| Saran & Komentar | updated on 30 March 2012

Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan

Halaman Utama

  |  Tentang Kami

  |  Hubungi Kami

  |  Izin Pemakaian Materi 

  |  Dapatkan Buletin Gratis di sini! 

Sumber Damai

Khotbah/PA


Inspirasi

Artikel/Renungan

Kesaksian Hidup


Pelatihan

Discipleship Trainings


Lain-Lain...

Buku-buku Terbitan 

Lagu dan Film 

Bible Study (P.A)

Siaran Mandarin

Buletin Gratis!

Follow Us


BACA ONLINE


KATA PENGANTAR

Keselamatan & Pencobaan (Studi tentang Yudas)
(Bagian kesepuluh studi sistematis mengenai pokok keselamatan)

oleh Pendeta Eric Chang

Saat saya mendengarkan pemimpin pujian menyanyikan lagu yang berjudul, "Yield Not To Temptation (Jangan Serahkan Kami Ke Dalam Pencobaan)" saya agak terkejut. Bagaimana dia bisa tahu bahwa saya akan berkhotbah tentang pencobaan hari ini. Bahkan penerjemah saya tidak tahu apa topik saya hari ini. Sungguh ajaib cara kerja Allah! Kita memang benar-benar melayani Allah yang hidup!

Hal apakah yang ingin diajarkan oleh Allah kepada kita melalui Yudas?

Di pembahasan kita yang lalu, kita telah melihat pentingnya ketekunan; pentingnya bertahan sampai pada kesudahannya jika kita ingin diselamatkan. Di bagian yang kesepuluh dari pembahasan kita tentang keselamatan, kita akan membahas tentang pencobaan yang merupakan 'ancaman yang sangat besar', bahaya yang mengancam keteguhan kita. Saya tidak akan membahas pencobaan secara umum, tapi tentang pencobaan yang bisa berakibat fatal bagi kita. Dan saya akan memberikan gambaran tentang betapa berbahayanya pencobaan melalui contoh seorang Yudas, yang mengalami kejatuhan yang mengerikan di dalam pencobaan. Saya ingin menunjukkan mengapa Allah menyajikan hal tentang Yudas di dalam Alkitab.

Dulu sebagai orang Kristen yang masih baru, penyebutan nama Yudas saja sudah menimbulkan rasa muak di hati saya. Saya tidak mau mendengar nama itu. Namun sekarang saya mengerti bahwa Allah menaruh catatan tentang Yudas untuk memberi kita satu pelajaran yang sangat penting. Kita harus menghadapi fakta keberadaan Yudas dan bertanya, "Apa yang mau Allah ajarkan kepada kita melalui kasus Yudas ini? Peringatan apakah yang ingin Dia sampaikan kepada gereja secara keseluruhan?"

Berdoa: "Bapa... janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat."

Dari bagian awal dari pengajaran Yesus, dia sudah mengajarkan murid-muridnya berdoa seperti berikut: "...janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat." (Mat 6.13) Di dalam kehidupan Kristen Anda, seberapa sering Anda memanjatkan doa ini? Saya ragu apakah Anda sering memanjatkan doa yang isinya seperti ini karena Anda telah diberitahu bahwa begitu Anda diselamatkan, maka Anda akan terus selamat. Tak akan ada bahaya yang mampu mendekati Anda. Anda tidak akan tersesat, jadi, buat apa repot-repot mengucapkan, "Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan"? Tidaklah penting memanjatkan doa semacam itu.

Apakah gunanya mengajari murid-murid - yang telah meninggalkan segala sesuatunya demi mengikut Yesus - untuk berkata, "Lepaskanlah kami dari yang jahat"? Seharusnya mereka itu sudah dilepaskan dari yang jahat. Kita mengira bahwa karena kita ini sudah diselamatkan, kita sudah dilepaskan dari yang jahat, maka kita tidak perlu kuatir lagi pada yang jahat. Betapa besar keberhasilan Iblis dalam membutakan mata begitu banyak angkatan orang Kristen. Melalui para pengajar di gereja, mereka meyakinkan kita dengan kata-kata, "Jangan kuatir. Kamu akan baik-baik saja. Tak ada bahaya yang mengancam kamu. Kamu tidak perlu kuatir akan Iblis. Iblis tidak perlu dipedulikan lagi." Kata yang digunakan oleh Yesus adalah kata 'lepaskanlah', yang di dalam bahasa Yunaninya memakai bentuk present continuous (bentuk sekarang yang berkelanjutan), yang memberi arti: "Lepaskanlah saya selalu dari yang jahat. Teruslah membebaskan saya dari yang jahat, sampai saya benar-benar selamat di hadapanMu, ya Tuhan." Si Jahat masih belum dimusnahkan di dunia ini. Kejahatan adalah realitas yang sangat menakutkan. Dan setiap saat, kejahatan itu mengintai kita. Sangatlah bodoh jika ada orang yang mengira dia aman.

"Janganlah bawa kami ke dalam pencobaan"

1. "Tuhan, bawalah saya masuk ke dalam pencobaan."

Berkenaan dengan tema doa ini, hanya ada tiga macam bentuk doa yang bisa Anda panjatkan. Anda bisa saja berdoa, "Tuhan, bawalah saya ke dalam pencobaan. Saya kuat. Saya ingin masuk dalam peperangan rohani. Bawa saja saya. Dengan kasih karuniaMu, saya mampu menghadapinya." Ada beberapa orang Kristen yang merasa bahwa kehidupan mereka kurang berisi tantangan sehingga mereka membutuhkan beberapa pencobaan untuk menguatkan mereka, sehingga mereka berdoa, "Tuhan, bawalah saya ke dalam pencobaan." Saya kenal seorang gadis yang pernah memanjatkan doa semacam ini, dan akibatnya, dia nyaris saja kehilangan imannya. Pencobaan yang melandanya selama tiga belas bulan benar-benar nyaris menghancurkannya, pada akhirnya dia memohon kepada Tuhan untuk melepaskanya dari pencobaan tersebut. Dia tidak sanggup lagi menghadapinya. Da merasa bahwa dia perlu diperkuat, lalu berdoalah dia, "Berilah saya pencobaan supaya saya bisa menjadi kuat." Gadis yang bodoh! Saya tidak tahu apakah dia bisa benar-benar pulih dari pengalaman yang begitu dahsyat itu.

Di dalam dunia rohani, saudara-saudariku, jangan pernah mengucapkan sesuatu yang tidak Anda niatkan. Jika Anda mengucapkannya, hal itu akan terjadi tepat seperti yang Anda ucapkan. Sebelum Anda mulai duduk dan mengucapkan kata-kata Anda di dalam doa, pikirkan baik-baik hal-hal yang akan Anda ucapkan. Tujuannya adalah untuk menghindari munculnya pemikiran yang semacam ini, "Yesus masuk menghadapi pencobaan, mungkin aku juga perlu melakukan hal yang sama." Anda tidak boleh bepikir seperti itu. Dia datang untuk menyelamatkan dunia, untuk menghadapi pencobaan, dan untuk memenangkannya bagi kita. Sedangkan Anda, jangan dengan sengaja mencari pencobaan. Jadi, memanjatkan doa semacam, "Bawalah saya ke dalam pencobaan," jelas-jelas merupakan suatu kebodohan.

