|
| Saran & Komentar | updated on 19 April 2012 |
|||||||
|
CahayaPengharapanMinistries Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan |
|||||||
|
|
|||||||
|
Siapa itu orang bijak? Pendeta Eric Chang Apakah arti hidup itu? Tema kita adalah, "Siapa
itu orang bijak?" Apa saja unsur dari hikmat itu? Beberapa hari yang
lalu, saya membaca koran, yaitu koran minggu pagi. Saya kolom yang
berjudul, "Believe It Or Not (Percaya
atau Tidak)". Kolom yang berjudul "Believe
It Or Not" ini berisi tentang hal-hal yang aneh dan luar biasa.
Salah satu bagiannya bercerita tentang Charles Boaz yang bekerja sebagai
badut. Apa yang luar biasa seorang badut? Seorang badut hadir untuk
memberikan hiburan, membuat kelucuan, melawak, setidaknya untuk membantu
melonggarkan stress dalam hidup ini. Dan sepertinya tak seorangpun yang
akan berpikir bahwa seorang badut adalah orang yang bijak. Anda
memandang mereka sebagai orang-orang bodoh; pekerjaan mereka memang
untuk tampil sebagai orang bodoh dan bukannya sebagai orang bijak. Lalu
mengapa kolom seperti "Believe It
Or Not" menyajikan berita tentang seorang badut? Hal yang menarik
perhatian adalah fakta bahwa badut yang ini, Charles Boaz, adalah
seorang Doktor. Umumnya, orang menilai mereka yang bergelar Doktor
sebagai orang-orang yang memiliki tingkat kecerdasan yang cukup tinggi.
Dan lebih dari itu, kolom ini juga mengatakan bahwa Dr. Boaz ini adalah
seorang asisten profesor bidang ekonomi di State University of Jika Anda berhenti sejenak dan merenungkannya, di sini ada begitu banyak orang muda yang masih pelajar, dan kalian semua berjuang keras untuk bisa memperoleh ijazah sekolah menengah kalian. Dan di saat Anda berhasil mencapai gelar sarjana S1, Anda akan mengira bahwa Anda adalah orang yang cukup penting di dunia ini. Akan tetapi, kalau Anda sampai di tingkatan S3 (Doktor), Anda akan berpikir bahwa Anda telah mencapai puncak! Namun di koran ini ada seseorang yang telah mencapai semua itu, dan memutuskan untuk menanggalkan semuanya untuk menjadi seorang apa? Seorang badut! Dari sejarahnya, pekerjaan badut sudah ada sejak lama, khususnya pada masa kerajaan-kerajaan di Eropa di mana raja-rajanya menderita stress seperti yang dialami oleh orang-orang modern. Mereka membutuhkan pertunjukan badut saat mengakhiri atau mengawali hari-hari mereka, atau sewaktu-waktu jika stress yang dihadapi begitu berat, dan para badut akan membuat lawakan untuk melonggarkan stress raja mereka. Pada zaman itu tidak ada TV atau telenovela, jadi yang Anda butuhkan adalah pertunjukan badut. Jadi sebenarnya, seorang badut menjalankan peranan yang penting. Akan tetapi hal itu semua sudah berlalu. Di zaman sekarang ini, para badut menghibur anak-anak supaya orang tua mereka bisa berkurang stress-nya, dan para orang tua ini bisa keluyuran secara leluasa sambil menikmati es krimnya. Tapi mari kita kembali ke pertanyaan ini, hal apa yang membuat seorang bijak - seorang bergelar Doktor, yang menurut ukuran dunia adalah seorang bijak - ingin menjadi orang bodoh? Dapatkah Anda menempatkan diri Anda pada posisi orang ini dan membayangkan dalam keadaan seperti apa Anda akan bersedia untuk mengesampingkan prestasi akademik Anda? Tidaklah mudah menjadi seorang profesor atau asisten