| Saran & Komentar | updated on 19 October 2014

Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan

Halaman Utama

  |  Tentang Kami

  |  Hubungi Kami

  |  Izin Pemakaian Materi 

  |  Dapatkan Buletin Gratis di sini! 

Sumber Damai

Khotbah/PA


Inspirasi

Artikel/Renungan

Kesaksian Hidup


Pelatihan

Discipleship Trainings


Lain-Lain...

Buku-buku Terbitan

Lagu dan Film

Bible Study (P.A)

Siaran Mandarin

Buletin Gratis!

Follow Us


BACA ONLINE


BACA ONLINE


KATA PENGANTAR

Perumpamaan tentang pembangunan menara dan raja yang maju berperang - APAKAH ANDA SUDAH MATI?

Lukas 14:33 - Disampaikan oleh Pendeta Eric Chang, Montreal

"Apakah anda sudah mati?"
Hari ini, kita akan melanjutkan pembahasan tentang ajaran Tuhan, dan saya akan mengupas pertanyaan yang tampaknya masih menjadi persoalan di dalam benak banyak saudara-saudara. Kita harus menuntaskan masalah makna dari mati secara rohani untuk dapat hidup secara rohani. Kita perlu tahu apa artinya mati untuk tujuan memperoleh kepenuhan hidup di dalam Kristus. Tampaknya sudah menjadi masalah yang sangat meluas di kalangan orang Kristen, mereka menjalani kehidupan yang tanpa kuasa, lemah, tanpa sukacita dan damai sejahtera. Lalu mereka bertanya-tanya, "Apakah saya sudah mati? Ketika dibaptis dulu, seharusnya saya sudah mati bersama Kristus, akan tetapi perilaku dan cara bertindak saya sesudah itu menunjukkan tanda-tanda bahwa saya sesungguhnya belum mati. Jika saya memang sudah mati, mungkin masih belum sepenuhnya." Jika belum mati sepenuhnya, apakah itu dapat disebut mati? Dan jika kenyataannya memang belum mati, bagaimana mungkin mereka akan dapat memperoleh kesempurnaan hidup di dalam Kristus yang selama ini tidak pernah mereka alami?

Ada juga pertanyaan sejenis, "Dapatkah anda berkomitmen secara total tanpa mengalami kematian atas cara hidup yang lama? Jika anda masih belum menyerahkan diri untuk mati, bagaimana mungkin anda berkata sudah berserah sepenuhnya?" Demikianlah, orang-orang yang berkata bahwa mereka sudah berkomitmen total (berserah sepenuhnya) belakangan malah jadi ragu-ragu apakah mereka memang sudah berkomitmen atau belum. Setiap kali mereka mengalami kegagalan dalam menjalani kehidupan Kristennya, mereka tenggelam dalam pertanyaan, "Apakah saya sudah diselamatkan atau belum? Haruskah saya dibaptis ulang? Jika mereka yang 'sudah senior' saja masih perlu waktu lama untuk menyadari bahwa mereka ternyata masih belum mati, bagaimana dengan saya yang masih baru? Mungkin saya harus menjalani kehidupan sampai lima belas atau dua puluh tahun lagi, sampai suatu hari nanti saya terbangun dan memperoleh kesadaran seperti mereka, bahwa selama ini saya bukanlah orang Kristen sejati, bahwa selama ini manusia lama itu belum mati, bahwa selama ini ternyata tidak ada komitmen yang sesungguhnya dari saya!" Demikianlah, mereka yang mengaku berkomitmen total, hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan rasa tidak aman yang menghancurkan bibit kehidupan itu tepat di masa awal pertumbuhannya. Ini semua adalah pertanyaan dan persoalan yang sangat nyata yang harus segera dihadapi.

Komitmen parsial (tidak meninggalkan karakter kita yang lama) adalah musuh kita
Sebelumnya, mari kita bahas komentar: "Jika mereka yang 'sudah senior' saja masih perlu waktu yang lama untuk menyadari bahwa mereka ternyata masih belum mati, lalu bagaimana dengan saya yang masih baru ini?" Terdapat beberapa kekeliruan dalam hal ini, dan saya sudah berkonsultasi ke mereka yang 'sudah senior' itu untuk memastikan fakta ini. Mereka mengaku bahwa selama ini mereka belum pernah mati secara rohani. Dan selanjutnya mereka mengakui bahwa pemahaman mereka tentang komitmen ternyata hanya mencakup sebagian saja. Komitmen yang sifatnya sebagian adalah musuh bagi komitmen total. Jika anda sudah membuat komitmen untuk satu area, lalu menganggap bahwa hal yang sebagian itu sudah mewakili seluruh hidup anda, maka tindakan anda itu sangat berbahaya, terutama anda yang sedang memikirkan untuk menjadi pelayan Tuhan yang full-time.

Apa yang dimaksudkan dengan bahaya dari komitmen yang parsial (sebagian)? Sebagai contoh, seseorang melepaskan pekerjaannya dan masuk dalam pelatihan untuk melayani Tuhan. Dengan melepaskan pekerjaannya, ia merasa sudah menunjukkan keutuhan komitmennya. Hal itu memang sebuah komitmen, akan tetapi apakah itu total? Seseorang dapat saja melepaskan pekerjaannya, dan pekerjaan itu baginya adalah hal yang sangat penting, karir adalah perkara yang sangat penting, dan memang seharusnya begitu. Namun apa artinya jika di dalam melepaskan pekerjaannya atau pun kekayaannya itu, ia tidak melepaskan kebiasaan marahnya atau keegoisannya? Apa yang sudah ia korbankan itu sebenarnya justru lebih kecil nilainya ketimbang apa yang ia pertahankan. Apa gunanya melepaskan pekerjaan jika anda masih memelihara keegoisan, kejahatan dan watak pemarah anda? Apakah hal yang anda lepaskan itu dipandang berarti oleh Allah? Itulah maksud dari pernyataan: Yang sebagian itu adalah musuh yang total. Kebanyakan orang mengira bahwa dengan mengorbankan pekerjaannya, maka itu sudah merupakan pengorbanan segala-galanya. Sama sekali belum, jika mereka belum mengucapkan selamat tinggal bagi sikap mereka yang lama. Inilah poin yang harus kita pahami. Dapatkah anda memahaminya? Mereka masuk ke ladang Allah dengan masih membawa sikap egoisnya, satu-satunya perbedaan adalah bahwa mereka sudah melepaskan pekerjaannya. Banyak juga orang yang menjadi Kristen, atau bahkan masuk dalam pelayanan full-time, hanya untuk mengejar kepuasan batin yang tidak dapat diberikan oleh pekerjaan mereka. Mari kita jujur saja akan hal ini. Di dalam pemahaman seperti itu, mereka memang tidak salah. Memang cukup benar, bahwa ada kepuasan yang didapat dari melayani Allah, sesuatu hal yang tidak dapat diberikan oleh pekerjaan apa pun di dunia ini! Ketika mereka menyaksikan bagaimana kuasa Allah mengubah kehidupan orang-orang, hal ini menimbulkan kepuasan yang tidak dapat diberikan oleh pekerjaan apa pun, tidak peduli berapa besar pun uang yang dapat dihasilkannya. Tidak ada salahnya masuk ke ladang Allah dengan tujuan mencari kepuasan batin, akan tetapi bahaya masih mengancam jika mentalitas yang lama belum ditinggalkan. Hasilnya adalah perilaku para hamba Tuhan yang jauh menyimpang dari apa yang seharusnya. Jika anda berkesempatan untuk mengenali mereka, maka anda akan sangat terkejut melihat kelakuan mereka. Pendapat seperti ini tidak datang dari orang-orang non-Kristen saja, akan tetapi juga beredar di kalangan hamba Tuhan.

Ketika saya berlibur, saya mengunjungi seorang saudara, dan ia mengundang pendetanya untuk bersama-sama bersekutu dan berkumpul. Saudara ini dulunya adalah seorang peneliti biokimia dan ia melepaskan gelar doktornya untuk bidang biokima dan memilih untuk melayani Tuhan. Ia memberitahu saya bahwa ia pernah datang ke sebuah pertemuan yang khusus bagi para pendeta dan hamba Tuhan (jadi mereka tidak perlu berusaha menunjukkan perilaku teladan di hadapan orang awam), dan di sana ia sangat terkejut melihat kelakuan para pendeta dan hamba Tuhan itu. Ia baru masuk di bidang pelayanan selama setahun, jadi apa yang ia saksikan adalah suatu pengalaman yang membuka matanya. Ia terpaku melihat cara mereka berbicara satu dengan yang lainnya, cara mereka memaksakan pendapat, dan kesombongan mereka. Dan ketika ia sudah tidak tahan lagi, ia berdiri dan berseru kepada para pendeta itu, "Saya malu berada di tengah-tengah anda saat ini! Kelakuan anda benar-benar mempermalukan Injil!" Mengapa orang yang sudah membuat komitmen melayani secara full-time berperilaku seperti itu? Alasannya sederhana: mereka memang sudah membuat satu komitmen, mereka memang sudah meninggalkan pekerjaan lamanya, akan tetapi mereka tidak meninggalkan watak lamanya yang pemarah dan mentalitas lamanya. Mereka membawa semua itu ke dalam pelayanan, dan hasilnya adalah bencana!

