|
|
Perumpamaan tentang Pembangunan Menara & tentang
Raja yang akan Maju Berperang
Lukas
14:25-33 - Disampaikan oleh Pendeta Eric Chang, Montreal
Isi Khotbah
Mari kita kembali kepada Firman Allah, ke dalam
bagian yang penting ini karena kita ingin memahami apa artinya menjadi
seorang Kristen, dan kita akan mencoba untuk dapat segera masuk ke dalam
inti persoalannya dengan cepat. Mari kita baca Lukas 14:25-33:
Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun
mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata
kepada mereka: "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak
membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya,
saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya
sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul
salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab
siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara
tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup
uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah
meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan
semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu
mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau,
raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak
duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu
orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua
puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama
musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.
Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak
melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi
murid-Ku
Tuhan Yesus tidak takut disalahpahami
Kutipan tadi berisi kata-kata yang kuat dan penuh kuasa dari Tuhan
Yesus! Saat itu orang banyak sedang mengikuti Yesus, mereka tentunya
sangat berisik - setiap kerumunan orang biasanya sangat berisik, dan
seorang pengkhotbah yang dikerumuni orang sebanyak itu mungkin akan
berpikir, "Wah, saya terkenal sekarang! Saya dapat sukses besar! Lihat
kerumunan orang-orang ini!" Dan Yesus melakukan suatu hal yang justru
berpeluang besar akan membubarkan kerumunan itu. Ia berkata,
"Barangsiapa di antara kalian (kumpulan orang itu) datang padaKu dan
tidak membenci ayah, ibu, istri, anak dan saudara-saudaranya, ia tidak
dapat menjadi muridKu. Engkau bisa saja masuk di dalam kumpulan banyak
orang ini, engkau bisa saja ikut bersemangat, tetapi engkau tidak dapat
menjadi muridKu."
Sekarang ini kita sedang mempelajari
perumpamaan-perumpamaan yang ada di dalam Injil Lukas, dan kita sampai
pada dua perumpamaan dalam kutipan hari ini. Perumpamaan tentang
pembangunan menara dalam ayat 28-29, dan perumpamaan tentang raja yang
akan maju berperang di ayat 31-32. Bagian yang sejajar dengan ayat-ayat
ini ada di Matius 10:38-39. Saya ingin langsung membahas isi kedua
perumpamaan itu, akan tetapi kita harus memahami dulu kata-kata penuh
kuasa yang disampaikan oleh Tuhan Yesus ketika berbicara kepada
kerumunan orang yang mengikuti-Nya.
Perhatikan baik-baik ucapan yang disampaikan oleh
Tuhan Yesus di dalam ayat 26, "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan
ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya,
saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan..." Kata-kata yang sangat
tegas! Siapa yang berani berbicara seperti itu? Membenci ayah dan ibu?
Tentu saja, saya tidak akan mengencerkan kata-kata tersebut. Saya
mendapati betapa Tuhan Yesus sungguh luar biasa karena Ia tidak takut
menggunakan kata-kata seperti itu. Ia tidak takut jika ada orang yang
salah paham, padahal kata-kata seperti ini mudah sekali disalah-pahami,
bukankah begitu? Dan kita seringkali tergoda untuk menyisipkan kata-kata
kita sendiri di sini.
Bagi anda yang pernah belajar di Inggris, belajar di
lembaga-lembaga pendidikan di Inggris, anda harus mewaspadai satu hal
penting. Tahukah anda apa kebiasaan dari cendekiawan Inggris? Mereka
menyusun satu kalimat, lalu mereka memodifikasi pernyataan mereka, dan
tindakan ini bisa berulang-ulang sehingga pada akhirnya anda bisa
kehilangan patokan tentang hal apa yang sedang mereka nyatakan. Anda
yang sering membaca buku-buku karangan dari cendekiawan Inggris akan
dapat melihat hal ini. Mereka begitu takut akan disalahpahami dan
akibatnya mereka terus saja memodifikasi dan membatasi kalimat mereka.
Mereka akan sering mengucapkan kata-kata, "mungkin", "bisa jadi",
"berpeluang", "dapat saja," sekalipun pernyataan yang dibuat seharusnya
memunculkan ketegasan. Satu ketika, seorang saudara yang sedang membaca
sebuah buku semacam itu berkata, "Buku ini benar-benar tidak bisa
dibaca!" Di setiap bagian dalam buku itu, ia selalu mendapati kata-kata
"mungkin", "bisa jadi" dan "bisa saja", si penulis tampaknya tidak
berani menyatakan sesuatu hal dengan tegas. Ketika anda mendapati suatu
pernyataan yang tampaknya sangat meyakinkan dan seharusnya disampaikan
dengan kata-kata yang mengandung penegasan seperti kata "jadi,
demikianlah halnya" atau "tentunya begini", namun anda akan kecewa
karena si cendekiawan Inggris justru akan menyatakannya dengan
kata-kata, "mungkin bisa begini" atau "bisa jadi". Sekarang lihatlah,
Yesus tidak takut bahwa akan ada orang yang salah paham dengan
pernyataanNya di ayat 26. Ini sangat menarik. Mengapa jadi menarik?
Karena Ia tahu bahwa orang yang mengasihi kebenaran, yang berkomitmen
kepada kebenaran, akan dapat memahami apa maksud ucapanNya. Mereka tidak
akan mempermasalahkan kata-kata yang diucapkanNya karena mereka tahu apa
yang dimaksudkan oleh-Nya. Dapatkah anda memahami apa maksud Yesus, atau
mungkin anda malah mempermasalahkan firmanNya? Inilah hal pertama yang
ingin saya sampaikan dari pengajaran Tuhan Yesus ini. Ia tidak pernah
kuatir bahwa anda akan salah memahami ucapanNya.
Sebagai contoh, di dalam Yohanes 6:53 Tuhan Yesus
berkata, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan
daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di
dalam dirimu." Wah! Orang-orang Yahudi berkata, "Ini kanibalisme!
Apakah engkau ingin menyuruh kami menjadi kanibal? Kami adalah umat yang
paling beradab di dunia ini!" Nah, Yesus tidak pernah takut bahwa
ucapanNya akan disalahpahami oleh orang-orang. Ia berkata, "Kalian tidak
mau makan dagingKu? Tidak mau minum darahKu? Maka kalian tidak akan
memiliki hidup." Wow! Orang ini kanibal! Dia pikir kita ini hidup di
jaman batu, di mana seorang manusia gua akan membunuh dan memakan daging
tetangga yang tinggal di gua berdekatan dengannya. Yesus tahu bahwa jika
anda memang tidak peduli pada kebenaran maka anda akan berdebat dan
mempermasalahkan kata-kata yang diucapkanNya. Tidak kira bagaimana ia
memodifikasi dan merangkai kata-kataNya, anda akan mencari dan menemukan
sesuatu untuk dibantah dan diperdebatkan. Akan tetapi, bagi seseorang
yang mengasihi kebenaran, ia akan tahu apa yang dimaksudkan oleh Yesus.
