|
| Saran & Komentar | updated on 24 September 2008 |
|||||||
|
CahayaPengharapanMinistries Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan |
|||||||
|
|
|||||||
|
Penyangkalan Diri Markus 8:31-37 - oleh Pendeta Eric Chang Di khotbah pertama dalam seri Pemuridan dan Harganya, kita mempelajari ajaran Yesus di Matius 11, di mana Yesus menyatakan bahwa yang terkecil di dalam kerajaan Allah lebih besar - bukan akan menjadi lebih besar, melainkan adalah lebih besar daripada Yohanes Pembaptis. Ini satu pernyataan yang sangat mengejutkan. Apakah kita dapat memenuhi harapan Yesus bagi gereja-Nya? Di saat kita melihat ke sekeliling kita, kita bahkan tidak menemukan orang yang kehebatan rohaninya separuh dari yang dimiliki Yohanes Pembaptis, apalagi yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis! Kita sedang hidup di dalam generasi orang-orang yang kerdil secara rohani. Kita tidak menemukan raksasa-raksasa rohani. Tetapi itulah tujuan kematian Yesus, yaitu untuk memunculkan raksasa-raksasa rohani. Nah mengapa kita tidak dapat menemukan para raksasa rohani itu di antara kita? Dengan kata lain - mengapa kita tidak termasuk jenis manusia Allah sebagaimana yang diharapkan oleh Tuhan? Sangat besar pengorbanan Yesus dalam menebus kita. Sangat besar resiko yang diambil-Nya untuk menebus dan menjadikan kita umat Allah. Tetapi tanggapan kita sangat tidak layak untuk diperhitungkan. Iman kita diberikan dengan sikap yang setengah hati dan tidak sungguh-sungguh. Tanggapan kita sangatlah memalukan. Jika kita benar-benar meyakini bahwa Dia telah menebus kita dengan harga yang tak terkirakan mahalnya, beranikah kita menjalani hidup kita sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang Kristen sekarang? Mengapa kita tidak melihat adanya kuasa rohani dan kemuliaan Kristus di dalam diri umat-Nya sekarang ini? Pola Kerja Kristus Selama bertahun-tahun saya berkonsentrasi untuk membangun pasukan Tuhan. Pada tahap awal kami tidak terlalu memusingkan masalah pengiriman penginjil. Karena adalah sulit ntuk melatih pasukan yang besar dan yang efektif. Jika kelompoknya terlalu besar Anda tidak dapat memberi perhatian secara pribadi pada setiap orang. Karean itu saya lebih suka bergerak dengan jumlah kecil, seperti yang dilakukan oleh Yesus dahulu. Ia memulai hanya dengan dua belas orang. Dia memusatkan perhatian hanya pada dua belas orang awam ini sampai mereka menjadi orang-orang yang luar biasa. Mereka diperlengkapi dengan kuasa-Nya. Mereka menjadi orang-orang yang mewujudkan Kristus di dalam hidup mereka, dan di dalam pemikiran mereka. Mereka mencerminkan Kristus bukan hanya di dalam kata-kata mereka saja, melainkan juga di dalam kehidupan mereka. Yesus memakai hanya dua belas orang untuk menjungkir-balikkan dunia. Itulah strategi-Nya. Tetapi kita tidak belajar dari strategi Yesus. Kita berkata kepada orang yang baru percaya, "Majulah, ayo, pergilah menginjil. Kami menghendaki satu peledakan penginjilan." Yah, memang akan ada ledakan. Tapi apa hasil dari ledakan itu? Serpihan dan kepingan! Ada sepotong yang tercecer di sisi dan di sana dan di mana-mana. Saya tidak menginginkan ledakan. Yang kami inginkan adalah sesuatu yang membangun, yang bertumbuh walaupun secara pelahan tapi pasti. Pertumbuhan mantap yang mencapai pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Anda tidak akan mencapai pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus dengan memanfaatkan ledakan. Kita menginginkan hasil yang cepat yang dapat kita hitung dan yang kasat mata. Tuhan tidak tertarik dengan hal yang seperti itu. Selama tiga tahun, waktu-Nya yang sangat berharga itu dihabiskan dengan mendidik kedua belas yang biasa-biasa ini. Cobalah pahami hal itu dengan baik. Inilah hal yang harus dilakukan. Dasarnya harus kokoh dulu. Pada saat pasukan sudah siap untuk berperang, mereka pasti akan dikirim. Mereka akan keluar dan menaklukkan di dalam nama Kristus. Namun sebelum landasannya kokoh, kita tidak akan dapat memenangkan pertempuran rohani. Saya harus menerima pelajaran ini lewat pengalaman pahit, lewat kesalahan yang kami buat di London dulu. Oh, kami memang menghasilkan ledakan, memang itulah yang terjadi. Jemaat bertambah dalam hitungan yang luar biasa. Kami bertambah sampai 500% dalam setahun. Jumlah jemaat terus bertambah. Orang-orang berdatangan dari segenap penjuru Inggris untuk melihat ada apa dengan gereja Tionghoa