 Apa kaitannya hal ini dengan anda? Anda mungkin sudah membuat komitmen kepada Tuhan sewaktu dibaptis, anda berkata, "Baik Tuhan, saya akan menyerahkan hidup saya ke dalam tanganMu, dan mulai sekarang diri saya ini sepenuhnya menjadi milikMu," akan tetapi anda membawa serta watak lama anda - suka mencari-cari kesalahan orang lain, penggerutu, pemarah, dan kepentingan pribadi ke dalam 'kehidupan Kristen yang baru'. Bagaimana mungkin hidup anda menjadi benar-benar baru jika semua sampah masa lalu ini masih anda pertahankan? Kemudian anda bingung, "Mengapa saya tidak tahu apakah saya sudah mati atau belum? Mungkinkah orang yang sudah mati tidak tahu bahwa ia sudah mati? Atau dengan kata lain, tahukah anda apakah anda sekarang ini hidup atau tidak? Saya dapat berkata dengan terus terang tanpa takut keliru bahwa pada saat ini, saya hidup. Saya yakin tidak akan keliru dalam membuat pernyataan tersebut. Saya dapat berkata dengan penuh keyakinan, dengan penuh kepercayaan, bahwa oleh kasih karunia Allah, saya masih hidup. Saya tidak mati. Akan tetapi jika anda tidak tahu apakah anda mati, anda juga tidak tahu apakah anda hidup, anda tidak tahu sedang berada di mana, jadi, orang Kristen macam apakah anda ini? Mungkinkah ada orang yang membuat komitmen dan tidak tahu apakah ia sudah membuat komitmen itu atau belum? Mungkinkah seseorang masuk ke dalam baptisan untuk mati bersama Kristus dan kemudian berkata, "Saya tidak tahu apakah saya sudah mati atau belum"? Tampaknya jawaban bagi pertanyaan tersebut adalah, "Ya", dan ini adalah salah satu perkara yang aneh dalam dunia rohani! Seolah-olah perkara ini hanya mustahil jika diterapkan dalam kehidupan jasmani, namun menjadi mungkin jika diterapkan dalam kehidupan rohani!

Lukas 14:33 - Bayarlah semua biaya untuk menjadi murid
Hal ini membawa kita kepada pertanyaan penting lainnya: Apakah pengudusan di dalam hidup yang baru itu bersifat seketika atau bertahap(progresif)? Atau, apakah seorang Kristen itu akan masuk ke dalam suatu proses kematian yang bertahap sehingga jalan hidup seorang Kristen bukan merupakan suatu proses pertumbuhan dan kehidupan melainkan proses kematian? Lalu kita diberitahu bahwa kemungkinan keduanya itu berjalan seiring; mungkin sebagian waktu kita menjalani proses kematian, dan sebagian waktu yang lain kita menjalani kehidupan; atau mungkin saat kita mati kita hidup, apa pun artinya. Konsepnya jadi sulit dipahami. Jadi, mungkin dengan membuat komitmen yang total, saya hanya membuat satu komitmen total untuk mati secara bertahap, perlahan-lahan dan semoga tidak terlalu menyakitkan. Kehidupan Kristen bukan lagi urusan memasuki hidup melainkan suatu proses kematian secara bertahap. Dan banyak yang memberitahu kita bahwa ini mestinya menjadi sikap yang yang benar. Lagi pula, bukankah tidak ada orang yang sempurna? Jadi, jika kita tidak sempurna, maka itu berarti bahwa kita memiliki dosa. Jika kita masih mempunyai dosa, maka kita harus mengalami kematian secara bertahap terhadap dosa, dan proses ini berlangsung seumur hidup. Dan yang kita dapatkan kemudian sangat jauh dari yang ingin diberikan oleh Tuhan Yesus, padahal Ia berkata, "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan" (Yoh.10.10). Kenyataannya, setelah Ia datang, yang kita dapatkan adalah kematian, dalam segala kelimpahan! Kita hidup di zaman yang membingungkan, bahkan dalam masalah yang paling dasar sekalipun. Saya harap, dengan kasih karunia Tuhan, kita akan dapat menjernihkan beberapa dari persoalan tersebut di dalam khotbah ini.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya akan kembali kepada pengajaran Tuhan Yesus, sebagaimana yang biasa kita lakukan. Saya tidak akan memulai dari pengajaran rasul Paulus, melainkan dari Pemegang Kewenangan Tertinggi, yaitu Tuhan sendiri. Mungkin anda akan bertanya, "Di bagian mana Tuhan Yesus mengajarkan hal ini?" Saya akan memusatkan fokus ke Lukas 14.33. Saya yakin anda pasti sudah mengerti konteks dari ayat ini sekarang. Kita sudah mempelajari ayat ini dan menguraikan beberapa unsurnya secara rinci dalam dua pertemuan sebelum ini. Lukas 14.33 merupakan kesimpulan dari paragraf ini, di mana Tuhan berkata, "Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku." Saya harap arti penting dari kalimat tersebut akan menjadi jelas buat anda seiring dengan pembahasan kita nanti. Mari kita baca sekali lagi Lukas 14.25-33, untuk melihat seluruh kerangkanya sekaligus.

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

Mari kita perhatikan lebih cermat lagi ayat 33 ini karena sebelumnya kita mengambil seluruh perikop sebaga obyek pengamatan. Ada suatu kemutlakan dari kalimat yang diucapkan oleh Tuhan, yang segera akan membuat kita merasa sangat tidak enak. Tuntutannya tidak sekadar tinggi, akan tetapi mutlak. Tuntutan yang tanpa batas. Ia menuntut segalanya. Perhatikan kata-kata, "...tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya" - dibolak-balik dengan cara bagaimana pun, Firman Allah ini, pengajaran Tuhan Yesus ini, menghadapkan kita pada kata 'segala' yang membuat kita merasa tidak nyaman. Tidak ada cara kita bisa menghindari kata 'segala' ini. Keselamatan dari Allah adalah anugerah dari kasih karunia, akan tetapi satu hal yang sangat tidak ingin didengar kebanyakan orang adalah, begitu anda menerima karunia ini, anda harus mengorbankan segala yang lainnya. Mutiara yang harganya tak ternilai itu, mungkin merupakan suatu anugerah, akan tetapi anda harus menjual segala yang anda miliki untuk bisa mendapatkannya. Kasih karunia yang diberitakan dalam Alkitab sangatlah 'mahal'. Namun di zaman ini, anda sendiri mungkin sudah tahu, gereja malah terlalu sering memberitakan kasih karunia yang sangat 'murah', yaitu kasih karunia yang begitu murahnya sampai-sampai menjadi barang gratisan, obralan yang tidak mungkin bisa disaingi oleh toko mana pun. Pemberitaan seperti ini hanya sedikit sekali kemiripannya dengan apa yang Tuhan sampaikan. Perhatikan baik-baik kata: tiap-tiap orang di antara kamu - tidak peduli siapa pun anda, bukan sekadar rasul, nabi atau orang Kristen yang punya standar tinggi, tetapi - tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya...

