| Saran & Komentar | updated on 31 July 2014

Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan

Halaman Utama

  |  Tentang Kami

  |  Hubungi Kami

  |  Izin Pemakaian Materi 

  |  Dapatkan Buletin Gratis di sini! 

Sumber Damai

Khotbah/PA


Inspirasi

Artikel/Renungan

Kesaksian Hidup


Pelatihan

Discipleship Trainings


Lain-Lain...

Buku-buku Terbitan

Lagu dan Film

Bible Study (P.A)

Siaran Mandarin

Buletin Gratis!

Follow Us


BACA ONLINE


BACA ONLINE


KATA PENGANTAR

Perumpamaan tentang Harta yang Terpendam

Matius 13:44 - Khotbah oleh Pastor Eric Chang

     

Tak henti-hentinya saya dibuat kagum ketika mempelajari firman yang disampaikan oleh Yesus karena begitu kaya makna yang disampaikan dalam satu ayat. Sekalipun perumpamaan tentang harta terpendam ini diucapkan hanya dengan memakai satu ayat, tetapi terdapat makna yang begitu kaya di dalamnya. Penyampaian perumpamaan ini begitu tepat dan jelas!

Inilah yang disampaikan Yesus di Matius 13:44.

Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu

Yesus berkata bahwa hal kerajaan Surga itu seperti orang ini yang sedang berjalan melintasi ladang. Mungkin ia bekerja di sana atau mungkin pula sekadar melewatinya. Hal ini tidak diberitahukan kepada kita.

Kita anggap saja dia hanya sekadar melintas di ladang itu. Ketika sedang berjalan, ia melihat ada sebuah benda yang terlihat seperti batu karang, atau mungkin batu, namun benda ini jauh lebih halus ketimbang karang atau batu. Ia mulai tertarik dan mendekati untuk mengamatinya. Apa yang ia temukan? Bukannya batu karang atau batu biasa. Akan tetapi sebuah guci, wadah dari tanah liat. Dan orang ini segera menyadari apa artinya penemuan itu.

Mengapa guci atau bejana tanah liat yang dipakai sebagai wadah untuk memendam harta di dalam tanah? Pada zaman itu, bejana tanah liat dipakai untuk menyimpan harta kekayaan yang biasanya berupa koin, baik emas maupun perak, batu permata, serta barang berharga lainnya. Barang-barang itu dimasukkan ke dalam guci, yang sering dipakai sebagai wadah penampungan air. Karena kedap air dan cukup kuat, maka sebuah guci tanah liat dapat dipakai sebagai wadah untuk menyimpan barang apapun dan melindunginya dari kelembaban serta cuaca. Dan koin-koin atau batu-batu permata itu dapat disimpan dengan aman di dalam guci, yang kemudian ditutup rapat dan dikubur.

Pada zaman itu belum ada bank di mana kita bisa menyimpan kekayaan dalam kotak safe deposit. Apa yang dapat dilakukan oleh orang zaman dulu jika mereka ingin menyimpan sebagian kekayaannya? Mereka tidak dapat pergi ke bank, sebagaimana yang biasanya kita lakukan di sekarang. Lalu apa yang mereka lakukan?

Nilai uang tidak pernah dapat bertahan. Di tengah inflasi (penurunan daya beli dari uang atau kenaikan harga-harga) yang tiada akhir ini, sangatlah berbahaya bagi kita jika menyimpan kekayaan dalam bentuk uang. Jadi, biasanya orang membeli barang-barang berharga yang nilainya tetap tinggi, misalnya emas. Anda tentunya sudah tahu bahwa harga emas cenderung naik terus. Sementara daya beli uang cenderung turun terus. Selalu saja turun, sehingga akhirnya orang tidak lagi percaya kepada uang. Jadi orang menukarkan uangnya dengan barang-barang berharga seperti batu permata dan emas sebagai investasi mereka. Nilai dari barang-barang berharga itu dapat saja turun untuk sementara, namun dalam jangka panjang harganya selalu naik. Dengan demikian orang tidak kehilangan nilai kekayaannya. Terlebih lagi, barang-barang itu mudah untuk dibawa ke mana-mana. Jika Anda membeli rumah, Anda tidak dapat membawanya sesuka hati Anda. Anda dapat tinggal di dalamnya, akan tetapi penduduk di Palestina pada zaman itu pada umumnya tidak mau berinvestasi dalam bentuk rumah, khususnya karena di sana seringkali terjadi perang. Jika Anda membeli rumah, lalu terjadi perang, Anda akan rugi besar jika musuh membakar rumah Anda. Orang tidak berinvestasi dalam bentuk properti selama ada perang. Jika Anda pernah hidup di tengah masa peperangan, Anda akan mengerti betapa tidak berharganya rumah pada saat seperti itu. Tidak ada orang yang mau membeli rumah karena malah akan menjadi beban buat mereka. Jika musuh membom rumah Anda atau jika terjadi pertempuran di sekitar rumah Anda, maka segalanya akan berantakan. Namun, Anda juga tidak akan menyimpan kekayaan dalam bentuk uang. Orang yang tinggal di Shanghai ketika terjadi serbuan Jepang merasakan hal ini. Pada saat Anda menerima gaji, sebaiknya Anda segera bergegas mendatangi penukar uang dan menukarkan uang kertas Anda dengan uang perak. Jika Anda tidak melakukan hal ini, uang Anda akan menjadi setumpuk kertas yang hanya dapat dipakai untuk membeli sepotong roti. Dan kenyataannya, Anda memang digaji dengan sekoper uang kertas, uang yang harus segera ditukar dengan uang perak atau uang emas. Jika uang kertas Anda sempat ditukar dengan koin emas, maka nilai gaji Anda aman. Namun penukar uang biasanya cepat sekali kehabisan koin emasnya. Jadi Anda harus menukarkan uang gaji Anda dengan barang-barang berharga lainnya.

Di dalam perumpamaan ini, orang-orang pada zaman itu melakukan hal yang sama: mereka berusaha mengamankan kekayaannya baik dari segi nilai maupun fisik dalam bentuk barang berharga yang dikubur dalam bejana tanah liat. Mereka menguburkan harta itu di ladang mereka. Tentu saja mereka perlu untuk mengingat secara persis di mana harta itu dikubur. Biasanya dengan memakai suatu patokan khusus - misalnya, 20 atau 30 langkah ke arah tertentu dari sebatang pohon ek. Akan tetapi, jika kemudian pohon tersebut ditebang oleh orang lain, si pemilik harta akan mendapat masalah besar dalam mengingat-ingat di mana letak hartanya disimpan karena patokannya arahnya sudah hilang. Ini adalah penyebab mengapa ada banyak harta terpendam pada jaman itu - harta yang tidak dapat lagi dilacak oleh pemiliknya. Si pemilik mungkin sudah terbunuh dalam peperangan atau ditawan ke tempat lain, suatu hal yang sering menimpa orang Yahudi pada zaman itu. Ada pula yang mengubur hartanya dan tidak memberitahukan kepada orang lain. Ketika ia jatuh sakit dan mati, atau terbunuh, maka tidak ada orang lain yang tahu di mana hartanya. Harta-harta terpendam itu sangat sering ditemukan oleh para ahli arkeologi. Di zaman sekarang ini pun, kadang kala orang awam yang sedang menggarap ladangnya dapat saja menemukan harta terpendam itu. Kadang-kadang, buldoser yang sedang meratakan tanah di Israel secara tidak sengaja membongkar guci atau penyimpanan harta yang mungkin saja berisi koin emas kekaisaran Romawi atau barang-barang berharga lainnya.

Yesus bercerita tentang kejadian yang sudah umum terjadi pada zaman itu. Sekarang, tidak ada orang yang mau menyimpan hartanya dengan cara seperti ini. Pada zaman itu, hal ini sering terjadi, orang yang bekerja di sebuah ladang menemukan harta terpendam.

