| Saran & Komentar | updated on 05 April 2014

Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan

Halaman Utama

  |  Tentang Kami

  |  Hubungi Kami

  |  Izin Pemakaian Materi 

  |  Dapatkan Buletin Gratis di sini! 

Sumber Damai

Khotbah/PA


Inspirasi

Artikel/Renungan

Kesaksian Hidup


Pelatihan

Discipleship Trainings


Lain-Lain...

Buku-buku Terbitan

Lagu dan Film

Bible Study (P.A)

Siaran Mandarin

Buletin Gratis!

Follow Us


BACA ONLINE


BACA ONLINE


KATA PENGANTAR

Perumpamaan Tentang Sahabat Pada Tengah Malam

Lukas 11:5-13 - Disampaikan oleh Pendeta Eric Chang, Montreal

Hari ini kita melanjutkan eksposisi kita akan firman Tuhan dalam Lukas 11:5-13. Di sini kita akan mempelajari satu perumpamaan Tuhan Yesus yang biasanya disebut Perumpamaan Tentang Sahabat Pada Tengah Malam. Lukas 11:5-13

Lalu kata-Nya kepada mereka: "Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara.Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan?

Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

Seorang Sahabat Sampai Tidak Terduga Pada Tengah Malam
Pertama-tama, saya ingin melukiskan gambaran perumpamaan ini kepada anda, supaya anda dapat melihatnya dengan mata pikiran anda. Apa yang disampaikan disini adalah suatu argumen rohani dari yang lebih kurang kepada yang lebih besar, apa yang disebutkan dalam Bahasa Latin, ad minorum ad majorum. Itu berarti jika suatu hal adalah benar dalam kasus yang lebih kurang, lebih-lebih lagi hal itu benar dalam kasus yang lebih besar. Itulah intinya.

Di sini adalah satu gambaran tentang seseorang yang mendapati bahwa sahabatnya sampai pada tengah malam. Barangkali anda berpikir itu waktu yang agak aneh untuk sampai. Namun hal ini tidak begitu aneh di negara-negara panas karena orang tidak mengadakan perjalanan apabila matahari berada tepat di atas kepala, khususnya di Palestina, dimana siang harinya sangat, sangat panas.

Kalau begitu, kapan mereka mengadakan perjalanan? Mereka menunggu sehingga matahari terbenam ketika hari menjadi lebih dingin pada waktu petang. Saat itulah mereka mengadakan perjalanan. Cuaca mulai menjadi lebih dingin sekitar jam enam, dan orang ini memulai perjalanannya dan tiba pada tempat sahabatnya pada tengah malam. Itulah sebabnya perumpamaan ini dipanggil "Sahabat Pada Tengah Malam" dalam banyak buku atau kamus. Orang ini dibangunkan pada tengah malam saat sahabatnya ini tiba. Saya tidak tahu apakah ia menduga kedatangannya atau tidak. Jalur komunikasi tidak terlalu bagus pada zaman itu. Masih belum ada telepon yang dapat dibel untuk berkata, "Aku akan tiba tengah malam nanti." Barangkali ia tiba-tiba saja muncul. Mungkin, ia menulis sepucuk surat tetapi pelayanan pos pada waktu itu - saya tidak tahu apakah mereka jauh lebih baik sekarang- surat itu mungkin tiba setelah sahabatnya ini telah tiba. Bagaimanapun juga, ia tiba di situ pada tengah malam.

Orang ini telah mengadakan perjalanan yang jauh dan tentu saja agak lapar sekarang, dan tuan rumah mendapati bahwa ia tidak ada roti, tidak ada makanan untuk disajikan kepada tamu yang tidak terduga ini. Besar kemungkinan tamunya ini tidak diduga karena ia tidak menyediakan makanan untuk dia. Jadi apa yang ia lakukan? Nah, ia memandang keliling dan berpikir sebentar, "Ha! Sahabatku diseberang jalan! Ia selalu menyimpan persediaan, aku akan pergi dan mengetuk pintunya." Namun tentu saja pada tengah malam anda tidak pergi dan membangunkan seluruh kampung. Lalu ia berpikir lagi, "Apa yang harus kulakukan? Apakah aku membiarkan sahabatku ini lapar sampai pagi? Atau haruskah aku pergi dan mengganggu sahabatku di seberang jalan itu?" Dan begitu, setelah memikirkannya, ia memutuskan, "Bagaimanapun apa gunanya seorang sahabat? Sahabat yang membutuhkan adalah sahabat yang sesungguhnya. Sekarang, saya membutuhkan  beberapa roti, maka saya akan mengetuk pintu sahabat saya itu. Meskipun ia telah tidur, memberikan roti kepada saya hanya memakan beberapa menit dan sesudah itu ia bisa kembali tidur. Sedangkan sahabat saya ini yang baru tiba akan kelaparan sampai pagi jika saya tidak pergi meminta roti."

Sikap Tidak Tahu Malu
Maka ia memutuskan untuk pergi dan mengetuk pintu sahabatnya itu pada tengah malam, namun ia tidak mendapatkan suatu respon yang antusias, sebagaimana dapat anda bayangkan. Kebanyakan orang bekerja agak keras dan mereka menghargai waktu tidur mereka. Seraya ia terus mengetuk pintu, sahabatnya di dalam rumah menjawab, "Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara!" Jawabannya ialah, "tidak" dalam satu kata. "Tinggalkan aku dan pergi. Kami sudah tidur, dan ini bukan waktunya untuk mengetuk pintu. Apakah kamu tidak tahu bertimbang rasa? Tahukah kamu pukul berapa sekarang?"

Tetapi ia menjelaskan dari luar pintu dengan suara yang keras yang mungkin dapat membangunkan seluruh kampung jika sahabatnya ini tidak cepat membuka pintu. Ia berkata, "Seorang sahabatku telah datang dan aku membutuhkan tiga roti." Mengapa membutuhkan tiga roti untuk seorang sahabat? Pasti ia makan seperti kuda! Tentu saja, ia mau memastikan persediaan yang cukup. Roti pada zaman itu tidak seperti roti pada zaman sekarang. Saya kira seorang yang sangat lapar dengan mudah dapat menghabiskan barangkali dua atau bahkan tiga roti tanpa banyak kesulitan. Kalau tidak, mungkin ia berpikir, "Aku akan memberi kepadanya dua. Dan sebagai tuan rumah, aku tidak bisa duduk di situ dan melihatnya makan, jadi aku harus makan sesuatu bersama dia." Ini disebut pei ke dalam bahasa Cina, artinya, anda harus makan bersama tamu yang mengunjungi anda. Itu adalah kesopanan, khususnya bagi orang Cina; tuan rumah tidak duduk dan melihat tamunya makan. Biasanya, seorang tamu merasa lebih senang jika tuan rumah makan sedikit bersamanya. Jadi, barangkali satu roti untuk dirinya sendiri, dan dua yang lain untuk sahabatnya yang baru sampai itu.