Mengapa saya kembali kepada kalimat tersebut? Karena saya ingin dengan sangat sederhana menyatakan kepada anda: Terima ucapan Tuhan Yesus atau lupakan saja. Jika anda berkata, "Saya akan menjadi orang Kristen yang moderat. Saya tidak ingin menjadi orang Kristen yang fanatik yang serba 'segalanya', saya mau yang sedang-sedang saja," maka anda tidak akan mengalami kelimpahan yang Tuhan Yesus janjikan. Dan untuk jangka panjangnya, anda justru harus membayar lebih tinggi. Apa harga yang lebih tinggi itu? Kebanyakan orang Kristen mendapati bahwa mereka justru semakin parah di dalam kematian, dan mereka tenggelam dalam kematian yang berkelimpahan ketimbang dalam hidup dan hidup yang berkelimpahan seperti yang dijanjikan oleh Yesus. Ringkasnya, menolak perkataan Yesus berarti maut. Dan di dalam keseharian anda, pengalaman yang akan anda dapatkan adalah kekalahan demi kekalahan, kegagalan demi kegagalan, yang berujung kepada maut! Sementara jika anda menerima perkataan dari Tuhan Yesus dan menerapkannya, maka anda akan mendapatkan bahwa apa yang Ia sampaikan di dalam Yohanes 10.10 adalah benar, "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." Namun jika anda menghendaki hidup Allah, maka itu akan menuntut pengorbanan segala-galanya dari anda. Jika anda mencoba untuk berdiri di tengah dan berkata, "Baiklah, perkataan Tuhan sangat ekstrim, dan gereja ini terlalu ekstrim. Yang satu bilang itu adalah hadiah gratis sementara yang satunya lagi bilang bahwa itu akan menuntut pengorbanan segala-galanya, jadi lebih baik saya pilih tempat yang di tengah saja supaya aman," dengan pilihan seperti itu anda tidak akan mendapatkan apa-apa. Anda akan masuk ke dalam suatu kehidupan Kristen yang sangat menyedihkan, mungkin lebih baik jika anda kembali dalam kehidupan duniawi saja. Nikmati kehidupan dunia selagi bisa! Kalau tidak, maka anda hanya akan mengalami kesengsaraan di masa kini dan juga di masa yang akan datang, pada saat penghakiman. Paling tidak, nikmati saja hidup yang ada sekarang ini, sekalipun anda harus menghadapi kesengsaraan di masa nanti, saat Penghakiman nanti. Akan tetapi jika anda memilih untuk menjalani kesengsaraan di masa kini sekaligus di masa yang akan datang, sudah pasti ini adalah pilihan yang paling bodoh.

Pilihan orang dunia masih lebih bijak. Ia memperhitungkan bahwa jika nanti harus menghadapi Penghakiman, hukuman kekal, maka ia akan mengejar kepuasan hidup duniawi semaksimal mungkin, walau hanya untuk 20 atau 30 tahun saja. Paling tidak, masih ada bagian kehidupan yang bisa dinikmatinya. Namun apa gunanya menjalani kesengsaraan di masa kini dan tetap harus menerima hukuman kekal nantinya? Logika macam apa ini? Ini adalah suatu kebodohan! Kebebalan! Itu sebabnya mengapa Tuhan Yesus berkata, "Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang" (Luk.16.8). Menyedihkan sekali jika kita nanti melihat, "anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap" (Mat.8.12)! Namun masih ada juga orang Kristen yang bertanya, "Mengapa kehidupan Kristen itu tidak seindah yang Tuhan Yesus katakan?" Jawabannya sederhana, karena anda tidak memenuhi persyaratannya.

Segalanya: Mencakup keegoisan anda, bukan sekadar harta milik anda
Setelah memeriksa kata 'segala', mari kita perhatikan kalimat, "tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku." Kita langsung saja: kata 'segala miliknya' tidak sekadar mengacu pada harta benda. Kenyataanya, konteks ayat ini hanya sedikit memiliki kaitan dengan harta benda. Seringkali, ketika kita membaca ungkapan "melepaskan diri dari segala miliknya", maka yang segera terbayang di dalam otak adalah rumah, rekening bank, penghasilan, uang yang saya tabung untuk masa depan dan harta di dunia ini. Hal-hal seperti itulah yang memenuhi isi hati kita. Ungkapan 'segala miliknya' memang mencakup harta benda namun bukan itu rujukan utamanya. Seperti yang sudah saya bahas sebelumnya, anda bisa saja mengorbankan segala harta itu, anda bahkan bisa saja mengorbankan tubuh anda sebagai kurban bakaran tanpa memiliki kasih. Tidak akan ada gunanya. Dalam hal ini, penyerahan harta benda menjadi pengganti dari penyerahan sesuatu yang sebenarnya jauh lebih penting: cara hidup yang mementingkan diri sendiri, jalan hidup kita selama ini. Saya peringatkan anda untuk memperhatikan masalah ini dengan serius, khususnya jika anda merasa tidak memiliki banyak harta. Sangat mudah untuk mengorbankan harta benda jika kekayaan anda tidak seberapa. Jika saya hanya memiliki 100 dolar di tangan, dan Allah berkata, "Serahkanlah segala milikmu," dengan mudah saya akan menyerahkan yang 100 dolar itu. Dan jika pekerjaan anda tidak terlalu memuaskan, anda sudah muak dengan bos anda yang selalu menekan bawahannya, dan juga rekan-rekan sekerja yang selalu mencekik leher saya dengan asap rokoknya, dan memberi saya kanker paru-paru, maka saya akan berkata, "Melepaskan pekerjaan? Haleluyah! Saya akan meninggalkannya. Engkau juga boleh ambil 100 dolar itu. Saya bersedia mengorbankan segalanya!" Sangat gampang, tidak terasa sedikit pun ada kesulitan. Tetapi saya masih mempertahankan sifat pemarah saya, keegoisan saya, dan kesombongan saya dan membawa semua itu masuk ke dalam gereja.

Begitukah aturannya? Tidak. Anda tidak dapat berurusan dengan Allah dengan cara seperti ini. Anda sedang berhadapan dengan Allah yang, di dalam Kitab Suci, disebut Allah yang penuh hikmat. Ia menilik jauh lebih dalam ketimbang sekadar harta benda dan pekerjaan anda. Jika anda kira bahwa pekerjaan anda sangat berharga, mari saya beritahu anda, Allah tidak memandang seperti itu. Memang berharga bagi anda, akan tetapi bagi Allah tidak. Yang lebih berharga adalah jiwa anda, hidup anda. Anda mungkin saja sudah mengorbankan pekerjaan anda, tetapi tetap mempertahankan jiwa yang lama. Hal ini sangat mungkin terjadi! Rasul Paulus sangat berduka karena hanya Timotius, di antara semua rekan sekerjanya - perhatikan, di antara rekan sekerja dan bukan di antara jemaat - yang dengan setulus hati mengutamakan kepentingan jemaat (Flp.2.19). Rekan sekerja yang luar bisa! Paulus mendapati bahwa di antara sebanyak itu orang yang melepaskan segala harta dan pekerjaannya untuk mengikut Tuhan, hampir semuanya masih membawa keegoisan dan keangkuhannya. Mereka mengangkut kehidupan yang lama itu ke dalam komitmen kepada Allah. Mari kita masuk dalam, ke bagian hidup yang masih belum diserahkan oleh sebagian besar "orang-orang Kristen". Apakah anda sudah benar-benar berkomitmen total seperti yang anda akui? Sudahkah? Itu pertanyaan yang terpenting!

Seorang saudari pernah memberitahu saya bahwa di dalam hal melepaskan pekerjaan dan harta benda, ia tidak mengalami kesulitan apa-apa. Namun masalah muncul ketika ia harus melepaskan manusia lama, cara hidup yang mementingkan diri sendiri. Jika anda meminta dia untuk merelakan pekerjaannya, ia akan berkata, "Boleh saja, dengan senang hati! Tuhan boleh meminta itu. Tidak ada masalah buat saya. Tuhan juga boleh menyuruh saya untuk melepaskan kekayaan saya. Tidak banyak yang harus saya korbankan. Tapi memberikan diri saya? Tidak!" Ingatlah pada apa yang Tuhan katakan, "Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku - [bukan harta benda, tetapi nyawanya, kehidupannya] - ia akan memperolehnya." Akan tetapi barangsiapa mencoba untuk mempertahankan nyawanya, kehidupannya demi kepentingan sendiri, ia akan kehilangannya, sekalipun ia sudah merelakan harta bendanya (Mat.16.25).

Saya akan merangkum dulu poin ini sebelum kita lanjutkan pembahasan. Jika anda ingin menjadi murid Yesus, jika anda ingin mengalami kehidupan-Nya yang berkelimpahan, jangan berkata, "Saya bersedia mengorbankan harta milik saya," tetapi katakanlah, "Saya bersedia mengorbankan jiwa saya." Itu berarti bahwa sejak sekarang, jalani hidup yang sepenuhnya bagi Dia dan bagi orang lain. Kepentingan orang lain, dan bukan kepentingan saya pribadi yang mendapat perhatian utama. Jika pengajaran dari Tuhan Yesus ini tidak dijalankan, maka kehidupan surgawi yang berkelimpahan, hidup berkelimpahan yang dipenuhi oleh Roh Kudus akan berada di luar jangkauan anda. Hanya menjadi angan-angan belaka.

