| Saran & Komentar | updated on 16 November 2014

Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan

Halaman Utama

  |  Tentang Kami

  |  Hubungi Kami

  |  Izin Pemakaian Materi 

  |  Dapatkan Buletin Gratis di sini! 

Sumber Damai

Khotbah/PA


Inspirasi

Artikel/Renungan

Kesaksian Hidup


Pelatihan

Discipleship Trainings


Lain-Lain...

Buku-buku Terbitan

Lagu dan Film

Bible Study (P.A)

Siaran Mandarin

Buletin Gratis!

Follow Us


BACA ONLINE


BACA ONLINE


KATA PENGANTAR

Keselamatan: Bertahan sampai pada akhirnya
(Bagian kesembilan studi sistematis tentang Pokok Keselamatan)

oleh Pendeta Eric Chang

Ketekunan - hal yang penting bagi keselamatan

Di pesan ini, kita melanjutkan pembahasan kita tentang ajaran Yesus yang berkaitan dengan keselamatan. Kita akan mempelajari secara khusus satu hal yang sangat penting: yaitu sebuah kata yang disebut 'perserverance (ketekunan)'. Pernahkah Anda mendengar khotbah mengenai ketekunan selama Anda menjadi seorang Kristen? Kemungkinan besar Anda belum pernah mendengar khotbah mengenai ketekunan, khususnya ketekunan dalam kaitannya dengan keselamatan, dan mengenai betapa pentingnya ketekunan ini bagi keselamatan.

Saya akan memulai dan juga nanti akan mengakhiri pembahasan di Kol 1:22-23. Kita akan membacanya mulai dari ayat 21 sampai 23. Ayat-ayat ini berkenaan dengan keselamatan, dan ketiganya merupakan ayat-ayat yang sangat berharga. Di sini, rasul Paulus mengatakan:

Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. (Dan ayat 23 - perhatikanlah) Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar. Ayat 23 memiliki kata 'provided (dengan syarat, asalkan, dalam terjemahan LAI digunakan ungkapan kamu harus...), yang berarti, ada persyaratan yang dinyatakan di sana. Dia akan mengerjakan semua itu asalkan Anda memenuhi beberapa hal yang menjadi tanggung jawab Anda.

Empat ungkapan 'ketekunan' di Kolose 1:23

Bertekun dalam iman

Paulus memakai 4 ungkapan yang berbeda untuk menyatakan ide tentang ketekunan. Di dalam ayat 23, ungkapan pertama yang dia gunakan adalah kata 'bertekun' - bertekun dalam iman. Jika Anda ingin diselamatkan, Anda harus bertekun dalam iman. Bukan sekadar satu tindakan iman di masa lalu, melainkan bertekun dalam iman. Kata Yunani yang diterjemahkan dengan 'bertekun' ini muncul di dalam Roma 11:22. Ayat ini mungkin akan mengejutkan Anda. Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap... - perhatikan kata 'tetap' ini -  "dalam kemurahan-Nya,"

Jika Anda tidak tetap atau bertekun, apa yang akan terjadi? Jika Anda tidak tetap atau bertekun, "kamupun akan dipotong juga." Jika tidak mau dipotong, Anda harus tetap atau bertekun. Ini ucapan dari rasul Paulus, seorang rasul iman yang besar. Dia adalah orang yang berbicara tentang pembenaran oleh iman dan dia juga yang berkata, "jangan kamu berpikir bahwa kamu akan diselamatkan hanya dengan satu tindakan iman. Kamu harus tetap di dalam iman dan kemurahanNya. Jika tidak, kamupun akan dipotong juga!" Ini adalah ucapan dari Kitab Suci, bukan dari saya. Rasul Pauluslah yang menyampaikan hal itu.

Dia memakai kata, 'bertekun' yang sama di 1 Timotious 4:16. Saya akan menyajikan rujukan-rujukan karena iman Anda harus didasarkan pada Firman Allah. Apakah yang dikatakan oleh Paulus di dalam 1 Timotius 4:16 ini? "Awasilah dirimu sendiri," demikian katanya kepada Timotius, "dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu," Kata yang sama dengan yang terdapat di dalam Kolose 1:23, 'bertekun dalam iman', "...tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil." Dengan cara apakah Anda tidak akan tergeser? Dengan bertekun! Demikianlah makna dari pokok pertama, yakni bertekun, "Anda akan diselamatkan asalkan Anda bertekun dalam iman."

2) Tetap stabil

Kata yang kedua adalah 'tetap teguh' atau 'stabil'. Kata 'tetap teguh' adalah terjemahan dari kata Yunani yang bermakna 'dibangun di atas dasar yang kokoh'. Dan kata Yunani yang sama ini dipakai dalam Matius 7:25, di mana Yesus berbicara tentang orang bijak yang membangun rumahnya di atas batu karang.

3) Tidak Bergoncang

Lalu, kata yang ketiga adalah 'tidak bergoncang'. kata ini menerjemahkan kata Yunani yang bermakna 'kokoh (firm)' atau 'tetap (settled)'.

4) Jangan mau digeser

Dan kata keempat yang dia gunakan di sini, 'jangan mau digeser'. Kata ini pada dasarnya bermakna tidak bergeser, tidak bisa digeser. Paulus memakai bentuk yang sedikit berbeda dari kata ini di 1 Korintus 15:58. Di sana, dia berkata, "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!" Kata jangan goyah adalah kata yang serupa dengan yang terdapat di dalam Kolose 1:23 ini.