Namun tanpa berbuat apa-apa, sahabatnya dalam rumah itu berkata, "Aku dan anak-anakku sudah tidur." Gambarannya adalah sebuah rumah Palestina yang mempunyai satu kamar dan dua lantai: lantai bawah dan beberapa anak tangga menuju lantai atas. Seringkali, domba-domba, kambing-kambing, binatang-binatang peliharaan dan ayam-ayam tidur di lantai bawah, suatu ruang seperti gua dibawah lantai atas.  Dan penghuni rumah itu, orang dewasa dan anak-anak, tinggal di lantas atas. Jadi, kamarnya tidak banyak. Barangkali pada zaman itu orang lebih miskin, kita tidak tahu. Tetapi ini tampaknya seperti sebuah rumah dengan satu kamar. Mereka tidak ada tempat tidur, maka mereka tidur diatas semacam kasur dan anak-anak semuanya meringkuk bersama supaya saling memanaskan. Jika ada yang bergerak, barangkali ia akan membangunkan semua yang lain. Sebetulnya, alasan yang diberikan bahwa anak-anaknya sudah tidur bukanlah alasan yang kuat karena kebanyakan orang yang mempunyai anak tahu bahwa apabila mereka sudah tertidur, agak sulit untuk membangunkan mereka. Setidaknya tidak sehingga fajar mereka dapat dibangunkan dengan mudah. Jadi, sebetulnya itu alasan yang lemah. Pada kenyataannya, ia tidak mau menyusahkan diri untuk bangun. Ia merasa agak gemas dengan tetangganya ini yang tidak tahu malu mengetuk-ngetuk pintu pada tengah malam. Saya kira kebanyakan dari kita akan menunjukkan reaksi yang sama, bukankah begitu? Marilah kita jujur dengan diri kita sendiri. Kalau tidak, suatu hari saya akan mencobanya pada pintu anda dan lihat bagaimana perasaan anda. Tentu saja anda akan berkata, "Buat apa kamu ketuk-ketuk pintu pada tengah malam?!"

Namun orang ini yang mengetuk pintu meminta tiga roti, tidak mau begitu saja pergi. Ia terus mengetuk pintu dan berkata, "Berikan aku roti itu karena aku tidak bisa membiarkan sahabatku lapar. Bisa tak kamu bangun?" Yang di dalam rumah berkata, "Tidak," dan yang di luar ini berkata, "Ya," dan ia terus mengetuk pintu itu. Akhirnya orang yang berada di tempat tidur itu berpikir, "Nah, jika aku tidak memberi kepadanya tiga roti itu, ia akan terus mengetuk pintu itu sampai subuh dan aku tidak akan tidur sama sekali. Satu-satunya cara untuk menyingkirkan dia adalah memberikan saja tiga roti itu dan berkata, 'Ambillah dan pergi supaya aku bisa kembali tidur.'" Dan begitu dalam Lukas 11:8 dikatakan, "Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya." Sekalipun ia tidak mau memberikan roti itu demi persahabatan, ia akan memberikannya hanya untuk menyingkirkan dia. Maka ia berkata, "Berapa roti kamu mau? Apakah kamu menyebutkan tiga tadi? Nah, ambil semua! Ambil saja semua dan pergi! Aku tidak peduli berapa banyak kamu mau!" Jadi ia akan memberikannya bukan demi persahabatan karena persahabatan di dalam dunia ada batas yang tertentu yang tidak dapat dilebihi. Sikap yang tidak tahu malu seperti inilah yang menang pada akhirnya. Tuhan sedang mengilustrasikan suatu ketekunan yang pantang menerima 'tidak' sebagai jawaban.

Pokok ini dapat juga dilihat dari ayat 9 tetapi tidak terlalu jelas dalam Bahasa Indonesia. Di dalam bahasa asli, bentuk kata kerja masa sekarang terus menerus dipakai: "Mintalah terus menerus, maka akan diberikan kepadamu; carilah terus menerus, maka kamu akan mendapat; ketoklah terus menerus, maka pintu akan dibukakan bagimu." Itulah artinya dalam bahasa Yunani, dan justru itulah yang dilakukan orang ini. Ia terus menerus mengetuk sampai pintu dibuka. Ia terus menerus meminta sampai ia diberikan apa yang ia inginkan. Ia terus menerus mencari sampai ia mendapatkan tiga roti itu. Nah, itu tak tahu malu namanya! Anda bisa berkata, orang ini berkulit tebal. Namun karena ia telah memutuskan untuk mendapatkan tiga roti itu, ia tidak akan mundur sehingga ia mendapatkannya.

Tuhan Mengajar Rahasia Doa: Ketekunan Yang Tak Tahu Malu
Pertanyaan di sini ialah, apakah yang ingin diajarkan Tuhan Yesus kepada kita? Apakah Ia sedang mengajar kita untuk tidak bertimbang rasa? Apakah Ia mengajar kita untuk tidak menaruh perhatian terhadap orang lain? Apakah Ia mengajar kita untuk tidak tahu malu? Jadi lain kali anda merasa lapar pada tengah malam, dan anda membutuhkan hamburger, anda akan berkata, "Oh ya, aku akan ke rumah saudara-saudaraku. Aku akan mengetuk pintu sekalipun sudah jam dua pagi. Dan aku akan berkata, 'Pendeta itu berkhotbah tentang ajaran Tuhan mengenai sikap yang tak tahu malu. Karena itu aku di sini. Mana hamburgernya?!" Apa yang diajarkan Tuhan Yesus? Apakah pelajarannya? Ketekunan itu memang baik tetapi yang ini tampaknya sedikit berlebihan. Oleh karena itu, kita harus terus mengejar arti bagi perumpamaan ini. Apa yang ingin disampaikan oleh Tuhan Yesus melalui perumpamaan ini?

Kata kunci bagi perumpamaan ini adalah "sikapnya yang tidak malu itu", dalam ayat 8. Sebenarnya, kata ini dalam bahasa Yunani sangat menarik dan dipakai hanya satu kali dalam Perjanjian Baru. Kata benda ini tidak muncul dimanapun dalam Perjanjian Baru kecuali dalam kitab-kitab Apokrif. Secara harfiah kata ini berarti 'tak tahu malu'.

Sekalipun kata bendanya tidak muncul dalam Perjanjian Lama Yunani (Septuaginta), kata ajektipnya muncul beberapa kali. Yang menarik, kata ini tidak sekalipun mempunyai arti yang baik dalam Perjanjian Lama. Artinya tak tahu malu, atau kurang ajar. Nah, ini agak membingungkan kita. Tampaknya Tuhan sedang mendorong sikap tidak tahu malu, bukan? Apa yang ingin Tuhan Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya? Apakah Ia ingin menjadikan murid-murid-Nya orang yang tidak menaruh perhatian terhadap orang lain? Apakah Ia ingin mereka menjadi orang yang tidak bertimbang rasa? Bagaimanapun, dunia ini memang sudah dipenuhi dengan orang yang tidak bertimbang rasa. Kita tidak membutuhkan dua belas rasul lagi yang berjalan keliling mengetuk pintu orang pada tengah malam!

Dapatkah anda melihat bahwa perumpamaan ini datang segera sesudah ajaran Tuhan tentang doa? Dalam Lukas 11:2, murid-murid Yesus meminta-Nya mengajar mereka bagaimana untuk berdoa. Ia mengajarkan mereka doa yang dikenal sebagai 'Doa Bapa Kami' itu, "Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu......" Sesudah mengajar mereka Doa Bapa Kami, Yesus memberitahu mereka suatu rahasia tentang doa. Ingat bahwa perumpamaan ini berhubungan dengan rahasia doa. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa dalam doa, suatu sikap yang harus anda pelajari adalah ketekunan yang tak tahu malu. Apa artinya ini?

1. Prinsip Kebulatan Tekad
Pelajaran pertama yang ingin diajarkan Tuhan ialah sikap 'tidak tahu malu' ini, yaitu kebulatan tekad dalam doa. Dengan segera kita melihat bahwa Tuhan menunjuk kepada suatu kekurangan rohani yang besar bagi kebanyakan orang Kristen pada masa kini. Pikirkan cara anda berdoa. Apakah ada kebulatan tekad semasa anda berdoa? Apakah terdapat semacam ketekunan ketika anda berdoa, jangankan tidak tahu malu?

