| Saran & Komentar | updated on 16 June 2009

Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan

Halaman Utama

  |  Tentang Kami

  |  Hubungi Kami

  |  Izin Pemakaian Materi 

  |  Dapatkan Buletin Gratis di sini! 

Sumber Damai

Khotbah/PA


Inspirasi

Artikel/Renungan

Kesaksian Hidup


Pelatihan

Discipleship Trainings


Lain-Lain...

Siaran Mandarin Fu Yin Dian Tai

Bible Study (P.A)

Buku-buku Terbitan

Buletin Gratis!

Lagu dan Film

Perumpamaan tentang Benih Sesawi

Matius 13: 31-32 Khotbah oleh Pendeta Eric Chang

Perumpamaan tentang biji sesawi dijelaskan tepat sesudah perumpamaan tentang lalang diantara gandum, agar kita dapat dikuatkan setelah membaca perumpamaan tentang lalang di antara gandum yang mungkin membuat kita menjadi lemah dan bertanya-tanya, "Bagaimana masa depan Gereja jika anggota - anggotanya berisi dari lalang dan gandum?" Inilah Jawaban Tuhan yang dijelaskan dalam Matius 13:31-32.

Tuhan menempatkan perumpamaan yang lainnya sebelum perumpamaan mengenai ilalang dan gandum: " Hal kerajaan Allah ialah seumpama biji sesawi yang d ambil dan ditaburkan orang didalam ladangnya; Memang biji itu merupakan biji terkecil diantara segala jenis biji, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu akan lebih besar dari sayuran lain bahkan menjadi sebuah pohon, sehingga burung- burung diudara hinggap dan membuat sarang diantara cabang - cabangnya."

Apa maksudnya hal tersebut? Tuhan Yesus selalu berbicara lewat perumpamaan, bagi mereka yang tahu firman Allah tidak akan ada masalah untuk memahaminya. Kerajaan Surga atau Kerajaan Allah seperti halnya biji sesawi yang diambil oleh seseorang dan ditaburkan di ladang. Hal pertama yang perlu diperhatikan ialah kita mendapatkan lagi perumpamaan tentang biji-bijian. Ada banyak perumpamaan yang berkaitan dengan benih. Kita mempunyai perumpamaan tentang seorang penabur benih, perumpamaan tentang benih yang tumbuh sendiri, perumpamaan tentang lalang diantara gandum, dan sekarang perumpamaan tentang biji sesawi. Alasan pemilihan biji sesawi dalam perumpamaan ini ialah karena biji sesawi merupakan biji yang terkecil diantara biji-bijian yang ditabur. Jika anda sudah pernah belajar sedikit tentang ilmu pertanian, anda mungkin akan berkata, "Tunggu dulu. Meskipun biji sesawi sangatlah kecil namun bukan merupakan biji yang paling kecil di dunia." Ya, memang benar. Namun bukan itu maksud Allah. Biji sesawi bukanlah biji terkecil yang pernah ada namun merupakan biji terkecil yang ditabur oleh petani di Palestina.

Ada sebuah alasan yang sangat bagus kenapa Tuhan membicarakan biji-bijian di dalam banyak perumpamaan. Hal itu karena benih merupakan suatu hal yang indah, dan semakin anda memahami ajaran Tuhan mengenai benih, maka anda akan semakin memahami seluruh ajaran kitab suci mengenai keselamatan.

Ketika sebuah benih ditaburkan ke tanah, maka benih itu akan mati atau hancur. Lalu benih itu bertunas dan tubuh benih itu akan hancur sebelum ia tumbuh kembali. Itu menunjukkan gambaran secara lengkap tentang kematian dan kebangkitan. Secara harfiah hidup baru muncul dari penguburan, kematian dan kebangkitan suatu benih. Tuhan Yesus berfirman bahwa kerajaan Allah seperti halnya sebuah benih -sekecil biji sesawi- yang ditabur ke atas tanah, yang hilang dari pandangan mata, mati dan kemudian bangkit menjadi kehidupan baru. Sama halnya dengan cara Tuhan mati, dikubur, dan seolah-olah Dia hilang selamanya. Namun Dia bangkit ke dalam hidup baru. Lalu apa yang terjadi? Ketika biji tersebut bangkit menjadi kehidupan baru, maka ia akan menghasilkan sejumlah biji-bijian baru. Inilah ajaran Tuhan Yesus dalam Yohanes 12:24:

"Aku berkata kepadamu: sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh kedalam tanah dan mati, ia tetap biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah."

Butir-butiran gandum menghasilkan sejumlah biji-bijian baru yang melewati proses kematian lalu kebangkitan. Yang terjadi ialah sebuah benih jatuh ke dalam tanah dan menghasilkan sejumlah besar gandum atau biji-bijian baru, dan biji-bijian baru tersebut ditabur kembali untuk menghasilkan bijian yang lainnya. Begitu seterusnya. Melalui proses kematian muncul kehidupan baru. Sama seperti Tuhan Yesus, lewat kematian dan kebangkitan-Nya, Gereja lahir.