ini - pertumbuhan jemaat yang fantastik, fenomenal. Kami mengalami ledakan dan akhirnya kami hancur berkeping-keping. Itulah yang kami alami. Kami hancur. Gereja itu tetap besar dan banyak kegiatannya tetapi secara internal, gereja itu lemah. Gereja tidak sanggup menghadapi serangan dari si jahat dan akhirnya ambruk. Maksudnya bukan ambruk di dalam hal jumlah - jumlahnya masih banyak akan tetapi secara rohani, sudah tidak berisi lagi. Dan lima tahun kemudian ketika saya mengamati lagi gereja yang pernah saya bantu pengembangannya dengan menghabiskan tahun-tahun terbaik kehidupan saya, tapi setelah 5 tahun, saya melihat bahwa 98% dari jemaatnya sudah berpaling dari Tuhan. Saya bertekad untuk tidak pernah lagi membangun gereja semacam itu. Saya meminta agar Tuhan mengajari saya cara yang benar. Dan cara itu adalah untuk kembali ke mulanya. Apa yang telah diajarkan oleh Tuhan? Tidak perlu pedulikan masalah ledakan; berkonsentrasi saja dalam membangun landasan yang kokoh! Atau dengan gambaran yang lain, berkonsentrasi untuk memupuk pertumbuhan mereka sampai mereka mencapai tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Dengan begitu mereka akan bisa menjangkau orang lain. Dengan begitu akan ada kuasa. Kemudian orang-orang akan tertarik untuk mengenal Tuhan. Dan ketika orang-orang yang baru ini datang, berkonsentrasilah untuk membangun para murid. Begitulah cara Yesus melakukannya. Kita sering mengira bahwa kita ini lebih pintar daripada Tuhan; bahwa kita bisa mengerjakan sesuatu dengan lebih hebat lagi. Tetapi yang terjadi akhirnya adalah kekacauan, karena kita tidak mengerjakannya dengan cara Tuhan. Persyaratan Dasar
untuk Menjadi Murid
Saya yakin bahwa ayat-ayat ini sangat akrab di telinga Anda; terkandung di dalamnya makna yang sangat penting. Ayat-ayat ini memberitahu kita bahwa tidak seorangpun yang bisa menjadi murid-Nya tanpa melakukan 3 hal yang disebutkan di sini, yaitu, menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Yesus. Di ayat 29, Petrus baru saja membuat pengakuan iman bahwa Yesus adalah Anak Allah. Kata Mesias berarti raja - mereka mengakui bahwa Yesus adalah raja bangsa Israel, Kristus, Anak Allah. Akan tetapi, mereka keliru dalam memahami kata Mesias. Mereka memahami hal ini di dalam pengertian kemuliaan yang duniawi. Yesus langsung mengoreksi kekeliruan mereka dengan mengajar mereka bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan. Ia memberitahu mereka bahwa bukannya menerima kemuliaan di Israel, malah seluruh pemuka agama akan menolak Dia. Mereka akan bangkit menentang-Nya. Hal ini sangat sulit untuk dipahami oleh para murid karena sampai saat itu penolakan dari para pemuka agama masih belum terlihat. Sudah ada tanda-tanda tetapi masih belum secara terang-terangan. Pada waktu itu Yesus juga sangat populer di kalangan rakyat. Akan tetapi Yesus berkata, "Semuanya ini akan segera berubah. Penolakan terselubung itu akan segera menjadi penentangan terbuka. Bukan saja Aku akan ditentang tapi lebih dari itu, Aku akan dibunuh." Namun Petrus tidak suka dengan apa yang didengarnya. Lalu dia mulai menegur Yesus, "Tidak, tidak, tidak, jangan berkata demikian. Jangan begini! Jangan berpikiran negatif. Kita harus berpikir secara positif." Urusan mati terbunuh jelaslah hal yang negatif. Lalu dia mulai membantah, berdebat dan menegur Yesus. Akan tetapi Petrus justru mendapat teguran keras. "Enyahlah iblis - musuh dan lawan-Ku, karena kamu tidak memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia. Caramu berpikir sangat duniawi, itu bukanlah jalan pikiran Allah." Kemudian Yesus melanjutkan dengan menerapkan hal yang sama pada para murid. "Aku akan pergi ke kayu salib, tetapi bukan hanya Aku saja. Kamu juga harus ikut ke kayu salib kalau kamu ingin mengikut Aku. Karena jika itulah jalan-Ku, maka kamu juga harus mengambil jalan yang sama kalau ingin mengikut Aku." Selanjutnya Dia berbicara tentang hal penyangkalan diri. Banyak di antara kita mengira bahwa kita sudah mengerti apa itu penyangkalan diri. Tetapi sebenarnya kita tidak tahu apa artinya penyangkalan diri. Ketika diminta untuk mendefinisikan hal tersebut secara lebih spesifik, kita tidak dapat melakukannya. Ayat 35 mengatakan, "Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya." Ayat 35 sangat berkaitan dengan ayat 34. Kehilangan nyawa mencakup perkara menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus. Itulah