|
| Saran & Komentar | updated on 16 June 2009 |
|||||||
|
CahayaPengharapanMinistries Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan |
|||||||
|
|
|||||||
|
Perumpamaan tentang Uang Dirham yang Hilang Lukas 15:8-10 - Disampaikan oleh Pendeta Eric Chang, Montreal, Kanada Isi
khotbah Dan hari ini, kita sampai pada satu perumpamaan yang indah dari pengajaran Yesus di dalam Lukas 15:8-10, bagian yang sering disebut dengan nama Perumpamaan tentang Uang Dirham yang hilang. Semakin saya mempelajari perumpamaan ini, semakin saya menghargai keindahannya. Dapat dikatakan bahwa ini adalah salah satu perumpamaan favorit saya. Betul-betul sangat indah, dan disampaikan hanya dalam tiga ayat saja. Inilah apa yang dikatakan oleh Yesus:
Nah, kita semua adalah orang berdosa itu, yang ketika bertobat, membangkitkan sukacita di surga. Surga adalah tempat yang berisi sukacita, akan tetapi sukacita itu semakin bertambah ketika ada seorang berdosa yang bertobat. Begitu besarnya kasih di surga! Jika Anda tidak peduli apakah seseorang akan diselamatkan atau tidak, tentu saja Anda tidak ikut bersukacita. Akan tetapi karena Allah dan para malaikat-Nya sangat menyayangi manusia, maka mereka selalu bersukacita atas pertobatan seseorang. Pernahkah Anda memperhatikan bahwa hanya orang-orang yang sangat mengasihi Anda sajalah yang bersukacita atas kesejahteraan Anda? Allah mengasihi Anda, dan para malaikat juga sangat mengasihi Anda. Jadi mereka sangat bersukacita jika Anda bertobat. Ini adalah pemahaman yang baru, bukankah begitu? Tahukah Anda bahwa para malaikat sangat mengasihi Anda sehingga mereka ikut bersukacita bagi Anda?
Bukan Sekadar Pengulangan dari Perumpamaan tentang Domba yang Hilang Saya akan menunjukkan kepada Anda betapa banyaknya perbedaan yang ada, perumpamaan ini mengandung banyak kekayaan makna yang tidak disebut dalam perumpamaan sebelumnya. Semakin saya merenungkan perumpamaan ini, semakin nyata keindahan yang ditampilkannya. Setiap bagiannya mengandung banyak makna jika kita memiliki mata rohani untuk dapat melihat, oleh anugerah Allah. Seperti yang sudah sering saya tekankan, satu-satunya hal yang Anda butuhkan pada saat mempelajari Firman Allah adalah pemahaman rohani, dan bukan sekadar gelar akademik, untuk bisa melihat keindahan yang terkandung di dalamnya. Para pakar yang memberi penafsiran itu tentulah memiliki bekal pendidikan yang tinggi, dan sebagian dari kita juga memiliki bekal pendidikan yang cukup tinggi. Namun tak seorang pun dari kita yang akan mampu mendapatkan kekayaan makna dari Firman Allah hanya dengan mengandalkan kecerdasan otak saja. Saya tidak lebih cerdas. Ada banyak orang yang jauh lebih cerdas dari pada saya. Kasih karunia dari Allahlah yang membuat saya mampu menggali makna dari apa yang disampaikan oleh Yesus. Tidak ada hubungannya dengan kecerdasan. Semua pemahaman itu berasal dari anugerah Allah. Nah, mari kita buka apa isi perumpamaan ini dengan bersandar pada kasih karunia Allah.
Allah Memberitahu kita melalui Perumpamaan Ilahi ini: Setiap Orang
Berdosa Sangatlah Berharga buat-Nya Namun perumpamaan ini tidak menyatakan bahwa kesepuluh dirham itu bagian dari hiasan kerudung perempuan ini. Ini hanya sebuah perkiraan, dan tidak menjadi masalah apakah uang dirham itu menjadi hiasan kerudung atau tidak. Yang jelas, jika kesepuluh dirham itu memang merupakan hiasan kerudung, maka hal ini justru menunjukkan betapa miskinnya perempuan itu. Para wanita suku-suku pengembara Badui di Timur Tengah biasanya memasang 50 sampai 100 koin di kerudungnya. Jika perempuan ini hanya memasang 10 koin saja, maka itu menunjukkan bahwa ia seorang yang sangat miskin. Namun, sekali lagi, hal ini tidak terlalu penting. Yang penting adalah bahwa perempuan ini hanya punya sepuluh dirham, dan kehilangan salah satunya tentu saja sangat terasa bagi perempuan ini. Jika Anda memiliki ratusan koin, dan Anda kehilangan salah satu di antaranya, mungkin Anda malah tidak menyadarinya. Akan tetapi jika Anda hanya punya sepuluh koin, dan Anda kehilangan salah satu darinya, Anda akan segera menyadari bahwa Anda telah kehilangan sesuatu. Sekali lagi, ini semua menunjukkan bahwa di mata Allah, setiap orang berdosa itu sangat berharga. Yesus tidak mau berkata bahwa Anda hanya satu di antara sejuta orang, dan jika Anda tidak eksis, Allah bahkan tidak akan tahu. Ia berkata, "Tidak, jika engkau belum bertobat dan belum membuka hatimu kepada Allah, belum meminta kepada-Nya untuk menerimamu masuk ke dalam kerajaan-Nya, Allah tahu akan hal itu. Engkau berharga di mata Allah." Dan hal ini lebih ditekankan lagi dengan fakta bahwa koin tersebut adalah koin perak, bahan yang harganya cukup mahal. Bukan sekadar koin perunggu, bahan termurah untuk membuat koin. Demikianlah, perempuan ini kehilangan sebuah koin peraknya. Rumah-rumah di daerah Palestina di waktu itu biasanya terbuat dari lumpur kering atau batu bata dari lumpur, dan sebagian besar tidak berjendela. Tanpa jendela, cahaya hanya masuk dari pintu. Itu sebabnya si perempuan itu harus menyalakan pelita. Dan pelita itu tidak dinyalakan pada malam hari saja tetapi juga di siang hari. Lantai rumah juga biasanya berupa lapisan lumpur kering dan cenderung menimbulkan banyak debu. Jadi jika sekeping uang jatuh ke lantai, ia akan dengan mudah tertutup oleh debu dan kegelapan. Itu sebabnya lantai perlu disapu untuk mencari koin tersebut. Pada saat menyapu lantai, diharapkan