Kita tahu apa yang Ia maksudkan. Yesus tidak sedang berbicara tentang
kanibalisme, akan tetapi Ia tidak takut bahwa anda akan menuduhNya
kanibal. Silakan saja! Ia tidak kuatir akan hal itu. Nah, inilah
kekuatan. Contoh kekuatan yang ditunjukkan oleh Tuhan Yesus ini harus
kita tiru. Saya sering melihat ada banyak pengkhotbah yang berkata,
"Maksudnya begini, sebenarnya Tuhan Yesus tidak bermaksud demikian, jadi
jangan kuatir." Mereka mulai berkutat dengan urusan memodifikasi ucapan
Yesus. Yesus tidak mengkualifikasi kalimatNya, jadi kita melakukan itu
buatNya. Lalu pada akhirnya, Tuhan Yesus sepertinya tidak mengucapkan
apa-apapun, karena setelah kita selesai memodifikasi pernyataanNya, apa
yang sebenarnya diucapkan oleh Tuhan Yesus?
"Membenci" berarti mengasihi Allah di atas segala
yang lain
Cukup menarik untuk diperhatikan bahwa para lawan Yesus jelas-jelas
tidak mempersoalkan ucapanNya sampai titik ini. Jika orang-orang Yahudi
itu ingin mempersoalkan ucapanNya, mereka akan berkata, "Yesus, engkau
sudah mengajarkan hal yang melanggar perintah ke lima, perintah yang ke
lima berkata 'Hormatilah ayahmu dan ibumu', tapi engkau berkata,
'bencilah ayahmu dan ibumu.'" Tentunya mereka bisa menuduhnya dengan
cara itu. Bukankah cukup aneh bahwa bahkan orang-orang Yahudi itu tidak
meributkan hal ini? Mereka yang selalu mencari kesempatan untuk
mempertengkarkan ajaranNya, tidak mempermasalahkan hal ini. Mengapa?
Mengapa mereka tidak mengambil kesempatan ini untuk memperdebatkan hal
ini? Yesus sendiri tentu saja tidak takut jika mereka melakukannya.
Mereka bertengkar denganNya di dalam Yohanes pasal 6, tentang perkara
memakan dagingNya, akan tetapi mereka tidak bertengkar denganNya dalam
hal yang satu ini. Mengapa? Karena mereka tahu apa arti kalimat itu.
Mereka tahu bahwa Yesus memakai suatu ungkapan Yahudi kuno, "membenci",
yang berarti - dalam hal ini - anda begitu mengasihi Allah dan kasih ini
jauh lebih besar ketimbang kasih anda terhadap yang lainnya, anda
menempatkan Allah sebagai yang utama, sehinggakan yang lainnya berada di
peringkat yang jauh di bawah Allah di mana seolah-olah anda sedang
"membenci" dia. Apa artinya? Mari lihat contoh ini,
Yesus berkata, "Mari, ikutlah Aku," lalu orang tua
anda berkata, "Tidak, jangan ikut Yesus." Apa yang akan anda lakukan?
Jika anda berkata, "Aku akan mengikut Yesus," apa
artinya itu? Artinya bahwa anda akan meninggalkan orang tua anda. Ini
dapat diartikan sebagai 'membenci' ayah dan ibu anda karena anda
meninggalkan mereka dan mengikut Yesus. Ini sebabnya mengapa Yesus tidak
mau memperlunakkan kata-kata yang dipakaiNya. Ia tidak takut
disalahpahami karena anda memang akan berhadapan dengan keadaan di mana
anda harus memilih salah satunya. Dan di dalam menentukan pilihan ini,
tindakan atau pilihan anda dapat diartikan sebagai membenci orang tua
anda, sekalipun anda tidak membenci mereka. Beberapa dari antara anda,
yang berkeinginan untuk mengikuti pelatihan full-time, sudah mengalami
hal yang demikian.
Anda ingin mengikut Yesus dan orang tua anda
berkata, "Jangan."
Anda berkata, "Saya tetap memilih Yesus."
Lalu orang tua anda berkata, "Kamu benci pada kami,
begitu kan?"
Anda menjawab, "Tidak."
Tapi mereka berkata, "Kamu pasti benci kepada kami."
Lalu siapa yang akan memenangkan perdebatan ini? Mereka berkata, "Kamu
membenci kami, buktinya kamu meninggalkan kami demi mengikut Yesus."
Anda juga boleh melanjutkan, "Tidak, saya tidak
membenci kalian. Saya mengasihi kalian."
Namun mereka berkata, "Perbuatanmu itu buktinya.
Kamu benci sama kami, itu sebabnya kamu mau meninggalkan kami."
Apakah anda akan ngotot membenarkan diri? Silakan
saja, akan tetapi Tuhan Yesus sendiri tidak membuang waktu dengan urusan
seperti itu. Bahkan orang-orang Yahudi pun mengerti apa yang
dimakksudkaan oleh Yesus di sini, sehingga mereka tidak mempersoalkan
kata-kata-Nya di sini.
Jika keselamatan itu adalah karunia yang gratis,
lalu mengapa keselamatan itu menuntut pengorbanan segala-galanya dari
kita?
Akan tetapi mari kita pahami lagi hal ini lebih jauh, supaya kita
dapat mengetahui dengan persis apa yang sedang dibicarakan oleh Yesus.
Saya yakin bahwa kebanyakan dari anda yang sudah menjadi Kristen tentu
pernah diajari bahwa keselamatan itu cuma-cuma; keselamatan itu karunia
gratis dari Allah. Ia memberi anda keselamatan sebagai hadiah. Jika anda
pernah diajar seperti itu, maka anda akan menghadapi masalah besar
dengan ayat-ayat ini. Jika keselamatan itu gratis, mengapa anda harus
mengorbankan segalanya? Sesuatu yang menuntut anda untuk mengorbankan
segalanya, sangat sulit disebut sebagai hal yang gratis. Bahkan
sekalipun saya membayar hanya satu dolar untuk sesuatu hal, saya tidak
akan mengatakannya sebagai gratis, benar? Jika saya berkata bahwa mobil
ini berharga 6.000 dolar, akan tetapi anda boleh memilikinya cukup
dengan satu dolar, dapatkah anda mengatakannya gratis? Tidak, ada biaya
sebanyak satu dolar untuk itu. Dan jika anda harus membayar penuh 6.000
dolar, maka mobil itu tidak akan disebut gratis berdasarkan alasan
apapun. Perolehannya bisa disebut gratis hanya jika anda tidak perlu
mengeluarkan uang sepeserpun untuk mobil itu. Lalu bagaimana bisa,
keselamatan itu dikatakan cuma-cuma padahal ia menuntut pengorbanan
segala-galanya? Itulah yang menjadi pertanyaannya. Bagaiman cara gereja
memecahkan pertanyaan yang sudah ada sejak lama ini? Kita berkata bahwa
Allah memberikan AnakNya yang tunggal dan barangsiapa yang menerimaNya
akan beroleh hidup yang kekal. Lalu mendadak kita diberitahu bahwa kita
tidak dapat menjadi muridNya (kita tak dapat memintaNya untuk masuk ke
dalam hidup kita), jika kita tidak mengorbankan segalanya termasuk nyawa
kita! Apa yang harus kita lakukan?
