|
| Saran & Komentar | updated on 15 May 2012 |
|||||||
|
CahayaPengharapanMinistries Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan |
|||||||
|
|
|||||||
|
Celakalah Orang yang Membuat Orang Lain Tersandung - Bagian 3 Matius 18:5-9 (Akan tetapi terdapat juga batu sandungan yang baik. Disambung dari Celakalah orang yang membuat orang lain tersandung - Bagian 2) Namun ada juga batu sandungan yang bagus seperti Yesus: menghentikan orang melangkah menuju kebinasaan Namun apakah ini berarti bahwa kita tak pernah boleh menyinggung hati seorang Kristen, kita tak pernah boleh melukai perasaannya? Tidak sama sekali. Kita harus mengerti bahwa ada dua macam batu sandungan, yaitu yang baik dan yang buruk. Apa maksudnya itu? Kita sudah melihat Petrus yang menjadi batu sandungan bagi kemajuan rohani Yesus; bagi kemajuan rohani Yesus dalam menyelesaikan karya keselamatan. Ini batu sandungan yang buruk. Akan tetapi ada batu sandungan yang bagus. Yakni batu sandungan yang mencegah orang dari melangkah menuju kebinasaan. Yesus sendiri adalah batu sandungan. Dia berusaha mencegah orang-orang tersandung. Anda bisa melihat di dalam Roma 9:33 tentang Yesus yang menjadi batu sandungan itu sendiri. Roma 9:33 ini seringkali disalah-artikan. Di sini, Yesus dijadikan sebagai hambatan bagi mereka yang berusaha melangkah di jalan yang menuju kebinasaan, yang melangkah menuju maut. Paulus berkata di dalam Roma 9:33, "Seperti ada tertulis: Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan." Sungguh ayat yang indah. Yesus sendiri adalah batu sandungan bagi orang yang tidak percaya, bukan dengan tujuan untuk menghancurkan mereka karena Yesus datang bukan untuk menghakimi melainkan untuk menyelamatkan. Dia datang dengan tujuan menghalangi Anda melangkah di jalan kebinasaan. Sekarang ini Anda mungkin sedang meluncur di sana sebagai seorang non-Kristen, bahkan tanpa menyadari hal itu, Anda sedang meluncur di jalan besar kebinasaan ini, meluncur menuju api yang kekal. Salib Kristus menghalangi jalan menuju neraka. Seperti yang sering saya katakan, salib Kristus menghalangi jalan menuju neraka. Dia berdiri di depan gerbang neraka, sehingga setiap orang yang ingin masuk ke neraka harus melewati tangan-Nya yang terentang, yang menghalangi langkah Anda menuju neraka itu. Anda harus memaksakan diri Anda untuk melewati lengan Kristus yang terentang dan yang tertembus oleh paku itu untuk bisa masuk ke dalam neraka. Dia adalah batu sandungan dan barangsiapa yang percaya kepada-Nya tidak akan dipermalukan, ayat ini berkata demikian. Dalam pengertian ini, jika kita melihat seorang saudara yang sedang melangkah menuju kebinasaan, jika dia sedang melangkah menuju dosa, maka tentu saja kita harus menghalanginya, kita harus menghentikannya. Kita harus merayu dia untuk tidak terus melangkah di jalan yang membinasakan diri sendiri ini. Di dalam pengertian ini, Yesus sama sekali tidak takut untuk menyinggung hati orang-orang Farisi. Kita dapati bahwa Dia sendiri di dalam Matius 15:12 adalah Batu Sandungan, menurut ayat itu, kepada orang-orang Farisi. Matius 15:12 berbunyi seperti ini: "Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: 'Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi?'" Kata 'telah menjadi batu sandungan (offended = tersinggung, menyinggung, menyakiti)' berasal