| Saran & Komentar | updated on 19 July 2014

Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan

Halaman Utama

  |  Tentang Kami

  |  Hubungi Kami

  |  Izin Pemakaian Materi 

  |  Dapatkan Buletin Gratis di sini! 

Sumber Damai

Khotbah/PA


Inspirasi

Artikel/Renungan

Kesaksian Hidup


Pelatihan

Discipleship Trainings


Lain-Lain...

Buku-buku Terbitan

Lagu dan Film

Bible Study (P.A)

Siaran Mandarin

Buletin Gratis!

Follow Us


BACA ONLINE


BACA ONLINE


KATA PENGANTAR

Perumpamaan tentang Tamu-tamu

Lukas 14:7-14 - Khotbah oleh Pastor Eric Chang, Montreal

Khotbah
Menjadi layak untuk masuk ke dalam kerajaan Allah adalah hal yang paling penting dalam keselamatan. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah diri anda sudah layak untuk masuk ke dalam kerajaan Allah? Dan jika tidak, bagaimana cara Allah membuat kita menjadi layak bagi kerajaanNya?

Mari kita baca bersama Lukas 14:7-14. Latar belakang dari ayat-ayat ini adalah diundangnya Tuhan Yesus ke dalam suatu pesta makan oleh seorang Farisi. Orang-orang Farisi pada dasarnya tidak terlalu dekat dengan Tuhan Yesus, seperti yang disebutkan di dalam Lukas 14:1, semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Dan tampaknya tujuan dari undangan ini adalah untuk dapat menyelidiki Dia dengan lebih dekat. Kadang-kadang kita diundang ke suatu acara jamuan makan tidak dengan niat yang tulus. Bukan karena orang itu sangat menghargai kita sehingga mau mengeluarkan biaya untuk mengajak kita makan-makan. Akan tetapi bisa saja karena mereka ingin menempatkan kita di bawah kaca pembesar, untuk membawa kita lebih dekat sehingga mereka mendapat kesempatan untuk meneliti langsung diri kita. Dan hal inilah yang sedang berlangsung di dalam undangan jamuan makan terhadap Yesus. Tuhan Yesus diundang makan oleh orang yang tidak akrab denganNya. Orang ini tergolong dalam kelompok yang menentangNya, yaitu orang Farisi. Di awal jamuan, Ia melakukan suatu hal yang tidak menyenangkan hati mereka. Ia menyembuhkan seseorang yang menderita busung air. Dan di tengah acara perjamuan itu, Ia menceritakan sebuah perumpamaan. Dan perumpamaan itu tercatat di dalam ayat 7-14:

Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini (perumpamaan yang jelas-jelas sangat menyinggung perasaan mereka yang sudah mengambil posisi di tempat kehormatan) kepada mereka: "Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan (setidaknya Ia tidak langsung menunjuk acara yang sedang berlangsung, namun sebuah pesta perkawinan), janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah (hanya tempat itu yang tersisa karena tempat-tempat yang lebih baik sudah diambil oleh orang lain pada saat sebelumnya). Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan (saya perlu menegaskan secara khusus bahwa bentuk ungkapan pasif yang digunakan oleh Tuhan Yesus di sini, 'ditinggikan' atau 'direndahkan', adalah bentuk yang disebut 'kepasifan ilahi' [divine passive]. Tuhan ingin menyatakan kepada kita bahwa Allah akan merendahkan anda jika anda meninggikan diri dan Ia akan meninggikan anda jika anda merendahkan diri)."

Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia (Tuhan juga berkata-kata kepada orang Farisi yang mengundangNya itu): "Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar."

(Tuhan Yesus mengatakan, "Jangan menyibukkan diri dengan mengundang orang-orang Farisi, atau kawan-kawan, atau kerabatmu yang biasanya kau undang. Aku tidak melihat ada orang miskin di sini. Lain kali, undanglah orang-orang miskin." Dengan berbicara seperti itu, maka Ia sudah memastikan bahwa orang tersebut tidak akan mau mengundangNya lagi kelak.)

Suatu Teguran atau Nasihat?
Apa yang sedang diajarkan oleh Tuhan Yesus di sini? Anda dapat berkata bahwa ini bukan contoh diplomasi yang baik, bukan cara yang baik untuk berteman atau mempengaruhi orang. Paling tidak, ini bukanlah cara yang baik untuk berteman sekalipun cara ini dapat 'mempengaruhi' orang lain, yaitu, membuat orang itu memusuhi anda. Tampaknya, kali ini, orang-orang yang sibuk berebut kursi kehormatan mendapat suatu teguran keras. Dan tuan rumah sendiri mendapat bagian teguran. Jadi, apa sebenarnya hal yang ingin disampaikan oleh Tuhan Yesus? Apakah ini sekadar suatu ajaran umum tentang menjadi rendah hati dan baik budi? Memang sangat baik jika kita menjadi rendah hati dan baik budi, namun apakah itu merupakan hal yang ingin disampaikan oleh Tuhan? Inikah inti dari pengajaran Tuhan di sini?

Perhatikan bahwa Ia tidak sedang berbicara kepada murid-muridNya. Ia tidak sedang berbicara kepada orang Kristen. Perintah untuk merendah dan bermurah hati mungkin saja ditujukan kepada murid-muridNya karena mereka sudah diselamatkan, atau sedang dalam proses diselamatkan. Dan Ia memberitahu mereka bagaimana caranya menjadi murid dan orang Kristen yang lebih baik. Namun, Ia sedang berbicara kepada orang Farisi. Anda akan melihat bahwa jika Ia berbicara kepada orang Farisi yang memerlukan keselamatan, maka Ia tidak sekadar memberi mereka ajaran moral tentang bagaimana menjadi orang yang lebih baik. Ia tidak sekadar mendorong mereka untuk melakukan lebih banyak perbuatan baik, seperti mengundang orang yang miskin dan cacat supaya mereka mendapatkan upah di hari kebangkitan. Anda tentunya harus melihat bahwa jika Ia sedang berbicara dengan orang Farisi, maka hal yang Ia bicarakan tentunya menyangkut masalah keselamatan, bagaimana caranya agar menjadi pantas bagi kerajaan Allah, bagaimana agar bisa masuk ke dalam kerajaan Allah, bagaimana agar dapat diselamatkan. Mereka tidak butuh nasihat tentang moral. Mereka butuh sesuatu yang jauh melebihi nasihat moral, lebih dari sekadar diajari tentang cara untuk merendah atau menjadi sedikit lebih baik. Tentunya Tuhan Yesus sedang mengatakan, "Beginilah caranya supaya engkau bisa layak untuk masuk ke dalam kerajaan Allah. Inilah cara untuk diselamatkan," kepada orang-orang Farisi itu. Bukankah pernyataan seperti itu yang seharusnya kita lihat dari ayat-ayat tersebut? Namun jika anda membaca buku-buku ulasan tentang hal ini, para pengulas tersebut tampaknya kesulitan dalam memahami bagian ini, dan mereka mengira bahwa Tuhan mungkin memang sekadar memberikan nasihat moral kepada orang-orang itu. Padahal mereka sedang dalam keadaan memerlukan keselamatan. Dan Tuhan sebagai Juruselamat yang agung menunjukkan keprihatinanNya akan masalah ini dengan menyatakan kepada mereka jalan menuju hidup yang kekal karena kasihNya kepada mereka, musuh-musuhNya, dan bukannya sekadar mengecam mereka. Jika kita memandang bahwa Ia sedang menyatakan keselamatan atau jalan menuju hidup kekal kepada mereka, maka kita sudah berada di pemahaman yang benar. Memang hal inilah yang sedang dilakukan olehNya. Jika kita tidak memahami pengajaran Tuhan, maka kita akan kehilangan poin yang penting ini. Anda akan terkejut jika mendapati betapa sedikitnya pembahasan pada bagian ini oleh kebanyakan pengulas karena mereka mengira bahwa ayat-ayat itu hanya berbicara tentang masalah moral. Ini adalah suatu kegagalan yang besar dalam memahami pengajaran Tuhan, jika boleh dikatakan demikian.