Menyingkirkan ajaran Tuhan Yesus?
Akankah kita berkata, "Ini pertanyaan yang memalukan, kita lupakan
saja pengajaran Yesus, dan kita berpegang pada ajaran Paulus bahwa
keselamatan itu adalah karunia gratis"? Ini adalah salah satu cara untuk
memecahkan persoalan, dan fakta yang sangat mengejutkan adalah banyak
sekali orang Kristen yang memecahkan persoalan ini dengan jalan membuang
ajaran Yesus! Tidak heran jika sekarang ini sangat sedikit gereja yang
mengajarkan kepada anda ajaran dari Yesus karena sangat memalukan,
sangat sulit untuk menjelaskan bagaimana keselamatan dapat menjadi
anugerah yang cuma-cuma sementara Yesus berkata, "Tidak, keselamatan
menuntut pengorbanan segala-galanya darimu!" Tidakkah Yesus juga memberi
kita perumpamaan tentang pedagang mutiara? Nah, anda dapat memiliki
mutiara itu, namun untuk membelinya, anda harus mengorbankan
segala-galanya. Lalu bagaimana bisa disebut cuma-cuma? "Wah, kalau
begitu lupakan saja ajaran Yesus." Begitulah, setidaknya ini merupakan
salah satu cara untuk memecahkan persoalan.
-
Membagi keselamatan ke dalam dua tahapan?
Cara lain dalam menjawab persoalan ini adalah dengan berkata,
"Keselamatan dalam ajaran Kristen dapat dibagi dalam dua tahapan.
Tahapan yang pertama bersifat gratis, sedangkan tahapan yang kedua
menuntut kita untuk mengorbankan segala-galanya. Nah, persoalannya beres
sekarang!" Tahapan yang pertama itu gratis, ketika anda menyatakan
percaya kepada Yesus, anda lalu menerima anugerah dari Allah sebagai
hadiah yang cuma-cuma. Mungkin, beberapa tahun kemudian, jika anda tidak
puas dengan kehidupan anda sebagai orang Kristen, anda boleh memutuskan
untuk menjadi seorang murid. Dan ketika anda menjadi seorang murid, maka
itu akan menuntut pengorbanan segala-galanya dari anda. Nah!
Persoalannya terpecahkan sekarang! Sayang sekali, persoalannya ternyata
jauh dari selesai. Anda justru akan masuk ke dalam masalah yang lebih
ruwet lagi. Mari kita uji dengan beberapa pertanyaan:
Pertama, anda akan masuk ke dalam persoalan eksegetis:
Bagian
mana dari Alkitab yang menyatakan adanya pembagian antara orang Kristen
dengan murid? Ayat mana dalam Alkitab yang menjelaskan bahwa anda
akan menjadi orang Kristen dulu, baru kemudian menjadi murid? Tidak ada!
Anda hanya perlu melihat di dalam Kisah Para Rasul untuk melihat berapa
kali kemunculan kata "murid", dan akan akan menemukan bahwa sebutan
"Kristen" ditujukan kepada para murid (lihat Kis.11:26). "Seorang
Kristen" di dalam Perjanjian Baru adalah sebutan bagi seorang murid.
Tidak ada bedanya di antara seorang Kristen dengan seorang murid.
Seorang murid bukan seseorang yang memiliki tingkatan lebih tinggi dari
seorang Kristen; seorang murid adalah seorang Kristen.
Kedua, anda akan masuk ke dalam masalah logika: Buat apa saya masuk
ke tahapan yang kedua, dan mengorbankan segala-galanya untuk mendapatkan
keselamatan, kalau di tahapan yang pertama saja sudah mendapatkannya
secara cuma-cuma, cukup dengan mempercayai Yesus?
Misalnya saya memberi anda sebuah mobil secara gratis, dan saya
berkata, "Ini adalah hadiah gratis. Ulurkan saja tanganmu dan dengan
iman ambillah. 'Iman berarti kita mengulurkan tangan untuk menerima
anugerah dari Allah.' Jadi ambillah mobil ini." Ajaran semacam itu sudah
sangat sering kita dengar, dan kita akan membahasnya nanti. Nah,
sekarang anda sudah memiliki mobil yang saya berikan itu.
Lalu, tiga tahun kemudian, anda memutuskan, "Saya sudah memakai mobil
ini selama tiga tahun, sekarang saya mau membayar harganya secara
penuh."
Banyak orang akan berkata, "Ada apa dengan kamu? Kenapa mendadak mau
membayar enam ribu dolar padahal kamu sudah memakai mobil ini selama
tiga tahun dan nilai mobil itu sekarang sudah sama dengan nilai mobil
bekas?" Saya tidak yakin apakah ada orang yang dapat memahami landasan
atau logika dari keputusan anda itu. Apakah anda dapat memahami
logikanya? Mengapa tiba-tiba seseorang memutuskan untuk bertindak
seperti itu? Dan dari sudut pandang Alkitab, hal ini sebetulnya lebih
serius, mengatakan bahwa memutuskan untuk membayar uang mobil itu adalah
titik di mana anda pada akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang murid,
jika kita menggunakan ilustrasi saya tadi.
-
Mengapa saya membahas semua ini? Karena saya ingin memperingatkan
anda, bahwa untuk dapat menerima ajaran yang benar, sesudah cukup
lama terbenam dalam ajaran yang keliru, sangatlah susah. Bahaya dari
ajaran yang sesat adalah bahwa ia akan membutakan anda kepada ajaran
yang benar.
Ada tiga macam ajaran tentang keselamatan di jaman sekarang ini: 1. 'Keselamatan oleh takdir'
adalah jenis ajaran yang pertama.
Tahukah anda apa arti 'takdir'? Orang China biasa berkata, "Takdir
kita sudah digariskan." Jika anda tanggalkan embel-embel
kekafirannya dan menaruh kalimat ini ke tengah lingkungan istilah
Kristen, anda akan mendapatkan ungkapan 'keselamatan oleh takdir'
yang berarti bahwa anda diselamatkan karena memang sudah ditetapkan
seperti itu (ajaran predestinasi). Allah sudah menetapkan
bahwa anda akan diselamatkan, dengan demikian anda pastilah
diselamatkan. Ia sudah menetapkan jalan ini bagi anda. Secara
sederhana, jika anda sudah ditakdirkan untuk diselamatkan, maka
tidak peduli apakah anda suka atau tidak, anda tetap akan
diselamatkan karena kasih karunia Allah tidak dapat ditolak.
Keselamatan oleh takdir adalah salah satu ajaran mengenai
keselamatan.
2. 'Keselamatan oleh dorongan selera' adalah jenis pengajaran
yang kedua. Maksud dari kata selera dapat digambarkan seperti
pilihan seseorang pada jenis makanan yang didasari oleh rasa dan
penampilan dari makanan tersebut. Mungkin anda menyukai ayam goreng
Kentucky, babi panggang ataupun bebek panggang. Maksudnya, keinginan
anda untuk menikmati makanan tersebut timbul secara mendadak dan
anda segera bergegas untuk mendapatkannya. Itulah arti dari
'keselamatan oleh dorongan selera'.