dari kata Yunani yang persis sama dengan kata 'stumble (menjatuhkan, menyesatkan, menjadi sandungan).' "Tahukah Engkau bahwa orang-orang Farisi telah tersandung oleh perkataan-Mu?" Ini adalah pokok yang sangat penting untuk dipahami. Itulah sebabnya mengapa saya berkata bahwa ada batu sandungan yang benar dan ada juga batu sandungan yang salah. Jenis yang salah adalah yang membuat seorang manusia rohani jatuh ke dalam dosa dan murtad dari Kristus. Jenis batu sandungan yang benar adalah adalah yang mencegah dia dari berbuat dosa, menyatakan kebenaran di dalam kasih dan dengan penuh kasih menganjurkan dia untuk tidak melanjutkan langkahnya di jalan kebinasaan. Dari semua ini kita bisa melihat apa yang Yesus sampaikan di sini. Apakah yang disampaikan oleh Yesus di sini? Yakni setiap kali Anda menyinggung hati seorang saudara seiman maka Anda harus terjun ke laut? Bukan sama sekali. Anda mungkin saja perlu untuk menyinggung hati saudara seiman. Dia mungkin perlu untuk mendengarkan kebenaran. Akan tetapi jika Anda menyinggung hatinya dan mengakibatkan dia tersandung sehingga dia mengalami keruntuhan rohani, maka beban tanggung jawab Anda akan besar sekali. Anda telah menyentuh biji mata Allah dan Anda akan mengalami penghakiman-Nya yang keras. Jadi, mulai sekarang, saya rasa seluruh pokok dari Firman Tuhan yang terdapat di dalam perikop ini tentunya sangat mudah untuk dipahami. Pokok yang disampaikan oleh Yesus adalah: "Aku begitu mengasihi anak-anak kecil-Ku sehingga siapapun yang berani menyebabkan mereka murtad dari-Ku secara rohani, penghakiman yang akan Kulakukan terhadap orang itu tak akan dapat dibandingkan dengan apapun yang bisa dia lakukan terhadap dirinya sendiri." Nah, semua ini tentunya sangat mudah untuk dipahami. Jika ajaran 'sekali selamat tetap selamat' itu benar, maka firman Yesus di sini tak akan ada artinya (1) Tak ada orang Kristen yang bisa murtad dari Kristus? Namun perhatikan juga satu poin yang penting. Jika benar bahwa sekali Anda berada dalam kasih karunia maka Anda akan tetap berada di dalam kasih karunia (tidak kira apa yang Anda lakukan), maka apa yang disampaikan oleh Yesus di sini tidak akan ada artinya. Pendapat semacam itu akan menghapus semua yang disampaikan oleh Yesus di sini. Jika memang benar bahwa sekali selamat maka Anda akan tetap selamat, maka firman Tuhan di sini tidak akan ada artinya. Karena 'anak-anak kecil' yang percaya kepada Kristus, menurut pandangan ini berarti mereka yang telah selamat itu akan selalu selamat, lalu mengapa mereka masih bisa murtad? Menurut ajaran tersebut, Anda boleh berbuat dosa terhadap saudara yang lain sebanyak yang Anda mau karena tak ada satu halpun yang bisa Anda lakukan untuk menjatuhkan dia dari imannya. Tak ada yang bisa Anda perbuat untuk mendorong dia masuk ke dalam kebinasaan kekal. Dengan demikian, Anda boleh berbuat dosa terhadap saudara yang lain sebanyak yang Anda mau. Bisa Anda lihat betapa ajaran yang sesat ini begitu meluas di kalangan gereja-gereja dan menyingkirkan serta menghancurkan landasan dari ajaran Tuhan, saya harap Anda mewaspadai ajaran ini. Ada ajaran yang telah menjadi sandungan terhadap begitu banyak orang. Pandangan bahwa sekali Anda berada dalam kasih karunia maka Anda akan tetap berada dalam kasih karunia, jadi