|
| Saran & Komentar | updated on 19 April 2012 |
|||||||
|
CahayaPengharapanMinistries Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan |
|||||||
|
|
|||||||
|
Tiga prinsip yang merangkum segenap ajaran Injil Pendeta Eric Chang Terdapat tiga prinsip dari kehidupan Kristen yang
merangkum segenap isi Injil dan jika Anda bisa memahami ketiga prinsip,
berarti bahwa Anda telah memiliki pemahaman yang utuh tentang Injil. Apakah ketiga prinsip dasar itu? Ketiga prinsip tersebut harus dipahami secara bersamaan, jika Anda mengabaikan salah satunya, maka doktrin Anda tidak akan memiliki keseimbangan, dan Anda tidak akan bisa berdiri teguh. Ini merupakan hal yang sangat mengerikan karena, kadang kala, di tengah gereja zaman sekarang, hanya prinsip pertama yang ditekankan sedangkan dua yang lainnya diabaikan dengan cara dikecilkan peranannya. Jadi, apakah ketiga prinsip itu? 1. Prinsip
kasih karunia (grace):
Allah menangani kita dengan kemurahan, memaafkan kita sebagai respon
terhadap pertobatan kita. Pengampunan ini sama sekali tidak ada
kaitannya dengan usaha-usaha kita. Kita diselamatkan tapi bukan karena
perbuatan baik kita. Jadi, prinsip yang pertama adalah prinsip kasih karunia
yang juga dapat disebut sebagai pembenaran (justification). Pembenaran
adalah kasih karunia Allah kepada kita di masa lalu di mana Dia telah
mengampuni dosa-dosa kita di saat kita mengaku di hadapan-Nya dan
bertobat dari dosa-dosa kita. Dia mengampuni kita begitu saja, bukan
atas dasar perbuatan yang pernah kita lakukan atau prestasi kita. Dia
mengampuni kita dengan cuma-cuma. Kita tidak akan bisa mencapai
keselamatan bagi kita sendiri, karena jika kita mampu maka Kristus tidak
perlu mati bagi kita. Itulah poin pertama dari Injil, poin yang paling
mendasar. Demikianlah, di dalam Efesus 2:9, Paulus menetapkan poin ini.
Kita diselamatkan oleh kasih karunia, bukan oleh perbuatan baik,
jadi kita tidak punya dasar apapun untuk menyombongkan diri. Akan tetapi, ayat yang selanjutnya itu sama pentingnya. Kita diselamatkan bukan oleh perbuatan baik kita, akan tetapi kita diciptakan di dalam Kristus Yesus untuk mengerjakan perbuatan baik. Bukan diselamatkan oleh perbuatan baik tetapi diselamatkan untuk mengerjakan perbuatan baik. Bagian yang kedua ini sama pentingnya, namun seringkali diabaikan. Bukan karena perbuatan baik maka kita ini diselamatkan akan tetapi kita ini diselamatkan untuk mengerjakan perbuatan baik. Itulah rencana Allah bagi keselamatan kita. 2. Prinsip kemurahan (graciousness) Pokok yang kedua adalah kemurahan (graciousness) - untuk
mengerjakan perbuatan baik.
Jika Anda hidup untuk mengerjakan perbuatan baik
sebagai hasil dari kasih karunia Allah yang mengubah diri Anda, maka
perbuatan-perbuatan baik itu akan terlihat seperti apa? Akan terlihat
penuh dengan kasih karunia dan kebenaran (full
of grace and truth). Anda akan menjadi murah hati melalui kasih
karunia Allah di dalam hidup Anda. Kita diselamatkan oleh kasih karunia
yang bekerja di dalam diri kita yang akan menghasilkan kemurahan di
dalam diri kita. Apakah Anda terlihat murah hati di dalam kehidupan Anda?
Apakah perilaku kita murah hati? Apakah ketika orang lain bertemu dengan
kita, maka mereka akan berkata, "Oh, orang itu sangat murah hati."
Seperti Yohanes yang mampu memberi kesaksian tentang Yesus, "Kami hidup
bersama Dia, kami bersekutu dengan-Nya, dan kami memberikan kesaksian
berikut ini: Dia penuh dengan kasih karunia dan kebenaran." Yesus penuh
kasih karunia dan kebenaran. Demikian murah hati pribadi-Nya. Dapatkah
kesaksian itu diberikan oleh orang lain terhadap diri kita? Dengan cara
apa kita akan mencerminkan kasih karunia Allah di dalam hidup kita? Kita kerap memakai istilah teologi yang disebut ‘pengudusan’ (sanctification) di dalam membahas kemurahan ini. Kemurahan ini, dalam pengertiannya yang sederhana, adalah cara kita berurusan dengan orang lain sebagaimana cara Allah berurusan dengan kita: karena Dia menangani kita dengan penuh kemurahan, maka kita juga berurusan dengan orang lain dengan penuh kemurahan pula, dengan demikian, kemurahan itu ada di dalam tindakan kita, di dalam perilaku kita. Sangatlah menyebalkan melihat orang Kristen yang berperilaku tidak murah hati, kasar, tidak sopan, tidak menyenangkan, tanpa pengertian, berpikiran picik, egois, bebal, dogmatik dan angkuh. Sangat menyebalkan! Kita harus murah hati jika kita sudah menerima kasih karunia Allah. Ini bukanlah suatu pilihan. Menjadi murah hati bukanlah suatu pilihan. Ini juga merupakan hal yang dimaksudkan oleh Paulus di dalam Efesus 5:1 Jadilah penurut-penurut (imitators = peniru-peniru) Allah. Itu adalah suatu perintah. Ini bukanlah sebuah saran yang menganjurkan betapa baiknya jika menjadi peniru-peniru Allah. Kita harus menjadi peniru-peniru Allah. Apakah arti dari ‘peniru Allah’ itu? Artinya adalah
bahwa kita harus menangani orang lain sebagaimana Allah telah menangani
kita. Allah telah mengampuni kita, hal yang memang telah Dia lakukan,
dan kita juga harus mengampuni orang lain. Itulah artinya menjadi
peniru-peniru Allah. Tak ada yang rumit dalam pemahamannya. Pokok ini
sangatlah ditekankan di dalam pengajaran Yesus dan sungguh luar biasa
melihat betapa pokok ini justru tidak lagi ditekankan. 3. Prinsip penghakiman: Allah akan menghakimi kita sesuai dengan
perbuatan-perbuatan kita, baik untuk perbuatan yang baik ataupun yang
jahat. Dia akan menangani kita sebagaimana cara kita menangani orang
lain Demikianlah, karena kasih karunia Allah di masa lalu
telah mengampuni dosa-dosa kita, maka di masa sekarang ini kita wajib
bermurah hati sampai kesudahannya, supaya pada Hari Penghakiman,
Allah akan menghakimi kita sesuai
dengan cara kita menghadapi orang lain. Inilah prinsip yang ketiga.
