|
| Saran & Komentar | updated on 15 May 2012 |
|||||||
|
CahayaPengharapanMinistries Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan |
|||||||
|
|
|||||||
|
Jalan Menuju Kuasa dan Kemuliaan adalah Jalan Salib Matius 17: (1-13) 14:21 (Ayat-ayat paralel: Markus 9:14-29; Lukas 9:37-43) Matius 17:14-21 Hari ini, kita lanjutkan studi sistematis kita tentang pengajaran Yesus. Kami sedang menguraikan secara sistematis tentang pengajaran Yesus. Kami tidak melompat dari satu perikop ke perikop lain tanpa tujuan, tetapi kami bertujuan - dengan kasih karunia Allah - untuk secara sistematis menguraikan ajaran Kristus. Dan sungguh mengherankan, di tengah angkatan ini, ada begitu banyak orang yang disebut Kristen, yakni orang-orang yang ingin menjadi murid-murid Kristus, yang mengikut Kristus, namun tidak begitu mengenali apa yang Yesus ajarkan. Nah, selama lebih dari empat tahun, kami telah menjalankannya sampai dengan hari ini, sampai ke Matius pasal 17, dan Anda bisa lihat betapa dalam kekayaan makna dari Firman Allah. Dan kita tidak akan sampai menguras habis kedalaman dari kekayaan makna Firman-Nya. Hari ini, kita sampai pada bagian di dalam Matius 17:14-21. Ini adalah kejadian yang langsung terjadi setelah peristiwa transfigurasi (transfiguration) Yesus di hadapan murid-murid-Nya, dan sekarang kita sampai pada Matius 17:14-21. Ini adalah catatan peristiwa ketika Yesus telah turun dari gunung tempat terjadinya transfigurasi, salah satu gunung di utara yang merupakan bagian dari pegunungan Hermon, gunung tersebut hanya disebut sebagai 'gunung yang tinggi', yang berarti puncak tertinggi di daerah pegunungan Hermon. Ayat 14-21 berbunyi sebagai berikut: Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seorang mendapatkan Yesus dan menyembah, katanya: "Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan (ayan bukanlah terjemahan yang tepat) dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. (Alasan mengapa saya mengomentari terjemahan 'ayan' adalah karena ayat-ayat ini berbicara tentang hal kerasukan setan dan bukannya penyakit ayan. Terjemahan tersebut lebih menunjukkan pendapat dari penerjemahnya dan bukan isi Alkitab. Dengan demikian, penyakit ayan sama sekali tidak bisa dihubungkan dengan hal kerasukan setan. Ini jelas merupakan kesimpulan yang keliru. Dan ini adalah alasan mengapa kita perlu menolak kata 'ayan' dipakai sebagai terjemahan di sini. Kita lanjutkan ke ayat 16, dan di sini sang ayah itu berkata) Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya." Maka kata Yesus (harap diperhatikan nada ucapan dari Yesus): "Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!" Dengan keras Yesus menegur dia, lalu keluarlah setan itu dari padanya dan anak itupun sembuh seketika itu juga. Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: "Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?" Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu. Perikop-perikop yang sejajar dengan ini tidak akan kita baca untuk sementara ini namun bagi Anda yang ingin mencatatnya, perikop-perikop tersebut adalah Markus 9:14-29, yang sebenarnya berisi perincian yang lebih banyak daripada yang ada di dalam Matius, dan juga di dalam Lukas 9:37-43. Dan nanti kita akan sejenak menelusuri perikop yang ada di dalam Lukas. Untuk sekarang ini, mungkin nanti kita hanya akan mengulas ayat terakhir dari perikop yang ada di dalam Lukas, yakni Lukas 9:43. Alasan mengapa saya mengajukan ayat tersebut karena memang ayat itu berkaitan dengan eksposisi kita pada hari ini. Ayat yang mengakhiri catatan peristiwa di dalam perikop tersebut sangat mirip dengan ayat di dalam Matius. Mungkin kita perlu baca dari ayat 42: Dan ketika anak itu mendekati Yesus, setan itu membantingkannya ke tanah dan menggoncang-goncangnya. Tetapi Yesus menegur roh jahat itu dengan keras dan menyembuhkan anak itu (perhatikan bahwa setan dan roh jahat itu sama saja, dan hal ini juga bisa kita lihat dari ayat-ayat yang lain di dalam Kitab Suci), lalu mengembalikannya kepada ayahnya. Maka takjublah semua orang itu karena kebesaran Allah. Memikul salib, kehilangan segalanya termasuk nyawa Anda, untuk mengikut Yesus yang memberi Anda janji akan hidup yang kekal Nah, mari kita telusuri hubungan antara perikop ini dengan konteksnya. Kita telah membahas secara terperinci di dalam Matius 16:24 dan seterusnya, di mana Yesus berkata bahwa, "Barangsiapa mau mengikut Aku, dia harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya dan mengikut Aku." Di sini, pemberitaan Yesus tentang salib menunjukkan unsur dasar yang mutlak, siapapun dari generasi ini yang ingin mengikut Dia, maka orang itu harus bersiap untuk kehilangan segala-galanya, termasuk nyawanya sendiri, di dalam proses tersebut. Kemudian kami membahas ayat terakhir dari perikop tersebut, "Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya." Dan kita telah lihat bahwa perkataan tersebut diterapkan pada janji tentang hidup kekal, janji hidup kekal kepada mereka yang memikul salib dan mengikut Dia. Dengan demikian, Anda bisa melihat bahwa jalan menuju hidup kekal itu terletak di jalur Via Dolorosa, jalan salib, jalan penderitaan. Anda tidak akan sampai kepada hidup kecuali melewati gerbang yang sempit sebagaimana yang Yesus katakan, "Masuklah melalui gerbang yang sempit itu karena jalan yang menuju hidup itu melalui jalan yang sempit dan juga gerbang yang sempit." Jangan sampai ada orang yang memberitahu Anda hal yang sebaliknya bahwa masuk ke dalam hidup itu mudah karena yang itu bukanlah apa yang dikatakan oleh Yesus. Sangatlah mudah untuk membuat suatu pengakuan percaya. Sekarang ini sangatlah mudah untuk menyatakan bahwa seseorang telah diselamatkan. Dan para penginjil bahkan berjuang untuk membuat hal itu menjadi lebih gampang daripada yang sanggup kita bayangkan dengan menawarkan berbagai macam pil berlapis gula untuk kita telan. Akan tetapi Yesus menyampaikan firman dengan kebenaran yang tak kenal kompromi. Anda tak akan bisa mencapai hidup yang kekal kecuali melalui gerbang yang sempit dan jalan yang sempit juga. Setiap orang yang memberitahukan hal yang berbeda kepada Anda berarti tidak menyampaikan kebenaran. Motivasinya mungkin sekadar mengejar lebih banyak orang yang pindah agama. Motivasinya mungkin sekadar mengejar lebih banyak orang yang mengacungkan tangan dalam KKR. Apapun motivasinya, dan seberapa jujur atau tulus dia beranggapan bahwa dia sedang menjalankan pekerjaan Allah, tak ada yang mempersoalkan motivasinya. Bukan itu persoalan kita. Yang penting adalah bahwa kita harus memberitakan Firman Allah seperti yang telah disampaikan oleh Yesus sendiri. Kita tidak boleh mengencerkannya demi memenuhi selera setiap orang. Jika firman itu kebetulan tidak memenuhi selera setiap orang, tak ada hal yang bisa saya perbuat untuk itu. Saya tidak punya hak untuk melapisinya dengan gula, membuatnya lebih mudah untuk dicerna, memudahkan bagi Anda untuk menelannya. Jalannya itu sukar. Memang layak untuk ditempuh tetapi sukar. Dan kita juga telah melihat, saat kita melakukan penelusuran itu, Yesus di dalam Lukas 14 memberitahu para pendengar, yakni orang-orang yang mendengarkan uraian-Nya, untuk