Namun perhatikan ada hal yang lain. Kehidupan yang ada pada sejumlah bijian baru tersebut diperoleh dari bijian pertama yang telah mati. Dengan cara yang sama, kita memperoleh hidup baru - kehidupan kita yang baru berasal dari Tuhan Yesus yang telah mati dan menyalurkan hidup baru ini kepada kita. Butiran gandum tersebut hanyalah sebuah benih. Ketika engkau memiliki sebulir gandum, itu hanyalah sekadar sejumlah biji-bijian. Ketika engkau memakan gandum, engkau hanyalah memakan biji-bijian. Jika engkau tidak memakan butiran gandum itu melainkan menaburnya di tanah, maka butiran tersebut akan tumbuh dan menghasilkan sejumlah biji-bijian baru. Maka dari itu, engkau dapat memilih apakah engkau akan memakan biji-bijian tersebut atau menaburkannya. Yang dilakukan para petani ialah mengkonsumsi sebagian dari hasil panen dan menaburkan sebagian lainnya. Setiap butiran gandum merupakan biji-bijian. Kehidupan yang terdapat pada benih baru tersebut berasal dari benih yang telah mati. Seperti itulah, kita memperoleh hidup baru dari kebangkitan Kristus. Kita hidup sebab Dia telah mati dan kemudian bangkit bagi kita.

Namun kita tidak boleh berhenti di sini saja. Apa yang akan terjadi pada biji-bijian baru tersebut? Apakah bijian tersebut memperoleh kehidupan baru dari benih pertama hanya untuk menganggur tanpa berbuat apa-apa? Setiap butiran gandum ditaburkan kembali yang kemudian akan mati agar dapat memperoleh butir-butiran gandum yang baru. Banyak orang yang mengajar Injil akan berhenti pada tingkatan tersebut - yakni bahwa mereka telah memperoleh hidup baru melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Namun apa kita pernah menyadari bahwa kita sendiri merupakan benih yang akan mati dan kemudian akan bangkit? Sedikit orang yang mengerti bagian tersebut. Jika engkau melihat Yohanes 12:25, engkau akan melihat bahwa hal itu menunjukkan pada orang Kristen. Ayat 24 menunjuk pada Tuhan Yesus dan ayat 25 menunjukkan pada umat Kristen sebab mereka juga harus mati dan kemudian bangkit.

Jika kita memeriksa secara saksama Yohanes 12:24-25, kita akan mengerti maksud Tuhan. Setelah berbicara tentang biji - bijian pada ayat 24, Tuhan berfirman: "Barang siapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barang siapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini ia akan memeliharanya untuk hidup kekal" ( ayat 25). Jika kita tidak menjadi benih dan pergi ke dunia dan hidup bagi Kristus, bahkan kalau perlu mati bagi Dia, kita tidak akan bisa memperoleh kepenuhan hidup di dalam Dia. Jika kita mencoba menyelamatkan nyawa dengan berpegang kepada hidup kita, maka kita akan kehilangan nyawa kita. Jika kita mempunyai butiran gandum namun tidak menanamnya, maka tidak akan terjadi apa - apa. Jika kita menyia-nyiakannya, benih tersebut akan lapuk dan mati. Namun jika kita mengambil butiran ini tanpa menunggunya lapuk dan mati, atau bahkan dimakan serangga atau cacing, tapi kita menanamnya di tanah maka benih tersebut akan menghasilkan kehidupan baru.

Semua hal tersebut berkaitan dengan biji-bijian. Di perumpamaan ini, bijian tersebut ditabur ke dalam tanah; mati dan kemudian bangkit. Maka dari itu, biji sesawi merupakan gambaran dari Tuhan Yesus itu sendiri dan Dia itu Ialah kerajaan Allah. Ini bukan berbicara mengenai situasi yang ada di dalam kerajaan Allah, namun berbicara mengenai pertumbuhan kerajaan Allah itu sendiri. Dalam perumpamaan tersebut, Tuhan Yesuslah yang mati dan melalui kebangkitan-Nya, Kerajaan Allah menjadi nyata di dunia.

Di dalam perumpamaan gandum dan lalang. Benih yang ditaburkan menggambarkan orang Kristen. Mereka ialah anak-anak Allah, mereka adalah anak-anak kerajaan surga seperti yang kita lihat dalam Matius 13:38. Dengan kata lain, pada saat Tuhan Yesus memberikan kehidupan baru bagi kita, Dia mengirim kita ke dunia luar untuk menjadi benih. Dan kita akan mati yang kemudian bangkit dan menghasilkan buah bagi Tuhan.