Penghakiman akan didasarkan pada perbuatan-perbuatan kita. Allah akan
menghakimi kita sesuai dengan perbuatan-perbuatan kita, entah yang baik
maupun yang jahat, tidak terbatas pada yang baik saja. Baru-baru ini saya membaca sebuah buku, dan penulis
buku itu mempertanyakan apa arti penghakiman bagi orang Kristen? Jawaban
orang itu adalah bahwa penghakiman terhadap orang Kristen itu sekadar
ucapan terima kasih dari Allah kepada Anda. Pertanyaan saya adalah apa
hal yang telah Anda perbuat dan layak untuk menerima ucapan terima kasih
dari Allah? Renungkanlah kehidupan Anda dan pikirkanlah, untuk apa Allah
berterima kasih kepada Anda? Hal apa yang telah Anda lakukan yang perlu
mendapatkan ucapan terima kasih? Apakah untuk sepuluh ribu rupiah yang
telah Anda masukkan ke kotak persembahan? Pada dasarnya uang itu
milik-Nya sendiri. Jumlah yang malahan jauh lebih sedikit dari jumlah
perpuluhan sebagaimana yang ditetapkan di dalam Perjanjian Lama. Apakah
ada milik kita yang bukan menjadi milik-Nya? Berkaitan dengan hal penghakiman ini, mari kita beralih
sejenak ke dalam 2 Korintus 5:10. Izinkan saya menunjukkan kepada Anda
bahwa penghakiman kepada orang Kristen bukan sekadar urusan ucapan
terima kasih. Penghakiman ini bisa menjadi sangat keras. Paulus sangat
memahami pengajaran Yesus sehingga ia tidak akan sampai pada pandangan
bahwa orang Kristen tidak akan dihakimi atau dihukum sehubungan dengan
cara mereka menjalani kehidupan atau cara mereka berperilaku. Paulus
tidak membuat kesalahan semacam itu. 2 Korintus 5:10 berkata, "Kita
semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus," Kita yang
harus menghadap takhta, bukan orang non-Kristen. Orang Kristenlah yang
sedang Paulus bicarakan saat dia menyurati jemaat di Korintus. Kalian,
jemaat di Korinstus dan aku, kita semua akan hadir di hadapan takhta
pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut
diterimanya, hal yang baik. Kita tentunya berharap agar Paulus berhenti di Akan ada hamba yang dihardik-Nya dengan ucapan, "menyingkirlah
dari-Ku, kamu hamba yang jahat." Orang itu memang seorang hamba Tuhan,
akan tetapi dia jahat. Dia menerima apa yang jahat akibat apa yang telah
dia kerjakan selama hidupnya. Penghakiman ini, sebagaimana yang telah
kita lihat, didasarkan pada prinsip yang kedua. Didasarkan pada fakta
bahwa Allah akan menangani kita sesuai dengan cara kita menangani orang
lain. Rangkuman Demikianlah ketiga prinsip itu: kasih karunia (grace),
kemurahan (graciousness), dan penghakiman (judgement). Mari kita
merangkum ketiga prinsip itu. Allah telah menangani kita dengan penuh
kemurahan dalam kaitannya dengan pertobatan kita, dan hal ini tidak
dikaitkan dengan perbuatan baik kita. Walaupun kita diselamatkan bukan
oleh perbuatan baik, akan tetapi kita diciptakan di dalam Kristus untuk
tujuan mengerjakan perbuatan baik. Dengan demikian, kita sampai pada prinsip yang kedua:
Dia mengharapkan agar kemurahan muncul di dalam hidup kita. Dan
kemurahan dapat kita artikan sebagai berikut, bahwa kita berurusan
dengan orang lain sama seperti Allah telah berurusan dengan kita di
dalam kemurahan. Pada hari Penghakiman, Dia akan menghakimi kita sesuai
dengan cara kita berurusan dengan orang lain. Renungkanlah hal itu.
Itulah rangkuman sederhana dari segenap ajaran injil: kasih karunia,
kemurahan dan penghakiman. |
Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.
Lain-Lain: - Apa Akar dari Penyakit Tidak Percaya? - Ia Bukanlah Allah Orang Mati, Tetapi Allah Orang Hidup - "Yesus, Tanda Yang Menimbulkan Perbantahan" (Sebuah Pesan Natal) - Bagaimana Seharusnya Hubungan di antara Sesama Jemaat? |
|||||
|
Copyright 2003-2012. Semua materi di situs ini
adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries. |
|||||||