2. Jangan menyebutkan hal pencobaan sama sekali

Bentuk yang kedua adalah dengan tidak menyebutkan tentang pencobaan sama sekali, bersikap seolah-olah pencobaan itu tidak ada. Atau, sekalipun pencobaan itu ada, ia tidak menjadi ancaman bagi Anda. Sikap semacam inilah yang paling banyak dianut oleh orang Kristen sekarang. "Sekalipun pencobaan itu ada, mereka tidak banyak berdampak pada diri saya karena saya sudah diselamatkan. Apapun yang saya perbuat, dosa apapun yang saya perbuat, tidak akan jadi masalah. Jadi kita tidak perlu kuatir terhadap pencobaan." Ini adalah sikap bodoh yang lainnya! Ini adalah suatu kegagalan untuk melihat ancaman bahaya pencobaan. Bahaya ini bisa saja mengancam kehidupan jasmani atau bersifat mortal, dan pencobaan ini dirancang oleh Iblis untuk menjatuhkan serta membinasakan Anda. Saya pikir, alasan mengapa begitu banyak orang Kristen yang terlibat masalah dan sedikit sekali dari mereka yang mengacungkan tangannya di saat KKR bisa bertahan, adalah karena mereka tidak pernah berdoa, "Tuhan, lepaskanlah kami dari pencobaan."

3. Berdoa setiap saat: "Bapa...janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."

Hal yang perlu Anda perhatikan juga adalah bahwa Yesus mengajarkan para muridnya untuk memanjatkan doa yang dia ajarkan itu setiap saat. Dia berkata, "Setiap kali kamu berdoa, berdoalah seperti ini." Hari lepas hari, kita perlu berseru kepada Allah karena orang Kristen harus paham bahaya yang mengancam, yakni realitas dari pencobaan. Jadi, jika Anda berdoa, "...janganlah membawa kami ke dalam pencobaan," hal itu menunjukkan adanya hikmat rohani.

Mengapa Yesus memilih seorang pengkhianat menjadi muridnya?

Satu orang yang jelas-jelas tidak memanjatkan doa yang semacam ini adalah Yudas. Sambil kita melanjutkan, renungkan satu pertanyaan berkaitan dengan sosok Yudas. Bagian pertama dari pertanyaan itu adalah: Apakah Allah tahu bahwa Yudas akan menghianati Yesus? Tentu saja, sebagai Allah, Yahweh tentu tahu bahwa Yudas akan menghianati Yesus. Jika memang demikian halnya, selanjutnya muncullah pertanyaan yang kedua: Karena Allah sudah tahu bahwa Yudas akan menghianati Yesus, lalu mengapa Yudas masih terpilih menjadi salah satu dari 12 rasul? Pernahkah Anda mengajukan pertanyaan ini? Mengapa Yudas dipilih sebagai salah satu dari rasulnya - bukan sekadar seorang murid tetapi seorang rasul - menjadi bagian dari dua belas orang yang terpilih dari antara begitu banyak murid

Bagaimana Anda menjawab pertanyaan ini? Beberapa jawaban mungkin sudah bisa diduga. Jika Anda berkata, "Hal ini untuk menggenapi apa yang tertulis dalam Kitab Suci." Apakah jawaban ini memuaskan? Menjawab dengan cara ini tentunya akan membangkitkan beberapa pertanyaan lanjutan. Pertanyaan pertama: bagian Kitab Suci yang mana? Di bagian mana di dalam Kitab Suci bisa Anda temukan hal ini? Memang ada satu rujukan yang secara samar-samar menjelaskan tentang hal ini, yaitu di Maz 41:10. Ini adalah salah satu dari mazmur tulisan Daud: Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku. Di ayat ini, kita menemukan bahwa Daud sedang berbicara tentang seorang sahabat yang sangat dipercayainya - diungkapkan lewat istilah sahabat karib, orang yang sangat akrab di hati Daud - dan bahwa sahabat karib ini telah menghianatinya, ia mengangkat tumitnya terhadap Daud.

Mazmur 41 ini tidak termasuk jenis mazmur mesianik (bukan mazmur yang menubuatkan tentang kedatangan Mesias). Alasannya cukup jelas. Jika Anda perhatikan ayat 5, Anda akan tahu mengapa mazmur ini tidak tergolong mesianik. Orang yang berbicara di dalam mazmur ini berkata, "Kalau aku, kataku: 'TUHAN, kasihanilah aku, sembuhkanlah aku, sebab terhadap Engkaulah aku berdosa!'" Itu bukanlah ucapan yang akan terlontar dari mulut Kristus karena, tentu saja, Yesus tidak berbuat dosa. Oleh karena ini, Mazmur 41 tidak pernah digolongkan sebagai mazmur mesianik.

Mazmur ini berkenaan dengan pengalaman Daud, berkaitan dengan seorang sahabat dan penasehatnya yang bernama Ahitofel. Ahitofel adalah seorang penasehat yang berbalik menentang Daud dan mendukung pemberontakan salah satu anak Daud. Hal yang menyakitkan hati Daud adalah karena si penasehat ini adalah orang yang sangat karib dengannya. Pada akhirnya, Ahitofel - seperti yang bisa kita baca di dalam 2 Samuel 17:23 - melakukan hal yang sama dengan Yudas, yakni gantung diri. Jadi kita bisa melihat bahwa Mazmur 41 mengungkapkan isi hati Daud tentang penghianatan dari sahabat karib yang sangat dipercayainya. Hanya ayat-ayat ini di dalam Kitab Suci yang memberi rujukan mengenai penghianatan.

Jadi, ketika Yesus berkata akan menggenapi Kitab Suci, apakah dia mengaitkannya dengan ayat yang keterkaitannya agak jauh ini? Mungkin saja, namun yang lebih mungkin adalah dia merujuk pada penggenapan Kitab Suci bahwa dia akan mati bagi dosa dunia, bukan bahwa Yudas akan menghianati dia. Kematiannya bagi dosa dunia adalah hal yang dinubuatkan oleh Kitab Suci, dan peristiwa Yudas hanya merupakan salah satu bagian dari keseluruhan proses itu.

Kembali ke pertanyaan: Jika Allah tahu bahwa Yudas akan menghianati AnakNya, mengapa Dia masih mengizinkan Yudas untuk dipilih sebagai rasul? Ketika Yesus berdoa semalaman, tidakkah Yesus tahu bahwa dia telah memilih seorang pengkhianat? Jika kita periksa bukti-bukti alkitabiah, kita harus akui bahwa Yesus memang sudah tahu akan hal itu. Alkitab berulang kali mengatkan kepada kita bahwa Yesus tahu siapa yang dia pilih. Dan sebentar lagi kita akan melihat bukti-bukti tersebut. Namun, jika memang demikian halnya, persoalan kita menjadi lebih rumit lagi. Adakah jawaban bagi pertanyaan: Mengapa dia memilih orang ini? Mari kita luangkan sedikit waktu untuk merenungkan sejarah dan kehidupan Yudas. Di akhir penelusuran ini, saya tidak yakin apakah Anda akan sangat marah atau justru sangat kasihan kepada orang ini. Dan lebih dari itu, jika kita cermati sejarah gereja, Anda nanti akan melihat bahwa Yudas bukanlah satu-satunya pengkhianat di tengah jemaat.

Studi tentang sejarah dan kehidupan Yudas

1. Yudas meninggalkan segala-galanya untuk mengikut Yesus

Pertama-tama, hal yang perlu Anda amati sehubungan dengan Yudas adalah bahwa dia, sama seperti murid yang lainnya, telah meninggalkan segala-galanya untuk mengikut Yesus. Itu adalah tuntutan dasar yang ditetapkan oleh Yesus bagi semua muridnya, hal yang bisa Anda baca di dalam semua catatan Injil. Dia telah meninggalkan rumah, keluarga, apapun yang dia miliki, dan mengikut Yesus. Renungkan baik-baik hal tersebut. Dan terhadap orang yang bersedia melakukan hal tersebut, bukankah itu merupakan suatu bukti bahwa dia pasti memiliki iman dalam tingkatan tertentu kepada Yesus? Saya tidak akan membahas seberapa besar atau seberapa kecil, yang jelas dia memang memiliki iman tersebut, dan tak perlu diragukan lagi, dia memang memiliki iman kepada Yesus, yang membuat dia rela meninggalkan segalanya demi mengikut Yesus.