profesor lalu beralih berkelana ikut sirkus dan melawak dengan keledai, kuda dan monyet-monyet. Mungkinkah karena dia merasa bahwa hidup ini ternyata hanya sekadar lawakan belaka, dan dia merasa bahwa lebih baik menjalaninya sebagai seorang badut sekalian? Hidup ini adalah lawakan, jadi perlakukan saja segala sesuatu sebagai bahan lawakan. Bisa jadi dia, sebagai seorang manusia, adalah orang yang cukup cerdas untuk bisa memahami bahwa hidup ini adalah lawakan, jadi, jalani saja dengan bercanda. Mungkin yang menjadi masalah utama bagi umat manusia adalah lantaran kita ini tidak cukup cerdas untuk bisa memahami persoalan yang sebenarnya, tetapi juga tidak terlalu bodoh sehingga bisa mencapai akar permasalahannya. Dengan kata lain, kita terjebak di dua sisi; kita tidak bisa melihat persoalannya secara jelas, entah karena kita ini terlalu bodoh atau terlalu cerdas, akibatnya kita juga tidak bisa menemukan jawaban yang jelas atas pertanyaan tentang arti hidup itu. Lalu kita terjebak di dalam lingkaran kebodohan, lingkaran kesia-siaan, lingkaran tanpa tujuan. Sehingga orang ini memandang bahwa jika memang tidak ada yang bisa dipegang di dalam lingkaran kesia-siaan ini, setidaknya kita masih bisa bercanda-ria. Jadi, pada dasarnya, masalah kebodohan atau kebijaksanaan berkaitan dengan jawaban atas pertanyaan tentang arti hidup. "Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati." Alkitab memberitahu kita bahwa ada dua pemecahan atas persoalan makna hidup ini dan Dr. Boaz memakai salah satunya untuk mencapai pemecahan masalah tersebut. Jalan tersebut di dalam Alkitab dijabarkan dalam kalimat: marilah kita makan, minum, kawin dan bersenang-senang, sebab besok kita mati. Jadi mengapa kita tidak bercanda-ria malam ini? Bersenang-senanglah, untuk satu malam saja, mari kita tertawa, sebab besok kita mati. Begitulah mentalitas banyak prajurit yang sedang berada di lubang-lubang pertahanan. Sebelum menghadapi peperangan besar, mereka tahu bahwa di saat yang sama pada esok hari nanti, sebagian besar dari mereka akan mati; mereka semua akan mati. Ini adalah malam terakhir mereka, jadi bukalah botol bir atau minuman apapun itu, makanlah coklat terakhirmu, nikmatilah saat-saat ini, tertawalah, nikmatilah saat-saat terakhir ini, sebab besok kita semua mati. Itulah salah satu solusi atas masalah makna hidup ini. Anda hidup di dunia ini, Anda tahu bahwa waktunya singkat, jadi nikmatilah apa yang bisa Anda raih! Jika Anda punya satu rumah, belilah yang kedua. Jika Anda punya satu mobil, beli satu lagi. Entah apapun merek mobil kecil Anda, belilah mobil Jaguar, belilah mobil yang benar-benar hebat di mana Anda bisa duduk, bersandar di lapisan kulit mahal, dan mengendarainya. Nikmati saja! Anda tidak punya banyak tahun untuk menjalani hidup. Alkitab juga punya solusi semacam itu. Tak ada yang baru. Sudah ada tertulis di dalam Alkitab. Walau bukan berarti bahwa Alkitab menganjurkan metode ini tetapi ia memberitahu Anda bahwa itu memang salah satu solusinya. Bangunlah hidup Anda berdasarkan Allah, Batu Karang itu Ada metode lain yang Yesus sebutkan. Dia membandingkan kehidupan ini dengan pekerjaan membangun rumah. Bagaimana cara Anda menjalani hidup mirip dengan bagaimana cara Anda membangun rumah. Hari demi hari, Anda memasang batu bata, menambahkan hiasan, Anda menambahkan sesuatu pada bangunan rumah itu. Setiap orang membangun kehidupannya setiap hari. Jadi, ada dua cara untuk membangun. Yesus mengakhiri Khotbah di Bukit dengan hal ini: Anda bisa membangun rumah, rumah kehidupan Anda, entah dengan landasan batu karang atau pasir; ada dua cara untuk membangunnya. Lalu, di akhir hidup