Kita harus memahami apa latar belakang, landasan, dari pengajaran Tuhan. Ada urut-urutan perkembangan pemikiran yang harus diketahui di dalam pengajaran Tuhan. Hanya jika anda dapat memahami perkembangan pemikiran itu maka anda akan dapat memahami pengajaran Tuhan di dalam konteksnya. Persoalan besar kita sekarang ini adalah bahwa pemahaman kita sangat kurang di dalam hal ajaran tentang keselamatan. Kita mengira sudah mengerti padahal sebenarnya belum sama sekali. Itulah persoalannya. Kita ini seperti orang-orang Farisi itu. Kita merasa tahu apa itu keselamatan. Mereka juga merasa tahu akan hal itu. Mereka merasa tidak perlu diajari lagi tentang keselamatan, padahal mereka sedang menjauh dari keselamatan. Sebenarnya mereka sangat membutuhkan pemahaman yang benar akan keselamatan sama seperti orang-orang Kristen sekarang ini membutuhkan pemahaman tersebut. Karena mereka ternyata masih belum mengerti arti keselamatan sebagaimana yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus, dan juga oleh Paulus.

Tiga prinsip fundamental: Pembenaran, Pengudusan, Penghakiman
Dalam rangka memahami apa yang saya maksudkan, mari saya tunjukkan hal itu di dalam pengajaran Tuhan di sini, ada beberapa prinsip fundamental yang berkaitan dengan keselamatan. Prinsip yang pertama adalah bahwa kita diampuni oleh karena kasih karunia Allah. Yang kedua berkaitan dengan fakta bahwa, ketika kita diampuni oleh kasih karunia Allah, harus ada kelanjutan dalam bentuk perubahan perilaku sepenuhnya. Ini bukan suatu pilihan; ini adalah hal yang harus terjadi. Ada hubungan langsung antara pengampunan yang anda terima dari Allah, dan bentuk perilaku yang diakibatkannya. Prinsip yang pertama disebut sebagai 'pembenaran', dan yang kedua adalah 'pengudusan', istilah yang jamak di lingkungan teologi. Akan tetapi saya tidak ingin berhenti pada kedua istilah itu, karena anda mungkin saja tidak memahami apa artinya. 'Pembenaran' adalah kasih karunia Allah di dalam mengampuni anda. 'Pengudusan', sesuai dengan ajaran Alkitab, adalah bentuk perilaku, yaitu perilaku yang menjadi hasil dari pengampunan, yang menunjukkan bahwa pengampunan dari Allah memang sudah terjadi pada diri anda. Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kasih karunia Allah sudah bekerja di dalam diri anda? Dengan mengamati perubahan perilaku anda.

Anda dapat menyebutkan prinsip yang pertama sebagai kasih karunia (atau hadiah/free gift) keselamatan dari Allah buat anda, seperti obat gratis. Ia memberi anda obat. Dan obat itu tersedia bagi setiap orang dengan cuma-cuma. Anggaplah saat ini sedang berjangkit suatu wabah penyakit yang mematikan dan Allah berkata, "Ini karunia dariKu untuk kalian, obat yang akan menyembuhkan penyakit yang sedang mewabah. Setiap orang yang minum obat ini akan disembuhkan." Sungguh luar biasa! Akan tetapi kasih karunia itu tidak akan menghasilkan apa-apa sebelum anda menelan obatnya. Kasih karunia tidak akan menghasilkan apa-apa bagi anda sampai ia masuk di dalam kehidupan anda. Bagaimana cara obat bekerja? Obat itu masuk ke dalam pembuluh darah anda. Ia akan sampai ke sumber penyakit dan menyerangnya, jika obat itu sudah anda telan tentunya. Obat itu akan mulai menunjukkan hasilnya. Mungkin ia akan mempengaruhi keseimbangan hormon atau susunan biokimia di dalam tubuh anda. Jika obat ini sudah anda telan, maka ia akan mulai menunjukkan hasilnya. Hanya sekadar menerima obat itu dan mengantonginya, tidak akan menghasilkan apa-apa bagi anda. Apakah anda menerimanya? Ya, anda sudah menerimanya. Ia sudah di dalam genggaman anda. Lalu anda memasukkannya ke dalam kantong. Ia masih belum melakukan apa-apa bagi anda. Dengan berkata bahwa anda sudah menerima karunia dari Allah tidak akan ada artinya jika karunia yang anda terima itu anda masukkkan di dalam kantong atau anda taruh di lemari. Apakah anda sudah menerimanya? Ya anda sudah menerimanya. Di mana anda meletakkannya? Di lemari! Banyak orang yang menerima karunia dari Allah dengan cara seperti itu.

Jika anda menanyakan, "Apakah engkau sudah menerima kasih karunia Allah?"

 "Ya, saya sudah menerimanya!"

 "Apakah anda sudah dibaptis?"

"Oh, ya! Saya sudah dibaptis! Dan saya bisa menyebutkan hari, tanggal, letak gereja serta nama pendeta yang membaptiskan saya!"

Tidak bagus. Pertanyaan yang seharusnya bukan apakah anda sudah menerima kasih karunia dengan prosedur tertentu melainkan apakah anda sudah memasukkan kasih karunia itu ke dalam hidup anda sehingga kasih karunia itu mulai menunjukkan hasilnya, kasih karunia itu semestinya menunjukkan hasil kerjanya di dalam diri anda. Inilah hubungan antara 'pembenaran' dan 'pengudusan', hal yang sangat sedikit dipahami dan diyakini oleh jemaat jaman sekarang. Kita merasa sudah diselamatkan karena sudah menerima kasih karunia Allah. Kepastian dari hal itu bergantung pada apa yang anda lakukan terhadap kasih karunia tersebut, apakah selanjutnya anda memasukkan kasih karunia itu ke dalam hidup anda dan membiarkannya mengubah hidup anda. Apa bukti dari perubahan itu? Berubahnya perilaku. Perilaku anda menjadi berbeda.

Hal itulah yang disampaikan oleh Tuhan Yesus ketika Ia menceritakan tentang hamba yang tidak mengampuni di dalam Matius 18:21-35. Hamba yang tidak mau mengampuni itu sudah menerima karunia pengampunan. Ia menerima pengampunan yang sepenuhnya. Akan tetapi karunia itu tidak dimasukkan ke dalam hidupnya. Karunia itu tidak mengubah hidupnya. Kasih Allah tidak menembus hatinya dan tidak mendorongnya untuk berkata, "Ya Tuhan! Betapa besar kasihMu yang mau mengampuni orang yang begitu tidak layak untuk diampuni ini." Semakin ia merenungkan hal ini, kasih Allah akan mulai bekerja di dalam hidupnya dan mengubah kelakuannya. Itu sebabnya, ketika ada orang yang datang dan berkata, "Maaf, saya belum bisa melunasi hutang saya kepadamu," semestinya ia mampu menanggapi dengan berkata, "Tidak masalah, aku sendiri baru saja mendapatkan pembebasan hutang yang jauh lebih besar darimu. Lupakan saja soal hutang itu!" Nah, jika tanggapannya seperti itu, maka anda sudah melihat hasil dari karunia pengampunan dari Allah, hal yang ingin dilihat oleh Tuhan Yesus, yang berlangsung di dalam hidupnya. Karunia itu mengubah hidupnya. Mengubah hati dan pikirannya. Akan tetapi hal itu tidak terjadi di dalam kehidupan hamba ini. Ia sudah menerima karunia yang cuma-cuma itu, bukankah demikian? Ya, akan tetapi tidak ada hasilnya. Ia menolak untuk mengampuni orang lain. Ketika orang lain datang kepadanya dan berkata, "Maafkan saya," ia malah berkata, "Tidak! Kamu harus masuk penjara sampai hutangmu lunas!" Sudahkah hamba ini menerima karunia pengampunan dari Allah? Jawabannya adalah ya dan tidak. Ya, dalam arti bahwa hamba ini sudah diampuni. Tidak, dalam arti bahwa - seperti kasus obat yang tidak ditelan - karunia itu dimasukkannya ke dalam kantong saja. Karunia itu tidak dimasukkan ke dalam hidupnya. Hatinya tidak diubah. Cara berpikirnya juga tidak diubah. Tidak ada yang berubah dari hidupnya. Ia masih tetap egois dan pendendam seperti sebelumnya, hal yang terlihat dari perilakunya yang sangat keterlaluan dalam menangani hutang temannya.