2. Yudas dipilih langsung oleh Yesus

Hal kedua mengenai Yudas adalah, sama seperti orang Kristen lainnya, dia adalah orang yang terpanggil dan terpilih.  Dan dia adalah orang yang secara pribadi dipanggil dan dipilih secara langsung oleh Yesus - yang ini berbeda dengan kebanyakan orang Kristen lainnya. Istilah 'dipanggil' dan 'dipilih' berlaku pada setiap orang Kristen secara umum, akan tetapi panggilan dan pilihan terhadap Yudas, seperti juga terhadap para rasul yang lain, berlaku secara khusus.

3. Allah memberikan Yudas kepada Yesus dan Yudas terhilang

Hal ketiga adalah sebagai berikut. Di Yoh 17:1-11, Yesus beberapa kali (di ayat 2, 6 dan 9) - berbicara tentang mereka yang telah diberikan oleh Allah kepadanya, dan ini tentunya termasuk Yudas. Lalu Yesus berkata di ayat 12: "Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci." Sampai dengan titik itu, Yesus telah memelihara dan menjaga mereka yang diberikan oleh Bapa kepadanya [dan tidak ada dari antara mereka yang binasa] kecuali satu orang, yakni Yudas. Hal yang perlu diperhatikan juga adalah bahwa kalimat ini berbentuk past tense (bentuk lampau). Dia tidak berkata, "Aku tidak akan kehilangan satu orang pun nanti." Dia berkata, "Aku tidak kehilangan satu pun - sampai dengan saat ini - kecuali Yudas." Demikianlah, poin ketiga yang berkenaan dengan Yudas adalah dia juga diberikan kepada Yesus, namun dia binasa.

4. Yudas adalah saksi mata akan hal-hal yang telah dikerjakan oleh Yesus

Sama seperti rasul-rasul yang lainnya, Yudas adalah saksi mata akan hal-hal yang telah dikerjakan oleh Yesus. Dia telah melihat mukjizat-mukjizat luar biasa yang telah dibuat oleh Yesus. Dia melihat orang sakit yang disembuhkan dan orang mati yang dibangkitkan; dia telah melihat segalanya. Hal ini memberitahu kita bahwa sekalipun Anda telah mengalami hal-hal ajaib yang dikerjakan oleh Allah bagi Anda di masa lalu, hal itu bukanlah suatu jaminan bagi keselamatan Anda nantinya. Fakta bahwa Anda memiliki pengalaman rohani yang indah di masa lalu bukanlah jaminan bagi keselamatan Anda di dalam menghadapi pencobaan. Bahkan rasul Paulus yang hebat itu berharap agar dia tidak sendiri tidak jatuh. Rasul Paulus tahu persis makna rohani dari pokok ini. Inilah sebabnya mengapa dia menjadi seorang rasul yang besar; dia memiliki pemahaman yang sangat mendalam terhadap kebenaran-kebenaran rohaniah.

Yesus tidak dengan sengaja memilih seorang pengkhianat - Yudas memulai dengan baik

Yudas adalah bendahara dari rombongan murid-murid ini. Hal ini menunjukkan sampai seberapa jauh dia mendapat kepercayaan dari murid-murid yang lain dan juga oleh Yesus. Maksud saya, jika Anda mempercayakan uang Anda di tangan orang lain, Anda tentu melakukannya karena Anda mempercayai orang tersebut. Demikianlah, hal ini mengingatkan kita pada Mazmur 41:10, "... sahabat karibku yang kupercayai." Kita juga tidak boleh beranggapan bahwa para murid telah salah dalam menaruh kepercayaan mereka kepada Yudas. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa Yudas mengawali langkahnya dengan sangat baik. Untuk bisa memahami Yudas, Anda harus mengerti hal ini dengan jelas. Dia tidak langsung memulai sebagai seorang pengkhianat. Jika seseorang mencintai uang, maka dia tidak akan mau meninggalkan segala-galanya demi menjadi murid Yesus; tak ada uang di sana. Yudas tidak memulai sebagai seorang pecinta uang. Pergi mengikut Yesus bukanlah pilihan untuk mendapatkan uang. Hal yang perlu diingat adalah bahwa ketika Yesus pertama kali memilih Yudas, saat itu Yudas adalah murid yang sangat baik. Yesus tidak secara sengaja memilih seorang pengkhianat, sekalipun tidak bisa disangkal bahwa dia tentunya tahu apa yang akan terjadi nanti.

Akan tetapi apakah ini sebuah upaya untuk menyelamatkan seseorang, suatu usaha dan cara terakhir untuk menyelamatkan jiwa seseorang, yang jika tidak dilakukan mungkin akan membuat orang itu tidak memiliki peluang sama sekali? Mungkinkah ini karena orang tersebut termasuk jenis orang yang paling sukar untuk diselamatkan, yang untuk alasan itu maka Yesus memberinya peluang yang terbaik untuk diselamatkan? Jika memang demikian halnya, maka hal ini membuka mata kita akan isi hati Yesus - akan kasihnya, tekadnya untuk menyelamatkan - bahkan - orang yang tampaknya sama sekali tidak punya harapan. Sudah tentu, kita juga menemukan satu hal lain, bahwa sampai pada saat-saat yang terakhir, Yesus memperlakukan Yudas dengan tingkat kelembutan, kesabaran dan kasih yang luar biasa. Kita melihat dia menegur Petrus dengan sangat keras di Matius pasal 16, namun tak pernah kita mendengar dia menegur Yudas. Dia tahu siapa yang tahan [terhadap teguran keras] dan siapa yang tidak tahan. Itu mungkin merupakan sebagian dari jawabannya, namun tetap saja belum menjawab secara tuntas, masih menyisakan pertanyaan: Yesus, dengan kemampuannya untuk menilai secara jelas, tentunya tahu bahwa sekalipun semua usaha itu dilakukan, Yudas tetap tidak akan bisa diselamatkan. Tentu saja, ini bukanlah alasan yang harus membuat seseorang batal berusaha. Dan tentunya, ktia bisa katakan bahwa Yesus tetap mengusahakannya, dan itu merupakan salah satu dari motifnya.

Jadi, kita melihat bahwa Yudas memulai langkahnya dengan baik, namun dia mengakhirinya dengan buruk. Atau, jika Anda ingin memakai ungkapan dari Paulus, "Dia memulai di dalam Roh namun mengakhirinya di dalam daging." Itulah ucapan yang disampaikan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Gal 3:3. Mereka sudah memulai dengan baik; namun mereka mengakhirinya dengan buruk. "Dahulu kamu berlomba dengan baik. Siapakah yang menghalang-halangi kamu, sehingga kamu tidak menuruti kebenaran lagi?" (Gal 5:7). Dalam waktu yang secara relatif singkat, jemaat di Galatia telah berpaling dari Allah dan dari kasih karuniaNya, berpaling dari Dia yang telah memanggil mereka. Anda bisa temukan uraian ini di dalam Gal 1:6. Anda lihat, jadi bukan hanya Yudas yang telah berpaling; jemaat di Galatia juga melakukan hal yang sama. Mereka jatuh ke dalam pencobaan.