Anda mendengarkan seorang pengkhotbah yang mengiklankan indahnya
tawaran keselamatan, mungkin seindah mobil mewah ataupun sesuatu hal
yang sangat anda idamkan, dan semua itu ditawarkan sebagai hadiah
gratis, dan selera anda terdorong oleh tawaran itu. Anda berkata,
"Nah, ini dia! Bagus sekali! Dan ini gratis!" Tidak ada tawaran yang
lebih bagus dari pada itu yang dapat anda temui di tempat lain. Toko
pakaian atau supermarket mungkin saja menawarkan discount 30%, atau
bahkan sampai 50%, akan tetapi pernahkah ada toko dan supermarket
yang menawarkan barang dagangan gratis? Inilah tawaran yang anda
tunggu-tunggu! Dan jika anda tidak tertarik dengan tawaran ini,
tentunya ada sesuatu yang salah dengan diri anda! Seharusnya anda
menyukai tawaran ini! Lalu keinginan anda tergugah, dan anda
berkata, "Wah, yang ini luar biasa!"
Kemudian si pengkhotbah itu memberitahu anda sesuatu hal yang lebih
menarik lagi: "Iman berarti anda tinggal menyodorkan tangan untuk
menerima hadiah gratis dan anda sudah menerimanya!" Berdasarkan
hal ini, saya tidak paham mengapa ada orang yang tidak selamat. Jika
anda tidak mempunyai akal sehat untuk hanya merentangkan tangan
untuk menerima hidup yang kekal sebagai suatu karunia, seperti yang
dijelaskan pengkhotbah itu kepada anda, maka itu berarti bahwa
memang benar-benar ada sesuatu yang salah di dalam diri anda, bukan
hanya di dalam hal rohani anda akan tetapi juga di dalam otak anda.
Pasti ada sesuatu yang salah di dalam otak anda jika anda tidak
tertarik pada tawaran terhebat seumur hidup ini! Di supermarket,
dengan tawaran discount 50%, anda tinggal membayar separuh dari
harga normal, namun itu tetap harus membayar. Anda tetap harus
memeriksa kantung anda dan memastikan bahwa ada tersedia cukup uang
di sana untuk membayar yang 50% itu. Sebuah mantel kulit seharga,
misalnya, 150 dolar, ditawarkan kepada anda dengan harga 75 dolar.
Harga 75 dolar itu sudah sangat murah, namun apakah anda punya uang
75 dolar? Anda masih harus tetap menghitung biayanya. Akan tetapi
jika pemilik toko itu berkata, "Mantel kulit ini gratis, ambil
saja!" Apakah anda akan menolaknya? Pasti ada sesuatu yang aneh
dalam diri anda jika anda tidak mengambilnya, karena anda hanya
perlu mengulurkan tangan, mengambil mantel tersebut dan berlalu,
dengan barang mahal di tangan! Apa lagi yang anda inginkan?
Ketika Shah Iran jatuh di tahun 1979, ada sebuah restoran Persia di
Montreal yang menawarkan makanan gratis! Tawaran itu diiklankan di
radio: "Hidangan gratis! Datang dan nikmatilah!" Jika anda tidak
datang dan menikmati hidangan gratis di sana, tentu ada sesuatu yang
aneh di dalam diri anda. Jika tempat tinggal anda berjarak sangat
jauh dari restoran itu, atau jika anda tidak ingin menunggu dalan
antrian pengunjung, alasan ini masuk di akal. Anda dapat saja
berkata, "Lupakan saja." Akan tetapi di dalam hal tawaran
keselamatan gratis tidak ada jarak yang harus dihitung, dan tidak
ada antrian yang panjang, anda tinggal mengulurkan tangan, dan
karunia keselamatan itu akan turun kepada anda! Pasti ada sesuatu
yang tidak beres dengan anda jika anda tidak tertarik pada tawaran
ini!
Satu-satunya masalah dengan ajaran ini adalah, kita akan terantuk
pada pertanyaan yang sama: Yesus berkata, "Keselamatan itu menuntut
pengorbanan segala-galanya darimu."
3. "Keselamatan yang menuntut pengorbanan segala-galanya",
adalah jenis ajaran yang ketiga, dan ini adalah pengajaran dari
Tuhan Yesus: "Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu,
yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak
dapat menjadi murid-Ku" (Luk.14.33). Bukan saja tidak ada
discount, akan tetapi keselamatan itu juga menuntut saya untuk
melepaskan segalanya! Saya harus merelakan segala yang saya miliki
untuk dapat membelinya!
Lalu, siapa yang benar? Si juru khotbah atau Yesus? Salah satu dari
kedua ini pasti ada yang salah di sini! Mari saya beritahukan kepada
anda dengan sejujurnya: definisi bahwa iman itu berarti "anda
tinggal mengulurkan tangan anda untuk menerima karunia atau hadiah
gratis" adalah omong kosong jika dicocokkan dengan isi
Alkitab. Maaf, jika saya harus menyampaikan kepada anda bahwa hal
itu adalah omong kosong. Tidak ada ajaran seperti itu di dalam
Alkitab. Jika anda mampu menunjukkan dasarnya di dalam Alkitab, saya
akan sangat berterimakasih. Sejauh ini, dari pendalaman yang saya
lakukan atas isi Alkitab, tidak saya temukan ajaran seperti itu,
akan tetapi saya terbuka jika ada orang yang dapat menyatakannya
kepada saya. Alkitab tidak mengajarkan pemahaman seperti itu sama
sekali. Apa yang salah dengan definisi itu? Saya akan memberitahukan
anda apa yang salah dengan definisi iman seperti itu.
Iman yang alkitabiah berarti hubungan yang khusus dengan Allah,
Bapa dan Penguasa anda Tolong dipahami dengan teliti bahwa iman menurut Alkitab selalu
menunjukkan suatu hubungan pribadi dengan Allah. Selalu! Tidak ada
pengecualian! Iman tidak berarti anda sekadar mengulurkan tangan
untuk mengambil karunia gratis. Ini bukanlah definisi yang
alkitabiah. Saya tidak tahu dari mana definisi seperti ini bersumber
akan tetapi yang jelas ini bukanlah definisi yang alkitabiah. Di
dalam Alkitab, iman selalu 'ditempatkan pada' seseorang atau satu
pribadi. Dan 'iman di dalam Kristus' berarti bahwa anda memiliki
hubungan yang khusus dan spesial dengan Dia. Iman bukanlah hubungan
dalam bentuk seadanya dengan Kristus. Definisi yang alkitabiah dari
iman adalah hubungan antara Guru atau Tuan dengan seorang murid,
hubungan antara Bapa dengan anak. Itu sebabnya mengapa definisi iman
dalam arti 'sekadar mengulurkan tangan untuk menerima karunia'
adalah suatu kesesatan! Pemahaman ini tidak alkitabiah.