akan terdengar suara koin yang terkena sapu, atau setelah debu yang menutupinya disapu, diharapkan akan terlihat pantulan cahaya dari koin tersebut. Itu sebabnya di dalam perumpamaan ini si perempuan tersebut menyalakan pelita dan menyapu rumah (yang biasanya hanya terdiri dari satu ruangan saja) saat mencari uangnya yang hilang itu. Ketika ia menemukannya, hatinya dipenuhi oleh sukacita karena uang tersebut sangat berarti baginya! Bagi seorang yang kaya, kehilangan sekeping koin tidak berarti buatnya. Di Kanada, saya sering sekali menemukan koin yang tercecer. Tampaknya saku orang-orang di Kanada ini selalu penuh dengan koin sehingga selalu ada koin yang tercecer. Saya yakin, Anda sendiri tentunya sering mendapatkan koin yang tercecer. Di Inggris, sangat jarang saya bisa mendapatkan koin. Mungkin orang di sana tidak cukup makmur, jadi mereka tidak membiarkan koinnya hilang. Saya tidak ingat, apakah saya pernah menemukan koin di Inggris selama saya tinggal di sana. Namun hanya di dalam waktu yang singkat, sekitar dua atau tiga tahun di Kanada ini, saya sudah menemukan banyak sekali koin. Tampaknya penduduk di sini tidak peduli jika kehilangan 10 atau 25 sen. Bagi perempuan ini, koin itu sangatlah berharga. Dia segera menyadari adanya koin yang hilang. Ketika ia berhasil menemukannya kembali, hatinya sangat bersukacita. Koin itu sangat berarti bagi perempuan miskin ini, sementara bagi orang kaya tentu saja tidak ada artinya. Kemiskinan perempuan ini ditampilkan hanya untuk menunjukkan fakta betapa berharganya setiap jiwa bagi Allah. Bukan itu saja, semua malaikat di surga ikut bersukacita jika seorang berdosa bertobat. Allah bukan Pribadi yang mementingkan jumlah. Ia tidak bersukacita atas 5.000 orang yang menandatangani surat pernyataan iman. Bagi-Nya, satu sangat berharga. Kita bersukacita jika melihat jumlah yang besar, akan tetapi Dia bersukacita atas satu orang. Sangat luar biasa melihat betapa berbedanya sikap Allah dari sikap manusia. Manusia selalu terpaku pada jumlah karena hanya itu yang penting bagi mereka. Mari kita mulai meneliti makna rohani dari perumpamaan ini. Pada dasarnya, kita sudah melihat bahwa perumpamaan ini memberi kita gambaran yang luar biasa tentang watak Allah, cara Ia menilai, bukan manusia saja, akan tetapi termasuk manusia yang terhilang, orang berdosa. Sangat sering terjadi orang Kristen memandang remeh orang yang bukan Kristen. Akan tetapi Allah tidak seperti itu. Hati Allah tergerak mencari orang yang hilang. Ia tidak berpikir seperti kebanyakan orang Kristen, yang di dalam hatinya berkata, "Nah, saya sudah diselamatkan. Kamu sendiri bagaimana?" Jika Anda berpikir seperti ini, maka sebenarnya seluruh perhatian Anda sedang terpusat pada diri sendiri - "Siapa saya." Namun jika Anda memikirkan kebutuhan orang lain, Anda melupakan diri Anda. Anda memikirkan betapa berharganya orang lain dan bagaimana memulihkan hubungannya dengan Allah. Jadi perumpamaan ini memberitahu kita bagaimana penilaian Allah terhadap orang berdosa. Jauh sekali bedanya dengan cara kita menilai orang berdosa! Selanjutnya, kita tidak sekadar diberitahu tentang cara penilaian, melainkan juga apa yang dilakukan Allah untuk mencari mereka. Bukan sekadar niat baik yang ada pada Allah, tetapi juga tindakan untuk mewujudkannya. Di sini, keselamatan itu dilihat dari sudut pandang Allah. Saya dapat segera menyimpulkan bahwa hanya Allah yang dapat menyampaikan perumpamaan seperti ini. Tidak terpikirkan oleh saya bahwa perumpamaan ini merupakan ide manusia karena perumpamaan ini tidak menyorot keselamatan dari sudut pandang manusia. Perumpamaan tersebut menyoroti orang berdosa tidak dari cara penilaian manusia, melainkan dari cara penilaian Allah. Ini adalah perumpamaan Ilahi karena isinya mengungkapkan hal yang hanya dapat diceritakan oleh Allah sendiri; tentang cara Ia menilai orang berdosa. Perhatikan sikap orang Farisi yang selalu memperlakukan orang berdosa tanpa kenal ampun. Kita juga selalu bersikap seperti menghakimi itu, akan tetapi Allah memiliki sikap yang berbelas kasihan. Allah
Menginspirasikan Gereja-Nya untuk Mencari dan Mengasihi Orang Berdosa Mengapa begitu? Pada perumpamaan yang lalu, Ia berbicara tentang diri-Nya sebagai Gembala yang mencari domba yang hilang. Akan tetapi di masa ini, bagaimana cara Dia mencari mereka yang terhilang itu? Tuhan memberitahu kita melalui perumpamaan ini bahwa Ia mencari orang-orang berdosa yang terhilang itu melalui Gereja-Nya. Bagaimana cara Anda ditemukan? Bagaimana cara saya diselamatkan jika bukan melalui pekerjaan Allah lewat gereja-Nya yang mencari orang-orang yang tersesat itu? Bukankah pekerjaan itu dilakukan melalui Anda dan saya? Jadi jelaslah, seperti yang dikatakan oleh Paulus, bahwa kasih Kristus memotivasi kita untuk mengerjakan pekerjaan kita, yaitu mencari mereka yang hilang (2 Kor.5:13-14). Kita juga melihat adanya suatu perkembangan pemikiran di sini. Perumpamaan yang lalu memberitahu kita bahwa Allah mencari orang-orang berdosa dan kemudian perumpamaan ini memberitahu kita bahwa Ia menginspirasi kita, yaitu seluruh Jemaat-Nya, untuk bergerak mencari orang-orang berdosa. Bukankah Anda datang kepada Tuhan lewat perantaraan orang-orang dari gereja? Bukankah mereka mengajak Anda untuk datang ke gereja dan selanjutnya Anda ditarik untuk datang kepada Tuhan melalui mereka? Nah, bersyukurlah kepada Allah atas pekerjaan mereka! Kita