artinya kehilangan nyawa. Anda memikul salib dan kehilangan nyawa Anda. Ini berarti Anda akan disalibkan. Anda akan melangkah maju menuju kematian. Salib adalah alat kematian. Akan tetapi Yesus berkata, jika kamu mengira bahwa hidupmu akan selamat dengan tidak memikul salib, maka kamu keliru, karena dengan tidak memikul salib, justru kamu sedang kehilangan hidupmu. Lalu apakah hubungannya dengan ayat 36 - "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia"? Kita perlu memahami hal ini, bahwa bagi orang yang mengira dia sedang menyelamatkan nyawanya, manusia duniawi mengira bahwa nyawanya akan selamat dengan jalan memperoleh dunia. Baginya, nyawanya dipahami dalam pengertian memperoleh dunia. Perhatikanlah para seniman. Apa yang dia cari? Dia hidup untuk mengejar penghormatan dari orang-orang. Baginya, penghormatan atau aplaus dari orang-orang berarti memperoleh dunia. Penghormatan dari dunia berarti memperoleh dunia. Bagi sebagian orang, mereka sudah senang tanpa harus memperoleh seluruh dunia; mereka tahu bahwa mereka tidak mampu mengusahakannya. Mereka cukup senang jika bisa memperoleh suatu tempat di pojok dunia. Beberapa orang berpikir bahwa mereka sudah mencapai sukses dengan menjadi jutawan. Jika kekayaan mereka dibandingkan dengan kekayaan dunia, segera terlihat bahwa kekayaan mereka sebenarnya sangat kecil. Jumlah uang di dunia ini sedemikian besarnya sehingga jika Anda menguasai beberapa juta dolar, sebenarnya itu hanya sepotong kecil dari kekayaan yang ada. Jadi bukan sekadar memperoleh seluruh dunia yang menjadi persoalan di sini. Sepotong kecil dari dunia sudah cukup bagi manusia duniawi. Segenap perhatiannya tertuju pada upaya untuk memperoleh dunia. Baginya, dunia adalah kehidupan. Pepatah China mengatakan, "Yao qian bu yao ming" yang maksudnya adalah bahwa uang adalah lebih berharga daripada nyawa Anda. Orang rela mati untuk itu. Sudah berapa banyak pemburu harta karun yang mati? Mereka tahu bahaya macam apa yang harus dihadapi untuk mendapatkan harta karun yang terpendam di dasar laut. Bahaya serangan ikan hiu, bahkan bahaya dari kegiatan penyelamannya itu sendiri...ada banyak resiko yang harus ditanggung. Kedalaman samudra lepas bisa membuat Anda jatuh pingsan. Anda bisa mati tenggelam. Anda juga mungkin menghadapi berbagai masalah saat timbul ke permukaan. Tentu saja, tehnik penyelaman sekarang sudah agak canggih, namun tetap saja ada bahaya terjebak di reruntuhan kapal. Anda tak dapat keluar. Jika Anda menyelam dengan bantuan selang, maka selang itu bisa saja terpotong oleh benda-benda tajam di bawah sana dan Anda mungkin sudah mati lemas sebelum sempat berenang ke permukaan. Namun orang-orang bersedia menempuh bahaya demi mendapatkan harta karun itu, jadi harta karun tersebut lebih berharga, dalam pengertian tertentu, lebih berharga dari nyawa mereka sendiri. Kita sering mempertaruhkan nyawa kita. Anda ingin belajar menerbangkan pesawat, pesawat itu bisa saja jatuh. Anda ingin belajar menyetir, mobil Anda bisa saja tabrakan. Tampaknya kita, selalu, mempertaruhkan nyawa kita. Untuk apakah kita mempertaruhkan nyawa? Ini adalah pertanyaan yang penting. Bagi beberapa orang, mereka bersedia mempertaruhkannya demi dunia, demi memperoleh dunia. Saya cukup terbiasa dengan hal ini. Bagi kami yang memiliki ambisi militer, tentu saja, setiap saat siap mempertaruhkan nyawa. Kami memperoleh dunia lewat petualangan militer kami. Kami bisa saja kehilangan nyawa sebelum sempat memperoleh bahkan sepotong kecil dunia ini, akan tetapi kami bersedia mempertaruhkan nyawa di garis depan. Bagi orang yang duniawi, dia akan mempertaruhkan nyawanya demi memperoleh dunia. Apakah gunanya jika seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Bukan sekadar kehidupan jasmaninya. Bahkan yang lebih penting lagi, bagaimana jika Anda kehilangan kehidupan rohani Anda, bagaimana jika Anda kehilangan peluang hidup yang kekal? Apa yang akan Anda lakukan dengan dunia? Sekarang kita bisa melihat kaitan di antara ayat-ayat itu. Sekarang mari kita lihat dulu ayat 34 yang merupakan ayat yang paling perlu kita bahas secara rinci. Ayat ini memiliki tiga unsur di dalamnya: "Barangsiapa ingin murid-Ku, dia harus mengerjakan tiga hal: Pertama, dia harus menyangkal dirinya; kedua, dia harus memikul salibnya; dan ketiga, dia harus mengikut - kata ini berbentuk present continuous (sesuatu yang berlangsung secara