Paulus berkata, "aku telah melepaskan semuanya itu," di dalam Filipi 3.8. Ia tidak mengucapkan hal itu dengan nada menyesal karena ia berkata, "Dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus." Anda mungkin berkata, "Itu berlaku untuk Paulus, (bukan saya)." Jangan terburu nafsu. Di dalam ayat 15 ia melanjutkan, "Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu." Artinya, "Marilah kalian semua berpikir seperti aku. Jika kalian tidak berpikir seperti itu, Allah - melalui Roh-Nya - akan menegur kalian dan memperlihatkan betapa kalian memakai cara pikir yang salah. Jika kalian adalah murid Kristus, maka kalian harus berpikir seperti aku." Nah, apakah anda sudah melepaskan semuanya? Apakah anda memandang semua itu sebagai sampah? Di dalam ayat 17, Paulus melanjutkan, "Saudara-saudara, ikutilah teladanku," artinya, "Kerjakanlah hal yang sama dengan apa yang aku kerjakan." Jika Paulus diselamatkan tanpa harus mengorbankan segala-galanya, jika dia dapat menikmati kehidupan Kristen yang berkelimpahan tanpa harus berkorban apa pun juga, maka Paulus tentulah orang yang paling bodoh di dunia ini karena keselamatan ternyata bisa diperoleh tanpa adanya pengorbanan apa pun. Ada dua kemungkinan, pertama, Allah sudah berlaku tidak adil terhadap Paulus, atau, kedua, memang Paulus sendiri yang bodoh. Apa pun kemungkinannya, tidak satu pun yang berkenan di hati. Dari sini kita melihat betapa mendalamnya Tuhan menangani masalah ini. Anda tidak dapat lari dari kedalaman dan kuasa dari hikmat-Nya. Ia membahas perkara ini dengan cara yang tidak memungkinkan kita untuk berkelit. Bacalah pengajaran-Nya dengan cermat.

Melepaskan diri: Mengucapkan selamat tinggal kepada kehidupan yang dibelenggu oleh dosa
Sekarang perhatikan kalimat, "Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku" di dalam Lukas 14.33. Kata yang diterjemahkan dengan 'melepaskan diri' di dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia jika diterjemahkan secara harfiah adalah 'mengucapkan selamat tinggal', suatu ungkapan yang lazim dipakai dalam Perjanjian Baru berbahasa Yunani. 'Selamat tinggal' adalah kata-kata yang biasanya dipakai dalam konteks kepergian. Anda tidak akan mengatakan 'selamat tinggal' jika anda tidak bepergian. Hanya pada saat anda sudah mengenakan mantel, membuka pintu dan melangkah keluar, maka anda akan mengucapkan, "Selamat tinggal." Dan juga, kata Yunani yang sama dipakai di dalam Kisah 18.18,21 dengan makna 'selamat tinggal selama-lamanya' karena saat itu Paulus berkata, "Selamat tinggal, kita tidak akan berjumpa lagi." Ia mengucapkan kata selamat tinggal yang terakhir bagi jemaat-jemaat di Efesus, dalam rangkaian perjalanannya ke Yerusalem.

Jadi, bagaimana cara memahami pernyataan, "Tiap-tiap orang di antara kamu yang tidak mengucapkan selamat tinggal dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku"? Cara terbaik untuk menggambarkannya adalah dengan melihat peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir di dalam Perjanjian Lama. Banyak orang menanyakan apa arti penting dari Perjanjian Lama? Mengapa kita masih memerlukan Perjanjian Lama? Paulus menjelaskan hal ini di dalam 1 Korintus 10.11 bahwa Perjanjian Lama itu menjadi peringatan, pedoman, bagi kita semua. Di sana tertulis hal-hal yang terjadi pada mereka yang hidup tidak sesuai dengan ajaran Tuhan. Mereka mengira bisa menjalani hidup berdasarkan ajaran Tuhan yang sudah diencerkan. Dan lihatlah apa yang terjadi dengan mereka!

'Keluaran' berarti kepergian. Allah berkata kepada bangsa Israel, "Kalian akan mengikuti Aku keluar dari Mesir. Kalian harus mengucapkan 'selamat tinggal' selama-lamanya bagi Mesir. Meninggalkan segala-galanya di belakang." Orang-orang Israel jelas tidak bisa membawa serta rumah mereka, sekalipun itu hanya gubuk kecil. Akankah mereka membawa serta meja-kursi dalam perjalanan melintasi padang gurun ini? Apakah mereka akan membawa serta kursi kesayangan, warisan dari ayah dan kakek mereka? Tentu saja tidak! Ketika meninggalkan Mesir, mereka harus mengucapkan selamat tinggal kepada segala yang mereka pandang berharga di sana, termasuk kebun sayur mereka (para budak juga boleh menggarap kebun sayur untuk mereka sendiri). Tetapi, ternyata, yang paling berharga buat mereka adalah bawang merah dan bawang putih, karena selama perjalanan di padang gurun mereka merindukan aroma enak kedua macam bawang ini! Di padang gurun mereka memang tidak dapat menikmati bawang putih ataupun bawang merah lagi. Mereka harus meninggalkan semua itu; mereka harus mengucapkan selamat tinggal kepada semuanya. Di dalam Lukas 14.33. Tuhan memakai istilah 'mengucapkan selamat tinggal' bagi segala milik yang ada, yaitu meninggalkan segala milik yang ada di belakang. Mengucapkan selamat tinggal memiliki arti yang dinamis. Jika anda tidak bergerak meninggalkan sesuatu, anda tidak perlu mengatakan selamat tinggal. Akan tetapi jika anda mengatakan selamat tinggal, itu berarti bahwa anda akan pergi. Ucapan selamat tinggal memuat pengertian suatu perpindahan, berpindah meninggalkan sesuatu. Tuhan berkata, "Kecuali engkau mengucapkan selamat tinggal kepada segala milikmu, sama seperti orang-orang Israel yang meninggalkan segala milik mereka di Mesir, engkau tidak akan dapat menjadi muridKu." Akan tetapi, tentu saja, mereka tidak meninggalkan Mesir dengan telanjang. Tentunya mereka pergi dengan berpakaian. Tetap ada barang-barang tertentu yang tetap harus mereka bawa demi kelangsungan hidup mereka.  Tuhan tidak ingin anda tidur di jalanan dan menjadi tontonan orang banyak. Kita keliru saat kita berpikir secara ekslusif tentang harta benda. Kita mengucapkan selamat tinggal kepada seluruh cara hidup kita yang lama yang terbelenggu kepada dosa. Ketika bangsa Israel mengucapkan selamat tinggal kepada segala sesuatu yang mereka miliki di Mesir, mereka tidak lagi berada di bawah kendali bangsa Mesir. Ketika orang-orang Israel meninggalkan Mesir, mereka meninggalkan segala jalan hidup mereka yang lama di Mesir. Itulah gambarannya.

Melepaskan diri: Mati bagi cara hidup yang mementingkan diri sendiri
Kata 'keluaran/exodus' dipakai dengan membawa makna yang ganda di dalam Perjanjian Baru. Ia dipakai saat menjelaskan kepergian bangsa Israel dari Mesir, dan kata yang sama juga mempunyai arti kematian. Ibrani 11.22 adalah satu contohnya, ayat ini memakai kata 'keluarnya/exodus' untuk merujuk kepada peristiwa kepergian bangsa Israel dari Mesir. Kata yang sama (exodus) dipakai dalam menjelaskan kematian Tuhan Yesus di dalam Lukas 9.31. Dan kata ini juga secara umum dipakai untuk menggambarkan kematian orang-orang Kristen, Petrus memakai kata 'exodus' dalam pengertian ini di dalam 2 Petrus 1.15. Dengan demikian, kata 'melepaskan diri' di dalam Lukas 14.33 memiliki kaitan dengan kematian karena kata Yunaninya memiliki arti 'mengucapkan selamat tinggal' yang merujuk kepada 'exodus'.

Arti penting secara ekseget dari semua ini adalah: keluar atau kepergian dari Mesir itu merupakan simbol rohani bagi kematian kita atas dunia ini. Demikianlah, di dalam 1 Korintus 10.2, Paulus dengan sengaja membandingkan baptisan dengan keluaran, dan di dalam Roma 6.4, baptisan itu dibandingkan dengan kematian. Bangsa Israel dibaptis ke dalam Musa di Laut Merah (1 Korintus 10.2), artinya mereka yang meninggalkan Mesir itu dibaptis ke dalam Perjanjian Lama dengan menyeberangi Laut Merah, karena Musa mewakili Perjanjian Lama. Dan mereka masuk ke dalam hidup yang baru di bawah kedaulatan Allah dalam Perjanjian Lama. Ini poin yang sangat penting.