Anda boleh berbuat dosa sebanyak yang Anda mau. Saya boleh mencobai Anda dengan kekayaan, perbuatan dosa dan seks, saya boleh mencobai Anda dengan segala macam hal dan Anda tetap saja tidak akan terjatuh karena begitu Anda berada di dalam kasih karunia maka Anda akan tetap berada di dalam kasih karunia, bukankah begitu? Lalu apa masalahnya? Mengapa Allah begitu peka terhadap pencobaan yang bisa membuat seorang saudara berbuat dosa? Bukankah Dia tak perlu terlalu risau akan hal tersebut. Bukanlah tak ada satu pun hal yang bisa Anda lakukan untuk mencelakai anak-anak kecil ini? Ajaran semacam ini jelas-jelas bertolak belakang dengan hakekat dari pengajaran Tuhan sendiri. Jelaslah tidak benar bahwa Anda tidak bisa mencelakai saudara seiman yang lain. Jelaslah tidak benar bahwa Anda tidak bisa membuatnya murtad dari Tuhan, saya mohon agar Anda pahami hal ini dengan cermat. Jika memang ajaran itu benar, maka pengajaran Yesus di sini tidak akan ada artinya. Tentunya tidak akan ada gunanya memperingatkan seseorang agar tidak membuat seorang saudara seiman murtad. (2) Kekudusan itu tidak penting. Anda tidak perlu takut untuk berbuat dosa? Namun yang kedua, perhatikan baik-baik bagian yang berikut ini. Jika memang benar bahwa sekali selamat maka Anda akan tetap selamat, maka bagian yang berikutnya [dari perikop ini] juga akan ikut menjadi salah. Mari kita baca ketiga ayat terakhir, yakni ayat 7-9: Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah (Mengapa celaka?) orang yang mengadakannya. Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagi-mu (Camkanlah semua rujukan 'mu' yang ditujukan kepada para murid. Seluruh ayat-ayat ini tertuju kepada para murid, bukan kepada orang non-Kristen. Lihat saja di dalam Matius, Markus dan Lukas, dan Anda akan bisa lihat bahwa di setiap bagian tersebut, kata tersebut ditujukan kepada orang-orang Kristen. Yesus berbicara kepada murid-muridNya) masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua. Kemudian, jika memang benar bahwa begitu Anda menjadi murid, lalu Anda akan tetap selamat, maka tentu saja ajaran Yesus di sini menjadi tidak benar karena tidak peduli apakah dengan tangan ini saya berbuat dosa, apakah dengan mata atau dengan seluruh tubuh, tentunya tidak akan menjadi masalah. Saya boleh saja berbuat dosa dan terus berdosa karena saya tidak akan bisa tersesat. Nah, ini jelas bukan ajaran Yesus. Perhatikan baik-baik di sini dan lihat sendiri apakah pokok kebenaran dari persoalan ini. Pandangan semacam itu jelaslah tidak benar. Doktrin ini, yang datangnya langsung dari neraka, telah menjerumuskan saudara-saudari di zaman sekarang ini ke dalam jaminan keselamatan yang palsu. Jamian palsu adalah bahwa sekali Anda berada dalam kasih karunia maka Anda akan terus berada dalam kasih karunia. Engkau tak perlu khawatir. Itu bukanlah jaminan keselamatan yang sejati. Jaminan yang sejati adalah jaminan dari Roh Kudus di dalam hati Anda, yang bersaksi bersama dengan hati Anda bahwa Anda adalah anak Allah. Itulah satu-satunya jaminan sejati menurut Alkitab yang bisa Anda lihat di dalam Roma pasal 8. Namun justru itulah mengapa sekarang ini, akibat adanya ajaran semacam itu, menjadi kudus lalu tidak berarti lagi. Anda tidak perlu takut berbuat dosa. Perhatikanlah ajaran Yesus dengan teliti dan