Kita juga mempunyai perumpamaan tentang penabur. Di dalam perumpamaan ini, benih diumpamakan sebagai firman Tuhan. Di dalam perumpamaan gandum dan lalang, biji - bijian (benih) tersebut merupakan anak- anak Allah. Dan biji atau benih tersebut juga merupakan Kristus Sendiri. Firman Allah ditaburkan ke dalam hati kita dan kita menjadi anak-anak Allah yang akan ditaburkan ke dalam dunia. Banyak hal yang merupakan kekayaan dan kebenaran Allah disimpulkan lewat gambaran sebuah biji( benih).

Memiliki Hidup Didalam Kristus
Karena biji sesawi mewakili gambaran Kristus Sendiri, dan biji-bijian baru yang mekar merupakan orang-orang Kristen, mungkin akan muncul pertanyaan: Apa maksudnya menjadi Kristen? Apakah seorang Kristen adalah orang yang hanya hidup dengan pola hidup baik dan bertingkah baik sesuai dengan agama? Atau seorang yang baik dan suka memberi senyuman kepada semua orang atau seseorang yang berbicara hal-hal baik dan tahu bagaimana cara mengucapkan, "Doa Bapa Kami" dan juga doa - doa yang lain? Mereka yang berbuat semua hal di atas tidak membuat mereka menjadi seorang Kristen. Bukanlah melakukan hal-hal yang tampak di luar. Seorang yang benar-benar Kristen ialah seorang yang memiliki Kristus di dalam hidupnya. Dia akan memiliki hidup baru yang dibentuk oleh Roh Kudus yang menjadikan dia manusia baru secara total.

Apa yang terjadi jika engkau hidup di dalam Kristus? Tengoklah biji atau benih yang baru tersebut: mereka terlihat hampir sama dengan biji yang asli. Itulah keindahannya. Pada saat Roh Kudus bekerja di dalam kehidupan seorang Kristen, maka orang itu akan meyerupai Kristus. Bahkan menjadi seperti Kristus. Jika kita benar-benar merupakan seorang Kristen, kita akan menemukan diri kita semakin mirip Kristus dalam setiap pikiran kita. Karena Kristus hidup bagi semua orang maka kita juga harus hidup bagi orang lain bukan hanya bagi diri kita sendiri. Seperti apa yang dikatakan Paulus dalam Roma 5:5, Karena kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus. Itu sebabnya, kita menjadi semakin mirip seperti Kristus dan kita menjadi kudus. Rasul Paulus mengatakan hal ini dengan sangat jelas, "Kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang sangat besar." (lihat 2 Korintus 3:18)

Jika kita benar-benar seorang Kristen. Keserupaan dengan Kristus harus termanifestasikan dalam kehidupan kita sebab kita makin serupa dengan Kristus. Kalau kita memahami hal ini, kita akan mengerti mengapa kita bisa berbicara tentang hal "menaburkan anak-anak Tuhan ke dalam dunia." Menjadi tubuh Kristus di dunia sebab kita adalah wakil-Nya. Bagaimana dunia bisa mengenal Kristus jika dunia tidak melihat bahwa Kristus hidup dalam kita. Benih yang lahir dengan benar haruslah serupa dengan aslinya. Apa kita lahir serupa dengan Kristus? Apakah Kristus bekerja secara penuh dalam kehidupan kita? Sudahkah pikiran kita diubah dan keegoisan kita dihilangkan ketika kita menjadi semakin serupa dengan Kristus? Karena hanya dengan itulah kita tahu apakah kita ini biji sesawi atau bukan. Maka dari itu, perumpamaan biji sesawi tidak hanya mengulas ajaran tentang keselamatan namun juga menyingkapkan kebenaran Injil.

Setiap orang harus bertanya pada diri mereka sendiri, "Apakah saya itu benar-benar sebuah benih yang terlahir dari kematian dan kebangkitan benih yang sulung yakni Kristus itu sendiri? Apakah kebangkitan Kristus ada didalam saya? Apakah saya menjadi serupa dengan Kristus dalam pikiran dan perbuatan? Saya sadar bahwa saya banyak berbuat kesalahan dan kegagalan. Namun sudahkah saya berada pada proses perubahan seperti yang dikatakan rasul Paulus, "dalam kemuliaan yang semakin membesar?" (lihat 2 Korintus 3:18). Mungkin tingkat kemuliaan kita yang menunjukkan gambar Kristus masih terbatas saat ini, namun setidaknya semakin bergerak maju, semakin bertambah pada saat Roh Kudus mengubah kita menjadi makin serupa dengan Kristus.