Maka hal pertama yang harus anda perhatikan ialah betapa pentingnya kebulatan tekad atau kegigihan dalam hal berdoa. Tidak seorangpun akan mencapai apa-apa dalam kehidupan ini kebulatan tekad. Anda tidak akan mencapai apa-apa tanpa kegigihan. Itu ialah suatu prinsip yang benar bahkan di dalam dunia. Saya pasti anda pernah menonton filem Amerika tentang seorang redaksi muda, atau, seorang pengacara muda yang mencari pekerjaan. Ia pergi ke kantor surat kabar karena ia ingin bekerja sebagai seorang redaksi, dan kepala redaksi yang bercerutu dengan kakinya diatas meja, melihat orang muda itu dan langsung mengusirnya karena ia tidak ada pengalaman. Namun ia tidak mau pergi. Ia bertekad untuk tidak menerima 'tidak' sebagai jawaban, dan berkata, "Berikan aku satu kesempatan. Aku akan buktikan kepada anda betapa bagusnya aku." Kita agak lazim mendengarkan cerita seperti ini. Atau, seorang pengacara yang mencari pekerjaan dan majikan tidak menginginkan dia. Tetapi ia bertekad untuk mendapatkan pekerjaan itu, dan akhirnya ia berhasil, dan semua orang merasa gembira. Tanpa kebulatan tekad, anda tidak akan mencapai apa-apa. Bahkan orang dunia mengetahui hal ini.

Tampaknya kepada saya orang non-Kristen memiliki lebih banyak pengertian dari orang Kristen mengenai hal ini. Saya memikirkan firman Tuhan yang berbunyi, "Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang." (Lukas 16:8) Saya melihat banyak orang Kristen yang sama sekali tidak ada kebulatan tekad. Pikirkan kehidupan doa anda sekali lagi. Kapan anda meminta sesuatu dengan tekun? Kapan anda berkata, "Tuhan, aku benar-benar membutuhkan ini demi sahabatku ini, atau saudara ini. Aku akan berpaut kepada Engkau sehingga Engkau memberikannya. Aku tidak akan menerima 'tidak' sebagai jawaban"? Barangkali anda berkata, "Itu tak tahu malu!" Benar sekali. Tetapi justru itulah yang diajarkan Tuhan.

Allah Menyukai Orang Yang Tak Tahu Malu Dalam Doa
Anda perlu mencobanya dengan Allah. Allah menyukainya. Allah menyukai orang yang mempunyai kebulatan tekad. Kita, orang Tionghua, biasanya sangat 'ke chi' (yaitu, sangat sopan). Kita berpikir, "Kita tidak boleh berkelakuan seperti ini. Tidak! Kita tidak boleh mempermalukan orang lain seperti itu. Kamu tidak boleh memperlakukan orang lain seperti itu. Itu tidak benar." Izinkan saya mengatakan kepada anda, Tuhan ingin mengubah pemikiran kita. Ia berkata, "Barangkali kamu tidak menyukainya. Barangkali orang lain tidak menyukainya karena mereka semua begitu egois. Tetapi Aku tidak egois dan Aku menyukai orang yang datang dan tekun meminta sesuatu." Itulah sebabnya dalam Yesaya 62:6-7, umat Allah didesak untuk tidak memberi-Nya ketenangan sehingga Ia menyelesaikan rencana-Nya, sehingga Ia memasyurkan Israel di seluruh dunia. Yesaya 62:6 sangat luar biasa! "Hai kamu yang harus mengingatkan TUHAN kepada Sion, janganlah kamu tinggal tenang dan janganlah biarkan Dia tinggal tenang." Terus bertekun sehingga rencana-Nya digenapi. Manusia tidak menyukai ini, tetapi Allah tidak berpikir seperti anda atau seperti saya. Pemikirannya sama sekali berbeda. Ia tidak keberatan jika anda menelepon-Nya pada jam dua pagi. Ia tidak keberatan jika anda menelepon-Nya pada jam tiga pagi. Ia tidak keberatan jika anda datang pada tengah malam dan mengetuk pintu surga. Ia tidak keberatan sama sekali. Sebenarnya, Ia menyukainya. Ia sedang mencari orang yang akan berbuat seperti itu, yang tidak membiarkan Dia tinggal tenang, yang bertekad untuk melakukan sesuatu dan tidak akan berhenti sampai diselesaikan. Pemikiran Allah sangat berbeda dari kita. Ia mengasihi orang yang tak tahu malu, yang berkata, "Tuhan, perkara ini harus digenapi dan akan digenapi. Aku memohon kepada Engkau, dan aku akan terus memohon kepada Engkau. Aku akan terus mengetuk pintu surga." Itulah yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus, "Ketuklah terus menerus dan pintu akan dibuka kepada kamu." Jika kita dapat mempelajari rahasia rohani ini, kita sedang dalam perjalanan menjadi tokoh-tokoh rohani yang besar.

Kapan kali terakhir anda meminta sesuatu dari Tuhan dengan tekun? Apakah anda meminta? Atau anda berkata, "Tuhan, sekali lagi aku meminta ini"? Dan Ia tidak menjawab. Barangkali anda berkata, "Anda lihat? Ia tidak pernah menjawab. Aku berhenti saja. Aku berdoa kepada Tuhan tetapi Ia tidak pernah menjawab doaku. Itulah sebabnya aku menyerah." Biarkan saya bertanya kepada anda, "Berapa lama anda berdoa? Apakah selama tiga puluh lima detik? Seberapa tekun anda berdoa?" Anda berkata, "Ah! Aku sudah meminta dua tiga kali." Dua tiga kali! Bayangkan, jika kita membunyikan bel, kita biasanya membunyikan dua tiga kali! Dan itu saja yang kita lakukan dalam doa! Padahal Allah mau anda meletakkan jari anda pada tombol dan menekannya disitu dan berkata, "Tuhan, aku tidak akan melepaskan jariku. Aku tidak akan lepaskan sampai pintu ini dibuka." Anda berkata, "Itu tak tahu malu! Benar-benar memalukan!" Benar! Itu tak tahu malu! Tetapi itulah yang Tuhan harapkan dari anda! Sulit untuk dimengerti, bukan? Pemikiran Allah begitu berbeda dari kita. Ia tidak bermaksud supaya anda pergi ke pintu tetangga dan membunyikan bel seperti ini. Tetapi maksud Yesus ialah, "Kamu berbuat demikian kepada Allah." Ia sedang mengajar tentang doa, ingat? Ia tahu orang lain tidak suka diperlakukan seperti itu. Ia tahu orang lain itu egois tetapi Ia berkata Allah tidak seperti itu. Sekalipun orang lain menganggap ini tidak tahu malu, namun Allah menyukainya. Anda berbuat demikian kepada Allah dan anda akan menemukan bahwa Allah benar-benar menjawab doa. Pikirkan orang seperti George Mueller. George Mueller ialah orang yang pantang menerima 'tidak' sebagai jawaban. Ia mendekati Allah untuk segala sesuatu dan ia berpaut kepada Allah, dan Allah memberi kepadanya. Begitu menakjubkan!