Titik balik dalam kehidupan Yudas

Di manakah letak titik balik dalam kehidupan Yudas? Jika kita teliti secara cermat isi Kitab Suci, kita bisa melihat titik baliknya. Nampaknya, di sekitar dua tahun awal, Yudas menjalaninya dengan baik. Namun selanjutnya, kita ingat adanya peristiwa besar di mana Yesus memberi makan 5.000 orang. Dan setelah orang-orang itu diberi makan, mereka menjadi sangat bersemangat untuk mendukung Yesus, karena rabi yang satu ini bukan sekadar bisa memberi mereka Firman Allah, yakni roti hidup, tetapi dia juga bisa memberi mereka makanan jasmani! Anda tidak akan bisa menemukan yang lebih unggul dari ini! Demikianlah, dampak dari pemberian makan kepada lima ribu orang tersebut (Yoh 6:15) adalah bahwa mereka ingin mengangkat Yesus menjadi raja! Bagi setiap orang yang membawa ambisi duniawi, ini jelas merupakan kesempatan yang sangat baik. Ada ribuan orang yang mau memproklamirkan Anda sebagai raja. Itu akan menjadi hari besar buat Anda. Orang-orang Galilea selalu siap untuk berperang. Yang perlu Yesus katakan hanyalah, "Siapkan pedangmu dan kita akan berperang! Kita akan mendirikan Kerajaan Allah dengan ujung pedang! Hari bagi Kerajaan Allah sudah tiba!" Akan tetapi Yesus tidak mau mengikuti hal yang semacam itu. Dia datang bukan untuk kerajaan duniawi. Dia datang untuk mendirikan Kerajaan Allah tanpa pedang. Dia datang bukan untuk takhta melainkan untuk salib. Suatu hari nanti, dia memang akan mendirikan takhta itu, namun yang pertama adalah salib dulu.

Jika Anda baca bagian ini, di sinilah titik di mana para murid menjadi kecewa. Siapa yang tidak senang melihat gurunya ditinggikan? Para murid sudah berangan-angan tentang hal itu. "Kalau Yesus menjadi Raja, kamu akan jadi perdana menteri. Aku akan menjadi perdana menteri atau mungkin menteri keuangan, atau mungkin menteri luar negeri." Ah, mereka bersemangat menantikan sat-saat tersebut! "Orang banyak ini mendukungmu. Ini adalah harimu, kesempatanmu!" Namun Yesus tidak akan memanfaatkannya. Apakah reaksi dari para murid? Kekecewaan yang sangat hebat! "Mengapa? Mengapa engkau mencampakkan kesempatan emas ini? Di saat aku berpikir bahwa kesempatanku untuk menjadi perdana menteri cukup terbuka, engkau justru membuyarkan semua itu." Itu sebabnya jika Anda baca di Yohanes pasal 6, Anda akan menemukan di dalam ayat 66 tentang banyaknya murid yang meningglkan Yesus. Segenap pembicaraan di Yohanes pasal 6 ini adalah pemberitahuan kepada para murid, "Tidakkah kalian mengerti? Aku datang ke bumi ini bukan untuk menjadi raja duniawi. Aku datang untuk mati, untuk menyerahkan tubuhku sebagai makanan bagi kehidupan rohani dunia ini." Namun justru hal ini yang tidak mereka pahami, padahal mereka adalah murid-murid yang juga mendengarkan ucapannya, "Barangsiapa ingin mengikut aku, ia harus memikul salibnya." Tampaknya ucapan yang satu ini juga mereka salah pahami. Karena mereka mungkin berpikir bahwa makna ucapan tersebut adalah, "Lihat, kita akan memerangi pemerintah Roma. Jadi, kalau kamu ingin mengikut Aku, ada kemungkinan bahwa kamu akan disalibkan," karena memang itulah cara pemerintah Roma menghantam musuh-musuhnya. Demikianlah, bahkan ajaran yang rohani dari Yesus diartikan secara jasmani oleh mereka.

Namun tentu saja, ini bukanlah kali pertama gereja kurang memiliki pemahaman rohani. Pada abad pertengahan dulu, muncul pasukan perang salib yang mengibarkan bendera salib dan pergi menyeberang untuk memerangi kaum Muslim dengan pedang. Mereka bersedia mati bagi Kristus. Para prajurit perang salib ini berangkat dengan membawa panji-panji merah berlambang salib, dan tentu saja, mereka berhasil mendesak pasukan muslim. Dan mereka memang bertempur dengan keberanian yang luar biasa, seringkali mereka berada dalam keadaan kalah jumlah, namun tetap saja bisa menang. Orang-orang yang berniat baik namun salah arah ini, semuanya mengira bahwa mereka mati untuk Kristus. Periode tersebut akhirnya menjadi babak sejarah gereja yang membuat malu orang Kristen. Sangat sukar bagi kita untuk berbangga pada kemenangan para prajurit perang salib tersebut, karena Yesus berkata, "Kamu tidak boleh memperluas Kerajaan Allah dengan pedang."

Para pengajar dan para hamba Tuhan di zaman itu, harus memberikan pertanggungjawaban yang besar karena telah menyesatkan puluhan ribu orang. Sebenarnya, mereka bahkan telah menyesatkan segenap generasi tersebut. Banyak pengajar di zaman itu yang akan harus memberikan pertanggungjawaban atas kelakuan generasi tersebut. Jangan terlalu bersemangat untuk menjadi seorang pengajar; bebannya sangatlah besar karena Anda harus mempertanggungjawabkan dampak pengajaran Anda di hadapan Allah. Tak heran jika Paulus, ketika memberitakan Injil ke Korintus, dia berkata, "Aku memberitakan Injil kepadamu dengan takut dan gentar"! Saya tidak tahu ada berapa banyak hamba Tuhan yang memberitakan Injil dengan rasa tanggung jawab sebesar itu di zaman sekarang ini. Inilah saatnya bagi para hamba Tuhan untuk memahami rasa tanggung jawab, rasa takut akan Tuhan.

Demikianlah, kita mendapati bahwa para murid ini merasa bahwa ajaran ini sangat sulit dicerna; bahwa Yesus tidak mau menjadi raja duniawi tetapi dia datang untuk memberikan nyawanya bagi dunia. Bahkan rasul Petrus juga mendapati bahwa ajaran ini sulit diterima. Itulah sebabnya dia, di Mat 16:22-23, berkata, "Hal itu tidak akan terjadi padaMu, Tuhan, Engkau tidak akan disalibkan."Dan untuk jerih payahnya ini, dia mendapat teguran yang sangat keras. Dia dihardik sebagai setan, "Enyahlah iblis!"

Sambil kita tetap pusatkan perhatian pada Yohanes pasal 6, jika Anda telusuri lebih jauh, Anda akan menemukan titik balik Yudas. Banyak dari antara para murid itu yang meninggalkan Yesus. Yudas tidak pergi, akan tetapi hatinya telah berpaling. Yesus menanyakan kepada murid-murid yang lain apakah mereka ingin pergi juga. Para rasul, untuk saat itu, memutuskan untuk tetap bersama dengan Yesus, akan tetapi hati Yudas telah berpaling. Itulah sebabnya Yesus secara tiba-tiba membuat penegasan, di ayat 70-71: Jawab Yesus kepada mereka - perhatikan bahwa kata 'jawab' ini berkenaan dengan pokok pembicaraan sebelumnya - : "Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis." Dan ayat 71 memberitahu kita: Yang dimaksudkan-Nya ialah Yudas. Teguran yang tidak ditujukan secara terbuka itu tidak lebih keras dibandingkan dengan teguran terhadap Petrus yang ditegur sebagai Iblis, "Enyahlah iblis." Dan kata 'iblis' ini bermakna sama dengan 'Satan'. [Kata 'iblis' diterjemahkan dari istilah bahasa Yunani; kata 'Satan' diterjemahkan dari istilah bahasa Ibrani.] Tidak ada perbedaan antara keduanya. Di sini, kita bisa melihat terjadinya titik balik di dalam riwayat kerohanian Yudas.