terus menerus) - dia harus terus mengikut Aku, bukan sekadar sementara saja mengikut Aku melainkan mengikut Aku seterusnya. Dia harus mengerjakan semua hal ini." Penyangkalan diri Mengapa manusia gagal dan berbuat dosa? Sekali lagi karena ego, bukankah demikian? Alasannya selalu bermuara di dalam dirinya. Saya mendapati sesuatu yang menarik ketika bercakap-cakap dengan orang-orang yang mengalami kegagalan. Sungguh luar biasa, mereka selalu punya alasan atas kegagalan mereka yang juga merupakan suatu pembenaran. Bagi mereka alasan tersebut sangat meyakinkan. Karena alasan mereka sangat menyakinkan diri mereka karena bagi mereka yang penting adalah 'diri ini' - segenap logika, segenap pemikiran dikendalikan oleh keakuan mereka. "Mengapa kamu jatuh ke dalam dosa yang ini?" "Oh, situasinya terlalu menekan sehingga saya tidak sanggup menolak." Itulah sebenarnya hal yang sedang dikatakan oleh Adam saat Hawa memberikannya buah itu. Seharusnya dia berkata, "Tidak, aku tidak akan memakan buah ini. Aku sangat mencintaimu sebagai istriku dan Allah telah memberikan engkau kepadaku. Hal itu tidak diragukan lagi. Tetapi aku tidak akan memakannya sekalipun hal itu akan menyinggung perasaanmu, sekalipun engkau akan sangat marah padaku, sekalipun engkau akan melemparkan buah itu ke wajahku. Maafkan aku, tetapi aku tidak akan memakannya karena Tuhan berkata bahwa aku tidak boleh memakannya." Namun Adam tidak berkata seperti itu. Lantas ketika dia mengalami kejatuhan apakah alasannya? Si perempuan itu. Dan si perempuan mengalihkan tuduhan itu kepada ular. (Si ular tidak bisa mengalihkan tuduhan kepada siapa-siapa lagi.) Sangat memalukan untuk berkata, "Aku gagal karena perempuan ini." Engkau gagal karena kesalahanmu sendiri; engkau gagal bukan karena perempuan itu, engkau gagal juga bukan karena kesalahan orang lain. Orang yang sedang gagal biasanya senang menimpakan kesalahan pada orang lain. Ada satu hal alkitabiah yang harus kita pahami. Kita tidak dapat melakukan hal seperti di atas pada hari Penghakiman nanti ketika Tuhan datang di dalam kemuliaan-Nya. Kita harus bertanggungjawab atas kegagalan kita. Dan Anda gagal karena diri Anda sendiri. Kadang kala jika menyangkut masalah dosa, persoalan dasarnya selalu sama saja. "Mengapa kamu melakukan hal ini?" "Oh, kedudukanku sangat sulit. Aku harus melakukannya." Anda tidak harus melakukannya. Anda melakukannya karena Anda tidak berkata 'tidak' kepada diri Anda. Jadi apakah bahaya dari tidak adanya penyangkalan 'diri'? Bahayanya adalah bahwa Anda akan gagal total. Anda tidak akan dapat bertahan secara rohani; Anda akan jatuh seperti Hawa; Anda akan jatuh seperti Adam. Seperti Daud. Mengapa Daud bisa jatuh? Kembali masalah 'self' atau "ego". Dia melihat perempuan cantik dan dia tidak sanggup menahan diri. Kedagingannya menguasai dia. Ah, dia menatap dan terus menatap. Dia terus mengingini dan hatinya berkecamuk. Dan apa yang dia lakukan? Dia merencanakan "pembunuhan" untuk mendapatkan perempuan cantik itu. Suami perempuan itu dikirimnya ke medan perang. Sang suami mati dan Daud mendapatkan apa yang diingininya. Ego, akar permasalahan yang sama. Selalu saja, 'ego'. Kegagalan dalam menyangkal diri akan berakibat sangat fatal. Anda harus memahami hal ini dengan jelas. Saya yakin sekarang Anda cukup mengerti akibat fatal dari tidak menyangkal diri. Masalahnya adalah pada saat kita berbuat dosa, kita lupa akan kebenaran yang mengerikan ini. Di saat kita duduk diam dan kita memikirkan persoalan ini dengan tenang, kita mengerti akibat fatal kegagalan menyangkal diri. Namun mengapa orang Kristen tetap berbuat dosa? Jika Anda tahu tentang dosa, mengapa Anda melakukannya? Kita membicarakan tentang dunia, daging dan iblis sebagai musuh-musuh di dalam kehidupan Kristen. Tahukah Anda bahwa ketiga hal tersebut bukanlah hal yang berbeda? Semuanya bekerja dalam satu prinsip yang sama yaitu ego. Dunia bekerja dengan prinsip ego. Daging adalah penggerak dari dalam diri kita untuk melakukan apa yang menjadi keinginan daging. Iblis, tentu saja, selalu dimotivasi oleh keakuan - "Buat apa mendengarkan Allah? Lakukan saja apa yang kau suka." "Engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." Apa yang Yesus maksudkan dengan "manusia"? "Manusia" di sini adalah dalam pengertian manusia yang belum dilahirkan kembali. Manusia yang selalu dimotivasi oleh diri sendiri! Mengapa orang-orang Kristen jatuh? Mengapa orang-orang muda jatuh di dalam dosa seksual? Jawabannya sederhana: Anda belum mampu menyangkal diri Anda sendiri. Itu sebabnya Anda melakukan hal-hal tersebut. Dan setelah itu Anda menyesalinya tetapi sudah terlanjur. Mengapa Anda tidak menyangkal diri Anda? Tidakkah Anda mengerti bahwa jika Anda belum menyangkal diri Anda, Anda tidak bisa menjadi murid Tuhan? Itulah yang Yesus katakan, bukan apa yang saya katakan. Ego, Dasar Dunia