menghitung ongkos dari pemuridan. Janganlah buru-buru mengangkat tangan Anda dan berkata, "Aku percaya. Aku datang. Aku akan membuat keputusan." Jangan biarkan ada penginjil yang menekan Anda untuk mengacungkan tangan melalui berbagai rekayasa. Yesus berkata, "Pikirkan dulu ongkosnya," di dalam Lukas 14. "Kalau menurutmu, kamu tidak bisa memenuhi ongkosnya, kalau menurutmu kamu bisa memulai pembangunan gedung itu namun tidak bisa menyelesaikannya, kalau kamu pikir bahwa kamu akan maju berperang namun tidak bisa memenangkannya, lebih baik lupakan saja. Menyerah saja kepada dunia. Tinggalkan saja proyek ini." Kebenaran semacam itu, kejujuran dari Yesus itu sangat menyentuh hati saya. Saya gemas kepada mereka yang, apapun motivasinya, mencoba mendorong perpindahan agama dengan menggunakan taktik-taktik yang menekan, dengan cara-cara 'sales' dan juga cara-cara lain yang jauh dari kejujuran. Kita harus jujur di dalam menyajikan persoalan yang menyangkut hidup dan mati, khususnya kehidupan dan kematian yang kekal. Nah, setelah memahami semua ini, kita melanjutkan dengan melihat bahwa Yesus sendiri mengawalinya dengan melangkah ke dalam jalan salib. Seperti yang bisa Anda lihat di dalam Matius 16 dan seterusnya, Dia menyatakan kepada para murid-Nya bahwa Dia akan mati. Ini tentunya merupakan kejutan bagi mereka. Saat mereka mendengarkan hal ini, ucapan itu seperti petir di telinga mereka. "Yesus akan mati? Kami kira Dia akan membangun Kerajaan." Hal yang tidak mereka ketahui adalah bahwa Dia justru membangun Kerajaan itu melalui kematian-Nya. Dan selanjutnya di dalam Matius 17, Yesus sendiri mulai melangkah ke jalan salib, segera setelah Dia memberitahu mereka bahwa Dia akan mati, dan setelah memberitahu bahwa karena Dia akan mati, maka mereka harus memikul salib dan mengikut Dia, jika tidak maka mereka tidak akan sampai ke tempat Dia pergi. Kekristenan bukanlah sebuah agama Lalu bagaimana Anda bisa menjadi seorang murid jika Yesus melangkah ke arah ini tetapi Anda melangkah ke arah lain? Itu bukanlah pemuridan. Pemuridan berarti mengikuti teladan seseorang. Jika Dia melangkah ke arah salib, maka Anda juga melangkah ke arah salib. Itu sebabnya Dia berkata, "Pikullah salibmu dan ikutlah Aku, kalau tidak maka kamu tidak akan sampai. Kamu tidak akan menjadi murid-Ku, bukan karena Aku tidak menginginkanmu melainkan karena kamu tidak akan tahan menghadapi tekanan, menghadapi berbagai kesukaran yang akan dihadapi oleh seorang Kristen sejati," - yang saya sebutkan di situ adalah 'seorang Kristen sejati." Dan pada bagian lain, saya sempat menyinggung tentang hal kekristenan yang tak lebih dari sekadar candu, suatu kekristenan yang memang layak disebut sebagai candu, kekristenan yang hanya menina-bobokan Anda, memberi Anda obat bius. Kekristenan yang semacam itu bukanlah kekristenan yang diberitakan oleh Yesus dan juga bukan kekristenan yang saya beritakan. Saya tidak mau menjadi penjual candu jenis apapun, entah itu candu rohani ataupun candu jenis lainnya. Sebutan 'candu rohani' tidak membuatnya menjadi layak untuk diterima. Ada jenis orang Kristen yang hanya ingin kekristenan yang tanggung, kekristenan tanggung yang sekadar membuat mereka merasa senang, namun di luar itu mereka berperilaku sama egois, mementingkan diri sendiri, dan sombong seperti orang non-Kristen, dan saya bahkan berani katakan bahwa mereka lebih buruk daripada orang non-Kristen. Jika ini hasil dari candu agama, lebih baik kita lupakan saja perkara candu ini. Lupakan saja agama. Kita tidak memerlukan hal semacam ini di dunia. Sudah ada banyak racun di dunia ini tanpa perlu menambahkan lagi racun lain ke dalamnya. Saya berbicara apa adanya seperti yang Tuhan inginkan agar kita mengerti bahwa kekristenan bukanlah candu yang hanya akan membuat Anda merasa enak setiap kali Anda memerlukan suntikan bius. Seorang Kristen adalah seorang prajurit yang berperang di dalam peperangan membebaskan umat manusia Kekristenan adalah panggilan masuk ke peperangan. Kita disuruh masuk ke dalam peperangan, dan di dalam peperangan itu kita menderita luka-luka, Anda bisa saja terluka, Anda mungkin saja jadi korban, Anda bisa saja kehilangan orang yang Anda kasihi atau kehilangan nyawa Anda di dalam proses ini. Seperti yang tertulis di dalam 2 Timotius 2:4, "Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya." artinya, Anda tidak repot-repot membeli rumah, mengejar kenyamanan bagi diri Anda. Seorang prajurit tidak mengejar hal-hal semacam itu. Mereka tidak punya waktu untuk itu. Ketika panggilan datang, mereka segera menyandang senjata mereka dan berangkat berperang. Mereka bisa saja tidak pernah pulang lagi. Itulah jenis panggilan yang disampaikan oleh Paulus kepada Timotius. "Jadilah prajurit Yesus Kristus yang baik." Ini bukanlah candu bagi mereka yang sekadar mengejar kesenangan, yang hanya mengejar bius rohani. Kekristenan jenis yang ini tidak akan menyenangkan bagi orang-orang. Kekristenan yang ini tidak bisa menjadi candu. Ini adalah panggilan untuk berperang demi kebajikan dan kebenaran. Ini adalah panggilan untuk berjuang demi pembebasan umat manusia dari hal-hal seperti keserakahan dan keegoisan. Ini bukan alat untuk membuat kita merasa enak, [merasa] bahwa kita ini adalah orang-orang pilihan. Kita tidak bergaul dengan para pendosa yang parah di luar sana. Kita adalah kelas tersendiri dan semua orang berdosa di luar sana, mungkin Allah akan berbelas kasihan kepada mereka, mungkin saya akan menatap mereka dengan rasa kasihan akan tetapi saya adalah 'yang terpilih dari Allah'. Kesombongan semacam ini tidak bisa ditoleransi di mata Allah. Yesus mengawali dengan melangkah menuju jalan salib Demikianlah, Yesus, seperti yang kita lihat di dalam Matius 17:1, bergerak menuju salib. Anda bisa lihat bahwa hal ini dinyatakan dengan tegas di dalam Lukas 9:31, di mana kita dapati bahwa Musa dan Elia sedang berbicara dengan Yesus mengenai tujuan kepergian-Nya (exodus), mengenai kematian-Nya. Yang tertulis di naskah sumbernya adalah 'exodus (kepergian)'. Kata tersebut, di dalam bahsa Yunaninya, tertulis sebagai exodus, yang di dalam bahasa Inggris juga memakai kata yang sama (exodus), kepergian-Nya, kematianNya. Karena kala itu Yesus sudah mengungkapkan kepada murid-murid-Nya bahwa dia akan mati, Yesus lalu dimuliakan oleh Allah. Nah, pokok ini erat kaitannya dengan eksegesis kita hari ini. Bapa memuliakan Yesus di dalam peristiwa Transfigurasi. Sangatlah penting bagi kita untuk memahami bahwa yang dipakai adalah ungkapan pasif, itulah bentuk yang tertulis di dalam naskah sumbernya, yakni bahwa "Yesus dimuliakan". Terjemahan bahasa Inggris juga memakai ungkapan bentuk pasif, "was transfigured (berubah rupa)". Kata sandang 'was' di sana tidak sekadar menyatakan bentuk lampau (past tense), kata tersebut [di dalam ayat ini] juga menyatakan bentuk pasif [dari kata kerja sesudahnya] yang di dalam terjemahan modern tidak begitu tampak. Maksud dari penggunaan bentuk pasif ini adalah untuk menunjukkan bahwa Allah memuliakan Dia. Yesus tidak memuliakan diri-Nya sendiri di atas gunung itu. Dia tidak serta merta memutuskan untuk menunjukkan kemuliaan-Nya untuk membuat murid-murid-Nya