Di dalam Misynah (hukum lisan orang Yahudi yang dibukukan yang kemudian menjadi bagian utama Talmud), kita diberitahu tentang seorang yang disebut Onias, seorang yang sangat menarik. Josephus, seorang sejarawan Yahudi memanggilnya Onias Yang Benar. Onias ialah seorang yang sangat benar, seorang yang saleh. Nah, ini sangat penting dalam hal berdoa sebagaimana yang dikatakan oleh Yakobus dalam Yakobus 5:16, "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." Jika anda hidup di dalam dosa, satu-satunya permohonan yang dapat anda panjatkan dengan tekun adalah supaya Allah mengampuni anda dan anda tidak akan berhenti berdoa sehingga Allah mengampuni. Allah akan mengampuni jika anda benar-benar bertobat dengan cara itu. Tetapi jika anda ingin meminta perkara-perkara yang lain, sebaiknya anda memastikan anda layak untuk meminta. Ini berarti, anda harus terlebih dulu membiarkan Dia menyucikan anda oleh anugerah-Nya supaya anda diperbolehkan untuk datang kepada-Nya. Dan apapun yang anda minta dengan cara itu, anda akan menerima. Kemudian, anda akan mengalami sendiri bahwa Allah itu Allah yang hidup. Lalu, kehidupan rohani anda akan bertunas. Selanjutnya, iman anda akan bertumbuh dalam kekuatan.

Mengapa Onias menjadi begitu terkenal? Pernah sekali, terjadinya suatu musim kemarau yang panjang di seluruh tanah Israel dan tanaman menjadi kering. Di sebuah negara pertanian, jika hujan tidak turun anda akan mengalami masalah besar. Karena tidak adanya hujan yang turun, ekonomi tanah air terganggu, dan banyak orang kelaparan. Mereka datang kepada Onias Yang Benar dan berkata, "Berdoalah agar hujan turun. Tolonglah berdoa!" Onias segera menjawab, "Masukkan tempat pembakaran roti Paskah itu." Begitulah besarnya iman Onias itu. Mengapa memasukkan tempat pembakaran roti Paskah? Karena perayaan Paskah sudah menjelang apabila orang akan membakar roti Paskah dalam pembakaran roti yang dibuat dari tanah liat. Jika hujan turun, hujan akan menyebabkan pembakaran roti kembali menjadi tanah liat. Maka ia segera berkata, "Masukkan pembakaran roti Paskah itu." Tanpa meragu-ragukan apakah Allah akan menjawab atau tidak, segera ia menjawab, "Oke, kamu meminta aku berdoa untuk hujan? Kamu akan mendapatkan hujan. Masukkan pembakaran roti Paskah itu." Dan mereka memasukkan pembakaran roti Paskah. Namun masih tidak hujan.

Maka Onias keluar dan melukis satu lingkaran sekeliling dirinya dan berkata, "Tuhan, aku akan berdiri di dalam lingkaran ini siang dan malam sehingga Engkau memberikan hujan yang kami butuhkan." Dan hujan turun. Itulah sebabnya di kemudian hari ia dikenal sebagai Onias Si Pembuat-Lingkaran. Hujan turun beberapa tetes dan ia terus berdoa dan terus berdoa dan ia berkata, "Tuhan, aku tidak meminta hujan ini. Hujan ini hanya beberapa tetes. Tidak cukup!" Ia telah meletakkan jarinya pada tombol bel dan ia masih terus menekan. Karena itu, hujan mulai turun dengan lebat sekali. Hujan turun sehingga menyebabkan banjir. Dan Onias berkata, "Tuhan, aku tidak meminta ini juga. Aku meminta Engkau memenuhi tempat penampungan air dan bukan membanjiri seluruh tanah dan menghanyutkan rumah-rumah." Dan begitu hujan turun pas sesuai kebutuhan. Begitulah ceritanya dalam Misynah. Ini adalah sebuah cerita yang menarik, dan kita tidak meragukan dari sumber yang dapat kita kumpulkan, bahwa ini adalah cerita benar. Onias hidup sebelum zaman Tuhan Yesus, dan peristiwa ini terjadi kira-kira 70 S.M. Karena itu ia dikenali sebagai Onias Si Pembuat-Lingkaran.

Tetapi tentu saja, rabi yang utama pada waktu itu yang bernama Simeon ben Shetah, menganggap cara Onias berdoa dalam lingkaran seperti itu, kurang ajar dan tak tahu malu. Jadi rabi ini berkata, "Seandainya kamu bukan Onias, aku telah mengucilkan kamu karena tingkah laku yang tak tahu malu itu. Namun apa yang dapat kulakukan? Kamu adalah Onias, dan Allah menjawab doa kamu karena kamu itu seperti anak yang mendesak bapanya, dan bapa mengabulkan permintaannya."

Makanya Onias dianggap setingkat dengan Elia. Dalam Midrasy, sebuah lagi kitab orang Yahudi, dikatakan, "Tidak seorangpun dapat dibandingkan dengan Elia dan Onias Si Pembuat-Lingkaran, yang menyebabkan umat manusia melayani Allah." Apabila hujan turun mencurah kebawah, mereka melihat apa yang dilakukan Allah untuk menjawab doa Onias. Dan banyak orang berkerumun ke Bait Allah dan menyembah Allah, mengakui bahwa Dia adalah Allah yang hidup Yang menjawab doa hamba-Nya yang benar, Onias. Itulah sebabnya dikatakan bahwa tidak ada manusia yang dapat disamakan dengan Elia atau Onias, yang menarik hati manusia kepada Allah, menyebabkan umat manusia untuk melayani Allah. Anda tentu ingat bahwa Elia melakukan hal yang sama. Ia berdiri di atas Gunung Karmel dan meminta Allah menurunkan api, dan api turun menghanguskan persembahan di atas altar, dan umat Israel berpaling kepada Allah akibat dari perbuatan hamba Allah yang besar ini.

Hari ini kita membutuhkan orang seperti itu, yang menang atas Allah, seperti Yakob, yang berpaut kepada Tuhan dan berkata, "Aku tidak akan melepaskan Engkau sampai Engkau memberkati aku. Engkau bisa melakukan apa saja padaku tetapi aku tidak akan membiarkan Engkau pergi." Karena itu namanya diganti menjadi Israel, karena ia bergumul melawan Allah dan menang. Ia bergulat sepanjang malam! Kapan waktunya anda berdoa untuk sesuatu sepanjang malam? Sekali-kali cobalah dan anda akan diherankan bagaimana Allah menjawab melampaui apa yang dapat kita doakan atau pikirkan. Sukacita kehidupan Kekristenan adalah menyaksikan apa yang dapat Allah kerjakan. Menjadi seorang Kristen dan melayani Dia bukanlah semata pergi ke gereja, berbuat ini dan itu, atau berkhotbah. Semua ini adalah penting. Tetapi diatas segala-galanya adalah pelayanan doa.

Kita telah melihat pokok yang pertama yaitu kebulatan tekad rohani, sikap tidak tahu malu yang enggan menerima 'tidak' sebagai jawaban dan terus berpaut kepada Allah. Sekali lagi saya ulangi, tentu saja manusia tidak menyukai ini tetapi Allah menyukainya. Ia menyukai orang yang mempunyai kebulatan tekad rohani. Saya berharap Allah akan membangkitkan untuk kita di dalam gereja ini orang-orang yang benar-benar mempunyai kegigihan rohani.

Sikap Tidak Tahu Malu Dalam Mengejar Tujuan Hidup
Saya ingin berbicara tentang ketekunan rohani terutamanya kepada mereka yang akan dibaptis hari ini. Pertimbangkan arah hidup anda. Pikirkan dengan berhati-hati gol anda, atau tujuan hidup anda. Setelah mempertimbangkan tujuan dan gol itu, pusatkan seluruh pikiran anda padanya dengan tekun, dan berkata, "Tuhan, aku akan mengejar gol ini sampai gol ini digenapi oleh anugerah-Mu." Jika setiap orang yang dibaptis hari ini akan berbuat seperti itu, setiap orang akan menjadi tokoh rohani yang besar. Mereka akan menjadi seperti Paulus.