Allah Bekerja melalui Saluran yang Sederhana.
Ketika Kerajaan Allah ditabur, maka akan ditabur ke dalam dunia seperti benih yang sangat kecil. Biasanya apa yang kita harapkan dari sebuah benih kecil pasti ialah tanaman yang kecil pula. Lain halnya dengan benih ini, yang akan kita dapatkan ialah tanaman besar yang akan berkembang menjadi sebuah pohon. Meski ini sejenis rumput atau sayuran namun bertumbuh dengan cepat menjadi seukuran dengan pohon yang besar, memberi kita gambaran pada semacam sumber kehidupan yang terdapat didalam bijian sekecil itu - menjadi besar bahkan sebuah pohon yang megah. Tuhan berkata, Bahkan burung - burung di udara membuat sarang di pohon itu, dan tinggal di cabang - cabangnya. Seperti itulah hal kerajaan Allah dapat diumpamakan oleh biji sesawi dan bagaimana caranya bertumbuh. Melalui gambaran ini, Tuhan secara langsung menunjukkan kita pada Alkitab Perjanjian Lama. Di Yehezkiel 31 :3-14 dan Daniel 4 :7-9, engkau akan menemukan bahwa Kerajaan Duniawi diibaratkan sebagai pohon yang sangat besar di mana burung - burung di udara akan membuat sarang, dan segala binatang hutan bernaung dibawahnya.

Ayat yang menarik bagi kita ialah Yehezkiel 17:22-24 sebab ayat itu menunjukkan pada Kerajaan Mesias yakni Kerajaan Kristus :

Beginilah firman Tuhan Allah : Aku sendiri akan mengambil sebuah carang dari puncak pohon aras yang tinggi dan menanamnya; Aku mematahkannya dari pucuk yang paling ujung dan yang masih muda dan Aku sendiri akan menanamnya di atas sebuah gunung yang menjulang tinggi ke atas; diatas gunung Israel yang tinggi akan kutanam dia, agar ia bercabang - cabang dan berbuah dan menjadi pohon yang aras yang hebat; segala macam burung dan yang berbulu bersayap tinggal dibawahnya, mereka bernaung di bawah cabang - cabangnya. Maka segala pohon di ladang akan mengetahui bahwa Aku, Tuhan, merendahkan pohon yang tinggi dan meninggikan pohon yang rendah. (perhatikan kata kata berikut ini, "meninggikan pohon yang rendah." Nah, sekarang kita tahu bahwa biji sesawi sebenarnya belumlah sebuah pohon namun akan berkembang menjadi pohon. Dia meninggikan hal -hal yang rendah). Membuat pohon yang tumbuh menjadi layu kering, dan membuat pohon yang layu kering bertaruk kembali (mekar/ bersemi). Aku, Tuhan, yang mengatakannya dan akan membuatnya.

Ayat - ayat ini menjelaskan dengan gamblang bahwa pohon aras ialah pohon yang sangat kuat. Maksud dari meninggikan pohon yang rendah ialah sebuah nubuat, yakni Tuhan Yesus yang berbicara mengenai biji sesawi, Pohon terkecil dari semua jenis pohon yang ada pada pikiran kita. Pohon aras merah ialah sebuah pohon yang sangat kuat yang akhirnya akan kayu yang berkualitas pula. Pohon tersebut tahan air dan dapat bertahan dari hal - hal buruk lainnya. Dibandingkan dengan pohon aras, sebuah biji sesawi tentunya hanya merupakan pohon terkecil yang engkau temukan. Begitulah Tuhan Yesus selalu mengambil hal yang rendah di dunia ini dan meninggikannya. Dia mempergunakan hal sepele untuk menegur mereka yang merasa bijaksana. Itu adalah cara Tuhan. Ketika Dia datang ke dalam Yerusalem, Dia tidak naik di atas alat transportasi modern bangsa Arab tetapi naik diatas seekor keledai, bentuk angkutan yang lebih sederhana. [Di sini kita menemukan hal yang sama. Tuhan Yesus secara sengaja menunjuk ayat diYehezkiel ini kemudian menyesuaikannya, menunjukkan sifat kerajaan-NYA di jaman ini]: Kalau Tuhan berbicara tentang biji sesawi, Dia menunjuk kepada ramalan yang ada pada Yehezkiel 17: 22 -24. Dia membuat penyesuaian atas apa yang ada di Yehezkiel 17 supaya dapat memberi kita gagasan keadaan kerajaan Allah di waktu sekarang.

Apa maksud dari gambaran burung-burung tinggal pada cabang-cabang pohon pada saat kita melihat perumpamaan tersebut? Jika kita mengacu Yehezkiel 17 di atas, kita akan melihat seperti halnya di Yehezkiel 31:6, burung di cabang menunjuk kepada bangsa-bangsa dunia. Kerajaan Tuhan memulai karyanya dengan cara sepele yang sangat kecil yang lambat laun menjadi kekuasaan luar biasa di dunia, bahkan bangsa yang sangat kuat pun akan berada di bawah naungannya.

Secara alami, ketika para murid mendengar apa yang dikatakan Tuhan mereka harus percaya karena iman. Mereka tidak mempunyai pedoman saat itu. Meskipun tidak ada bangsa yang tinggal di bawah naungan kerajaan Tuhan pada kala itu. Saat itu kerajaan-Nya hanyalah sama seperti biji sesawi. Tidaklah terlalu penting sebab tidak ada seorangpun yang memperhatikan. Meskipun menggoncangkan orang-orang di Palestina waktu itu ,namun dunia luas belum memperhatikannya.

