| Saran & Komentar | updated on 26 June 2014

Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan

Halaman Utama

  |  Tentang Kami

  |  Hubungi Kami

  |  Izin Pemakaian Materi 

  |  Dapatkan Buletin Gratis di sini! 

Sumber Damai

Khotbah/PA


Inspirasi

Artikel/Renungan

Kesaksian Hidup


Pelatihan

Discipleship Trainings


Lain-Lain...

Buku-buku Terbitan

Lagu dan Film

Bible Study (P.A)

Siaran Mandarin

Buletin Gratis!

Follow Us


BACA ONLINE


BACA ONLINE


KATA PENGANTAR

Persahabatan yang diinginkan Allah

Matius 18:15-20
Khotbah oleh Pastor Eric Chang

Allah menginginkan persahabatan rohani dari kita

Kita melanjutkan studi tentang Firman Allah dari pengajaran Yesus. Kita akan secara khusus melihat pengajaran Yesus mengenai persahabatan. Persahabatan adalah hal yang luar biasa indahnya. Jika kita pernah mengalami persahabatan, maka hal itu akan mengubah cara hidup dan cara pandang kita. Persahabatan memberi kehangatan di dalam hidup kita. Persahabatan mengisi kekosongan dan kebekuan di dalam hati kita. Saya tidak tahu apakah Anda memiliki sahabat yang jika Anda memikirkan dia, hati Anda akan terasa hangat. Terasa menyenangkan jika mendengarkan seseorang bercerita tentang sahabatnya dan wajah orang itu berseri-seri. Ada sesuatu hal di dalam diri seorang sahabat yang memberi cahaya di dalam hidup. Apakah Anda memiliki teman yang jika Anda memikirkan orang itu, kenangan Anda terasa manis sekali. Sahabat yang memberi kenangan manis di dalam hidup Anda.

Sangat sedikit orang yang seperti itu, bukankah demikian? Begitu sedikit orang yang semacam itu di dunia ini, orang yang jika Anda kenang akan memberi kehangatan dan keindahan. Ada berapa banyak teman yang semacam itu yang Anda miliki? Jika Anda punya satu teman yang seperti itu, maka Anda sangat beruntung sekali! Dan jika Anda punya dua orang teman yang semacam itu, berarti Anda adalah orang yang luar biasa diberkati! Jika jumlahnya tiga, tak ada kata yang bisa saya gunakan untuk menggambarkan betapa beruntungnya Anda.

Bersama sahabat yang sangat karib biasanya tak banyak kata yang perlu diucapkan. Anda akan merasa sangat nyaman berada bersama orang itu. Anda merasa sangat santai. Tanda seorang sahabat sejati adalah bahwa Anda tidak perlu berpikir keras akan apa yang harus Anda katakan selanjutnya. Hal yang sangat melelahkan. Kesunyian seolah-olah mencekam Anda. Pernahkah Anda perhatikan bahwa jika Anda bersahabat baik, maka Anda tidak perlu berkata apa-apa? Cukup dengan berdiam bersama, hanya itu yang dibutuhkan. Anda tidak perlu terus menerus berkata, "Kita sudah berdiam diri sekitar dua menit dan saya sudah berusaha untuk mencari bahan pembicaraan." Kesunyian itu terasa aneh. Terasa memalukan. Pernahkah Anda perhatikan bahwa bersama dengan sahabat baik, kesunyian itu bisa terasa sangat indah? Anda tidak perlu mengucapkan apa-apa. Dengan kata lain, Anda tidak perlu berbasa-basi terhadap sahabat Anda. Anda tidak perlu berpikir, "Oh, orang ini pasti menilai aku ini membosankan. Baiklah, aku akan mencari bahan lelucon dan kamu juga boleh melakukannya nanti." Akan tetapi lelucon Anda terasa hambar sehingga Anda perlu mencari yang lainnya lagi. Suasananya menjadi semakin menyesakkan karena hal yang mengemuka bukanlah persahabatan. Seolah-olah Anda sedang berhadapan dengan penonton dan Anda harus menghibur penonton Anda itu. Bukankah sangat melegakan berkumpul bersama sahabat, Anda duduk berdampingan, menatap ke arah danau atau ke arah apapun itu, dan Anda tidak harus mengucapkan sepatah katapun? Karena apa? Karena ada saling pengertian, terdapat suatu hubungan batin.

Apakah Anda memiliki sahabat yang seperti itu? Saya tidak tahu. Sangat sulit menemukan sahabat yang semacam itu. Langka seperti berlian. Oh, berlian jauh lebih mudah ditemui dibandingkan sahabat! Jika Anda bersedia membayar, maka Anda akan mendapatkan berlian, akan tetapi di mana Anda bisa mendapatkan sahabat yang semacam itu? Anda tidak bisa membeli orang semacam itu dengan uang. Di mana Anda akan mendapatkan sahabat semacam itu?

Masalahnya adalah sahabat yang semacam itu sangat sukar ditemukan, sahabat semacam itu juga sangat sukar dipertahankan. Alasannya adalah karena kita takut untuk disakiti. Jika Anda berada dalam hubungan yang seakrab itu, sedekat itu, Anda mungkin akan merasa berada dalam keadaan yang rawan, mudah untuk disakiti. Lalu kita membangun tembok.

Kedua hal itu: yakni kedalaman persahabatan dan ketakutan untuk disakiti serta bagaimana cara menanganinya, adalah hal yang diajarkan oleh Yesus di dalam perikop di Matius 18. Kita akan mendalami perikop ini untuk mempelajari pokok tentang persahabatan; jenis persahabatan yang diinginkan oleh Allah untuk kita miliki.

Bisakah Anda bayangkan akan seperti apa jadinya gereja jika segenap jemaatnya adalah kumpulan sahabat karib, kumpulan para sahabat yang saling memahami dari hati ke hati? Oh! Kita sangat merindukan persahabatan yang semacam itu akan tetapi kita justru takut pada persahabatan yang semacam itu! Kita takut karena untuk menjalin persahabatan yang semacam itu kita harus membuka diri, dan ini membuat diri kita menjadi rawan. Di saat Anda membuka diri, maka Anda bisa disakiti. Jika Anda menutup diri, setidaknya orang lain hanya akan membentur dinding, dan jika dinding yang telah Anda bangun itu cukup tebal, maka orang lain yang akan melukai tangan mereka sendiri jika mengetuk dinding itu terlalu keras. Jika mereka membenturkan kepada mereka ke dinding itu, maka apapun hasilnya adalah urusan mereka sendiri. Demikianlah, Anda menutup diri dalam rangka melindungi hati Anda. Jika Anda membuka diri, maka Anda bisa saja disakiti. Namun jika Anda tidak membuka diri, maka Anda tidak akan pernah memiliki sahabat. Apa yang akan menjadi pilihan Anda?

Salah satu kisah yang paling indah yang tercatat di dalam Perjanjian Lama, kisah yang selalu menyentuh hati saya setiap kali membacanya, adalah kisah hubungan antara Rut dan Naomi. Saya tidak pernah jemu membaca kata-kata di dalam kisah tersebut. Saya bacakan bagi Anda tentang ucapan yang disampaikan oleh Rut kepada Naomi dan tentang kasih di antara kedua perempuan ini. Anda tentu ingat bahwa Naomi adalah ibu mertua dari Rut. Suami Rut, anak laki-laki Naomi, sudah meninggal. Dan Naomi lalu berniat pergi dan berkata kepada Rut, "Tinggalkanlah aku sekarang. Anakku sudah meninggal. Tak ada lagi hal yang bisa kuberikan kepadamu, jadi kamu sekarang bebas untuk pergi. Tak ada lagi ikatan antara kita berdua."

Namun Rut menolak untuk meninggalkan ibu mertuanya. Dia berkata, "Aku akan tetap bersamamu." Di dalam Rut 1:16, Rut berkata, "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!" Kalimat yang terakhir adalah suatu sumpah: "Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, bahkan maut sekalipun." Kasih yang lebih kuat daripada maut: "Maut sekalipun tak akan memisahkan kita. Demikianlah sumpahku di hadapan Allah." Di mana Anda bisa menemukan persahabatan, kesetiaan, keterbukaan dan hati yang memberi diri seperti itu? Sahabat yang keakrabannya dengan Anda melebihi saudara kandung adalah sesuatu yang luar biasa indahnya. Saya rasa itulah hal terindah yang ada di dalam kehidupan manusia - saya tantang Anda untuk memberitahu saya hal-hal yang lebih indah lagi dari persahabatan ini karena saya sendiri tidak bisa menemukan yang lainnya - persahabatan seperti antara Rut dan Naomi, bukan persahabatan biasa-biasa saja.