tidak boleh meremehkan perantaraan manusia. Kita tidak boleh berkata bahwa manusia tidak punya arti apa-apa. Seorang manusia berharga di mata Allah sekalipun ia tidak dianggap berarti oleh orang lain. Dan Allah menjalankan pekerjaan-Nya melalui kita, Jemaat-Nya. Gereja seharusnya menjadi terang dunia. Meskipun Yesus menyatakan bahwa Ialah terang dunia (Yoh.8:12), namun Dia juga berkata, "Kamu adalah terang dunia" (Mat.5:14). Ini berarti bahwa Dia menyatakan terang-Nya di dunia ini melalui kita, Jemaat-Nya. Dengan cara yang sama, di dalam perumpamaan sebelumnya, Yesus adalah Gembala yang sedang mencari dan menyelamatkan mereka yang hilang. Dan di dalam perumpamaan ini, Ia mengerjakan pencarian dan penyelamatan itu lewat Gereja-Nya yang dilambangkan oleh perempuan itu. Ada suatu perkembangan yang indah di sini. Di dalam ketiga perumpamaan yang tercatat di Lukas pasal 15 ini juga terjadi suatu perkembangan dalam hal nilai. Di perumpamaan yang pertama, terdapat perbandingan 1 berbanding 100; satu dari seratus domba. Di dalam perumpamaan ini, perbandingannya 1 banding 10; satu dari sepuluh dirham. Di dalam perumpamaan sesudah ini, perbandingannya adalah 1 berbanding 2; satu dari dua anak. Tidak ada hal yang serampangan di dalam pengajaran Tuhan. Semuanya menunjukkan suatu perkembangan yang indah, bergerak dengan fokus kepada orang berdosa secara pribadi. Pertama, idenya mencakup sekumpulan orang, lalu menyempit dan semakin menyempit sampai fokusnya tertuju kepada Anda, orang yang Yesus cari. Sekarang kita mulai melihat bahwa jika yang memotivasi kita bukanlah kasih Kristus, maka kita tidak akan tergerak untuk mencari orang-orang berdosa yang tersesat. Jika kita tidak membawa terang dari Kristus, maka kita tidak akan bersinar sama sekali. Jadi Dia adalah terang itu, dan hanya karena Yesuslah terang itu maka kita bisa menjadi terang. Dialah yang pertama-tama mencari, dan karena Ia sedang mencari itulah maka kita juga mencari. Kasih-Nya memotivasi kita. Ini berarti bahwa perempuan di dalam perumpamaan ini tidak melambangkan salah satu gereja tertentu saja melainkan Gereja secara keseluruhan, gereja yang ideal. Namun saya perlu mengingatkan Anda sekali lagi, bahwa setiap kali Tuhan Yesus berbicara tentang perempuan, ia tidak selalu merupakan lambang dari Gereja. Saat Anda mempelajari kitab Wahyu, Anda akan melihat adanya dua orang perempuan. Yang satu mewakili Gereja, sedangkan yang satunya lagi melambangkan pelacur atau Gereja palsu yang tidak setia kepada Tuhan. Kita harus memisahkan keduanya dengan hati-hati. Jadi di sini, kita melihat perempuan ini, yaitu Gereja, dimotivasi oleh kasih Kristus, mencari koin yang hilang. Gereja Menjalankan
Tiga Hal dalam Mencari Mereka yang Terhilang Memberitakan dan
Menghidupi Firman Allah Injil adalah terang itu, lewat cara hidup kita yang mengikuti Injil dan pemberitaan Injil yang kita lakukan. Injil, Firman Allah, adalah pelita bagi kaki kita (Maz.119:105). Namun Injil itu menjadi terang bukan karena di dalam Injil ada kekuatan gaib. Bukan, tetapi karena terang Allah bersinar melalui Injil. Itu adalah terang dari Allah karena Allah adalah terang. TUHAN adalah terangku dan keselamatanku (Maz.27:1). Karena Engkaulah pelitaku, ya TUHAN, dan TUHAN menyinari kegelapanku (2 Sam.22:29). Begitu indah! Allah adalah terang. Biarlah terang-Nya memancar dan jangan menghalangi terang itu. Membersihkan Hati
Orang Berdosa Mencari Orang
Berdosa yang Terhilang Tiga
Rangkaian Makna dari 'Debu' Pertama, kita diciptakan dari debu. Ada begitu banyak rujukan yang bisa diambil untuk dijadikan contoh, Kejadian 2:7, 3:14; Mazmur 103:14, misalnya, semua memberitahu kita bahwa tubuh jasmani kita disusun dari unsur-unsur dan mineral-mineral yang sama dengan kandungan debu. Sebenarnya, Anda hanya perlu melihat apa yang dihasilkan dari proses pembakaran mayat. Mayat tersebut dibakar sampai menjadi debu. Tidak ada yang tersisa selain abu jenazah. Dan abu jenazah tidak lain adalah debu. Tubuh jasmani kita dibentuk dari unsur-unsur yang sama dengan debu. Sangat menarik bahwa di dalam perumpamaan ini, koin tersebut jatuh ke dalam debu dan tertutup oleh debu. Ini adalah satu penyebab yang sangat penting yang menjelaskan alasan kejatuhan manusia. Itu karena ia membiarkan kedagingannya memegang kendali. Watak kedagingannya itu membungkus dia sehingga aspek rohani orang itu tertutup oleh debu watak kedagingannya, atau natur jasmaniahnya. Anda akan segera melihat betapa orang yang tersesat di dalam dosa selalu diperbudak oleh keduniawian. Yang terpikir olehnya hanya uang, mobil, rumah dan gaji. Benaknya dipenuhi oleh perkara-perkara materiil. Ia begitu rapat terbungkus oleh debu kehidupan duniawi sehingga ia tidak lagi dapat melihat terang. Debu ini menghalangi pandangannya. Ia terkurung di dalam kehidupan jasmaniah ini. Hanya perkara-perkara dunia saja yang bisa dilihatnya. Cobalah meluangkan waktu dan berbicara dengan orang non-Kristen. Hal apa lagi yang terpikir olehnya selain karir, profesi, uang, rumah, mobil dan harta miliknya yang lain? Hal apa lagi yang terpikir olehnya? Itulah seluruh kehidupannya. Itulah kehidupan menurut pemahamannya. Ia tidak dapat melihat perkara-perkara yang kekal, hal-hal yang akan bertahan jauh melampaui segala kefanaan debu. Ia tidak dapat melihat hal itu. Bagi dia, debu adalah segala-galanya; debu itulah yang dipandangnya berharga. Ia tidak dapat memahami bahwa semua