terpesona, atau untuk tujuan apapun itu. Bukan itu. Pokok yang perlu diingat di dalam peristiwa transfigurasi di dalam Matius 17, dan perikop-perikop yang paralel, adalah bahwa Allah memuliakan Dia di saat Dia sedang berdoa. Perhatikan bahwa Dia sedang berdoa dan Allah memuliakan Dia. Allah menyelimuti Dia dengan kemuliaan-Nya. Allah membuat kemuliaan-Nya turun kepada Yesus dalam wujud yang membuat kemuliaan itu terpancar dari Yesus. Allah memuliakan Yesus dengan men-transfigurasi-Nya Malahan, seperti yang kita lihat di dalam Yohanes 12:28, di mana suara Allah terdengar berkata, "Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!" Aku telah memuliakan-Nya - di mana? Di atas gunung itu. Peristiwa di sana adalah contoh khusus di mana Allah memuliakan Yesus. Dia memuliakan Yesus dengan cara mentransfigurasi Yesus sehingga Yesus diselimuti oleh kemuliaan kekal ilahi. Dia tidak memuliakan dirinya sendiri. Ingat di dalam Filipi 2, Dia merendahkan diri-Nya. Dan pada waktu berada di atas gunung itu, Dia tidak merebut kemuliaan-Nya itu, walau hanya untuk sesaat untuk diperlihatkan kepada para murid-Nya. Bukan begitu. Hal ini akan sangat bertentangan dengan Filipi pasal 2. Tidak, yang terjadi di atas gunung ini adalah bahwa Bapa memuliakan Dia. Siapakah orang-orang yang dimuliakan oleh Bapa? Mereka adalah orang-orang yang tidak mengejar kemuliaannya sendiri. Dia tidak minta untuk dimuliakan. Dan ketika orang banyak ingin menjadikan Dia raja, Dia menolaknya. "Ambil pergi semuanya ini. Aku datang bukan untuk hal ini." Akan tetapi Bapa memuliakan Dia dan Dia ditransfigurasi di hadapan murid-murid-Nya dengan kemuliaan yang kekal. Tujuan dari segenap kehidupan Yesus adalah untuk mati sebagai korban persembahan atas dosa-dosa kita Nah, poin yang saya harap agar Anda perhatikan adalah hubungan antara hal dipermuliakan oleh Allah ini dengan cara-Nya mati di kayu salib. Pada waktu Dia mempersiapkan diri untuk mati, saat Dia mempersiapkan diri-Nya dengan berdoa, hal apakah yang sedang Dia doakan itu? Anda akan lihat berkali-kali bahwa tema pokok dari pemikiran dan doa Yesus adalah hal pengorbanan-Nya, kematian-Nya di kayu salib yang semakin mendekat. Inilah tujuan yang telah ditetapkan bagi segenap kehidupan-Nya. Dia mengarahkan wajah-Nya kepada tujuan untuk mati di Yerusalem, menjadi korban bagi dosa-dosa kita. Dan ketika Dia sedang berdoa, ketika pikiran-Nya ditujukan pada kematian-Nya, di sana muncul Elia dan juga Musa yang datang untuk membicarakan pokok yang satu ini, kematian-Nya, tujuan kepergian-Nya itu, hal yang bisa kita lihat di dalam Lukas 9:31. Sungguh indah sekali. Kita harus memahami satu hal dengan jelas sebagai seorang Kristen, dan hal ini justru tidak dipahami dengan jelas oleh orang Kristen zaman sekarang, bahwa jalan menuju kemuliaan, jalan menuju kuasa adalah jalan salib. Yesus bukan sekadar korban persembahan bagi kita, Dia juga juga adalah teladan kita. Dia telah meletakkan teladan-Nya di hadapan kita. Kita dipanggil untuk mengikut Dia, untuk memikul salib kita dan mengikut karena inilah jalan menuju kemuliaan, jalan menuju kuasa. "Murid-murid-Mu tidak memiliki kuasa untuk menyembuhkan anakku yang kerasukan setan" Nah jika kita sudah tahu akan hal ini, berarti kita sudah siap untuk membahas perikop hari ini di dalam Matius 17:14-21. Secara khusus, saya ingin memusatkan perhatian pada firman di dalam ayat 17 di mana Yesus berkata kepada orang banyak termasuk murid-murid-Nya. Perhatikan bahwa yang berbicara adalah si bapa itu tetapi Yesus berbicara kepada orang-orang yang hadir, dan itu termasuk murid-murid-Nya. "Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat!" Ini tampaknya merupakan ucapan yang keras. Mengapa perkataan ini ditujukan sekaligus kepada murid-murid-Nya? Nah, si bapa itu sebelumnya berkata, "Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya. Mereka tidak berkuasa. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa tentang anakku." Ayat itu tertuju kepada kita. Benar-benar terarah kepada kita. Kita ini adalah generasi Kristen tanpa kuasa. Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Orang Kristen rata-rata tidak bisa mengerjakan apa-apa. Kita tidak bisa mengerjakan apa-apa tanpa kuasa. Dan Anda akan segera mendapati bahwa jika Anda kira pengetahuan bisa menghasilkan sesuatu, kita ini hidup di tengah generasi yang menempatkan pengetahuan sedemikian tingginya di mana kita mengira bahwa pengetahuan adalah kunci dari segala sesuatunya, nah, saya beritahu Anda sesuatu, menurut Kitab Suci, kuncinya bukan pada pengetahuan melainkan pada kuasa. Ketika Paulus berkata kepada jemaat Korintus yang angkuh, "Saat aku datang nanti kepadamu, aku tidak akan memperhatikan omonganmu, namun aku ingin melihat kuasa apa yang kau miliki." Pokok yang menjadi penentu kehidupan rohani adalah kuasa. Itu hal yang sangat mendasar. Untuk memerangi kuasa (setan) Anda membutuhkan kuasa Bukan berarti bahwa pengetahuan itu tidak penting, jangan salah sangka. Pengetahuan tentu saja penting, akan tetapi pengetahuan saja tidaklah cukup jika bertemu dengan hal-hal yang berkenaan dengan kuasa karena di dalam kehidupan rohani, seperti kata Paulus, "Kita tidak sedang melawan darah dan daging melainkan melawan kuasa-kuasa, roh-roh jahat di udara." Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda akan dapat menghentikan mereka dari melakukan apa yang mereka ingin lakukan dengan berdasarkan pengetahuan Anda yang berlimpah? Apakah Anda akan berkata kepada setan, "Duduklah. Aku akan berdebat denganmu. Aku memiliki gelar S3 di bidang teologi. Aku akan tunjukkan kepadamu. Kalau kamu kalah berdebat denganku, kamu menyerah, bagaimana?" Saya beritahu Anda sesuatu. Setan akan jauh lebih pintar dari Anda dalam perdebatan! Dia tahu isi Alkitab melebihi pengetahuan Anda dan dia memahami teologi jauh melampaui pemahaman professor teologi manapun. Atau, jika semua professor teologi dikumpulkan, itu juga tidak akan memenangkan perdebatan melawan setan. Dia bahkan tidak takut mengutip ayat Kitab Suci terhadap Yesus pada saat pencobaan, dan dia berkata, "Kau tahu, ada tertulis tentang itu." Dia memberitahu Yesus tentang apa yang tertulis di dalam Alkitab! Sebegitu tinggi rasa percaya dirinya akan penguasaan isi Alkitab. Dan dia memang tidak keliru mengutip, bertentangan dengan apa yang diuraikan oleh sebagian penafsir. Kutipannya, jika Anda periksa, sangatlah akurat. Dia tahu isi Alkitab dengan sangat baik dan dia tidak akan membiarkan Yesus balik berkata, "Maaf, salah kutip. Baca sekali lagi. Bukan begitu isinya." Dia tidak akan membiarkan dirinya dijatuhkan dengan dengan cara itu. Tidak akan. Jangan mengira bahwa Anda akan bisa memenangkan peperangan rohani dengan pengetahuan. Jangan mengira bahwa Anda bisa menunjukkan ijazah teologi Anda dan berkata, "Lihat ini, lihat dari universitas mana aku berasal." Hal itu tidak akan membuat setan terkesan sama sekali. Untuk berhadapan dengan kuasa maka Anda perlu memiliki kuasa. Menurut Anda, apa yang bisa diperbuat oleh para murid terhadap roh jahat yang merasuki anak itu? "Tidak, tidak, kamu harus berakal budi. Bukan begini caranya memperlakukan anak kecil yang