Anda, orang-orang menatap Anda dan berkata, "Ah! Jadi ini bangunan rumah
kehidupanmu. Sebuah rumah yang sempurna dan indah!" Bangunan rumah
adalah suatu pencapaian, bukankah begitu? Ia menjadi simbol status dan
memang merupakan simbol status yang sangat terlihat karena Anda tinggal
di dalamnya. Rumah juga sangat penting bagi kehidupan sehari-hari. Yesus menjabarkannya di bagian akhir Matius pasal 7:24-27, sebuah perikop yang sangat terkenal: Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya. Ini adalah ayat-ayat yang sudah dipelajari oleh anak-anak sekolah minggu. Sangat sederhana. Namun sama seperti sabda-sabda Yesus lainnya yang terlihat sederhana, perikop ini memiliki makna yang sangat dalam. Adakah seseorang dengan sengaja membangun di atas pasir? Kalau kita membangun di atas batu karang, maka itu mudah untuk dimengerti karena kita ingin agar rumah itu bertahan lama; kita tentu tidak mau membangun rumah yang akan ambruk esok harinya. Akan tetapi maukah Anda membangun rumah di atas pasir? Pikirkan saja berapa besar biaya untuk membangun sebuah rumah - materialnya, batu-batu, besi baja, cerobong, dan segala sesuatu yang akan menjadi bagian dari rumah itu - apakah Anda menempatkan semua investasi itu dalam bentuk sebuah rumah indah di atas pasir? Saya melihat bahwa
orang di negara Barat menyukai kegiatan di luar rumah. Saya pernah
berjalan-jalan dengan Helen di sebuah pusat perbelanjaan dan kami
melihat sebuah pusat perbelanjaan yang sangat besar, yang sebagian besar
dari isinya menjual peralatan berkemah - tenda berikut barang-barang
yang sejenisnya. Akan tetapi Yesus berkata, "Jika engkau mendengarkan firman-Ku, (hal yang sedang Anda lakukan saat ini), tetapi engkau tidak mengerjakannya, maka engkau sama seperti orang yang membangun rumah, bukan tenda, di atas pasir." Mungkin Anda berkata, "Tentunya tak ada seorangpun yang sedemikian bodohnya sehingga ia membangun rumah di atas pasir." Dan saya pikir, Yesus juga tidak memandang bahwa sebagian besar orang bodohnya seperti itu. Lokasi manakah yang
lebih Anda sukai jika Anda akan membangun rumah? Saya tahu tempat
seperti apa yang lebih disukai oleh orang-orang Beberapa tahun yang
lalu, saya baca di sebuah majalah berita, dan seorang juru foto
mengambil gambar sebuah rumah dari sudut yang sangat mengejutkan.
Separuh bagian dari rumah itu menonjol keluar di atas
laut! Dan separuh bagian lagi berada di darat sebagai pengimbangnya. Dan
yang difoto itu bukanlah rumah tua; rumah yang berusia sekitar 20
tahunan saja. Ketika pertama kali sang arsiteknya merancang dan
membangun rumah itu, terdapat kesalahan hitung, dan selama 20 tahun
berselang, terjadilah hal itu, laut mulai menggerogoti daratan, dan
menggerus tanah serta batu yang menjadi landasan rumah itu. Demikianlah,
mimpi indah tentang rumah yang mereka rencanakan akan bisa ditempati