Kita kembali pada perumpamaan semula, orang ini sedang berjalan di ladang. Cukup sering terjadi, ketika hujan turun dan membasuh bumi, bagian atas dari guci itu muncul di permukaan tanah. Dan seseorang bisa saja secara kebetulan melihatnya, sesuatu yang terlihat secara sepintas seperti batu karena guci tanah liat dalam keadaan begitu akan terlihat seperti batu. Jika Anda berkunjung ke Palestina, Anda akan menjumpai banyak sekali pecahan tembikar di mana-mana. Orang ini melihat ada bagian guci yang menyembul di tanah dan mengamatinya lebih dekat. Ia dapati bahwa benda itu adalah guci yang tertutup rapat, dan ia tahu apa arti penemuannya itu. Ini adalah harta terpendam!

Kita juga dapat saja membayangkan bahwa orang ini sedang bekerja di ladang tersebut. Ketika ia sedang membajak ladang, bajak itu terantuk sebuah benda keras. Walaupun orang lain mungkin saja mengira bahwa itu hanya sebuah batu, akan tetapi ia berhenti dan mengamati, dan mendapatkan harta terpendam itu. Secara alami, ia akan sangat senang karena ini bukanlah perkara yang dapat terjadi setiap hari. Jadi ia kemudian menjual segala miliknya dan membeli ladang itu.

Tentu saja muncul beberapa pertanyaan di dalam benak kita. Mengapa tidak langsung digali dan diambil saja harta itu? Memang betul, menggali dan mengambilnya (guci itu tidak tertanam dalam dan sebagian sudah di permukaan tanah) tidak membutuhkan banyak usaha. Hanya perlu waktu sebentar saja, namun Anda akan terkena masalah hukum. Menggali ladang orang adalah suatu tindak pelanggaran hak milik orang lain dan Anda dapat dituntut ke pengadilan karenanya. Terlebih lagi, jika Anda tertangkap sedang menggali guci itu, si pemilik ladang selain dapat menuntut Anda dengan tuduhan menyerobot ladang orang lain, juga berhak menuntut hak pemilikan atas harta terpendam itu, dan Anda terpaksa merelakannya. Ini karena Anda memang tidak berhak untuk mengklaim harta tersebut selama ladang itu menjadi milik orang lain.

Jika Anda sudah memahami permasalahan hukumnya. Jadi kita dapat memahami mengapa orang itu tidak langsung saja menggali harta itu dan membawanya. Jika ia segera menggali dan membawanya maka orang akan menanyakan dari mana harta itu berasal, dan ia harus menjelaskannya, dan ia akan mendapat masalah karena sudah menyerobot ladang orang lain. Pertanyaan yang muncul adalah siapa yang memberinya hak untuk menggali di ladang itu? Di situlah sumber persoalannya, yaitu masalah penyerobotan lahan dan mungkin juga tuduhan mencuri.

Akan tetapi, masih ada sisi lain dari persoalan ini. Apakah harta itu tidak secara otomatis menjadi milik pemilik ladang? Ini adalah sisi hukum yang harus kita pelajari untuk dapat memahami perumpamaan ini. Di bawah hukum Yahudi, harta itu tidak otomatis menjadi milik orang yang empunya ladang, karena ketika ia membelinya, yang ia beli adalah ladangnya. Karena ia tidak tahu apa yang terdapat di sana, ia tidak dapat membeli sesuatu yang tidak diketahuinya berada di sana. Anda tidak dapat mengklaim harta itu sebagai milik Anda jika Anda tidak tahu bahwa harta itu memang ada di sana. Begitulah ketetapan hukum Yahudi mengaturnya. Dengan demikian, harta ini tidak otomatis menjadi milik orang yang empunya ladang sampai ia sendiri menemukannya.

Di dalam hal ini, karena ladang itu secara resmi masih menjadi milik orang lain (dijelaskan dari fakta bahwa si penemu harta lalu membeli ladang itu), maka jelaslah bahwa tindakan yang diambil oleh orang ini dalam rangka mendapatkan harta itu dilakukannya sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Ia tahu bahwa harta itu tidak menjadi hak si pemilik ladang, tetapi ia juga tahu bahwa ia tidak boleh begitu saja menggali lalu mengambil harta itu. Kadang-kadang jalur pematang memang melintasi ladang, sebagaimana yang dapat Anda perhatikan dari keterangan di dalam Alkitab. Sebagai contoh, murid-murid berjalan di ladang gandum dan mereka memetik bulir-bulir gandum untuk dimakan, sesuatu hal yang diperbolehkan menurut hukum Yahudi. Anda boleh berjalan melintasi ladang, akan tetapi Anda tidak boleh menggarap ladang itu. Dan menggali harta di ladang orang termasuk tindakan menggarap ladang orang tanpa izin. Jadi, satu-satunya cara yang sesuai aturan agar dapat memperoleh harta tersebut adalah dengan membeli ladangnya. Tidak ada cara yang lain lagi. Jika kita sudah memahami dasar aturan ini, maka tindakan yang diambil oleh orang tersebut dengan mudah dapat kita pahami. Orang tersebut mendapatkan harta terpendam ini dengan cara yang patut dan sesuai aturan.

Prasangka-prasangka akan Menghalangi Pemahaman kita

Apa yang sedang disampaikan oleh Yesus kepada kita? Hanya ada dua cara untuk dapat memahami arti perumpamaan ini. Pertama, harta itu kita artikan sebagai Yesus dan kita adalah orang yang menemukannya - di ladang, yang adalah gambaran dunia. Atau, yang kedua, kitalah harta terpendam itu dan Yesus menjadi orang yang menemukan harta itu di ladang - di dunia. Penjelasan yang mana yang benar?

Saya ingin menegaskan bahwa pemahaman Alkitab bukanlah masalah selera atau pendapat. Firman Allah tidak dapat diputuskan dengan pendapat, ada yang senang dengan penjelasan yang ini sementara yang lain memilih penjelasan yang itu. Ada prosedur yang ketat dan baku di dalam mempelajari Firman Allah. Sama halnya dengan memahami surat-surat resmi, tidak boleh diartikan berdasarkan pendapat pribadi. Ada aturan baku untuk memahami suatu pernyataan hukum. Demikian pula dengan Alkitab. Pemahaman Alkitab bukanlah perkara tebak-tebakan ataupun selera.

Kecenderungan umum yang berlaku sekarang ini adalah mengartikan harta terpendam itu sebagai Yesus, dan kita adalah orang yang menemukan harta itu. Saya dulu sempat mengira bahwa ini adalah pandangan yang tepat. Namun sesudah mempelajari dan menganalisa perumpamaan ini lebih lanjut, saya dapati bahwa saya harus menolak pandangan ini. Saya akan memberitahukan Anda alasan-alasannya dan menyerahkan penilaiannya ke tangan Anda. Anda akan melihat nanti bahwa bukti-bukti yang ada sedemikian kuatnya sehingga Anda tidak akan mengatakan bahwa penjelasan yang saya ajukan nanti didasari oleh selera ataupun pendapat pribadi. Saya sendiri sempat bertanya-tanya, mengapa hal ini tidak saya lihat sebelumnya? Ini terjadi karena kuatnya prasangka yang ada di dalam hati kita. Kadang kala prasangka atau mungkin juga ajaran yang kita terima di masa lalu menghambat pemahaman kita akan Firman Allah.

Pada saat saya mempelajari perumpamaan ini, saya membuang prasangka di dalam hati dan meneliti kedua pandangan ini secara cermat dan jujur agar dapat sampai pada kesimpulan yang benar. Saya berkata pada diri sendiri, "Saya tidak akan memihak. Saya tidak keberatan, pandangan manapun yang akan terbukti benar nantinya. Saya hanya ingin memperoleh pemahaman tentang apa yang disampaikan dalam Firman Allah. Saya tidak memihak pada siapa-siapa dalam hal ini. Biarlah Tuhan saja yang berbicara langsung ke dalam hati saya dan semoga hati saya terbuka sepenuhnya sehingga saya boleh mendengarkan apa yang ingin Tuhan sampaikan." Dan hasilnya sangat mengejutkan, saya melihat bahwa prasangka yang ada di dalam hati saya ternyata lebih besar dari yang saya duga sebelumnya.