cermatilah apa yang disampaikan oleh Yesus. Yesus mengatakan hal ini kepada para murid, "Kalau tanganmu berbuat dosa, sebaiknya kamu berreaksi dengan sangat keras dan penuh tekad sehingga sekalipun tanganmu itu sangat berharga bagimu, dan jika kamu memenggal tanganmu lalu kamu menjadi pengangguran, menjadi cacat, menjadi buntung," kata Yesus di sini, "maka lebih baik kamu menjadi buntung, lebih baik menjadi cacat daripada masuk neraka." Tentu saja di sini Yesus memakai bahasa kiasan. Bukan berarti dengan memotong tangan itu lalu membuat Anda berhenti berbuat dosa. Akan tetapi jika hal itu memang menolong Anda, jika hal itu memang bisa menghentikan Anda berbuat dosa, maka lebih baik Anda untuk melakukannya karena Allah adalah Allah yang penuh kasih akan tetapi Dia juga adalah Allah yang maha kudus. Sangatlah penting untuk merenungkan ajaran Tuhan dengan sangat cermat. Gereja tidak memahami ajaran Tuhan sebaik pemahaman sebagian dari para rabi Anda tahu, tampaknya di zaman sekarang ini gereja tidak memahami ajaran Tuhan, tidak memahaminya sebaik pemahaman sebagian dari orang-orang Farisi, dan juga sebagian dari para rabi. Sambil menutup pembahasan ini, saya akan uraikan kisah tentang rabi Nahum dari Gimzel. Rabi Nahum dari Gimzel adalah seorang yang buta. Dia tidak punya tangan dan kaki dan tubuhnya dipenuhi koreng, konon kabarnya demikian. Rabi Nahum dari Gimzel hidup di masa awal gereja, sekitar tahun 80-120, jadi cukup dekat dengan masa hidup Kristus. Jika Anda perhatikan kisah hidup Rabi Nahum dari Gimzel, Anda mungkin akan mengira bahwa orang-orang Farisi, dengan segala kekonyolan yang kita anggap ada pada diri mereka, ternyata memahami Injil lebih baik ketimbang orang-orang Kristen. Rabi ini memiliki banyak murid. Dia adalah orang yang sangat hebat, orang dengan kebajikan yang sangat luar biasa. Suatu hari, para muridnya bertanya, "Bagaimana mungkin seorang benar seperti engkau, orang yang sangat baik, mengasihi, ternyata buta dan buntung kaki dan tangannya, serta memiliki tubuh yang dipenuhi koreng? Bagaimana mungkin seorang benar seperti engkau harus menanggung penderitaan semacam ini?" Lalu rabi ini menjawab, "Nah, kejadiannya seperti ini. Dulu, ketika aku masih muda, aku sedang mengantarkan makanan dengan tiga ekor keledai, dan di tengah jalan ada seorang sakit di pinggir jalan yang berkata kepadaku, 'Rabi, berilah aku sedikit makanan dari yang sedang kau antarkan itu.'" Dan rabi Nahum menjawab, "Aku akan memberimu sesuatu setelah selesai mengantarkan makanan ini." Dan ketika dia kembali, dia temukan bahwa orang itu sudah mati di pinggir jalan. Dia telah mati di saat menunggu rabi itu. Lalu rabi Nahum turun dari keledainya dan berlutut di sisi mayat orang itu dan berkata, "Oh Allah, biarlah mata yang melihat orang ini tanpa belas kasihan menjadi buta. Biarlah tangan yang melihat orang ini tetapi gagal menolongnya menjadi buntung. Biarlah kaki yang tidak bergegas menolong orang ini menjadi buntung juga." Setelah mengatakan hal ini, dia ternyata merasa bahwa dia masih belum juga melunasi hutang kasihnya kepada orang tersebut, sehingga dia berkata, "Biarlah tubuhku ini dipenuhi dengan koreng. Allah adalah Allah yang hidup, demikianlah, maka hari ini kalian melihat keadaanku sekarang ini, aku buta, tangan dan kakiku buntung." Dia