Perubahan hati dan pikiran Yudas terlihat dari kegiatannya mencuri

Tentu saja, jika hati seseorang sudah berubah, jalan pikirannya akan ikut berubah juga. Selama dua tahun, dia telah mengikut Yesus, dan dia telah menjalaninya dengan cukup baik. Dia bahkan mengalami kuasa Allah di dalam hidupnya. Anda ingat, seperti yang tertulis di dalam Matius pasal 10, bersama dengan kesebelas rasul yang lain, dia diutus untuk mengusir setan-setan. Yesus mengutus kedua belas orang itu, bukan hanya sebelas yang diutusnya; mereka semuanya berangkat! Mereka semua memberitakan Injil, mengusir setan, menyembuhkan orang sakit. Bahkan Yudas juga telah mengusir setan, hal yang semakin membuktikan bahwa Yudas memulai langkahnya dengan sangat baik. Pada titik ini, Yudas jelaslah bukan iblis. Jika tidak, Anda tentunya akan menghadapi kasus di mana setan mengusir setan, dan hal itu adalah perkara yang mustahil, sebagaimana yang dijelaskan di dalam Matius 12:26. Namun sekarang, setelah dua tahun berlalu, hatinya berubah, dan dengan demikian jalan pikriannya juga ikut berubah. Dan sejak saat itu, perilakunya menjadi lebih mudah diduga.

Hal apakah yang mulai diperbuatnya? Dia mulai mengambil uang dari kas umum dan memasukkannya ke kantong pribadi. Dia menjadi pencuri, hal bisa kita lihat di dalamYoh 12:5-6. Dia telah mulai mementingkan dirinya sendiri. Dosa berawal dari hal-hal yang kecil. Dan dia mungkin membenarkan dirinya, setiap orang berdosa akan berupaya membenarkan tindakan mereka. Hal yang paling mengerikan adalah orang berdosa yang berusaha membenarkan dirinya. Yudas mungkin berkata pada dirinya sendiri, "Tolong diperhatikan. Aku sudah meninggalkan segala-galanya untuk mengikut Yesus, bukankah begitu? Jadi, kalau aku mengambil sejumlah uang dari kas umum, tentunya aku berhak untuk itu." Di sini, kita bisa melihat bahwa begitu dia mulai berpikir seperti ini: "Nah, aku sudah meninggalkan segala-galanya demi mengikut Yesus. Mengapa aku tidak bisa memperhatikan kepentinganku dengan uang milik gereja? Lagi pula, aku ini sedang melayani Tuhan," [dia mulai jatuh ke dalam pencobaan.]

Dan Anda tahu bahwa memang ada beberapa pendeta yang berbuat seperti ini, yang mengira bahwa karena mereka adalah pendeta, dengan demikian, tentunya ikut berhak atas dana milik gereja. "Lagi pula, aku telah meninggalkan..." - apapun yang telah mereka tinggalkan demi mengikut Tuhan. Begitu Anda mulai berpikir seperti ini, berarti Anda mulai jatuh ke dalam pencobaan. Anda masuk ke dalam jalur menuju kebinasaan rohani!

Dari tahapan tersebut, satu langkah yang kecil saja yang akan membawa Yudas pada langkah berikutnya. "Ini semua gara-gara Yesus yang membuat aku kehilangan segala-galanya. Jadi, untuk menyeimbangkan semuanya itu, caranya adalah dengan menjual Yesus dan mendapatkan uang yang tiga puluh keping itu. Ini akan menjadi kompensasi yang memadai." Anda bisa lihat perkembangan logikanya; semua berjalan secara natural. Tindakannya menjadi lebih mudah untuk diduga. "Yesus telah membuatku jadi begini. Gara-gara ajarannyalah aku sampai meninggalkan segala-galanya. Aku menyesal telah melakukan semua ini, dan jalan untuk mendapatkan kembali apa yang telah hilang dariku adalah dengan menjual Yesus." Hal yang sangat jelas, sangat logis. Anda lihat, begitu mulai terpeleset, sangatlah sukar untuk berhenti.

Pencobaan - jebakan/perangkap yang seharusnya tidak kita 'masuki'

Hal ini membawa saya kembali kepada poin mengenai pencobaan. Ketika Yesus mengajari kita untuk berdoa, "...janganlah membawa kami ke dalam pencobaan," Dia tidak bermaksud mengatakan bahwa kita bisa menghindari pencobaan di dunia ini. Pencobaan ada di sekitar kita. Semuanya akan datang untuk menjatuhkan kita secara rohani. Tak ada jalan untuk lolos, hal yang disampaikan oleh rasul Petrus sendiri di 1 Petrus 1:6 dan juga ada di dalam Yak 1:2. Pencobaan-pencobaan itu harus dihadapi dengan teguh. Semua itu adalah pencobaan yang harus Anda lawan. Anda tidak bisa melarikan diri dari pencobaan. Kita ada di tengah peperangan rohani. Kita harus berdiri teguh dan menghadapi pencobaan. Tidak terkena pencobaan bukanlah hal yang dibahas di sini. Doa ini bukan supaya kita bisa luput dari pencobaan melainkan supaya kita tidak masuk ke dalam pencobaan. Perhatikan baik-baik perkataan Yesus: "Jangan masuk ke dalam pencobaan." Jangan jatuh ke dalamnya.

Di sini, kita melihat bahwa pencobaan itu digambarkan sebagai jebakan, dan jebakan itu berisi umpan yang mengundang Anda, "Ayo, ayo." Seekor hewan tidak begitu saja masuk ke dalam perangkap. Ada umpan yang ditaruh di sana yang membuat jebakan itu menjadi sangat menarik - terlihat enak! Tak ada orang yang akan jatuh ke dalam dosa jika dosa itu terlihat buruk. Pokok yang penting mengenai dosa adalah bahwa dosa itu tampil sangat menarik. Ada umpan di dalamnya. Anda lihat, jika seseorang hendak menangkap macan tutul, dia akan segera memasang jebakan. Diikatnya seekor kambing di dalam jebakan sebagai umpan. Tak ada macan tutul yang mau begitu saja masuk ke dalam jebakan. Namun ketika macan ini melihat ada kambing di sana, ah, nafsu makannya bangkit! Air liurnya mulai menetes. Macan tutul adalah hewan yang sangat cerdik. Dia mencium bekas jejak kaki di sana. Dia tahu ada sesuatu yang tidak beres di sana. Dia tahu tanah di sekitar situ menunjukkan bekas jejak-jejak kaki. Dia mengendus aroma di sekitar tempat itu; dia menatap ke sekeliling, lalu berkata kepada dirinya sendiri, "Ada yang tidak beres di sini." Tiba-tiba saja, dia merasa seperti ada bahaya yang mengancam. Alasan mengapa saya memakai macan tutul sebagai contoh adalah karena hewan ini sangat cerdik dan waspada. Namun pada akhirnya, Anda tahu, umpan itu mengalahkan kesadarannya terhadap bahaya. Umpan itu mengalahkan kewaspadaan dan kesiagaannya. Macan tutul ini mulai ceroboh. Perhatikanlah, macan tutul ini tidak akan langsung menerjang umpannya. Ia akan berjalan mengitari umpan itu, menatap, memeriksa. Normalnya, jika berhadapan dengan kambing di alam liar, tak ada macan tutul yang mau menunggu sampai 2 detik. Alasan mengapa macan tutul ini ragu-ragu, sekalipun dia telah melihat kambing yang tidak terlindungi oleh apa-apa, adalah karena dia tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres di situ. Tujuan dari pemakaian umpan adalah untuk membuat jebakan itu menjadi sangat menarik. Menatap pada kambing yang lagi gelisah dan ribut ini, kewaspadaannya mulai ditenggelamkan. Dia menjadi ceroboh. Tujuan utama pencobaan adalah mendorong Anda untuk mengambil kesempatan, raihlah kesempatan ini! Mungkin tidak ada masalah di baliknya. Demikianlah, macan ini melompat ke arah kambing tersebut dan, bang! Dia sudah terperangkap! Dia langsung terkurung. Dia sendiri yang masuk ke dalam pencobaan; dia melangkah masuk ke dalam jerat.