Mari kita mulai dengan meneliti pandangan bahwa harta terpendam ini adalah Yesus, dan kita adalah orang yang menemukan harta itu. Baru-baru ini saya mencoba untuk mengangkat lagi pandangan ini tetapi tidak bisa. Macet. Itulah hal yang saya alami berkaitan dengan Firman Allah: jika suatu pandangan sudah jelas-jelas salah, maka pandangan itu langsung macet. Dan Anda harus maju dengan membabi-buta jika ingin terus memaksakan pandangan tersebut karena memang tidak ada kecocokan dengan makna sebenarnya. Mari saya jelaskan apa yang saya maksudkan.

Kesulitan yang muncul sangatlah besar jika kita menerima pandangan bahwa Yesuslah harta terpendam itu. Pertama, perumpamaan ini akan memiliki kesamaan makna dengan perumpamaan yang selanjutnya- perumpamaan tentang mutiara. Ini berarti dua perumpamaan ini merupakan pengulangan dari suatu pokok pembahasan. Mengapa Yesus melakukan hal seperti ini? Apakah Yesus orang yang gemar bertele-tele? Itu adalah poin yang pertama. Akan tetapi hal ini tidak terlalu menjadi masalah. Bahwa Yesus gemar mengulang-ulang suatu pokok pembahasan, itu adalah hal yang mungkin. Ia memiliki kebebasan, hak untuk berbicara seperti itu jika ia mau. Jadi poin ini bukanlah masalah besar walaupun dapat saja menimbulkan keberatan dari segi pemahaman Alkitab, karena sebagaimana yang saya pahami selama ini Yesus bukanlah pribadi yang gemar berbicara secara bertele-tele.

Kedua, mari kita perhatikan apa makna dari ladang itu. Hanya dalam beberapa ayat sebelumnya, di Matius 13:28, kita mendapati bahwa arti ladang adalah dunia. Dengan demikian, berdasarkan pandangan pertama ini, berarti Yesus tersembunyi di dunia ini. Makin Anda coba untuk memahami lewat pandangan ini, semakin nyata kerancuannya. Kita tahu bahwa Allah tidak menyembunyikan Yesus di dunia. Jika Yesus adalah harta terpendam, berarti ada orang yang memendam harta itu. Dengan demikian, orang yang memendam harta itu pastilah Allah. Namun apakah Allah akan menyembunyikan Yesus di dunia? Ketika Anda pertama kali mendengarkan uraian ini, mungkin Anda akan berpikir bahwa Yesus disembunyikan di dunia ini adalah hal yang masih masuk akal, akan tetapi Anda akan menolak hal ini jika Anda sudah melihat penjelasan alkitabiahnya.

Allah tidak menyembunyikan Injil ataupun keselamatanNya. Karena Ia ingin agar kita semua diselamatkan, untuk apa Allah menyembunyikan rencana keselamatanNya? Yesus adalah Juruselamat. Dapatkah Anda menemukan pengajaran di dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Yesus bersembunyi di dunia ini? Saya sendiri tidak dapat.

Beberapa komentator berkata, untuk alasan yang tak terjelaskan, Allah menyembunyikan kerajaanNya di dunia ini. Namun Paulus berkata bahwa jika Injil itu tersembunyi, itu bukan karena Allah menyembunyikannya, namun karena ilah zaman ini membutakan mata mereka yang akan binasa (2 Kor.4:3-4). Jadi kita tidak boleh mengaitkan pekerjaan Iblis kepada Allah. Jika ada aspek kerajaan Allah yang tersembunyi, maka itu terjadi bukan karena Allah menyembunyikannya. Iblislah yang menyembunyikan kerajaan tersebut dari mata kita dengan jalan membutakan kita. itulah yang diajarkan Alkitab kepada kita. Tidak pernah disebutkan bahwa kerajaan Allah disembunyikan dengan sengaja oleh Allah. Yesus datang ke dunia untuk menjadi terang dunia, matahari yang menerangi dunia (Yoh.8:12). Ia datang untuk menyatakan terang Allah, bukan untuk menutupiNya. Dan terang dunia tidak disembunyikan. "Tidak ada orang yang menaruh pelitanya di bawah gantang. Aku tidak menyalakan pelita untuk disembunyikan namun untuk menyatakan terang, menerangi mereka yang di dalam rumah," demikian kata Yesus.

Yesus tidak akan Pernah dapat Disembunyikan

Sekalipun Yesus kadang menghindari orang banyak, namun ia tak dapat sembunyi. Itulah yang diceritakan oleh Injil kepada kita. Ia juga pernah, secara jasmani, bersembunyi untuk sementara waktu dari orang-orang yang mencarinya hanya untuk menikmati mukjizat. Namun Markus 7:24 berkata, "...kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan." Sedemikian menyoloknya keberadaan Yesus sehingga Anda tidak dapat menyembunyikan dia. Dan ia sendiri juga tidak dapat bersembunyi, sekalipun sudah dicoba. Alkitab menyatakan dengan sangat jelas bahwa, Allah tidak menyembunyikan Yesus. Pelita bukan untuk ditaruh di bawah gantang melainkan untuk dipakai menerangi ruangan.

Tidak ada disebutkan di dalam Alkitab tentang Yesus yang disembunyikan. Ia datang untuk menjadi terang dunia. Pada puncak perayaan Pondok Daun, Yesus berdiri dan berseru kepada banyak orang, "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!" (Lihat Yoh. 7:37-38). Yesus juga berkata, "Tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Allah (suatu tempat umum yang paling menyolok, tidak ada tempat umum yang lebih menyolok ketimbang tempat ibadah), dan kamu tidak menangkap Aku. Lalu kamu datang malam-malam untuk menangkap Aku, namun Aku tidak melakukan apa-apa dalam kegelapan" (Lihat Matius 26:55). Dengan demikian kita dapat melihat bahwa pandangan yang mengartikan Yesus sebagai harta yang terpendam tidak memiliki dasar secara alkitabiah; tidak ada penjelasan alkitabiah yang dapat dipakai untuk mendukungnya.

Kesukarannya menjadi semakin parah jika kita terus melanjutkan pemahaman lewat pandangan ini. Orang yang menemukan harta tersebut lalu memendamnya kembali. Di dalam perumpamaan itu disebutkan bahwa harta itu "ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi." Secara alkitabiah, ini adalah suatu hal yang tidak mungkin dapat kita lakukan. Ini akan berarti bahwa sesudah Anda mendapatkan Yesus lalu Anda menyembunyikan dia dari pengamatan orang lain. Sesudah itu, Anda lalu menjual segala milik Anda dan menggunakan uang hasil penjualan itu untuk dapat memiliki harta terpendam itu secara sah. Bagaimana kita dapat menjelaskan hal itu? Pemahaman seperti apa yang dapat Anda peroleh dari pernyataan itu? Jika Anda sudah menemukan harta tersebut, untuk apa Anda menyembunyikannya lagi? Ketika Anda menjadi Kristen, apakah Anda melakukan hal-hal seperti itu? Apakah Anda menyembunyikan harta terpendam itu?

Seorang komentator dari Jerman, Schteer, berusaha membahas persoalan ini. Pergumulannya untuk dapat menjelaskan perkara ini dapat dikatakan tidak berhasil. Ia berkata, "Secara nyata kita memang menyembunyikan Yesus di dalam hati kita." Di satu pihak, harta itu disebutkan disembunyikan di ladang, kemudian disebutkan bahwa tempat menyembunyikannya adalah di hati kita. Ini hanya sebuah upaya bermain-main dengan kata supaya perumpamaan itu tetap dapat dijelaskan dengan pandangan tersebut. Kita tahu bahwa harta itu disembunyikan di ladang (yaitu, di dunia), dan bukannya di dalam hati Anda. Kita tak dapat memelintir makna kata yang sudah jelas.

Lalu persoalannya menjadi semakin kacau lagi. Sesudah menyembunyikan kembali harta itu di dunia, orang ini menjual segala miliknya untuk dapat membeli ladang tersebut, yaitu dunia! Bagaimana menghubungkan pemahaman ini dengan pengalaman hidup orang Kristen? Apakah ini berarti bahwa kita menemukan Yesus, menyembunyikannya lagi di dunia dan menjual segala milik kita untuk dapat membeli dunia? Secara alkitabiah, persoalannya sangat besar.