Rut dan Naomi

Anda dan saya memiliki banyak kawan, namun di saat kesukaran tiba, Anda akan tahu kawan macam apa mereka itu. Di masa muda saya, saya memiliki banyak sekali teman. Di saat saya belum mengenal Tuhan, saat saya masih non-Kristen, ada sangat banyak teman mengerumuni saya, terutama jika Anda punya sesuatu di dalam saku Anda yang akan memikat hati teman-teman tersebut. Teman-teman memang terpikat pada Anda, akan tetapi mereka lebih tertarik lagi pada isi saku Anda. Tampaknya ketertarikan mereka pada Anda sebenarnya tertuju pada saku Anda. Saya rasa Anda tentu tahu jenis teman-teman yang semacam ini. Dan kemudian Anda dapati bahwa ketika saku Anda telah terkuras habis, teman-teman Anda juga telah menghilang semuanya. Mereka menghilang dari sisi Anda. Demikianlah, jika kita berbicara tentang persahabatan, tentunya kita tidak membahas persahabatan yang semacam ini.

Yang kita bicarakan adalah persahabatan yang digambarkan oleh Rut di sini, "Kemanapun engkau pergi, aku ikut. Jangan paksa aku untuk meninggalkanmu. Di mana engkau mati, di situ pula aku mati. Aku selalu bersamamu selamanya. Sekalipun dalam kematian, aku ikut bersamamu, dikuburkan bersamamu." Itulah persahabatan. Sungguh persahabatan yang luar biasa. Inilah jenis persahabatan yang memberi diri dan kesetiaan seutuhnya, bukan yang mencari "Apa yang ada di dalam sakumu?" Persahabatan yang tidak lekang bahkan oleh maut, yang teguh menghadapi kepedihan yang paling berat, itulah persahabatan yang sesungguhnya.

Yonatan dan Daud

Atau jika kita renungkan tentang Daud dan Yonatan, sungguh indah persahabatan mereka. Daud berkata kepada Yonatan, "Kasihmu mengalahkan kasih para wanita." Daud tentunya tahu itu. Dia tahu banyak tentang hal perempuan. Jika menyangkut urusan perempuan, Daud termasuk pakarnya. Dengan menyesal harus saya katakan bahwa kepakarannya dalam urusan perempuan bukanlah hal yang terbaik dari dirinya. Daud tahu banyak tentang wanita, akan tetapi dalam hal kasih Yonatan, dia berkata, "Kasihmu mengungguli kasih para perempuan." Mengapa? Karena yang terlibat di sini bukan hal yang murni eksternal atau jasmaniah. Kasih di sini bersifat rohani dan kasih yang ini lebih kuat daripada maut. Kerap kali kasih antara pemuda dan pemudi pada dasarnya adalah kasih yang bersifat eksternal, dan ketika daya tarik jasmaniah itu sudah berlalu, maka mati pulalah persahabatan mereka. Habis sudah. Tak ada yang tersisa lagi.

Persahabatan di antara manusia dilandasi pada hal-hal yang eksternal

Persahabatan yang dilandasi pada hal-hal yang jasmaniah sering menimbulkan masalah. Karena hubungan semacam ini bukanlah hubungan spiritual yang dapat mengatasi persoalan-persoalan eksternal. Sangatlah penting untuk mencamkan hal ini. Jika Anda mengasihi seseorang karena kecantikan atau ketampanannya, maka jika orang itu mengalami kecelakaan, bisa jadi Anda tidak mengasihi orang itu lagi karena kecantikan dan ketampanan itu sudah lenyap. Jika Anda mengasihi seseorang karena kekayaannya, dan jika suatu hari orang itu menjadi miskin, bisa jadi Anda tidak akan mengasihi orang itu lagi karena dia tidak lagi memiliki kekayaan. Hal yang membuat Anda terpikat padanya sudah tidak ada lagi. Atau jika Anda mengasihi seseorang karena dia sangat cerdas, maka jika dia mengalami kecelakaan yang merusak daya pikirnya, Anda tidak akan mengasihi dia lagi karena dia sudah tidak lagi cerdas sebagaimana dulunya. Dia tidak bisa lagi melontarkan lelucon cerdas, dia tidak bisa lagi menunjukkan kemampuan belajar yang luar biasa dengan hasil yang luar biasa pula. Otaknya sudah rusak. Saya pernah kenal seseorang yang seperti itu di London, dan memang hal itulah yang terjadi padanya. Pada suatu hari, ketika dia sedang menyebrang jalan, sebuah mobil menabraknya dan dia mengalami gangguan kerja otak. Tadinya dia adalah seorang mahasiswa kedokteran yang sangat cerdas, setelah mengalami kerusakan otak, dia bahkan tidak mampu memahami pelajaran tingkat dasar di bidang apapun sehingga dia tidak lagi layak untuk melanjutkan pendidikan kedokterannya. Otaknya sudah rusak. Jika Anda mengasihi seseorang karena kecerdasannya, karena dia sangat cerdik, bagaimana jika dia kehilangan hal-hal tersebut? Kasih yang teguh bertahan adalah kasih yang berlandaskan ikatan kesatuan yang bersifat rohani, bukan jasmani. Di mana Anda bisa temukan kasih yang semacam itu? Di mana Anda bisa menemukannya?

Matius 18:15-20

Mari kita beralih ke dalam pengajaran Yesus yang membahas persoalan tersebut di Matius 18:15-20. Mari kita baca sambil kita camkan hal-hal yang akan kita bicarakan nanti, yakni prinsip persahabatan rohani.

"Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."

Matius 18 berbicara tentang cara berurusan dengan dosa di kalangan orang Kristen

Hal apa yang bisa kita pelajari dari ayat-ayat ini? Kita telah lihat bahwa alasan mengapa kita takut membuka diri adalah karena kita takut disakiti. Akibatnya kita lalu menutup diri. Di ayat 15, Anda dapatkan satu contoh tentang seorang saudara seiman yang melukai hati Anda. Sangatlah penting untuk memahami konteks dari keseluruhan ayat-ayat ini. Segenap isi Matius pasal 18 ini berkenaan dengan satu pokok mendasar, yakni perkara dosa di tengah jemaat, dosa di kalangan orang-orang Kristen, dan bagaimana cara untuk menangani masalah dosa di tengah orang-orang Kristen? Itulah konteks dari pasal ini. Pokok ini dibahas di sepanjang pasal ini.

Hasil dari dosa selalu merupakan tindakan menutup pintu komunikasi

Bagaimana jadinya jika seseorang berbuat dosa terhadap Anda sampai Anda tersandung? Bagaimana reaksi normal Anda? Apa yang akan Anda perbuat? Anda akan tinggalkan dia dengan muka masam. Anda merajuk. Anda mengalami kepahitan. Anda menjadi sangat kecewa karena merasa diperlakukan secara memalukan. Atau Anda bahkan memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini. "Aku tidak akan ke gereja lagi karena orang-orang itu telah memperlakukan aku dengan cara yang menyakitkan." Anda merasa terluka. Dan sebagai akibat dari rasa terluka itu, Anda lalu menutup diri. Hasil dari dosa selalu merupakan tindakan menutup semua pintu komunikasi. Pernahkah Anda perhatikan hal ini? Jika hubungan Anda dengan seseorang memburuk, tentunya komunikasi antara Anda dengan orang tersebut akan berkurang atau bahkan terhenti sama sekali. Tanda yang pasti dari setiap dosa yang timbul di antara dua orang adalah rendahnya komunikasi. Inilah tragedi dari dosa.

Demikianlah, setiap kali ada orang yang menyinggung hati Anda, atau setiap kali Anda menyinggung hati orang lain, apakah hasilnya? Seperti kalimat yang sering diucapkan oleh anak-anak kecil, "Aku tidak mau lagi berteman denganmu! Cukup sudah! Aku tidak mau lagi bicara denganmu!" Demikianlah, dengan begitu, semua pintu komunikasi tertutup sudah. Semuanya sudah ditutup. Sama seperti dua negara yang akan berperang, mereka berkata, "Pintu diplomasi dengan kalian sudah ditutup karena kalian telah menyinggung kami. Cukup sudah. Kami akan menarik duta besar kami dan kalian juga harus menarik duta besar kalian. Kalau kalian tidak menarik duta besar kalian, kami akan menendang mereka keluar, habis perkara. Selesai sudah! Kita tidak perlu lagi berunding." Begitulah persoalannya.

Jika kita ingin menyelamatkan persahabatan, kita harus berkomunikasi

Bagaimana mungkin kita bisa memiliki persahabatan kalau setiap kali kita merasa tersinggung lalu kita tutup komunikasinya? Justru di saat-saat seperti itulah komunikasi menjadi sangat penting. Jika kita ingin menyelamatkan persahabatan, maka kita harus berkomunikasi. Dan itulah tepatnya hal yang sedang disampaikan oleh Yesus. Janganlah berkata kepada orang [yang menyinggung hati Anda], "karena kamu sudah menyakiti hatiku, maka aku tidak mau berbicara dengamu lagi. Aku akan perlakukan kamu seperti sampah dunia. Menyingkirlah dari pandanganku. Kamu ini seperti duri di kerongkongan." Bukan begitu caranya. Apa yang harus kita perbuat di dalam urusan ini? Peliharalah jalur komunikasi agar tetap terbuka. Masalahnya adalah karena kita tidak mengerti prinsip dasar persahabatan. Apakah prinsip dasar persahabatan? Komunikasi. Anda tidak akan bisa mendapatkan sahabat tanpa berkomunikasi.