tidak berdaya. Bukan begitu caranya. Kamu harus tunjukkan kelakuan yang baik dan lebih terhormat dari ini." Dan mungkin setan itu akan berkata, "Maaf. Aku pergi sekarang. Aku akan mencari korban lain yang lebih layak untuk aku kerjai." Apa-apaan ini? Menggelikan! Dengan cara saya menguraikannya seperti ini, maka Anda bisa segera melihat apa yang saya maksudkan ketika saya berkata bahwa Anda tidak bisa memenangkan peperangan rohani dengan pengetahuan. Anda tidak memenangkannya dengan cara itu. Anda harus memiliki kuasa, kuasa untuk menangani musuh, kuasa untuk menggumuli dunia, dosa, setan, daging. Dengan cara apa Anda akan menghadapi hal-hal itu? Saya beritahu Anda sesuatu, bahwa sebagian orang yang menjalani kehidupan Kristen yang tanpa kuasa justru teman-teman kita yang berasal dari seminari dan sekolah Alkitab. Saya perlu memasukkan diri saya di sana. Lagi pula, ke lembaga-lembaga seperti itulah saya pernah masuk. Saya menemukan bahwa pengetahuan tidak memberi saya kemenangan dalam bentuk apapun. Saya tahu faktanya akan tetapi saya tidak bisa memenangi pertempuran karena hal yang memenangkan peperangan adalah kuasa. Mengapa para murid - atau kita - tidak memiliki kuasa? Dengan demikian, kita perlu menanyakan hal yang penting ini, mengapa kita sampai tidak memiliki kuasa? "Kita tidak bisa memenangi pertempuran. Kita tidak bisa menang." Para murid yang telah berjalan bersama Yesus, yang sampai pada titik tertentu mereka menerima sebagian kuasa - misalnya ketika Dia mengutus mereka di dalam Matius 10, untuk mengusir setan dan sebagainya -namun ketika mereka terbentur pada kasus ini, mereka gagal. Anda bisa melihat gambaran yang menyedihkan ini. Si bapa ini membawa anaknya yang kerasukan setan kepada para murid dan para murid itu lalu berkata, "Keluar! Keluar! Keluar!" Dan setan itu menjawab, "Oh ya? Coba sekali lagi." Dan para murid itu berkata, "Di dalam nama Yesus, kuperintahkan kamu untuk keluar!" Tak ada hasilnya. Si bapa memperhatikan kejadian itu. Si anak masih kerasukan. Setan itu masih di dalam sana. Orang banyak masih di sana. Tak ada hasil. Demikianlah, setelah berulang-ulang diusahakan, Anda bisa membayangkan gambaran keadaannya (tidak sulit bagi kita untuk membayangkan keadaan saat itu), akhirnya si bapa menyerah. Kemudian, mereka melihat Yesus turun dari gunung: "Itu Dia! (Yesus naik ke atas gunung bersama tiga orang murid-Nya). Sekarang ada harapan! Itu Yesus! Nah, kalian sebaiknya berhenti saja, karena kalian tidak bisa berbuat apa-apa, lebih baik kami menemui Gurunya saja." Nah, bagi si bapa, sungguh melegakan melihat Yesus karena setelah menyaksikan upaya murid-murid-Nya yang sia-sia itu, saya rasa hatinya sudah mulai menjadi berat. Kadang kala, jika kita melihat keadaan di dunia sekarang ini, di mana kejahatan bergerak maju di semua bidang, dan Gereja terlihat tidak berdaya, saya menjadi heran. Mereka mencoba untuk mengusir setan, mencoba untuk memerangi, namun setan tersenyum ke arah Anda. Di sana, setan tersenyum kepada murid-murid dan para murid ini tidak bisa berbuat apa-apa. "Mengapa kami tidak mampu mengusirnya? Mengapa kami tidak mampu?" demikian tanya para murid kepada Yesus. Mereka saat itu bukan asal berupaya. Saya yakin bahwa mereka telah berusaha keras, mengusahakan yang terbaik. Mereka berusaha sangat keras, namun tak ada hasilnya. Para murid itu kekurangan iman Nah, Yesus lalu masuk ke dalam adegan tersebut, dan saya terkejut mendengar perkataan-Nya: "Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat!" Apa yang disampaikan oleh firman itu kepada kita? Jelaslah, ada satu hal yang segera nampak dari firman ini. Yesus mengharapkan agar para murid-Nya bisa menangani perkara ini, bukankah begitu? Tak ada gunanya menegur orang banyak karena orang banyak itu tidak diharapkan untuk bisa mengatasi hal ini. Dia menginginkan agar para murid-Nya bisa mengatasi hal ini, akan tetapi ternyata mereka tidak bisa. Tak ada hal yang lebih menyedihkan, saya yakin itu yang terasa di dalam hati Yesus, bahwa setelah mengajar murid-murid-Nya sekian lama dan ketika mereka sudah menjelang masa akhir pelatihan mereka, ketika Dia akan menuju ke salib, di mana Dia akan segera dipersembahkan sebagai korban bagi dosa-dosa dunia, ternyata mereka masih tidak bisa berbuat apa-apa. "Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat!" Dan bahwa Dia memasukkan murid-murid itu sama dengan orang banyak yang tidak beriman bisa dilihat dari jawaban - "Karena kamu kurang percaya." Anda tentu ingat bahwa sebelumnya mereka bertanya, "Mengapa kami tidak bisa mengusirnya keluar?" Karena kamu kurang percaya! Itu sebabnya, selama imanmu masih kurang, berarti kamu masih sama dengan angkatan yang tidak percaya, yang kekurangan iman ini." Perlu juga diperhatikan bahwa perkataan itu dulu ditujukan kepada bangsa Israel di dalam kitab Ulangan. Di dalam Ulangan 32:5 dan 20, kita temukan bahwa orang Israel disebut sebagai angkatan yang sesat dan tidak percaya. Perkataan itu ditujukan kepada umat Israel di dalam Nyanyian Musa di kitab Ulangan. Dia berkata kepada mereka, di dalam kitab Ulangan, bahwa karena mereka adalah angkatan yang sesat dan tidak percaya, sekalipun mereka telah melihat pekerjaan-pekerjaan Allah, mereka tetap saja tidak percaya, Allah sangat kecewa pada mereka. Di dalam Ulangan 32:4 di dikatakan: Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna. Di sini, ingatlah bahwa Allah sendiri disebut sebagai Gunung Batu. Karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia. Perhatikan :'setia, dengan tiada kecurangan', bertentangan sepenuhnya dengan 'tidak percaya dan sesat'. Kemudian di lanjutkan dengan ayat 5: Berlaku busuk terhadap Dia, mereka yang bukan lagi anak-anak-Nya, yang merupakan noda, suatu angkatan yang bengkok dan belat-belit. Dan ayat 20: Ia berfirman: Aku hendak menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, dan melihat bagaimana kesudahan mereka, sebab mereka itu suatu angkatan yang bengkok, anak-anak yang tidak mempunyai kesetiaan. 'Tidak mempunyai kesetiaan (kurang percaya/no faithfulness) dan bengkok (sesat/perverse),' itu dia. Mereka adalah 'umat Israel', umat yang merupakan anak-anak-Nya. Perhatikan bahwa di dalam Ulangan 32:5 disebutkan bahwa mereka adalah anak-anak-Nya. Akan tetapi mereka tidak lagi menjadi anak-anak-Nya jika mereka 'tidak setia dan sesat'. Israel dan kita yang dilahirkan oleh Gunung Batu, yakni Allah, harus ikut memiliki kuasa-Nya Melalui imanlah, sebagaimana yang dikatakan oleh Yohanes kepada kita di dalam Yohanes 1:12, bahwa kita diberi hak untuk menjadi anak-anak Allah. Ayat ini, secara eksegesis, sangatlah menarik karena Anda melihat hubungannya di dalam Matius 16:18 mengenai batu karang, dan sekarang kita akan lihat perbandingan ini dengan umat Israel yang tidak setia kepada Gunung Batu itu. Malahan, di dalam perikop yang sama juga, jika kita cermati tentang Gunung Batu ini, maka kita bisa lihat bahwa di dalam Ulangan 32:18-19 dikatakan bahwa mereka lahir dari Gunung Batu itu, Gunung Batu itu yang memperanakkan mereka sehingga mereka seharusnya membawa ciri yang sama dengan ciri ilahi dari Allah jika mereka memang benar-benar anak-anak