Hal bertahan sampai pada akhirnya

Cara Injil diberitakan di zaman sekarang ini menempatkan penekanannya pada keselamatan yang dilandasi tindakan di titik awal untuk mempercayai. Tindakan pertama - atau keputusan awal - itulah yang menjadi segala-galanya. Setelah Anda membuat keputusan tersebut; setelah Anda diselamatkan, maka Anda akan tetap selamat. Demikianlah, yang paling diutamakan adalah keputusan mula-mula tersebut. Apa yang terjadi selanjutnya tidak dipandang penting. Artinya, tidak berpengaruh lagi bagi keselamatan. Mungkin penting buat pertumbuhan; menjadi masalah kualitas kehidupan rohani yang lebih baik; namun bagi keselamatan, hal itu sudah tidak penting lagi. Yang penting adalah tindakan awal atau keputusan awal Anda. Dengan sejujurnya ingin saya sampaikan bahwa paham ini jelas tidak alkitabiah. Saya akan usahakan untuk menyampaikan berdasarkan Firman Allah bahwa ajaran semacam ini sama sekali tidak benar.

Kolose pasal 1 menegaskan bahwa Anda tidak diselamatkan oleh satu tindakan iman atau tindakan keselamatan di tahap awal. Anda akan diselamatkan jika, dan hanya jika Anda, bertekun dalam iman sampai pada akhirnya. Dengan menekankan pada satu tindakan di tahap awal saja, orang telah membengkokkan sepenuhnya gambaran tentang keselamatan sebagaimana yang diajarkan oleh Kitab Suci. Pembengkokkan ini adalah hal yang sangat serius karena kebenaran tidak lagi dikenali sebagaimana adanya.

Tahukah Anda apa itu pembengkokkan atau distorsi? Mungkin ada yang pernah masuk ke gedung-gedung beraula besar yang berisi berbagai macam cermin yang bentuknya aneh-aneh. Mungkin Anda adalah orang yang berpenampilan menarik, namun ketika Anda berdiri di depan cermin semacam itu, apakah yang Anda lihat? Anda terlihat seperti sosis di cermin tersebut! Cermin itu telah membengkokkan wujud Anda. Anda berkata, "Cermin tidak pernah berbohong! Cermin hanya memantulkan apa yang dilihatnya. Cermin tidak menciptakan sesuatu yang baru. Ia hanya memantulkan apa yang ada di hadapannya." Namun ada cermn tertentu yang memiliki lengkungan yang membuatnya membengkokkan gambar yang ditampilkannya. Demikianlah, untuk sesaat, Anda terlihat seperti sosis, dan dalam saat berikutnya, Anda terlihat seperti kue serabi! Jika seseorang memotret refleksi Anda pada cermin yang melengkung ini jelas orang yang melihat pada pantulan itu tidak akan mengenal Anda. Cermin tersebut memang memantulkan realitas, akan tetapi memantulkan realitas yang telah dibengkokkan. Itulah yang disebut distorsi. Demikianlah, Anda tidak bisa katakan bahwa di sana tidak ada kebenaran karena cermin itu memang memantulkan realitas, akan tetapi realitas itu dipantulkan dalam bentuk yang telah bengkok. Dan hal inilah yang kita hadapi di zaman sekarang, saat penekanan pada keselamatan hanya ditujukan pada tindakan mula-mula, yakni tindakan awal keselamatan. Ajaran tersebut memang mengandung kebenaran, namun kebenaran yang telah dibengkokkan.

Di dalam seluruh ajaran Yesus, Anda akan menemukan bahwa kata 'bertahan' adalah kata yang sangat penting. Tadi, saya baru saja memberikan 4 kata yang dipakai oleh Paulus di dalam Kolose 1:23 yang berkenaan dengan hal ketekunan. Namun dari keempat kata tersebut, saya belum memasukkan kata bertahan (endurance), yang memang tidak digunakan oleh Paulus di dalam Kol 1:23 itu. Tujuan dari uraian ini adalah untuk menunjukkan betapa banyaknya kata dalam bahasa Yunani yang memiliki makna ketahanan (endurance = daya tahan, ketahanan, bertahan), kekokohan (steadfastness) dan ketekunan (perserverance), hal ini menunjukkan betapa pentingnya kata ini.

Yesus memakai suatu kata, istilah atau ungkapan yang sangat penting. Dia berkata bahwa sangatlah penting untuk bertahan sampai pada akhirnya untuk bisa diselamatkan. Matius 10:22, "Orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat." Di Mat 24:13 serta di dalam Markus 13:13, pernyataan yang persis sama diulangi lagi. Di semua ayat itu, Yesus berkata, "Orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat." Penekanan Yesus sama sekali berbeda dengan penekanan ajaran yang kita dengar di sekarang. Sekarang ini, isi khotbahnya adalah, "Barangsiapa yang percaya akan diselamatkan." Ucapan Yesus bertentangan sama sekali: "Orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat." Siapa yang memberi kita hak untuk mengubah ajaran Yesus? Pendeta atau penginjil mana yang berani mengambil tanggung jawab mengubah ajaran Yesus? Namun ternyata banyak dari antara mereka yang berani melakukan hal ini. Keberanian mereka dalam hal ini sangatlah mengerikan.

Penelitian statistik antara kata 'bertahan' vs istilah favorit sekarang

Kata yang diterjemahkan dengan ungkapan 'bertahan' sampai pada kesudahannya ini sangatlah penting. Kata ini, di dalam bentuk kata kerjanya "bertahan", muncul sebanyak 17 kali di Perjanjian Baru - hanya satu kata 'bertahan (endure)' ini saja, belum menghitung kata-kata lain yang memiliki makna yang sama (dengan kata 'bertahan/endure' juga). Dalam bentuk kata benda, kata hupomone ini muncul sebanyak 32 kali di Perjanjian Baru (PB). Bentuk lain dari kata benda ini muncul sebanyak 3 kali di PB. Jadi, total kemunculannya adalah sebanyak 52 kali di PB. Kita akan melihat nanti apa makna penting dari angka statistik tersebut.