Bekerja Saya sempat melihat satu iklan bagi tape mobil. Iklan itu menggambarkan seorang gadis cantik yang bekerja sebagai seorang pramusaji di kounter take-away. Gadis ini sibuk melayani pesanan dari para pengendara mobil. Dan siapakah yang sedang dia layani? Dia mengabaikan mobil-mobil lain yang sedang parkir menunggu pelayanan dan langsung menuju mobil yang mempunyai tape itu. Apa pesan dari iklan ini? Mengapa orang itu saja yang dilayaninya? Apakah karena mobilnya? Apakah karena pakaiannya dari model yang paling mutakhir? Tidak, pakaiannya biasa saja. Apakah karena dia sangat tampan? Tidak, dia hanya seorang pria paruh baya yang berkepala botak. Lantas muncul pertanyaan: Mengapa gadis ini mengabaikan para pria tampan di dalam mobil-mobil mewah mereka dan mendatangi pria paruh baya yang berkepala botak dengan pakaian yang sederhana yang mengendarai mobil kecil itu? Jawabannya, tentu saja, karena tape mobilnya. Pesan dari iklan ini adalah tape mobil Anda akan membuat Anda begitu atraktif sehingga dapat memikat pramusaji yang cantik itu untuk melayani Anda. Sungguh menggelikan! Namun iklan ini memainkan semua unsur dari ego: hasrat untuk diperhatikan - khususnya perhatian dari seorang gadis cantik, tentu saja. Gadis itu mengabaikan semua yang lain dan hanya ANDA saja yang dia pedulikan. Jadi segeralah beli tape mobil itu! Bagaimana dengan iklan mobil? Seorang pria keluar dari mobilnya. Dan mobil itu diparkir di Hilton. Sangat menyolok... karena terlihat tulisan "Hilton" yang besar. Mengapa mobil itu parkir di Hotel Hilton? Apa hubungannya dengan mobil tersebut? Yah, maksudnya, tentu saja, bahwa orang yang mengendarai mobil ini biasanya menginap di Hotel Hilton. Jadi jika Anda mengendarai mobil ini, maka Anda akan termasuk dalam kelas mereka yang terbiasa menginap di Hilton. Atau lihatlah pada iklan jam tangan. Siapa yang memakainya? Oh, seorang olahragawan terkenal, mungkin Tiger Wood. Ah, lalu apa maksudnya? Apa hubungan Tiger Wood dengan jam tangan itu? Maksudnya, tentu saja, jika Anda memakai jam tangan merek tersebut, maka Anda akan termasuk kelas orang seperti Tiger Wood. Jika kebetulan Anda tidak berminat dengan golf, mereka punya bintang iklan lainnya yang akan sesuai dengan selera Anda. Jika Anda berminat pada manajemen hotel, mereka punya bintang iklan yang merupakan bos dari sebuah jaringan hotel kelas dunia. Sedang apa dia? Terlihat foto tentang dirinya sedang duduk dan jam tangan itu tampak berkilauan, jam tangan yang diiklankannya. Inilah rayuan terhadap keakuan. Demikianlah selalu, hal-hal tersebut disuguhkan kepada Anda - yaitu suatu rayuan kepada ego Anda. Seluruh masyarakat dibangunkan di atas dasar ini. Bank Dunia baru-baru ini melancarkan serangkaian iklan: "Kami sukses jika Anda sukses". Ini iklan egois yang sangat jujur. Mengapa kami ingin agar Anda sukses? Karena kami sukses jika Anda sukses. Jadi, tentu saja, kami tidak ingin Anda gagal karena jika Anda gagal, maka kami juga tidak sukses. Jika Anda gagal, Anda tidak akan punya uang untuk ditabung di bank. Jadi kami berharap agar Anda sukses, supaya Anda dapat menabung lebih banyak lagi di bank kami. Jika Anda ingin memotivasi manusia duniawi untuk menjadi bermoral maka Anda harus merayu pada egonya juga. Jika tidak maka moralitasnya tidak akan berfungsi. Dunia juga punya moralitas. Tetapi moralitas dunia terbentuk di atas dasar keegoisan. Anda dapat mendorong seseorang untuk menjadi lebih bermoral dengan mendorong keegoisannya. Sebagai contoh, 'Honesty is the best policy (Kejujuran adalah kebijakan yang terbaik).' Apa artinya? Yah, jika Anda tidak jujur, maka Anda bisa berakhir di penjara, dan itu bukanlah suatu kebijakan yang baik. Jadi cara untuk menghindari penjara adalah dengan menjadi jujur. Jadi untuk mendorong sikap jujur, kita melakukannya dengan merayu pada keegoisan orang tersebut. Atau prinsip "Kamu menggaruk punggungku dan aku akan menggaruk punggungmu.' Alasan saya menggaruk