Paulus ialah seorang yang sangat tekun. Itulah rahasia kebesaran rohaninya. Kapan saja anda melihat kehidupan Paulus, anda dapat melihat bahwa Paulus adalah seorang yang sangat gigih. Ia menempatkan cita-citanya di depan matanya dan tidak ada apa-apa yang dapat menyebabkannya menoleh ke sebelah kiri atau kanan. Ia melangkah seperti anak panah yang terbang menuju tanda sasaran, dan tidak ada apa-apa yang dapat menghalangnya dalam perjalanan. Ingat bagaimana ia menghadapkan mukanya ke Yerusalem dan tidak seorangpun dapat menghalangnya, tidak seorangpun dapat membujuknya supaya jangan pergi. Saat ia tahu apa yang benar dihadapan Allah, apakah arahnya dan tujuannya, ia menetapkan pikirannya pada tujuan itu. Ia maju ke depan sampai tujuan itu digenapi. Saya berharap kepada Allah bahwa setiap dari kita mempelajari rahasia ini!

Banyak orang di dalam gereja seringkali mempunyai banyak niat yang baik. Tetapi, niat yang baik tidak membawa anda ke mana-mana. Adalah baik mempunyai niat yang baik tetapi banyak niat yang baik selalunya tidak pernah dipenuhi. "Aku akan membaca sedikit lebih banyak Alkitab minggu depan." Tentu saja, minggu depan anda terlalu sibuk, jadi anda menundanya ke minggu sesudah itu, dan seterusnya. Pada akhirnya, anda tidak membaca Alkitab sama sekali. "Aku akan mulai berdoa. Yah, aku pikir ini khotbah yang bagus. Aku akan mulai berdoa seperti ini tetapi aku akan mulai besok." Apabila besok datang, anda berkata, "Ah tidak. Minggu depan." Dan kemudian tahun depan, dan seterusnya. Semua ini adalah niat yang baik tetapi niat yang baik tidak pernah membawa seorangpun ke mana-mana. Yang penting adalah ketekunan rohani.

2. Prinsip Kasih dan Kepedulian Akan Orang Yang Lain
Hal yang kedua yang ingin diajarkan Tuhan Yesus kepada kita adalah karakter doa. Apakah orang ini mengetuk pintu tetangganya karena ia menginginkan roti itu untuk dirinya sendiri? Tidak, ia melakukan ini untuk orang yang lain. Motifnya adalah kasih dan kepedulian akan orang lain. Sikap inilah yang begitu  menyenangkan Allah. Sikap tidak tahu malu ini berasal dari perhatian dan kasih yang siap berbuat sesuatu untuk orang lain, meskipun berbuat sesuatu itu mungkin berarti ia perlu bertekad untuk tidak tahu malu.

Mengapa ia perlu menyusahkan dirinya menyediakan roti untuk orang ini yang datang dengan tiba-tiba? Mengapa perlu ia menyusahkan dirinya untuk berbuat itu? Ia bisa saja berkata, "Nah, aku minta maaf. Kamu sampai di tengah malam, tentu saja kamu tidak mengharapkan aku untuk menyediakan roti bagi kamu, bukan? Kamu tidak telepon, kamu tidak kirim telegram, kamu bahkan tidak menulis surat, dan tiba-tiba kamu muncul pada tengah malam. Makanya, jangan mengharapkan roti dariku. Lain kali kamu datang, pastikan kamu menulis surat terlebih dulu. Setidaknya telepon dulu sebelum toko tutup. Jadi, lain kali jangan begini lagi. Aku minta maaf, tetapi kamu pergi tidur dalam kelaparan, oke? Sayang sekali! Tetapi kamu tidak akan mati karena kelaparan, bukan? Maksud saya, sekali-kali berpuasa itu juga bagus untuk kamu."

Inilah pokok yang kedua yang diajarkan Tuhan dalam perumpamaan ini. Belajarlah untuk memperhatikan kesejahteraan orang lain. "Masalah kamu adalah masalah aku. Jika kamu tidak ada makanan, itu adalah masalah aku. Aku akan memastikan supaya kamu ada sesuatu untuk dimakan."  Sulit bagi kita untuk memiliki sikap seperti itu karena kita dilahirkan egois. Kita tidak peduli tentang orang lain. "Yang penting adalah aku, bukan kamu. Itu masalah kamu, maka kamu pergi dan selesaikan sendiri. Jika kamu mau roti, aku akan beritahu kamu siapa ada roti. Kamu pergi dan ketuk pintunya sendiri dan lihat apakah ia memberi kepada kamu atau tidak." Barangkali setiap orang akan berkata demikian. Kita harus belajar sikap untuk rela menyusahkan diri demi orang lain.  Hal ini sangat sulit untuk dipelajari. Namun kita harus terus mengejarnya. Mengapa? Karena disini Tuhan melukiskan satu gambaran yang indah kepada kita. Jika anda hidup untuk diri sendiri, jika anda hanya memperhatikan diri sendiri, anda hanya memiliki seorang yang memperhatikan anda, yaitu diri anda sendiri. Tetapi dalam membangunkan Kerajaan Allah, Tuhan Yesus mau mengubah mentalitas ini, supaya setiap orang saling memperhatikan. Itu sangat indah.

Sekarang pikirkan. Seandainya anda memperhatikan setiap orang di dalam gereja, dan setiap orang di dalam gereja memperhatikan anda. Berapa orang yang memperhatikan anda? Seluruh gereja memperhatikan anda. Sebelumnya, anda hanya memperhatikan diri sendiri, karena itu hanya ada seorang yang memperhatikan anda. Sekarang, seluruh gereja memperhatikan anda. Bukankah gereja seharusnya begitu? Jadi anda tidak perlu lagi berpikir tentang diri sendiri, orang lain yang berpikir tentang anda. Dalam pada itu, anda hanya memusatkan perhatian memikirkan tentang orang lain. Ini sangat indah! Jika kita dapat mempraktekkan ini, kita akan mulai hidup sebagaimana Yesus memaksudkan kita untuk hidup sebagai sebuah gereja. Tetapi saya masih belum melihat hal ini terwujud di dalam gereja. Saya melihat kita semua masih egois. Saya melihat bahwa kita masih hidup untuk diri kita sendiri. Barangkali kita sedikit lebih baik dari sebelumnya; kita sedikit lebih memperhatikan orang lain.

Saya sering berpikir tentang semua orang di dalam gereja yang harus saya perhatikan, apakah kebutuhan mereka dan sebagainya. Dan saya cuma dapat merintih bahwa saya tidak cukup tenaga. Saya tidak cukup tenaga maupun kekuatan, khususnya, sesudah satu program pelatihan dalam minggu itu. Sesudah itu, saya mengaku bahwa saya begitu capek sehingga semua yang dapat saya lakukan adalah berusaha untuk mengurangi ketegangan itu dari pikiran saya. Kepala saya berdenyut-denyut, seolah-olah ada yang bermain gendang di dalam. Saya merasa begitu lelah. Saya selalu merasa saya tidak dapat melakukan apa yang harus saya lakukan. Disini ada seorang saudara yang harus saya perhatikan, namun saya tidak berbuat apa-apa untuk dia. Disana ada seorang saudara lagi yang harus saya berbuat sesuatu untuknya. Banyak kali, saya berbaring di tempat tidur dan berpikir sendiri, "Aku mau berdoa untuk orang ini dan orang itu. Aku seharusnya dapat berbuat lebih untuk saudara itu tetapi aku belum. Ah! Andai saja seluruh gereja sanggup berfungsi sebagai sebuah gereja, dimana setiap orang saling memperhatikan, tanggung jawab itu tidak akan jatuh pada hanya satu orang yang berusaha untuk memperhatikan semua yang lain." Itu tidak akan berhasil. Tetapi apabila setiap orang melakukannya, sumbangan yang sedikit dari setiap orang akan menimbulkan perbedaan yang besar. Jadi disini, Tuhan Yesus menempatkan di depan mata kita prinsip saling memperhatikan di dalam Kerajaan Allah. Kita harus begitu saling mempedulikan sehingga kita rela menyusahkan diri untuk menolong seseorang, dan kalau perlu, menjadi tidak tahu malu dan bertekad untuk mendapatkan pertolongan yang diperlukan oleh orang itu. Saya rindu untuk melihat hari-hari apabila gereja mulai berfungsi seperti ini.