Schteer masih berusaha bertahan di jalur ini dan, sekali lagi, terperosok dalam kekacauan. Ia berkata bahwa arti ladang dalam perumpamaan ini sekarang adalah gereja. Akan tetapi tidak ada pernyataan di dalam Alkitab yang mengartikan ladang sebagai gereja. Hanya beberapa ayat sebelum perumpamaan ini, Yesus sudah menjelaskan kepada kita bahwa ladang ini berarti dunia. Apa hak kita untuk mengartikan ladang itu sebagai gereja? Dan apa artinya kita menjual segala milik kita untuk dapat membeli gereja? Maka Schteer menjelaskan bahwa kita dalam hal ini menjadikan gereja sebagai milik kita. Yang benar adalah, bukan kita yang menjadikan gereja milik kita, akan tetapi gerejalah yang menjadikan kita miliknya dan kita menjadi bagian dari gereja. Gereja tidak menjadi milik saya, malah sebaliknya sayalah yang menjadi bagian dari gereja. Sangat mustahil bagi kita untuk menerima pengertian seperti itu. Kenyataannya, ini adalah masalah utama bagi pandangan bahwa harta terpendam itu adalah Yesus. Terlebih lagi, ladang tidak pernah diartikan sebagai gereja. Tidak pernah ada penjelasan seperti itu di dalam Alkitab. Ladang adalah dunia. Di dalam perumpamaan yang sebelum ini, gandum adalah gereja dan lalang ditaburkan di antara gandum, atau gereja. Tentunya hasil panen adalah gereja, kerajaan Allah, karena ladang tetap tinggal. Hasil panenlah yang diambil, bukannya ladang.

Menghalalkan segala Cara demi Mencapai Tujuan

Satu-satunya pilihan bagi para komentator yang ingin mempertahankan pandangan ini adalah dengan mengabaikan makna ladang dan berkata, "Sebaiknya kita tidak usah terlalu mempersoalkan hal itu." Namun jika Anda mempelajari perumpamaan yang lainnya, seperti kedua perumpamaan dasar itu, Anda akan melihat bahwa setiap aspek dari perumpamaan-perumpamaan tersebut memiliki arti. Lagi pula, ladang adalah salah satu unsur dalam perumpamaan yang maknanya sudah dijelaskan dengan nyata. Apa hak kita untuk menyingkirkan sebuah unsur yang maknanya sudah diuraikan sebelumnya?

Jika cara pandang ini kita ikuti, maka kita akan sampai pada pengertian seperti ini: Yesus adalah harta terpendam yang kita temukan di dunia. Sesudah menemukan Yesus, kita lalu menyembunyikannya lagi di dunia – apa pun makna yang akan diberikan di sini - dan kemudian kita menjual segala milik kita serta memakai hasil penjualan itu untuk membeli ladang - atau dunia ini. Bukankah ini hal yang mustahil? Sulit untuk dapat menerimanya tanpa melakukan penyimpangan makna dan memberi pengertian yang berbeda dengan yang sudah diberikan oleh Yesus sendiri mengenai beberapa unsur di dalam perumpamaan ini!

Selanjutnya, kita akan membahas perumpamaan ini dari sudut pandang yang berbeda. Dan kita akan melihat kekayaan makna yang terdapat di dalamnya. Dalam pembahasan kali ini, Yesus bukanlah harta yang terpendam itu. Di dalam perumpamaan yang berikutnya, Ia memang adalah mutiara, namun di dalam perumpamaan ini kitalah - gereja - yang merupakan harta terpendam itu.

Makin saya mempelajari perumpamaan ini, semakin saya bertanya-tanya: mengapa dulu saya menolak penjelasan yang sangat gamblang dari Yesus ini? Mengapa dulu saya menolaknya? Karena saya bertumbuh di dalam doktrin tentang dosa asal, dan pandangan tentang keadaan manusia yang sudah sangat merosot - bahwa manusia sudah benar-benar busuk, rusak, penuh dosa, sakit dan jahat. Nilai apa yang dapat saya lihat dari manusia yang saya yakini sudah sangat merosot, yang mewarisi dosa asal, yang sudah membusuk di pusat batinnya, yang sakitnya sudah tak tersembuhkan lagi?

Sebagai contoh, saya dapat melihat nilai dari sekotak apel yang semuanya bagus dan segar. Namun, dapatkah Anda melihat nilai dari sekotak apel yang semuanya busuk dengan bau yang menyengat? Karena semuanya sudah tidak berguna, maka Anda cenderung akan membuangnya saja ke tong sampah. Saya bertumbuh dengan pola pandang seperti ini terhadap orang berdosa. Tidakkah Anda juga bertumbuh dengan cara pandang seperti ini terhadap orang berdosa? Saya bersyukur kepada Allah karena adanya firman dari Yesus ini. Seperti sebilah pedang yang menusuk jauh ke dalam hati dan menguji niat serta pemahaman saya, dan mengungkapkan sikap saya terhadap mereka yang belum diselamatkan.

Saya merasa malu dan rendah diri karena memiliki sikap seperti itu. Saya menilai orang yang belum diselamatkan, pada dasarnya, sebagai orang-orang yang tidak memiliki nilai apa pun. Di dalam diri mereka, tidak ada sesuatu pun yang berarti jika Allah tidak memberi mereka sesuatu. Bagaimana Anda dapat mengasihi mereka? Sangat rendah keinginan Anda untuk bergaul dengan mereka. Mereka sudah benar-benar rusak dan akan dibuang. Pola pikir seperti ini sudah sangat merasuk ke dalam benak banyak orang Kristen, dan menimbulkan cara pandang yang sangat merendahkan terhadap orang non-Kristen.

Aliran-aliran tertentu, terutama Plymouth Brethren, bertindak sangat jauh karena cara pandang seperti ini terhadap umat manusia. Beberapa aliran malah bertindak lebih jauh lagi dengan memutuskan segala bentuk hubungan dengan masyarakat umum, supaya mereka - apel-apel yang bagus ini - tidak tercemar. Bagi pengikut aliran-aliran ini, ada semacam kebutuhan untuk terpisah sepenuhnya dari masyarakat. Mereka agak merendahkan orang-orang yang akan terhilang ini. Dengan penuh penyesalan, saya mengakui sikap saya yang salah terhadap orang non-Kristen, yang selama ini tidak saja saya anggap sudah rusak akan tetapi juga terkutuk oleh Allah untuk dibuang ke dalam neraka.

Jelaslah sudah, bagi setiap orang Kristen yang berpikir seperti ini, sikap mereka terhadap orang-orang non-Kristen akan terbagi dalam dua kelompok, jika tidak jijik tentulah meremehkan. Ia akan cenderung berpikir, "Aku, orang terpilih, berjalan di tengah dunia yang dipenuhi oleh orang-orang yang berdosa yang sudah ditetapkan untuk dibinasakan." Doktrin seperti ini sangat mengerikan dan menjijikkan dipandang dari terang pengajaran alkitabiah, namun inilah doktrin yang saya anut pada masa pertumbuhan awal saya sebagai orang Kristen. Saya bersyukur kepada Allah karena firman yang disampaikan oleh Yesus mengungkapkan kesombongan rohani di dalam hati saya. Sikap seperti itu jelaslah merupakan kesombongan hati. Percuma kita berkata bahwa itu adalah kasih karunia Allah atau ungkapan yang lainnya. Jika kasih karunia Allah melahirkan kesombongan semacam itu di dalam hati seseorang, maka Allah tentu akan melarang hal seperti itu disebut sebagai kasih karunia!

Semua Berharga di Mata Tuhan

Semakin saya telaah ajaran Yesus, semakin saya dikejutkan dengan kenyataan bahwa Yesus tidak memandang orang non-Kristen sebagai apel busuk. Malahan, semua manusia itu berharga. Hanya jika kita dapat memandang orang-orang ini lewat mata Yesus, maka kita akan dapat menjangkau mereka dengan kasih. Hanya setelah kita berhasil menyingkirkan doktrin sesat yang telah merusak pikiran kita serta menanamkan kesombongan rohani ini barulah kita dapat memandang mereka dengan kasih. Keselamatan itu adalah kasih karunia, namun kasih karunia tidak menghasilkan kesombongan!