yang ia kejar di dalam hidup ini, semua hasil kerjanya, akan berakhir dalam tumpukan debu. Segala hasil perjuangan dalam bentuk rumah mewah dan lain-lainnya akan musnah sebagai debu, jika bukan oleh api, maka mungkin oleh bom, dan jika bukan oleh bom, berarti oleh faktor alamiah lainnya. Dalam waktu seratus atau dua ratus tahun, atau mungkin bahkan kurang dari itu, segala hasil perjuangannya akan rusak dan hancur menjadi debu. Hanya sampai di situlah ceritanya. Segala kemegahan yang diraih oleh manusia akan berakhir dalam debu. Aspek jasmani dari kehidupan telah membungkus koin yang hilang ini, yaitu kita - orang-orang berdosa yang terhilang. Saat saya tidak mengenal Tuhan, seluruh pemikiran saya berputar pada dunia materiil. Jadi poin yang pertama adalah bahwa debu melambangkan aspek jasmani dari manusia. Secara jasmani kita dibuat dari debu. Dan ke dalam debu jasmani dari mana kita diciptakan ini, Allah menghembuskan nafas kehidupan-Nya sehingga kita juga memiliki jiwa yang hidup. Akan tetapi, dalam hal orang yang terhilang, aspek jasmani ini sangat mendominasi hidupnya. Ia tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai makhluk rohani. Baginya, perkara rohani itu sudah tidak merupakan suatu kenyataan lagi karena yang penting hanyalah perkara jasmani. Yang dapat dilihatnya itulah hal-hal yang penting. Ia tidak menyadari bahwa udara ini saja tidak dapat dilihat, dipegang atau pun dikecap, namun tanpa udara kita tidak akan dapat hidup bahkan walau hanya sebentar. Kedua adalah ungkapan 'dalam debu' di dalam Perjanjian Lama. Dan ungkapan ini selalu mengacu kepada kematian. Berada di dalam debu berarti berada dalam kematian. Nah, koin ini jatuh ke dalam debu. Ia jatuh ke dalam kematian. Di dalam Perjanjin Lama, ada banyak referensi yang berbicara tentang keadaan berada di 'dalam debu', yang merupakan kiasan untuk kematian. Ada sangat banyak rujukan, akan tetapi saya akan memberi satu contoh saja, yaitu dalam Mazmur 22:15,29, "dalam debu maut". Jika Anda ingin menelusuri rujukan yang lainnya, Anda cuma perlu membuka buku konkordansi dan Anda akan menemukan banyak referensi tersebut. Maka karena itu kita mempunyai ungkapan Paulus: mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu (Ef.2:1) Jadi poin yang kedua adalah, manusia mati karena ia tenggelam dalam hal-hal jasmaniah dari hidup ini, baginya hal-hal yang rohaniah tidak penting lagi dan hanya perkara jasmani saja yang merupakan kenyataan. Ia terhilang di dalam debu; ia berada "di dalam debu". Secara rohani ia menjadi tidak berfungsi, mati. Dapatkah Anda melihat betapa kayanya perumpamaan dari Tuhan ini? Apakah Anda mengira bahwa perumpamaan ini tidak berisi apa-apa? Bagaimana mungkin para penafsir itu berkata bahwa tidak ada apa-apa di dalam perumpamaan ini? Anda tinggal mempelajari Alkitab untuk bisa mendapatkan isinya. Terkandung sangat banyak kekayaan makna bagi mereka yang punya mata untuk melihat. Ketiga, debu berarti penghinaan di dalam Alkitab. Sebagai contoh, menjilat debu (Maz.72:9), adalah ungkapan penghinaan yang paling dalam, sangat merendahkan. Berada di dalam debu (Maz.113:7) berarti berada dalam penghinaan, direndahkan, dijadikan tidak berarti sama sekali. Saya akan membacakan kutipan dari Mazmur 113:7-9 ini karena maknanya sangat dekat dengan poin yang akan kita bicarakan dari perumpamaan yang indah ini:
Sangat indah, Ia mengangkat orang yang miskin dari debu! Orang-orang miskin dihina, ditolak, dan adalah orang-orang yang tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Ingatkah Anda pada apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Khotbah di Bukit: Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga? Ia mengangkat orang yang miskin dari dalam debu, dari penghinaan, dari keterpurukan akibat dosa, dan Ia mendudukkan mereka bersama-sama dengan para bangsawan. Ia menjadikan kita anak-anak Allah. Jika kita bukan anak dari Raja segala raja, jika kita bukan para bangsawan, lalu siapa itu para bangsawan? Ia mendudukkan kita bersama-sama dengan para bangsawan, anak-anak Allah, padahal dulunya kita adalah para pengemis, jatuh di dalam debu, terpuruk dalam kehinaan oleh dosa. Dosa menjadikan kita sangat hina, bukankah begitu? Setelah Anda merasa muak dengan dosa, Anda akan mendapati bahwa segala yang dilakukan oleh dosa hanya akan menghasilkan keterpurukan, kehinaan. Baru-baru ini, dari berita di koran-koran, Anda mungkin sudah membaca kabar tentang seorang pucuk pimpinan dari Partai Liberal di Inggris yang terpuruk karena skandal homoseksual. Ia dihina; ia di dalam debu akibat dosa. Tadinya ia adalah seorang calon kuat untuk menjadi Perdana Menteri Inggris, namun sekarang, karena satu perbuatan dosa, ia menjadi sangat terhina, terpuruk, dan semua orang menatapnya dengan jijik. Dosa sangat menjatuhkan, sangat menjijikkan! Namun jika kita bertobat, kalau kita membiarkan Allah mengubah kita, Ia akan mengangkat kita dari dalam debu dan mendudukkan kita bersama dengan para bangsawan, sebagai anak-anak Allah. Mazmur 113 juga berakhir dengan catatan tentang sukacita sama dengan yang ada di dalam perumpamaan tentang dirham yang hilang ini. Dan juga di dalam ayat 5-6, ada kesejajaran dengan perumpamaan ini di mana dalam ayat-ayat itu disebutkan: Siapakah seperti TUHAN, Allah kita, yang diam di tempat yang tinggi, yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi? Ia mencari untuk mengangkat orang-orang yang miskin dari dalam debu. Pengajaran Tuhan sangatlah indah! Demikianlah seiring dengan pengamatan kita atas perumpamaan ini, segala kekayaan maknanya segera terungkap, karya keselamatan yang luar biasa dari Tuhan ini dikerjakan melalui terang yang dipancarkan dan melalui tindakan menyapu debu. Orang Berdosa yang