seumur hidup sambil menikmati pemandangan laut, harus menghadapi
penggerogotan dari bawah! Jadi, pada awalnya terdapat sebuah taman yang
indah yang melebar dari rumah ke tebing pantai. Dan tahukah Anda apa
yang terjadi kemudian? Ketika saya mengamati foto rumah tersebut, saya membatin, "Itulah hal yang Yesus maksudkan!" mereka telah menaruh semua investasi seumur hidup mereka untuk membangun rumah yang indah dengan pemandangan laut ini. Dan sekarang apakah yang tersisa bagi mereka? Sewaktu-waktu rumah itu akan ambruk ke dasar laut. Dan mereka mencoba untuk mencari jalan menyelamatkan rumah itu karena laut terus saja menggerus bebatuan serta tanah di bawahnya. Dan rumah itu sekarang tidak berharga barang sesen pun! Maukah Anda membeli rumah seperti ini? Anda tentu tahu bahwa rumah di tepi pantai harganya sangat mahal. Anda mungkin tidak akan bisa mendapatkannya dengan uang seperempat juta dolar. Namun saat ini, jika Anda menghadiahkan rumah di dalam foto itu pada orang lain, tak seorangpun yang mengingininya, karena pada pagi berikutnya, Anda mungkin akan berada di dasar laut! Pilihannya hanya Batu Karang atau pasir Pesan macam apakah yang ingin Yesus sampaikan lewat tema kebijaksanaan ini? Batu Karang di dalam Alkitab melambangkan Allah. Kata ini muncul berulang kali di dalam Perjanjian Lama - "Tuhan adalah Gunung batuku; dan Dia adalah Keselamatan-ku." Isi pesannya adalah bahwa segala sesuatu di dunia ini akan berubah, segala sesuatu akan berlalu. Akan tetapi Allah adalah batu Karang; Dia tidak berubah, Dia tidak berlalu. Batu karang itu adalah lambang kekekalan. Anda bisa lihat di dalam Mazmur 89:19 bahwa Tuhan adalah Raja, dan di ayat 27 dari Mazmur di pasal yang sama berkata, Allahku dan gunung batu keselamatanku.Nah, saya ingin agar Anda perhatikan dua hal ini: Allah adalah Gunung batu dan Raja. Itu sebabnya mengapa Paulus berkata di dalam 1 Timotius 1:17, Allah, Raja segala jaman, Allah adalah Raja yang kekal. Membangun rumah di atas batu karang berarti membangun kehidupan berlandaskan Allah yang kekal yang tidak akan berubah. Segala sesuatu di dunia ini berubah dan perubahannya semakin cepat saja. Setahun yang lalu, dapatkah Anda bayangkan tentang hal-hal yang terjadi sekarang. Pasir di dalam Alkitab, tentu saja, adalah lambang dari segala sesuatu yang bersifat sementara, yang akan berlalu, yang tak tinggal tetap. Jika Anda membangun kehidupan Anda berlandaskan hal-hal yang sementara sifatnya, maka Anda tidak akan memiliki apa-apa pada akhirnya nanti. Saya sudah menyebutkan sebelumnya bahwa Yesus tidak sedang meremehkan kecerdasan kita. Dia tahu Allah tidak menciptakan makhluk bodoh. Saya yakin bahwa Dia tidak beranggapan bahwa akan ada orang yang dengan sengaja membangun rumahnya di atas pasir. Lalu mengapa orang membangun rumahnya di atas pasir? Karena salah perhitungan, gagal memahami realitas kehidupan, atau lebih serius lagi, karena mereka enggan untuk memahami realitas kehidupan. Di zaman ini, manusia benar-benar hanyut karena dia telah memutuskan hubungan dengan Batu Karang keselamatannya. Dan jika Anda memutuskan hubungan dengan Batu Karang keselamatan, maka yang tersedia bagi Anda hanyalah pasir saja. Tak tersedia landasan jenis lain untuk membangun. Kita