Langkah pertama komunikasi: Menaruh minat dan kepedulian pada orang lain

Banyak orang yang ingin memiliki sahabat. Mereka sangat ingin bersahabat akan tetapi mereka tidak tahu berkomunikasi. Dalam berkomunikasi mereka hanya membicarakan diri mereka sendiri. Maafkan saya, akan tetapi bahan pembicaraan semacam itu akan terasa menjemukan bagi kebanyakan orang. Bisa jadi, Anda adalah orang yang paling memikat di dunia ini. Dan mungkin Anda memiliki kisah hidup yang paling menarik. Namun, bagi kebanyakan orang, mereka tak peduli seberapa menariknya kehidupan Anda, mereka tidak begitu berminat untuk mendengarkannya. Komunikasi harus bermakna lebih dari sekadar menceritakan tentang diri Anda kepada orang lain. Apakah komunikasi itu? Jika menurut Anda komunikasi itu tak lebih dari sekadar berbicara, maka Anda akan segera mendapati bahwa orang lain akan menutup telinga mereka. Mereka tidak mau lagi mendengarkan suara Anda!

Komunikasi bukan sekadar berbicara. Tahukah Anda cara untuk berkomunikasi? Jika Anda ingin bersahabat dan Anda ingin membuka jalur komunikasi, janganlah membuat mereka bosan dengan terus menerus bercerita tentang diri Anda. Lebih baik, cobalah mencari tahu tentang diri orang tersebut. Komunikasi harus dibangun berdasarkan kepedulian yang nyata terhadap orang lain. Jika Anda peduli serta berminat pada orang tersebut, setidaknya berusahalah untuk mencari tahu sesuatu hal tentang kehidupan orang itu, jika dia memang mau memberitahukannya kepada Anda. Namun janganlah menanyakannya dengan cara seperti sedang interogasi. "Di mana kamu dilahirkan?" Mungkin dia akan menyahut, "Apakah kamu ini petugas Imigrasi? Mengapa kamu tanyakan hal yang seperti itu?" Yang benar adalah membuka diri Anda pada orang tersebut dan menaruh minat terhadap kehidupannya. Bukannya memaksakan minat Anda pada orang lain, melainkan menerima keberadaan orang itu. Tunjukkan bahwa Anda tertarik serta peduli kepadanya.

Tetapi dosa serta ketersinggungan menutup jalur-jalur komunikasi ini. Inilah persoalan yang ada di tengah gereja. Saya melihat kumpulan orang-orang yang sangat tertutup di tengah gereja. Saya yakin bahwa setiap orang tentunya pernah disakiti hatinya, jika tidak, maka mereka tidak akan begitu tertutup. Sering kali, saya menanyakan sesuatu kepada beberapa orang namun mereka justru jadi seperti ketakutan. Mereka pikir mungkin karena tugas para pendeta adalah menginjili setiap orang, jadi lebih baik mereka menghindar secepat mungkin, jika tidak maka pendeta akan menangkap dan menjejalkan Injil ke dalam kerongkongan mereka! Pendeta memang orang yang menakutkan. Atau mungkin, Anda langsung berkata, "Aku sudah dibaptis." Dengan kata lain, pesan yang mau disampaikan adalah, "Kamu tidak perlu menginjiliku. Jangan ganggu aku."

Demikianlah, saya bisa melihat bahwa kebanyakan orang sangat tertutup. Kita sangat tertutup antara satu dengan yang lain karena kita agak takut terhadap orang lain. Kita takut akan apa yang bisa dilakukan oleh orang lain terhadap kita. Akhirnya kita menjadi begitu tertutup. Jika kita teruskan sikap tertutup ini, maka kita tidak akan pernah masuk ke dalam persahabatan. Kita tidak akan bisa berkomunikasi.

Memikul salib berarti: tetap terbuka sekalipun resikonya adalah dilukai

Jadi seperti inilah pesan dari Yesus di sini: Kita harus tetap membuka diri sekalipun berada dalam resiko dilukai. Sebelumnya telah ada pesan tentang hal memikul salib dalam mengikut Kristus. Begitu dalam kekayaan makna dari kalimat tentang memikul salib dan mengikut Kristus. Kalau saya tidak bersedia untuk dilukai, berarti saya tidak mau memikul salib bagi Kristus. Memikul salib berarti saya menerima harga untuk menjadi seorang murid, yakni, saya bersedia untuk disakiti. Dan saya memang berkali-kali disakiti. Jika saya tidak mau dilukai, tentunya saya akan menutup diri, saya tidak akan mau melayani Tuhan lagi. Hal ini saya sampaikan berulang kali terutama kepada mereka yang ikut dalam tim pelatihan, bahwa Anda semua akan sering disakiti. Niat baik Anda akan disalahpahami, tindakan Anda akan disalahartikan, dan Anda akan disakiti berulang kali. Akan tetapi kita semua telah dipanggil untuk memikul salib. Kami bersedia untuk disakiti.

Saat jalur komunikasi mulai runtuh, bergeraklah, berbicaralah kepada saudara seiman Anda

Apa yang harus kita perbuat jika jalur komunikasi sudah mulai retak? Inilah hal yang dikatakan oleh Yesus di dalam ayat 15: "Pergilah kepadanya dan berbicaralah." Lakukan segala sesuatu yang bisa dikerjakan untuk mempertahankan jalur komunikasi ini. Lakukan segala sesuatu untuk menjaga jalur itu tetap terbuka. Sekalipun Anda adalah orang yang disakiti, sekalipun dia yang harus meminta maaf, Anda harus mengambil inisiatif dan mendatangi dia, berbicaralah kepadanya. Jangan biarkan jalur komumikasi itu putus. Prinsip ini, pelajaran ini, sangatlah penting. Saya mohon agar Anda mempelajarinya. Adakah orang yang telah menyakiti hati Anda sehingga ketika di gereja Anda bertemu dengannya Anda lalu berpaling ke arah lain? Dan ketika dia sudah berlalu, Anda lalu membatin, "Dia sudah pergi. Sekarang aku bisa bersikap normal lagi."

Dibutuhkan keberanian untuk bisa menjadi seorang murid Kristus, yakni untuk mau datang kepada orang itu dan berbicara, karena Anda sudah satu kali disakiti, jika Anda datangi dia lagi, yang dikuatirkan adalah kalau-kalau Anda akan disakiti sekali lagi. "Sekali disakiti sudah cukup. Engkau ingin agar aku berbicara kepadanya lalu disakiti kembali?" Dan dia akan berkata, 'Ini semua salahmu, bukan salahku. Untuk apa kamu berbicara denganku? Kamulah yang harus mengakui kesalahan.'" Lalu Anda berkata, "Sekarang aku disakiti sampai dua kali. Kalau aku tidak mendatangi dia, tentunya aku hanya sekali dilukai. Dan karena aku sekarang mendatangi dia, aku akhirnya disakiti sampai dua kali." Demikianlah, kita lalu menjadi takut. Ajaran dari Yesus adalah, dengan pengorbanan apapun, dengan cara apapun, berusahalah agar jalur komunikasi tetap terbuka.

Janganlah menanggung dosa dengan membenci orang yang telah menyakiti Anda

Sebenarnya, ajaran Yesus ini didasarkan pada Imamat 19:17. Ini adalah ayat yang sangat penting. "Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia." Dengan cara bagaimana Anda jadi berdosa akibat orang lain itu? Dengan cara membencinya. Di sini, Kitab Suci berkata, "Janganlah membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi berterus teranglah menegur sesamamu." Jangan membenci dia melainkan tegurlah dia karena jika Anda tidak menegurnya dengan berterus terang, maka Anda akan membencinya, karena dia telah menyinggung hati Anda. Selanjutnya, perhatikan ayat 18 yang, menurut saya, tentunya sudah Anda ketahui, "Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN." Bukan bagian Anda untuk menuntut balas, Anda telah disakiti oleh  orang lain lalu Anda berkata ingin balas menyakiti orang tersebut, padahal Anda harus mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Bagian ayat ini cukup akrab di telinga kita.

Mengasihi dengan membuka jalur komunikasi

Hal ini menunjukkan betapa dekatnya ayat-ayat yang sedang kita telaah ini dengan ajaran inti Kitab Suci. Perikop ini berkaitan dengan hal saling mengasihi. Perikop ini menangani akar dari hubungan sesama kita dan bagaimana cara menerapkan ajaran tersebut, yakni bagaimana mengasihi sesama manusia secara nyata. Kita sudah sering mendengar ungkapan "saling mengasihi", "kasihilah sesamamu manusia."