Allah. Namun malah sebaliknya, mereka justru bengkok dan tidak setia. Nah, perkataan itu dengan tegas ditujukan kepada umat Israel pada zaman Yesus. Namun selama para murid itu sendiri tidak setia dan tidak melangkah di jalan Allah, 'sesat atau bengkok' itu berarti tidak melangkah di jalan Allah atau melangkah di jalan Anda sendiri, maka mereka tidak akan memiliki kuasa untuk mengusir setan. Siapakah yang akan membebaskan umat manusia dari kuasa si jahat dan kuasa dosa? Nah, pengamatan yang kedua yang bisa kita lakukan di sini, dan yang mengejutkan hati saya, adalah perkataan Yesus di dalam kalimat berikutnya, "Berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu?" Apa yang disampaikan oleh perkataan itu kepada Anda? "Berapa lama lagi?" Apakah implikasi dari pernyataan ini? Apakah makna pernyataan itu bagi kita? Apa arti perkataan Yesus, "Berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu?" Apakah maksud dari pernyataan itu? Maksud dari perkataan itu tentunya cukup jelas bagi kita. Maksudnya adalah: "Kalian bergantung pada-Ku untuk mengerjakan hal ini, untuk membebaskanmu dari kuasa si jahat, untuk mengusir setan ini. Kamu bergantung pada-Ku untuk melakukannya. Apa yang akan terjadi kalau Aku sudah tidak ada di sini lagi? Siapa yang akan melakukannya? Kalau kamu bergantung kepada-Ku untuk mengerjakannya, padahal Aku sedang pergi kepada salib, dan Aku akan pergi, lalu siapa yang akan mengerjakannya? Siapa yang akan bekerja untuk pembebasan umat manusia? Aku tidak akan terus bersamamu. Berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu?" Lebih jauh lagi, implikasi lainnya adalah bahwa jika para murid tidak mengerjakan pembebasan itu ketika Yesus sudah pergi, berarti tidak ada orang yang mengerjakan pembebasan itu. Jika kita tidak mampu bekerja untuk pembebasan umat manusia, untuk membebaskan umat manusia dari kuasa si jahat dan dosa, lalu siapa yang akan mengerjakannya? Siapa yang akan mengerjakannya di zaman sekarang ini? Kepada siapakah Yesus mempercayakan pekerjaan untuk menjadi garam dan terang dunia? Siapakah yang akan bekerja untuk pembebasan umat manusia? Di dalam terang realitas inilah keegoisan sebagian besar orang Kristen menjadi semakin tak terbayangkan, tak terpahami. Bahwa kita puas dengan hanya berusaha menyelamatkan diri kita sendiri tanpa menyadari bahwa orang yang berusaha menyelamatkan nyawanya justru akan kehilangan nyawanya. Realitas itu, saya pikir, tentunya berlaku juga kepada orang-orang Kristen, bukankah begitu? "Tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya demi Aku dan demi Kerajaan, maka ia akan memperolehnya sampai kepada hidup yang kekal." Kita mengira bahwa firman itu tertuju kepada orang non-Kristen. Prinsip ini adalah prinsip yang kekal. Jika Anda hanya peduli dengan keselamatan Anda, hanya menyelamatkan nyawa Anda saja, waspadalah supaya jangan sampai nanti di dalam prosesnya, di dalam keegoisan yang hanya ingin menyelamatkan diri Anda sendiri saja, baik itu secara jasmani ataupun secara rohani, maka Anda justru akan kehilangan hal yang Anda kejar itu di dalam prosesnya. Namun di tengah proses menjalani hidup demi orang lain, di tengah proses untuk bekerja bagi pembebasan umat manusia, di tengah proses kehilangan nyawa Anda demi Kristus dan Kerajaan, maka Anda justru memperolehnya di dalam proses itu. Anda lihat, Yesus tidak akan mengijinkan adanya keegoisan bahkan di tingkat kekristenan, bahkan di tingkat pengakuan iman. Apakah dengan menjadi egois secara rohani - yakni hanya mementingkan keselamatan sendiri - maka kita menjadi lebih rohani? Apakah hal itu lebih baik daripada jenis keegoisan yang mengejar kesejahteraan jasmani? Di mana letak perbedaan antara kedua jenis keegoisan itu jika, di dalam keduanya, Anda menjalani hidup ini hanya untuk diri Anda sendiri, bersyukur karena diri Anda diselamatkan, merasa superior terhadap orang-orang berdosa, orang-orang yang memprihatinkan yang berkeliaran di jalanan? Cara berpikir semacam ini tidak bisa ditoleransi oleh Yesus. Benar-benar tidak bisa diterima! Mari kita camkan hal ini. Kita harus belajar dengan benar, di sini Anda bisa melihat mengapa Yesus memanggil kita untuk memikul salib karena memikul salib itu berarti - secara tak terhindarkan - Anda tidak bisa lagi hidup untuk diri Anda sendiri saja. Untuk apakah Kristus pergi ke kayu salib? Untuk menyelamatkan diri-Nya sendiri? Jelas bukan. Dan untuk apakah kita pergi ke kayu salib? Untuk menyelamatkan diri kita dari salib? Kita ingin menyelamatkan diri kita dari kayu salib bukannya menyelamatkan diri kita di kayu salib! Akan tetapi Yesus justru memanggil kita untuk mengerjakan apa yang telah Dia kerjakan. Seperti yang dikatakan oleh Petrus, Dia telah meninggalkan jejak untuk kita ikuti. Nah, apa jejak-Nya itu? Jejak-Nya adalah menyerahkan nyawa-Nya bagi umat manusia. Dan jika kita memiliki 'pikiran Kristus' seperti yang dibicarakan oleh Paulus, maka tentunya kita akan berpikiran sama. Apakah 'pikiran Kristus' itu berarti menyelamatkan diri kita sendiri? Untuk menyelamatkan roh saya sendiri? Kekristenan yang kita miliki sekarang ini penuh dengan orang-orang yang egoisnya tak terbayangkan, yang mengira bahwa mereka itu lebih superior karena telah terjamin tempat bagi mereka di surga. Sungguh memuakkan! Saya tidak berminat untuk menjadi bagian dari kekristenan yang semacam ini, kekristenan yang egois tetapi memakai 'topeng religius' untuk menutupi keegoisannya. Sungguh memuakkan! Saya rasa sebagian orang, dan saya yakin banyak dari Anda, pernah bertemu dengan orang-orang Kristen jenis ini yang menyombongkan diri mereka sebagai orang-orang yang terpilih. Dan ada sebagian kecil orang yang bahkan lebih sombong lagi, lebih bangga, mereka mengaku sebagai 'umat Allah' di tengah angkatan ini. Izinkan saya mengingatkan lagi kepada Anda tentang perkataan dari Yesus, "Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya (kata nyawa atau hidup ini bebas untuk Anda artikan), ia akan kehilangan nyawanya." Mari kita camkan baik-baik perkataan ini. Jalan menuju kuasa adalah jalan salib, jalan kasih yang memberi diri Akan tetapi, jika kita ingin jalani hidup ini demi kesejahteraan dan penebusan umat manusia, maka kita memerlukan kuasa. Bagaimana mungkin kita bisa berfungsi sekarang ini jika kita tidak memiliki kuasa? Apakah Anda memiliki kunci untuk menuju kuasa? Tahukah Anda dari mana kuasa itu berasal? Tahukah Anda bagaimana bekerja dengan kuasa rohani? Ada berapa banyak orang yang memiliki kuasa yang Anda kenal di zaman sekarang ini? Yah, tampaknya ada orang yang mengambil kunci menuju kuasa itu lalu membuangnya jauh-jauh. Tampaknya kita tidak tahu bagaimana mencapai kuasa itu. Jalan menuju kuasa itu sebenarnya sangatlah sederhana namun sukar untuk dipraktekkan. Kesukarannya bukan di dalam hal pemahamannya. Kesukarannya terletak pada pelaksanaannya. Apakah jalan menuju kuasa itu? Nah, saya sudah memberikan indikasinya kepada Anda. Yesus diselimuti oleh kemuliaan Allah, kuasa Allah, karena di dalam Kitab Suci, kemuliaan dan kuasa itu berjalan beriringan. Anda tidak bisa memisahkan keduanya. Seorang Kristen yang tidak memiliki kuasa adalah seorang Kristen yang