Sekarang semuanya sudah berbeda. Kita hidup pada masa dimana kita merupakan saksi -saksi dari penggenapan ajaran Tuhan. Firman-NYA, "Surga dan dunia akan lenyap namun firman Allah akan tetap kekal". Beginilah firman Allah, Akan tiba saatnya bangsa bangsa di dunia berlindung di bawah cabang-cabang pohon kerajaan Tuhan. Hari ini mata kita melihat penggenapan nubuat Allah tersebut. Banyak bangsa- bangsa besar di dunia sedang berlindung di bawah cabang pohon kerajaan Allah dengan menyebut diri mereka sendiri menjadi bangsa Kristen.

Bangsa - bangsa dunia sering mempergunakan lambang burung untuk menunjukkan jati diri mereka. Sebagai contoh, elang selalu dianggap sebagai lambang Amerika Serikat, dan elang ganda sering diartikan sebagai lambang Jerman. Pada suatu bentuk tertentu - baik elang ganda atau tunggal - elang terus-menerus muncul di lambang Jerman. Hal yang menarik ialah banyak bangsa menggambarkan jati diri mereka dengan cara seperti ini. Didalam perumpamaan ini, meskipun burung bukanlah bagian dari kerajaan Tuhan, mereka mencoba untuk berlindung padanya dan mencoba mendapat beberapa keuntungan darinya. Ini adalah cara lain untuk mengatakan bahwa pengaruh kerajaan Tuhan menjadi begitu sangat kuat, ajaran Kristus menjadi begitu merembes di dunia dan bangsa-bangsa mengambil perlindungan dari ajaran-Nya sekalipun mereka tidak mempraktekkannya.

Sementara burung-burung melambangkan bangsa di dunia, biji sesawi melambangkan kerajaan Tuhan. Oleh karena itu cabang/ranting mewakili orang Kristen. Di Alkitab, kata 'cabang ranting' sangatlah umum bagi orang Kristen, seperti yang terdapat pada Yohanes 15:2, 4, 5. Pada ayat 5, firman Tuhan, "aku pokok anggur dan kamulah ranting -rantingnya". Oleh karena itu kita adalah ranting/cabang dari pokok anggur atau cabang dari pohon zaitun, seperti pada Roma 11: 17 - 24. Apapun jenis pohonnya, Tuhan adalah pokok utama atau pondasi dari pohon, dan kita pengikutnya, adalah cabang.

Menubuatkan Hari Esok
Tuhan mempergunakan cerita perumpamaan secara efektif untuk meramalkan masa depan. Apa yang sudah diramalkan sudah di proses dan akan berlangsung sampai pada waktu kerajaan Kristus memerintah seluruh bumi. Ini sudah dinubuatkan di Daniel 2:35, di situ dikatakan dimana ada gunung besar yang akan memenuhi seluruh bumi. Di dalam perjanjian Baru, sekali lagi kita melihat hal sama terjadi, seperti pada wahyu 11:15. Malaikat - malaikat menyatakan bahwa kerajaan dunia ini akan menjadi kerajaan Tuhan. Semua bangsa di dunia ini akan diperintah Dia pada saat Dia datang lagi. Di dalam Wahyu dikatakan bahwa Dia akan menjadi Raja dari raja, Tuhan dari segala tuhan. Kita harus percaya oleh iman sebab semua itu belum terpenuhi. Tetapi kita tidak boleh lupa akan apa yang sudah dikatakan Tuhan pada jaman awal- yakni bahwa Dia akan mengirim anak-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan dunia dari perbudakan dosa - hal itu telah menjadi kenyataan (digenapkan). Maka, kita adalah orang-orang bodoh jika tidak mempercayai bahwa penggenapan yang dikatakan di perumpamaan itu juga akan terjadi.

Ketika Dia datang kedua kalinya, kata rasul Paulus di filipi 2, setiap lutut akan bertelut, dan setiap lidah akan mengaku Dialah Tuhan. Semua bangsa akan dikumpulkan di bawah penghakiman-Nya dan Dia akan menghakimi mereka dengan gada besi. Alkitab memperingatkan hal itu kepada kita. Tiap orang akan berdiri di hadapan takhta penghakiman Kristus. Dulu Dia datang sebagai Penyelamat; kali kedua Dia akan datang sebagai Hakim.

Keindahan perumpamaan tersebut terdapat pada fakta bahwa sebagian nubuat luar biasa Allah sudah digenapi. Terlebih lagi, sampai sekarang masih digenapi di dalam kehidupan kita. Bahkan, jika kita kembali pada abad ke-4, orang Kristen melihat penggenapan tersebut ketika Kekaisaran Romawi menyarungkan pedangnya di muka Gereja. Romawi, bangsa besar yang tidak bisa ditaklukkan oleh negara manapun di dunia bisa, ditaklukkan oleh Kristus, bahkan tanpa menghunus pedang. Constantine, Kaisar Kristen pertama Romawi, mengumumkan penyerahan dirinya kepada Kristus dan menempatkan dirinya berlindung di bawah naungan pohon sesawi. Sejak saat itu, kita melihat bangsa bangsa menyusul.