Bagaimana caranya? Anda bisa memulainya dengan cara membuka jalur komunikasi. Apakah ada orang yang telah menyinggung hati Anda? Janganlah membenci saudara seiman Anda di dalam hati Anda, demikian kata Kitab Suci. Karena jika Anda tidak berbicara lagi dengannya, Anda bisa terjerumus ke dalam hal yang lebih berbahaya. Anda akan membenci orang tersebut di dalam hati Anda. Mungkin Anda tidak menunjukkan hal tersebut secara terang-terangan, namun perhatikan kata-kata yang penting ini: "di dalam hatimu." Bisa saja Anda tidak memperlihatkan kebencian itu. Ketika orang itu datang, Anda cukup tahu membawa diri untuk tidak membuang muka. Anda masih bisa tersenyum kepadanya, Anda mau berbicara dengannya, sambil berkata di dalam hati Anda, "Dasar munafik!" Namun Anda tetap tersenyum kepadanya. Sedangkan di dalam hati Anda, Anda membencinya. Namun di permukaannya, Anda bersandiwara.

Hal yang paling penting adalah bahwa sekecil apapun persoalannya dengan orang lain, Anda harus membicarakannya. Ungkapkanlah. Keluarkan masalah itu dari hidup Anda. Jika tidak, maka Anda akan membenci orang itu di dalam hati Anda. Dan jika Anda membangun kebencian di dalam hati Anda, karena dia telah menyinggung perasaan Anda, maka Anda akan menjadi orang yang berdosa karena kebencian adalah dosa. Demikianlah, tindakannya itu telah menjatuhkan Anda ke dalam dosa.

Beritahukanlah secara empat mata supaya orang itu dapat memperbaikinya

Demikianlah, seluruh isi Matius pasal 18 membahas tentang batu sandungan ini. Yesus berkata bahwa karena kodrat dari dunia ini, maka pencobaan itu pasti akan datang. Adalah suatu hal yang tidak terhindarkan bahwa pada suatu saat nanti akan ada saudara atau saudari seiman yang menyinggung perasaan Anda, entah oleh kecerobohan, ketidak-tahuan, atau apapun itu. Lalu Anda akan membangun sikap menolak orang-orang tersebut. Janganlah melakukan hal ini. Jika jemaat melakukan hal yang menyinggung hati, pahami bahwa kita ini tidak ada yang sempurna. Saya sendiri, di dalam ketidak-tahuan saya, mungkin telah menyinggung Anda. Di dalam kecerobohan saya, mungkin saya telah melakukan hal yang menyakiti hati Anda sekalipun saya tidak bermaksud demikian. Dan saya tidak tahu bahwa saya telah menyakiti hati Anda.

Namun di pihak Anda, Anda membangun sikap penolakan dan kepahitan terhadap saya padahal saya tidak tahu apa salah saya. Lalu bagaimana saya memperbaiki diri saya jika saya tidak tahu apa salahnya saya? Akibatnya kita berdua sama-sama terluka karena Anda tidak memberitahu saya tentang kesalahan saya. Setidaknya jika Anda mengkomunikasikan hal tersebut, maka kita akan sama-sama memetik manfaatnya. Anda tidak perlu lagi membenci saya dan saya juga bisa memperbaiki kesalahan saya.

Jika kita ingin membangun lingkungan yang penuh kasih, maka kita harus memulainya dengan pokok mendasar berikut ini, yakni saling membangun komunikasi antar satu dengan yang lain. Dan kita harus belajar untuk berkomunikasi. Kita harus benar-benar menerapkannya. Kiranya jika saya menyakiti hati orang lain dalam ketidak-tahuan saya, maka Allah mendorong orang itu untuk datang dan berkata kepada saya, "Anda telah menyakiti hati saya dengan melakukan hal ini." Saya akan sangat bersyukur jika saya bisa diberitahu tentang kesalahan yang telah saya perbuat. Dengan demikian, saya bisa segera meminta maaf, dan membenahi hal tersebut.

Jika orang itu tidak menerima kesalahnnya? Bawalah satu atau dua orang bersama Anda

Sekarang muncullah pertanyaan kedua. Anggaplah bahwa saya telah datang memberitahu Anda tentang kesalahan Anda, dan Anda tidak menerimanya. Ini akan menjadi masalah bagi saya. Jika Anda mengakuinya, tidak akan ada masalah. Akan tetapi tidak ada jaminan bagi saya bahwa Anda mau menerima kesalahan itu. Yesus memiliki jalan untuk menangani hal yang ini juga. Demikianlah hal yang bisa kita baca di sini.

Jadi, langkah pertama adalah mendatangi orang tersebut sendirian tanpa membawa orang lain. Melakukan pembicaraan empat mata dengan orang tersebut. Namun bagaimana jika orang tersebut berkata, "Tidak. Aku tidak terima hal ini. Semua ini salahmu, bukan salahku."

Yesus punya jalan untuk mengatasi hal yang semacam ini juga. Yang perlu Anda lakukan adalah membawa serta satu atau dua orang bersama Anda. Jadi secara keseluruhannya akan ada sekitar tiga atau empat orang yang terlibat. Dan sekali lagi, di depan para saksi ini, Anda melakukan pembicaraan dengan saudara atau saudari tersebut. Lalu Anda berkata, "Wah, itu terlalu berlebihan. Hal ini akan membuat persoalan justru menjadi lebih kacau." Tidak. Renungkanlah baik-baik masalah ini. Anda sedang berupaya untuk menyelamatkan kehidupan jemaat. Karena, apa lagi makna kehidupan jemaat kalau bukan kasih yang saling mengkomunikasikan dirinya antara satu dengan yang lain? Jangan berkata, "Hal ini terlalu berlebihan."

Ini bukan sekadar persoalan pribadi Anda. Keselamatan orang tersebut mungkin sedang menjadi taruhannya. Dia bisa saja melakukan lagi hal tersebut terhadap orang lain, dan orang yang menjadi korban itu kemudian melakukan hal yang sama kepada orang lain lagi. Dan orang-orang akan berjatuhan oleh batu sandungan ini satu demi satu jika Anda tidak segera menanganinya. Jadi janganlah sekadar memikirkan kepentingan dan kedamaian pribadi Anda. Pikirkanlah tentang kehidupan jemaat secara keseluruhan. Dan jika Anda mau memikirkannya, Anda tidak akan berkata bahwa hal ini terlalu berlebihan atau merepotkan. Anda bawa dua atau tiga orang saksi bersama Anda untuk berbicara dengannya.

Dua atau tiga orang saksi itu harus tidak memihak

Para saksi itu tidak boleh memihak kepada Anda. Mereka hadir bukan untuk menjadi pendukung Anda. Mereka hadir sekadar untuk memastikan bahwa Anda menangani persoalan ini dengan benar, penuh kasih dan sopan. (Ingat, jangan membenci saudara seiman Anda di dalam hati Anda. Anda diperintahkan untuk mengasihi.) Para saksi ini nantinya akan memberi kesaksian kepada Jemaat bahwa Anda telah bertindak dengan benar dan patut. Jika Anda datang membawa dua atau tiga orang saksi, lalu Anda mulai mencaci lawan bicara Anda, "Lihat apa yang telah kau perbuat! Kamu munafik! Kamu bukan orang Kristen!" Para saksi itu tentunya tidak akan berpihak kepada Anda. Mereka akan melaporkan kepada Jemaat bahwa perilaku Anda salah, bukannya perilaku orang itu yang mereka salahkan. Karena hanya dengan dua atau tiga orang saksi barulah Jemaat bisa benar-benar mengerti apakah Anda telah bertindak sesuai sebagai seorang Kristen, yakni keadaan ketika Anda mendatangi orang tersebut untuk mengungkapkan kesalahannya. Jadi, hal membawa saksi ini bukanlah  perkara membawa dua atau tiga orang teman untuk menghancurkan orang yang bersangkutan. Mereka adalah para saksi yang tidak boleh memihak. Mereka harus mengamati fakta-fakta sebagaimana adanya.

Jika orang tersebut benar-benar menutup dirinya, bawalah persoalan ini kepada Jemaat

Sesudah melibatkan dua atau tiga orang saksi, dan Anda telah menyatakan kesalahannya di depan para saksi itu, bagaimana jika dia tetap tidak sepakat? Dia tetap tidak mengakui kesalahannya? Orang ini tentunya termasuk orang yang keras kepala. Agaknya dia bukan jenis orang yang terbuka. Dia adalah orang yang sangat tertutup. Dengan demikian, persoalan ini harus dibawa kepada Jemaat.