Kata pembenaran (justification) sangat sering dikumandangkan di gereja-gereja. Ada dua kata Yunani yang diterjemahkan sebagai 'pembenaran (justification)'. Jika Anda gabungkan jumlah kemunculan dari kedua kata tersebut, maka jumlah kemunculan kata 'pembenaran (justification)' hanya sebanyak 12 kali di dalam PB bahasa Yunani, sementara kata 'endurance (tahan, teguh)' dalam bentuk kata bendanya saja sudah muncul sebanyak 32 kali. Apakah angka statistik ini telah berbicara kepada Anda? Namun sekarang ini, hampir semua orang gemar melontarkan kata 'pembenaran (justification)', yang hanya muncul sebanyak 12 kali di dalam Perjanjian Baru. Akan tetapi kata bertahan yang di dalam bentuk kata bendanya saja sudah muncul sebanyak 32 kali, Anda tidak pernah mendengar ada khotbah yang membahas kata ini. Apakah uraian ini memberitahu Anda sesuatu?

Malahan, jika Anda buka konkordansi berbahasa Inggris, maka kata 'justification (pembenaran)' hanya muncul 4 kali. Kata 'justify (membenarkan, dibenarkan)' dalam bentuk kata kerja muncul sebanyak 39 kali. Jika kita jumlahkan kemunculan kata benda (justification/pembenaran) dan kata kerjanya (justify/ membenarkan, dibenarkan), kita dapatkan angka kemunculan sebanyak 51 kali. Akan tetapi kata 'endurance (tahan, teguh)', jika dijumlahkan kemunculan bentuk kata kerja dan kata bendanya, bahkan masih lebih banyak dari itu. Kemunculannya sebanyak 52 kali. Kata 'pengudusan (sanctification)' bahkan lebih jarang lagi, akan tetapi kata ini sering diucapkan. Kata 'sanctification (pengudusan)' di dalam konkordansi berbahasa Inggris hanya tercatat 5 kali. Di dalam bahasa Yunani, kata ini muncul sebanyak 10 kali.

Sekarang ini kita sedang belajar Firman Allah, dan bisa dikatakan kita belajar secara statistik, atau secara ilmiah. oang Jerman menyebut ini sebagai 'teologi ilmiah'. Tak heran, karena mereka melakukan pendekatan persis dengan yang sedang saya lakukan sekarang ini. Karena teologi bukanlah masalah pendapat; teologi adalah persoalan fakta.

Anda akan melihat bahwa dalam menguraikan pokok keselamatan, saya telah menghindari penggunaan kata-kata seperti 'justification (pembenaran)' dan 'sanctification (pengudusan)', yang merupakan kata-kata yang gemar dipakai oleh para ahli teologi. Alasan mengapa saya melakukan hal ini adalah karena makna yang tepat dari kedua kata tersebut telah banyak dibahas oleh para ahli teologi, dan karena Anda juga bisa menyatakan hal yang sama tanpa harus menggunakan uraian yang panjang. Pembenaran (justification), dalam maknanya yang paling dasar dan sederhana, bisa diartikan cukup dengan satu kata, 'pengampunan', jadi mengapa tidak memakai kata 'pengampunan' saja? Oleh karena itu, maka kata ini tidak begitu banyak muncul di dalam Perjanjian Baru, dan sebagian besar kemunculannya ada di dalam tulisan-tulisan Paulus. Demikian pula, kata 'pengudusan (sanctification)' pada dasarnya bermakna 'dipisahkan bagi Allah'.

Demikianlah, di sini kita temukan, dengan memakai statistik, betapa kata 'endurance (tahan, teguh)' ini sangat penting bagi keselamatan menurut Perjanjian Baru. Yesus berkata,  "Barangsiapa bertahan, yang tetap teguh, sampai pada kesudahannya, maka orang itu akan diselamatkan." Saya tidak mendengar bahwa Yesus memberikan janji dalam bentuk yang lain kepada orang-orang. Ketika Yesus mengucapkan kata 'percaya', dia mengucapkan kata tersebut dalam bentuk present continuous tense (bentuk sekarang yang berkelanjutan). Dalam tata bahasa Yunaninya, ini berarti bahwa Anda tidak bisa hanya sekali saja percaya, Anda harus terus menerus percaya. Saat dia berkata, "Barangsiapa percaya kepadaKu," maka makna dari kalimat itu adalah, "barangsiapa yang terus menerus percaya kepadaKu." Itulah makna dari ucapannya. Dan tata kalimat ini adalah hal yang mendasar dalam bahasa Yunani. Anda tidak perlu menjadi pakar dalam bahasa Yunani untuk bisa memahami hal-hal semacam ini.

Makna dan pentingnya kata 'endure (tahan, teguh)' di PB

Apakah arti dari kalimat 'bertahan sampai pada kesudahannya'? Apakah makna sesungguhnya dari kata 'bertahan' itu? Kata 'bertahan' pada dasarnya berarti tetap tinggal di saat yang lain sudah pergi. Bertahan berarti tetap teguh sementara yang lain sudah lari. Itulah makna kata bertahan. Jadi, kata ini bermakna tidak beranjak dari tempat. Artinya, tetap teguh menghadapi aniaya maupun kesukaran. Dan uraian ini mengingatkan saya pada ayat-ayat di 2 Samuel 23:11-12. Di ayat-ayat tersebut, diuraikan tentang orang-orang perkasa yang mengabdi kepada Raja Daud.

Ayat-ayat tersebut selalu menggugah hati saya karena sebelum menjadi Kristen, saya bercita-cita untuk menjadi orang militer. Dan ketiga pahlawan Daud itu mengingatkan saya pada Kisah Tiga Kerajaan, di mana Anda bisa temukan tokoh-tokoh seperti Liu Bei, Guang Gong dan Zhang Fei - tiga pahlawan besar. Di sana dikisahkan tentang Zhang Fei, yang mempertahankan sebuah jembatan dengan satu tombak, memukul mundur satu bala tentara! Wow! Kisah yang membuat saya benar-benar kagum! Demikianlah, bala tentara Cao Cao tidak bisa menyeberangi jembatan karena ada Zhang Fei - seorang diri - yang menjaga jembatan tersebut.