Hal apa yang begitu mengesankan dari sebuah pohon sesawi? Ada banyak pohon yang sangat besar di dunia tetapi pohon sesawi dapat menaklukkan mereka. Nah, seperti itulah kekuasaan Tuhan yang luar biasa. Orang mana pun yang mempunyai mata untuk melihat - sekalipun dia bukan orang Kristen dan dia tidak menyembah Kristus maka mereka akan dapat memahami keluarbiasaan kerajaan Tuhan itu. Seperti pertumbuhan menakjubkan sebuah biji sesawi.

Banyak di antara kita yang berjalan dekat dengan Tuhan percaya bahwa firman-Nya tidak akan pernah gagal. Meskipun beberapa bangsa belum menerima pemerintahan-Nya, tapi akan tiba saatnya setiap bangsa akan bertekuk lutut di bawah kekuasaan-Nya. Kerajaan-Nya akan terbentang dari laut ke laut, seperti nyanyian John Wesley, dan diatas kerajaan-Nya matahari tidak akan pernah terbenam.

Pada saat itu, murid-murid Tuhan harus percaya firman Tuhan dengan iman yang murni. Meskipun Yesus hanyalah seorang tukang kayu yang mengembara di seluruh Palestina dan berbicara tentang hal luar biasa, "Wow! Apa ini?" Orang- orang akan berkata "Siapakah orang ini?" Seluruh dunia akan takluk pada kerajaan-Nya? Lihatlah gerombolan kecil orang-orang ini - dua belas orang murid yang mengikuti Dia. Pastilah mereka itu buta sebab mereka mengikuti Dia. Pemimpin bangsa, para pemimpin agama, pemimpin politik, pemimpin sosial - tak ada satupun di antara mereka mau menerima Dia. Apa maksud seluruh percakapan tentang segala bangsa yang berlindungan di naungan pohon-Nya seperti burung? Kamu pasti hanya bergurau!

Akan tetapi Tuhan dengan berani mengatakan, "Langit dan bumi akan lenyap; namun Firman Allah akan tetap kekal" (lihat Matius 05:18). Tidak ada seorang pun melainkan Dia Kristus, yang akan berani mengatakan hal seperti itu, sebab mereka yang mengatakan hal itu akan dikutuk. Dia tidak takut mengatakan, "Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat berdosa?" (lihat John 08:46). Dia berani untuk mengatakan hal itu kepada siapa saja. Dan sejarah sekali lagi membenarkan firman-Nya. "Ketahuilah," kata-Nya kepada murid-murid, "bahwa Kerajaan-Ku akan menjadi besar bukan dengan pedang." Ada suatu ideologi dan agama yang berusaha untuk menaklukkan dengan menghunus pedang; dan seluruh bangsa ditaklukkan dengan senapan. Namun Tuhan tidak memerlukan hal itu. Tentu saja, ada yang mencoba menekan budak mereka di bawah ancaman senapan agar mereka takut tetapi ketika mereka hilang kendali, budak itu akan memberontak. Seperti kata Napoleon, "Aku menaklukkan dengan pedang; aku menaklukkan dengan pasukan. Aku menaklukkan sebagian dunia ini tetapi Yesus tidak pernah menghunus pedang." Sampai hari ini, kerajaan-Nya sudah tahan ribuan tahun, dan sudah 1700 tahun semenjak masa Napoleon.

Janganlah Takut Membela Kebenaran
Seorang filsuf Inggris bernama Thomas Carlyle, yang bukanlah orang Kristen, pernah mengatakan, "Setiap gerakan luar biasa di dunia ini dimulai dari satu hal minoritas (kecil)." Bahkan orang-orang duniapun bijaksana dan tahu hal itu. Setiap gerakan luar biasa dimulai dari hal minoritas (kecil). Seberapa benar hal itu. Rupanya Carlyle sudah belajar sesuatu dari sejarah. Contohnya, Alexander Agung yang menaklukkan dunia. Semuanya dimulai dengan hanya satu orang saja.

Beberapa orang, seperti Konfusius, yang punya gagasan, Dia menaklukkan Cina dengan gagasan Konfusianisme, ajaran moril tentang suatu filsafat meskipun bukanlah sebuah agama. Seluruh Cina hidup di bawah ajaran Konfusius selama bertahun-tahun dan orang-orang memperoleh banyak keuntungan di banyak hal.