tidak memiliki kemuliaan. Seorang Kristen yang bisa menunjukkan kemuliaan Allah adalah seorang Kristen yang memiliki kuasa Allah. Anda tidak akan memiliki terang tanpa adanya kuasa. Kuasa itulah yang memberikan kemuliaan dan terang. Kita melihat Yesus, di atas gunung itu, menunjukkan kemuliaan ilahi, kuasa ilahi. Ketika Dia turun, dia hanya sekali berbicara dan anak itu sudah dibebaskan. Tampaknya gampang sekali. Di dalam catatan Markus, yakni Markus pasal 9, kita diberi tahu bahwa ketika roh itu menggoncang-goncangkan anak itu, anak tersebut kelihatannya terkapar mati, dan orang-orang berkata, "Ia sudah mati!" Yesus berkata, "Bangunlah dan berjalanlah." Lalu anak itu berdiri. Satu ucapan yang tenang. Perkataan yang berisi kuasa! Anak itu bangkit. Kuasa! Kuasa tidak ditentukan oleh seberapa keras suara Anda. Kuasa adalah energi Allah yang memulihkan, energi yang memberi hidup yang bekerja melalui Anda. Di sinilah kekurangan kita. Lalu bagaimana kuasa itu bisa dimiliki? Kuasa itu dimiliki Yesus karena Yesus pergi menuju jalan salib. Jalan menuju kuasa adalah jalan salib. Memikul salib berarti menjalani hidup yang berisi kasih yang memberi diri Alasan mengapa kita sangat kekurangan kuasa di zaman sekarang ini adalah karena begitu sedikitnya orang yang mau melangkah di jalan salib. Jika kekristenan yang Anda miliki adalah jenis yang berupa candu rohani yang hanya untuk memberi perasaan lega, yah, bagaimana Anda bisa memiliki kuasa? Pernahkah Anda melihat pecandu obat bius yang memiliki kuasa? Pernahkah Anda melihat mereka tampak bersemangat dan kuat? Nah, kita semua tahu gambaran pecandu narkoba, wajah yang kuyu, lemah tanpa kuasa. Mereka tidak punya tenaga. Obat bius tidak memberi Anda tenaga. Jika Anda memperlakukan kekristenan sebagai obat bius, maka Anda akan menjadi semakin lemah dan lemah. Menjelang petang, sulit dipastikan berapa lama lagi Anda bisa bertahan. Ini bukanlah jalan dari kekuatan menuju kekuatan. Tidak. Jalan salib adalah jalan menuju kuasa. Apakah yang dimaksudkan dengan jalan salib itu? Ini adalah jalan kasih yang memberi diri. Itulah artinya. Kita dipanggil untuk memikul salib berarti kita dipanggil untuk hidup dalam kasih yang memberi diri. Dan satu hal yang tidak akan mau kita serahkan justru adalah diri ini, dan akibatnya kita jadi tidak memiliki kuasa. Sangat mudah untuk dipahami akan tetapi sangat sukar untuk dipraktekkan. Di sanalah letak persoalannya. Sangatlah mudah untuk memiliki iman dari jenis yang gampangan. Sangatlah sukar untuk memiliki iman dari jenis yang dibicarakan oleh Yesus. Saya telah melatih iman dalam berbagai jalan sebagaimana yang telah saya saksikan kepada sebagian besar dari Anda. Saya pernah melatih iman pada saat harus mempercayai Allah untuk kebutuhan makan saya. Selama bertahun-tahun, di sepanjang masa kuliah saya di Inggris, saya mempercayakan sepenuhnya kepada Allah atas segala kebutuhan saya, tanpa mengandalkan manusia manapun, tanpa mengharapkan dari siapapun. Saya memiliki iman semacam ini yang, dengan kasih karunia Allah, bisa saya saksikan kepada Anda, saya memiliki iman yang seperti ini. Saya juga memiliki iman yang, atas anugerah Allah, membawa kesembuhan bagi orang lain, walaupun saya bukanlah penyembuh iman. Saya telah melihat orang sakit yang disembuhkan, pendarahan otak disembuhkan, kanker disembuhkan, semua hal itu bukan sekadar kabar berita saja bagi saya. Allah berkenan melakukan semua itu melalui saya walau hanya dalam tingkatan sedikit saja. Untuk memiliki iman yang semacam ini, bagi saya tampaknya sangat mudah. Mengapa? Karena hal ini tidak melibatkan apa yang disebut dengan hal memberi diri. Anda bisa memiliki iman yang seperti itu sampai pada tataran yang tinggi. Saya mendapati bahwa jauh lebih sukar, di dalam pengalaman saya, dan kadang kala saya sampai harus mengakui kegagalan, kekurangan dan kelemahan saya, adalah ketika masuk ke dalam hal mengasihi orang lain sama seperti Kristus mengasihi mereka. Untuk saling mengasihi dan siap untuk mengorbankan nyawa. Di titik ini saya mengaku di hadapan Allah bahwa seringkali saya tidak berlaku sebagaimana mestinya. Dan di titik ini saya tidak akan membual tentang kekuatan saya melainkan saya mengakui kelemahan saya. Saya harus melanjutkan, kita semua, melangkah maju di jalan kehidupan yang memberi diri, mengorbankan nyawa bagi orang lain karena itulah jalan menuju hidup, itulah jalan menuju kuasa - hidup ini bukan sekadar untuk diri sendiri melainkan bagi orang lain. Allah tidak mempercayakan kuasa-Nya kepada orang-orang yang tidak mengasihi Dapatkah Anda mempraktekkan kasih dari jenis yang memberi diri ini? Untuk itulah para murid ini dipanggil, akan tetapi sampai pada tahap itu, mereka masih belum mempraktekkan kasih yang memberi diri ini, mereka mendapati bahwa mereka masih belum memiliki kuasa. Allah tidak mempercayakan kuasa-Nya kepada orang yang tidak mengasihi. Terlalu berbahaya mempercayakan kuasa kepada orang-orang yang tidak mengasihi. Apa yang akan mereka kerjakan dengan kuasa itu? Bayangkanlah jika Anda berkata kepada sebuah gunung, "Berpindahlah," lalu gunung itu pindah! Oh! Lihat itu! Saya hebat! Saya hampir sama dengan Yang Mahakuasa! Atau setidaknya, saya pastilah hamba yang paling disukai oleh Allah sehingga saya sampai bisa menyuruh gunung untuk berpindah dan memang ia pindah! Anda lihat, hanya jika Anda memiliki kasih yang memberi diri baru Anda bisa memiliki kerendahan hati yang memadai untuk berurusan dengan kuasa yang seperti itu. Hanya dengan cara itu baru Anda bisa memakai kuasa ini dengan benar, bukan untuk kepentingan pribadi Anda yang egois. Saya telah bertemu dengan banyak penyembuh iman (faith healers) di zaman sekarang ini. Saya tidak kagum kepada para penyembuh iman ini sebagaimana orang lain mengagumi mereka, mungkin karena - seperti yang telah saya katakan sebelumnya - Allah juga memakai saya di dalam bidang kesembuhan itu walau dalam takaran yang sedikit saja. Dan saya tahu bahwa tidak dibutuhkan iman yang besar untuk bisa mengerjakan hal-hal semacam itu. Tidak diperlukan iman yang besar. Namun lihatlah apa yang terjadi. Begitu mereka mulai menyembuhkan orang-orang dan sebagainya, hal yang terjadi selanjutnya adalah mulai mengalirnya sumbangan kepada mereka, dan mereka lalu membangun monumen buat diri mereka sendiri. Tiba-tiba saja, mereka membangun universitas dengan memakai nama mereka, mereka membangun organisasi ini dan itu dengan menggunakan nama mereka. Anda tentunya beranggapan bahwa seharusnya orang-orang ini merendahkan dengan memakai nama-nama yang memuliakan Allah atas hal-hal yang mereka bangun, namun mereka tidak ragu memakai nama mereka pribadi untuk universitas dan kampus-kampus yang mereka bangun. Sungguh menyedihkan hati saya! Sungguh menyesakkan saya! Seperti yang Yesus katakan, "Kalau ada orang yang datang dengan meninggikan dirinya sendiri, kamu menerima dia. Namun karena Aku tidak datang dengan meninggikan diri-Ku, Aku datang di dalam nama Bapa-Ku, lalu kamu tidak menerima-Ku." Karena satu-satunya jenis orang yang menerima Dia adalah jenis orang yang sudah memiliki keterbukaan terhadap kasih Allah, yang tidak memuliakan dirinya