Terhilang Dibersihkan dan Dibebaskan dengan Injil Pertama, Injil membebaskan Anda dari materialisme jasmani yang selama ini telah menenggelamkan Anda. Jika Anda masih belum dibebaskan dari hal itu, maka Anda harus menanyakan diri Anda apakah Anda tahu apa artinya menjadi orang Kristen. Jika Anda sudah menjadi orang Kristen sejati, seluruh cara berpikir Anda akan berubah. Hal-hal yang sebelumnya sangat Anda hargai di dalam kehidupan duniawi menjadi tidak begitu penting lagi buat Anda sekarang. Perkara yang penting bagi Anda sekarang adalah hal-hal yang kekal, yang nilainya bertahan sepanjang masa. Kedua, Anda dibebaskan dari maut. Diangkat keluar dari dalam debu berarti dibebaskan dari debu kematian. Dan ketiga, Anda dibebaskan dari kejatuhan akibat dosa. Allah mengangkat Anda, seperti yang tertulis di dalam Efesus 1:18-20, Ia mendudukkan kita bersama dengan Kristus di Sorga. Itulah tempat tertinggi yang dapat Anda raih jika Anda diangkat. Anda didudukkan bersama dengan Kristus di Sorga. Anda ditinggikan dan dimuliakan di dalam Kristus. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya, demikian kata Roma 8:30. Kita jarang membahas tentang aspek ini di dalam Injil, yaitu bahwa Allah memuliakan kita. Ia meninggikan kita. Ia memuliakan kita. Ia menjadikan kita bersinar dengan keindahan-Nya pada saat tidak ada lagi kejelekan dan kerusakan akibat dosa. Koin
Perak itu Menjadi hitam: Efek Dosa ke atas Manusia Koin
yang Berdenting: Pertobatan Manusia Suara denting koin di lantai melambangkan tanggapan seseorang terhadap penyapuan dari Injil. Bukan hanya Allah yang mencari kita, akan tetapi kita juga harus membuat suatu tanggapan dan hal ini dipertegas dalam kata-kata terakhir dalam perumpamaan ini - bertobat. Tanggapan terhadap Injil inilah yang dimaksud sebagai pertobatan. Kita tidak dapat membersihkan diri kita sendiri akan tetapi kita dapat menanggapi "penyapuan" dari Injil dengan memberikan suara berdenting dari koin saat ia yang bergelinding di lantai.
Manusia Diciptakan dalam Gambar Allah adalah milik Allah Di sinilah terletak keindahan makna gambar pada koin. Kita juga membawa gambar. Gambar siapa yang ada pada kita? Kitab Kejadian memberitahu, "Kita diciptakan dalam gambar dan rupa Allah." Kata 'gambar' yang sama kita dapatkan juga di dalam Matius 22:20-21, gambar dan tulisan. Jadi jangan mengira bahwa Anda bukan milik Allah karena Anda belum percaya kepada-Nya. Ia yang menciptakan Anda. Anda adalah milik-Nya berdasarkan hak Allah atas ciptaan-Nya. Ia masih berhak atas diri Anda karena Dialah yang menciptakan Anda di dalam gambar-Nya; pada diri Anda tertera cap tanda milik-Nya. Juga, sekalipun setiap orang sudah hilang di dalam debu, sekalipun ia sudah tertutup oleh karat dosa, ia masih membawa gambar Allah. Ia masih merupakan milik Allah. Betapa indahnya ketika kita diangkat keluar dari debu dan dibersihkan sehingga kemuliaan penuh dari gambar tersebut dapat bersinar kembali! Gambar Allah yang ada pada diri kita tadinya tertutup oleh debu, namun sekarang ia dapat memancarkan lagi keindahan gambar Allah. Dapatkah Anda melihat betapa kayanya makna dari perumpamaan ini? Siapa bilang perumpamaan ini tidak ada isinya? Ada sangat banyak kekayaan makna yang tersimpan di dalam perumpamaan ini. Hal ini sangatlah indah!
Orang Kristen: Koin berharga yang ditemukan kembali, dengan tugas yang
sudah menanti Allah ingin mendapatkan Anda bukan saja karena Anda sangat berharga di mata-Nya melainkan juga karena hanya sesudah ditemukan maka Anda dapat menjadi berguna bagi Allah untuk mengalirkan berkat kepada semua anggota masyarakat. Hanya jika koin itu ditemukan maka ia dapat dipakai untuk membeli makanan yang memenuhi kebutuhan orang tersebut dan juga keluarganya. Hanya dengan cara itu maka orang yang miskin dapat bersukacita karena ia memperoleh makanan. Hanya dengan cara itu koin tersebut menjadi berguna bagi masyarakat. Dan tidak peduli seberapa sering ia berpindah tangan, koin itu tidak akan kehilangan nilainya, bukankah begitu? Nilainya justru semakin meningkat karena semakin sering berpindah tangan berarti ia semakin sering mengalirkan berkat. Semakin jarang ia beredar, semakin sedikit berkat yang disalurkannya. Ini adalah satu keindahan dalam kehidupan Kristen. Nilai Anda tidak akan turun jika Anda melayani lebih banyak lagi. Tidak sama sekali! Semakin Anda berfungsi, semakin besar nilai dan berkat yang Anda bagikan. Ini bukan berarti bahwa diri Anda menjadi semakin berharga. Makna sebenarnya adalah bahwa Anda sudah berbuat lebih banyak. Sama seperti koin itu, nilai nominalnya tetap sama saja, akan tetapi semakin sering ia berpindah tangan, semakin banyak orang yang memakainya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan semakin banyak sukacita yang diberikannya kepada orang-orang. Saya harap kita semua tidak menjadi orang yang sekadar duduk berpangku tangan sambil mensyukuri keselamatan yang didapatkan. Saya sangat kecewa dengan kebanyakan orang Kristen yang mengira bahwa keselamatan itu berarti bahwa Anda tinggal duduk diam sambil menunggu giliran untuk masuk ke surga. Saya pernah