Mengapa manusia duniawi dikuasai oleh ketidaksetiaan? Mengapa Roger Hollis dan agen penting lainnya melakukan hal yang bisa disebut sebagai tindakan menjual bangsa sendiri kepada musuh? Uang. Apa lagi? Mengapa para agen mau bekerja? Demi uang, mungkin. Bisa juga karena rasa pengabdian kepada negaranya, suatu hal yang bisa saja terjadi pada agen-agen Soviet. Itu pun masih berupa kemungkinan. Setiap orang tentunya akan muak melihat tingkah laku para agen yang menjual negaranya demi uang. Mereka adalah para 'Yudas'. Tapi bagaimana dengan Anda? Apakah sekarang ini Anda setia? Saya bahkan tidak akan menjawab pertanyaan apakah Yesus akan mendapati iman kalau datang kembali nanti. Akankah Ia mendapati iman di antara Anda sekarang ini? Atau mungkinkah kita ini justru merupakan para "pengkhianat" yang menyusup ke dalam gereja? Apa yang kita lakukan saat kita menyusup ke dalam gereja? Tetap mengutamakan kepentingan duniawi, demi mobil, demi rumah dan demi uang kita akan menjual Tuhan kita. Kita sudah mempermalukan nama-Nya dengan cara kita menjalani hidup ini. Saya katakan bahwa saya percaya pada salib karena hanya jika salib masuk ke dalam hidup Anda dan saya, dan memotong kanker dosa seperti layaknya pisau bedah, maka Anda dan saya tidak akan pernah bisa bebas dari kuasa dosa yang mematikan itu. Salib harus memotong habis dosa-dosa. Adalah hal yang sangat penting mempercayai bahwa Yesus telah mengambil alih beban dosa, tetapi itu baru langkah pertama. Langkah selanjutnya adalah mengijinkan kuasa penyembuhan itu masuk ke dalam diri Anda, Anda boleh menyebutnya terang salib atau pedang salib (bentuk salib memang menyerupai pedang), yang penting salib itu harus masuk ke dalam diri Anda dan menyingkirkan kuasa dosa. Iman Anda tidak akan menjadi setia jika Anda tidak
bersedia menderita untuk Yesus Ada sepasang suami istri yang sudah menikah sekitar dua puluh atau tiga puluh tahunan. Dan si istri mendapati bahwa sang suami telah menyeleweng dengan wanita lain. Setelah lewat sekian waktu, sang istri sudah tidak tahan lagi dan hatinya menjadi semakin pahit terhadap ketidaksetiaan ini. Ketidaksetiaan memang membuat kita semua merasa pedih, bukankah begitu? Namun kepahitan dan kemarahan hati perempuan ini rupanya terlalu berlebihan, sampai ia membunuh suaminya yang telah hidup bersamanya dalam pernikahan selama tiga puluhan tahun itu. Ini masih belum seberapa. Setelah membunuh suaminya, wanita ini memotong-motong mayat suaminya. Bagaimana cara dia melakukannya? Ia membeli sebuah gergaji mesin! Dipotong-potongnya mayat suaminya sampai menjadi potongan yang kecil-kecil. Kemudian ia merebus semua potongan itu di dalam panci. Apakah hal ini membuat Anda merasa muak? Setelah selesai merebus potongan-potongan tersebut, ia lalu membuang semuanya ke dalam tong sampah. Nasib suaminya berakhir di panci dan tong sampah! Suatu hari, salah satu anak perempuannya merasa heran mengapa ayahnya lama tidak muncul. Sang ayah menghilang begitu saja. Cukup banyak orang Hong Kong yang menghilang, akan tetapi biasanya mereka adalah anak kecil atau remaja. Tak ada orang yang bisa membayangkan apa ada orang yang berminat untuk menculik kakek tua berusia sekitar 60 tahunan. Si anak ini juga curiga akan hal-hal di sekitar rumahnya. Mengapa ibunya membeli sebuah gergaji mesin? Apakah ibunya ingin menjadi tukang kayu? Jadi ia meminta pihak kepolisian untuk menyelidiki hilangnya sang ayah. Dan di bulan Februari tahun ini, seluruh kisah itu terungkap. Ini adalah salah satu peristiwa pembunuhan yang paling tragis dan mengerikan yang terjadi di antara orang-orang yang seharusnya memiliki jalinan cinta. Yang satu berkhianat dan yang satunya membalas dengan pembunuhan, pemotongan dan panci masak! Anda tidak tahu apakah harus menangis atau tertawa mendengarkan kisah ini, bukankah begitu? Ini memberi saya gambaran tentang seberapa busuk keegoisan hati manusia. Si suami terkena kanker dosa yang sangat parah. Si istri juga tertimpa kanker dosa yang sama parahnya. Setiap orang tertimpa kanker dosa yang sangat parah, dan apakah Anda akan berpikir bahwa semua itu bisa disembuhkan dengan 'aspirin spiritual'? Dengan menyanyikan beberapa lagu rohani di gereja dan diberitahu tentang besarnya