Dan di 2 Samuel, hal yang sama ditemukan. Pahlawan yang perkasa ini, ia adalah salah satu dari para pahlawan Daud - ketika orang-orang Israel sudah lari menyelamatkan diri masing-masing - ia tetap bertahan, dengan pedangnya, dia mempertahankan sebidang lahan. Tentunya, lahan ini berada dalam posisi yang sangat strategis, dan dengan sendirian saja, dia memukul mundur pasukan Filistin. Itulah yang disebut dengan bertahan! Ketika orang-orang lain sudah melarikan, dia tetap tinggal sendirian menghadapi pasukan musuh; itulah yang disebut bertahan. Bertahan sampai pada kesudahannya - dan untuk itulah kita dipanggil!

Hal ini mengingatkan saya pada ucapan Paulus di dalam 1 Korintus 16:13, ketika dia berkata kepada jemaat di Korintus, "..Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!" Bersikaplah seperti laki-laki; bangkit dan berjuanglah bagi Tuhan.

Paulus juga berkata kepada jemaat di Roma, dalam Rom 12:12, "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" Anda tahu mengapa? Karena Injil membentuk orang-orang yang perkasa dari orang-orang yang lemah. Injil memunculkan pahlawan dari kalangan orang pengecut. Ketika Roh Allah masuk ke dalam diri Anda, waah! Anda menjadi orang yang berbeda!

Anda cukup meneliti definisi iman di dalam Ibrani pasal 11, dan lihat apa yang terjadi pada diri orang-orang yang beriman itu. Setelah mereka menjalani dan bertahan di dalam iman mereka, mereka menjungkirkan kerajaan-kerajaan; mengalahkan singa; mengerjakan berbagai macam hal lewat iman!

Lihatlah kedua belas rasul itu. Bukankah tadinya mereka itu orang-orang yang penakut? Pada saat penyaliban, mereka semua menghilang. Ingatkah Anda betapa di taman Getsemani, mereka semua lari ketakutan? Satu-satunya pengecualian adalah Yohanes. Namun perhatikanlah apa yang terjadi pada saat Pantekosta. perhatikan apa yang terjadi saat Roh Allah tercurah ke atas mereka oleh iman. Petrus yang penakut ini, yang telah menyangkal Yesus sampai tiga kali, orang ini berdiri dan mengkhotbahkan Injil di Bait Allah. Dia dijebloskan ke penjara, dan dia kemudian dibebaskan dari penjara oleh kuasa Allah. Lalu apa yang dia kerjakan? Dia kembali ke Bait Allah, tempat dia ditangkap sebelumnya dan berkhotbah lagi! Apa yang terjadi pada orang ini? Orang yang penakut ini, yang belum lama berselang menyangkal Yesus, malah menjadi berani bersaksi baginya! Petrus yang sama ini, mengorbankan nyawanya bagi Tuhan melalui penderitaan dan siksaan. Menurut tradisi yang sampai kepada kita, Petrus disalibkan dengan posisi terbalik. Orang ini, orang yang sebelumnya penakut ini, melalui iman dan kuasa Roh yang bekerja melalui iman, menjadi hamba Allah yang perkasa. Di sini, kita bisa melihat kuasa transformasi dari Allah. Dia mengambil orang-orang lemah seperti kita dan menjadikan kita umatNya yang perkasa, supaya kita bisa mengenakan perlengkapan perang Allah yang perkasa, kita bisa mempertahankan lahan yang menjadi bidang tangung jawab kita. Dapatkah Anda memahami betapa pentingnya ketekunan dan ketahanan itu bagi kehidupan Kristen?

Anda harus bisa bertahan, karena jika Anda menjadi seorang Kristen, maka segala sesuatu akan bergerak menentang Anda. Orang-orang non-Kristen akan menyerang Anda. Iblis akan mengerahkan segenap kuasanya menentang Anda. Pernahkah Anda perhatikan bahwa segera setelah Anda menjadi Kristen, segala sesuatunya penuh tantangan? Oleh karena ini, iman bukanlah bagian orang-orang penakut. Iman adalah bagian orang-orang yang lemah, namun yang akan dijadikan kuat oleh kuasa Allah. Yesus berkata, "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi muridKu." (Mat 16:24, Mar 8:34, Luk 9:23). Iman bukan untuk orang-orang penakut. Jadi, keteguhan dan ketekunan adalah kebutuhan yang paling mendasar bagi keselamatan kita. "Barangsiapa bertahan sampai pada kesudahannya ia akan diselamatkan."

Di Lukas 8:15 ada satu hal yang sangat menarik. Di sini, di dalam Perumpamaan Tentang Seorang Penabur, kita diberitahu bagaimana benih yang jatuh ke tanah yang baik itu menghasilkan buah:

"Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan."

Hanya ada satu cara bagi Anda untuk bisa menghasilkan buah di tanah yang baik, yaitu dengan ketekunan. Itulah rahasianya. Poin yang penting di sini adalah bahwa benih yang jatuh ke tanah yang baik itu bisa menghasilkan buah bukan karena mereka menikmati keadaan yang lebih baik daripada benih yang tidak menghasilkan buah yang baik. Mereka sama-sama menghadapai persoalan dan kesukaran, namun mereka bisa menghasilkan buah karena mereka mengatasi persoalan-persoalan tersebut. Melalui keteguhan, mereka menjadi pemenang. Satu-satunya jalan bagi Anda untuk menjadi pemenang adalah dengan ketekunan.

Tentu saja, sangatlah jelas bahwa ketekunan itu berkaitan langsung dengan iman. Ketekunan adalah ungkapan dari iman. Jika Anda tidak memiliki iman, maka Anda tidak akan bisa memiliki ketekunan. Saat Yesus berkata, "Barangsiapa bertahan sampai pada kesudahannya," saat itu, dia sedang berbicara tentang satu jenis iman, bukan jenis iman sembarangan. Dia sedang berbicara tentang iman yang bertahan sampai pada akhirnya. Jadi, di dalam membahas tentang ketekunan, kita tetap berbicara tentang iman, namun iman yang kita bicarakan adalah iman dengan kualitas tertentu.