menyatakan sebelumnya bahwa setiap orang yang berpikiran seperti itu berarti ia tidak tahu apa arti kehidupan Kristen yang sesungguhnya. Diselamatkan berarti bahwa Anda sekarang menjadi koin dalam peredaran. Anda harus melakukan sesuatu buat orang lain, mengenyangkan perut yang lapar, menghibur hati mereka yang kekurangan, memberikan pakaian bagi yang sedang menggigil kedinginan. Itulah hal yang harus dikerjakan oleh koin perak tersebut. Bukannya sekadar duduk santai dan berkata, "Lihat! Aku sudah digosok! Aku sudah dibersihkan! Aku sudah cantik sekarang!" Tidak. Koin itu punya tugas yang harus ia kerjakan. Saya harap setiap orang Kristen mau memahami hal ini karena inilah apa yang ingin Tuhan sampaikan kepada kita. Sungguh kita patut bersukacita atas kekayaan makna dari Firman Allah ini! Mari kita lanjutkan pada kesimpulan di poin tentang sukacita Allah ketika kita ditemukan. Diselamatkan bukan saja merupakan suatu kebahagiaan bagi Anda tetapi juga sukacita bagi Allah dan tentu saja bagi orang lain yang akan menikmati manfaat dari penggunaan Anda oleh Allah di dalam pelayanan Anda kepada-Nya. Allah Sangat
Mengasihi Anda dan Ingin Melindungi Anda! Namun lihatlah gambaran indah yang kita dapat tentang Allah dari perumpamaan ini. Allah kita tidak seperti ini. Ubahlah pandangan Anda tentang Allah. Seperti apa Allah itu? Hati-Nya tergerak untuk selalu mencari dan mendapatkan kita setiap saat. Hati-Nya digerakkan oleh kasih. Terbungkus oleh kasih. Hati-Nya tidak pernah diam sampai Ia menemukan kita. Ia tidak mau duduk saja dan berkata, "Nah, Aku akan mengawasi dari takhta ini. Memang sayang kalau kamu sampai terhilang. Tapi itu urusanmu, bukan urusan-Ku." Hati-Nya tak jemu-jemu mencari kita karena Ia memang merindukan kita. Sangat sulit bagi kita untuk memahaminya, bukankah begitu? Kesulitan ini muncul karena sifat kita tidak seperti Dia. Saya melihat betapa rata-rata orang Kristen berpikir, "Yang penting saya selamat, apapun yang terjadi dengan Anda itu bukan urusan saya. Kalau saya ada waktu luang, mungkin saya akan datang dan menolong Anda, tetapi kalau saya tidak punya waktu luang, harap jangan menyalahkan saya." Hati kita tidak seperti Allah yang tergerak untuk kepentingan orang lain. Jadi jangan membayangkan Allah menurut ukuran diri Anda. Ingatlah bahwa kita diciptakan menurut gambar-Nya. Kita harus kembali kepada gambaran-Nya. Saya mendapati betapa orang-orang selalu saja mencoba untuk menciptakan Allah menurut gambaran mereka sendiri. Mereka membayangkan Allah seperti seorang diktator yang sedang meneriakkan perintah kesana-kemari di tengah kalang kabutnya para malaikat yang menjalankan perintah-perintah itu. Dengan sedikit berdehem, para malaikat sudah dibuat pucat pasi. Dengan sedikit menghentakkan kaki-Nya, kita menerima kiriman gempa bumi. Jadi seluruh dampak yang kita miliki tentang Allah adalah satu Pribadi yang agung dan mengerikan. Ini bukanlah ajaran Yesus tentang Allah. Kita tahu bahwa Allah itu kudus dan Ia Maha-kuasa. Akan tetapi aspek lain dari Allah yang secara konstan ingin ditanamkan oleh Yesus dalam benak kita, melalui perumpamaan ini, adalah kepedulian Allah yang begitu tulus kepada kita. Cobalah bayangkan tentang Allah yang, karena kepedulian-Nya, selalu tidak tenang sampai Ia menemukan kita. Kadang kala, ketika saya berbicara kepada orang-orang tentang kasih Allah, ada yang berkata, "Buat apa Allah mengasihi saya?" Saya tidak tahu apa jawaban atas pertanyaan ini. Buat apa Allah mengasihi Anda? Saya tidak tahu. Kita mendapati betapa sulitnya memahami kasih Allah. Kita tidak mengasihi orang lain, jadi apa alasan orang lain untuk mengasihi kita? Pikirkanlah tentang Allah yang merindukan Anda, maka hati Anda akan tergerak untuk datang kepada Allah. Dan saya akan menyimpulkan semua ini dalam ilustrasi berikut. Di masa kecil, saya adalah anak yang sangat nakal. Suatu hari, saya ditegur sangat keras oleh ibu saya karena kenakalan saya dan saya merasa sangat sedih. Pernahkah Anda perhatikan bahwa anak-anak cenderung untuk berpikir bahwa mereka diperlakukan dengan tidak adil? Saat itu saya merasa sangat muak dengan kehidupan di rumah, saya bosan ditegur terus menerus oleh ibu saya dan saya akan pergi menempuh kehidupan sendiri, pada usia enam tahun! Pada umur enam tahun itu, saya mengira sudah bisa menjaga diri sendiri. Buat apa saya tetap tinggal dan ditegur setiap hari? Sudah cukup semua ini! Lalu saya pergi ke kamar, mengambil tas kecil saya, dan memasukkan mainan-mainan kesukaan saya di sana. Tentu saja, anak-anak tidak pernah berpikir tentang masalah kebutuhan akan pakaian dan yang lainnya. Hal-hal seperti itu tidak pernah terlintas di dalam benak mereka. Mainan adalah milik yang paling berharga buat mereka. Dan saya lalu membawa tas saya dan berkata, "Selamat tinggal," kepada ibu saya. Dia menatap saya sejenak, dan mungkin sedang berpikir, "Ada-ada saja. Anak ini mau ke mana?" Jadi ia bahkan tidak memperhatikan saya. Saya turun tangga dengan membawa tas kecil saya, dan melangkah ke jalan raya, keluyuran di tengah kota besar Shanghai untuk mencari ayah saya. Ayah saya adalah orang yang sangat mencintai tanah airnya, dan ia sudah pergi ke Chongqing membangun perlawanan terhadap Jepang dari sana. Ia bergabung dengan tentara perlawanan sampai ke detik terakhir dan setelah itu menyusup melewati garis pertahanan Jepang dan pergi ke Chongqing, meninggalkan saya dan ibu saya di