Eksposisi ini secara ketat dilandasi oleh Kitab Suci. Uraian ini bukanlah sesuatu yang saya karang sendiri dari khayalan saya. Sebenarnya, ini adalah eksposisi dari Paulus di 1 Timotius 6:9 di mana dia membandingkan pencobaan dengan jerat, dengan jebakan. "... mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat..." Demikianlah, dengan menyejajarkan jerat dan pencobaan, kita bisa melihat dengan tepat bagaimana jerat itu dibandingkan dengan pencobaan. Dan apakah umpan yang dibicarakan di dalam 1 Tim 6:9 ini? Umpan yang dibahas di sini adalah uang. Begitu banyak orang Kristen, sungguh banyak dari antara mereka yang telah jatuh karena mau menyambar kesempatan memperoleh uang! Ya, uang bertanggungjawab atas kejatuhan mayoritas orang Kristen, di samping dosa-dosa lainnya seperti seks dan sebagainya. Hati-hatilah terhadap umpannya! Yesus berkata, "Jangan masuk." Berdoalah supaya, dengan kasih karunia Allah, Anda tidak masuk. Apakah yang disampaikan oleh Paulus di dalam sisa uraian di 1 Tim 6:9 itu? Karena mereka masuk ke dalam pencobaan, lalu apa yang terjadi? Mereka terjatuh ... ke dalam - perhatikan lagi kata 'ke dalam', itu adalah kata yang sama [dengan kata 'ke dalam' pada doa Bapa Kami] di dalam bahasa Yunani -  mereka jatuh ...ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Siapakah yang terjatuh ke dalam keruntuhan dan kebinasaan? Paulus saat itu sedang berbicara kepada orang-orang Kristen!

Saya harap Anda perhatikan satu hal lagi. Kata yang diterjemahkan dengan kata 'kebinasaan (destruction)' di sini adalah kata yang sama dengan kata 'yang telah ditentukan untuk binasa (perdition)' di Yoh 17:12. Ungkapan 'dia yang telah ditentukan untuk binasa (the son of perdition)' adalah sebutan bagi Yudas karena dia telah ditentukan untuk menuju kebinasaan. Ungkapan ini adalah suatu istilah baku yang lazim dalam bahasa Ibrani untuk menyebutkan orang yang, dalam kodratnya, berada di dalam jalan menuju kebinasaan. Namun di sini, Paulus mengingatkan kita bahwa bukan hanya Yudas yang bisa berakhir dalam kebinasaan, melainkan semua orang yang masuk ke dalam pencobaan. Perhatikanlah kata: jatuh...ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Ini adalah gambaran yang tepat dari hewan yang jatuh ke dalam perangkap. Sekarang Anda bisa mengerti mengapa Yesus berulang kali memperingatkan murid-muridnya untuk waspada dan berdoa agar mereka tidak masuk ke dalam pencobaan.

Kita bisa menemukan peringatan yang berulang ini, misalnya, dua kali di Luk 22:40 dan 46, dan juga di dalam perikop-perikop yang sejajar di dalam Injil-Injil lainnya. Perhatikan bahwa ketika Yesus menyampaikan firman ini, dia meletakkan tanggung jawab di pundak kita, "Berjaga-jaga dan berdoalah supaya kamu tidak jatuh ke dalam pencobaan."

Bagaimana supaya kita tidak masuk ke jalur Yudas? Kita harus lakukan dua hal: Kita harus berjaga-jaga, tetap siaga, tidak tertidur; hal kedua adalah berdoa. Jika Anda tanyakan, "Apa yang harus saya doakan?" Di Matius 6:13, Yesus memberitahu kita, "...janganlah membawa kami ke dalam pencobaan." Poin dari kalimat itu adalah: "Bimbinglah kami supaya kami tidak jatuh ke dalam pencobaan."

Setiap orang Kristen bisa gagal seperti Yudas

Sekarang kita bisa melihat bahwa kegagalan Yudas bukanlah sejenis kegagalan yang khusus. Kegagalannya adalah jenis kegagalan yang juga bisa menimpa orang Kristen yang lainnya. Kegagalannya terletak dalam fakta bahwa dia tidak memasukkan ajaran Yesus ke dalam hatinya, dia tidak memasukkan karakter rohani dari ajaran itu ke dalam hatinya. Jalan pikirannya masih di dalam kedagingan, masih duniawi. Daging selalu bertentangan dengan roh. Namun Anda juga harus ingat, dia bukanlah satu-satunya murid yang berpikir seperti itu. Kita lihat bahwa Yakobus dan Yohanes juga memiliki jalan pikiran yang sama. Anda bisa lihat hal ini di dalam Mat 20:20-28. Kita lihat bahwa Petrus juga memiliki jalan pikiran yang sama, tampak di dalam Matius 16:23. Satu-satunya hal yang membedakan mereka dengan Yudas adalah bahwa tetap berpaut kepada Yesus. Sekalipun mereka tak mampu memahami, mereka tetap setia, dan iman mereka terlihat dari kesetiaan tersebut. Dengan demikian, kita bisa melihat bahwa seluruh beban tanggung jawab tetap berada di pundak Yudas atas tindakannya itu.

Yesus tidak memberi jaminan kepada murid-muridnya

Saya harap Anda juga mengamati satu hal yang lain, bahwa tak ada satupun dari antara murid itu yang memiliki apa yang sekarang ini kita sebut sebagai jaminan keselamatan, karena mungkin di sepanjang pembahasan ini Anda bepikir, "Jika memang demikian halnya, lalu di mana letak jaminan keselamatan?" Renungkanlah hal ini baik-baik. Jika kita kilas balik, seperti yang bisa kita lihat di dalam Yoh 6:70-71, Yesus berkata, "Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis." Akan tetapi dia tidak menyebutkan siapa yang satu itu. Coba Anda bayangkan jika Anda adalah salah satu dari kedua belas rasul itu. Ketika Yesus berkata, "Seorang di antaramu adalah Iblis," namun dia tidak berkata siapa orang itu, apakah dampak pernyataan itu bagi keyakinan keselamatan Anda? Dapatkah Anda melihat adanya ketidakpastian yang tertanam di benak mereka? "Yesus berkata ada satu yang Iblis, namun siapa orang yang satu ini? Apakah itu kamu? Atau aku?" Pertanyaan itu bertahan di benak mereka bahkan sampai pada akhirnya. Dan hal itu benar-benar membuat mereka gugup. Apakah Anda pikir Yesus berniat memberi mereka jaminan dengan jalan memberitahu siapa yang satu orang itu? Tidak sama sekali! Sungguh bertolak-belakang dengan ajaran zaman sekarang, yang justru mengatakan kepada orang-orang, "Kalian akan baik-baik saja," padahal tak satupun dari mereka yang keadaannya baik. Justru karena mereka merasa tidak pasti itulah sampai mereka berulang kali mencoba menyatakan kesetian mereka kepada Kristus secara terbuka. Mereka berkata, "Kami akan ikut mati bersamamu." Sebagai contoh, di dalam Yoh 11:16, mereka menyatakan hal tersebut. Ketika mereka berkata satu sama lain, "Ya, kami akan ikut mati bersama dia," sebenarnya mereka sedang mencoba untuk membuktikan ke diri mereka sendiri dan juga kepada Yesus bahwa mereka setia.

Di perjamuan terakhir, Yesus berkata lagi, "Salah satu dari antara kalian akan mengkhianatiku." Dan kembali, dia tidak menyebutkan siapa orang itu. Para murid bertanya-tanya, "Akukah itu? Akukah itu? Akukah itu?" Tak ada yang bisa yakin. Malahan, akhirnya, hanya Yohanes dan Petrus yang tahu, ketika Yesus memberi mereka pertanda, "Orang itu adalah dia yang akan Kuberikan roti yang akan Kucelupkan ke dalam cawan." (Yoh 13:26). Namun, sebagaimana yang ditunjukkan oleh seorang ekspositor hebat, bahkan pertanda itu juga masih belum merupakan isyarat yang pasti karena, tentu saja, adat istiadat saat itu memang mengarahkan bahwa roti itu akan dibagikan kepada setiap orang yang ada di perjamuan tersebut. Jadi, dia akan membagikan roti itu kepada setiap orang. Jadi, siapa satu orang itu? Dia tidak memberitahukan pada mereka. Mereka tetap tidak tahu dan tertanya-tanya sampai pada akhirnya!