Lalu apa akibatnya? Apakah ia diampuni? Tidak. Sekarang kita sampai pada prinsip fundamental yang ketiga: penghakiman. Karena ia tidak mau mengampuni, maka pengampunan yang sudah diterimanya ditarik kembali. Inilah penghakiman Allah terhadapnya. Pesan ini tampaknya sudah tidak diterima lagi oleh kebanyakan orang Kristen di jaman ini. Tampaknya mereka tidak tahu ada pesan seperti ini! Mereka masih berpikir, "Aku dapat diselamatkan cukup dengan pembenaran saja. Dan tidak peduli seperti apa kelakuanku nantinya, aku akan tetap dibenarkan. Sekalipun aku menghalangi kasih karunia Allah dan tidak membiarkannya masuk untuk mengubah hidupku, sekalipun aku tidak dikuduskan, aku akan tetap diampuni." Anda tidak dapat lebih keliru lagi dari pada itu. Saya mohon anda mau memahami masalah ini dengan jelas. Dengan berpikir seperti itu, maka itu berarti bahwa anda sudah gagal memahami ajaran Tuhan tentang keselamatan dan tentang bagaimana supaya kita layak masuk ke dalam kerajaan Allah.

Secara Harfiah Mengambil Kursi Terendah dan Mengundang orang-orang Miskin?
Lalu apa yang sedang diajarkan oleh Tuhan Yesus di dalam ayat-ayat ini? Apakah anda akan menganggap bahwa Dia memang mau berkata, "Lain kali kalau ada orang yang mengundangmu dalam pesta pernikahan, carilah tempat duduk yang paling rendah," dengan pengertian yang apa adanya? Mengapa orang-orang itu harus menurutiNya? Orang-orang Farisi itu semestinya berpikir, "Mengapa saya harus memilih tempat duduk yang paling rendah? Mengapa? Sebagai orang Farisi, orang penting di tengah masyarakat, saya harus duduk di tempat yang sesuai dengan posisi saya. Saya tidak boleh duduk di tempat yang rendah. Akan tetapi, bagaimana jika itu saya lakukan?" Anggaplah bawa orang itu benar-benar melakukannya, lalu bagaimana? Apakah itu berarti bahwa ia sudah berbuat baik?

Dan apa gunanya pengajaran ini bagi kita jika kita tidak mengerti apa yang disampaikan oleh Tuhan? Apa gunanya ajaran seperti itu? Tampaknya sangat tidak bermanfaat sejauh menyangkut kepentingan kita, bukankah begitu? Tentu saja! Anda tentu pernah diundang dalam pesta pernikahan. Pada pesta pernikahan orang China, orang-orang duduk mengitari meja bundar. Berilah saya petunjuk bagaimana menentukan kursi yaang paling rendah di sini. Mana kursi yang paling rendah? Mana yang paling tinggi? Pada meja yang bundar, sangat sulit untuk menentukan mana yang paling rendah dan yang paling tinggi. Lalu bagaimana kita akan menjalankan ajaran ini? Dan juga, pada kebanyakan pesta pernikahan sekarang ini, para tamu mengambil tempat duduk sesuai dengan nama yang tertulis di kartu di atas meja. Anda tidak dapat berkata, "Aku akan mengambil kartu untukku dan memindahkannya ke meja lain." Semua meja dan kursi untuk tamu sama saja. Saya tidak tahu bagaimana menentukan kursi yang paling rendah dan yang paling tinggi. Pengajaran ini tampaknya tidak berguna bagi saya. Tidak ada yang dapat saya lakukan berkaitan dengan itu. Dan, satu hal lagi, berapa kali dalam hidup anda, anda akan mendapat undangan pesta perkawinan?  Lima kali? Enam kali? Dengan kata lain, mungkin hanya lima atau enam kali dalam hidup ini anda dapat menjalankan ajaran dari Tuhan Yesus tentang hal ini. Apakah itu berarti bahwa pengajaran tentang hal ini hanya dapat dijalankan selama sekitar dua jam dalam satu malam itu, dan hanya terjadi sebanyak lima atau enam kali di dalam hidup anda? Semakin anda memikirkannya, semakin tidak berguna tampaknya ajaran yang satu ini. Tidak banyak yang bisa dilakukan berkaitan dengan ajaran yang ini. Sekalipun saya ingin menjalankannya di dalam setiap kesempatan yang tersedia, saya tetap tidak bisa menjalankannya karena tidak tahu bagaimana mencari kursi yang paling rendah.

Mari kita periksa bagian selanjutnya yang menyangkut urusan mengundang orang-orang miskin. Di Kanada, bagaimana anda dapat menjalankan ajaran ini? Anggaplah kita sedang mencari orang-orang cacat dan miskin untuk mengundangnya makan di gereja. Seorang buta dapat saja memiliki kekayaan yang lebih besar daripada saya. Dan jika orang itu mengalami kebutaan akibat kecelakaan, ia mungkin akan memperoleh 100.000 dolar kompensasi, dan itu akan membuatnya jauh lebih kaya ketimbang sebagian besar dari kita. Bagaimana anda akan menjalankan ajaran ini di Kanada? Jadi mungkin anda akan menatap ayat-ayat itu dan berkata, "Tidak ada gunanya. Lebih baik kita menjalankan ayat-ayat yang lainnya. Pengajaran Tuhan di dalam ayat-ayat ini tidak relevan. Mungkin cocok pada jaman itu, atau mungkin juga cocok untuk belahan bumi yang lain. Jika anda pergi ke India, mungkin anda dapat menerapkannya. Di India mungkin anda dapat menemukan banyak orang buta yang miskin, jadi anda bisa mendapatkan cukup banyak pengemis untuk diundang. Dikatakan, "Jika engkau mengadakan perjamuan makan" di dalam ayat 12 - berapa kali anda mengadakan perjamuan makan di dalam hidup anda? Sangat jarang tentunya. Kapan biasanya anda mengadakan pesta? Mungkin pada saat pernikahan anda, atau anak anda, benar tidak? Jadi anda mungkin akan berkata, "Baiklah, pada pesta pernikahan saya, akan saya kumpulkan pengemis dan membawa mereka ke pesta pernikahan saya dalam rangka memenuhi ajaran Tuhan." Di Kanada, anda akan mengalami kesulitan untuk menjalankannya, karena memang susah menemukan pengemis. Jadi, untuk dapat menjalankan ajaran ini, anda mungkin harus pergi ke India untuk melaksanakan pesta pernikahan anda, dan di sana anda bisa mengundang banyak orang miskin, dan anda boleh merasa lega. "Nah, saya akan menerima balasannya pada hari kebangkitan orang-orang benar hanya untuk satu pesta makan dalam hidup ini. Saya kan sudah mengundang para pengemis!" Apakah karena peristiwa-peristiwa langka, ketika anda mengadakan 'pesta makan' seperti yang tertulis di ayat-ayat itu, maka anda sudah menjalankan pengajaran ini? Jika demikian halnya, maka keseluruhan bagian ini menjadi tidak ada gunanya. Kita tidak punya banyak kesempatan untuk melakukannya. Dan jika anda terlalu miskin untuk mengadakan pesta makan, maka anda harus merelakan kesempatan pelaksanaan itu kepada orang-orang kaya. Kita tidak dapat melaksanakannya karena siapa di antara kita yang mampu untuk sering mengadakan perjamuan makan? Sekarang anda dapat melihat masalah yang muncul jika kita meneliti pengajaran tersebut dengan cara ini, dan saya yakin anda pasti dapat melihatnya jika anda meneliti dengan saksama, kesulitan di dalam menerapkannya pasti akan terlintas di benak anda. Cara pandang ini disebut 'pengajaran Kristus yang hanya cocok untuk keadaan tertentu', yaitu hanya dapat dijalankan pada waktu anda mengadakan jamuan makan. Atau dengan kata lain, pengajaran ini hanya berkaitan dengan keadaan jika anda diundang ke pesta makan atau anda sendiri yang mengadakan pesta makan. Tidak banyak kesempatan untuk menerapkannya, atau bahkan mungkin tidak berguna, bukankah demikian?