Berdoa Untuk Orang Lain
Umpamanya, dalam doa kita, berapa banyak kita hanya berdoa untuk diri kita sendiri? Semuanya tentang ujian saya, pekerjaan saya, studi saya, keluarga saya, ini saya dan itu saya. Marilah belajar untuk melupakan diri sendiri dan menghabiskan waktu kita berdoa untuk orang lain. Orang ini ada kebutuhan, maka berdoalah untuk orang ini. Dan orang itu ada kebutuhan, maka berdoalah untuk orang itu. Nah, apa terjadi kepada anda? Biar saya beritahu anda: jangan kuatir tentang diri anda. Allah tidak melupakan orang yang melupakan dirinya. Ini sangat penting. Anda coba melupakan diri anda dan anda akan menemukan bahwa Allah mengingat anda sepanjang waktu. Cobalah sekali-sekali. Anda tidak perlu selalu berdoa untuk diri anda, kesehatan anda, rumah anda, dan pekerjaan anda. Cobalah berdoa untuk orang lain dan belajarlah untuk melupakan diri anda itu sedikit. Semoga Allah menolong kita untuk melupakan diri kita! Tempatkan diri anda diatas altar seperti Paulus, yang berkata, "Mengenai diriku, aku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan demi kamu semua...." Anda curahkan diri anda dan Allah akan menyusahkan diri-Nya untuk memperhatikan anda. Ia akan menaruh seluruh perhatian-Nya kepada anda. Sekalipun tidak seorangpun yang mengingat, Allah mengingat. Dan betapa indahnya perhatian-Nya itu!

3. Prinsip Kejujuran Yang Absolut Dengan Allah
Ini membawa kita ke pokok yang ketiga dan terakhir. Ada tempatnya untuk sikap tidak tahu malu dalam kehidupan Kekristenan. Jangan salah memahami saya. Saya ingin menjelaskan kepada anda sebentar lagi apa yang dimaksudkan Tuhan Yesus dalam pokok yang ketiga ini.

Pernahkah anda perhatikan betapa dangkalnya hubungan kita dengan sesama manusia ? Saya seringkali menjadi sedih melihat betapa sulitnya untuk meruntuhkan tembok pemisah antara kita. Selalu ada tembok pemisah di antara kita. Apabila anda berbicara dengan seseorang, dapat dirasakan bahwa orang itu ada tembok. Tembok itu tidak semestinya disengajakan tetapi suatu tembok bawah-sadar dimana seseorang itu tampak defensif (bersikap bertahan). Mereka bertanya-tanya, "Mengapa kamu berbicara kepadaku? Apakah karena kamu inginkan sesuatu dariku?" Mengapa kita begitu takut kehilangan sesuatu? Mengapa kita begitu takut? Apakah kita akan kehilangan beberapa butir berlian yang kita simpan dalam hati kita? Hubungan kita dengan sesama manusia cenderung untuk menjadi sangat dangkal.

Dan sebaliknya kesopanan, yang berlawanan dengan sikap tidak tahu malu, dapat menjadi halangan yang besar bagi hubungan antar perorangan. Izinkan saya mengatakan kepada anda, bahwa sampai ke tingkat tertentu adalah penting untuk bersikap sopan, namun bersikap sopan dapat menjadi halangan yang besar kepada hubungan antar satu dengan yang lain. Kesopanan (atau, keabadan kita dan senyuman kita) dapat menjadi mekanisme pertahanan yang sama sekali tidak dapat ditembusi. Anda tidak tahu apa sebenarnya yang dipikirkan oleh orang itu. Kadang-kadang apabila saya memberitakan Injil, saya berharap ada orang yang langsung berkata kepada saya, "Tidak," supaya saya tahu dimana pendirian anda. Tetapi saya menjadi begitu takut dengan orang yang berkata, "Ya."

"Maukah anda ke gereja hari Minggu ini?"

"Oh, pasti! Aku akan datang ke gereja Minggu akan datang!"

Tentu saja Minggu akan datang, anda tidak melihat orang itu. Mengapa anda tidak bisa jujur dengan saya? Hanya katakan, "Aku tidak akan datang ke gereja karena alasan ini....." Atau, anda bahkan tidak perlu memberi saya alasan apapun. Hanya katakan, "Aku tidak akan datang ke gereja." Itu saja. Setidaknya saya tahu dimana pendirian anda.

Tetapi ini tidak, karena anda tidak mau menyinggung perasaan orang, maka anda berkata, "Ya. Pasti! Jam berapa kebaktian anda? Aha, jam dua. Nah, aku akan mencatatkannya. Terima kasih. Anda baik sekali."

Tetapi anda tidak pernah melihat orang itu lagi. Apa ini? Ini memanfaatkan kesopanan sebagai sarana untuk membangunkan tembok, untuk menutup jalan. Jadi, terdapat dua macam kesopanan. Ada satu yang sejati, yang berasal dari kasih. Yang satu lagi datang dengan niat untuk menutup pintu, dengan cara yang tidak melukai perasaan, tetapi mengatakan 'tidak' dengan mengatakan 'ya'.  Sifat ini sudah begitu tertanam di dalam pribadi kita sehingga hubungan kita dengan sesama manusia, bahkan sesama orang Kristen, menjadi sangat dangkal. Sangat sulit untuk kita dapat saling berkomunikasi dimana anda benar-benar tahu apa yang saya maksudkan dan saya tahu persis apa yang anda maksudkan, dimana ada kasih yang sejati diantara satu dengan yang lain, dimana tidak ada kepura-puraan, tidak ada kemunafikan dan tidak ada kesopanan yang palsu. Saya berkata kesopanan yang palsu karena ada juga kesopanan yang sejati, dan adalah benar untuk kita bersopan. 

Saya selalu memikirkan perkataan Kong Hu Cu: Jun zi zhi jiao dan ru shui. Saya tidak pernah melupakan perkataan itu. Entah berapa kali bapa saya mengutipnya kepada saya. Kapan saja saya mempunyai seorang sahabat yang sangat dekat, ia akan berkata, "Jangan terlalu dekat dengan sahabat itu sekarang. Kamu harus menjaga jarak karena Kong Hu Cu berkata, jun zi zhi jiao dan ru shui." Kalimat itu berarti, hubungan kita harus jernih seperti air; jangan seperti anggur yang mempunyai rasa yang keras dan menggairahkan. Karena itu kita harus menjaga jarak kita dengan sesama manusia, dan jangan pergi melewati itu. Itulah li, yaitu, kesopanan dalam bahasa Cina. Nah, barangkali itu benar di dalam dunia ini dimana setiap orang itu egois dan setiap orang menaikkan pagar dan melukiskan perbatasan masing-masing, tetapi bagaimana dengan gereja? Apakah kita harus selalu bersikap dangkal satu dengan yang lain?