Car berpikir Yesus sangat berbeda dengan cara berpikir kebanyakan orang Kristen zaman sekarang, bukankah begitu? Para murid dibiarkan berada dalam keadaan takut dan gentar. Mereka tidak berkata, "Apakah itu kamu?" melainkan, "Apakah itu aku?" Mereka sama sekali merasa tidak yakin pada diri mereka. Saya sering ditakjubkan melihat betapa gereja selalu saja melakukan sesuatu hal dengan cara yang berbeda dari Yesus. Jika ada hamba Tuhan di masa sekarang ini yang menentang masalah 'sekali selamat tetap selamat', astaga, Anda akan melihat begitu banyaknya orang bangkit melawan. Dan mereka akan berkata, "Lihat, Anda telah membuat semua orang jadi merasa tidak yakin lagi." Jika kita pelajari Injil, kita justru menemukan kebalikannya. Yesus tidak ingin ada orang yang merasa yakin dengan keselamatannya supaya mereka mengerjakan keselamatan mereka dengan takut dan gentar. Tak ada orang yang berani berpuas diri.

Apakah hal ini berarti bahwa orang Kristen tidak memiliki jaminan apa-apa sama sekali? Sudah tentu ada; kita memiliki jaminan yang besar. Dan jaminan itu adalah hal yang akan kita bahas di pesan yang akan datang. Akan tetapi kita harus membedakan antara jaminan yang benar dengan yang palsu. Dan kita harus mengakhiri apa yang disebut sebagai jaminan yang dibicarakan di gereja-gereja sekarang, yang hanya menghasilkan generasi yang tidak memiliki kehidupan rohani dan orang-orang yang sekadar menyebut dirinya 'Kristen'. Sebuah gereja, yang bahkan di mata orang Kristen memalukan, bagaimanakah Tuhan akan menilainya?

Keputusan akhir Yudas dan penyesalannya karena mengkhianati Yesus

Yang terakhirnya, di Luk 22:3, kita diberitahu bahwa Iblis memasuki hati Yudas, menghasutnya untuk mengkhianati Yesus. Kita bisa membaca hal itu di Yoh 13:2. Semua ini terjadi menjelang tibanya Paskah. Poin ini sangatlah penting untuk kita camkan. Matius dan Markus memberitahu kita bahwa ide untuk mengkhianati Yesus ini bermula setelah peristiwa pengurapan Yesus di Betania (Mat 26:14; Mar 14:10-11). Saat itu seorang perempuan memecahkan sebuah buli-buli dan mencurahkan minyak untuk mengurapi Yesus. Peristiwa ini sama dengan yang tercatat di dalam Yoh 12:1. Peristiwa di Yoh 12:1 ini terjadi enam hari sebelum Paskah, sebelum Jumat Agung. Semua ini memberitahu kita satu hal yang penting: bahwa keputusan terakhir untuk mengkhianati Yesus masuk ke dalam benak Yudas dalam jangka waktu kurang dari enam hari sebelum dia benar-ebnar melaksanakannya. Inilah bukti bahwa dia tidak memikirkan rencana ini sejak jauh hari. Hal ini juga sekali lagi membuktikan bahwa dia memulai langkahnya dengan baik, namun mengakhirinya dengan buruk. Hanya beberapa hari sebelum Paskah, keputusan terakhirnya dibuat, bahwa dia akan menghianati Yesus. Ini bukan sekadar suatu keputusan karena pada saat itu juga dia juga sudah mulai bertindak. Poin yang sama ini diteguhkan oleh Yoh 13:27, bahwa Iblis tidak masuk ke dalam hati Yudas sebelum saat-saat terakhir dalam perjamuan terakhir itu.

Selanjutnya, kita juga perlu mengamati satu poin lagi, bahwa dari Mat 27:3, kita melihat bahwa Yudas memang tidak mengharapkan agar Yesus dihukum mati. Semua ini menjelaskan bahwa dia telah ditipu oleh Iblis untuk melaksanakan hal ini. Itulah sebabnya mengapa ketika dia mendapati Yesus dihukum mati (Mat 27.3), reaksinya menunjukkan bahwa dia tidak mengharapkan hasil seperti ini. Sebagai akibat dari semua ini, dia lalu akhirnya menggantung diri.

Sungguh besar tragedi yang dihadapi oleh orang ini! Orang bisa saja merasa terharu melihatnya. Sungguh indah langkah awalnya - bukan sekadar menjadi murid, tetapi menjadi seorang rasul terpilih, dan dipilih langsung oleh Yesus sendiri! Menjalani dua tahun penuh kemuliaan melangkah bersama Yesus, kemudian mencapai titik balik, dan selanjutnya, meluncur turun. Sembilan bulan kemudian, dia mati. Semua terjadi begitu cepat, bukankah begitu?

Tragedi Yudas yang mendua hati: dia masuk ke dalam pencobaan

Anda bisa saja bersimpati dengannya karena Anda dapat melihat bahwa dia bukanlah orang yang tanpa hati nurani. Dia tidak bisa mengingkari hati nuraninya [yang menuduh] bahwa dia telah mengkhianati pribadi yang tidak bersalah. Dia bukanlah orang yang jahat. Orang yang jahat tidak akan melakukan bunuh diri semacam itu. Dia adalah orang yang sangat menyedihkan. Seperti yang diuraikan oleh seorang pakar dari Skotlandia, A.B. Bruce, dalam bukunya yang bagus, Training of the Twelve (Pelatihan Kedua Belas Orang), Bruce berkata, "Masalah yang menindih Yudas adalah karena dia mendua hati."

Kita bisa baca hal tentang orang yang mendua hati di Yak 1:8. Ada sangat banyak orang Kristen yang mendua hati. Mereka adalah pengidap skizofernia rohani (skizofernia = penyakit jiwa yang berupa terbelahnya kepribadian menjadi kepribadian ganda). Dengan hati yang satu, mereka ingin mengikut Yesus, dengan hati yang lainnya mereka ingin mengikut dunia. Mereka tidak bisa membuat keputusan. Di satu sisi, mereka mengasihi Yesus, di sisi lain, mereka juga mengasihi dunia. Mereka menjadi kebingungan. Mereka tidak pernah menjalani kehidupan Kristen yang berbahagia dan luar biasa, namun mereka juga tidak mampu menjalani kehidupan duniawi yang bahagia. Saat mereka berbuat dosa, pikiran mereka tertekan; hati nurani mereka terusik. Mereka selalu dalam keadaan tercabik-cabik. Pertanyaan yang muncul adalah, mana yang akan menang? Kehidupan rohani mereka menjadi tidak berarti. Seperti yang tertulis di Yak 1:8, orang yang mendua hati tidak akan mendapat apa-apa dari Tuhan. Jika dia berdoa, Allah tidak mendengarkannya. Orang-orang ini masih belum berkomitmen total, belum memiliki iman yang menyelamatkan. Dan Allah hanya menerima iman yang diserahkan secara total karena hanya orang demikian yang akan bertahan sampai pada akhirnya.