Jika dia masih tertutup dan keras kepala, maka dia dikeluarkan dari jemaat

Tapi jika dia tetap dalam sikap yang tertutup dan keras kepala, apa yang akan diberlakukan terhadapnya? Dia akan dikeluarkan. Dia harus keluar dari Jemaat. Seperti itulah hal yang berlaku di zaman awal gereja. Gereja memelihara jalur komunikasi agar tetap terbuka. Orang yang tidak terbuka, yang berusaha untuk menutup jalur komunikasi antar Jemaat akan dikeluarkan. Sesederhana itulah cara kerjanya.

Apa yang disampaikan di dalam ayat 17? "Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai." Apakah artinya ayat ini? Nah, orang-orang Kristen adalah umat Israel yang sejati. Di dalam Galatia 6:16, mereka disebut, Israel milik Allah. Gereja pada hakekatnya adalah Israel yang sejati. Seperti yang disampaikan oleh Yesus, "Kerajaan Allah akan diambil darimu, hai orang-orang Yahudi, dan akan diberikan kepada orang-orang yang menghasilkan buah bagi Kerajaan." Artinya, Kerajaan Allah akan diberikan kepada Gereja. Gereja telah menjadi Israel yang baru milik Allah. Dan tepat seperti itulah Paulus menyebut Gereja di dalam Galatia 6:16, Israel milik Allah. Ini berarti, setiap orang yang tidak masuk di tengah Jemaat, yang tidak termasuk dalam Israel milik Allah, yakni Israel rohani, maka dia bukanlah orang Kristen. Dia akan dipandang sebagai orang asing. Dia tidak termasuk ke dalam persekutuan Israel rohani. Dia bukan warga Kerajaan Allah. Dia adalah orang asing. Dengan demikian, seorang Kristen yang gagal berperilaku sebagai orang Kristen, yang menutup diri terhadap saudara seiman, tertutup bahkan terhadap dua atau tiga orang, atau terhadap seluruh Jemaat, berarti dia tidak tahu apa artinya menjadi seorang Kristen.

Seorang Kristen, per definisinya, adalah seseorang yang terbuka bagi orang lain, kepada saudara dan saudari seiman di tengah Jemaat. Jika Anda tidak terbuka kepada saudara atau saudari seiman di gereja, Anda tidak saling terbuka, hal itu menunjukkan bahwa Anda benar-benar tidak tahu apa artinya menjadi seorang Kristen. Jadi, di sini, Yesus memberi kita ajaran yang paling penting, yakni ajaran tentang keterbukaan antara satu dengan yang lain. Dan setiap orang yang gagal membuka diri akan dikeluarkan.

Tindakan disiplin bertujuan untuk menyelamatkan

Dia diperlakukan seperti orang asing atau pemungut cukai. Orang-orang Yahudi tidak bergaul dengan orang asing, dan mereka juga tidak mau bergaul dengan pemungut cukai karena para pemungut cukai dipandang sebagai pengkhianat bangsa. Mereka memungut pajak bagi penguasa Roma, penjajah saat itu. Jika di China, pandangan mereka terhadap pemungut cukai ini bisa disamakan dengan pandangan masyarakat terhadap pemerintahan boneka di China di bawah kekuasaan Jepang. Kita memandang mereka sebagai 漢奸 (han4 jian1), yakni sebagai pengkhianat. Kita tidak akan mau bergaul dengan orang-orang semacam ini. Seperti itulah perlakuan orang Yahudi terhadap para pemungut cukai, sebagai para pengkhianat. Mereka tidak mau bergaul dengan pemungut cukai. Demikianlah, orang-orang Kristen yang tidak berlaku sebagaimana mestinya orang Kristen akan diperlakukan sebagai pemungut cukai, artinya, Anda tidak akan bergaul dengannya.

Paulus menyatakan hal tersebut dengan ungkapan yang persis sama di 1 Korintus 5:11. Di sana dia berkata, "Jika ada orang yang mengaku sebagai seorang Kristen tetapi tidak hidup sebagai seorang Kristen, janganlah kamu bergaul dengannya, malahan, janganlah makan dengannya. Kamu tidak boleh berhubungan dengannya." "... supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama."

Tindakan yang keras ini sebenarnya untuk memperingatkan orang tersebut, untuk menyadarkan dia, untuk mmenunjukkan kepadanya bahwa dia bukanlah seorang Kristen, supaya dia tidak mengira bahwa dia adalah seorang Kristen, yang pada kenyataannya adalah bukan. Segala tindakan disiplin di tengah Jemaat ditujukan untuk memberkati, untuk menolong orang yang berbuat dosa. Tanpa tindakan disiplin terhadap seorang pelanggar, maka dia akan mengira bahwa dia tetap menjadi orang Kristen dan dia boleh terus berbuat dosa. Dengan memperingatkan seorang Kristen bahwa dia bukan orang Kristen lagi, jika dia terus melanjutkan perilakunya, maka Anda sedang menolong dia untuk menyadari bahwa dia harus berubah. Jika dia tidak berubah, maka dia tidak akan diselamatkan. Namun, begitu sering, gereja zaman sekarang membiarkan umat berbuat dosa semaunya, dan gereja akhirnya menjadi semakin terpuruk.

Belajar untuk saling terbuka: Sebuah gereja adalah kumpulan para sahabat

Kerinduan saya yang terdalam adalah bahwa kita di sini, sebagai sebuah gereja, bersedia untuk saling terbuka. Memang sangat sukar. Berusahalah untuk belajar saling terbuka antara satu dengan yang lain. Bersedialah untuk menerima bahaya disakiti. Usahakanlah untuk saling berkomunikasi, apapun pengorbanannya, sehingga kita bisa membangun saling pengertian. Bagaimana mungkin kita akan saling memahami? Bagaimana mungkin kita bisa menjadi sahabat jika kita tidak berkomunikasi? Anda tidak kenal saya, dan saya juga tidak kenal Anda, lalu bagaimana kita bisa menjadi sahabat? Demikianlah, persahabatan tidak pernah tumbuh karena tidak adanya komunikasi. Satu-satunya jalan bagi Anda untuk membina persahabatan dengan setiap orang di sini adalah dengan berkomunikasi. Anda akan mendapati betapa menyenangkannya orang-orang tersebut. Anda akan sadar, sekiranya Anda tidak pernah berkomunikasi dengan orang tersebut, tentunya Anda tidak akan pernah memiliki sahabat yang sangat berharga seperti dia. Syukur kepada Allah, karena oleh Allah maka Anda memperoleh keberanian untuk membuka diri terhadap orang tersebut, sehingga Anda mendapatkan satu lagi sahabat yang sangat akrab dan berharga. Seharusnya Gereja menjadi seperti itu. Gereja adalah masyarakat para sahabat, sebuah masyarakat di mana anggotanya saling terbuka satu sama lain.

Kuasa Allah terlihat jika ada keterbukaan dan kesepakatan di antara 'dua atau tiga' orang

Apakah manfaat dari persahabatan semacam itu? Apa gunanya persahabatan yang seperti itu? Sebenarnya, apakah kegunaan dari gereja? Untuk apa Anda pergi ke gereja jika yang saya kerjakan hanyalah hadir di gereja pada hari Minggu, duduk mendengarkan pengkhotbah yang membosankan, yang mengoceh tentang persahabatan. Dan sesudah ibadah selesai, saya lalu pulang. Apa gunanya hadir ke gereja? Apa perlunya bergereja? Maksud saya, Anda bisa saja duduk di rumah, menyalakan televisi dan mendengarkan beberapa khotbah dari TV Anda. Dan jika kebetulan Anda tidak suka pada juru khotbahnya, Anda bisa matikan televisi Anda. Namun jika Anda duduk di tengah gereja, Anda tidak bisa menghentikan penghotbahnya. Dia tetap ada di mimbar sana, mengoceh dan membuat Anda bosan setengah mati. Lalu Anda membatin, "Kalau saja ada tombol yang bisa kutekan untuk menghilangkan pengkhotbah ini." Tampaknya, juru khotbah di televisi jauh lebih mudah untuk ditangani, bukankah begitu? Jika dia mulai menjemukan, Anda bisa berpindah ke saluran lain. Dan Anda bisa mendapatkan acara-acara yang lebih menyenangkan di saluran yang lain. Untuk apa Anda bergereja? Dan sebenarnya, ada banyak orang yang bertanya kepada saya, "Mengapa saya tidak bisa menjadi orang Kristen sambil tetap tinggal di rumah saja?"

Mari kita lihat apa yang tertulis di perikop ini. Di dalam Matius 18:15-20, Anda akan melihat bahwa berulang kali terdapat ungkapan 'dua atau tiga'. Ungkapan 'dua atau tiga' ini sering kali muncul di sini. Dan di sini terdapat satu prinsip vital di dalam kehidupan Kristen. Kehidupan Kristen tidak akan bisa berjalan sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah jika tidak ada keterbukaan, persekutuan, kesepakatan di antara - minimal - dua atau tiga orang. Tanpa hal tersebut, tidak akan ada kehidupan rohani, demikianlah uraian gamblangnya. Karena [tanpa adanya dua atau tiga orang], tidak akan ada kuasa, tak akan ada kemajuan. Nah, izinkan saya menyampaikan empat pokok di dalam perikop ini sebelum kita tutup pembahasannya.