sedang membahas perkara-perkara yang penting untuk kekekalan. Harap jujur di saat ini. Dan yang lebih penting lagi, jujur sajalah kepada Allah saat ini, mungkin buat pertama kali dalam hidup Anda, bersikap jujurlah di hadapan Allah. Dan bersikap jujurlah kepada diri Anda sendiri, jika memang Anda tidak bisa jujur kepada orang lain. Apakah Anda memiliki hubungan dengan Allah? Dapatkah Anda menjawab pertanyaan ini dengan jujur? Apakah Anda memiliki hubungan dengan Allah? Jika Anda tidak memiliki hubungan dengan Allah yang kekal, jika Anda tidak memiliki hubungan dengan Batu Karang keselamatan, maka landasan macam apa yang tersedia bagi Anda selain pasir? Beritahukan saya, apa lagi yang tersedia bagi Anda selain pasir? Hanya ada pilihan antara batu karang atau pasir, tidak ada pilihan lainnya. Jadi jika Anda tidak bisa membangun kehidupan Anda di atas batu karang; itu terjadi bukan karena Anda bodoh sehingga Anda melakukan hal itu, penyebabnya adalah karena tak ada jenis landasan lain yang tersedia bagi Anda selain pasir. Orang bijak membangun kehidupannya berlandaskan Allah Apa artinya menjadi
bijak? Menjadi bijak berarti berpaling dari pasir yang labil dalam hidup
ini, dan kembali ke batu karang yang adalah Allah, untuk membangun hidup
Anda di atas Batu karang yang tak akan bergeser. Ketika para penguasa
muncul silih berganti, Anda akan tetap bertahan di Jadi, orang macam apakah yang disebut bijak itu? Orang yang bijak adalah orang yang membangun di atas batu karang. Tetapi apakah artinya itu? Artinya dia adalah orang yang menjalin hubungan dengan Allah, Batu Karang itu. Rumahnya dibangun di atas batu karang, berlandaskan batu karang, tertanam di batu karang dan terhubung dengan batu karang itu. Apakah Anda seperti itu? Orang bijak menyatu dengan batu karang itu. Rumahnya bukan sekadar bersandar pada batu karang itu, tapi menjadi satu dengan batu karang itu. Saya ingin bertanya, apakah itu gambaran kehidupan Anda? Apakah Anda menjalin hubungan dengan Allah yang hidup? Kita sedang berurusan dengan sesuatu hal yang luar biasa pentingnya bagi kehidupan Anda. Kita harus mendapatkan jawaban atas pertanyaan ini. Bagaimana saya bisa mengenal Allah yang hidup? Izinkan saya untuk menguraikannya sesingkat mungkin dalam sisa waktu kita ini. Saya akan merangkum
semua itu dengan istilah "hukum raja." Perhatikan kata-kata tersebut;
saya ingin agar huruf-huruf tersebut benar-benar tertera di benak Anda;
jika Anda lupa pada apa yang sudah saya sampaikan hari ini, setidaknya
ingatlah pada istilah "hukum raja," yaitu hukum dari Sang Raja. Di sini,
kita tidak sedang berbicara tentang hukum menurut pengertian legal, kita
sedang berbicara tentang hukum dalam pengertian prinsip-prinsip dari
Raja. Kita dapat melihat ungkapan ini di dalam Yakobus 2:8. Di Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri", kamu berbuat baik Izinkan saya mencoba
untuk menunjukkan kepada Anda tentang situasi yang dihadapi umat manusia
di zaman sekarang ini, dan mengapa manusia di zaman sekarang ini
kehilangan hubungan dengan Batu Karang dan akhirnya membangun kehidupan
mereka di atas landasan pasir. Menyampaikan hal ini kepada Anda sama
halnya dengan menjabarkan seluruh isi Alkitab dalam waktu Menjadi bijak berarti menobatkan Allah sebagai Raja atas kehidupan Anda Izinkan saya mengajukan