Jika kita memandang dengan cara ini, maka itu berarti bahwa kita benar-benar tidak mengerti apa yang Tuhan ajarkan. Dan sesudah apa yang saya jelaskan ini, anda tentunya dapat mengerti mengapa para pengulas agak malu karena ayat-ayat ini. Mereka tidak tahu persis pelajaran apa yang bisa ditarik dari bagian ini. Agak memalukan, terutama jika anda ternyata merupakan salah satu orang yang mengulas yang harus memberikan komentar. Anda duduk di hadapan mesin ketik, atau komputer, atau pena, dan berkata, "Sekarang saya sampai pada bagian ini. Apa yang harus saya jelaskan?" Akhirnya anda menyerah dan berkata, "Ini hanya sekadar suatu ajaran tentang bagaimana cara untuk menjadi lebih rendah hati dan berbudi." Dan jika anda ditanya, "Mengapa ajaran ini disampaikan kepada orang-orang Farisi?" Anda lalu menjawab, "Tidak tahu. Mungkin saat itu mereka memang patut ditegur." Sekarang anda dapat melihat bahwa untuk memahami pengajaran Tuhan tidak dapat dilakukan dengan sekadar membaca cerita di dalam ayat-ayat itu saja. Pengajaran Tuhan akan terasa sangat sulit jika anda belum memahami seluruh latar belakang untuk apa Tuhan Yesus datang ke dunia ini. Dan sekalipun anda sudah memahami latar belakang itu, anda masih harus mempelajari lagi landasan dari seluruh ajaranNya. Nah, sesudah semua pembahasan ini, saya harap kita sudah siap untuk dapat melanjutkan ke bagian pembahasan selanjutnya.

Yesus Mengajarkan tentang Penghakiman Berdasarkan Perilaku di dalam perumpamaan ini
Kita sudah melihat adanya tiga poin dalam keselamatan itu. Yang pertama adalah 'pembenaran', yang kedua adalah 'pengudusan' dan yang ketiga adalah 'penghakiman'. Sangatlah penting untuk memahami hubungan antar poin-poin tersebut di dalam pengajaran Tuhan di sini, bukan hanya hubungan antara poin yang pertama dengan yang kedua, yaitu pembenaran dan pengudusan, namun juga antara yang kedua dengan yang ketiga, yaitu pengudusan dengan penghakiman. Di dalam memahami hubungan antara poin yang pertama dengan yang kedua saja, gereja sekarang ini sudah mengalami kesulitan, apa lagi dalam memahami hubungan antara poin yang kedua dengan yang ketiga. Allah akan menangani anda dengan cara yang sama seperti anda menangani orang lain. Jadi di dalam hal hamba yang tidak mengampuni itu, hubungan antara poin yang pertama dengan yang kedua seharusnya mendorong dia untuk mengampuni. Namun hubungan antara poin yang kedua dengan yang ketiga akhirnya berlangsung dengan landasan tidak ada pengampunan, jadi Allah menangani dia dengan cara yang sama seperti ia tidak mengampuni orang lain. Apakah hal ini sulit untuk dipahami? Saya rasa tidak. Hanya perlu sedikit pemikiran. "Jika engkau tidak mengampuni orang yang bersalah kepadamu," kata Tuhan Yesus ketika merangkum perumpamaan tersebut, "maka engkau pun tidak akan diampuni." Sekalipun anda sudah diampuni oleh Tuhan sebelumnya, pengampunan itu akan dibatalkan. Jika anda tidak mengampuni, maka anda juga tidak akan diampuni. Itulah hubungan antara poin yang kedua dengan yang ketiga. Perilaku anda akan menjadi dasar bagi Allah untuk menentukan penghakimanNya atas diri anda. Dan ini adalah hal yang dengan tegas dinyatakan pula di dalam perumpamaan kali ini pada ayat 11. "Sebab barangsiapa meninggikan diri (ini adalah perilaku), ia akan direndahkan." Itulah tanggapan Allah terhadap perilaku anda pada Hari Penghakiman nanti. Ia akan merendahkan anda. Ia akan mempermalukan anda. Dan di dalam Perjanjian Lama, "dipermalukan' sama dengan ditolak; masuk di bawah kutukan Allah. Akan tetapi, "Barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan". Tingkah laku anda akan menentukan bagaimana Allah akan menangani anda nanti, apakah anda akan mendapat penghargaan atau hukuman. Itulah hubungan antara poin kedua dengan yang ketiga, dari pengudusan menuju penghakiman.

Sangatlah penting bagi kita untuk memahami hal ini, saudara. Sangat-sangat penting. Jangan pernah mengira bahwa karena anda sudah diselamatkan maka tingkah laku anda selanjutnya tidak menjadi persoalan lagi. Inilah pandangan yang sangat meluas di gereja-gereja, dan cara pandang seperti ini sangatlah fatal. Sangat fatal, jika anda memahami pengajaran Tuhan dan juga Paulus. Cara pandang ini sangat mematikan! Allah memperhatikan tingkah laku anda. Ia memperhatikan perilaku anda, dan Ia akan menentukan kelayakan anda untuk masuk ke dalam kerajaan berdasarkan perilaku anda. Jika anda meninggikan diri, maka Ia akan menjatuhkan anda pada hari penghakiman. Dan itu benar. Itulah poin yang sedang diajarkanNya di sini. Hal itulah yang sedang dikatakan oleh Tuhan Yesus kepada orang-orang Farisi yang mengira dirinya sudah selamat. Itu sebabnya mengapa Ia tidak membuang-buang waktu dengan membahas hubungan antara poin pertama dengan yang kedua. Ia langsung membahas hubungan antara poin yang kedua dengan yang ketiga. Ia sedang berkata, "Kamu pikir kamu sudah selamat, bukankah begitu? Coba lihat tingkah lakumu. Saat diundang ke pesta makan, engkau mengejar kursi yang tertinggi, karena ingin meninggikan dirimu. Kamu pikir kamu akan diselamatkan? Apa betul begitu? Engkau ahli agama, orang-orang yang religius, orang-orang Farisi, akan tetapi kelakuanmu justru membuktikan bahwa engkau sudah gagal dan tidak layak bagi kerajaan Allah. Mengapa? Tidakkah kamu tahu bahwa orang yang meninggikan dirinya akan direndahkan oleh Allah pada hari penghakiman? Apakah kamu belum tahu akan hal ini? Jika belum, maka sekarang Kuberitahukan. Keselamatan kalian sedang dipertaruhkan." Hal inilah yang sedang disampaikan oleh Tuhan Yesus pada saat itu.