sendiri, melainkan yang membiarkan Allah menyatakan kuasa-Nya. Dibutuhkan iman yang luar bisa besarnya untuk mengasihi, untuk memberi diri Anda, untuk kehilangan nyawa Anda Nah, mari kita camkan pokok yang sangat penting ini, bahwa hal ini mudah untuk dipahami akan tetapi sangat sukar untuk dijalankan. Maukah Anda melangkah di jalan kuasa? Maukah Anda? Maka cobalah melangkah di jalan kasih. Saya beritahu Anda, dibutuhkan iman yang luar biasa besarnya untuk bisa mengasihi. Di sanalah poinnya. Jika Anda memiliki kasih, maka Anda akan bisa memindahkan gunung. Anda tidak memiliki iman karena Anda tidak memiliki kasih. Mengapa? Karena memang dibutuhkan iman yang luar biasa besarnya untuk bisa mengasihi. Anda tidak bisa mengasihi tanpa iman, saya beritahu dengan sejujurnya kepada Anda. Anda tidak bisa mengerjakannya karena kasih itu memberikan dirinya. Siapakah yang mau kehilangan dirinya di dalam proses ini? Yesus berkata, "Barangsiapa kehilangan nyawanya, maka ia akan memperolehnya." Tidak ada bukti yang bisa langsung dilihat untuk memastikan bahwa Anda akan memperolehnya. Jadi, Anda harus kehilangan nyawa Anda tanpa bisa memastikan apakah Anda akan memperolehnya atau tidak. Itulah iman. Bagaimana Anda bisa tahu bahwa Anda akan memperolehanya? Bagaimana Anda bisa tahu? Anda mungkin saja kehilangan nyawa. Saya memberitakan Injil dan lihatlah, saya kehilangan hidup saya menurut ukuran karir duniawi. Saya telah kehilangan hidup saya dalam hal-hal yang berkaitan dengan kesejahteraan duniawi yang bisa saja saya capai jika saya bertahan di jalur profesi sekuler. Dan nantinya, mungkin saja, saya akan kehilangan nyawa saya dalam arti kehilangan kehidupan jasmani ini, dibunuh karena nama Kristus. Lagi pula, sudah ada satu dua orang yang pernah mencoba melakukan hal itu kepada saya, jadi peluang saya untuk mengalami hal yang satu ini cukup besar. Di sini, saya mengatakan bahwa untuk mengasihi itu dibutuhkan iman yang sangat besar. Lalu mengapa saya perlu melakukannya? Mengapa saya harus menyampaikan kebenaran dan membuat orang lain membenci saya? Mengapa saya melakukan hal ini? Apa untungnya buat saya? Tidak ada keuntungan material sama sekali buat saya. Jadi, jika saya tidak memiliki iman bahwa dalam proses kehilangan nyawa ini, di dalam hal kehilangan kesejahteraan duniawi ini, bahkan di dalam kemungkinan untuk kehilangan reputasi ini - karena orang-orang akan menindas dan memfitnah Anda, seperti yang sudah dinyatakan oleh Yesus - nantinya saya akan memperoleh hidup yang kekal. Namun jaminan apakah yang saya miliki bahwa ketika saya sudah kehilangan segala-galanya, dan sudah kehilangan nyawa saya di dalam proses ini, saya akan memiliki hidup yang kekal itu? Mempercayai tanpa melibatkan pengorbanan bukanlah kekristenan yang alkitabiah Ah! Sangatlah mudah untuk percaya tanpa mengorbankan apapun, bukankah demikian? Saat si penginjil sekadar berkata, "Siapa yang mau mengacungkan tangannya, silakan maju ke depan," dan ketika Anda maju ke depan, Anda menandatangani formulir, setelah Anda membubuhkan tanda tangan Anda, "Haleluyah! Anda telah diselamatkan!" Nah, Anda sudah mengorbankan apa? Tak ada! Tak ada sama sekali. Maksud saya, jika Anda tidak mengeluarkan ongkos apa-apa, lalu ada orang yang memberi Anda kupon lotere berhadiah sejuta dolar, maka jika Anda tidak memenangkan lotere itu, tidak ada masalah apa-apa karena Anda tidak keluar biaya apa-apa, dan Anda memiliki peluang untuk memenangkan sejuta dolar. Anda tidak membayar sedikitpun atas kupon lotere itu, jadi apa susahnya? Jika Anda menawarkan saya kupon lotere, saya akan berkata, "Baiklah." Saya tidak perlu keluar uang dan saya punya peluang untuk memenangkan sejuta dolar. Jika saya tidak menang, maka saya juga tidak rugi apa-apa. Jadi, apapun hasilnya, bagi saya tidak ada masalahnya. Demikianlah, menjadi seorang Kristen sekarang ini lalu dipandang sebagai hal mendapatkan jaminan, semacam asuransi jiwa di dunia ini, namun yang ini adalah 'asuransi hidup kekal'! Dan saya mendapatkan asuransi ini tanpa harus membayar apa-apa. Maksud saya, kalau saya harus membayar $200 per bulan, maka saya akan menghitung-hitung lagi, namun karena saya mendapatkan asuransi ini secara gratis, maka saya senang saja menerimanya. Bagus sekali, saya tidak keberatan akan hal ini karena kalau asuransi ini ternyata tidak berlaku, saya masih tidak rugi apa-apa. Saya toh akan mati juga. Namun jika asuransi ini berlaku, haleluyah! Saya mendapat hidup kekal! Kekristenan macam apakah ini? Saya tidak menemukannya di dalam Alkitab. Mereka mungkin membaca Alkitab yang berbeda dengan yang saya baca. Saya tidak tahu dari mana mereka mendapatkan kekristenan yang semacam ini. Sangatlah mudah untuk mengutip ayat-ayat Kitab Suci keluar dari konteksnya dan berkata, "Lihat, itulah maksudnya." Lalu bagaimana dengan ayat-ayat yang lainnya? Apakah tidak perlu dikutip juga? Jelas tidak. Itulah sebabnya mengapa di tengah generasi itu tak ada yang mau mendengarkan Yesus, karena ajaran Yesus membuat urusan jadi susah - harus memikul salib dan sebagainya. Jadi, mari kita cari ayat lain di dalam tulisan Paulus dan urusannya pasti lebih gampang. Kita ini hanya menipu diri kita sendiri, saudara-saudari. Kita tidak akan bisa menghindar dengan cara ini. Tidak bisa. Pokok dari perikop ini: jika Anda memiliki iman untuk mengasihi, maka Anda akan memiliki iman untuk memindahkan gunung Saya tekankan sekali lagi, dibutuhkan iman yang besar untuk mengasihi karena panggilannya memang untuk menjalani hidup yang mengasihi, panggilan yang diberikan oleh Yesus - satu perintah, dan memang hanya satu perintah saja - "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu." Itulah perintah-Nya, dan kita tidak akan berhasil dengan tidak menaati-Nya. Sebagaimana yang kita ketahui dari Ibrani 5:9, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya. Iman diungkapkan melalui ketaatan dan ketaatan dinyatakan justru dengan mentaati perintah untuk mengasihi. Izinkan saya untuk menyampaikannya berulang-ulang, mengasihi membutuhkan iman yang luar biasa besarnya. Dibutuhkan iman yang luar biasa besarnya. Dan jika Anda memiliki iman untuk mengasihi, maka Anda akan memiliki iman untuk memindahkan gunung. Itulah pokok dari perikop ini. Karena semua ajaran Yesus ini saling berkaitan antara yang satu dengan lainnya. Berapa banyak orang Kristen di gereja zaman sekarang ini mengasihi sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah? Jika Anda bisa menghitungnya dengan jari-jari di satu tangan Anda, itu saja sudah cukup bagus. Ada berapa banyak orang yang memiliki kuasa di zaman sekarang ini? Jumlahnya pasti sama saja, karena Anda tidak bisa memiliki yang satu tanpa memiliki yang lainnya. Kiranya Allah memampukan kita, dengan kasih karunia-Nya, untuk bisa memiliki kasih dan iman! Dan jika Anda telah melaksanakannya, jika Anda melangkah maju di dalam jalan kasih, maka Anda akan mengalami kuasa-Nya. 1 Korintus 13 memberitahu kita jalan kasih adalah jalan untuk memperoleh karunia-karunia kuasa untuk melayani di tengah jemaat Allah Saya akan menutup dengan mengutipkan buat Anda ucapan Paulus sendiri, sekiranya Anda mengira bahwa saya sedang menyampaikan pendapat saya sendiri. 