pertanyaan lain. Saya adalah pengkhotbah yang suka blak-blakan; saya
sering mengajukan pertanyaan pada orang-orang. Apakah Allah adalah Raja
atas kehidupan Anda saat ini? Apakah Dia Raja atas kehidupan Anda
saat ini? Apakah Anda tahu apa artinya memiliki Allah sebagai Raja
atas kehidupan Anda? Jika tidak, maka Anda tidak tahu apa artinya
menjadi orang bijak karena Anda tidak tahu apa artinya membangun di atas
batu karang. Alkitab memberitahu di dalam Amsal 1:7 tentang hikmat ini:
Takut akan TUHAN (landasannya)
adalah permulaan pengetahuan. Mengapa takut akan Tuhan? Siapakah
yang ditakuti oleh orang-orang? Mereka takut kepada raja, dan apakah
hasilnya? Mereka taat karena mereka takut. Akan tetapi manusia telah
sejak lama meninggalkan rasa takut yang kekanak-kanakan ini. Namun sejarah di dalam
Alkitab bercerita tentang manusia yang, di sepanjang waktu, selalu
menolak Allah sebagai Raja. Saat Demikianlah, Saul lebih tinggi sebahu dan sekepala dibandingkan orang lain. Mereka menghendaki orang macam ini sebagai raja; dia sangat tinggi sehingga dia dijadikan raja. Tampaknya mereka tidak peduli ada berapa banyak sel otak yang ada di kepalanya. Yang penting dia bertubuh besar. Akan halnya dengan Allah, kita tidak menghendaki Allah. Kita mau orang ini saja yang menjadi raja. Yang tidak mereka ketahui adalah bahwa Allah bisa saja menggusur orang ini setiap saat, dan kenyataannya, memang hal itu yang Dia lakukan, Dia menggusur Saul. Dan Dia menobatkan anak muda bernama Daud. Jadi, kita bisa melihat bahwa di sepanjang sejarah manusia, kita selalu menolak Allah sebagai Raja; kita tidak menghendaki Dia menjadi Raja. Tapi saya beritahukan Anda, jika Anda ingin memahami Alkitab, ada satu prisip utama yang perlu Anda pegang. Seluruh isi Alkitab, dari awal sampai akhir, mengajarkan satu hal: Allah itu Raja, jika Anda tidak suka kata 'raja', tidak jadi masalah; Anda boleh menyebut-Nya 'Komisaris,' Anda boleh menyebut-Nya 'Penguasa,' atau 'Presiden,' atau 'Panglima,' atau apa pun itu, sejauh Dia menjadi Yang Nomor Satu. Saya pernah membaca sebuah buku yang sangat tebal dan seluruh isinya mengupas tentang satu hal. Buku itu ditulis oleh seorang profesor teologi dari Skotlandia. Buku yang dia tulis itu berjudul Biblical Doctrine of the Reign of God ( Doktrin Alkitabiah tentang Kedaulatan Allah). Dia menguraikan dari bagian awal Alkitab sampai ke bagian akhirnya, dari Kejadian sampai Wahyu, satu kebenaran utama tentang Allah: Allah itu Raja. Entah Anda suka atau tidak, tidak jadi masalah. Anda mungkin tidak menyukainya, mungkin membenci kebenaran tersebut, Anda mungkin berkata, "Aku tidak percaya. Aku muak. Aku tidak mau mendengarkannya," hal ini tidak mengubah apapun; memang seperti itulah yang diajarkan Alkitab. Allah yang menentukan apa yang akan terjadi pada hidup Anda. Itu sebabnya saya mengutipkan apa yang ada di dalam Yakobus 2:8, tentang hukum dari Raja yang Yakobus bicarakan. Orang bijak adalah orang yang taat pada hukum dari Raja. Dan kedaulatan Sang Raja ini bukanlah sesuatu yang berat untuk ditanggung, karena Alkitab secara konstan mengajarkan kita bahwa Dia memanggil kita untuk masuk ke dalam persahabatan dengan-Nya, untuk menjadi sahabat Raja. Saya tidak begitu berminat untuk mengetahui apakah seseorang itu raja atau bukan. Yang saya minati adalah satu hal, raja macam apakah dia itu? Orang macam apakah dia itu? Saya adalah orang yang