Kita menyadari bahwa Tuhan sedang membicarakan tentang kebenaran rohani kepada mereka. Ia tidak sekadar berbicara tentang contoh-contoh moral yang baik tentang bagaimana memperbaiki perilaku. Ia sedang menyatakan bahwa kelakuan mereka menunjukkan bahwa mereka tidak selamat, kecuali jika mereka berubah dan membiarkan kasih karunia Allah bekerja sepenuhnya di dalam hidup mereka dan mengubah mereka, maka mereka tidak akan pernah berhasil. Mereka tidak akan pernah layak untuk masuk ke dalam kerajaan Allah. Dan bagi gereja di jaman sekarang, tidak ada pesan yang lebih penting, ketimbang ini, saudara-saudara. Karena kebanyakan orang Kristen dengan ceroboh berkata, "Kita sudah selamat. Kita akan masuk ke sana. Jatah tempat untuk kita sudah dipastikan!" Sekalipun tingkah laku kita sangat memalukan, entah di tempat kerja atau di sekolah, atau sekalipun Kekristenan kita tidak menghasilkan apa-apa dan kita tidak layak disebut sebagai 'terang dunia' atau 'garam dunia', kita masih menganggap diri ini tetap selamat. Garam yang menjadi hambar, garam yang seharusnya berfungsi sebagai garam tetapi ternyata gagal, tidak akan layak bagi kerajaan. "Tidak layak untuk apapun juga," kata Tuhan Yesus. Dan tentunya tidak akan masuk ke dalam kerajaan. Garam itu sudah tidak berguna lagi. Sekalipun ia pernah menjadi garam sejati, dan sekarang ini masih terlihat sama dengan garam yang lain, sekalipun masih bernama garam, namun karena telah menjadi hambar, maka Tuhan berkata, "Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang" (Matius 5:13b). Ia hanya layak untuk dibuang. Ia tidak pernah dipakai lagi. Riwayatnya sudah tamat. Akan tetapi kita masih dengan santainya berkata kepada diri sendiri, dan kata-kata ini sering terdengar di gereja, "Kita adalah umat pilihan." Tuhan menyampaikan perumpamaan ini kepada orang-orang Farisi yang memandang diri mereka sebagai orang-orang terpilih. Orang-orang Farisi sangat yakin bahwa mereka merupakan umat pilihan di antara bangsa Israel. Mereka memandang diri sendiri sebagai golongan istimewa di dalam lingkungan keagamaan masyarakat, sama seperti kita yang memandang diri seperti itu. Akan tetapi Tuhan Yesus berkata, "Tingkah lakumu menunjukkan hal yang sebaliknya. Engkau bukan sekadar tidak layak menilai diri istimewa, malahan engkau sudah seperti garam yang menjadi hambar dan hanya pantas untuk dibuang." Kata-kata yang sangat tegas! Apakah anda mengira bahwa ayat-ayat itu hanya berbicara tentang nasihat moral? Anda akan memandang seperti itu jika anda tidak memahami dasar ajaran Tuhan. Bagian ini jauh dari sekadar mengajari orang bagaimana supaya bisa lebih rendah hati atau murah hati.

Diselamatkan oleh Iman yang Bekerja oleh Kasih dan Pengertian bahwa Allah akan Meninggikan
Bukankah keselamatan itu oleh iman? Apakah keselamatan itu tidak sekadar menerima kasih karunia Allah dengan iman? Apakah itu ditentukan oleh jumlah undangan kepada kaum pengemis untuk pesta makan? Apakah itu ditentukan oleh posisi kursi yang kita pilih di pesta makan? Apakah keselamatan ditentukan oleh hal-hal seperti ini? Ijinkan saya memberi jawaban yang mengejutkan. Jawaban atas pertanyaan ini adalah, "Benar, saudaraku. Karena Tuhan Yesus yang berkata seperti itu, bukan saya."

Anda berkata, "Bagaimana mungkin? Apakah itu berarti bahwa keselamatan itu lewat perbuatan baik?"

Tidak sama sekali.

Tapi anda akan menyahut, "Apa yang disebutkan itu semuanya adalah contoh perbuatan."

Di jaman sekarang ini, gereja bermain-main dengan istilah-istilah seperti 'iman' dan 'perbuatan', tanpa memahami apa arti iman dan juga apa arti perbuatan itu. Kita bermain-main dengan istilah yang artinya tidak kita pahami sama sekali. Kita mengira bahwa jika kita menyebutkan hal-hal seperti 'perbuatan' maka kita sudah membicarakan sesuatu hal yang penting secara teologis sekalipun kita tidak tahu apa yang sedang kita bicarakan. Apa sebenarnya yang sedang kita bicarakan ini? Tuhan Yesus berkata bahwa jika kita memiliki iman, maka hal itu akan tercermin dari tingkah laku kita. Kita tidak akan memilih kursi yang paling rendah dan mengundang orang-orang miskin ke pesta makan dengan sepenuh hati jika kita belum diubah. Kita perlu tahu betapa tegasnya ajaran Tuhan yang disampaikan di ayat-ayat ini. Jika kita memiliki iman sebatas pengakuan, iman yang mati, maka perilaku kita tidak akan berubah, dan iman yang mati tidak menyelamatkan siapapun. "Perbuatan" bukanlah kata-kata yang bermakna buruk. 'Diselamatkan oleh perbuatan?' Apa sebenarnya yang sedang kita bicarakan? Kita tidak diselamatkan oleh 'perbuatan baik', akan tetapi 'perbuatan baik' adalah perwujudan, atau bukti dari iman yang menyelamatkan.

Lalu kita mengutip ucapan Paulus tentang 'perbuatan/pekerjaan'. Sulit dipercaya begitu banyak omong kosong yang saya dengar tentang istilah yang satu ini. Jika ada orang yang ingin membahas tentang perbuatan baik dalam pengajaran Paulus, sebaiknya ia mempelajari dengan saksama supaya ia tahu apa yang Paulus maksudkan dengan perbuatan baik atau pekerjaan. Setiap kali Paulus berbicara tentang pekerjaan atau perbuatan baik, ia sangat berhati-hati dalam membedakan antara dua macam pekerjaan atau perbuatan baik itu. Yang satu adalah 'melakukan hukum Taurat' dan yang satunya lagi adalah 'perbuatan iman'. Dan anda tidak dapat sembarangan berbicara tentang perbuatan baik tanpa menegaskan perbuatan baik jenis yang mana yang sedang anda bicarakan. Paulus berkata kepada kita, "Engkau tidak dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat. Karena dengan mengandalkan hal itu berarti bahwa engkau tidak menempatkan imanmu kepada Kristus melainkan kepada hukum Taurat. Perbuatanmu bisa saja dinyatakan sebagai ungkapan iman akan tetapi bukan iman karena karya penyelamatan Kristus, melainkan iman kepada hukum Taurat. Namun karena engkau menempatkan imanmu keapada hukum Taurat, maka hukum Taurat itu tidak akan menyelamatkanmu. Barangsiapa yang berada di dalam Kristus, ia tidak akan masuk ke dalam kutuk hukum Taurat, akan tetapi hukum Taurat juga tidak akan menyelamatkanmu." Namun, di luar itu, Paulus juga membahas tentang perbuatan baik dari jenis yang lain yang sangat penting bagi setiap orang Kristen. Ia berkata, "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." (bdk. Efe 2:10) Semuanya ini merupakan "perkerjaan atau perbuatan iman", iman yang bekerja oleh kasih. Tapi begitu banyak orang yang berbicara mengenai "perbuatan/pekerjaan" dan "diselamatkan oleh perbuatan," namun apa yang sedang mereka katakan? "Perbuatan atau pekerjaan" apa yang sedang anda bicarakan? Hampir tidak mungkin untuk berdiskusi dengan orang yang menggunakan istilah-istilah ini tanpa mengetahui apa pun. Justru yang dibicarakan oleh Tuhan Yesus adalah "pekerjaan iman". Tanpa "pekerjaan" demikian, anda bisa saja berbicara tentang iman sebanyak yang anda mau, namun iman itu tidak akan menyelamatkan anda. Karena iman itu mati, dan iman yang mati tidak akan menyelamatkan barangsiapa pun. Itulah seluruh pengajaran Kitab Suci.