Belakangan ini, di dalam kampanye penginjilannya, beberapa gereja
China berkata, "Keselamatan itu sama gampangnya dengan meminum
segelas air, semudah menelan sepotong roti. Bagaimana cara anda
meminum segelas air? Anda membuka mulut dan menuangkan airnya. Jadi
iman adalah: Membuka mulut dan menuangkan airnya." Saudaraku, ini
bukanlah pengajaran yang alkitabiah. Namun mereka mengutip ayat
Alkitab! Mereka mengutip Yohanes 7:37, "Barangsiapa haus, baiklah
ia datang kepada-Ku dan minum!" Keselamatan itu semudah kita
minum air. Lalu mereka mengutip Yohanes 6:51, "Akulah roti hidup
yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia
akan hidup selama-lamanya." Keselamatan itu ternyata semudah
kita makan roti!
-
"Datang kepadaKu" berarti menundukkan diri kepada Yesus sebagai
Raja dan Tuhan Tidak! Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa keselamatan itu
semudah minum air atau makan roti! Perhatikan lagi baik-baik pada
apa yang Dia ucapkan: "barangsiapa yang haus, baiklah ia
datang kepada-Ku..." itu berarti bahwa anda berada dalam suatu
hubungan pribadi dengan Yesus. Datang pada Yesus tidak sama dengan
datang ke toko dan menemui Yesus di sana sebagai penjual yang sedang
mengobral barang gratisan. Pahami apa arti 'datang pada Yesus' itu.
"Datang pada Yesus" berarti datang kepadaNya, menyerahkan hidup anda
kepadaNya dan mengakui Dia sebagai Raja. Itulah yang dikatakan oleh
Yesus di dalam Matius 11:28. Ia berkata, "Marilah kepadaKu, pikullah
kuk yang Kupasang, dan jiwamu akan mendapat ketenangan." Jadi
'datang pada Yesus' berarti memikul kuk yang Ia pasang. Jelasnya,
itu berarti bahwa anda datang pada Yesus, mengakui Dia sebagai
Penguasa bagi hidup anda, dan membangun suatu hubungan yang nyata
dengan Dia.
-
Memakan tubuh Yesus sebagai roti artinya menundukkan diri kepada
Yesus sebagai Penguasa Sebagai contoh, perhatikan kembali Yohanes 6:51 yang berkata, "Akulah
roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari
roti ini, ia akan hidup selama-lamanya." Siapa orang yang
memakan roti hidup itu? Apakah anda memakannya? Apakah orang-orang
Yahudi di dalam Yohanes pasal 6 itu yang melakukannya? Mengapa
tidak? Kepada siapakah Yesus memberikan roti hidup, yaitu tubuhNya,
dan kepada siapakah Ia memberikan darahNya untuk diminum? Kepada
murid-muridNya sendiri di dalam perjamuan kudus. Tidakkah anda
menyadari hal itu? Di dalam perjamuanlah Ia berkata, "Inilah tubuhKu
yang kuberikan padamu." Apakah Ia langsung memberikan tubuhNya
kepada orang-orang Yahudi yang tercatat di dalam Yohanes 6 itu?
Tidak, karena mereka bukanlah murid-muridNya. Mereka tidak memiliki
hubungan khusus dengan Dia. Dapatkah anda memahami apa yang sedang
dikatakan oleh Yesus? Benar, tubuhNya adalah roti itu, akan tetapi
anda harus menjadi muridNya sebelum Ia bersedia memberikannya kepada
anda. Itu sebabnya, anda hanya layak ikut ambil bagian di dalam
perjamuan jika sudah menjadi murid Kristus. Yang bukan murid Kristus
tidak layak untuk ambil bagian. Dan seorang murid Kristus memiliki
hubungan yang hidup dari iman kepada Yesus di mana Yesus adalah Tuan
dan Penguasanya.
Hal yang sama juga berlaku dalam hal air kehidupan. Siapakah yang
meminum air kehidupan itu? Hanya murid-murid Yesus yang mengakui Dia
sebagai Tuhan. Orang lain tidak meminum air itu. Jika anda datang
padaNya, maka anda harus datang sebagai murid, jika tidak, maka anda
tidak usah datang sama sekali. Tidakkah itu sangat jelas? Apakah
anda memahami hal ini?
Pahamilah dengan teliti bahwa iman di dalam Alkitab tidak meyuruh
anda sekadar merentangkan tangan untuk menerima karunia gratisan.
Iman berarti bahwa kita datang kepada Yesus, menyerahkan diri ini
sepenuhnya sebagai murid kepada Dia sehingga Dia menjadi Tuhan dan
Penguasa di dalam hidup ini. Karunia Allah kepada kita ada di
dalam Pribadi Yesus sebagai Tuhan dan sebagai Raja agar Dia dapat
menjadi Juruselamat kita. Tidak ada jalan lain untuk dapat
memiliki Yesus. Yesus bukanlah semacam hadiah yang dapat anda
kantongi di saku anda. Yesus tidak akan berlari-lari mengikuti anda
sebagai pelayan anda. Dan jika anda memiliki Yesus, Dia itulah
karunia dari Allah itu. Karena begitu besar kasih Allah akan
dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal
(Yoh.3:16), akan tetapi Ia tidak mengaruniakan AnakNya untuk menjadi
penjual karunia gratisan. Ia mengaruniakan AnakNya untuk menjadi
Tuan, supaya di dalam nama Yesus, kata Paulus, bertekuk lutut
segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di
bawah bumi (Filipi 2:10). Ia mengaruniakan AnakNya untuk menjadi
Raja kita supaya Ia dapat menjadi Juruselamat kita.
Jika anda sudah dapat memahami ajaran Alkitab ini, maka anda tidak
akan mendapat masalah dalam memahami bahan pembahasan hari ini. Anda
tidak akan kebingungan dalam mencocokkan pengajaran tentang
keselamatan yang cuma-cuma dengan keselamatan yang menuntut
pengorbanan segala-galanya dari anda. Tidak ada kontradiksi di dalam
Alkitab. Kontradiksi itu muncul karena adanya definisi yang salah
tentang iman. Itu sebabnya mengapa saya mengatakan bahwa ajaran
tersebut salah, ajaran yang keliru, pengajaran yang tidak lengkap
dan berakibat pada munculnya masalah sehingga anda terjebak dalam
kontradiksi yang membingungkan. Namun, jika anda sudah dapat
memegang ajaran yang alkitabiah, maka tidak ada lagi kontradiksi,
dan keseluruhan bagian Alkitab yang sedang kita bahas ini akan
begitu mudah untuk dipahami.
-
Meninggalkan keluarga adalah untuk menanggapi panggilan Allah
untuk membina hubungan dengan Yesus Mari kita perhatikan lagi Lukas 14:26, "Jikalau seorang
datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya,..."