Sama dengan sejarah Gereja. Suatu ketika, ada seorang yang berdiri melawan masyarakat. Dia dikutuk, dihukum, dipandang rendah tetapi karena karya Allah bekerja, dia akhirnya menang. Contohnya Luther. Dia berhadapan dengan kebesaran Gereja Roma pada saat itu - Kekaisaran Suci Roma. Hanya seorang diri - seseorang bernama Luther yang hampir tidak dikenal masyarakat - berjuang dan berbicara firman Tuhan. Kebanyakan orang bahkan malah tidak memikirkan untuk melakukan sesuatu seperti ini. Mereka mungkin akan berkata, "Apa mungkin kamu seorang diri yang benar sedangkan seluruh gereja salah? Tidak tahukah kamu bahwa Paus itu sempurna? Apakah engkau baru dilahirkan kemarin?" Tetapi Luther berdiri dan berbicara tentang kebenaran, menyatakan firman Tuhan. Hari ini, Gereja Katolik pun akhirnya menyadari bahwa bagaimanapun juga Luther benar di banyak hal. Sejak Vatican II, sudah ada usaha damai. Umat Khatolik tidak akan mencoba hal itu kecuali mereka sadar bahwa Luther itu benar.

Pada abad ke-18, John Wesley berdiri melawan korupsi di gereja Anglikan dan berkhotbah tentang kesucian, seorang diri melawan seluruh Gereja. Dia tidak boleh berkhotbah di seluruh gereja; Bahkan dia tidak boleh berkhotbah di gereja ayahnya, di mana ayahnya ialah seorang pendeta dan dia sendiri adalah seorang pendeta Gereja Inggris yang ditahbiskan. Nyatanya, dia tidak boleh berkhotbah di mana pun. Gereja menghukum dia agar dia diam. Tetapi dia tidak dapat dihalangi. Dia berdiri di ladang dan berkhotbah; dia berdiri di jalan dan berkhotbah. Dia tidak akan diam.

Bagi Wesley, ia seorang diri melawan seluruh dunia. Banyak orang yang akan menyerangnya dan bertanya, "Memangnya siapa dirimu itu? Apa mungkin kamu seorang diri yang benar sedangkan seluruh gereja salah? Memangnya siapa kamu itu? Kamu terlalu sombong." Semua orang mengutuknya tetapi dia terus berkhotbah karena Tuhan yang menaruh di hatinya pesan keselamatan dan kesucian. Hari ini, aliran Metodis, yang diserukan oleh Wesley, sudah menyebar ke seluruh dunia dan Gereja Inggris berusaha berdamai dengan Gereja Metodis. Mereka mau dipersatukan lagi. Itu karena mereka mengakui bahwa banyak hal yang tepat pada aliran Metodis.

Berkali-kali di sejarah dunia, kita melihat bahwa satu biji sesawi, satu pelayanan kecil bagi Tuhan, akan tumbuh ke menjadi hal besar. Tentunya, pada saat awal merupakan hari kesepian ketika anak- anak Tuhan seperti Wesley dan Luther dicela, dan dihakimi terus-menerus. Tetapi dari biji sesawi yang kecil itu tumbuh karya Tuhan yang sangat besar. Oleh sebab itu jangan takut menjadi kaum minoritas. Umat Tuhan berbicara karena api yang menyala di hati mereka. Seperti kata Luther, "Di sini aku berdiri," ketika dia disuruh menarik perkataannya atau ia akan menghadapi pengucilan. Dia mengatakan, "Di sini aku berdiri; aku tidak akan pindah. Aku tidak bisa menyangkal kata hatiku di hadapan Tuhan. Tuhan yang sudah ada di hatiku, aku harus berbicara. Kamu bisa mengucilkan aku, kamu bisa membasmiku jika kamu suka. Lakukan apapun yang kamu suka tapi di sinilah aku berdiri aku tidak akan pindah. Dan kita patut bersyukur karena dia berdiri dengan kukuh. Luther adalah salah seorang yang harus membayar harga karena imannya. Mereka mesti jatuh dalam tanah dan mati agar pohon yang membawa kemuliaan itu kepada Tuhan dapat tumbuh pesat.

Seperti halnya Tuhan Yesus yang seorang diri saja. Semua pemimpin bangsa - termasuk para ahli Taurat dan imam-imam besar - melawan Dia. Di jaman perjanjian Baru para ahli Taurat ialah orang-orang yang terpelajar yang pada jaman modern seperti sekarang ini disebut sebagai pengacara. Saat itu mereka mungkin mengatakan, "Bisakah engkau disebut benar jika para ahli agama melawan Engkau?" Menurut saya, mereka gerombolan kecil orang-orang yang mengikuti-Nya - yakni murid-murid-Nya. Oleh kasih karunia Tuhan mereka tentunya mempunyai keberanian luar biasa. Tetapi lihat apa yang sudah terjadi. Yesus mati dan kemudian bangkit, tepat seperti biji sesawi. Saat ini, bangsa - bangsa berlindung di bawah naungannya. Di negara seperti Kanada, Amerika Serikat dan Jerman, Alkitab dipakai di setiap undang-undang pengadilan. Dan mereka bersumpah di atas firman Tuhan. Hal itu sungguh menunjukkan bahwa mereka semua mau berlindung di bawah pohon sesawi.