Bangsa Israel terjatuh dalam lubang ini dan kita perlu berdoa agar tidak jatuh di tempat yang sama. Orang-orang Israel menyebut diri mereka umat Allah yang terpilih dan berkedudukan jauh di atas manusia yang lain - massa damnata atau orang-orang terkutuk. Massa damnata adalah ungkapan yang dipakai oleh Augustine dalam bahasa Latin. Kata-kata yang dengan beraninya dia pakai - dengan segala hormat baginya - adalah kata-kata yang sangat mengerikan. Apa maksudnya jika Anda berkata 'kumpulan orang-orang yang terkutuk'? Yang Anda sebut dengan terkutuk itu dipandang sebagai harta terpendam oleh Yesus. Ketika Allah membuka pemahaman saya akan hal ini dan saya menyelidikinya sekali lagi, saya sangat terkejut saat menyadari bahwa Allah tidak pernah memandang mereka yang terhilang, orang-orang yang tidak diselamatkan dengan cara seperti ini.

Lihatlah perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus di Lukas 15. Perumpamaan pertama di Lukas 15 adalah tentang domba yang hilang. Perumpamaan yang kedua adalah tentang dirham yang hilang. Perumpamaan yang ketiga adalah tentang anak yang hilang. Apakah ketiganya tidak membicarakan hal yang berharga? Domba masih sangat berharga bahkan sampai sekarang ini, dan terlebih lagi bagi gembala miskin di Palestina pada zaman itu. Uang dirham (koin perak) milik perempuan itu sangatlah bernilai baginya. Merupakan bagian dari mas kawinnya. Seolah-olah masih belum cukup jelas, Yesus menambahkan dengan perumpamaan tentang anak yang hilang.

Ia datang ke dunia untuk mati bagi umat manusia yang “tidak berharga” ini. Mengapa Allah mengasihi orang-orang yang sudah tidak memiliki kebaikan apa pun lagi? Kita masih belum mendapat penjelasannya. Di Mazmur 8:5, si pemazmur berkata, "Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?" Jika ada orang yang mengira bahwa Allah tidak peduli dengan umat manusia, maka orang itu tentulah sudah keliru dalam mengartikan ayat ini. Perhatikan ayat ini sekali lagi, dan Anda akan melihat bahwa Allah sangat peduli. Si pemazmur sangat kagum. Allah yang Mahabesar, mau peduli kepada manusia? Namun kenyataannya memang begitu. Ayat yang selanjutnya, ayat 6, memberi kita petunjuk, "Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah". Tidak heran jika Allah sangat peduli kepada manusia. Jadi sekarang kita sudah mendapatkan kejelasannya: Allah menciptakan kita sama dengan gambar dan rupa Dia, dan Allah menghendaki agar kita menjadi anak-anakNya. Sedemikian berharganya kita di mata Allah. Itulah yang disampaikan oleh Yesus lewat perumpamaan harta terpendam ini.

Di Mazmur 115:12, si pemazmur berkata, "TUHAN telah mengingat kita." Anda tidak dapat mencari kata-kata yang lebih jelas lagi. Allah mengasihi kita karena kita berharga dimataNya. Dan hal ini akan menjadi lebih tegas lagi jika kita melihat di dalam Perjanjian Lama, "Siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya" (Zak.2:8). Allah berbicara tentang hal ini kepada suatu bangsa yang tegar tengkuk dan kerap memberontak. Di mata Allah, mereka masih sangat berharga bagiNya. Di Hosea 2:1,18,19, Allah menyebut bangsa yang tegar tengkuk ini sebagai istriNya. Adakah yang lebih berharga bagi seseorang ketimbang istrinya? Dan Ia menyebut bangsa ini sebagai istriNya, istri yang dikasihi dan masih terus dikasihi sehingga Ia bersedia melakukan segalanya demi membebaskannya dari dosa.

Gambaran di Perjanjian Baru tidaklah berbeda. Setiap kali Yesus berbicara tentang mereka yang hilang, dia menyebut mereka sebagai sesuatu yang berharga, seperti domba, dirham dan bahkan anak. Ambillah perumpamaan tentang dirham yang hilang sebagai contoh (Luk.15:8-10). Di sini Anda akan melihat bahwa Lukas telah mempribadikan perumpamaan itu, menggambarkan setiap orang berdosa sebagai satu keping dirham yang hilang. Pikirkanlah sejenak. Jika Anda menemukan semua dirham yang hilang itu lalu mengumpulkannya, apa yang Anda dapatkan? Harta yang banyak. Inilah hal yang sedang dibahas oleh Matius. Matius membahasnya secara keseluruhan, berbeda dengan Lukas yang membahas di tingkat individu. Jadi jika Anda kumpulkan semua dirham itu, maka yang Anda dapatkan adalah harta karun yang terpendam itu!

Kitalah Harta yang Hilang itu

Sekarang jelaslah apa yang dimaksudkan sebagai harta terpendam itu. Kitalah harta yang hilang. Dalam kenyataannya, perumpamaan ini memang berbicara tentang harta yang hilang, sama dengan perumpamaan dirham yang hilang tetapi dari sudut pandang yang berbeda. Makna dari perumpamaan ini akan muncul jika kita sudah menyingkirkan prasangka kita yang melihat pada orang yang terhilang sebagai sesuatu yang tidak berharga yang hanya cocok untuk dibuang ke neraka.

Anda mungkin bertanya, "Namun bagaimana dengan lalang yang disebutkan dalam perumpamaan tentang gandum dan lalang?" Di dalam kasus ini, lalang itu memang tidak berharga. Akan tetapi, mereka bukanlah orang yang tidak percaya; mereka adalah orang Kristen palsu. Lalu bagaimana dengan sekam? Ia juga melambangkan orang Kristen palsu. Sekam pada awalnya berada di tengah-tengah gandum. Dan kita tahu bahwa gandum di dalam Alkitab selalu merujuk kepada orang Kristen. Satu-satunya jenis orang yang tidak berharga secara rohani di mata Allah adalah mereka yang munafik, yang baginya tidak tersedia lagi pengampunan. Dibandingkan dengan orang Kristen palsu (munafik), maka orang-orang yang tidak percaya jauh lebih berharga bagi Allah. Walaupun mereka terhilang, mereka tetaplah harta Allah yang terhilang yang ingin ditemukanNya lagi, sehingga Yesus diutus. Kita semua pengikut Kristus tadinya adalah bagian dari harta yang hilang itu, yang sudah ditemukan kembali oleh Allah dengan kasih karuniaNya.

Gambarannya sangatlah indah jika kita sudah memahami makna yang sesungguhnya dari perumpamaan ini. Pertama-tama, perumpamaan ini mengungkapkan isi hati Allah terhadap umat manusia yang terhilang. Mereka semua adalah hartaNya, walaupun terhilang. Dan Allah mengutus Yesus dengan tujuan untuk mendapatkan mereka kembali. Jadi Anda dan saya pernah menjadi bagian dari harta yang hilang itu.

Juga, perhatikan keindahan dari penggunaan istilah harta yang hilang untuk melambangkan orang-orang yang terhilang. Harta ini hilang dan terkubur di dalam dunia. Keadaan terkubur selalu melambangkan kematian di dalam Alkitab: kita dulunya mati di dalam dosa-dosa dan pelanggaran, dan kita terhilang serta tersembunyi di dalam dunia. Namun Yesus tetap mencari kita.

Pada titik ini, mari kita pelajari kata "harta". Harta itu terdiri dari emas, perak dan barang-barang berharga lainnya yang disimpan dalam bejana tanah liat yang dikuburkan. Hal yang sangat menyolok adalah digunakannya istilah yang tepat sama oleh Paulus ketika ia merujuk kepada orang Kristen. Ia berkata kepada kita, "Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat" (2 Kor.4:7). Perbedaan antara orang Kristen dengan yang non-Kristen adalah bahwa orang Kristen itu harta yang sudah ditemukan kembali sedangkan yang non-Kristen adalah harta yang terhilang. Namun sekarang kita memiliki harta yang dibicarakan oleh Paulus ini. Harta itu adalah Injil di dalam kita. Kita sekarang menjadi lebih berharga lagi di mata Allah sesudah menerima Injil ini di dalam diri kita. Kita berharga bukan karena keberadaan diri kita, melainkan kerana Allah sudah menempatkan harta di dalam diri kita.