Shanghai. Saya ikut mengantar keberangkatannya dan saya tahu bahwa ia pergi dengan kapal lewat pelabuhan Shanghai, biasa disebut Bund. Dengan berbekal sedikit pengetahuan tentang jalan menuju pelabuhan, saya melangkah mengikuti jalur trem, perjalanan itu sepertinya tiada akhir karena saya harus berjalan sampai dua jam untuk bisa sampai ke pelabuhan. Akhirnya saya sampai juga di sana, dengan tas kecil saya, lalu saya mulai mencari kalau-kalau ada kapal yang akan berlayar menuju Chongqing. Tentu saja, saya tidak tahu kalau saat itu tidak ada kapal yang berlayar menuju Chongqing, ibu kota China di masa perang, karena kota Shanghai sedang berada di bawah kekuasaan Jepang. Karena saya masih kecil, jadi saya harus melihat ke atas setiap kali bertanya kepada orang lain, "Ada kapal yang menuju Chongqing?" Orang itu melihat ke bawah, ke arah saya, dan berkata, "Kapal ke Chongqing? Tidak ada kapal yang pergi ke Chongqing." Dan saya berkata, "Tapi ayah saya pergi naik kapal ke Chongqing dari pelabuhan ini, jadi pasti ada kapal yang menuju ke sana." Dan ia berkata, "Tidak, sekarang ini tidak ada lagi kapal yang berangkat ke sana." Lalu saya melangkahkan kaki ini tanpa arah tujuan dengan hati yang sangat sedih, saya bertanya-tanya di manakah kapal yang akan membawa saya kepada ayah saya, yang saya pikir tentunya akan memperlakukan saya dengan lebih baik ketimbang ibu saya. Begitulah cara berpikir anak-anak. Sementara itu, ibu saya mulai menyadari bahwa saya telah hilang! Telah lenyap! Dan ia mulai panik. Ia mencari-cari di rumah dan jalanan sekitar rumah, tapi saya tidak ada di sana. Ia benar-benar sangat panik. Sedang, di tempat lain, saya masih melangkah penuh semangat untuk mencari cara untuk ke tempat ayah saya, tidak saya sadari saat itu bahwa Chongqing berjarak ribuan mil dan saya, tanpa uang sepeserpun di saku, tentunya tidak akan bisa bepergian kemanapun! Anak-anak tidak pernah menyadari bahwa mereka harus membayar untuk segala sesuatunya. Dari ilustrasi ini, mari kita lihat keadaan ibu saya yang menjadi sangat cemas dan gelisah karena kasih dan sayangnya kepada saya. Kita sering berpikir bahwa Allah sudah berlaku terlalu keras kepada kita. Kita sering mengira bahwa Allah telah memperlakukan kita secara tidak adil. Tapi sesungguhnya bukan begitu. Sekalipun kadang-kadang Ia terlihat sangat keras terhadap kita karena dosa-dosa kita, kasih-Nya selalu tercurah kepada kita. Pengalaman meninggalkan rumah ini sangat membuka mata saya karena sebelumnya saya tidak tahu bahwa ibu saya begitu mengasihi saya. Saya tidak menyadari betapa besar kasih sayang ibu saya kepada saya. Saya kira ia tidak benar-benar mengasihi saya karena ia selalu saja berkata-kata keras kepada saya dan menegur saya. Bukankah ini salah satu alasan mengapa kita kadang-kadang merasa bahwa Allah tidak sesungguhnya mengasihi kita? Ia terus saja berbicara kepada kita tentang dosa kita dan menegur kita atas dosa-dosa yang kita perbuat. Dan Anda mengeluh, "Mengapa Ia selalu menegur dan menyingkapkan dosa-dosa saya? Allah yang ini tidak mengasihi saya." Justru karena kasih-Nya itulah maka Ia terus menerus menegur kita. Tidak pernah terlintas dalam benak saya kala itu bahwa justru karena kasihnya kepada saya itulah, ibu saya berusaha untuk menyingkirkan watak yang buruk dari saya, untuk menjadikan saya orang yang lebih baik. Pelajaran ini sangat mengharukan saya ketika saya mulai menyadari bahwa ibu sangat mengasihi saya. Setelah melangkah kesana-kemari selama beberapa jam, hari mulai gelap dan saya sudah sangat lapar. Saya bingung bagaimana caranya mendapatkan makanan di dunia ini? Tidak ada uang sama sekali di saku ini. Tepatnya, apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan makanan? Saya tidak dapat pergi ke rumah makan dan berkata, "Saya mau makan," karena jawabnya pasti, "Bayar!" Di rumah, saya tinggal duduk dan menikmati makanan. Akhirnya saya menyadari bahwa hanya tinggal satu tempat yang bisa didatangi, yaitu rumah sendiri. Jadi, seperti anak terhalang yang pulang sehabis menghambur-hamburkan uang dan jatuh miskin, saya menyeret kaki saya pulang menuju rumah, melintasi jalan-jalan di kota besar Shanghai, dan akhirnya menjelang tengah malam, saya sampai juga di depan pintu rumah. Ibu saya nyaris pingsan ketika melihat saya. Ia begitu diliputi oleh rasa sukacita karena melihat kepulangan saya sehingga lupa untuk memarahi kelakuan saya. Sudah sangat lama saya keluyuran di luar, dan merupakan suatu keajaiban bahwa ibu saya tidak terkena serangan jantung akibat peristiwa hari itu. Ia sudah sangat panik saat itu. Dan ketika saya menatap ke arah ibu saya, saya tertegun. Tidak saya ketahui sebelumnya bahwa ibu saya begitu mengasihi saya. Saya tidak menyadari hal itu selama ini. Ketika ia menatap saya, yang dapat ia lakukan hanyalah menangis. Hanya itu yang dapat ia lakukan untuk melampiaskan rasa lega melihat kepulangan saya sesudah sekian jam tidak kembali. Shanghai adalah kota yang berpenduduk sepuluh juta, dan petugas kepolisian sibuk mencari saya kemana-mana. Namun bagaimana caranya menemukan seorang anak kecil di tengah sepuluh juta penduduk? Dan saya mendapati bahwa Perumpamaan tentang Uang Dirham yang hilang ini bercerita tentang hal yang sama. Tidak saya ketahui sebelumnya betapa Allah mengasihi saya. Tidak saya sadari bahwa saya begitu berharga di mata Allah. Sangat sering terjadi, kita memisahkan diri dan berkata, "Allah