Perilaku yang diubah oleh Iman: Kerendahan Hati
Perhatikan apa yang sedang disampaikan oleh Tuhan. Isi pembicaraan Tuhan adalah bahwa untuk dapat melakukan hal itu dengan sepenuh hati adalah hal yang mustahil jika kasih karunia Allah tidak bekerja dengan kuat di dalam hidup anda dan mewujudkan diri dalam bentuk iman yang mendalam kepada Allah, dan iman kepada Allah ini menyatakan dirinya di dalam kerendahan dan kemurahan hati yang sejati. Ia menyatakan bahwa anda tidak akan dapat memiliki kerendahan dan kemurahan hati jika kasih karunia Allah tidak mengubah anda, menumbuhkan iman anda sehingga anda benar-benar dapat menjadi rendah hati dan juga murah hati. Jika anda tidak percaya, buktikanlah sendiri dengan mencoba untuk menjadi rendah hati. Anda tidak akan mungkin menjadi rendah hati. Kerendahan hati yang sejati bersumber dari dalam diri. Ia tidak diukur berdasarkan seberapa dalam anda membungkuk. Itu hanya tampilan luar. Saya dapat berkeliling dengan punggung terbungkuk dan mengundang komentar orang lain, "Wah, dia ini sangat rendah hati." Walau sebenarnya saya masih sepenuhnya sombong dan jahat di dalam. Ada banyak orang yang luar biasa sombongnya dan mereka masih berani menyebut diri rendah hati. Sikap ini mirip sekali dengan sikap orang Farisi. Itulah yang disebut kemunafikan. Kerendahan hati yang sejati datang dari dalam diri. Jangan pernah menilai seseorang dari bungkukan punggungnya. Ada orang yang berdiri sangat tegak tetapi juga sangat rendah hati. Saya sendiri perlu belajar untuk bersikap tegak karena postur tubuh saya membungkuk. Untuk itu, kadang kala saya memasang alat pelurus punggung, dan suatu saat nanti, anda mungkin melihat saya sudah mampu bersikap tegak. Akan tetapi jangan menilai bahwa karena punggung saya sudah menjadi lebih tegak, maka saya juga menjadi lebih sombong. Perlu dasar penilaian yang berbeda untuk mengetahui kerendahan hati atau kesombongan, bukannya melalui bentuk punggung. Kerendahan hati yang sejati berasal dari dalam, jika di dalam tidak ada sikap itu maka yang hadir bukan kerendahan hati melainkan kepura-puraan. Saya tidak dapat menjadi rendah hati jika tidak memiliki iman kepada Allah yang telah mengubah saya. Apakah anda menyadari hal itu? Saya tidak akan dapat memiliki kerendahan hati yang sejati seperti yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus, kecuali jika saya punya iman. Buat apa saya memilih kursi yang paling rendah? Apa jawaban yang diberikan oleh Tuhan?  Karena saya mengimani bahwa Allah akan meninggikan saya. Tindakan ini membutuhkan iman. Mengapa saya tidak berani meninggikan diri? Satu-satunya alasan adalah karena saya memiliki iman kepada Allah. Jika saya tidak memiliki iman kepada Allah, adakah hal yang akan mampu menahan saya dalam menyombongkan diri? Tidak ada!

Kenyataannya, seluruh dunia berpikir di dalam kerangka mementingkan diri sendiri. Ketika anda diundang dalam sebuah perjamuan oleh kantor, anda tidak mau memilih kursi yang paling rendah. Jika anda memilih kursi yang paling rendah, maka dunia akan berkata, "Kalau mau duduk di situ, silahkan saja! Kalau yang itu masih belum cukup rendah, sekalian saja pergi keluar dan duduk bersama para pembantu. Kami tidak keberatan." Saya yakin anda tentu pernah membaca buku-buku tentang orang-orang yang sukses di dunia. Jika belum, sebaiknya anda mulai membacanya, karena anda akan segera bisa membandingkan cara berpikir orang dunia dengan pengajaran Alkitab, maka anda akan menyadari betapa jauhnya perbedaan antara keduanya. Di dalam dunia, untuk dapat meraih sukses, anda harus mementingkan diri sendiri. Anda harus menunjukkan bahwa anda memang punya segala yang dibutuhkan untuk dapat mencapai puncak. Anda harus menunjukkan gaya anda. Jika orang melihat gaya anda, mereka akan berkata, "Hmm, orang ini memang mantap." Jadi ketika mereka membutuhkan orang untuk jabatan puncak di perusahaan, maka mereka akan berpikir, "Ini orang yang kami cari. Dia punya gaya. Ia punya segala yang kita butuhkan." Anda harus menunjukkan warna yang berbeda untuk bisa tampil di dunia. Ketika sedang berbicara, anda harus menunjukkan betapa cerdasnya anda dan betapa cepatnya otak anda memecahkan masalah. Jika ada orang yang tidak menghormati anda, maka anda segera menanganinya sesuai prosedur. Begitulah cara untuk mendapatkan penghormatan. Kapan anda bisa memperoleh penghormatan di dunia ini jika terus saja memilih kursi yang paling rendah? Cara begini jelas sia-sia. Orang-orang akan menilai, "Dia ini orang gila. Ajaran agamanya pasti sudah merusak otaknya. Coba lihat!"

Di dunia ini rahasia menuju sukses adalah dengan memperlihatkan bahwa anda sudah sukses. Jadi, sekalipun terlalu mahal, berusahalah untuk memakai stelan jas yang mahal. Orang-orang di Hong Kong paham sekali akan hal ini. Mereka tidak perlu diajari dalam urusan ini. Mereka bahkan sanggup mengajari saya tentang urusan ini sepanjang hari. Harga mobil mewah terlalu mahal? Harus tetap diusahakan, sekalipun harus berhutang. Jika keluar rumah, anda tidak ingin bepergian dengan mengendarai kaleng rombeng. Anda ingin menyetir dengan penuh gaya, naik Mercedes, dan anda lalu membuka pintu dengan anggun, dan melangkah keluar. Gaya menjadi sangat penting, dan ekspresi wajah anda juga sangat penting. Anda tidak boleh mendatangi penjaga pintu dengan malu-malu, "Selamat pagi. Bagaimana kabarnya?" Omongan seperti itu menunjukkan bahwa anda tidak berkelas. Ekspresi anda harus berwibawa, dan anda harus melangkah seanggun harimau - hu bu. Saya yakin, anda tentu pernah mendengar istilah ini - melangkah seperti harimau. Anda harus menunjukkan wibawa, bahkan sampai pada cara anda melangkah. Ketika duduk di kursi, anda duduk dengan cara yang khusus. Terlihat santai namun penuh gaya. Memperlihatkan bahwa anda orang yang dekat dengan kekuasaan. Bahwa anda bergaul dengan kalangan atas. Anda tidak hadir dengan penampilan yang kumuh. Anda tampil penuh dengan gaya setiap saat. Dan tentu saja, di suatu saat, ketika mereka sedang mencari orang yang tepat untuk posisi General Manager, mereka akan berpikir, "Ini dia orangnya! Dia punya segalanya. Ia punya semangat dan keberanian. Dia orang yang dinamis."

Jadi jika anda menerapkan ajaran Tuhan, riwayat anda berakhir! Jika anda datang sebagai orang yang rendah hati, mereka akan menendang anda keluar. Jika anda memilih tempat yang rendah, maka mereka akan menginjak punggung anda dan memanjat ke atas. Jika anda ingin merendahkan diri di hadapan mereka, mereka akan senang sekali. Mereka membutuhkan batu loncatan. Jika anda membungkuk, mereka akan melangkah di atas punggung anda. Itu sebabnya saya berkata kepada anda bahwa iman dibutuhkan untuk bisa memiliki kerendahan hati. Kerendahan hati yang sejati harus berlandaskan iman. Jika tidak, maka anda akan menjadi seperti kebanyakan orang Kristen - tidak terlalu sombong dan tidak terlalu rendah hati. Bukankah Aristoteles mengajarkan kita tentang 'titik tengah', zhong dao dalam ajaran etikanya? Ia mengajarkan agar kita tidak menjadi terlalu sombong namun juga tidak terlalu merendah. Mereka berpikir, "Saya harus menjadi sedikit Kristen dan sekaligus juga realistis dalam menghadapi keadaan. Saya tidak mau diinjak-injak oleh orang-orang ini. Akan tetapi, saya juga harus tetap terlihat sebagai orang Kristen. Jadi saya akan bersikap lebih ramah lagi nanti. Saya akan memperlunak ekspresi wajah saya. Saya masih akan bergaya, tetapi dengan cara yang lebih halus. Dengan begini, maka saya juga masih bisa berhasil. Sekalipun mereka tidak memilih saya untuk jabatan General Manager, saya masih berpeluang untuk jabatan Asisten untuk general Manager. Menjadi orang Kristen perlu pengorbanan bukan?"