Hubungan antara iman dan ketekunan (ketabahan) ini dengan sangat indah diuraikan di dalam Wah 13:10 dan 14:12. Itulah sebabnya mengapa ketekunan menjadi sangat penting di dalam kehidupan Kristen.

Di 1 Tim 6:11, Paulus memasukkan: "Kejarlah kesabaran (endurance/ketabahan)." sebagai salah satu dari beberapa hal yang harus dikejar oleh Timotius. Di dalam terjemahan versi RSV, kata tersebut diterjemahkan dengan istilah 'steadfastness (kegigihan)'.

Dan di 2 Pet 1:6, kembali lagi, arti penting dari ketekunan itu ditegaskan di antara berbagai hal yang harus dimiliki oleh setiap orang Kristen.

Di Ibrani 10:36, dikatakan bahwa kita harus memiliki ketekunan untuk bisa mengerjakan kehendak Allah, dan dengan ketekunan itu pula kita memperoleh apa yang dijanjikan oleh Allah. Apakah janji tersebut? Janji itu, tentu saja, adalah hidup kekal!

Dan di dalam Yak 1:3-4, kita temukan urut-urutan sebagai berikut: iman, ketekunan (atau kegigihan), dan kesempurnaan (kedewasaan).

Saya telah menyampaikan contoh-contoh yang menyangkut hal betapa pentingnya ketekunan di dalam Perjanjian Baru.

Apa itu 'kesudahannya'? Dan kapankah 'kesudahannya'?

Kita perlu meneliti kata yang lain lagi. Kata tersebut adalah 'kesudahannya'. -- orang yang bertahan sampai pada kesudahannya ia akan selamat. Janganlah berkata pada diri Anda, "Aku sudah diselamatkan. Aku sudah membuat keputusan. Aku akan baik-baik saja." Pokok utama dari khotbah ini adalah, Anda harus melangkah terus sampai pada kesudahannya untuk memperoleh keselamatan itu. Dan Anda harus bergantung pada kasih karunia dengan iman.

Setelah Anda memahami ajaran ini Anda bisa mengerti mengapa kita bergantung sepenuhnya pada kasih karunia setiap saat. Karena, pada saat itulah baru kita menyadari, "Tuhan, aku butuh kasih karuniaMu untuk bisa terus sampai pada kesudahannya." Seperti yang telah kita lihat, ketekunan dan keteguhan ini datangnya dari kasih karunia Allah Yahweh, oleh kuasa Roh KudusNya.

Apakah 'kesudahan' yang disampaikan oleh Yesus itu? Kita menemukan kata 'kesudahan' ini muncul dalam berbagai bentuk. Di 1 Kor 1:8, kita menemukan jaminan bahwa Dia, yakni Allah - menunjukkan tanggung-jawabNya, akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus. Di ayat ini, kita melihat kata 'kesudahannya'. Apakah kesudahan tersebut? Arti dari 'kesudahan' ini adalah hari Tuhan kita Yesus Kristus. Itulah arti dari kesudahan tersebut. Dan apakah arti dari 'hari Tuhan kita Yesus Kristus'? Arti dari 'hari Tuhan kita Yesus Kristus' adalah hari ketika Yesus datang kembali. Hari itu, misalnya, dibahas di dalam 2 Tesalonika 1:10.

Di 1 Korintus 15:24, rasul Paulus memberitahu kita kapan kesudahan itu akan datang. Di sana dia berkata, "Kemudian tiba kesudahannya." Kapankah kesudahan itu tiba? Kesudahan itu tiba ketika semua musuh Allah telah ditundukkan di bawah Allah, dan musuh yang terakhir adalah maut [ayat 26]. Maut juga akan disingkirkan, dilenyapkan, dihancurkan.

Semua ini berarti bahwa - jika Anda adalah orang Kristen sejati - kita menanti dengan penuh kerinduan, dengan penuh harap, akan kedatangannya. Hasil dari iman Anda adalah keselamatan Anda. Itu bukanlah ucapan saya pribadi; itu adalah ucapan Petrus di dalam 1 Pet 1:9. Dan di sana tertulis, "Karena kamu telah mencapai tujuan -- kata tujuan adalah terjemahan dari kata Yunani yang berarti kesudahan -- imanmu, yaitu keselamatan jiwamu." Tujuan iman Anda adalah keselamatan jiwa Anda! Anda melangkah maju - menuju keselamatan jiwa Anda!

Dan sebenarnya, rasul Paulus menyatakan hal yang persis sama di Roma 6:22. Di sana, dia berkata bahwa oleh kasih karunia, oleh anugerah Allah, kita dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah (karena menjadi hamba Allah) yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya (kesudahan dari pengudusan itu) ialah hidup yang kekal. Kesudahannya adalah hidup yang kekal.