Pengajaran Barat juga tidak berbeda. Ke mana saja saya pergi, saya melihat tanda, "Private. Keep out." ("Milik Pribadi. Jangan Masuk!") Itulah perbatasannya. Atau, "Trespassers will be prosecuted." ("Pelanggar akan dituntut ke pengadilan.") Makin lama makin menakutkan! Itu berarti, "Jaga jarakmu. Disini ada perbatasan, dan jangan kamu berani masuk. Kalau tidak, aku akan menuntut kamu ke pengadilan!" Jika saya menyusun kata-kata pada papan tanda itu dengan sopan, akan tertulis pada papan itu, "Private."  Kurang sopan sedikit, "Private. Keep out." Atau, lebih kurang sopan lagi, "Beware of dogs." ("Berjaga-jaga dengan anjing.") Jadi kita menemukan situasi yang sama dimana-mana di seluruh dunia ini. Kita tidak ingin orang lain terlalu mendekati karena kita merasa tidak aman. Kita tidak tahu apa yang mereka inginkan dari kita. Kita berpikir, "Barangkali ia akan mengetuk pintu aku pada tengah malam untuk meminta roti jika aku terlalu bersahabat dengan dia. Tidak, aku bukan tipe yang ini. Aku tidak suka kelakuan seperti ini."

Tetapi Allah menghendaki supaya kita membangunkan suatu hubungan yang sangat dekat antara satu dengan yang lain. Ia ingin supaya kita mendekati satu dengan yang lain, bersikap ikhlas satu dengan yang lain, berbicara jujur satu dengan yang lain, tidak bersikap bertahan satu dengan yang lain, dan rela mencurahkan diri kita satu kepada yang lain. Begitu sulit, bukan? Begitu sulit, namun itulah ideal yang Tuhan lukiskan dihadapan kita. Lebih dari itu - perumpamaan ini mengungkapkan pikiran Allah kepada kita - Ia menghendaki kita supaya datang kepada-Nya dengan cara ini, jujur dan terbuka, tanpa kesopanan yang palsu.

Seringkali kita berbicara kepada Allah seolah-olah kita berbicara kepada bos kita di kantor. Bagaimana kita berbicara dengan bos kita? Kita masuk ke dalam kantornya dengan satu senyuman yang naik ke atas sampai telinga, dan tentu saja kita memamerkan tingkah laku yang terbaik. Kemudian kita berkata, "Bos, engkau baik-baik hari ini?' Kita mempunyai hubungan yang baik dengan bos itu, dan kita mengatakan hal-hal yang suka didengarnya. Kita berkata kepada dia, "Jas yang engkau kenakan itu bagus sekali! Apakah dasi engkau itu Christian Dior? Apakah engkau yang membelinya? Engkau mempunyai selera yang tinggi!" Kita harus menepuk-nepuk bos kita di punggungnya supaya kita dapat naik pangkat, dan naik gaji. Dan betapa seringnya kita melakukan hal yang sama kepada Allah. Kita datang kepada-Nya seperti menghadap Bos Besar dan kita berusaha untuk memberitahu Allah hal-hal yang menyenangkan-Nya. "Allah, Engkau begitu ajaib, sungguh." Namun di dalam hati kita, kita berkata, "Ada ini, itu dan waktu yang lain Engkau tidak memberikan apa yang aku inginkan." Namun kita melanjutkan, "Tetapi bagaimanapun Allah, Engkau begitu baik. Disini aku, Tuhan. Engkau memberikan hari yang indah hari ini. Apakah Engkau juga akan memberikan hari yang indah besok?" Dan seterusnya. Doa kita begitu dangkal. Doa yang bagaimana ini? Allah tidak mau kita bermain-main dengan Dia. Katakan saja apa yang anda maksudkan, terus-terang langsung ke pokok persoalan yang sebenarnya.

Ia lebih suka anda berurusan dengan Dia dengan cara yang tidak tahu malu, dan gigih. Habakuk adalah seperti itu. Ia berkata, "Tuhan, mengapa Engkau berbuat seperti ini? Aku benar-benar tidak mengerti mengapa Engkau melakukan ini. Dan aku akan berdiri disini Tuhan, dalam segala hormat, sehingga Engkau memberikan aku jawaban yang aku pinta." Nah, itu sangat berani. Tetapi itu adalah keberanian  rohani. Allah hendak supaya kita datang kepada-Nya dengan hormat, tetapi juga dengan tekad. Ia mau supaya kita gigih, dan sama sekali jujur. Marilah kita berdoa kepada Allah dalam segala kejujuran. Janganlah berpikir bahwa Allah itu seperti orang lain. Ia adalah Allah. Ia melihat ke dalam hati. Ia tahu apa yang kita pikirkan. Janganlah berpura-pura, dan marilah berbicara kepada-Nya hati ke hati. Betapa menyenangkan! Saya yakin anda mempunyai seorang sahabat karib. Tahukah anda mengapa sahabat itu begitu dekat dan mengapa anda menikmati waktu-waktu bersama sahabat itu? Karena anda tidak perlu berpura-pura di hadapan orang itu. Anda bisa santai. Anda bisa menunjukkan dirimu yang sebenarnya. Anda bisa mengatakan apa saja yang ada dalam pikiran anda karena dia seorang sahabat. Anda tidak dapat berbuat seperti itu dengan setiap orang tetapi anda dapat berbuat seperti itu dengan sahabat anda. Itulah yang diinginkan Allah. "Datanglah kepada Aku dan anggaplah Aku sebagai seorang Sahabat." Itulah yang dikatakan oleh Tuhan.

Pergi Kepada Seorang Sahabat Demi Seorang Sahabat
Itulah sebabnya cerita itu dimulai dengan cara ini: seseorang pergi kepada seorang sahabat demi sahabatnya yang lain. Intinya ialah "kepada seorang sahabat demi seorang sahabat." Ingatkah anda bahwa dari permulaan, saya berkata bahwa perumpamaan ini menyampaikan satu argumen rohani, bahwa jika suatu perkara itu benar dalam kasus yang lebih kurang, betapa lagi perkara itu benar dalam kasus yang lebih besar? Tuhan Yesus berkata kepada kita disini, "Anggaplah Aku sebagai Sahabatmu. Datanglah kepada-Ku dan jangan malu-malu meminta dari-Ku apa yang dibutuhkan oleh sahabatmu yang lain itu." Keduanya adalah sahabat. Anda benar-benar mengasihi kedua-duanya. Anda mengasihi Allah dan anda mengasihi sesama manusia. Jika kita dapat menguasai rahasia ini, kita akan bergerak jauh dalam kehidupan rohani ini karena inilah kehendak Allah bagi kita. Saya berharap kepada Allah kita mengenal kasih semacam ini yang mengatasi rasa malu. Dan begitu di dalam Ibrani 12:2 kita membaca, "Yesus,.....yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia." Demi kita,  Yesus rela menanggung rasa malu. Mati diatas kayu salib sangatlah memalukan. Siapa yang rela mati diatas kayu salib atas pilihan sendiri? Jika anda ingin menyelamatkan muka anda, anda tidak mau disalibkan. Kayu salib itu khusus untuk perampok, untuk penjahat, untuk pembunuh. Jadi apakah yang rela anda tanggung demi seorang sahabat? Barangkali tidak banyak. Tetapi Yesus rela "mengabaikan rasa malu," rela menanggung kehinaan demi keselamatan kita. Dapatkah kita membagi mentalitas ini juga demi sahabat-sahabat kita, dan berkata, "Aku rela bersikap tak tahu malu demi kesejahteraannya"? Marilah kita datang kepada Allah dengan cara ini dan mengubah cara kita berpikir tentang Dia.