punggung Anda adalah supaya ada orang yang nantinya akan menggaruk punggung saya. Jadi alasan mengapa saya melakukan hal ini untuk Anda sepenuhnya didasari oleh kepentingan pribadi. Saya berbuat baik kepada Anda supaya nantinya Anda berbuat baik kepada saya. Jika saya tidak yakin bahwa Anda akan berbuat baik kepada saya, maka saya tidak akan berbuat baik kepada Anda. Dengan jalan ini kita memiliki moralitas, perhatian terhadap sesama yang didasari oleh kepentingan pribadi. Saya menolong Anda sekarang, supaya nanti jika saya punya masalah maka Anda akan menolong saya. Beginilah manusia duniawi. Berdasarkan logika yang egois, hal ini memang sangat masuk akal. Kita tidak akan memberi jika kita tahu bahwa kita tidak akan mendapat apa-apa balasan. Terdapat pepatah bahasa Cina, yi shang wang lai. Jika saya memberi sesuatu pada Anda, ingatlah itu. Terakhir kali saya telah memberi Anda hadiah sekitar $500, jadi jika Anda ingin membelikan sesuatu, berilah yang bernilai $550 karena adanya inflasi. Kalau tidak maka saya rugi di dalam urusan ini. Begitulah logika manusia duniawi. Manusia duniawi, bahkan yang baik hati, dimotivasi oleh kepentingan pribadi. Jika mobil Anda rusak, saya akan membantu memperbaiki mobil Anda supaya jika nanti mobil saya rusak, maka Anda akan membantu memperbaiki mobil saya. Sangat mudah dimengerti. Jadi orang-orang duniawi juga saling membantu. Kadang-kadang, tentu saja, manusia duniawi berbuat baik bukan karena maukan balasan materil tetapi tahukah Anda bahwa berbuat baik dapat memberikan rasa senang? Seperti yang sering saya katakan, terdapat semacam rasa senang yang muncul di hati saat kita memberi uang kepada pengemis. Sekalipun jika si pengemis tidak dapat membalas pemberian Anda, rasa senang di hati itu sudah lebih dari cukup. Anda berikan sejumlah uang dan oh, kepuasannya sangat besar. Atau mungkin Anda telah melakukan kesalahan, dan dengan berbuat baik, hati Anda akan merasa lebih nyaman. "Aku telah berbuat salah di sini, jadi aku mengimbanginya dengan berbuat baik." Moralitas ini sepenuhnya dimotivasi oleh kepentingan pribadi. Begitulah manusia duniawi. Jadi demikianlah ciri masyarakat ini. Itu sebabnya mengapa saya katakan bahwa dunia dimotivasi oleh ego. Ego, dasar Daging
dan Iblis Bekerja Nah, kita tidak sedang menghadapi berbagai macam musuh. Musuh kita hanya satu. Dunia dan daging bukanlah musuh yang terpisah. Kedua itu memanfaatkan keegoisan kita. Dalam kaitan dengan hidup dan realitas rohani diri kita sendirilah yang merupakan musuh yang terbesar. Tanda-tanda hidup
yang dikuasai Ego Hal apa yang
membuat Anda Senang? Prioritas Sifat
Individualistik Saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa kita tidak bisa memiliki pemikiran atau ide-ide kita sendiri; kita justru harus mengembangkan pemikiran, menyajikan saran-saran yang berguna. Orang yang tidak punya pendapat maupun pandangan tentang segala sesuatu justru akan menimbulkan kesulitan. Lagipula, jika Anda memiliki rekan sekerja, Anda tentunya ingin mendapatkan umpan-balik, pandangan-pandangan. Tetapi sangatlah berbahaya jika dalam berdiskusi kita hanya mau memaksa dan mengutamakan kehendak dan pendapat kita. Dikuasai Perasaan Kurang pemahaman Sudahkah Anda
Disalibkan?
Mari kita tarik beberapa poin dari sini: "Aku telah disalibkan." Peristiwa ini tidak terjadi di masa depan, bukan pula di masa sekarang. Bagi Paulus hal ini merupakan sesuatu yang telah menjadi kenyataan di masa lalu - bentuk kalimat perfect passive tense: "I have been crucified with Christ (Aku telah diaslibkan dengan Kristus)". Pada waktu dia datang kepada Tuhan, dia mengerti bahwa keakuannya harus dibuang. Dia menyangkal dirinya. Anda tidak dapat disalibkan dengan Kristus kecuali Anda telah menyangkal diri atau dengan kata lain telah benar-benar mengakhiri keakuan Anda. Anda telah melihat bahwa jalan pikiran duniawi berpusat pada diri sendiri. Namun ketika Anda menjadi Kristen, Anda seharusnya menjungkir-balikkan jalan pikiran ini. Seluruh sikap Anda harus berubah sepenuhnya. Jadi makna sepenuh baptisan adalah bahwa Anda mati bersama dengan Kristus. Tetapi berapa banyak orang yang telah dibaptis yang memang benar-benar telah mati bersama dengan Kristus, disalibkan dengan-Nya? Jika kebenaran itu telah sepenuhnya digenapi, maka di dalam diri Anda sekarang akan ada kuasa yang bekerja yang sudah pasti akan melebihi kebesaran Yohanes Pembaptis.