Semua ini, tentu saja, berarti bahwa keselamatan yang utuh itu terjadi di masa depan. Kita menantikan keselamatan yang utuh itu, saat Yesus datang untuk kedua kalinya - untuk menyelamatkan kita. Kapankah kita akan diselamatkan? Saat Yesus datang untuk kedua kalinya (Ibr 9:28). Demikianlah, kita menantikan pengungkapan, suatu pengungkapan keselamatan ini, pada zaman akhir (1Pet 1:5). Dan ketika Yesus datang kembali, keselamatan ... (akan) siap untuk dinyatakan. Dan untuk sementara ini, kita dijaga - bergantung kepada kuasa Allah untuk menjaga kita sampai dengan Hari itu. Dan, apakah yang kita kerjakan? Untuk sementara ini, kita menantikan dengan penuh pengharapan pada keselamatan tersebut (Rom 8:24-25). Seperti yang dikatakan oleh Paulus di sini, kita merindukan keselamatan yang penuh itu. Kita tidak akan mengharapkan apa yang sudah kita lihat. Namun karena hal itu masih belum kita lihat, maka kita mengharapkannya. Dan rasul Paulus memberitahu kita bahwa setiap hari kita menjadi semakin dekat dengan keselamatan Allah, pada hari di mana Kristus datang untuk menyelamatkan miliknya, yaitu untuk menyelamatkan kita sepenuhnya. Demikianlah, Paulus berkata di dalam Roma 13:11, "Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya." Bagaimana keselamatan itu jadi lebih dekat sekarang daripada waktu kita menjadi percaya? Karena setiap hari yang berlalu akan membawa kita lebih dekat pada hari kedatangan Yesus. Dan Hari itu tidaklah jauh. Rasul Petrus berkata di dalam 1 Pet 4:7, "Kesudahan segala sesuatu sudah dekat." Memang sudah sangat dekat.

Di dalam terang bukti-bukti dari Kitab Suci yang sangat melimpah ini, dapatkah Anda melihat bahwa seluruh isi Kitab Suci sedang memberitahu kita bahwa keselamatan di dalam kegenapannya itu terletak di masa depan - bukan di masa lalu, bukan pula di masa kini - melainkan di masa depan? Itulah sebabnya mengapa kita menanti-nantikannya.

Kita 'mengharapkan' keselamatan yang ada di masa depan

Uraian ini membawa kita pada poin yang lain di dalam ajaran  Kitab Suci. Ada satu kata lagi yang sangat penting di dalam Perjanjian Baru; kata itu adalah 'pengharapan (hope)'. Kata 'pengharapan' di dalam bentuk kata kerjanya muncul sebanyak 31 kali di dalam PB, dan di dalam bentuk kata bendanya, ia muncul sebanyak 53 kali, jadi totalnya adalah 84 kali. Pengharapan adalah hal yang sangat penting. Akan tetapi kata 'pengharapan' ini memberitahu kita bahwa keselamatan adalah hal yang kita harapkan. Keselamatan itu adanya di masa depan. Dan alasan mengapa orang-orang jarang mengkhotbahkan tentang harapan adalah karena, untuk suatu alasan yang aneh, mereka tidak mau memandang keselamatan sebagai sesuatu yang terjadi di masa depan.

Pengharapan berkaitan erat dengan iman di dalam Kitab Suci. Pengharapan adalah unsur yang mendasar di dalam iman. Di Roma 4:18, segenap iman Abraham diungkapkan lewat fakta bahwa di tengah keputusasaan, dia mampu berharap. Itulah iman.

Itulah sebabnya mengapa di dalam Efesus 2:12 dikatakan bahwa saat kita tanpa Kristus, maka kita berada dalam keadaan tanpa pengharapan. Kita berada dalam keadaan janji. Kita tidak memiliki harapan. Namun ketika Yesus datang, dia menjadi pengharapan kita - Kristus Yesus, dasar pengharapan kita (1 Tim 1:1)

Di Kolose 1:27 disebutkan, Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan. Kapankah Anda memiliki pengharapan? Pada saat Kristus ada di dalam Anda. Apakah pengharapan akan kemuliaan itu? Sama saja dengan pengharapan akan keselamatan.

Demikianlah, di dalam 1 Tesalonika 5:8, rasul Paulus berkata, "...berketopongkan pengharapan keselamatan." Keselamatan adalah pengharapan itu!

Demikianlah, di dalam 1 Yoh 3:3, rasul Yohanes mengatakan: Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci. Engkau yang memiliki pengharapan ini, apakah yang engkau kerjakan? Engkau menyucikan diri! Engkau menjalani hidup yang kudus, sebagaimana Bapa dan Yesus itu suci.

Sudah saya sajikan bukti-buktinya dengan ringkas. Tentu saja, beberapa ayat yang saya sajikan itu tidak mencakup keseluruhan sekitar 50 rujukan yang ada, akan tetapi ayat-ayat tersebut bisa memberi Anda gambaran tentang apa yang disampaikan oleh Kitab Suci.

Keselamatan sepenuhnya menjadi milik orang yang bertahan sampai pada kesudahannya

Jadi, apa yang bisa kita katakan? Sekarang kita bisa melihat bahwa ajaran yang alkitabiah ternyata sangat berbeda dengan ajaran yang sering kita dengar. Keselamatan itu terdapat di titik akhir, bukan di titik awal. Apakah hal itu berarti bahwa kita sekarang ini tidak selamat? Bukan begitu! Kita, sekarang ini, memiliki Yesus Kristus di dalam diri kita: "Kristus ada di tengah-tengah kamu". Kita memiliki kenyataan ini, yaitu bahwa Kristus ada di dalam diri kita. Dan karena Kristus ada di dalam diri Anda, maka Anda memiliki pengharapan akan kemuliaan, bahwa keselamatan pada akhrinya nanti menjadi milik Anda.

Namun apa lagi yang kita miliki? Jaminan apa lagi yang kita miliki? Kita memiliki Roh Kudus di dalam diri kita. 2 Korintus 1:22, 5:5, Efesus 1:14, semuanya memberitahu kita bahwa Allah telah memberi kita Roh Kudus sebagai meterai bagi keselamatan kita. Meterai dengan Roh itu berarti bahwa Roh diberikan kepada kita sebagai ikatan, sebagai jaminan. Kata 'jaminan (earnest = meterai, jaminan)' ini memiliki arti sebagai uang muka, pembayaran pertama, yang merupakan janji untuk pelunasan selanjutnya. Sebagai contoh, saat Anda membeli rumah, maka Anda memberikan uang muka. Itulah yang dimaksudkan dengan kata 'earnest (meterai, jaminan)'.