Kata kedua yang akan kita pelajari adalah kata 'ditemukan'. Kita telah melihat bahwa kata 'harta' menunjuk kepada manusia, dan secara khusus kepada gereja (2 Kor.4:7). Jika kita cermati isi Alkitab, kita akan berkali-kali mendapati bahwa Yesus mencari kita. Berikut adalah kata-kata yang indah dari Mazmur 119:176, "Aku sesat seperti domba yang hilang, carilah hamba-Mu ini, sebab perintah-perintah-Mu tidak kulupakan." Apakah hal itu mengingatkan Anda akan sebuah perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus? Si pemazmur sudah sesat, akan tetapi ada perintah-perintah Allah yang masih tinggal di dalam dirinya. Tidakkah hal itu mengingatkan Anda akan salah satu perumpamaan?

Allah mencari yang Tersesat

Ini mengingatkan saya akan hal yang dikatakan oleh Paulus, "Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi ... aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku" (Rom7:22-23). Ketika Paulus masih menjadi budak dosa, ia tahu apa yang baik. Pernahkah Anda bertemu dengan orang non-Kristen yang memiliki pemahaman yang jelas tentang apa yang baik, sama seperti yang dipahami oleh orang Kristen? Pernahkah terpikir oleh Anda bahwa orang non-Kristen juga memiliki hati nurani (Rom 2:26) dan juga sering melakukan perbuatan baik dengan dorongan hati nuraninya, bukan oleh karena ingin menyelamatkan dirinya atau untuk membela ajaran tertentu? Orang non-Kristen juga memberi kepada orang miskin. Tanpa dukungan orang non-Kristen, banyak organisasi sosial yang akan bangkrut. Dengan akal budinya orang non-Kristen mengejar apa yang baik sekalipun ia hidup di dalam belenggu dosa karena ia tidak memiliki kuasa untuk mengalahkan dosa. Inilah hal yang dengan tepat digambarkan oleh Paulus sebagai kondisi 'tersesat'. Di sisi lain, tentu saja, ada orang non-Kristen yang memang hatinya jahat dan tetap bertahan dalam kejahatan itu. Begitulah kenyataannya, ada yang memang jahat tetapi ada juga yang masih memiliki hati nurani. Allah mencari semua yang tersesat. Si pemazmur menyatakannya dengan sangat jelas ketika ia memohon, "Carilah hambamu ini, sebab aku tersesat."

Kita mendapati hal ini lagi di Yehezkiel 34:11,12,16 di mana Allah berbicara berulang-ulang bahwa Ia mencari dombaNya yang sesat: "Aku akan mencari domba-domba yang tersesat itu." Dan di Yehezkiel 34:22, Yahweh berkata, "Aku akan menolong domba-dombaKu." Tujuan dari mencari adalah untuk menyelamatkan. Kita sudah melihat hal ini dari perumpamaan di Lukas 15. Di setiap zaman, setiap generasi, Allah mencari orang-orang ini. Di generasi sekarang pun, Ia tetap mencari orang-orang tersebut. Ia sedang mencari domba-dombaNya, apakah Anda salah satu di antaranya?

Di dalam setiap generasi, Allah mencari orang-orang yang bersedia untuk melayaniNya, untuk berfungsi sebagai terang dunia, membawa orang lain kepada keselamatan. Hal ini dengan indahnya dinyatakan oleh Allah di Yehezkiel: "Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya" (Yeh.22:30). Allah tidak menemukan orang yang dicariNya pada generasi itu dan akibatnya Israel dibinasakan.

Mungkin Ia sekarang ini sedang mencari orang-orang yang hendak membangun tembok untuk menyelamatkan dunia ini, dan menyelamatkan gereja. Kita diselamatkan untuk menyelamatkan orang lain, bukan sekadar menyelamatkan diri sendiri. Di 1 Samuel 13:14, kita dapati firman yang indah ini ketika Allah mendapatkan seseorang yang cocok dan orang itu bukan lain adalah Daud: TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya, orang yang akan melakukan segala kehendakNya. Dapatkah Ia menemukan orang seperti itu di zaman sekarang ini?

Yesus berkata di Yoh. 4:23 bahwa mereka yang menyembah Allah adalah orang yang menyembah Dia di dalam roh dan kebenaran. Dan di dalam kalimat selanjutnya dikatakan, "Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian." Ia mencari orang-orang yang tahu bagaimana menyembahNya di dalam roh dan kebenaran. Jika Ia menemukan orang-orang seperti itu, tidakkah Anda memahami bahwa Ia sama seperti mendapatkan harta karun? Ketika Ia mendapatkan orang yang bersedia berpaling dari dosa-dosanya dan dibersihkan oleh darah Kristus, dimurnikan dan dibebaskan dari belenggu dosa, untuk dapat menyembahNya dalam roh dan kebenaran, Ia telah menemukan harta karun. Allah sedang mencari orang-orang seperti itu sekarang ini. Itu sebabnya jika seorang berdosa bertobat, seluruh malaikat di surga bersorak-sorai. Demikian berharganya setiap orang berdosa di mata Allah. Setiap orang berdosa sangat berharga di mata Allah sehingga jika ada seorang dari mereka yang bertobat, maka seluruh malaikat di surga bersorak-sorai. Sangat sulit untuk dapat menerima hal ini karena kita sudah diindoktrinir untuk mempercayai bahwa orang berdosa sudah tidak memiliki nilai apa-apa lagi. Namun kenyataannya mereka berharga!

Bersembunyi dari Allah

Selanjutnya, kita akan melihat kata "sembunyi" dan "tersembunyi di dalam dunia". Jika Anda melakukan pengamatan yang cermat akan kata 'sembunyi', maka Anda akan mendapati bahwa kata 'sembunyi' selalu berkaitan dengan dosa. Tanpa pengecualian satupun, selalu ada kaitannya dengan dosa atau merupakan konsekuensi dari dosa. Dimulai dari masa awal ketika Adam berbuat dosa, dan ia bersembunyi dari hadapan Allah (Kej.3:10). Ketika kita berbuat dosa, Allah menyembunyikan mukaNya dari kita. Dosa itulah yang menyembunyikan kebenaran Allah dari kita. Dan Allah hanya menyembunyikan kebenaranNya dari mereka yang mengeraskan hatinya. Disebutkan bahwa mata mereka tertutup dan mereka tidak dapat memahami kebenaran. Kebenaran tersembunyi dari mereka, bukan karena Allah ingin menyembunyikannya namun karena mereka sudah mengeraskan hati mereka terhadap kebenaran dari Allah. Seperti yang dikatakan oleh Tuhan, "Sekalipun engkau mencoba untuk bersembunyi dariKu, penghakimanKu akan tetap mendapatkanmu" (lihat Amos 9:3).

Adam mencoba untuk bersembunyi. Pernahkah Anda perhatikan bahwa setiap kali Anda berbuat dosa, Anda akan cenderung untuk bersembunyi dari Allah? Bukannya Allah yang bersembunyi dari Anda. Ketika Adam berbuat dosa, bukan Allah yang bersembunyi dari hadapan Adam; Adamlah yang bersembunyi dari hadapan Allah. Ingatlah, bukan Allah yang menyembunyikan keselamatanNya namun kitalah yang bersembunyi dari Allah dan dengan demikian Ia tersembunyi dari pandangan kita. KebenaranNya tidak dapat tiba pada kita lagi karena kita menyembunyikan diri. Karena kita bersembunyi dari terangNya, bagaimana mungkin kita dapat melihat terangNya?

Berulang-kali kita dapat membaca dari Alkitab, khususnya dari Mazmur, bahwa Allah menyembunyikan diriNya. Ia menyembunyikan diriNya dari kita karena dosa-dosa kita, ia menyembunyikan diriNya, keselamatanNya, kebenaranNya, karena dosa-dosa kita. Akan tetapi, sesungguhnya dosa-dosa kitalah yang menjadikannya demikian, bukan karena Ia ingin melakukannya. Beberapa rujukan tentang Allah menyembunyikan wajahNya ada di Mazmur 13:1 dan 27:9.