Dengan latar belakang gambaran seperti ini, bagaimana penerapannya dengan kita? Apakah anda mengucapkan selamat tinggal buat selama-lamanya kepada hidup yang lama ketika anda dibaptis, seperti yang sudah dilakukan oleh orang-orang Israel ketika meninggalkan Mesir dan dibaptis di Laut Merah? Jika tidak, anda masih berada di bawah level orang-orang Israel dari Perjanjian Lama, level Perjanjian Baru masih terlalu jauh buat anda! Apa yang sudah anda tinggalkan ketika anda menjadi Kristen dan masuk ke dalam hidup yang baru di bawah Allah dalam Perjanjian Baru? Apa yang sudah anda tinggalkan? Dalam sebagian besar kasus, mereka tidak meninggalkan apa pun! Anda masih bertahan di dalam jabatan anda, anda masih melanjutkan pendidikan anda, dan anda juga tidak meninggalkan harta benda anda. Lalu apa yang sudah anda tinggalkan? Orang-orang Israel, paling tidak, telah meninggalkan harta bendanya. Sementara anda tidak meninggalkan apa-apa. Dan sekalipun anda mungkin sudah meninggalkan pekerjaan, kuliah mau pun harta benda anda, tetapi anda masih belum meninggalkan hidup lama anda, sebenarnya anda tetap saja belum meninggalkan apa-apa! Tidak heran jika anda kalah jauh dibandingkan dengan orang-orang dari Perjanjian Lama dalam hal kekuatan dan semangat rohani, apalagi dengan orang-orang Perjanjian Baru! Akhirnya, setiap orang Kristen dari Perjanjian Baru dapat lebih besar dari Yohanes Pembaptis (lihat khotbah saya tentang Matius 11.11), jadi tinggal mimpi saja!

Mungkin ada beberapa pengajar di gereja-gereja yang memberitahu anda bahwa keselamatan itu adalah anugerah yang gratis, anda tidak perlu berkorban apa-apa. Namun apa yang dikatakan oleh Yesus akan hal ini? Jadi anda tidak butuh ajaran Yesus? Mungkin mereka akan mengatakan bahwa pemuridan adalah Kekristenan pada tingkat yang lebih tinggi, bahwa murid-murid adalah orang-orang elit di kalangan Kristen. Ini adalah omong kosong yang luar biasa, jika kita cocokkan dengan Alkitab, namun jika anda ingin memelintir Firman Allah, jika anda ingin bermain-main dengan Firman Allah, anda boleh mengatakan hal yang seperti itu, asal ingat bahwa itu bukanlah ajaran Alkitab! Setiap orang Kristen di dalam Alkitab adalah seorang murid juga. Yang pertama kali mendapat sebutan sebagai orang Kristen, di Antiokia, adalah para murid juga. Murid bukanlah orang Kristen kelas atas. Janganlah kita menipu diri sendiri dengan memutar-balik Firman Allah.

Setiap orang Israel, bukan hanya Musa, harus meninggalkan Mesir. Mereka harus angkat kaki dan tidak kembali lagi. Mereka harus meninggalkan pondok-pondok kecil mereka yang dibuat dari lumpur kering. Bagi anda, pondok seperti itu mungkin tidak ada artinya. Namun bagi mereka itu adalah tempat kelahiran dan tempat bernaung mereka. Pondok-pondok kecil itu sangat berharga buat mereka. Meja, kursi, pisau, peralatan makan, dan segala yang tidak dapat diangkut sangatlah berharga buat mereka, akan tetapi semua itu harus ditinggalkan. Tentunya banyak dari antara mereka yang menangisi perpisahan dengan segala harta benda itu. "Selamat tinggal kebunku yang mungil dan juga pondok kecilku, sekalipun tidak besar nilainya, tetapi kalian sangat berarti bagiku." Sesudah itu mereka segera berangkat. Mereka harus pergi. Setiap orang Israel meninggalkan segala hartanya di belakang kecuali pakaian yang melekat di badan, dan beberapa barang yang mereka perlukan di perjalanan. Mereka benar-benar meninggalkan segala miliknya.

Apa yang sudah anda tinggalkan buat selama-lamanya? Tolong beritahu saya, apa yang sudah anda tinggalkan? Ada? Saya cenderung berpikir bahwa bagi sebagian besar orang Kristen, jawaban yang jujur adalah tidak ada yang mereka tinggalkan! Dan bagi beberapa yang lainnya, sangat sedikit yang sudah ditinggalkan. Dan mereka bertanya-tanya, "Mengapa perkataan Tuhan tidak terwujud di dalam hidup saya?" Yesus berkata, "Aku datang untuk memberi hidup yang berkelimpahan." Dan anda berkata, "Hidup saja saya tidak punya, apa lagi berkelimpahan!" Bagaimana anda dapat mengalami pimpinan Allah di padang gurun sesudah memisahkan Laut Merah? Padang gurun adalah tempat yang indah jika Allah ada bersama anda di sana. Banyak orang yang mengira bahwa pengembaraan bangsa Israel di padang gurun adalah pengalaman yang mengerikan. Saya pikir tidak begitu. Padang gurun adalah tempat yang mengerikan. Akan tetapi akan menjadi tempat yang sangat indah jika anda bersama Allah di sana! Dalam perjalanan di padang gurun itu mereka mengikuti tiang api di malam hari dan tiang awan di siang hari - jaminan keberadaan hadirat Allah terlihat langsung oleh mata jasmani! Apakah anda mengira bahwa itu merupakan pengalaman yang mengerikan? Justru sangat mengagumkan! Allah hadir memimpin di depan. Ketika bangsa itu kehausan, air memancar keluar dari batu. Ketika mereka butuh makanan, tersedia manna dan burung puyuh. Berjalan bersama Allah di tengah padang gurun jelas merupakan pengalaman yang luar biasa. Pemandangan padang gurun memang akan segera menciutkan nyali anda jika harus melintasinya sendirian, atau bahkan jika ditemani banyak orang sekalipun. Namun bersama dengan Allah, seperti apa rasanya padang gurun itu? Seperti surga itu sendiri! Taman Eden sekalipun akan kalah dari padang gurun jika Allah hadir di padang gurun.

Watak lama yang mencelakakan, ego mengubah padang gurun itu menjadi neraka di bumi
Namun mengapa padang gurun yang luar biasa dengan adanya Hadirat Allah itu menjadi tempat yang sangat mengerikan? Karena orang Israel hanya meninggalkan harta milik mereka, uang mereka di Mesir, sedangkan watak lamanya tetap ikut bersama mereka. Mereka mengangkut keegoisan, semangat menggerutu dan sikap yang selalu tidak puas ke padang gurun. Dan itu semua segera menghancurkan pengalaman indah yang seharusnya mereka dapatkan bersama Allah di padang gurun. Mereka membawa serta sikap lama yang mencelakakan itu ke padang gurun, dan mengubahnya menjadi neraka. Dan pengembaraan mereka yang seharusnya berlangsung kurang dari setahun, akhirnya berubah menjadi 40 tahun!

Begitukah pengalaman kehidupan Kristen anda? Jika anda memang sudah meninggalkan Mesir, saya katakan 'jika' karena saya tidak tahu apakah anda sudah melakukannya atau belum. Hanya anda yang tahu akan hal itu. Namun jika anda memang sudah meninggalkan Mesir, seperti apa kehidupan Kristen anda sekarang? Apakah berupa padang gurun yang gersang atau apakah hadirat Allah ada dan membuat padang gurun dunia ini menjadi seperti Taman Eden? Apakah anda mengalami hadirat-Nya, tiang api dan tiang awan itu? Atau apakah anda selalu gagal di dalam setiap ujian yang diberikan-Nya? Orang-orang Israel sebetulnya hanya perlu menunggu sedikit lagi sementara Tuhan menguji kesetiaan mereka. Ketika musuh menyerang, tidakkah Allah membela mereka? Dan ketika mereka kehausan, tidakkah Ia memberi mereka air? Apakah anda selalu terantuk dan jatuh setiap kali melewati batu-batu kecil dan selokan yang ada di padang gurun? Dan apakah anda seperti orang Israel yang berkata, "Mengapa Allah membawa saya ke padang gurun ini?" Allah membawa orang-orang Israel melintasi padang gurun karena Ia akan membawa mereka masuk ke Tanah Perjanjian. Akan tetapi mereka segera lupa tujuan melintasi padang gurun itu. Dan banyak orang Kristen sekarang ini yang mengucapkan hal yang sama dengan orang-orang Israel itu ketika mereka berhadapan dengan halangan dan kesulitan dan ujian. Semangat menggerutu mereka tetap ada. "Mengapa Allah membawa kita ke sini?" "Mengapa kita menjadi orang Kristen?" Pertanyaan yang bagus! Mereka lupa arah tujuan mereka. Mereka kehilangan tujuan. Mereka tidak tahu mengapa mereka harus berada di padang gurun dan akibatnya mereka juga tidak dapat melihat bagaimana Allah akan membuat padang gurun itu menjadi Taman Eden.