tidak memberitahu bagaimana hal itu bisa terjadi, mungkin di dalam peperangan atau peristiwa-peristiwa yang semacam itu. Namun pada waktu dia berbincang-bincang dengan para muridnya, dia sudah dalam keadaan buta dan cacat. Dan ketika para murid mendengarkan hal ini, mereka berkata, "Rabi, celakalah kami yang telah melihatmu dalam keadaan seperti ini." Namun rabi Nahum berkata, "Tidak, celakalah aku jika kalian tidak melihatku dalam keadaan seperti ini." Apakah maksud rabi ini? Maksudnya, "Celakalah aku jika aku tidak mengalami sekarang penghakiman dari Allah karena tidak menolong orang itu sampai dia mati. Karena lebih baik bagiku untuk menjadi buta sekarang, menjadi tanpa tangan dan kaki sekarang daripada harus dengan seluruh tubuh yang utuh aku dicampakkan ke dalam neraka." Bisakah Anda melihat betapa pemahaman rabi Nahum akan ajaran Yesus jauh lebih baik daripada kebanyakan orang Kristen? Dia tahu bahwa lebih baik masuk ke dalam hidup yang kekal dalam keadaan seperti itu daripada dengan seluruh anggota tubuh yang utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dia memahami hal yang tidak dipahami oleh kebanyakan orang Kristen. Jadi marilah kita pahami bahwa Allah begitu mengasihi kita, dengan kasih yang jauh melampaui pemahaman kita. Allah mengasihi kita begitu rupa sehingga jika ada orang lain berusaha menghalangi atau mencelakai kita secara rohani, maka orang itu akan menghadapi segenap murka Allah yang akan tercurah ke atasnya. Akan tetapi kita sendiri juga harus melangkah di dalam kekudusan di hadapan Allah kita yang maha pengasih itu. Janganlah berkata, "Karena Allah begitu mengasihi kita maka kita boleh berbuat dosa sesuka hati kita. Karena Dia begitu mengasihi kita maka Dia tidak akan keberatan." Dia jelas sangat keberatan. Dia sangat mengasihi kita, jika kita berbuat dosa, maka kita juga akan menghadapi penghakiman Allah. Pahamilah dalam ajaran Tuhan tentang keseimbangan yang sempurna antara kasih dan kekudusan Allah. Bisakah Anda melihatnya? Keseimbangan yang sempurna. Allah begitu mengasihi kita dengan batas-batas yang melampaui pemahaman kita, akan tetapi kasih-Nya itu tidak akan membuat-Nya bertenggang rasa terhadap dosa di dalam diri kita. Marilah kita miliki hikmat dari rabi ini, yakni rabi Nahum dari Gimzel ini, untuk bisa mewujudkan satu hal, yakni di satu sisi bersukacita di dalam kasih Allah dan di sisi lain melangkah dalam rasa syukur dan sukacita di dalam kekudusan Allah Izinkan saya sampaikan satu hal untuk Anda ingat sebelum kita tutup. Tak ada orang yang mengasihi Anda, tak ada orang yang mengasihi Anda seperti Allah mengasihi Anda. Renungkanlah hal itu dalam-dalam. Ibu Anda mengasihi Anda tidak seperti cara Allah mengasihi Anda. Ayah Anda mengasihi Anda tidak seperti cara Allah mengasihi Anda. Tak ada satupun sahabat di dunia ini, tidak juga suami atau istri, yang bisa mengasihi Anda sebesar kasih Allah kepada Anda. "Kasih ilahi menyempurnakan segala kasih," entah itu kasih ayah, ibu, saudara, suami, istri. Kasih ilahi jauh melampaui semua jenis kasih itu. "Sukacita surga turun kepada kita," diberikan kepada kita. (Copyright owned by Cahaya Pengharapan Ministries. May be used for non-profit purposes but must be attributed to this website.) |
Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.