bertumbuh dalam kekuasaan. Saya pikir saya bisa dengan aman mengatakan
bahwa tak seorang pun di dalam ruangan ini yang mengenal kekuasaan
sebagaimana yang pernah saya kenal. Anda tahu, ayah saya memegang
jabatan yang sangat tinggi di pemerintahan Saya tahu bagaimana rasanya hidup dalam kekuasaan. Saya tahu bagaimana rasanya berbicara dengan jenderal atau menteri ini dan itu, bahkan sejak saya masih kecil. Duta besar dari berbagai negara kerap menjadi tamu di rumah kami. Duta besar Amerika yang terkenal, Leighton Stewart, adalah sahabat baik ayah saya, dan dia sering berkunjung ke rumah kami. Saya masih ingat pada suatu waktu, ketika dia berkunjung, dia adalah orang yang sangat tinggi, mungkin setinggi Profesor Clark Pinnock, lalu dia masuk dan berbicara dengan saya, dan dia berkata, "Tahukah kamu siapa nama-ku? Namaku adalah Leighton. Maukah kamu ingat pada Leighton?" Saya berkata, "Baik, aku akan mengingatmu, Leighton." Saat itu saya tidak tahu bahwa dia adalah duta besar Amerika Serikat. Dia berkata, "Ingatlah selalu padaku, maukah kamu melakukannya?" Saya menjawab, "Akan ku-coba." Demikianlah, saya sudah memenuhi janji saya: saya selalu ingat padanya. Anda bisa lihat namanya di dalam buku-buku sejarah. Saya tahu apa itu
kekuasaan; saya pernah bergaul dengan para penguasa. Saya pikir Allah
punya tujuan tertentu dengan semua pengalaman ini. Saya pikir, karena
pengalaman ini, saya jadi tidak takut pada manusia dari kalangan manapun,
saya tidak peduli siapapun mereka. Saat kami ikut jamuan makan malam
Kabinet China, dan saya menjadi orang yang sangat berguna di sana karena
para politikus itu tetaplah politikus; dalam jamuan itu sering muncul
masalah, yaitu masalah tentang siapa yang akan diminta untuk duduk (di
meja makan yang agak kecil) di sebelah kanan Wakil Perdana Menteri China
saat itu. Yang menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri saat itu adalah
Wang Yun Wu. Tentu saja, jika menempatkan Menteri Pertahanan di kursi
sebelah kanan itu, maka Menteri Ekonomi akan tersinggung. Demikianlah,
para menteri ini menilai kedudukan mereka berdasarkan siapa yang akan
duduk di sebelah kanan Perdana Menteri - perhatikan bahwa Alkitab juga
berbicara tentang hal sebelah kanan ini. Masalah ini bisa dipecahkan;
mereka meminta saya yang duduk di Jika saya berpikir
tentang Allah, jika saya menyebut, "Raja" yang saya bayangkan bukanlah
seseorang yang mengenakan semacam jubah yang menjuntai ke bawah. Saya
tidak tertarik pada pakaiannya; yang ingin saya ketahui adalah Pribadi
macam apakah Dia? Saya ingin memberitahu Anda bahwa bagi saya, mengenal
Allah sebagai Raja berarti mengenal Dia sebagai Pribadi yang hidup
kepada siapa saya bisa berbicara setiap harinya, saya bisa bersekutu
dengan Dia, dan saya bisa mengucap syukur padanya akan hal-hal yang
indah. Saya bisa berkata, "Ya Allah, sungguh menakjubkan Engkau!" Itulah
Allah - dari sisi kepribadian-Nya, bukan jabatan-Nya. Kenalkah Anda akan
Allah yang ini? Apakah Anda mengenal Allah yang ini sebagai Sahabat?