Sudahkah anda mati?
Nah, sudahkah anda mati atau masih belum? Saya tidak dapat mewakili anda untuk menjawabnya. Namun anda akan tahu sendiri jika anda memang sudah mati. Sudahkah anda meninggalkan Mesir atau masih belum? Sudahkah anda meninggalkan dunia yang berada di bawah kendali dosa dan Iblis, sang 'firaun' dari dunia ini? Jika anda tidak tahu apa jawaban bagi pertanyaan ini, saya tidak dapat memberkan anda jawaban, karena ini adalah hal yang harus anda lakukan sendiri. Saya tahu bahwa saya sudah meninggalkan Mesir dari dunia ini. Bagaimana dengan anda? Tolong jangan katakan bahwa anda tidak tahu apa jawabannya, karena hal itu akan membuat saya mempersoalkan kewarasan anda, setidaknya di tingkat rohani. Jika ada orang Israel bertanya, "Apakah saya di Mesir atau tidak di Mesir?" Maka saya akan menduga bahwa orang ini mungkin tidak tahu tentang geografi, atau mungkin juga ia sudah tidak waras. Saya akan berpikir, "Seharusnya anda tahu akan hal itu. Bagaimana mungkin anda tidak tahu hal itu?"

Saya mohon kepada mereka yang akan dibaptis, tolong, jika anda tidak tahu apakah anda sudah meninggalkan Mesir atau belum, janganlah masuk ke Laut Merah. Karena sesudah anda melewati Laut Merah, suatu hari nanti anda akan berkata, "Saya sudah melintasi Laut Merah, tetapi sepertinya wilayah Mesir itu juga mencakup bagian di seberang Laut Merah. Mungkin perbatasannya sudah bergeser jauh." Kelihatannya ini merupakan keadaan yang dialami oleh sebagian besar orang Kristen sekarang ini. Beberapa perkembangan baru telah terjadi ketika mereka berjalan melintasi Laut Merah. Mesir telah menguasai daerah di seberang semenanjung Laut Merah, seperti keadaan negara itu sekarang ini. Jika anda melintasi Laut Merah, maka anda tetap berada di wilayah Mesir sekarang ini. Kelihatannya dunia (wilayah dosa dan Iblis) itu selalu memperluas diri, dan orang-orang Kristen selalu terperangkap di dalamnya.

Mari kita rangkum dalam kesimpulan yang jelas. Mengucapkan selamat tinggal berarti keluar dari, meninggalkan, berangkat, dan Paulus mamakai istilah rohani 'mati'. Jika kita berbicara tentang 'mati secara rohani', jelas bahwa kita sedang berbicara dalam suatu perlambangan. Namun walaupun ini adalah perlambangan, hal ini tidak mengurangi kenyataannya. Roh tidak mungkin mati. Pada saat kita berbicara tentang 'kematian',  kita tidak memaksudkannya dalam pengertian mati secara fisik. Anda tidak mengalami kematian fisik pada saat dibaptis. Orang-orang yang mempercayakan saya untuk melakukan baptisan tahu bahwa saya tidak membiarkan mereka tetap di dalam air, kalau tidak tentunya anda mungkin saja benar-benar mati secara fisik. Namun paling tidak anda bangkit (dari air) secara jasmani. Lalu apa arti mati itu? Artinya anda mati secara rohani. Mungkin akan lebih jelas bagi anda untuk memahami gambaran ini jika kita pakai gambaran dari keluaran di mana anda mengucapkan 'selamat tinggal' bagi Mesir. Anda melintasi Laut Merah dan segala kehidupan lama anda sekarang ditinggal di belakang; menjadi masa lalu. Inilah pengertian baptisan menurut Paulus. Ia berkata di dalam Galatia 6.14, "Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia." Bagi Paulus, baptisan sama dengan kematian. Ia tidak berhubungan lagi dengan dunia. Kehidupan duniawi baginya sudah berakhir. Sudah lewat! Ia juga berkata di dalam Roma 6.4,13, "Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran."

Mati: mengucapkan selamat tinggal bagi segalanya - pekerjaan, harta milik dan mentalitas
Apa yang terjadi ketika anda mati? Baik dengan gambaran 'selamat tinggal' maupun gambaran 'kematian', makna yang terkandung sama saja. Pikirkan sendiri: jika anda mati, apa yang akan terjadi? Bagaimana dengan pekerjaan anda? Uang yang anda kumpulkan di bank? Apa gunanya uang itu jika anda mati? Pikirkanlah hal itu. Apa yang akan terjadi dengan hubungan anda dengan istri anda? Apa yang diperbuat oleh kematian terhadap hubungan itu? Apa yang akan terjadi atas hubungan anda dengan suami, anak-anak dan teman-teman anda? Apa yang akan terjadi dengan diri anda? Kematian berarti mengucapkan selamat tinggal dengan semua itu. Jadi 'selamat tinggal' dan 'kematian' memiliki arti yang sama. Anda mengucapkan selamat tinggal menjelang kematian, jika anda punya cukup waktu untuk itu. Namun entah anda sempat mengatakan atau tidak, kematian tetap berarti perpisahan. Dan jika anda menerapkan hal ini ke dalam hidup anda, tanyakanlah lebih dahulu dengan teliti diri anda sendiri, sebelum menempuh baptisan: "Saya sedang melangkah untuk mati bagi dunia, terhadap seluruh sistem yang menentang Allah. Saya sedang mengucapkan selamat tinggal bagi semuanya - ayah, ibu, sahabat, pekerjaan, profesi, masa depan saya di dunia ini, kesombongan, keegoisan dan kepentingan pribadi saya. Ini adalah perpisahan dengan semuanya. Apakah saya bersedia?" Saya tegaskan, tidak ada yang boleh melangkah menuju baptisan sebelum ia dengan jelas memahami pokok ini. Bacalah Galatia 6.14, Dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia - saya mati bagi dunia dan dunia mati bagi saya. Berapa banyak orang Kristen yang sanggup mengucapkan hal ini di dalam generasi kita, berapa banyak? Gereja dipenuhi oleh orang-orang yang berkompromi dengan dunia. Mereka melayani Allah dan mamon (termasuk berhala-berhala lainnya, barang atau orang lain yang menggusur Allah dari hati mereka). Dan mereka berpikir, "Ah, saya berhasil mendapat pilihan yang bagus! Saya mendapatkan Allah, mamon dan berhala yang lainnya sekaligus!" Namun akhirnya mereka justru tidak mendapatkan Allah, mamon maupun berhala. Kapan anda mau mengerti apa yang sedang disampaikan oleh Yesus ini? Sampai kapan baru anda mau mengerti? "Engkau tidak akan dapat menjadi muridKu jika belum mengucapkan selamat tinggal bagi semuanya itu." Jadi, apa yang terjadi ketika mengucapkan selamat tinggal atau mati? Tidak ada pekerjaan, tidak ada profesi, tidak ada harta, anda tidak lagi bisa berpikir dengan cara biasanya, dan anda tidak lagi mementingkan diri sendiri serta bertindak semaunya sendiri. Tidak ada lagi yang tersisa buat anda!

Ada sebuah kisah tentang seorang yang kaya raya dari keluarga Borden di Boston (Amerika) yang menjadi Kristen. Pada suatu hari ia melihat sebuah mobil mewah, dan ia mengagumi mobil itu, menurut cerita, ia berkata pada diri sendiri, "Seandanya saja saya bisa membeli mobil itu!" Nah, dia sendiri adalah seorang milyuner yang sangat kaya. Ia mampu membeli mobil seperti itu sampai selusin! Namun apa yang terjadi? Ia sudah 'mati' dan tidak lagi memiliki kekayaan itu. Semua uangnya yang tersimpan di bank sudah tidak menjadi miliknya lagi. Ia tidak dapat membeli mobil tersebut karena uang yang ada di bank sudah bukan miliknya lagi. Ia hanya bertindak sebagai seorang pelaksana kehendak Allah dan pengurus atas harta yang sedang dalam proses untuk disingkirkan itu.