selalu saja berbicara tentang dosa, selalu saja berkata, "Jangan begini, jangan begitu.'" Persis seperti ibu saya yang selalu berkata, "Jangan lakukan itu," setiap kali saya mau berbuat sesuatu. Dan saya rasanya sudah mau berteriak, "Kapan saya bisa mendapatkan sedikit kebebasan?" Begitulah cara kita berpikir, "Di dalam Sepuluh Perintah itu, Allah selalu berkata, 'Jangan berbuat ini, jangan berbuat itu.' Kapan saya boleh hidup secara bebas? Kapan saya boleh berbuat sesuatu? Saya ingin kebebasan untuk melakukan apa yang saya mau!" Nah, Anda boleh pergi dari-Nya dan mengalami kelaparan di dunia ini! Allah tidak seperti itu. Ia berkata, "Jangan begini dan jangan begitu," supaya kita tidak mengalami celaka. Ketika saya berkata kepada anak perempuan saya, "Jangan sentuh api itu," ucapan tersebut tidak dimaksudkan untuk menyusahkan kehidupan anak saya. Saya ingin menyatakan bahwa kalau ia menyentuh api itu, tangannya akan terbakar. Kata 'jangan' di sini dimaksudkan untuk melindunginya. Saya harap Anda mulai menyadari bahwa setiap kali seorang pengkhotbah berbicara tentang dosa, ancaman dosa dan, mewakili Allah, menyuruh Anda untuk tidak berbuat dosa, itu semua karena Allah ingin melindungi Anda. Namun Anda cenderung berpikir, "Mengapa Allah senang mempersulit hidup saya?" Tidak, Ia tidak bermaksud begitu. Namun sebagai anak kecil, saya tidak memahami tujuan tersebut sampai terjadinya peristiwa malam itu, ketika saya melihat ibu saya menangis, dan ia sama sekali tidak sanggup untuk memarahi saya. Tak terpikirkan olehnya untuk memukul saya. Ia hanya memberi saya makan dan membawa saya ke tempat tidur. Dan saya, yang kelelahan akibat perjalanan selama beberapa jam itu, merasa sangat lega bisa pulang dan sampai di tempat tidur saya lagi, dan segera tertidur. Saya rasa ini adalah gambaran yang sangat indah tentang Allah. Dan gambaran yang indah itu ialah bahwa Allah mengasihi Anda. Lihatlah betapa perempuan itu bersukacita ketika menemukan kembali uangnya yang hilang dan memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya (Luk.15:9)! Betapa ibu saya sangat bersukacita melihat kedatangan saya, air matanya berlinangan di pipi! Saya harap kita semua dapat memahami gambaran tentang Allah yang baru ini. Seperti itulah Allah. Jika saya teringat seperti apa wajah ibu saya saat itu, saya berpikir, "Sekarang saya mengerti seperti apa Allah itu. Seberapa berharga saya bagi-Nya." Semoga kita semua dapat memahaminya! Sangat sulit memanjatkan doa kepada Allah yang Anda bayangkan sedang duduk di takhta-Nya dan melotot ke arah Anda dengan tangan yang terlipat. Siapa yang mau datang kepada Allah yang seperti ini? Namun jika Anda mengerti bahwa Allah tidak seperti itu, melainkan seperti ibu saya yang bersukacita atas kepulangan saya, maka Anda akan merasakan betapa indahnya kembali kepada Allah untuk menyembah setiap hari, untuk berdoa dan menikmati persekutuan yang manis dengan-Nya! Cobalah untuk memahami gambaran yang baru tentang Allah ini. Seperti itulah Allah. Ia itu kudus namun sangat mengasihi Anda. Ia itu berbelas kasihan. Kemurahan-Nya melimpah, menjangkau kita sekalipun kita terkubur di dalam debu, dan Ia mengangkat kita serta mendudukkan kita di antara para bangsawan! |
Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.
Perumpamaan: - Perumpamaan tentang Kantong Kulit yang Lama dan yang Baru - Perumpamaan tentang Seorang Penabur Benih - Perumpamaan tentang Penabur - dari Sudut Pandang Keselamatan II - Perumpamaan tentang Benih yang Tumbuh dengan Sendirinya - Perumpamaan tentang Lalang di antara Gandum - Perumpamaan tentang Benih Sesawi - Perumpamaan tentang Harta yang Terpendam - Perumpamaan tentang Ahli Taurat yang Menerima Pelajaran tentang Hal Kerajaan Surga - Perumpamaan tentang Orang Kaya yang Bodoh - Perumpamaan tentang Orang Samaria yang Murah Hati - Perumpamaan tentang Pohon Ara yang Mandul - Perumpamaan tentang Sahabat pada Tengah Malam - Perumpamaan tentang Tamu-tamu - Perumpamaan tentang Pesta Perjamuan Besar I - Perumpamaan tentang Pelita Diatas Kaki Dian - Perumpamaan tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 1 - Perumpamaan tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 2 - Perumpamaan tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 3 - Perumpamaan tentang Domba yang Hilang - Perumpamaan tentang Uang Dirham yang Hilang - Perumpamaan tentang Anak yang telah Mati dan Hidup Kembali - Perumpamaan tentang Dua Anak yang Hilang - Perumpamaan tentang Bendahara yang Tidak Setia - Perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus - Perumpamaan tentang Hamba yang Tidak berguna - Perumpamaan tentang Hakim yang Tidak Adil - Akankah Yesus mendapati iman di Bumi? I - Akankah Yesus mendapati iman di Bumi? II - Perumpamaan tentang orang Farisi dan Pemungut cukai - Perumpamaan tentang Uang Mina - Perumpamaan tentang Hamba yang Tidak Mengampuni - Para Pekerja di Kebun Anggur - Bagian Pertama -
Para Pekerja di Kebun
Anggur - Bagian Kedua - Perumpamaan tentang Pohon Ara - Perumpamaan tentang dua orang anak - Perumpamaan tentang Para Penggarap Kebun Anggur yang Jahat - Perumpamaan tentang Perjamuan Kawin - Perumpamaan tentang Pesta Perjamuan Besar 2 - Perumpamaan tentang 10 Gadis-gadis yang Bijaksana & Bodoh - Pemisahan antara Kambing dan Domba 1 |
|||||
|
Copyright 2003-2007. Semua materi di situs ini
adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries. |
|||||||