Jadi, tragedi yang dialami oleh Yudas adalah bahwa dia bukanlah monster, akan tetapi apa yang diperbuatnya sangatlah jahat. Sekalipun apa yang diperbuatnya itu sangat keji, namun dia melakukan itu di dalam kelemahan, kebingungan dan kebodohannya. A.B Bruce, seorang pakar besar, mengibaratkan Yudas seperti ini, "Dia cukup jahat sehingga mampu melakukan perbuatan yang keji (mengkhianati Yesus) namun dia juga punya kebaikan sehingga dia tidak sanggup menanggung rasa bersalahnya." Inilah tragedi orang yang tidak cukup jahat namun juga tidak cukup baik. Seperti yang dikatakan oleh Bruce, "Celakalah orang yang seperti ini! Lebih baik dia tidak pernah dilahirkan." Anda lihat, jika dia benar-benar jahat dan tidak memiliki hati nurani, dia bisa saja menikmati setidaknya uang yang sejumlah 30 keping perak itu sampai dia meninggal. Setelah menerima uang yang 30 keping perak itu, dia bisa pergi menikmati hidupnya sampai mati. Namun dia tidak sejahat itu. Dia tidak bisa menikmati uang yang 30 keping perak tersebut. Jadi dibuangnya uang tersebut ke lantai Bait Allah dan pergi menggantung diri. Dia juga tidak cukup baik. Dia tidak cukup baik untuk bisa menolak untuk berkhianat. Dia tidak cukup baik untuk menolak masuk ke dalam pencobaan. Akibatnya, Yudas binasa.

Saya yakin, kalau saja Yudas datang ke kaki Yesus dan berkata, "Tuhan, aku begitu bodoh. Aku orang yang celaka. Aku telah melakukan hal yang paling buruk di dunia ini. Aku mohon pengampunanmu," menurut Anda, apakah yang akan Yesus katakan? Saya yakin bahwa Yesus akan berkata, "Kamu diampuni. Tidak apa-apa. Rencana Allah sudah digenapi. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi." Akan tetapi dia tidak sanggup menemui Yesus lagi. Dia tidak berani melakukan itu. Dia melangkah menuju kebinasaannya, setelah berpaling dari Juruselamatnya.

Yudas bukanlah satu-satunya orang yang melakukan hal semacam itu. Mengenai perbuatannya itu, Kitab Suci memperingatkan kita, bahwa kita juga bisa melakukannya. Bukti-bukti tentang hal ini akan saya ajukan di lain kesempatan nanti.

Mengapa Yudas dipilih? - Untuk memperingatkan kita

Namun kita masih ada pertanyaan yang belum terjawab saat kita mengawali pembahasan ini. Jika Allah tahu bahwa Yudas pada akhirnya akan mengkhianati Yesus, lalu mengapa dia dipilih? Yesus menghabiskan waktu berdoa semalaman sebelum memilih kedua belas orang itu. Dia tidak sekadar berkata, "Baik, kamu, kamu dan kamu. Kalian akan menjadi dua belas rasul." Sepanjang malam dia habiskan dalam percakapan dengan Bapanya; baru dia memilih yang kedua belas orang itu. Lalu mengapa Yudas? Dapatkah Anda memikirkan jawabannya? Jika Anda katakan bahwa hal itu untuk menggenapi apa yang tertulis di dalam Kitab Suci, itu hanya mengatakan hal itu menggenapi apa yang Allah rencanakan sebelumnya. Itu saja. Ini masih belum menjawab pertanyaan: Mengapa Dia memilih Yudas untuk menggenapi apa yang menjadi tujuanNya? Dan seperti yang telah kita lihat, bahkan jawaban 'Untuk menggenapi apa yang tertulis dalam Kitab Suci," bisa menjadi jawaban yang tidak tepat.

Lalu mengapa dia dipilih? Saya telah merenungkan pertanyaan ini bolak-balik, dan saya tidak bisa menemukan adanya penjelasan selain yang ini. Setelah meneliti semua penjelasan yang lainnya dengan seksama, satu-satunya alasan yang saya pikirkan adalah: Bukankah seluruh peristiwa ini menjadi peringatan untuk kita? Tidakkah hal ini memperingatkan kita bahwa sekalipun orang yang terpilih oleh Yesus sendiri, sekalipun kita dipanggil dan dipilih oleh dia, kita seharusnya tidak boleh membayangkan bahwa dengan demikian kita boleh berpuas diri; bahwa dengan demikian, kita tidak perlu menguatirkan apa-apa; dengan demikian, kita boleh menjadi ceroboh;  menjadi tidak setia namun tetap berpikir bahwa kita akan tetap selamat. Saat saya amati hikmat Allah sepanjang zaman, saya takjub melihat pesan yang sangat jelas ini. Mungkin masih ada jawaban yang lain, namun yang pasti, yang satu ini tidak terbantahkan, dan juga merupakan penjelasan yang sangat penting.

Bagi saya, tampaknya Allah melihat pada sejarah dan di dalam pra-pengetahuannya, dia melihat hal-hal yang akan terjadi pada gereja; Dia melihat bahwa gereja akan menjadi sombong, menjadi puas diri, dan berkata, "Tidak peduli bagaimana kehidupan kita, kita akan tetap selamat. Sekali kita selamat, maka kita akan tetap selamat. Sekali kita menjadi umat Allah, maka kita akan tetap menjadi umat Allah." Itulah bencana yang menimpa bangsa Israel, tepat di poin ini. Di dalam pencobaan yang satu inilah umat Israel jatuh. Inilah karang yang mengkandaskan bahtera umat Israel. Mereka berkata, "Kami adalah umat Allah. Tak ada sesuatu hal pun yang bisa menimpa kami." Dan kita dapati ternyata gereja juga berkata seperti itu, berbicara tentang jaminan keselamatan, padahal di zaman sekarang ini, yang kita perlukan di dalam gereja bukanlah rasa aman melainkan air mata. Yang kita perlukan bukanlah rasa puas diri melainkan rasa takut dan gentar. Gereja penuh dengan nabi-nabi yang berkata, "Damai sejahtera! Damai sejahtera!" padahal tidak ada damai sejahtera.

Tampaknya Yesus, lewat hikmat dari Allah, setelah melihat apa yang akan terjadi pada bangsa Israel dan bencana yang telah mengkandaskan Israel, dia lalu memilih rasul-rasulnya, (dua belas rasul - secara tepat melambangkan jumlah suku Israel), dan bertekad bahwa Israel yang baru tidak akan sama dengan Israel yang lama, dan menempatkan - sejak dari awal sejarah Israel yang baru - suatu peringatan yang abadi mengenai batu karang yang mengancam di depan, agar kita tidak terkandas seperti leluhur kita.

Takut dan gentar memang sangatlah baik bagi jiwa kita. Tak ada hal yang lebih berbahaya daripada hal yang disebut sebagai 'jaminan keselamatan'. Tak ada orang yang tersesat dengan mempunyai rasa takut dan gentar. Jika Yudas memiliki rasa takut dan gentar itu, dia tentu tidak akan tersesat. Masalahnya adalah dia terlambat. Orang-orang yang merasa aman itulah justru yang tersesat. Mari kita tempatkan pelajaran dari Yudas di dalam hati kita, supaya - dengan kasih karunia Allah - agar tak seorang pun dari kita yang akan melakukan kesalahan yang sama.

-Selesai-

(Penguraian lengkap tentang komitmen total dapat dibaca di buku Totally Committed karangan Pendeta Eric Chang)

[Download]


Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.

Standard
Besar
Terbesar

Seri Pedalaman Alkitab: Seri Keselamatan

Keselamatan dan Kekudusan

Keselamatan dan Iman

Keselamatan dan Kelahiran Kembali

Keselamatan: Kemerdekaan dari kuasa dosa

Keselamatan dan Kasih Karunia

Keselamatan dan Pertanggungjawaban Manusia

Jenis orang Kristen manakah Anda?

Keselamatan: Menghasilkan buah oleh karya Allah

Keselamatan: Bertahan sampai pada akhirnya

Keselamatan & Pencobaan

Keselamatan & Jaminan Palsu

Keselamatan & Jaminan yang sejati

Keselamatan: Mencapai kepenuhan Allah

Keselamatan: Dipenuhi oleh Roh Allah

Copyright 2003-2012. Semua materi di situs ini adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries.
E-mail kami untuk mendapatkan izin untuk menggunakan materi di situs ini.
Best viewed with IE6.0 and 1024 by 768 resolution.