Teruslah melepaskan diri dari segala-galanya
Satu hal yang menarik adalah bahwa kata 'melepaskan diri' atau 'mengucapkan selamat tinggal' di dalam naskah sumbernya yang berbahasa Yunani ditulis dalam present tense (bentuk kata kerja masa sekarang), yang menunjukkan proses yang berkelanjutan. Tuhan tidak sekadar menyuruh anda untuk mengatakan selamat tinggal bagi segala-galanya hanya di dalam satu ketika saja, akan tetapi itu merupakan tindakan memberi yang berkelanjutan. Kita disuruh menjadi pengurus yang baik, jadi kita harus mengucapkan selamat tinggal bagi segala milik kita secara bertahap, dengan persiapan yang cukup, sama seperti orang-orang Israel harus mempersiapkan keberangkatan mereka keluar dari Mesir.

Dan mengapa ditulis dalam present tense? Saya dapat melihat hikmat Tuhan di sini. Sebagai contoh, misalnya saya sudah melepaskan segala-galanya sekarang, namun kemudian tiba-tiba saya mendapat warisan sebesar $100.000 dolar. Saya dapat saja mengatakan bahwa saya sudah melepaskan uang saya di masa lalu, dan yang saya terima sekarang ini tidak termasuk yang harus dilepaskan. Ini adalah bagian yang tidak bisa dimasukkan dalam perhitungan pajak surgawi. Namun kata 'melepaskan diri' atau 'mengucapkan selamat tinggal' yang ditulis dalam present tense berarti terus menerus mengucapkan selamat tinggal.

Wah! Tangan Tuhan sudah mencegat kemana pun kita mau menghindar! Begitulah kecenderungan kita dalam berpikir, namun kita salah jika berpikir seperti itu karena Tuhan bukanlah petugas pajak dari surga yang sedang mengupayakan untuk memeras semua uang dari dompet kita. Pemahaman seperti itu tidaklah benar. Yang Dia maksudkan adalah, "Barang-barang yang tidak berguna yang engkau bawa serta keluar dari Mesir akan membinasakan kamu di padang gurun."

Ketika saya masih bersekolah di Swiss (ayah saya bertugas di markas PBB di Jenewa, sebelum markas itu berpindah ke New York), kami sering bepergian selama beberapa hari dengan berjalan kaki. Jadi kami senang membawa berbagai macam barang - kamera, obor, dan perlengkapan lainnya. Akan tetapi guru kami biasanya berkata, "Jangan membawa barang-barang seperti itu." Dan ketika kami tanyakan, "Mengapa?" ia berkata, "Barang-barang yang terasa hanya setengah kilogram sekarang ini akan terasa seberat lima kilo beberapa hari kemudian." Murid-murid yang tidak peduli dengan peringatan itu, belakangan sangat menyesali keputusan mereka. Pada awal keberangkatan, beban sebuah kamera sama sekali tidak terasa. Satu jam kemudian, tali penggantungnya terasa begitu menusuk di pundak. Dua jam kemudian, kamera itu terasa seperti dua kilo beratnya, dan dalam beberapa jam berikutnya, anda sudah begitu muak dengan kamera tersebut! Sungguh hal yang sangat menarik. Pak guru memperingatkan, "Seiring dengan perjalanan nanti, apa yang tampaknya tidak berat sama sekali, akan menjadi semakin berat di sepanjang perjalanan." Dan itu jugalah alasan mengapa Tuhan berkata, "Tinggalkan semuanya." Bayangkanlah, misalnya, seorang Israel membawa serta kursi kesayangannya keluar dari Mesir ke padang gurun. Pada hari-hari awal, kursi itu tidak menjadi beban buatnya. Namun beberapa hari berikutnya, ia mulai merasakan betapa kursi itu seperti menusuk pundaknya. Satu bulan kemudian, anda boleh yakin bahwa kursi itu telah menjadi kayu bakar, karena ia sudah muak harus mengangkut kursi itu terus menerus. Kursi itu sudah berubah menjadi beban. Ingatlah apa yang dikatakan dalam Ibrani 12.1, ...marilah kita menanggalkan semua beban yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Tinggalkan semua itu. Karena dosa keserakahan, harta benda akan menjadi sumber bencana.

Apakah mati itu dalam satu ketika atau secara bertahap?
Kita akan masuk ke satu poin final sebelum kita tutup. Bagaimana kita akan memahami pertanyaan ini: Apakah mati itu terjadi secara bertahap atau seketika? Apakah kita akan menghabiskan seluruh kehidupan Kristen kita dalam kematian yang berkelanjutan bagi dosa-dosa, sehingga kehidupan Kristen itu lebih berupa kematian ketimbang kehidupan? Ataukah ini proses sekali mati untuk selamanya? Kita harus menjawab pertanyaan ini dengan sangat hati-hati agar tidak salah memahami Firman Allah.

Menurut Alkitab, seseorang itu terdiri dari tubuh dan roh. Saya anjurkan anda untuk mempelajari konkordansi dan meneliti penjelasan di bawah kata "roh", lihatlah seberapa sering kata ini mengacu kepada roh manusia. Anda akan melihat bahwa roh manusia sangat sering dirujukkan kepada seseorang di dalam Alkitab. Di samping itu, kita juga memiliki tubuh. Pembedaan ini sangatlah penting untuk dapat memahami perkara kematian. Apanya yang mati ketika Paulus berbicara, "Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia" (Gal.6.14)? Apakah tubuh Paulus disalibkan? Tentu saja tidak. Tubuhnya tidak tergantung di salib. Lalu apa yang disalibkan? Rohnyalah yang disalibkan. Ia mati bersama Kristus secara rohani namun tubuhnya masih tetap hidup. Lalu, apakah mati itu bersifat seketika? Memang bersifat seketika karena anda mengucapkan selamat tinggal secara tegas dan hanya sekali pada saat dibaptis, yakni anda mengucapkan selamat tinggal bagi dunia, mati bagi dunia. Ini bukanlah suatu proses yang bertahap. Galatia 6.14 bukanlah suatu proses yang bertahap. "Aku telah disalibkan bagi dunia", di dalam bentuk aorist di dalam bahasa Yunani berarti hanya terjadi sekali untuk selamanya.

Akan tetapi tubuh tidaklah mati dan dengan demikian daging masih ada bersama kita. Ini adalah apa yang Paulus sampaikan dalam Roma 7.17, "dosa yang ada di dalam aku," yaitu di dalam tubuh ini. Mata air dosa itu terdapat di dalam daging, jika saya boleh menyebutnya dengan istilah "mata air", dan dia akan tetap ada bersama kita sampai tubuh daging ini nanti mati juga.  Jadi saya mati secara rohani sekali untuk selamanya. Saya membuat komitmen dan itu adalah total. Akan tetapi daging masih ada bersama saya, dan dosa itu masih berdiam di dalam daging. Itu sebabnya mengapa Paulus berkata di dalam Roma 8.13 bahwa kita harus mematikan perbuatan daging. Jika kita terus mematikan perbuatan daging dengan kuasa Allah di dalam Roh-Nya, dan bukan dengan kekuatan kita, maka kita akan masuk dalam hidup. Akan tetapi jika kita tidak mematikan perbuatan daging, kita akan mati. Itulah isi Roma pasal 8.

Ia menyampaikan hal yang sama di dalam kolose 3.5, "Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi," yakni mematikan daging. Jadi, di dalam kehidupan rohani, kematian itu bersifat seketika dan tegas. Namun dari segi jasmani, tubuh ini masih sangat siap untuk menanggapi godaan dan dosa, dan karena itu perlu untuk dimatikan. Di dalam Kolose 3.5 dan Roma 8.13, 'mematikan' ditulis dalam present tense yang berarti suatu proses kematian yang berkelanjutan. Lantas, kematian itu bersifat seketika atau bertahap? Ia bersifat seketika dan terjadi hanya sekali di tingkat rohani akan tetapi berkelanjutan di tingkat daging.