Seri Matius: - Mat 14:22-33 Iman membutuhkan Keberanian - Mat 3:13-17 Penundukan kepada Allah, Kegenapan segala Kebenaran - Mat 2:1-12 Tiga Prinsip Damai Sejahtera - Mat 3:13-4:17 Visi Kerajaan Allah 1 - Mat 3:13-4:17 Visi Kerajaan Allah 2 - Perlakukan Orang Lain Sebagaimana Anda Ingin Diperlakukan Oleh Mereka - Masuk Melalui Jalan yang Sempit - Waspadalah Terhadap Nabi-Nabi Palsu - Berdoalah Kepada Tuan Empunya Tuaian - Domba di Tengah-Tengah Serigala - Aku Datang Bukan Untuk Membawa Damai - Di Manakah Letaknya Kebesaran Yohanes Pembaptis? - Kerajaan Surga Datang dengan Kuasa - Apa Makna Memikul Salib dalam Kehidupan Sehari-hari? - Apakah Anda termasuk Bintang atau Lubang Hitam? - Kristus Menang Atas Iblis yang Belum Menyerah! - Apakah Anda bersama dengan Kristus atau hanya Berpihak pada-Nya? - Apakah Anda Mengumpulkan Bersama Yesus? - bagian 1 - Apakah Anda Mengumpulkan Bersama Yesus? - bagian 2 - Dosa yang Tidak Dapat Diampuni - Apakah Anda Bait Allah atau Rumah Belial? - Rahasia menjadi 'Lima Roti dan Dua Ikan'? - Apa Rahasia Keunggulan Spiritual? - Manusia Telah Menjadikan Firman Allah Tidak Berlaku - 1 - Manusia Telah Menjadikan Firman Allah Tidak Berlaku - 2 - Ciri Iman yang Besar di Mata Allah - 1 - Ciri Iman yang Besar di Mata Allah - 2 - Tanda-Tanda Zaman - Bagian 1 - Tanda-Tanda Zaman - Bagian 2 - Bagaimana Salib Menjadi Batu Sandungan - Apakah Gereja dibangun di atas Petrus? - Si Aku - Hambatan Menuju Kebesaran Rohani - Jalan Menuju Kuasa dan Kemuliaan - Iman yang Memindahkan Gunung - Bagian 1 - Iman yang Memindahkan Gunung - Bagian 2 - Berpalinglah dan Menjadi Seperti Anak Kecil - Bagian 1 - Berpalinglah dan Menjadi Seperti Anak Kecil - Bagian 2 - Berpalinglah dan Menjadi Seperti Anak Kecil - Bagian 3 - Celakalah Orang yang Membuat Orang Lain Tersandung - Bagian 1 - Celakalah Orang yang Membuat Orang Lain Tersandung - Bagian 2 - Celakalah Orang yang Membuat Orang Lain Tersandung - Bagian 3 - Apa yang Kita Ketahui Tentang Malaikat? - Bagian 1 - Apa yang Kita Ketahui Tentang Malaikat? - Bagian 2 - Persahabatan yang diinginkan Allah - Kerajaan Allah itu Milik Anak-Anak Kecil - Apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? - Sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga - "Pergi, juallah segala hartamu, dan datanglah serta ikutlah Aku" - Apa yang dimaksudkan dari yang pertama menjadi yang terakhir? - Jalan untuk menjadi yang terutama - Imanmu Telah Menyelamatkan Engkau - Komitmen untuk mengasihi kebenaran - Kemunafikan: Ragi orang Farisi - Tujuh gejala kanker rohani - 1 - Tujuh gejala kanker rohani - 2 - Kristus sebagai Tuan - Obat penawar bagi kemunafikan - Apa artinya menjadi Anak Allah? Apa arti menjadi murid Yesus? - Neraka menurut ajaran Tuhan Yesus - Anda bisa berkata tidak kepada Allah - Tanda-tanda kedatangan Kristus - Siapakah Raja Anda, Allah atau Iblis? - Tujuan dari Anti Kristus: Menyesatkan gereja - Apakah kita termasuk burung nazar atau burung elang? - Bagaimana menjadi anak-anak Terang |
|||||
|
Copyright 2003-2012. Semua materi di situs ini
adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries. |
|||||||