(1) Efektifitas dua atau tiga orang di dalam memberikan kesaksian tentang kebenaran

Kuasa Allah bekerja secara jauh lebih besar melalui dua orang ketimbang satu orang saja

Di dalam ayat 16, kita melihat bahwa adanya kebutuhan akan dua atau tiga orang untuk memberi kesaksian tentang kebenaran. Anda harus membawa dua atau tiga saksi. Mengapa dua atau tiga? Karena kebenaran itu ditegaskan, menurut prinsip di dalam Perjanjian Lama, melalui kesaksian dua atau tiga orang. Jadi dibutuhkan dua atau tiga orang untuk menegaskan kesaksian tentang kebenaran. Hal inilah yang membuat masalah efektifitas gereja menjadi hal yang sangat penting. Gereja sering kali menjadi tidak efektif di zaman sekarang ini karena umat tampaknya tidak melihat adanya keselarasan dalam kesaksian-kesaksian tersebut. Jemaat justru bergantung pada satu orang Kristen tertentu saja. Padahal kesaksian dua orang di dalam Kitab Suci tak dapat ditandingi oleh kesaksian satu orang saja. Camkanlah hal ini baik-baik.

Ada ayat di dalam Ulangan 32:30 yang menunjukkan kepada Anda bahwa kesaksian  yang disampaikan oleh dua atau tiga orang jauh melampaui kesaksian yang disampaikan oleh satu orang saja. Ulangan 32:30 berbunyi seperti ini: Bagaimana mungkin satu orang dapat mengejar seribu orang, dan dua orang dapat membuat lari sepuluh ribu orang, kalau tidak gunung batu mereka telah menjual mereka, dan TUHAN telah menyerahkan mereka! Kalau Allah tidak menyerahkan pihak lawan ke dalam tangan Anda, bagaimana mungkin Anda bisa menang? Namun persoalannya adalah sebagai berikut: Perhatikan, satu orang dapat mengejar seribu orang, dan dua orang bisa membuat lari sepuluh ribu orang. Dengan mengandalkan satu orang saja, maka Anda hanya akan mengejar seribu orang. Seribu orang adalah jumlah yang banyak, akan tetapi satu orang hanya mengejar seribu orang saja. Sementara itu, dengan dua orang, mereka membuat lari sepuluh ribu orang. Dengan berdua hasilnya bukan berlipat dua, tetapi berlipat sepuluh! Kuasa Allah bekerja dengan sangat hebat melalui dua orang dari pada melalui satu orang saja. Seperti itulah gambarannya. Suatu gambaran yang sangat menarik tentunya.

Dua orang yang berada dalam keselarasan sanggup melawan dosa dengan lebih berkemenangan

Di dalam Matius pasal 18 ini kita membahas tentang peperangan melawan dosa. Dan di dalam pergumulan melawan dosa ini, satu orang jelas jauh lebih lemah ketimbang dua orang. Pernahkah Anda perhatikan jika Anda menghadapi situasi sulit, maka dengan berdua - dalam keselarasan - maka Anda bisa menghadapi kesulitan itu secara lebih berkemenangan daripada menghadapinya sendirian saja? Demikianlah, di dalam pergumulan melawan dosa hal yang sama [dengan isi Ulangan 32:30] berlaku juga. Kita sering kali kalah di dalam pergumulan melawan dosa karena kita berjuang sendirian saja. Kita tidak mempercayai orang lain untuk berjuang bersama kita, untuk memandang persoalan kita sebagai persoalannya juga, untuk bahu membahu dengan kita. Jika kita berjuang bahu membahu, maka kita akan mendapati bahwa peperangan ini lebih mudah untuk dimenangkan. Satu orang bisa menang melawan seribu orang, hal itu bisa saja. Mungkin Anda adalah pahlawan yang gagah perkasa sehingga dengan sendirian saja bisa membuat seribu orang melarikan diri. Anda adalah prajurit hebat, pahlawan perkasa. Akan tetapi jika Anda memiliki dua orang yang sama gagah perkasa seperti itu, maka mereka akan membuat sepuluh ribu orang melarikan diri, bukannya dua ribu orang. Ini adalah pelajaran yang sangat berharga. Jadi, hal pertama yang bisa kita lihat adalah efektifitas suatu kumpulan di dalam memberi kesaksian tentang kebenaran, ketimbang hanya satu orang.

(2) Allah mempercayakan kewenangan-Nya kepada sebuah tim yang bekerja bersama dalam kesatuan rohani.

Pokok kedua yang ada di sini terlihat di dalam ayat 18: yakni kewenangan dan kuasa. "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." Kewenangan yang diberikan di dalam konteks ini tidak diberikan kepada satu orang saja, kata 'kamu' di ayat ini berbentuk jamak. "Aku berkata kepadamu." Kata 'mu (atau kamu)' di sini berbentuk jamak, tidak ditujukan kepada individual. Apa yang kamu (kalian) ikat di dunia ini akan terikat di surga. Artinya, jika kalian, dua atau tiga orang yang bertindak bersama dalam keselarasan, dengan satu roh dan satu pikiran, maka apa yang kalian ikat akan terikat, apa yang kalian lepaskan akan terlepas.

Kewenangan itu diberikan kepada satu tim yang terdiri dari dua atau tiga orang. Jika Anda bisa berfungsi sebagai satu tim secara harmonis, maka Allah akan bersedia memberikan kewenangan-Nya kepada Anda sekalian. Artinya Anda akan bisa membuat suatu keputusan, yang dalam hal ini adalah: untuk mengikat atau melepaskan apa yang disebutkan dalam ayat 17, artinya bahwa jika Anda memutuskan bahwa sejak saat itu orang tersebut harus dikeluarkan dari jemaat dan diperlakukan sebagai pemungut cukai atau orang asing, maka hal itu akan bersifat mengikat. Jika, sebaliknya, Anda memutuskan bahwa orang tersebut harus tetap berada di dalam Jemaat, maka keputusan itu juga bersifat mengikat. Itu adalah hal yang sangat penting. Gereja memiliki kewenangan, yang dipercayakan bukan kepada satu orang saja. Memang, kadang kala, kewenangan itu dipercayakan kepada individu.

Hal yang sama disampaikan juga kepada Petrus, dalam istilah yang bersifat tunggal. Akan tetapi kewenangan yang dibicarakan di dalam perikop ini disampaikan kepada gereja. Kewenangan kerasulan yang diberikan kepada Petrus terdapat di Matius 16:18 itu sekarang bisa dijalankan oleh setiap kumpulan umat yang benar-benar berada dalam kesatuan rohani. Perhatikan dengan cermat, suatu kesatuan rohani. Kita bisa saja memiliki suatu kesatuan kelompok. Kedua hal tersebut berbeda. Dalam hal kesatuan kelompok, Anda tidak sedang berfungsi di dalam Roh Allah. Anda bisa saja mengumpulkan dua atau tiga orang untuk suatu kesepakatan. Anda bisa mengumpulkan dua atau tiga penjahat untuk merampok bank. Kesepakatan yang semacam itu bukan kesepakatan yang sedang kita bicarakan di sini. Yang kita bicarakan adalah suatu kesatuan rohani di mana dua atau tiga orang secara bersama-sama, berserah dan taat kepada Allah, menjalankan kehendak Allah. Allah bersedia memberikan kewenangan rasuli kepada sebuah tim yang terdiri dari dua atau tiga orang yang berfungsi bersama-sama di dalam kesatuan rohani. Di sana terdapat rahasia kuasa. Kita harus pelajari rahasia kuasa yang terdapat di dalam pokok ini.

(3) Jika ada kesatuan rohani Allah akan mengabul permintaan Anda

Hal ketiga yang bisa kita lihat terdapat di dalam ayat 19. Inilah bunyi ayat 19: "Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga." Pokok yang ketiga di sini adalah suatu bentuk dukungan dari Allah. Jika Anda memiliki kesatuan rohani, jika Anda bersepakat antara satu dengan yang lain di dalam keterbukaan rohani, maka apa yang Anda minta kepada Allah akan dianugerahkan kepada Anda. Tahukah Anda mengapa? Karena jika sudah mencapai tingkat kesatuan rohani, maka apapun yang Anda minta tentunya sesuai dengan kehendak Allah. Karena Roh Allah-lah yang mendorong kesepakatan  atau kesatuan itu. Apa yang Anda minta sudah pasti akan dikabulkan. Sungguh hal yang sangat indah!