Jika kita berhenti bersembunyi dari Allah, maka kita berada di jalur keselamatan. Jika kita mendekat kepadaNya, kita dapati Dia juga mendekat kepada kita. Ia berada jauh dari kita hanya jika kita menjauh dariNya. Salah satu ayat yang indah tentang ini ada di dalam Perjanjian Lama, di Mazmur 32:5 di mana si pemazmur berkata, "Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan." Saat Anda berhenti bersembunyi dari hadapan Allah - ketika Ia mencari Anda dan Anda tidak melarikan diri dariNya - maka Anda akan masuk ke jalur keselamatan. Tidak seperti Adam, yang bersembunyi, si pemazmur ini tidak bersembunyi: aku berkata: "Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku."

Itu terjadi jika Anda berhenti bersembunyi ketika Ia mencari Anda - yaitu, jika Ia memanggil Anda dan Anda tidak bersembunyi, jika Anda mengaku dosa kepadaNya dan tidak membuat alasan-alasan seperti Adam. Saya yakin, kita semua pernah berkata, "Ini gara-gara dia; dia membuat saya jadi berdosa." Jika kita bersedia berkata, "Saya tidak akan menutupi dosa-dosa saya dari hadapanMu, Tuhan. Saya orang berdosa. Kumohon pengampunanMu. Tidak ada yang saya sembunyikan dariMu," maka Tuhan akan mengampuni kita.

Jika kita berhenti bersembunyi, maka kita sudah mengambil langkah pertama untuk keselamatan. Ketika harta itu keluar dari persembunyiannya, ia akan melangkah menuju keselamatan. Tentu saja kita tidak dapat berkata bahwa harta itu bergerak keluar, karena hal ini tentunya tidak alami dan memang tidak mungkin. Yang penting bagi kita adalah memahami bahwa 'ketersembunyian' ini selalu berkaitan dengan dosa.

Melindungi kita dari Bahaya

Bagaimana dengan bagian yang menyebutkan bahwa Allah menyembunyikan kita? Sesudah menemukan harta itu, Ia memendamnya lagi. Apa artinya? Kita lihat, bahwa ketika kita memandang harta ini sebagai Yesus, kita tidak dapat menarik satupun kesimpulan yang masuk akal. Namun ketika harta ini kita artikan sebagai gereja, maka maknanya menjadi sangat jelas. Mengapa kita harus menyembunyikan sesuatu? Mengapa harta itu terpendam dulunya? Secara normal, ia dipendam untuk melindunginya dari kemungkinan hilang. Dan pemendaman yang kedua kali, memiliki tujuan yang persis sama.

Jika kita mempelajari Injil, kita dapati bahwa kita disembunyikan untuk beberapa alasan. Pertama, untuk melindungi kita dari penghakiman Allah, dari murkaNya atas dosa. Sebagai contoh, Yesus berkata, "Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya" (lihat Lukas 13:34). Apa yang membuat seekor induk ayam mengumpulkan anak-anaknya? Untuk melindungi mereka dari ancaman elang di udara, yang terbang sambil mengintai mereka. Jadi Yesus menyembunyikan umatNya dari kebinasaan penghakiman. Ini berarti bahwa ketika kita diselamatkan, Yesus menyembunyikan kita di dalam dirinya, atau lebih tepatnya, Yesus menyembunyikan kita di dunia ini di dalam dirinya. Kita masih di dunia ini; kita ditinggalkan di dunia ini tetapi di bawah perlindungannya.

Kenyataannya, di Mazmur 83:4, orang-orang Kristen atau lebih tepatnya umat kudus Allah, baik di dalam Perjanjian Lama maupun Baru, disebut orang-orang yang disembunyikan (dilindungi dalam terjemahan Indonesia, dalam KJV, katanya adalah, hidden ones atau yang disembunyikan). Di dalam bahasa Ibrani, dipakai istilah disembunyikan - yaitu, disembunyikan oleh Allah. Sebagaimana yang kita ketahui, harta itu ditemukan, lalu dipendam kembali oleh orang yang menemukannya. Suatu kejutan, ternyata orang-orang kudus Allah disebut sebagai orang-orang yang disembunyikan. Di dalam Alkitab berbahasa Inggris RSV, kata ini diterjemahkan dengan dilindungi (the protected ones), kata Ibrani yang dipakai memiliki makna "sembunyi". Dan kita dapat melanjutkan penelaahan kita sampai ke Wahyu 12:6, di mana perempuan yang melambangkan gereja atau kerajaan Allah disembunyikan oleh Allah di padang gurun.

Kedua, kita dapati bahwa kita disembunyikan untuk melindungi kita dari yang jahat. Hal ini digambarkan dengan sangat indahnya di dalam peristiwa di taman Getsemani ketika orang-orang datang untuk menangkap Yesus. Yesus menyerahkan dirinya namun dia melindungi murid-muridnya dengan berkata, "Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi" (Yoh.18:8). Ini adalah gambaran yang persis tentang induk ayam yang melindungi anak-anaknya di bawah kepak sayapnya. Adalah baik juga kita ingat bahwa semua ini dilakukannya di dunia ini. Dengan demikian kita dapat memahami bahwa ini adalah hal yang secara terus menerus dilakukan oleh Allah - yaitu melindungi milikNya (Maz. 27:5, 31:20)

Ketiga, Yesus menyembunyikan kita dari musuh. Paulus berkata, "Hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah" (Kol.3:3). Namun kita disembunyikan di dalam dunia ini. Kita harus ingat bahwa tubuh Kristus ada di dunia ini karena kitalah tubuh Kristus itu. Demikianlah perkataan Yesus kepada murid-muridnya, "Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan" (Yoh.16:33). Jadi kita sekaligus berada di dalam dunia dan di dalam dia. Sekarang ini, Yesuslah yang menyembunyikan kita; kita tidak tersesat lagi, akan tetapi disembunyikan olehnya. Ia melindungi kita sekalipun kita berada di dunia ini.

Ungkapan 'pergilah ia' di dalam perumpamaan ini memiliki makna yang mendalam. Kata 'pergi' di dalam bahasa Yunaninya menggunakan kata yang sama dengan yang dipakai oleh Yesus dalam menggambarkan kepergiannya dari dunia ini. Dan kita mendapati bahwa kata ini dipakai secara konstan. Kata yang sama digunakan di Yoh.13:3, 33, 36 dan banyak lagi ayat lainnya. Yesus berkata kepada murid-muridnya, "Aku harus pergi. Aku harus meninggalkan kalian di dunia ini. Ke mana Aku akan pergi, kalian tidak dapat mengikutiKu. Kalian harus tinggal di dunia ini. Aku akan melindungi kalian di dunia ini. Jangan takut. Aku tidak akan meninggalkan kalian seperti anak yatim di dunia ini. tapi Aku sendiri harus pergi." Dan itulah hal yang memang dilakukan oleh Yesus. Apa yang dilakukan Yesus ketika pergi? Di dalam perumpamaan ini, Yesus pergi untuk 'membeli ladang itu'. Perhatikan kata 'membeli' ini. Kata 'membeli' dan 'pergi' memiliki arti 'mati'. Jadi Yesus pergi ke Bapa melalui kematiannya; Ia pergi menuju Bapa.

Kita sekarang mengamati kata 'membeli'. Kata Yunani untuk 'membeli' dipakai di 1 Korintus 6:20 dan 7:23. Kedua ayat ini dapat dirangkum menjadi: "Dirimu bukanlah milikmu lagi. Engkau sudah dibeli dengan harga yang mahal. Dan yang membeli adalah Yesus." Inilah tepatnya hal yang dinyatakan di dalam perumpamaan itu. Yesus membeli Anda dan menebus Anda. Kita dapati pernyataan yang sama di dalam 2 Petrus 2:1 di mana orang-orang Kristen palsu menyangkal Tuhan yang menebus mereka.