Sekarang kita akan meringkaskan dan sesudah itu, kita akan tutup.

Ringkasan

  1. Pokok yang pertama yang kita pelajari dari ajaran Yesus yang ajaib ini adalah: bahwa kita membutuhkan kegigihan rohani, yaitu kegigihan rohani yang tidak tahu malu. Jika anda dapat melakukan itu, anda akan menjadi tokoh rohani yang besar. Banyak diantara kita masih mengingat Sundar Singh, hamba Allah yang besar dari India itu. Ia tidak mengenal Allah, tetapi ia berkata, "Tuhan, aku merayu kepada Engkau untuk menyatakan diri-Mu kepadaku. Aku harus mengenal Engkau supaya aku dapat hidup untuk Engkau. Jika Engkau tidak menyatakan diri-Mu kepadaku, aku lebih baik mati daripada melanjutkan begini." Dan Allah menyatakan diri-Nya. Itulah kegigihan rohani. Allah menyukai orang semacam ini. Jika anda berdoa seperti ini, Ia pasti akan menjawab doa anda. Lalu anda akan mengalami-Nya sebagai Allah yang hidup.

  2. Pokok yang kedua adalah komitmen kita satu kepada yang lain. Kita rela menanggung rasa malu demi seorang saudara laki-laki atau saudara perempuan. Mengapa tidak menerima sedikit penghinaan jika perlu demi kesejahteraan saudara kita? Pikullah sedikit penderitaan demi orang lain. Bagaimanapun, pertimbangkanlah apa yang telah dipikul Tuhan demi kita.

  3. Dan akhirnya, ubahlah hubungan kita dengan Allah. Datanglah kepada Dia dalam segala kejujuran, tanpa kepuraan-puraan sama sekali. Berbicaralah kepada Dia apa saja yang ada di dalam hati anda. Jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan anda, beritahu Dia. Jangan berpidato kepada Allah; Ia tidak mau mendengar semua itu. Beritahu saja apa yang ada di dalam hati anda. Jika anda tidak senang tentang sesuatu, katakan, "Tuhan, aku benar-benar tidak senang karena ini. Aku tidak senang. Aku tidak mengerti mengapa harus begitu." Saya pernah membagikan dengan kalian bahwa, ketika ibu saya meninggal, saya benar-benar marah dan terganggu karena menurut saya ibu saya mempunyai potensi yang besar untuk melayani Tuhan. Ibu saya mempunyai kemampuan menulis yang luar biasa. Saya menaruh pengharapan bahwa setelah ibu saya datang kepada Tuhan, ia akan dipakai Tuhan untuk melayani-Nya meskipun ia baru bertobat.  Tiba-tiba Tuhan mengambilnya. Ia meninggal dunia. Saya menderita sekali di hadapan Tuhan. Saya berkata, "Tuhan, aku tidak senang akan hal ini. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang telah Engkau lakukan. Aku benar-benar terganggu karena ini." Saya menangis di hadapan Tuhan, dan saya terganggu karenanya, dan saya memberitahu-Nya itu. Saya tidak mengatakan kata-kata yang sedap didengar kepada-Nya. Saya mencurahkan hati saya dalam kepedihan dan kesedihan dan bahkan dalam sedikit kemarahan. Saya mengaku merasa sedikit marah. Namun Allah menaruh belas kasihan. Sementara saya terus berpaut kepada Tuhan, tidak dapat tidur pada waktu malam ketika saya memikirkan pertanyaan itu, Tuhan menjawab dan menghiburkan hati saya. Karena itu marilah kita datang kepada Tuhan dengan cara ini. Saya pikir banyak orang Kristen perlahan-lahan kembali ke jalan yang lama karena mereka tidak pernah belajar untuk jujur bersama Allah. Mereka mengucapkan hal-hal yang tidak mereka maksudkan. Mereka berurusan dengan Allah seperti mereka berurusan dengan orang lain. Mereka tidak memberitahu-Nya apa yang mereka rasakan, dan ini memperburukkan situasi. Mereka membotolkannya di dalam diri mereka dan segera mereka merusakkan hubungan itu sama sekali. Datanglah kepada Dia, beritahu Dia kenyataan yang ada di dalam hati anda itu dan berdoalah dengan tekun. Dan anda akan melihat betapa baiknya Allah itu.

Mari kita tutup dalam doa.

[Download]


Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.

Standard
Besar
Terbesar

Perumpamaan:

Perumpamaan tentang Kantong Kulit yang Lama dan yang Baru

Mat 13:3-23 Perumpamaan tentang Seorang Penabur Benih I

Mat 13:1-9 Perumpamaan tentang Penabur - Dari Sudut Pandang Keselamatan

Perumpamaan tentang Pelita

Perumpamaan tentang Benih yang Tumbuh dengan Sendirinya

Perumpamaan tentang Lalang di antara Gandum

Perumpamaan tentang Benih Sesawi

Perumpamaan tentang Harta yang Terpendam

Perumpamaan tentang Mutiara

Perumpamaan tentang Ragi

Perumpamaan tentang Pukat

Perumpamaan tentang Ahli Taurat yang Menerima Pelajaran tentang Hal Kerajaan Surga

Perumpamaan tentang Orang Kaya yang Bodoh

Perumpamaan tentang Orang Samaria yang Murah Hati

Perumpamaan tentang Pohon Ara yang Mandul

Perumpamaan tentang Sahabat pada Tengah Malam

Perumpamaan tentang Tamu-tamu

Perumpamaan tentang Pesta Perjamuan Besar I

Perumpamaan tentang Pelita Diatas Kaki Dian

Perumpamaan tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 1

Perumpamaan tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 2

Perumpamaan tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 3

Perumpamaan tentang Domba yang Hilang

Perumpamaan tentang Uang Dirham yang Hilang

Perumpamaan tentang Anak yang telah Mati dan Hidup Kembali

Perumpamaan tentang Dua Anak yang Hilang

Perumpamaan tentang Bendahara yang Tidak Setia

Perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus

Perumpamaan tentang Hamba yang Tidak berguna

Perumpamaan tentang Hakim yang Tidak Adil

Akankah Yesus mendapati iman di Bumi? I

Akankah Yesus mendapati iman di Bumi? II

Perumpamaan tentang orang Farisi dan Pemungut cukai

Perumpamaan tentang Uang Mina

Perumpamaan tentang Hamba yang Tidak Mengampuni

Para Pekerja di Kebun Anggur - Bagian Pertama

Para Pekerja di Kebun Anggur - Bagian Kedua
Prinsip tentang yang terdahulu dan yang terakhir

Perumpamaan tentang Pohon Ara

Perumpamaan tentang dua orang anak

Perumpamaan tentang Para Penggarap Kebun Anggur yang Jahat

Perumpamaan tentang Perjamuan Kawin

Perumpamaan tentang Pesta Perjamuan Besar 2

Perumpamaan tentang 10 Gadis-gadis yang Bijaksana & Bodoh

Perumpamaan tentang talenta

Pemisahan antara Kambing dan Domba 1

Pemisahan antara Kambing dan Domba 2

Perumpamaan tentang Kedatangan Yesus yang kedua

Copyright 2003-2014. Semua materi di situs ini adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries.
E-mail kami untuk mendapatkan izin untuk menggunakan materi di situs ini.
Best viewed with IE6.0 and 1024 by 768 resolution.