Mengalami kuasa Allah!
Tapi anda mungkin bertanya, "Jika demikian halnya, kita ini ditempatkan di mana?" Kita ditempatkan di dalam kemenangan, dan inilah kemuliaannya. Mengapa? Karena menurut Alkitab, manusia terutamanya terdiri dari roh. Ketika Paulus berkata, "Aku telah mati," ia sedang menunjuk kepada rohnya. Saya adalah roh dan tubuh saya adalah sesuatu yang ada bersama dengan saya. Di dalam Kitab Suci, seseorang disamakan dengan rohnya. Ini berarti bahwa jika anda belum mati di dalam roh kepada 'diri', maka anda tidak akan menang menghadapi dosa karena dosa berdiam di dalam daging anda; selamanya anda akan menjalani kehidupan yang kalah melawan dosa. Akan tetapi jika diri anda, roh anda telah mati bersama dengan Kristus (sudah secara total berkomitmen kepada Kristus dan telah mengucapkan selamat tinggal buat selamanya kepada dunia dan kehendak-diri), maka anda akan hidup dalam kemenangan yang berkelanjutan. Sekalipun dosa bermarkas di dalam daging dan secara terus menerus dimatikan, anda akan selalu menjalani hidup yang berkemenangan. Anda akan memiliki hidup yang berkelimpahan.

Saudara-saudaraku, saya berkata dalam segala kerendahan hati, karena memang hal ini bukan dari saya, bahwa saya sangat tidak mengerti mengapa orang Kristen bisa hidup dalam kekalahan. Saya tidak mengerti mengapa ada orang yang hidup dalam kekalahan. Apakah saya sudah sempurna? Tentu saja tidak! Apakah hidup saya berkemenangan? Puji syukur bagi Allah, ya, hidup saya berkemenangan! Paulus berkata di dalam 1 Korintus 15.57, "Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita." Itulah yang disebut hidup yang berkelimpahan. Harap dipahami dengan baik-baik makna kata 'pengudusan'. Pengudusan atau kekudusan di dalam hidup Kristen bukan berarti terhapusnya dosa-dosa, melainkan kemenangan atas dosa. Kesalahan ini telah menimbulkan banyak kesulitan bagi mereka yang memberitakan kekudusan. Saya ulangi sekali lagi. Kekudusan tidak berarti terhapusnya dosa dari kehidupan seorang Kristen - kita akan selalu memiliki dosa di dalam diri kita - melainkan kemenangan atas dosa. Ini adalah janji Allah, seperti yang tertulis di dalam Roma 8.2 dan di sepanjang Kitab Suci, bahwa kita tidak akan lagi berada di bawah kuasa dosa di dalam hidup kita. Kita akan selalu menang karena kita sudah mati bagi hidup yang lama dan menerima hidup yang baru. Kita tidak dapat hidup di dalam kebangkitan itu jika kita belum mati. Bukankah benar bahwa anda tidak akan dibangkitkan kecuali jika anda sudah mati? Jika anda sudah mati, anda akan mengalami kuasa kebangkitan. Sekalipun dosa akan tetap bersarang di dalam daging, anda akan secara progresif semakin mematikan dosa di dalam daging dan mengalami kemenangan yang terus menerus. Dan kemenangan itu tidak ada artinya tanpa adanya perjuangan. Bagaimana mungkin anda akan merayakan kemenangan melainkan terdapat satu perjuangan? Justru karena kita harus berperang melawan dosa dan daging maka kita akan mengalami kenyataan dari kemenangan. Dan untuk dapat meraih kemenangan, maka harus ada kuasa yang memberi kekuatan.

Mari saya sampaikan sekali lagi sebagai penutup, kuasa ini tidak akan pernah anda alami kecuali jika anda sudah memenuhi firman dari Tuhan Yesus. Anda harus mengucapkan selamat tinggal bagi segala milik anda, bukan sekadar harta benda, namun seluruh manusia lama anda - sikap mental anda yang berpusat pada diri sendiri dan mengikuti kemauan sendiri. Jika anda sudah meninggalkan semua ini, anda akan mengalami kuasa kebangkitan-Nya.

Ada beberapa bagian penjelasan saya yang akan terasa sulit untuk diipahami oleh orang-orang non-Kristen. Namun saya harap bagi anda yang masih belum mengenal Tuhan Yesus, yang belum menjadi Kristen dan dengan demikian belum mengetahui tentang peperangan rohani di dalam kehidupan manusia secara pribadi, anda mau bersabar mendengarnya. Dan saya juga berharap agar anda mau mengerti bahwa saya tidak mau membuat janji-janji palsu bagi anda yang non-Kristen. Jika anda menjadi Kristen, anda akan mengalami kemenangan dan kemuliaan di dalam kehidupan Kristen hanya jika anda sudah memenuhi apa yang Tuhan Yesus sampaikan, "Katakan selamat tinggal buat cara hidupmu yang lama, dan masuklah ke dalam kesempurnaan Perjanjian Baru dengan segala kemuliaannya." Saya mohon anda memperhatikan baik-baik bahwa Kristus tidak akan berdiam di dalam hidup anda sampai anda memenuhi perkataan tersebut. Jika dengan kasih karunia Allah anda telah melakukan hal yang satu ini, anda akan dapat segera mengalami, "Kristus tinggal di dalam aku!" seperti yang tertulis di dalam Galatia 2.19,20. Iman yang berkemenangan akan berkata: "Aku telah disalibkan dengan Kristus. Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku."

[Download]


Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.

Standard
Besar
Terbesar

Perumpamaan:

Mat 9:14-17 Perumpamaan tentang Kantong Kulit yang Lama dan yang Baru

Mat 13:3-23 Perumpamaan tentang Seorang Penabur Benih I

Mat 13:1-9 Perumpamaan tentang Penabur - Dari Sudut Pandang Keselamatan

Mar 4:21-25 Perumpamaan tentang Pelita

Mar 4:26-29 Perumpamaan tentang Benih yang Tumbuh dengan Sendirinya

Mat 13: 24-30 Perumpamaan Tentang Lalang Di Antara Gandum

Mat 13:31-32 Perumpamaan tentang Benih Sesawi

Mat 13:33 Perumpamaan Tentang Ragi

Mat 13:44 Perumpamaan tentang Harta yang Terpendam

Mat 13:45-46 Perumpamaan tentang Mutiara

Mat 13:47-50 Perumpamaan tentang Pukat

Mat 13:51-52 Perumpamaan tentang Ahli Taurat yang Menerima Pelajaran tentang Hal Kerajaan Surga

Luk 10:25-37 Perumpamaan tentang Orang Samaria yang Murah Hati

Luk 11:5-13 Perumpamaan Tentang Sahabat Pada Tengah Malam

Luk 12:13-21 Perumpamaan tentang Orang Kaya yang Bodoh

Luk 13:6-9 Perumpamaan tentang Pohon Ara yang Mandul

Luk 14:7-14 Perumpamaan tentang Tamu-tamu

Perumpamaan tentang Pesta Perjamuan Besar I

Perumpamaan tentang Pelita Diatas Kaki Dian

Perumpamaan tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 1

Perumpamaan tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 2

Perumpamaan tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 3

Perumpamaan tentang Domba yang Hilang

Perumpamaan tentang Uang Dirham yang Hilang

Perumpamaan tentang Anak yang telah Mati dan Hidup Kembali

Perumpamaan tentang Dua Anak yang Hilang

Perumpamaan tentang Bendahara yang Tidak Setia

Perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus

Perumpamaan tentang Hamba yang Tidak berguna

Perumpamaan tentang Hakim yang Tidak Adil

Akankah Yesus mendapati iman di Bumi? I

Akankah Yesus mendapati iman di Bumi? II

Perumpamaan tentang orang Farisi dan Pemungut cukai

Perumpamaan tentang Uang Mina

Perumpamaan tentang Hamba yang Tidak Mengampuni

Para Pekerja di Kebun Anggur - Bagian Pertama

Para Pekerja di Kebun Anggur - Bagian Kedua
Prinsip tentang yang terdahulu dan yang terakhir

Perumpamaan tentang Pohon Ara

Perumpamaan tentang dua orang anak

Perumpamaan tentang Para Penggarap Kebun Anggur yang Jahat

Perumpamaan tentang Perjamuan Kawin

Perumpamaan tentang Pesta Perjamuan Besar 2

Perumpamaan tentang 10 Gadis-gadis yang Bijaksana & Bodoh

Perumpamaan tentang talenta

Pemisahan antara Kambing dan Domba 1

Pemisahan antara Kambing dan Domba 2

Perumpamaan tentang Kedatangan Yesus yang kedua

Copyright 2002-2014. Semua materi di situs ini adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries.
E-mail kami untuk mendapatkan izin untuk menggunakan materi di situs ini.
Best viewed with IE6.0 and 1024 by 768 resolution.