kasih Yesus kepada kita? Selama Dia masih memikul salib itu sendirian, tanpa melibatkan kita, tampaknya kita akan dengan mudah mempercayai Dia dengan gembira. Ijinkan saya menutup dengan satu pertanyaan: apakah Anda menginginkan iman? Apakah Anda menginginkan iman yang menyelamatkan? Apakah setelah menjadi Kristen Anda mendapati bahwa semua yang dijanjikan oleh sang pengkhotbah kepada Anda tidak benar? Ia menjanjikan damai sejahtera dan sukacita dan sebagainya, namun apa yang Anda dapati ketika Anda masuk ke dalam kehidupan Kristen? Yang Anda dapatkan adalah sakit kepala yang tidak dapat disembuhkan oleh aspirin. Segala sesuatunya menjadi serba salah. Dunia Anda serasa runtuh. Segala sesuatunya berbalik menentang Anda, dan Anda mengeluh, "Apa sebenarnya yang dijanjikan si pengkhotbah dulu? Di mana damai sejahtera dan sukacitanya? Tak ada satupun hal semacam itu yang kudapatkan. Yang terjadi justru hidupku menjadi semakin kacau setelah menjadi Kristen." Tentu saja! Karena Ia tidak pernah memberitahu Anda bahwa Anda tidak sekadar harus mempercayai bahwa Yesus telah mati bagi Anda, bagi beban dosa Anda, melainkan juga harus mengijinkan pedang salib memotong kanker dosa dan manusia lama untuk membebaskan Anda dari kuasa dosa. Salib Yesus harus menghunjam ke dalam hidup Anda sehingga manusia lama Anda mati, dan hubungan Anda dengan dunia berakhir. Anda diubah dari seorang pendosa menjadi manusia baru yang hanya menjalin hubungan dengan Kristus. Kemudian hidup yang berisi watak memberi dari Kristus dan juga kehendak Kristus akan tumbuh lewat manusia baru Anda. Dan hidup baru Anda adalah hidup baru yang berisi kesediaan untuk menderita bagi Dia. Inilah iman menurut Perjanjian Baru. Apakah Anda masih benar-benar menginginkan iman yang menyelamatkan? Yesus berkata di dalam Lukas 18:8b, "Aku mati bagimu, akan tetapi kalau Aku kembali lagi nanti, akankah kamu tetap setia pada-Ku di dalam hidup yang kau jalani? Setia di dalam segenap keberadaanmu?" Masalahnya, apakah sekarang ini Anda sudah setia? |
Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.
Perumpamaan: - Perumpamaan tentang Kantong Kulit yang Lama dan yang Baru - Perumpamaan tentang Seorang Penabur Benih - Perumpamaan tentang Penabur - dari Sudut Pandang Keselamatan II - Perumpamaan tentang Benih yang Tumbuh dengan Sendirinya - Perumpamaan tentang Lalang di antara Gandum - Perumpamaan tentang Benih Sesawi - Perumpamaan tentang Harta yang Terpendam - Perumpamaan tentang Ahli Taurat yang Menerima Pelajaran tentang Hal Kerajaan Surga - Perumpamaan tentang Orang Kaya yang Bodoh - Perumpamaan tentang Orang Samaria yang Murah Hati - Perumpamaan tentang Pohon Ara yang Mandul - Perumpamaan tentang Sahabat pada Tengah Malam - Perumpamaan tentang Tamu-tamu - Perumpamaan tentang Pesta Perjamuan Besar I - Perumpamaan tentang Pelita Diatas Kaki Dian - Perumpamaan tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 1 - Perumpamaan tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 2 - Perumpamaan tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 3 - Perumpamaan tentang Domba yang Hilang - Perumpamaan tentang Uang Dirham yang Hilang - Perumpamaan tentang Anak yang telah Mati dan Hidup Kembali - Perumpamaan tentang Dua Anak yang Hilang - Perumpamaan tentang Bendahara yang Tidak Setia - Perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus - Perumpamaan tentang Hamba yang Tidak berguna - Perumpamaan tentang Hakim yang Tidak Adil - Akankah Yesus mendapati iman di Bumi? I - Akankah Yesus mendapati iman di Bumi? II - Perumpamaan tentang orang Farisi dan Pemungut cukai - Perumpamaan tentang Uang Mina - Perumpamaan tentang Hamba yang Tidak Mengampuni - Para Pekerja di Kebun Anggur - Bagian Pertama -
Para Pekerja di Kebun
Anggur - Bagian Kedua - Perumpamaan tentang Pohon Ara - Perumpamaan tentang dua orang anak - Perumpamaan tentang Para Penggarap Kebun Anggur yang Jahat - Perumpamaan tentang Perjamuan Kawin - Perumpamaan tentang Pesta Perjamuan Besar 2 - Perumpamaan tentang 10 Gadis-gadis yang Bijaksana & Bodoh - Pemisahan antara Kambing dan Domba 1 |
|||||
|
Copyright 2003-2007. Semua materi di situs ini
adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries. |
|||||||