Dapatkah anda mengingat bagian dari Perjanjian Lama yang berkaitan
dengan ayat ini? Dapatkah anda mengingat bagian yang mirip dengan
syarat pemuridan ini di dalam Perjanjian lama? Kita dapat mengambil
contoh Abraham atau Elisa. Mari kita ambil contoh Abraham, karena
Paulus memakai Abraham sebagai contoh iman berkali-kali, khususnya
di dalam Roma pasal 4: Tentang iman Abraham (Roma 4:16).
Seperti apa itu iman Abraham? Ketika Allah memanggil Abraham, apa
yang ia lakukan? Bacalah kejadian 12:1 dan selanjutnya. Ketika Allah
memanggil Abraham, ia langsung meninggalkan negerinya, kerabatnya
dan rumah ayahnya. Ia meninggalkan segalanya untuk mengikuti
perintah Allah. Allah berkata, "Pergilah!" dan Abraham segera
berangkat. Abraham adalah seorang murid sejati, ia memenuhi apa yang
dikatakan oleh Yesus dengan tepat: "Datang kepadaKu"
(Luk.14:26). Abraham tidak mengartikan keselamatan sebagai hadiah
yang jatuh dari atas ke dalam pangkuannya. Ia tahu bahwa iman adalah
suatu hubungan dengan Allah, bahwa ketika Allah memanggil, maka anda
akan mengikuti dan menjadi muridNya. Sangat indah! Ingatlah selalu
bahwa iman itu adalah tanggapan atas panggilan Allah. Begitulah cara
kita membangun hubungan kita dengan Allah.
Punyakah anda hubungan dengan Allah sekarang ini? jika anda tidak
memiliki hubungan dengan Allah, maka anda juga tidak memiliki
keselamatan sama sekali karena keselamatan bukanlah kado yang
terbungkus dan diberi pita merah di atasnya, yang diberikan kepada
anda saat anda merentangkan tangan.Keselamatan bukan satu paket. Keselamatan itu adalah Kristus, dan untuk dapat diselamatkan oleh
Kristus, anda harus masuk ke dalam suatu hubungan yang menyelamatkan
denganNya. Bagaimana cara memasuki hubungan yang menyelamatkan
dengan Kristus? Melalui iman. Lalu apa itu iman? Iman adalah
tanggapan terhadap panggilanNya. Yesus sedang memanggil anda
sekarang, dan Ia berkata, "Ikutlah Aku. Dan di dalam mengikut Aku,
engkau harus mengasihiKu lebih dari ayah, ibu, istri, anak-anak dan
segala yang lain. Dapatkah anda menanggapi panggilan Yesus itu
dengan berkata, "Ya Tuhan, aku akan mengikut Engkau"? Satu-satunya
jalan supaya anda mampu untuk berkata seperti itu adalah dengan
melalui iman. Dan di dalam mengikut Dia, anda menjadi seorang murid;
anda mulai membangun hubungan yang menyelamatkan dengan Dia. Hanya
jika anda mengikut Yesus baru anda dapat memiliki Dia, dan jika anda
memiliki Dia, maka anda akan beroleh hidup yang kekal karena Dia
adalah hidup yang kekal itu (1 Yoh.5:20). Hidup yang kekal
bukanlah barang yang dapat anda kantongi. Keselamatan adalah
Pribadi Yesus, dengan siapa anda harus membina hubungan. Sudah
jelaskah hal ini bagi anda? Apakah anda ingin memperoleh hidup yang
kekal? Anda dapat memilikinya, akan tetapi hidup yang kekal ini
bukanlah karunia gratisan yang dijatuhkan ke pangkuan anda. Hidup
yang kekal itu dalam Pribadi Yesus.
Tantangan dari dua perumpamaan ini: Apakah anda memiliki iman untuk
mengikut Yesus sebagai murid?
Dan Yesus sedang memanggil anda sekarang ini. Ia berkata, "Ikutlah
aku. Namun sejujurnya Kukatakan padamu, Kuperingatkan bahwa di dalam
mengikut Aku, maka Aku menjadi yang paling utama dalam hidupmu, Aku
adalah Tuanmu, baik bapa maupun ibu dan semua yang lain yang kau kasihi
dan terus engkau kasihi akan menjadi nomor dua. Dan mereka pasti akan
keberatan dengan itu, akan tetapi mereka tetap harus menjadi yang nomor
dua." Dapatkah anda menerima tantangan iman ini dan tetap bertahan di
dalam mengikut Yesus? Itulah iman. Keselamatan dari Allah adalah Yesus
kristus, dan Dia bukanlah hadiah gratis. HargaNya sangat mahal. Ia tidak
disediakan bagi orang yang gemar menawar. Ia disediakan bagi orang yang
mencintai kebenaran yang bersedia mengorbankan apa saja demi Kristus.
Dapatkah anda maju menerima tantangan iman ini? Itulah poin yang
disampaikan di dalam kedua perumpamaan ini.
Apa tantangan iman yang terkandung di dalam
Perumpamaan tentang Pembangunan Menara? Perumpamaan ini tidak
mempersoalkan apakah anda akan membangun menara itu, melainkan apakah
anda dapat menyelesaikan pembangunannya sesudah anda memulai pekerjaan
itu. Apakah anda memiliki iman untuk percaya bahwa Allah akan membantu
anda menyelesaikan pembangunan menara itu?
Apa tantangan iman yang terkandung di dalam
Perumpamaan tentang Raja yang akan maju berperang? Dapatkah anda
menerima tantangan ima untuk mempercayai Allah untuk memenangkan
peperangan saat keadaan sangat tidak mendukung. Sudahkah anda
memperhatikan ucapanNya dengan cermat? "...duduk dahulu untuk
mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi
lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?" Sanggupkah
anda maju berperang membawa 10.000 pasukan melawan musuh berkekuatan
5.000 orang? Ha, ini gampang! Anda akan berkata, "Dengan sepuluh ribu
orang, saya akan dapat mengalahkan lima ribu orang sekalipun saya bukan
jendral yang pandai. Pasukan saya dua kali lipat jumlah musuh."
Bagaimana dengan 10.000 lawan 10.000? Peluang anda berimbang. Jika
jendral lawan lebih baik dari anda, maka dia akan mengalahkan anda,
walaupun jumlah pasukannya seimbang. Akan tetapi perhatikan baik-baik
perimbangan kekuatan yang disebutkan dalam perumpamaan di ayat 31. Bukan
satu lawan satu; tetapi 10.000 menghadapi 20.000. Jumlah musuh dua kali
lipat jumlah pasukan anda! Pemuridan memang bukan untuk mereka yang
gemar barang gratisan. Pemuridan ditujukan bagi mereka yang siap maju
menghadapi musuh yang lebih kuat, menghadapi lawan yang dua kali lebih
banyak. Mengapa begitu? Karena itulah yang disebut tantangan iman. Jika
saya sanggup maju melawan musuh dengan keunggulan di pihak saya, 10.000
lawan 5.000, maka saya tidak membutuhkan iman. Mengapa saya tidak
membutuhkan iman? Karena saya berada di pihak yang lebih kuat: dua lawan
satu. Tuhan Yesus tampaknya juga memperhatikan ilmu perang. Dua lawan
satu biasanya merupakan keunggulan yang diinginkan oleh setiap jendral
dalam menghadapi lawannya. Akan tetapi di dalam perumpamaan ini,
perbandingan itu adalah dua lawan satu dengan keuntungan di pihak musuh.