Jika Anda membeli sebuah rumah dan Anda memberikan uang muka, apakah rumah itu sudah sepenuhnya menjadi milik Anda? Jika Anda tidak bertekun dan terus membayar cicilan Anda, maka rumah itu tidak akan pernah menjadi milik Anda. Anda harus terus membayar sampai harga rumah itu lunas dibayar. Namun apakah rumah itu sudah menjadi milik Anda? Ya, dalam pengertian tertentu, rumah itu sudah menjadi milik Anda. Anda mungkin bertanya, "Dan penegrtian yang seperti apa?" Dalam arti bahwa di atas sertifikatnya, tertulis nama pemiliknya adalah Anda, walau sebenarnya, mungkin Anda baru membayar 10% saja dari harga rumah tersebut. Apakah maksud dari pernyataan bahwa rumah itu milik Anda? Rumah itu menjadi milik Anda dengan syarat bahwa Anda terus membayar cicilannya sampai lunas.

Demikian pula halnya, iman adalah jaminan yang kita berikan kepada Allah. Allah memberi kita Roh Kudus sebagai jaminan dariNya. Keselamatan itu benar-benar menjadi milik kita. Keselamatan itu milik Anda. Saat Anda membayar uang muka, maka rumah itu menjadi milik Anda, dengan syarat Anda terus membayar sampai lunas. Anda tetap teguh, tak bergeser sampai pada kesudahannya. Itulah yang dikatakan oleh Paulus di dalam Kolose 1:23.

Anda lihat, meterai itu mengikat kedua pihak yang membuat kesepakatan tersebut. Perusahaan jasa keuangan yang membantu pembiayaan Anda tidak bisa seenaknya datang dan berkata, "Kami putuskan untuk mengambil kembali rumah ini. Kami tidak akan membantu pembiayaan rumah Anda lagi." Mereka baru boleh melakukan hal itu jika Anda memang gagal membayar cicilan Anda; yang berarti bahwa Anda gagal memenuhi kontrak Anda. Demikian pula, Allah telah memberi jaminan kepada kita; Dia telah memberi kita uang mukanya - yakni Roh Kudus itu sendiri. Dengan ini, Dia memberi kita janji akan keselamatan sepenuhnya, dengan syarat kita tetap setia sampai pada akhirnya. Kita boleh yakin bahwa Dia akan setia sampai pada kesudahannya. Dia tidak akan pernah berubah. FirmanNya tak akan pernah berubah. Yang perlu dikuatirkan bukanlah Allah; kita inilah yang perlu dikuatirkan. Allah akan memenuhi bagianNya. Hal itu tak perlu dipertanyakan lagi. Akankah kita menjalankan bagian kita? Di sinilah muncul apa yang disebut takut dan gentar, bukankah demikian? Akankah kita mengerjakan bagian kita?

Mengerjakan iman kita dengan takut dan gentar itu baik bagi jiwa kita

Takut dan gentar itu sama sekali bukanlah hal yang buruk. Hal ini justru sangat baik bagi jiwa kita. Mengapa baik bagi jiwa kita? Karena di dalam rasa takut dan gentar itu saya akan berpaut kepada Tuhan. Saya berkata, "Tuhan, berpautlah juga kepadaku." Namun sekarang ini, kita mengkhotbahkan Injil yang memicu rasa puas diri: "Kamu aman, teman! Tempatmu sudah dijamin di surga." Mereka bisa sampai berbuat seperti itu, berpuas diri sampai pada kesudahannya. Tak heran jika gereja dipenuhi oleh orang-orang Kristen nominal saja. Paulus tidak ingin kita mengembangkan jaminan semacam ini. Yang dia inginkan adalah agar kita mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar. Itulah yang dia inginkan. Paulus memberitakan Injil yang sangat berbeda dengan yang kita dengar di sekarang ini, bukankah demikian? Seperti yang telah kita lihat di pesan yang lalu, di Filipi 2:12, dia berkata, ">Karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar." Dia ingin agar Anda terus menerus takut dan gentar sampai pada kesudahannya. Janganlah berpuas diri! Paulus berkata, "pada saat kamu mengira bahwa kamu berdiri tegak, maka pada saat itulah kamu jatuh." (1 Kor 10:12). Jangan berani berpuas diri!

Yesus menyuruh kita waspada dan berjaga-jaga: "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan." Yang dimaksudkan jatuh ke dalam pencobaan ini bukanlah sekadar melakukan satu dosa kecil. Yang dimaksudkan adalah bencana besar. Itulah sebabnya mengapa Yesus mengajarkan murid-muridnya berdoa, "Janganlah bawa kami ke dalam pencobaan." Namun di zaman kekristenan yang penuh dengan rasa puas diri ini, tak ada orang yang memanjatkan doa semacam itu lagi. Anda tidak perlu lagi memanjatkan doa semacam itu. Jatah tempat mereka di surga sudah diamankan. Namun, perhatikanlah betapa penulis surat Ibrani juga menyampaikan hal yang sangat berbeda. Di dalam Ibr 3:14, dia berkata, "Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula." Ini adalah pernyataan yang sama dengan yang dibuat oleh Paulus, dan juga sama persis dengan pernyataan Yesus sendiri. Penulis surat ini berkata, "Kalian beroleh bagian di dalam Kristus. Memang betul demikian! Namun dengan syarat, hanya jika, kalian teguh berpegang sampai pada akhirnya pada keyakinan kalian yang semula." Dia mengulangi lagi pernyataan ini, dengan kata-kata yang berbeda, di Ibrani 6:11.

Demikianlah, Yesus sendiri menyuruh kita untuk mengalahkan dosa dan terus mengerjakan pekerjaannya sampai pada akhirnya. Inilah panggilan yang diserukan kepada kita di dalam Wah 2:26. Dia berkata, "Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa." Dan lagi, di dalam Wah 2:10, dia menyuruh kita untuk setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.