Kadang kala kita bergumul sendirian di dalam doa. Kita berdoa dan berdoa, namun kita merasa tidak bisa memiliki kuasa yang efektif. Kita berdoa namun pintu surga terasa seperti tembok yang tak tertembus. Namun jika Anda membentuk satu tim dari dua atau tiga orang di dalam suatu kesatuan dalam roh yang berdoa bersama-sama, lihatlah! Anda berdoa dan Allah mengabulkan doa Anda! Anda berdoa dan Allah mengabulkannya lagi! Hal ini terjadi terus menerus. Sungguh indahnya! Karena Allah gemar menjawab jika melihat ada kasih di antara umat-Nya; kasih yang telah Dia letakkan di dalam hati kita dan mengikat kita bersama-sama di dalam kasih-Nya. Dia suka menjawab doa semacam itu.

(4) Hadirat Allah yang khusus dianugerahkan pada kesatuan kasih antara dua atau tiga orang

Dan pokok keempat yang bisa kita lihat di sini ada di dalam ayat 20, bahwa hadirat Allah yang khusus dianugerahkan pada kesatuan kasih yang semacam ini. "Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." Apakah Anda sering kali merasakan bahwa Allah terasa begitu jauh dari Anda dan Anda merasa sendirian? Anda berlutut untuk melakukan 'doa pribadi' Anda, begitulah istilahnya, namun Allah tampaknya jauh dari Anda, kehadiran-Nya tak terasa. Allah tampaknya berada di dunia yang lain. Mungkin Dia sedang berada di planet Mars, atau mungkin Dia sedang berada di planet lain atau di tempat lain di galaksi Bimasakti ini. Di manakah Allah? Namun jika Anda ada bersama dengan dua atau tiga orang, dalam kebersamaan di dalam kasih Kristus - ada saling keterbukaan sepenuhnya, saling memberi diri, yang memiliki sikap seperti Rut kepada Naomi, "Kemana engkau pergi, aku ikut; di mana engkau tinggal, di sana pula aku tinggal; di mana engkau dikuburkan, di sana pula aku dikuburkan," mereka memiliki komitmen yang begitu kuat antara satu dengan yang lainnya, bahkan seperti bunyi sumpah Rut, "Kiranya Allah menghukum aku, jika ada hal yang memisahkan aku darimu." - jika terdapat komitmen yang semacam ini, puji Tuhan, maka hadirat-Nya akan ada! Dan Anda akan merasakan hadirat-Nya. Anda akan tahu bahwa Dia ada di sana.

Seberapa sering di dalam gereja Anda merasakan bahwa Allah hadir di sana? "Aku bisa merasakan kehadiran-Nya. Dia sedang berbicara kepadaku sekarang ini." Namun di saat Anda meninggalkan gereja, tiba-tiba saja Anda merasa bahwa, "Aku telah meninggalkan semua kemuliaan itu. Sekarang ini hadirat Allah tidak terasa lagi ada bersamaku. Aku merasakan hadirat-Nya di gereja. Aku merasakan hadirat-Nya di dalam ibadah doa. Namun sekarang aku merasa sendirian"? Pernahkah Anda merasakannya? Sering kali Anda akan merasakannya. Tiba-tiba saja, kemuliaan itu berlalu dan Anda merasa sendirian di dalam jurang. Namun di mana ada dua atau tiga orang berkumpul bersama, hadirat itu tidak pernah berlalu. Di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.

Ada hadirat Allah yang secara umum terdapat di dalam diri setiap orang, akan tetapi hadirat-Nya yang khusus ada pada dua atau tiga orang dalam rangka memberkati dan memberi bimbingan

Apakah artinya itu? Bukankah Allah itu ada di mana-mana dan di setiap saat? Tentu saja, Allah ada di mana-mana dan di setiap saat. Lalu, bukankah seharusnya Dia ada bersama dengan Anda? Ya, tentunya Dia ada bersama Anda. Bukankah kita ini adalah Bait Roh Kudus? Ya, Anda adalah Bait Roh Kudus. Lalu mengapa dikatakan bahwa di mana ada dua atau tiga orang berkumpul, di situ Aku hadir di tengah-tengah mereka? Apakah Dia tidak hadir disaat kita sedang sendirian? Ya, Dia hadir disaat kita sendirian. Tubuh kita ini adalah Bait Roh Kudus. Lalu apa maksud ucapan Yesus? Yang dimaksudkan adalah tentang hadirat yang bersifat khusus.

Di dalam Alkitab, ada dua macam hadirat. Yang satu adalah hadirat Allah yang bersifat umum. Inilah jenis hadirat yang dibicarakan oleh Paulus di dalam Kisah 17.28 ketika dia berbicara kepada orang-orang yang tidak percaya juga, bahwa di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada. Kita hidup dan bergerak di dalam Dia. Anda tidak bisa menghirup udara tanpa keberadaan Allah di sana. Allah ada di mana-mana. Seperti yang dikatakan oleh pemazmur di dalam Mazmur 139:8, "Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau." Sebenarnya, yang disampaikan oleh pemazmur ini dari ayat 1 sampai 12 adalah, "Kemanapun aku pergi, ya Allahku, Engkau ada di sana." Itu adalah salah satu jenis hadirat-Nya.

Jenis hadirat yang lainnya adalah hadirat khusus dari Allah. Misalnya, ketika Allah datang kepada Musa dalam semak yang terbakar. Bukankah Allah ada di mana-mana? Tentu saja! Akan tetapi saat itu Dia muncul di dalam hadirat-Nya yang bersifat khusus di semak itu. Tidakkah Allah bersama Musa setiap saat? Benar Dia memang ada bersama Musa setiap saat. Anda tidak bisa pergi kemanapun meninggalkan keberadaan Allah. Namun hadirat-Nya yang khusus terdapat di dalam tabernakel. Di sanalah Dia menyatakan hadirat-Nya, di atas para kerub, di atas para malaikat. Itulah hadirat khusus-Nya. Hadirat khusus-Nya ada di sana sehingga siapapun yang siapapun yang masuk ke dalam ruang maha kudus tanpa seizin Allah pasti mati!

Hadirat khusus-Nya ada di dalam tabut perjanjian. Dan Anda tentu ingat kejadian ketika ada orang yang menyentuh tabut itu dan disambar mati - dilanda oleh hadirat-Nya. Dan dalam hal hadirat - di mana ada dua atau tiga orang berkumpul, di situ Aku hadir di tengah-tengah mereka - Allah tidak sedang membicarakan keberadaan hadirat-Nya yang ada di mana-mana, melainkan hadirat-Nya yang khusus untuk memberkati dan memberi bimbingan. Ini adalah hal yang sangat indah.

Rangkuman: Mengapa harus ada keselarasan di antara "dua atau tiga orang"

Hal yang pertama, supaya kita bisa bersaksi tentang kebenaran dengan penuh kuasa.

Yang kedua, supaya kita bisa mendapatkan kewenangan, untuk membuat ketetapan rohani untuk mengikat atau melepaskan sesuatu. Supaya kita bisa memiliki kewenangan rohani untuk melaksanakan pekerjaan Allah, bukan untuk memuliakan diri kita sendiri, melainkan untuk menjalankan pekerjaan-Nya. Jika kita memikirkan untuk memuliakan diri kita sendiri, maka saat itu pula Allah akan mencabut kewenangan tersebut. Seberapa sukar melayani Allah tanpa memiliki kuasa? Pernahkah Anda mencobanya? Anda tidak bisa berbuat apa-apa. Namun jika Anda memiliki kuasa dan kewenangan ini, maka Anda akan menjadi efektif di dalam pekerjaan Allah.

Yang ketiga adalah untuk mendapatkan dukungan dari Allah. Indah sekali! Saat Anda meminta kepada-Nya, Dia menganugerahkan hal tersebut kepada Anda. Saat Anda memerlukan kemenangan atas dosa, Dia menganugerahkan hal itu kepada Anda. Saat Anda membutuhkan dorongan, Dia anugerahkan hal itu kepada Anda. Saat Anda mendoakan saudara atau saudari seiman Anda yang sedang kekurangan, Dia kabulkan doa Anda. Di dalam kebutuhan keuangan Anda, Dia penuhi kebutuhan Anda, bukan karena Anda ingin memanfaatkan Allah, melainkan karena Anda sudah hidup sepenuhnya untuk Dia sekarang. Semua anugerah itu ada di dalam nama-Nya, merupakan milik-Nya. Anda bisa bertindak di dalam nama-Nya hanya jika Anda sepenuhnya menjadi milik-Nya. Jadi, setiap orang yang sepenuhnya berserah kepada Kristus adalah milik-Nya dan boleh bertindak di dalam nama-Nya.

Keempat, di mana ada dua atau tiga orang yang menjadi milik Kristus dan saling terbuka satu dengan yang lain, maka hadirat khusus Allah ada di sana. Demikianlah empat pokok yang ada di dalam perikop ini, betapa pentingnya ajaran yang Yesus sampaikan kepada kita di dalam perikop ini.