Semakin dekat hari dimana setiap bangsa akan berada dalam pemerintahan Allah. Hal itu akan segera terjadi pada saat Dia lagi datang. Tetapi, diperlukan iman percaya bahwa ini akan terjadi. Sama seperti penggenapan nubuat Allah yang sudah menjadi kenyataan - yakni anak Allah (Kristus) yang telah datang dan lahir di dunia maka nubuat bahwa Dia akan kembali akan digenapi. Biarlah para pengejek mengejek tetapi pada hari kedatangan Kristus mereka akan berlutut seperti yang lain dan mengakui Dia sebagai Tuhan.

Nampak jelas bahwa kerajaan Tuhan akan menyebar di seluruh dunia. Sungguhpun begitu, lihatlah bagaimana sempurnanya keadilan Tuhan. Murid-murid Tuhan kala itu pastilah benar-benar bersuka ria ketika Tuhan mengatakan kepada mereka tentang perumpamaan nubuat biji sesawi ini. Mereka pasti bersorak, "Horee, Tuhan kita akan memerintah dari laut ke laut! Dan matahari tidak akan pernah terbenam diatas kerajaan-Nya dan kita akan memerintah dengan bersama-sama dengan Dia!" Untuk meyakinkan agar mereka tidak terlalu bersuka ria tentang itu, Tuhan menyeimbangkan keadaan dengan memberi mereka kata "waspada" di perumpamaan berikutnya yakni perumpamaan tentang ragi.

[Download]


Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.

Standard
Besar
Terbesar

Perumpamaan:

- Perumpamaan tentang Kantong Kulit yang Lama dan yang Baru

- Perumpamaan tentang Seorang Penabur Benih

- Perumpamaan tentang Penabur - dari Sudut Pandang Keselamatan II

- Perumpamaan tentang Pelita

- Perumpamaan tentang Benih yang Tumbuh dengan Sendirinya

- Perumpamaan tentang Lalang di antara Gandum

- Perumpamaan tentang Benih Sesawi

- Perumpamaan tentang Harta yang Terpendam

- Perumpamaan tentang Mutiara

- Perumpamaan tentang Ragi

- Perumpamaan tentang Pukat

Perumpamaan tentang Ahli Taurat yang Menerima Pelajaran tentang Hal Kerajaan Surga

- Perumpamaan tentang Orang Kaya yang Bodoh

- Perumpamaan tentang Orang Samaria yang Murah Hati

- Perumpamaan tentang Pohon Ara yang Mandul

- Perumpamaan tentang Sahabat pada Tengah Malam

- Perumpamaan tentang Tamu-tamu

- Perumpamaan tentang Pesta Perjamuan Besar I

- Perumpamaan tentang Pelita Diatas Kaki Dian

- Perumpamaan tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 1

- Perumpamaan tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 2

- Perumpamaan tentang Pembangunan Menara dan tentang Raja yang akan Maju Berperang 3

- Perumpamaan tentang Domba yang Hilang

- Perumpamaan tentang Uang Dirham yang Hilang

- Perumpamaan tentang Anak yang telah Mati dan Hidup Kembali

- Perumpamaan tentang Dua Anak yang Hilang

- Perumpamaan tentang Bendahara yang Tidak Setia

- Perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus

- Perumpamaan tentang Hamba yang Tidak berguna

- Perumpamaan tentang Hakim yang Tidak Adil

- Akankah Yesus mendapati iman di Bumi? I

- Akankah Yesus mendapati iman di Bumi? II

- Perumpamaan tentang orang Farisi dan Pemungut cukai

- Perumpamaan tentang Uang Mina

- Perumpamaan tentang Hamba yang Tidak Mengampuni

- Para Pekerja di Kebun Anggur - Bagian Pertama

- Para Pekerja di Kebun Anggur - Bagian Kedua
Prinsip tentang yang terdahulu dan yang terakhir

- Perumpamaan tentang Pohon Ara

- Perumpamaan tentang dua orang anak

- Perumpamaan tentang Para Penggarap Kebun Anggur yang Jahat

- Perumpamaan tentang Perjamuan Kawin

- Perumpamaan tentang Pesta Perjamuan Besar 2

- Perumpamaan tentang 10 Gadis-gadis yang Bijaksana & Bodoh

- Perumpamaan tentang talenta

- Pemisahan antara Kambing dan Domba 1

- Pemisahan antara Kambing dan Domba 2

- Perumpamaan tentang Kedatangan Yesus yang kedua

Copyright 2003-2007. Semua materi di situs ini adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries.
E-mail kami untuk mendapatkan izin untuk menggunakan materi di situs ini.
Best viewed with IE6.0 and 1024 by 768 resolution.