Bukankah ini semua merupakan bukti yang memadai untuk menunjukkan kepada Anda apa yang diajarkan oleh Kitab Suci? Telah saya sampaikan daftar rujukan ayat-ayat. Anda yang mencatat semua itu pasti sudah sangat kelelahan. Dan sekali lagi saya tekankan, saya ingin agar Anda tahu apa yang disampaikan oleh Firman Allah, bukan apa yang disampaikan oleh saya. Dan Anda akan tahu bahwa apa yang saya sampaikan itu sebenarnya baru sebagian kecil dari sekian banyaknya rujukan yang ada, yang kalau Anda ingin telusuri, bisa Anda cari lewat konkordansi. Demikianlah, ada janji Allah yang sangat indah bagi kita, janji yang harus kita klaim dengan iman, dan dengan iman yang teguh bertahan. Demikianlah, Yesus, di Luk 21:18-19, mengucapkan pernyataan yang berharga ini, "Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang." Itulah janjinya. Namun apa bagian tanggung jawab Anda? Bagian tanggung jawab Anda adalah: Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.

Apakah sekarang Anda bisa melihat dengan cara apa jiwa Anda akan diselamatkan? Di satu sisi, ada janji dari Tuhan, dan [di sisi lain], ada tanggapan serta tanggung jawab kita. Jadi, kita bisa melihat bahwa keselamatan adalah hal yang sangat berharga, akan tetapi juga bukan merupakan hal yang mudah.

Demikianlah, uraian ini juga menunjukkan betapa kita perlu bergantung pada kasihnya hari demi hari, setiap saat, selalu di dalam keyakinan bahwa Yesus tidak berubah, kasihnya kepada kita tak pernah berubah. Di firman yang sangat berharga di dalam Yoh 13:1, "...Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya." Dan juga, pada akhir suratnya, Yudas berkata, "Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung" (Yud 1:24). Kita ini lemah, namun Allah mampu menjaga supaya kita tidak jatuh. Akan tetapi janganlah memutarbalikkan makna ayat ini dan menyatakan bahwa Dia akan tetap menjaga kita sekalipun kita telah jatuh, sekalipun Anda terus hidup d dalam dosa. Anda harus bergantung kepadaNya agar tidak jatuh. Ini bukanlah janji untuk mengasihi Anda setelah Anda jatuh dan terus hidup di dalam dosa.

Namun jika Anda berkata, "Wah, kalau saya berbuat dosa, apa yang bisa saya perbuat? Apakah saya jadi tidak punya harapan?" Tidak sama sekali! Segeralah bertobat, kembali kepada Tuhan, maka Anda akan diampuni. Seperti yang dikatakan oleh rasul Yohanes di 1 Yoh 1:9, "Barangsiapa mengakui dosa-dosanya, maka Allah akan mengampuni dia." Namun jangan berani-berani untuk terus hidup di dalam dosa! Peringatan ini tidak ditujukan kepada perbuatan dosa Anda, melainkan kepada tindakan Anda selanjutnya, jangan teruskan hidup di dalam dosa. Anda harus segera bertobat kembali kepada Tuhan.

Allah akan menjaga kita - jika kita teguh

Jika Allah menghendaki, saya akan menguraikan lebih lanjut mengenai masalah jaminan keselamatan ini dalam satu atau dua minggu ke depan. Apakah dasar keselamatan yang alkitabiah? Ini adalah hal yang akan saya bahas lebih lanjut, dan juga tentang perbedaan antara jaminan yang palsu dengan jaminn yang sejati. Namun pada dasarnya, jaminannya adalah bahwa Allah akan menjaga kita, Ia akan menopang kita di dalam kelemahan kita dan menjadikan kita kuat sampai pada kesudahannya, jika kita teguh bergantung kepadaNya.

Demikianlah, sebelum menutup pembahasan, saya akan bacakan lagi ayat-ayat di dalam Kolose 1:22-23:

...sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. -- itulah tujuan kematiannya bagi kita - yakni untuk menempatkan kita kudus dan tak bercela di hadapannya -- Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya... Sekarang, saya yakin, bahwa Anda telah mengerti dengan sempurna apa yang dimaksudkan oleh Paulus.

Pembahasan kita hari ini memang tidak mudah. Lebih mengarah pada pembahasan teknis. Mungkin khotbah-khotbah ini sangat menguras konsentrasi, sangat melelahkan. Mungkin bukan khotbah yang dapat dinikmati, enak didengar dan menyenangkan. Saya bukan tipe pendeta yang gemar menepuk bahu Anda, sambil menyampaikan hal-hal yang menyenangkan hati Anda, dan Anda bisa pulang ke rumah dengan hati senang. Tidak, di sini kami ingin mencari kebenaran, entah kebenaran itu akan menyakitkan hati atau tidak. Kebenaran, dan seluruh kebenaran itulah yang harus kita kejar. Saya percaya bahwa Allah akan menganugerahkan Anda kasih akan kebenaran.

-Selesai-

(Penguraian lengkap tentang komitmen total dapat dibaca di buku Totally Committed karangan Pendeta Eric Chang)

[Download]


Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.

Standard
Besar
Terbesar

Seri Pedalaman Alkitab: Seri Keselamatan

Keselamatan dan Kekudusan

Keselamatan dan Iman

Keselamatan dan Kelahiran Kembali

Keselamatan: Kemerdekaan dari kuasa dosa

Keselamatan dan Kasih Karunia

Keselamatan dan Pertanggungjawaban Manusia

Jenis orang Kristen manakah Anda?

Keselamatan: Menghasilkan buah oleh karya Allah

Keselamatan: Bertahan sampai pada akhirnya

Keselamatan & Pencobaan

Keselamatan & Jaminan Palsu

Keselamatan & Jaminan yang sejati

Keselamatan: Mencapai kepenuhan Allah

Keselamatan: Dipenuhi oleh Roh Allah

Copyright 2002-2014. Semua materi di situs ini adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries.
E-mail kami untuk mendapatkan izin untuk menggunakan materi di situs ini.
Best viewed with IE6.0 and 1024 x 768 resolution.