1 Korintus 12:31 menyatakan hal ini. Di sini, Paulus, setelah membahas tentang berbagai macam karunia dari kuasa - mari kita baca dari ayat 28 untuk bisa mendapatkan seluruh konteksnya. 1 Korintus 12:28-31 Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mukjizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. Adakah mereka semua rasul, atau nabi (apakah Anda semua menyampaikan Firman Allah dengan kuasa?), atau pengajar (dapatkah Anda menguraikan Firman Allah dalam kejernihan?)? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mukjizat (apakah Anda memiliki kuasa untuk mengerjakan mukjizat?), atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh? (pertanyaan yang berbentuk retorika menunjukkan bahwa semua pertanyaan itu jawabannya adalah 'tidak'. Akan tetapi bagaimana supaya kita bisa mendapatkan semua karunia ini? Ayat 31) Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama (Dia berkata bahwa Anda harus menghasratkan karunia-karunia itu. Mengapa? Supaya Anda bisa melayani orang lain di tengah jemaat Allah, bukannya supaya Anda bisa berkata, "Lihat betapa besar kuasa saya!" Lalu bagaimana supaya kita bisa memperoleh karunia-karunia itu? Perkataan yang terakhir, akan aku tunjukkan bagaimana caranya). Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi. Bentuk kalimat yang berisi perbandingan seperti ini di dalam bahasa Yunani selalu dipakai untuk membuat perbandingan yang superlatif (yang satu lebih besar dari pada yang lain). Seperti yang telah Anda ketahui, bahasa Yunani tidak memiliki bentuk superlatif. Bentuk komparatif (perbandingannya) menyatakan, "Aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang paling utama, yang terbaik." Jalan untuk apa? Jalan untuk menuju karunia yang khusus ini: kuasa dari Tuhan untuk mengerjakan pekerjaan-Nya. Apakah jalannya? Jalannya adalah jalur kasih. Di sanalah awal dari pembahasan dari 1 Korintus 13. Dan kita seringkali membaca 1 Korintus 13 dalam acara-acara pernikahan namun agak keluar dari konteksnya. Konteks dari 1 Korintus 13 berkaitan dengan kuasa rohani di dalam lingkungan jemaat, kuasa yang digunakan untuk memberi berkat dan keuntungan bagi orang lain. Apakah jalan menuju kuasa? Apakah jalan yang sempurna, jalan yang utama ini? Itulah jalan kasih. Melangkahlah Anda di jalan itu, kata rasul Paulus, dan Anda akan menerima karunia-karunia kuasa dipercayakan kepada Anda. Dan di pasal 14:1 dia melanjutkan dengan berkata, "Kejarlah kasih itu." Demikianlah, sangat mudah untuk memahami jalan menuju kuasa, sangat mudah untuk dipahami. Kiranya Allah memberi kita kasih karunia-Nya untuk membantu kita di dalam kelemahan kita supaya kita memiliki iman untuk mengasihi karena bukan hanya kuasa yang bergantung pada kasih itu, tetapi juga hidup ini. Nah, saya belum sampai pada gunung apa yang akan digeser. Sangat mendalam kekayaan makna yang menyangkut tentang hal gunung ini dan saya akan menguraikannya lain waktu nanti kepada Anda tentang isi perkataan Yesus yang sangat indah saat Dia berbicara tentang perkara memindahkan gunung, karena - bagaimanapun juga - siapa yang perlu memindahkan gunung-gunung? Saat Yesus berbicara tentang yang memindahkan gunung, tentu saja Dia sedang berbicara tentang kuasa-kuasa besar yang dilambangkan dengan gunung. Namun kita perlu perhatikan kata, "Kamu dapat berkata kepada gunung ini." Kita tidak boleh berkata bahwa kita berkuasa untuk memindahkan gunung-gunung, melainkan 'gunung ini'. Dan kita perlu meneliti maksud perkataan-Nya melalui firman-Nya yang kaya makna ini. Kiranya Allah memberi kita iman yang besar untuk mengasihi ini Namun hari ini, mari kita cukupkan dengan satu hal saja, karena gunung dalam pengertian apapun tidak menjadi relevan bagi kita jika kita tidak tahu bahwa untuk memindahkan gunung itu dibutuhkan iman yang besar karena dibutuhkan iman yang terbesar untuk mengasihi. Kiranya Allah memberi kita kasih karunia untuk memiliki iman ini. Mari kita berdoa. SELESAI |
Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.
Seri Matius: - Mat 14:22-33 Iman membutuhkan Keberanian - Mat 3:13-17 Penundukan kepada Allah, Kegenapan segala Kebenaran - Mat 2:1-12 Tiga Prinsip Damai Sejahtera - Mat 3:13-4:17 Visi Kerajaan Allah 1 - Mat 3:13-4:17 Visi Kerajaan Allah 2 - Perlakukan Orang Lain Sebagaimana Anda Ingin Diperlakukan Oleh Mereka - Masuk Melalui Jalan yang Sempit - Waspadalah Terhadap Nabi-Nabi Palsu - Berdoalah Kepada Tuan Empunya Tuaian - Domba di Tengah-Tengah Serigala - Aku Datang Bukan Untuk Membawa Damai - Di Manakah Letaknya Kebesaran Yohanes Pembaptis? - Kerajaan Surga Datang dengan Kuasa - Apa Makna Memikul Salib dalam Kehidupan Sehari-hari? - Apakah Anda termasuk Bintang atau Lubang Hitam? - Kristus Menang Atas Iblis yang Belum Menyerah! - Apakah Anda bersama dengan Kristus atau hanya Berpihak pada-Nya? - Apakah Anda Mengumpulkan Bersama Yesus? - bagian 1 - Apakah Anda Mengumpulkan Bersama Yesus? - bagian 2 - Dosa yang Tidak Dapat Diampuni - Apakah Anda Bait Allah atau Rumah Belial? - Rahasia menjadi 'Lima Roti dan Dua Ikan'? - Apa Rahasia Keunggulan Spiritual? - Manusia Telah Menjadikan Firman Allah Tidak Berlaku - 1 - Manusia Telah Menjadikan Firman Allah Tidak Berlaku - 2 - Ciri Iman yang Besar di Mata Allah - 1 - Ciri Iman yang Besar di Mata Allah - 2 - Tanda-Tanda Zaman - Bagian 1 - Tanda-Tanda Zaman - Bagian 2 - Bagaimana Salib Menjadi Batu Sandungan - Apakah Gereja dibangun di atas Petrus? - Si Aku - Hambatan Menuju Kebesaran Rohani - Jalan Menuju Kuasa dan Kemuliaan - Iman yang Memindahkan Gunung - Bagian 1 - Iman yang Memindahkan Gunung - Bagian 2 - Berpalinglah dan Menjadi Seperti Anak Kecil - Bagian 1 - Berpalinglah dan Menjadi Seperti Anak Kecil - Bagian 2 - Berpalinglah dan Menjadi Seperti Anak Kecil - Bagian 3 - Celakalah Orang yang Membuat Orang Lain Tersandung - Bagian 1 - Celakalah Orang yang Membuat Orang Lain Tersandung - Bagian 2 - Celakalah Orang yang Membuat Orang Lain Tersandung - Bagian 3 - Apa yang Kita Ketahui Tentang Malaikat? - Bagian 1 - Apa yang Kita Ketahui Tentang Malaikat? - Bagian 2 - Persahabatan yang diinginkan Allah - Kerajaan Allah itu Milik Anak-Anak Kecil - Apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? - Sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga - "Pergi, juallah segala hartamu, dan datanglah serta ikutlah Aku" - Apa yang dimaksudkan dari yang pertama menjadi yang terakhir? - Jalan untuk menjadi yang terutama - Imanmu Telah Menyelamatkan Engkau - Komitmen untuk mengasihi kebenaran - Kemunafikan: Ragi orang Farisi - Tujuh gejala kanker rohani - 1 - Tujuh gejala kanker rohani - 2 - Kristus sebagai Tuan - Obat penawar bagi kemunafikan - Apa artinya menjadi Anak Allah? Apa arti menjadi murid Yesus? - Neraka menurut ajaran Tuhan Yesus - Anda bisa berkata tidak kepada Allah - Tanda-tanda kedatangan Kristus - Siapakah Raja Anda, Allah atau Iblis? - Tujuan dari Anti Kristus: Menyesatkan gereja - Apakah kita termasuk burung nazar atau burung elang? - Bagaimana menjadi anak-anak Terang |
|||||
|
Copyright 2003-2012. Semua materi di situs ini
adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries. |
|||||||