Bagi saya, saya tidak peduli apakah Anda berteman dengan seorang perdana
menteri atau duta besar, itu semua bukan hal yang relevan bagi saya;
saya tidak tertarik dengan itu semua. Saya bahkan tidak paham mengapa
mereka semua ingin berteman dengan saya, karena sesuatu hal, mereka
tampaknya tertarik pada saya dan saya masih tidak mengerti mengapa hal
itu bisa terjadi. Di London, ada seorang jenderal yang datang pada saya
dan ingin berteman dengan saya; saya tidak tahu mengapa; orang ini cukup
tua untuk menjadi kakek saya. Bagi beberapa orang, mereka pikir berteman
dengan seorang jenderal adalah hal yang sangat hebat! Sebenarnya, saya
punya dua teman jenderal di Saya tidak tertarik pada jenderal dan Perdana Menteri, dan saya berkata sejujurnya. Namun saya ingin mengasihi para saudara dan saudari yang terkecil, sebagaimana yang Allah lakukan. Yesus, Raja segala raja, tertarik pada pengemis yang buta. Apakah Anda juga demikian? Itu sebabnya saya berkata kepada Anda, Dia berbeda dengan para pemimpin berbagai bangsa. Dia sangat berbeda. Kepribadian-Nya sangat berbeda. Kita pernah membaca tentang Ceausescu di Rumania, tentang kebusukan, korupsi dan kebrutalan dari orang ini. Saya beritahu Anda mengapa saya tidak tertarik pada orang-orang semacam ini: karena manusia itu terlalu kecil untuk menjadi besar. Mereka tidak cukup besar untuk bisa menampung beban kekuasaan sambil menjaga kemurniannya. Mereka menjadi angkuh, sombong dan korup. Akan tetapi Raja dan Allah saya tetap menjadi Sahabat bagi mereka yang lemah dan rendah. Saya ingin mengajukan pertanyaan ini kepada saudara: Kenalkah Anda dengan Raja yang ini? Jika tidak, apakah Anda ingin mengenal Dia? Apakah Anda ingin membangun kehidupan berlandaskan Dia, yaitu Batu Karang yang tak akan pernah berubah? Mengenal Allah yang hidup lewat kata ini: R-O-Y-A-L Sebagai penutup, saya ingin memberi Anda prinsip hukum raja (royal law) yang akan saya bahas secara lebih lengkap di pesan berikutnya. Untuk membantu Anda mengingatnya, saya akan memberi Anda cara mengingat yang didasari oleh kata 'royal'. Kata 'royal' adalah kunci yang ingin saya berikan pada Anda untuk mengingat tentang cara untuk menjalin hubungan dengan Allah yang hidup. Anda telah menerima kesempatan yang istimewa. Seluruh dunia, bahkan sebagian besar gereja, telah menolak Allah, dan mungkin bisa saya katakan khususnya Gereja. Saya akan membahas hal ini secara lebih mendalam di pesan yang berikutnya. Mengapa saya katakan bahwa Anda memperoleh kesempatan istimewa? Karena Allah sekarang ini hanya memiliki sedikit sahabat. Mengapa Allah hanya memiliki sedikit sahabat? Karena semua orang ingin pergi dan mengerjakan kehendaknya sendiri, mereka tidak menginginkan Allah sebagai Raja. Ketika mereka menyalibkan Yesus, mereka berkata, "Kami tidak mau Orang ini menjadi Raja atas kami. Kami tidak menghendaki Orang ini sebagai Raja." Tahukah Anda apa artinya pernyataan itu? Hal itu membuat kesempatan kita untuk menjadi sahabat-Nya jadi sangat mudah, karena hanya ada sedikit sahabat-Nya. Saya ingin menjadi salah satu sahabat-Nya, saya berharap untuk boleh duduk di kaki meja, di tempat yang paling rendah di kaki-Nya, karena saya telah melihat keindahan wajah-Nya. Kata 'royal' di dalam royal law (hukum raja) dieja r-o-y-a-l. Huruf 'r' untuk kata 'repentance (pertobatan)'. Huruf yang kedua, yaitu 'o' untuk kata 'obedience (ketaatan)'. Huruf yang ketiga 'y', untuk kata 'yoked (memikul kuk)'. Huruf keempat 'a' untuk kata 'absolute (mutlak)' Dan huruf yang terakhir 'l' untuk kata 'launch (berangkat)'. Di pesan yang berikutnya, saya akan membahas kelima huruf tersebut, karena jika Anda bisa menangkap maknanya, maka Anda akan mampu membangun kehidupan Anda di atas Batu Karang yang tidak akan bergeser. -Selesai- |
Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.
Lain-Lain: - Apa Akar dari Penyakit Tidak Percaya? - Ia Bukanlah Allah Orang Mati, Tetapi Allah Orang Hidup - "Yesus, Tanda Yang Menimbulkan Perbantahan" (Sebuah Pesan Natal) - Bagaimana Seharusnya Hubungan di antara Sesama Jemaat? |
|||||
|
Copyright 2003-2012. Semua materi di situs ini
adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries. |
|||||||