Ini membawa kita kepada satu poin penting di dalam perumpamaan ini. Orang itu menjual segala miliknya untuk membeli ladang tersebut. Dan kita sudah tahu bahwa ladang menggambarkan dunia. Dan memang, itulah hal yang dilakukan oleh Yesus. Ia mati bukan hanya untuk orang Kristen akan tetapi bagi dosa seluruh dunia. Inilah ajaran yang alkitabiah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Yohanes, "Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia" (1 Yoh.2:2). Yesus membeli seluruh ladang ini. Dengan kata lain, Yesus membeli segala harta terpendam di dunia ini; semua orang berdosa yang terhilang adalah miliknya sesuai dengan pembeliannya. Tidak heran jika Yesus sangat bersukacita jika ada satu orang yang bertobat. Ia mati bagi dosa setiap orang di mana saja. Ia tidak mati hanya untuk dosa kita saja, akan tetapi juga untuk dosa seluruh dunia. Ini adalah hal yang sangat berbeda dengan doktrin predestinasi yang berkata bahwa Yesus mati hanya bagi orang-orang benar. Tidak disebutkan di dalam Alkitab tentang ide tersebut. Alkitab memberitahu kita bahwa Yesus telah membeli seluruh dunia.

Yesus menjual segala miliknya untuk membeli dunia. Ia menyerahkan nyawanya untuk menebus dunia bagiyya. Kata 'menjual' berarti bahwa Yesus menyerahkan segalanya bagi kita. "Bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya" (2Kor.8:9). Yesus menjual segala miliknya, dan itu membuatnya miskin. Ia menyerahkan segalanya untuk menebus kita. Sekalipun Yesus kaya, tapi demi kita dia mau menjadi miskin 'supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya'. Kata-kata 'oleh karena kemiskinanNya' sangat menyentuh hati saya karena Anak Allah menjadi miskin bagi kita supaya ia dapat menebus kita.

Lebih jauh lagi, Yesus mati bagi kita ketika kita masih menjadi orang berdosa dan masih merupakan musuhnya (Kolose 1:21-22). Pada saat kita masih menolaknya, dia sudah bersedia mati bagi kita, mati bagi dosa dunia. Bayangkanlah, Yesus telah mati bagi dosa-dosa saya bahkan sebelum saya percaya kepadanya, ketika saya masih menjadi musuhnya. Sangat indah bukan? Dalam perumpamaan ini, seluruh Injil dinyatakan secara ringkas.

Dunia berada di Tangan Iblis

Sekalipun seluruh ladang sudah dibeli, bukan berarti ladang ini sudah menjadi milik Yesus. Benar bahwa Yesus sudah mati bagi dosa dunia (1Yoh.2:2), dan dengan demikian ladang ini menjadi hak miliknya, baik dengan alasan penciptaan maupun penebusan. Namun Iblis masih memiliki kuasa atas ladang ini. Kenyataannya, Iblis masih mendominasinya. Ia telah datang dan merampas ladang ini. Jadi seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat (1Yoh.5:19). Itu sebabnya mengapa Yesus datang untuk menebus kita; karena dunia ini berada di bawah kuasa si jahat dan tidak dapat membebaskan dirinya sendiri. Hanya Yesus yang dapat membebaskan kita.

Yesus menjual segalanya demi membeli kita. Yesus berkata kepada kita, "Kamu sudah dibeli dengan harga yang mahal. Kamu tidak berhak atas dirimu lagi. Jangan menjalani hidup ini dengan anggapan bahwa itu adalah milikmu." Segala milik dan keberadaan Anda sudah menjadi miliknya. Setiap waktu milik Anda - bahkan setiap tarikan nafas Anda - adalah miliknya. Karena Yesus sudah membeli kita, kita sudah menjadi harta miliknya. Alkitab berbicara tentang umat Allah sebagai harta khusus yang telah ditebus bagiNya. Kita sudah membaca dari Perjanjian Lama - sebagai contoh di dalam Keluaran 129:5, Maleakhi 3:17 - bahwa kita adalah milik kesayanganNya. Dan kita menemukan hal yang sama di dalam 1 Petrus 2:9 bahwa kita adalah umat Allah, milik kesayangan yang sangat berharga bagiNya.

Poin yang paling berharga dari perumpamaan ini adalah tentang kasih Yesus dan Allah kepada kita. Allah lewat Yesus, telah menempuh segala penderitaan ini demi mencari kita. Dan yang paling revolusioner adalah hal ini telah mengubah sikap saya terhadap orang non-Kristen. Ketika saya menyadari bahwa mereka berharga di mata Allah, sama seperti saya, bahwa semua yang terhilang adalah harta di manata Allah, saya mendapat kekuatan untuk mengasihi mereka karena Allah mengasihi mereka. Doktrin yang memandang mereka sebagai kumpulan orang-orang terkutuk, doktrin yang memandang mereka sebagai orang-orang yang sudah ditetapkan untuk dibinasakan adalah doktrin yang tidak pantas dikaitkan dengan Kekristenan. Karena bukan saja berlawanan namun sangat menyelewengkan kebenaran.

Saya berdoa semoga Anda dan saya mendapat pelajaran bagaimana kita akan memandang dunia - orang-orang berdosa yang tersesat di dunia ini - sebagaimana Yesus memandang mereka. Fakta bahwa Tuhan sangat mengasihi dunia adalah sesuatu hal yang tidak saya pahami di dalam masa awal pertumbuhan rohani saya. Saya harap Anda sekarang dapat memahaminya.

Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.

Standard
Besar
Terbesar

Perumpamaan:

Mat 9:14-17 Perumpamaan tentang Kantong Kulit yang Lama dan yang Baru

Mat 13:3-23 Perumpamaan tentang Seorang Penabur Benih I

Mat 13:1-9 Perumpamaan tentang Penabur - Dari Sudut Pandang Keselamatan

Mar 4:21-25 Perumpamaan tentang Pelita

Mar 4:26-29 Perumpamaan tentang Benih yang Tumbuh dengan Sendirinya

Mat 13: 24-30 Perumpamaan Tentang Lalang Di Antara Gandum

Mat 13:31-32 Perumpamaan tentang Benih Sesawi

Mat 13:33 Perumpamaan Tentang Ragi

Mat 13:44 Perumpamaan tentang Harta yang Terpendam

Mat 13:45-46 Perumpamaan tentang Mutiara

Mat 13:47-50 Perumpamaan tentang Pukat

Mat 13:51-52 Perumpamaan tentang Ahli Taurat yang Menerima Pelajaran tentang Hal Kerajaan Surga

Luk 12:13-21 Perumpamaan tentang Orang Kaya yang Bodoh

Perumpamaan tentang Orang Samaria yang Murah Hati

Perumpamaan tentang Pohon Ara yang Mandul

Perumpamaan tentang Sahabat pada Tengah Malam

Perumpamaan tentang Tamu-tamu

Perumpamaan tentang Pesta Perjamuan Besar I

Perumpamaan tentang Pelita Diatas Kaki Dian

Perumpamaan tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 1

Perumpamaan tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 2

Perumpamaan tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 3

Perumpamaan tentang Domba yang Hilang

Perumpamaan tentang Uang Dirham yang Hilang

Perumpamaan tentang Anak yang telah Mati dan Hidup Kembali

Perumpamaan tentang Dua Anak yang Hilang

Perumpamaan tentang Bendahara yang Tidak Setia

Perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus

Perumpamaan tentang Hamba yang Tidak berguna

Perumpamaan tentang Hakim yang Tidak Adil

Akankah Yesus mendapati iman di Bumi? I

Akankah Yesus mendapati iman di Bumi? II

Perumpamaan tentang orang Farisi dan Pemungut cukai

Perumpamaan tentang Uang Mina

Perumpamaan tentang Hamba yang Tidak Mengampuni

Para Pekerja di Kebun Anggur - Bagian Pertama

Para Pekerja di Kebun Anggur - Bagian Kedua
Prinsip tentang yang terdahulu dan yang terakhir

Perumpamaan tentang Pohon Ara

Perumpamaan tentang dua orang anak

Perumpamaan tentang Para Penggarap Kebun Anggur yang Jahat

Perumpamaan tentang Perjamuan Kawin

Perumpamaan tentang Pesta Perjamuan Besar 2

Perumpamaan tentang 10 Gadis-gadis yang Bijaksana & Bodoh

Perumpamaan tentang talenta

Pemisahan antara Kambing dan Domba 1

Pemisahan antara Kambing dan Domba 2

Perumpamaan tentang Kedatangan Yesus yang kedua

Copyright 2002-2014. Semua materi di situs ini adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries.
E-mail kami untuk mendapatkan izin untuk menggunakan materi di situs ini.
Best viewed with IE6.0 and 1024 by 768 resolution.