Dibutuhkan iman untuk bisa menjadi orang Kristen sejati. Kehidupannya sangatlah berat. Apakah anda mengira perkara menjadi rendah hati itu gampang? Tidak! Tanpa mengimani bahwa Allah akan meninggikan anda, maka anda tidak akan berani menjalani hal ini. Anda akan dipandang sebagai orang bodoh di dunia ini. Orang gila! Coba saja jalankan jika anda mendapat kesempatan dalam sebuah pesta, dan lihatlah apa yang akan terjadi. Coba jalankan ini di lingkungan perusahaan anda. "Apakah anda lebih suka duduk di sini? Tidak ada orang yang mau duduk di sini. Apakah anda merasa lebih nyaman duduk di sini? Lanjutkan saja kalau begitu! Akan selalu ada orang yang mau mengambil posisi anda. Kami tidak ambil pusing dengan itu." Anda harus punya iman jika ingin melakukan hal ini. Kerendahan hati yang sejati adalah suatu 'tindakan iman'. Tuhan Yesus di dalam pengajaranNya menyentuh kita pada titik yang paling mendasar yang menyangkut keberadaan kita. Hal apa yang paling penting di dalam hidup anda di dunia ini? Status sosial, bukankah begitu? Jadi hal yang paling penting adalah status sosial anda.

Perilaku yang diubah oleh Iman: Kemurahan Hati
Mari kita lihat pokok yang kedua. Apa lagi hal yang penting bagi kita? Uang, tentu saja. Dan apa yang disampaikan oleh Tuhan di sini? Kemurahan hati. Bagaimana cara anda di dalam mempergunakan uang anda? Apakah anda mengira kemurahan hati itu bisa dilakukan tanpa iman? Saya beritahu anda bahwa mereka yang benar-benar memiliki kemurahan hati yang sejati dan tidak sekadar berusaha mengurangi rasa bersalah adalah orang yang benar-benar didorong oleh iman yang sejati. Dari mana mereka mengharapkan balasan? Hal itulah yang sedang dibahas oleh Tuhan di dalam kalimat terakhir dari perumpamaanNya, di dalam ayat 14. Kapan anda akan memperoleh balasan? Anda akan mendapatkannya pada hari kebangkitan orang benar. Hari kebangkitan orang benar! Kapan itu? Saya perlu dana di akhir bulan ini, tetapi balasan buat saya baru akan diberikan pada hari kebangkitan orang benar? Kalau anda tidak punya iman, bagaimana anda dapat menjalankan ajaran ini? Saya tidak yakin apakah akan dibangkitkan atau tidak. Dan saya sendiri tidak punya cukup iman untuk percaya pada kebangkitan, dan saya diberitahu bahwa balasan untuk saya baru akan diberikan pada hari kebangkitan yang saya sendiri tidak meyakininya? Pengajaran Tuhan memang mustahil dijalankan tanpa iman. Disebutkan di sini undanglah orang-orang miskin ... karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Nah, biasanya hal yang penting bagi kita adalah bahwa kita mendapatkan sesuatu sebagai balasan. Saya mengundang orang kaya ini perjamuan makan, supaya nanti saya juga diundang dalam perjamuan makannya yang lebih mewah dari jamuan saya. Jadi bisa dibilang beruntung jika saya mentraktirnya 20 dolar, dan sebagai balasannya ia kemudian mentraktir saya sebesar 40 dolar. Ini adalah li shang wang lai, jika saya memberinya hadiah senilai 20 dolar dan ia membalasnya dengan hadiah senilai 40 dolar, maka itu sangat layak. Akan tetapi di dalam perumpamaan ini disebutkan bahwa anda tidak akan mendapatkan balasan sampai pada hari kebangkitan nanti. Murah hati boleh-boleh saja akan tetapi yang satu ini keterlaluan! Bermurah hati itu baik jika ada alasan yang masuk akal!

Atau, kita berpikir, "Menaruh beberapa koin ke mangkok pengemis membuat saya merasa enak. Saya mendapatkan kepuasan batin dari situ. Tidak rugi saya memberi mereka uang." Ketika memberi sumbangan kepada lembaga-lembaga bantuan sosial, yang terpikir adalah, "Setiap kali saya melihat gambar anak-anak yang kelaparan itu dan di sini saya memenuhi mulut saya dengan babi panggang, gambar itu merusak selera makan saya. Jadi saya putuskan untuk memberi 20 dolar supaya bisa menikmati makanan tanpa harus merasa bersalah." Mengapa anda memberikan sumbangan? Karena anda sekadar ingin membungkam hati nurani anda. Anda tidak memikirkan tentang balasan di hari kebangkitan nanti, bukankah begitu? Kapan anda menyerahkan uang ke kotak persembahan sambil memikirkan balasannya di hari kebangkitan? Jujur saja. Balasan di hari kebangkitan? Tidak. Mungkin yang anda pikirkan adalah, "Kalau pengeluaran ini saya masukkan ke dalam laporan keuangan, saya bisa minta keringanan pajak untuk itu. Jadi saya tidak perlu bayar banyak kepada kantor pajak, dan bisa menyumbang lebih banyak ke gereja. Baik untuk gereja dan juga menguntungkan dalam hal pajak." Siapa yang berpikir tentang 'hari kebangkitan orang benar'" Sejak kapan iman kita sampai di sana? Mari kita bersikap jujur terhadap diri sendiri. Jujurlah kepada diri sendiri.

Dan juga, kita sering berkata, "Pada saat memberi, saya tidak pernah berpikir tentang balasan. Tidak. Jika saya memberi, saya memberi begitu saja. Begitulah! Jadi saya malah melakukan lebih dari pada yang diajarkan oleh Tuhan. Tuhan berkata bahwa balasan buat kita ada di hari kebangkitan. Sementara saya sendiri tidak peduli soal balasan. Wah, saya sudah melampaui ajaran Tuhan sendiri! Saya sudah mencapai tingkatan yang lebih tinggi!" kita memang sangat mahir dalam hal menipu diri sendiri. Tidak ada orang yang memberikan sesuatu tanpa motif tertentu. Tidak ada orang yang memberikan uang 100 dolar bagi pekerjaan Tuhan atau gereja tanpa motif apapun. Jika kita dimotivasi oleh iman, maka mata kita tertuju pada Allah ketika menaruh uang 100 dolar itu di kotak persembahan. Kita dimotivasi oleh iman kita kepadaNya. Balasan apa yang kita harapkan? Balasan seperti apa? Menerima uang dengan jumlah yang sama di hari kebangkitan orang benar? Tentu tidak! Apakah itu berupa emas berbatang-batang? Untuk apa batangan emas di surga? Tentunya balasan yang anda harapkan adalah kasih Allah, perkenan dari Allah, atau kasihNya kepada kita. Dan anda tidak akan berkenan di hatiNya jika anda tidak mengasihiNya. Dan anda tidak akan dapat mengasihiNya kalau tidak memiliki iman.