Kristus atau Ego? Penjelasan mengapa Kristus tak dapat hidup di dalam kita dalam segenap kepenuhan-Nya adalah karena kita belum menyangkal diri kita. Kristus masih belum bisa bekerja di dalam hidup kita. Alasannya adalah karena "Kristus" dan "keakuan kita" di dalam manusia duniawi itu bertolak belakang sepenuhnya - mereka tidak bisa menyatu, mereka tidak bisa berjalan berdampingan. Pepatah Cina mengatakan "shi bu liang li", dua kekuatan yang tidak bisa disatukan. Diri saya di dalam keadaannya yang duniawi bertolak belakang dengan Kristus; itu sebabnya jika si aku ada di dalam, Kristus tidak bisa berada di sana. Jika si aku hidup, maka Kristus tidak bisa hidup di dalam diriku. Begitulah keadaannya. Apakah Anda benar-benar yakin, bahwa Kristus hidup di dalam diri Anda? Kita biasa memakai istilah "dalam Kristus". Kita tidak dapat berada di dalam Kristus kecuali jika Kristus ada di dalam kita. Kita dapat melihat ini dari Yohanes 15. Paulus menggunakan istilah berada "di dalam Kristus", dengan mengambil pemahaman yang ada di Yohanes 15 ini. "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu" - keduanya adalah kebenaran yang saling melengkapi. Anda tidak dapat berada di dalam Kristus kecuali jika Kristus ada di dalam Anda. Nah jika Kristus ada di dalam saya, dalam segenap kepenuhan-Nya, dan Kristus lebih besar daripada Yohanes Pembaptis, maka jelaslah saya akan lebih besar daripada Yohanes Pembaptis, karena yang hidup bukan saya lagi melainkan Kristus di dalam saya. Tanda-tanda Hidup
di dalam Kristus Ingatkah Anda, bagi Anda yang pernah jatuh cinta, mengapa asmara di antara dua orang muda begitu manis? (Maksud saya, pada tahap awalnya sebelum ego menonjolkan diri? Hal yang disebut sebagai 'cinta pada pandangan pertama' ini, terasa sangat manis pada tahap awalnya. Tidak muncul masalah pada saat pandangan pertama karena si aku belum sempat menonjolkan diri di saat itu, tahapan yang sangat indah.) Menjadi indah karena masing-masing pihak berusaha (untuk sementara) mendahulukan kepentingan pihak yang lain. Ah, sungguh manis! Namun kemudian ketika masing-masing mulai menonjolkan keakuan dan kepentingan pribadi dan pemikirannya, memaksakan jalan mereka, celaka! Mulailah muncul masalah; mulailah muncul pertengkaran. Dan di dalam hal pernikahan, para suami punya begitu banyak cara dan memaksakan supaya cara-caranyalah yang harus dijalankan. Para istri berkata, "Tidak, ibuku selalu memakai cara yang ini. Aku akan melakukannya dengan cara begitu." Dan suami berkata, "Tidak, tidak, ayahku melakukannya dengan cara ini dan dengan cara itulah aku akan bertindak." Lalu keduanya mulai memanas dan akhirnya bertengkar. Tidak akan ada persekutuan yang manis jika keakuan mulai timbul. Mengapa persekutuan kita dengan Tuhan begitu buruk? Karena adanya keakuan. Aku selalu memperhatikan diriku saja. Lalu bagaimana mungkin saya dapat berkomunikasi dengan Tuhan? Itu sebabnya persekutuan itu tidak eksis. Apakah Anda menikmati persekutuan yang indah dengan Tuhan? Jujurlah terhadap diri Anda sendiri di dalam hal ini. Dan jika Anda menjawab bahwa Anda tidak memiliki persekutuan yang manis dengan Tuhan, persoalannya dapat ditelusuri dengan mudah: Anda belum menyangkal diri. Dia telah menyangkal diri-Nya, tetapi Anda juga harus menyangkal diri Anda. Dia telah menyangkal diri-Nya sampai ke titik kematian di kayu salib, untuk kita - untuk Anda, untuk saya. Akan tetapi kita masih belum menyangkal diri kita. Ijinkan saya menyatakan hal ini dengan kepastian yang mutlak bahwa jika Anda telah menyangkal diri Anda, Dia akan menganugerahkan Anda persekutuan yang indah dengan-Nya di dalam bentuk yang tidak terbayangkan oleh Anda. Persekutuan yang manis dengan Dia merupakan suatu hal yang sangat berharga! Nah jika Anda memiliki masalah dengan doa Anda, Anda dapat dengan segera mendiagnosa bahwa keakuan Anda sedang berjuang menentang setiap langkah Anda. Saat Anda mulai berlutut, dengan segera segala sesuatunya mulai bergerak menentang Anda. Si aku bangkit berkata, "Tidak ada waktu untuk urusan ini. Ada begitu banyak pekerjaan yang masih harus dikerjakan. Aku tidak bisa memboroskan waktu untuk berlutut di sini, bercakap-cakap dengan Tuhan. Kekekalan memang bagus; kita akan mengerjakan hal-hal tersebut jika sudah masuk dalam kekekalan. Sekarang ini kita harus mengurusi masalah hidup sehari-hari saja." Si aku punya banyak cara, dan Anda akan memandang bahwa semua itu masuk akal, "Aku harus mengerjakan ini. Jadi selamat tinggal, Tuhan. Sampai ketemu nanti, mungkin di dalam kekekalan kita akan bertemu lagi." Demikianlah si aku menentang Anda. Dan Anda tahu itu. Anda tahu bahwa hal itu benar-benar nyata. Apa gunanya menjadi Kristen jika Anda tidak berminat dnegan persekutuan yang manis dengan Dia? Mengapa Anda tidak melupakan saja semua ini? Pilih Kristus atau si aku. Kita harus memilih satu di antara keduanya. Jika Anda memilih 'si aku', maka katakanlah kepada Kristus, "Aku bukanlah orang Kristen dan aku tidak berminat untuk menjadi Kristen." Bagus sekali, karena jika tidak maka orang lain akan berpikir, "Kamu ini orang Kristen? Coba lihat orang-orang Kristen ini. Mereka mempermalukan nama Tuhannya." Dan mereka tidak mau menjadi orang Kristen karena Anda! Kuasa-Nya Bekerja