Yesus sedang menyatakan bahwa jika anda menjadi muridNya, segala sesuatu
akan berbalik menentang anda, dengan perbandingan dua melawan satu. Anda
harus merupakan seorang jendral yang istimewa untuk sanggup mengalahkan
pasukan yang dua kali lebih besar dari pasukan anda, jika tidak anda
harus bertindak dengan iman. Di situlah poinnya.
Dan di dalam ayat-ayat ini, kata 'sanggup' muncul
berkali-kali. Apakah anda sanggup menyelesaikan pembangunan menara, atau
anda ternyata tidak sanggup melakukannya (ay.30)? Apakah anda sanggup
memenangkan peperangan atau anda terpaksa merundingkan syarat-syarat
perdamaian? Itulah pertanyaannya. Poin yang sedang disampaikan oleh
Tuhan Yesus adalah bahwa inilah tantangan iman untuk dapat menjadi
seorang murid. Apa itu tantangan iman? Tantangan iman adalah ini:
Dapatkah saya meraih kemenangan dalam perimbangan kekuatan yang sangat
timpang ini? Pemuridan tidak didasarkan pada kekuatan anda sendiri, iman
adalah tindakan menaruh kepercayaan kepada Allah untuk meraih
kemenangan. Yesus tidak berkata, "Jika engkau tidak sanggup menang
dengan kekuatan sendiri, maka menyerahlah. Lebih baik merundingkan
syarat-syarat perdamaian dengan musuh ketimbang menelan kekalahan
telak." Pemuridan tidak berlangsung atas dasar kekuatan anda, dan di
sanalah terletak tantangan iman, karena ketika anda harus menghadapi
lawanyang dua kali lebih kuat daripada anda, maka harapan yang tersisa
adalah dengan meletakkan kepercayaan kepada Allah. Memenangkan
pertempuran adalah tantangan iman. Menyelesaikan pembangunan menara
adalah tantangan iman. Kedua perumpaman ini menggambarkannya dengan
sangat indah. Dapatkah anda memahami tantangan itu? Secara khusus saya
mengajukan pertanyaan ini kepada mereka yang akan dibaptis minggu depan.
Di dalam Markus 9:22-23, kita membaca tentang
seorang ayah yang anaknya kerasukan setan, dan datang kepada Yesus
karena murid-muridNya gagal mengusir setan itu. Di dalam
keputus-asaannya, si ayah berkata, "Sebab itu jika Engkau dapat
berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami." Dan apa
jawaban Yesus? Yesus berkata, "Pertanyaannya bukan apakah Aku sanggup
berbuat sesuatu, tetapi apakah engkau percaya." Itulah tantangan
dari pemuridan. Pertanyaannya bukan apakah Yesus sanggup memberi
kemenangan bagi anda. Pertanyaannya adalah apakah anda memiliki iman
kepada Yesus untuk mengklaim kemenangan itu? Itulah tantangan dari
pemuridan. Sanggupkah anda menghadapi tantangan itu?
Jika saya adalah seorang panglima, dan lawan saya
membawa pasukan yang dua kali lipat jumlahnya, maka saya akan maju di
dalam iman untuk memenangkan peperangan ini. Saya akan berkata, "Tuhan,
jumlah musuh jauh lebih banyak. Mereka dua kali lipat dari jumlah
pasukanku. Menurut hitungan normal, saya tidak mungkin menang dalam
peperangan ini, akan tetapi dengan kekuatanMu Tuhan, saya akan maju."
Itulah iman. Orang tidak dapat maju di dalam iman akan memilih untuk
menyerah. Di dalam ayat 31-32, Yesus berkata, "Engkau harus memutuskan.
Apakah engkau memiliki iman kepada Allah untuk meraih kemenangan? Atau
apakah engkau akan menyerah saja? Jika engkau ingin menyerah, maka
lakukanlah itu sekarang juga. Jangan menunggu sampai dikalahkan dalam
peperangan."
Tantangan kepada Gideon: "Dapatkah saya
mempercayai Allah untuk menang melawan musuh yang 13 kali lebih banyak?"
Sebagai penutup, mari saya berikan gambaran tentang poin ini dari
Perjanjian Lama, suatu gambaran yang sangat indah: tentang peperangan
Gideon melawan orang-orang Midian. Alasan saya memilih contoh ini karena
saya menduga contoh ini juga yang sedang dibayangkan oleh Yesus tentang
tantangan iman, tantangan pemuridan. Pasukan yang dimiliki Gideon
berjumlah 10.000 orang, dan orang-orang Midian maju dengan kekuatan
135.000 orang. 135.000 melawan 10.000, bagaimana perbandingannya? Ini
berarti bahwa setiap orang Israel harus melawan 13 orang Midian. Suatu
perbandingan yang benar-benar tanpa harapan. Tidak peduli seberapa hebat
pasukan Israel itu, bagaimana mungkin mereka akan maju menghadapi
pasukan yang 13 kali lebih banyak darinya? Anda dapat membaca kisah ini
di dalam Hakim-hakim pasal 7. Dan tahukah anda apa yang dilakukan oleh
Gideon? Menyerah? Tidak! Jadi apa yang ia lakukan? Ia bangkit dan
menjawab tantangan iman itu. Awalnya, ia berangkat dengan 22.000 orang,
dan kemudian ia memilih untuk menguranginya menjadi 10.000. Ia berkata
kepada pasukannya, "Bagi mereka yang takut menghadapi peperangan ini,
mereka yang gentar melihat 135.000 orang di sana, sekarang saatnya bagi
kalian untuk pulang ke rumah." Dan tahukah anda, berapa orang yang
pulang? 12.000 orang memilih untuk pulang karena ketakutan, dan 10.000
bertahan mengikut Gideon. Sekarang Gideon akan maju berperang dengan
modal 10.000 orang. Mengapa? Apakah karena ia seorang jendral yang
hebat? Tidak, itu karena ia percaya kepada Allah. "Allahku akan memberi
kemenangan bagiku! Jika saya harus maju dengan perbandingan 31 lawan 1,
atau bahkan 200 lawan 1, aku akan tetap menang karena Allahlah yang
memberi kemenangan itu." Itulah iman! Iman bukan sekadar tindakan
mengulurkan tangan untuk menerima hadiah gratisan. Iman adalah
hubungan dengan Allah dengan meletakkan kepercayan kepadaNya.
"Engkaulah yang akan memimpinku, ya Tuhan." Itulah iman menurut Alkitab,
bukannya semacam pemberian hadiah gratis.
Lalu apa yang terjadi? Gideon memenangkan peperangan
dengan 10.000 orang? Tidak, ia memenangkannya hanya dengan 300 orang!
Sekarang seberapa besar perbandingan kekuatannya? 300 melawan 135.000?
Apakah Gideon sudah gila? Tidak!