Perilaku akan Menentukan apakah anda Layak bagi Kerajaan Allah
Sekarang anda dapat melihat bahwa ajaran Tuhan bukan sekadar nasihat moral kepada orang-orang Farisi. Ia sedang mengatakan kepada orang-orang Farisi itu: "Kelakuanmu menunjukkan bahwa engkau tidak layak bagi kerajaan. Dan kelakuanmu juga membuktikan bahwa engkau tidak memiliki iman. Engkau tidak memiliki iman. Sikapmu di tengah masyarakat menunjukkan tidak adanya kerendahan hati dan caramu memakai uang menunjukkan bahwa engkau mengejar balasan duniawi sekarang juga. Kehidupan duniawi sekarang ini beserta segala isinya merupakan upahmu karena engkau tidak memiliki iman, setidaknya masih kurang memadai jika ingin dipandang layak masuk ke dunia yang baru. Engkau menaruh segala harapanmu pada sisi duniawinya dan mengejar hasil langsung di dalam hidup ini. Engkau tidak peduli pada masa depan. Engkau berharap akan termasuk di antara orang benar yang dibangkitkan. Engkau berharap layak untuk itu. Namun, jika hal itu tidak tercapai, engkau beranggapan bahwa paling tidak sudah menikmati hasil semasa hidup; tidak rugi sama sekali. Dibutuhkan iman untuk bisa hidup di jalur yang tepat." Sekarang anda dapat melihat betapa pentingnya pengajaran Tuhan ini. Perilaku adalah perwujudan dari iman.

Ambillah contoh lain dari pengajaran Tuhan: jika seseorang menampar pipimu yang satu, berikanlah pipimu yang satunya lagi. Ajaran apa itu? Ajaran tentang moral? Jika anda mengira bahwa ini adalah ajaran tentang moral, maka anda sudah melakukan kesalahan sekali lagi di dalam memahami pengajaran Tuhan. Anda tidak paham apa yang sedang Ia sampaikan. Tidak ada orang yang akan mampu memberikan pipinya yang satu lagi tanpa iman kepada Allah. Anda tidak percaya? Coba saja. Saya yakin bahwa anda tidak akan mampu melakukannya. Perlu iman untuk melakukan hal itu. Iman seperti apa? Iman kepada keadilan Allah, bahwa kejahatan akan mendapat balasan dari Allah. Iman seperti itulah yang dibutuhkan. Allah akan menangani perkara ini. Saya tidak usah bertindak sendiri untuk melakukannya. Jika saya tidak memiliki iman kepada Allah, maka saya akan bertindak sendiri dalam menghadapinya. Saya harus menyeimbangkan kedudukan karena jika bukan saya yang akan bertindak lalu siapa lagi? Hanya jika saya memiliki iman yang mendalam kepada Allah Yang Adil, Allah yang mengendalikan segala sesuatu dan yang akan bertindak untuk membalas setiap orang sesuai kelakuannya, yang mengatur segala sesuatu sampai kepada hal-hal yang terkecil, baru saya bisa menaruh kepercayaan saya dan mentaati Allah. Membutuhkan iman yang kuat untuk dapat melakukan hal ini. Jadi jika ada orang yang menampar pipi saya, maka saya tidak usah membalasnya karena saya mengimani bahwa Allah akan bertindak untuk itu. Allah yang saya sembah akan menyelesaikan persoalannya. Saya tidak akan kuatir bahwa ia akan lupa untuk membela perkara saya, atau bahwa Ia sedang sibuk di tempat lain. Jika anda berpikiran seperti ini, itu membuktikan sekecil apa iman anda kepada Allah. Perilaku adalah cerminan dari iman, dilihat dari sisi manapun. Dan jika anda sudah memahami hal ini, anda akan menyadari betapa eratnya hubungan antara poin yang kedua dengan yang ketiga; hubungan antara pengudusan (perilaku) dengan penghakiman, karena kita dihakimi berdasarkan iman yang tercermin lewat perilaku kita sehari-hari. Ini adalah inti dari pengajaran Tuhan.

Kesimpulan
Sebagai penutup, kita dapat merangkum pengajaran Tuhan hari ini dengan satu kalimat saja. Hanya melalui iman yang tercermin lewat perilaku anda sehari-hari, cara anda dalam menangani urusan status sosial atau gengsi anda, dan cara anda dalam memakai uang anda, maka iman, iman yang hidup, iman kepada Allah yang hidup, itu dapat dilihat. Itu sebabnya mengapa keselamatan itu melalui iman, bukan iman yang hanya berupa ucapan belaka, akan tetapi iman yang hadir, iman yang terwujud di dalam cara hidup anda sehari-hari. Orang benar akan hidup oleh iman (Roma 1:17). Begitulah jalannya, bukan melalui iman yang dulu pernah anda miliki ketika memutuskan untuk dibaptis namun belakangan menghilang. Iman di dalam Alkitab adalah iman yang berlangsung terus menerus, hal sehari-hari yang memang terwujud di dalam keseharian anda - cara anda berpikir, cara berperilaku dan cara anda mengerjakan sesuatu. Itulah iman yang hidup. Kiranya Allah memberi anda dan saya pemahaman yang mendalam akan hal ini! inilah iman yang akan menentukan kelayakan kita bagi kerajaan Allah oleh kasih karuniaNya.

[Download]


Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.

Standard
Besar
Terbesar

Perumpamaan:

Mat 9:14-17 Perumpamaan tentang Kantong Kulit yang Lama dan yang Baru

Mat 13:3-23 Perumpamaan tentang Seorang Penabur Benih I

Mat 13:1-9 Perumpamaan tentang Penabur - Dari Sudut Pandang Keselamatan

Mar 4:21-25 Perumpamaan tentang Pelita

Mar 4:26-29 Perumpamaan tentang Benih yang Tumbuh dengan Sendirinya

Mat 13: 24-30 Perumpamaan Tentang Lalang Di Antara Gandum

Mat 13:31-32 Perumpamaan tentang Benih Sesawi

Mat 13:44 Perumpamaan tentang Harta yang Terpendam

Mat 13:45-46 Perumpamaan tentang Mutiara

Mat 13:33 Perumpamaan Tentang Ragi

Mat 13:47-50 Perumpamaan tentang Pukat

Perumpamaan tentang Ahli Taurat yang Menerima Pelajaran tentang Hal Kerajaan Surga

Perumpamaan tentang Orang Kaya yang Bodoh

Perumpamaan tentang Orang Samaria yang Murah Hati

Perumpamaan tentang Pohon Ara yang Mandul

Perumpamaan tentang Sahabat pada Tengah Malam

Perumpamaan tentang Tamu-tamu

Perumpamaan tentang Pesta Perjamuan Besar I

Perumpamaan tentang Pelita Diatas Kaki Dian

Perumpamaan tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 1

Perumpamaan tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 2

Perumpamaan tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 3

Perumpamaan tentang Domba yang Hilang

Perumpamaan tentang Uang Dirham yang Hilang

Perumpamaan tentang Anak yang telah Mati dan Hidup Kembali

Perumpamaan tentang Dua Anak yang Hilang

Perumpamaan tentang Bendahara yang Tidak Setia

Perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus

Perumpamaan tentang Hamba yang Tidak berguna

Perumpamaan tentang Hakim yang Tidak Adil

Akankah Yesus mendapati iman di Bumi? I

Akankah Yesus mendapati iman di Bumi? II

Perumpamaan tentang orang Farisi dan Pemungut cukai

Perumpamaan tentang Uang Mina

Perumpamaan tentang Hamba yang Tidak Mengampuni

Para Pekerja di Kebun Anggur - Bagian Pertama

Para Pekerja di Kebun Anggur - Bagian Kedua
Prinsip tentang yang terdahulu dan yang terakhir

Perumpamaan tentang Pohon Ara

Perumpamaan tentang dua orang anak

Perumpamaan tentang Para Penggarap Kebun Anggur yang Jahat

Perumpamaan tentang Perjamuan Kawin

Perumpamaan tentang Pesta Perjamuan Besar 2

Perumpamaan tentang 10 Gadis-gadis yang Bijaksana & Bodoh

Perumpamaan tentang talenta

Pemisahan antara Kambing dan Domba 1

Pemisahan antara Kambing dan Domba 2

Perumpamaan tentang Kedatangan Yesus yang kedua

Copyright 2002-2014. Semua materi di situs ini adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries.
E-mail kami untuk mendapatkan izin untuk menggunakan materi di situs ini.
Best viewed with IE6.0 and 1024 by 768 resolution.