dari Dalam Tetapi kita tidak bisa mengerjakan hal yang berkenan bagi-Nya setiap saat, karena si aku masih ada. Nah seperti yang sudah saya sampaikan, kita tampaknya sudah mengerti apa arti menyangkal diri, akan tetapi, di dalam praktek sehari-hari, si aku selalu saja pegang kendali. Kita harus menuntaskan masalah ini sekali dan selamanya. Jika kita tidak menuntaskan masalah ini, kita tidak akan berhasil menjadi murid. Hati yang Mendua Apa maksudnya? Secara rohani kita masih belum lepas dari dominasi si aku. Si aku masih mendominasi kehidupan kita. Saya ingin agar Anda camkan satu ayat dari Yakobus 1:8 dengan jelas:
Anda tidak akan memperoleh apa-apa. Dia sudah terlebih dulu memberitahu Anda tentang hal ini. Jangan tanya mengapa Dia tidak menjawab, karena Dia sudah memberitahu Anda bahwa Dia tidak akan menjawab jika hati Anda mendua. Apakah arti dari 'mendua hati'? Jenis kehidupan Kristen yang paling berbahaya adalah jika kita hanya menyangkal sebagian saja dari keakuan kita, hanya mengakui sebagian saja dari ketuhanan Kristus, akan tetapi sebagian dari keakuan itu tidak kita sangkal, dan dengan demikian kita tidak mengakui sebagian lagi dari ketuhanan Kristus. Tetapkanlah apakah Kristus menjadi Lord yang sepenuhnya atau tidak sama sekali. Ini adalah hal yang harus Anda tetapkan di dalam hati Anda sekali untuk selamanya, karena jika Anda berdoa dan Dia tidak menjawab, itu karena si aku ini masih hidup. Anda belum menyangkal diri sepenuhnya. Dengan demikian hati Anda jadi mendua, dan begitu juga pikiran Anda, akibatnya Allah tidak mau menjawab. Keraguan Bagaimanakah realitas Allah itu datang kepada Anda? Anda mengalami-Nya bekerja di dalam kehidupan Anda. Dan bagaimana cara Dia bekerja? Saat Anda berdoa Dia menjawab, Anda berdoa lagi dan Dia menjawab lagi. Dia bekerja setiap saat. Dan karena Dia berkerja setiap saat, Anda bisa berkata, "Saya mengenal Allah dengan nyata, saya melihat Dia bekerja. Saya mengalami kuasa-Nya. Dia itu nyata." Anda dapat berkata bersama dengan rasul Paulus, "Aku mengenal Dia yang kupercayai." Tetapi dapatkah Anda mengucapkan kalimat itu? Anda berdoa dan Dia tidak menjawab, Anda berdoa dan Dia tidak menjawab. Dia terus saja tidak menjawab. Lantas Anda berkata, "Allah tidak nyata." Tentu saja Allah itu nyata. Bagi yang sudah menguji kebenaran Allah, yang sudah menerapkan ajaran-Nya di dalam kehidupan - mereka akan tahu bahwa Dia itu nyata. Saya tidak akan berkhotbah di sini jika saya memiliki sedikit saja keraguan di dalam benak saya bahwa Allah itu nyata. Saya akan pergi dan melakukan pekerjaan yang lain. Tidak, saya berbicara di sini karena saya tahu bahwa Dia itu nyata, dan saya ingin Anda mengalami bahwa Dia itu nyata. Inilah kebenarannya, Allah telah berkata di dalam Firman-Nya bahwa kecuali Anda telah mati bersama-Nya, di mana si aku sudah disingkirkan, dan Anda sudah benar-benar menghabisi si aku, maka Anda tidak akan pernah mengalami realitas-Nya. Anda tidak akan mengalami realitas-Nya kecuali jika Anda telah melakukan hal itu. Anda harus memilih antara Allah dan keakuan Anda, antara Kristus dan 'si aku', dan pilihan ini, saya serahkan kepada Anda. Dan saya mohon Anda tidak sekadar berkata, "Oh, aku sudah membuat pilihan itu dahulu." Benarkah itu? Dapatkah saya melihat Anda sebagai seorang raksasa rohani, yang memiliki persekutuan yang manis dengan Yesus, yang kepenuhan kuasa-Nya mengalir melalui hidup Anda? Apakah ini yang saya lihat? Jika bukan ini yang saya lihat, maka saya pikir Anda perlu kembali dan menguji apakah Anda telah menyangkal diri Anda. Catatan kaki: Khotbah ini merupakan Khotbah kedua dari Seri 5 Khotbah berjudul, "Pemuridan dan harganya (The Cost of Discipleship)" |
Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.
Pemuridan dan Harganya: - Harga untuk menjadi Seorang Murid - Makna Salib di dalam Kehidupan Seorang Murid - Sikap kita Sehubungan dengan Hal Memikul Salib
|
|||||
|
Copyright 2003-2007. Semua materi di situs ini
adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries. |
|||||||