Allah berkata kepada Gideon, "Pasukanmu terlalu
banyak."
Dan Gideon menjawab, "Apa? Ya Allah, tahukah Engkau
betapa jumlah mereka jauh melampaui kami? Engkau tentu tahu berapa
banyak pasukan yang mereka bawa!"
Namun Allah berkata, "Jumlah pasukanmu ada 10.000,
dan itu masih terlalu banyak." Mengapa? "Karena jika engkau menang
nanti, engkau mungkin akan berkata bahwa 10.000 orang pasukanmu lebih
kuat dari pada 135.000 pasukan mereka. Aku ingin memenangkan peperangan
ini dengan 300 orang saja!"
Saya pikir Gideon akan basah oleh keringat dingin
pada saat itu. Ia memang punya iman di dalam Allah untuk maju berperang
dengan 10.000 orang. Akan tetapi Allah lalu menantang imannya: bagaimana
jika 300 melawan 135.000?! Dan Allah memang melakukannya. Itulah yang
disebut sebagai tantangan iman.
Mengikut Yesus sebagai muridNya memerlukan iman
untuk mengorbankan segala-galanya!
Iman bukan untuk para pengecut. Iman bukan untuk mereka yang ingin
tawar menawar ataupun ingin mendapatkan barang gratisan. Jika itu yang
anda maksud dengan iman, anda bisa saja mendapatkannya di beberapa
gereja. Akan tetapi itu bukanlah iman menurut Alkitab, dan juga bukan
iman yang diajarkan di dalam gereja ini. Saya tidak akan memberitakan
hadiah gratisan. Saya tidak mempunyai apa-apa untuk diberikan melainkan
panggilan pemuridan dari Yesus. Dan menjadi seorang murid berarti
pengorbanan segala-galanya bagi anda. Tidak kurang dari itu. Tidak
kurang sepeserpun. Itulah panggilan dari Yesus. Punyakah anda iman untuk
menjawab panggilanNya? Jika tidak, maka Kekristenan bukan untuk anda;
keselamatan tidak tersedia bagi anda. Yesus tidak menawarkan barang
gratis. Saya harap anda dapat memahami hal ini sepenuhnya, dan saya
berharap bahwa apa yang saya sampaikan ini cukup jelas. Ini bukanlah
khotbah yang diarahkan untuk menyenangkan orang banyak karena Yesus
tidak datang untuk menyenangkan orang banyak. Yesus berpaling ke arah
orang banyak dan berkata, "Kuberitahukan kepadamu apa arti menjadi
seorang murid, dan pertimbangkanlah apakah engkau memiliki iman untuk
menjawab tantangan itu." Seperti Allah sudah memanggil Abraham untuk
meninggalkan segala-galanya dan mengikut Dia, begitu pulalah Yesus
memanggil anda sekarang untuk berpaling dari dunia dan mengikut Dia.
Dan iman adalah jalan menuju keselamatan. Anda harus
menghadapi tantangan iman dan berkata, "Tuhan, aku tidak sanggup. Aku
tidak sanggup melawan 20.000 pasukan dengan 10.000 orang. Aku juga tidak
mampu menyelesaikan pembangunan menara ini. Akan tetapi aku akan maju
menghadapi tantangan iman ini karena Engkau sudah memanggilku, Tuhan.
Sama seperti Gideon, aku akan berkata, 'Ya, Tuhan, karena Engkau yang
memanggilku, maka aku akan maju.'" Kemudian anda akan menjadi murid.
Saya memohon kepada Allah supaya gereja ini merupakan gereja para murid.
Yesus tidak menghendaki orang yang sekadar pindah agama; Ia tidak
menginginkan kumpulan orang-orang yang berkerumun demi hadiah gratis.
Yang Ia panggil adalah sekumpulan pasukan murid untuk maju dalam
peperangan bagi hidup yang benar dan kebenaran. Kiranya Allah
menganugerahi anda kasih karunia untuk dapat maju menjawab panggilan
pemuridan ini! Mari kita berdoa. |
[Download]
Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.
Perumpamaan:
-
Perumpamaan tentang Kantong Kulit yang Lama dan yang Baru
-
Perumpamaan tentang
Seorang Penabur Benih
-
Perumpamaan tentang
Penabur - dari Sudut Pandang Keselamatan II
-
Perumpamaan tentang Pelita
-
Perumpamaan tentang Benih yang Tumbuh dengan Sendirinya
-
Perumpamaan tentang Lalang di antara Gandum
-
Perumpamaan tentang Benih Sesawi
-
Perumpamaan
tentang Harta yang Terpendam
-
Perumpamaan tentang
Mutiara
-
Perumpamaan tentang Ragi
-
Perumpamaan tentang Pukat
- Perumpamaan tentang Ahli Taurat yang Menerima Pelajaran tentang Hal Kerajaan Surga
-
Perumpamaan
tentang Orang Kaya yang Bodoh
-
Perumpamaan tentang Orang Samaria yang Murah Hati
-
Perumpamaan
tentang Pohon Ara yang Mandul
-
Perumpamaan tentang Sahabat pada Tengah Malam
-
Perumpamaan tentang
Tamu-tamu
-
Perumpamaan
tentang Pesta Perjamuan Besar I
-
Perumpamaan tentang Pelita
Diatas Kaki Dian
-
Perumpamaan
tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 1
-
Perumpamaan
tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 2
-
Perumpamaan
tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 3
-
Perumpamaan
tentang Domba yang Hilang
-
Perumpamaan tentang Uang Dirham yang Hilang
-
Perumpamaan tentang Anak yang telah Mati dan Hidup Kembali
-
Perumpamaan
tentang Dua Anak yang Hilang
-
Perumpamaan
tentang Bendahara yang Tidak Setia
-
Perumpamaan
tentang orang kaya dan Lazarus
-
Perumpamaan tentang Hamba yang Tidak berguna
-
Perumpamaan
tentang Hakim yang Tidak Adil
-
Akankah Yesus
mendapati iman di Bumi? I
-
Akankah Yesus
mendapati iman di Bumi? II
-
Perumpamaan tentang orang Farisi dan Pemungut cukai
-
Perumpamaan tentang Uang Mina
-
Perumpamaan tentang Hamba yang Tidak Mengampuni
-
Para Pekerja di Kebun
Anggur - Bagian Pertama
-
Para Pekerja di Kebun
Anggur - Bagian Kedua
Prinsip tentang yang terdahulu dan yang terakhir
-
Perumpamaan tentang Pohon Ara
-
Perumpamaan tentang dua
orang anak
-
Perumpamaan tentang Para Penggarap Kebun Anggur yang
Jahat
-
Perumpamaan
tentang Perjamuan Kawin
-
Perumpamaan
tentang Pesta Perjamuan Besar 2
-
Perumpamaan tentang 10
Gadis-gadis yang Bijaksana & Bodoh
-
Perumpamaan tentang
talenta
-
Pemisahan antara Kambing
dan Domba 1
-
Pemisahan antara Kambing dan Domba 2
-
Perumpamaan tentang Kedatangan Yesus yang kedua
|