Membangun persahabatan dalam keterbukaan

Dengan sepenuh hati saya berdoa supaya Anda bisa mulai membangun persahabatan yang diawali dengan satu teman. Setidaknya, Anda berdua bisa memulai berkumpulnya 'dua atau tiga orang'. Keterbukaan terhadap setiap orang di saat yang bersamaan itu lebih sukar. Anda melihat sekeliling Anda, dan membatin, "Ada begitu banyak orang, bagaimana cara supaya aku bisa mulai membuka diri?" Mulailah dengan satu orang. Allah ingin agar kita membangun persahabatan dengan satu orang. Cobalah yang itu dulu.

Carilah seseorang, berdoa buat seseorang dan katakan kepada Allah, "Tuhan, aku ingin membuka diriku kepada orang itu, dan aku ingin membawa orang itu ke dalam hatiku, membangun persahabatan dengan orang itu supaya kami bisa saling membangun di dalam Tuhan." Carilah rekan doa untuk bisa saling mendoakan. Tidakkah menyenangkan mengetahui bahwa ada orang yang selalu mendoakan Anda, atau menjadi rekan doa Anda?

Di sini, Allah menurunkan jumlah minimalnya hanya sampai dua atau tiga. Dia tahu kelemahan kita dan Dia menurunkan tingkat tantangannya ke level kita. Jika Anda tidak bisa berkomunikasi dengan semua orang dalam waktu yang bersamaan, cukup berkomunikasilah dengan satu atau dua orang. Bangunlah hubungan rohani yang akrab dengan orang tersebut, maka Anda akan mendapatkan sahabat yang keakrabannya melebihi saudara Anda sendiri. Dan melalui persahabatan tersebut, sambil belajar menjadi sahabat, Anda akan belajar tentang persahabatan yang Kristus siapkan buat kita. Saya berdoa kiranya Anda benar-benar akan memulai hal ini. Membangun jembatan ke arah orang lain. Dan dalam waktu singkat, Allah akan menghubungkan kita semua. Jika Anda membangun jembatan ke arah orang lain, saya membangun jembatan ke arah orang lain, setiap orang membangun jembatan, dan kita akan segera saling terhubung lewat tindakan membangun  jembatan ini, tindakan saling membuka diri ini, bukankah demikian? Dengan begitu, maka gereja akan segera mengalami keempat hal yang baru saja kita bahas: bersaksi tentang kebenaran, memperoleh kewenangan, memperoleh dukungan dari Allah dan juga hadirat khusus dari Allah.

-Selesai-

(Copyright owned by Cahaya Pengharapan Ministries. May be used for non-profit purposes but must be attributed to this website.)

Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.

Standard
Besar
Terbesar

Seri Matius:

Mat 2:2 Bintang yang ajaib

Mat 3:13-17 Penundukan kepada Allah, Kegenapan segala Kebenaran

Mat 4:17 Apa itu Kebenaran?

Mat 2:1-12 Tiga Prinsip Damai Sejahtera

Mat 3:13-4:17 Visi Kerajaan Allah 1

Mat 3:13-4:17 Visi Kerajaan Allah 2

Mat 7:8-11 Mintalah Roti & Ikan

Mat 7:12 Perlakukan Orang Lain Sebagaimana Anda Ingin Diperlakukan Oleh Mereka

Mat 7:13-14 Masuklah Melalui Pintu yang Sesak

Mat 7:15-20 Waspadalah Terhadap Nabi-Nabi Palsu

Mat 7:21-27 Dua Macam Dasar

Mat 8:5-13 Iman Perwira Romawi

Mat 9:36-10:16 Syarat untuk Mengikut Yesus

Mat 8:18-22 Apakah Anda Layak?

Mat 9:36-38 Tuaian memang banyak tetapi pekerjanya sedikit

Mat 10:16-25 Apa yang harusnya menjadi watak seorang Kristen?

Mat 10:26-33 Iman, kebalikan dari Ketakutan

Mat 10:34-36 Aku Datang Bukan Untuk Membawa Damai

Mat 10:37-39 Apakah hubungannya salib kita dengan Salib Kristus?

Mat 10:40-42 Hal menerima upah

Mat 11:1-11 Kebesaran Yohanes Pembaptis

Mat 11:12 Kerajaan Surga datang dengan Kuasa

Mat 11:12 Apa makna memikul salib?

Mat 11:28b Tanda Seorang Kristen - Memberi Diri

Mat 11:30 "Kuk yang Kupasang itu enak"

Mat 12:22-29 Berwaspadalah! Iblis belum menyerah!

Mat 12:30 - Bersama Kristus? Atau hanya sekadar berpihak?

Mat 12:30b Anda termasuk Jerami, Rumput dan Kayu atau Batu Permata, Emas dan Perak?

Mat 12:331-32 Dosa yang Tidak Dapat Diampuni

Mat 12:38-42 Apa itu Tanda Nabi Yunus?

Matius 12:43-45 Siapkah yang berdiam di dalam Anda? Allah atau Belial?

Mat 12:46-50 Melakukan Kehendak Allah, Jalan Menuju Keselamatan

Mat 14:13-21 Mengapa Tuhan tidak melipat-gandakan 'Lima Roti dan Dua Ikan' kita?

Mat 14:22-33 Iman membutuhkan Keberanian

Mat 15:1-9 Manusia Telah Menjadikan Firman Allah Tidak Berlaku - 1

Mat 15:1-9 Manusia Telah Menjadikan Firman Allah Tidak Berlaku - 2

Mat 15:20 Akar Permasalahan Manusia

Mat 15:21-28 Ciri Iman yang Besar di Mata Allah

Mat 16:1-4 Tanda-Tanda Zaman

Mat 16:13-20 Bagaimana Salib Menjadi Batu Sandungan

Mat 16:18 "Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu"

Mat 16:24-26 Si Aku - Hambatan Menuju Kebesaran Rohani

Mat 16:24-26 Kasih dan kebencian

Mat 17:14-21 Jalan Menuju Kuasa dan Kemuliaan adalah Jalan Salib

Mat 17:14-21 Mengapa Gereja tidak memiliki kuasa?

Mat 17:14-21 Apa artinya Memindahkan Gunung?

Mat 17:22-18:4 Berpalinglah dan Menjadi Seperti Anak Kecil

Mat 18:5-9 Celakalah Orang yang Membuat Orang Lain Tersandung

Mat 18:10 Apa yang diajarkan Kitab Suci tentang Malaikat?

Mat 18:15-20 Persahabatan yang diinginkan Allah

Mat 19:13-15 Kerajaan Allah Milik Anak-Anak Kecil

Mat 19:16-30 Apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?

Mat 19:16-30 Sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga

Mat 19:16-30 "Pergi, juallah segala hartamu, dan datanglah serta ikutlah Aku"

Mat 19:30 Apa yang dimaksudkan dengan "yang terdahulu akan menjadi yang terakhir"?

Mat 20:20-28 Jalan untuk menjadi yang terutama

Mat 20:29-34 Apakah Anda Percaya?

Mat 21:23-27 Komitmen untuk mengasihi kebenaran

Mat 23:1-22 Kemunafikan: Ragi orang Farisi

Mat 23:13-26 Tujuh gejala kanker rohani - 1

Mat 23:27-33 Tujuh gejala kanker rohani - 2

Mat 23:23 Obat penawar bagi kemunafikan

Mat 23:29-39 Apa artinya menjadi Anak Allah?

Mat 23:29-39 Sekali Anak, Selamanya Anak?

Mat 23:31-24:3 Pengajaran Yesus tentang akhir Zaman

Mat 23:33 Neraka menurut ajaran Yesus

Mat 23:37-24:2 Manusia bisa berkata 'tidak' kepada Allah

Mat 24:3-14 Tanda-tanda Umum Kedatangan Kristus

Mat 24:15-24 Tanda-tanda khusus kedatangan Kristus

Mat 24 Siapakah Raja atas Hidup Anda, Allah atau Iblis?

Mat 24:24-27 Tujuan dari Anti Kristus: Menyesatkan gereja

Mat 24:28 Apakah Anda termasuk burung Elang atau burung Nazar?

Mat 24:29-30 Tanda-tanda Menjelang Kedatangan Yesus

Mat 24:31 Penebusan: Apakah maknanya?

Mat 24:31 Sudahkah Penebusan sepenuhnya terjadi?

Mat 24:42-44 Pesan Perpisahan dari Yesus - Berjaga-jagalah

Mat 24:34 Bagaimana menjadi anak-anak Terang?

Mat 26:30-35 Iblis dan Mahkamah Surgawi

Mat 26:30-35 Iblis telah Menuntut untuk Menampi engkau

Mat 26:41 Salibkan daging!

Mat 18:18-20 Murid yang sejati

Mat 28:18-20 Misi gereja di tengah dunia

Copyright 2002-2014. Semua materi di situs ini adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries.
E-mail kami untuk mendapatkan izin untuk menggunakan materi di situs ini.
Best viewed with IE6.0 and 1024 by 768 resolution.