| Saran & Komentar | updated on 09 March 2014

Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan

Halaman Utama

  |  Tentang Kami

  |  Hubungi Kami

  |  Izin Pemakaian Materi 

  |  Dapatkan Buletin Gratis di sini! 

Sumber Damai

Khotbah/PA


Inspirasi

Artikel/Renungan

Kesaksian Hidup


Pelatihan

Discipleship Trainings


Lain-Lain...

Buku-buku Terbitan

Lagu dan Film

Bible Study (P.A)

Siaran Mandarin

Buletin Gratis!

Follow Us


BACA ONLINE


BACA ONLINE


KATA PENGANTAR

Keselamatan Dan Kelemahan

Yang Kedua dari serangkaian khotbat-khotbah penafsiran 2 Korintus 12:9
"Dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna"
Disampaikan oleh Pastor Eric Chang
Di Gereja Christian Disciples Kuala Lumper (Malaysia).

Kerjakan Keselamatanmu Dengan Takut Dan Gentar
Sesuai dengan kehendak Allah, hari ini saya akan menjelaskan satu pokok yang sangat penting dalam Firman Allah. Filipi 2:12 mengatakan, "Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir."

Kita akan meneliti kata-kata ini, "Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar." Di sepanjang kehidupan kekristenan saya (yang meliputi waktu yang sangat panjang), saya tidak pernah mendengar seorangpun menjelaskan kata-kata tersebut. Namun kata-kata tersebut sangat penting karena mereka berhubungan dengan keselamatan. Keselamatan kita harus dikerjakan, heran benar, dengan "takut dan gentar". Kita cenderung untuk berpikir bahwa kehidupan kekristenan berhubungan dengan kasih, sukacita dan damai sejahtera semata-mata, tetapi tahukah anda bahwa takut dan gentar bersangkut-paut dengan kehidupan kekristenan dan dengan keselamatan?

Jika anda mencari jawabannya dalam buku-buku tafsiran, anda akan mencari dengan sia-sia untuk satu penjelasan yang memuaskan. Saya sudah menanyakan kepada banyak orang, "Tolong jelaskan kepada saya arti dari kata-kata ini," namun tidak seorangpun yang dapat menjelaskan kepada saya. Rupanya kita telah kehilangan kunci untuk memahami Firman Allah dan memahami arti keselamatan. Dan jika kita kehilangan kunci untuk memahami keselamatan, kita sesungguhnya telah kehilangan segala sesuatu.

Sekalipun kita melakukan satu "penyelidikan kata" (word study) atas ayat ini, kita belum tentu dapat menemukan jawabannya. Kita harus memahami dasar yang mendasari kata-kata tersebut. Jadi hari ini kita meminta agar Tuhan menolong kita untuk memahami kata-kata yang amat penting ini.

Paulus Mengerjakan Keselamatannya Dengan Takut Dan Gentar
Bagaimana anda harus mengerjakan keselamatan anda? Jawabannya sangat mengherankan: yaitu, dengan takut dan gentar. Paulus adalah seorang rasul yang memberitakan kemerdekaan; dialah rasul yang berbicara tentang kemerdekaan di dalam Roh (Galalatia 5:1) dan tentang kasih, sukacita dan damai sejahtera. Namun di sini Paulus berbicara tentang takut dan gentar dalam konteks mengerjakan keselamatan kita! Kita tidak suka mendengar khotbah semacam ini. Pada masa kini banyak pengkhotbah yang berbicara tentang "power evangelism", tentang kuasa dan  kekuatan, tentang kemuliaan dan kebesaran. Dan kita tidak terbiasa mendengar tentang "takut dan gentar". Bagaimana kita dapat memahami hal ini?

Jika anda menyelidiki kata-kata tersebut dengan menggunakan sebuah konkordansi, anda akan menemukan bahwa Paulus menggunakan kata "takut" dan kata "gentar" beberapa kali dalam kombinasi dan susunan yang sama, yaitu "takut dan gentar". Ungkapan tersebut mempunyai arti yang sedikit berbeda di dalam konteks yang berbeda. Kadang-kadang ia berarti sikap patuh atau taat, seperti seorang hamba harus patuh dan taat kepada tuannya. Kita mungkin merasa heran karena Paulus mau memberikan nasihat seperti ini kepada seorang hamba, akan tetapi Paulus juga mempergunakan istilah "takut dan gentar" untuk dirinya sendiri. Misalnya di 1 Korintus 2:2-3, Paulus mengatakan, "Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar."

Di sini Paulus berbicara tentang Yesus Kristus "yang disalibkan" - bukan Yesus Kristus Raja kemuliaan, maupun Yesus Kristus Tuhan segala tuhan, maupun Yesus Kristus Allah segala allah. Paulus berbicara tentang Yesus Kristus yang disalibkan, yang tergantung di atas kayu salib dalam kelemahan dan tidak berdaya sama sekali. Paulus berkata kepada jemaat di Korintus: "Untuk sekarang ini, aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa, bahkan ketuhanan Kristus juga tidak, tetapi hanya Yesus Kristus yang disalibkan!" Karena melalui kematian-Nya di atas saliblah, Yesus diakui sebagai Tuhan (Filipi 2:8-11). Ia melanjutkan untuk berkata, "Aku juga telah datang kepadamu......" Dalam apa? Dalam menjalankan kuasa dan otoritas seorang rasul? Tidak. Paulus telah datang kepada mereka "dalam kelemahan". Dan seolah-olah masih tidak cukup, Paulus meneruskan untuk berkata bahwa ia berada dalam keadaan "sangat takut dan gentar" - ungkapan yang sama yang dipakai di dalam suratnya kepada jemaat di Filipi.

Bagaimana kita dapat memahami pernyataan  yang mengherankan ini? Paulus, sebagai rasul yang begitu besar dan berkuasa, memberitahu jemaat di Korintus bahwa ia datang kepada mereka dalam "kelemahan" dan dengan sangat "takut dan gentar". Paulus menjadi begitu lemah sehingga dia gemetar.

Pernahkah anda mengalami hal ini? Seringkali saya berada dalam keadaan yang begitu lemah sehingga saya gemetar ketika mengangkat tangan. Saya akan berkata sendiri, "Apa sudah terjadi kepada saya? Lihat tangan saya!" Banyak di antara kita mungkin pernah mengalami demam yang  begitu melemahkan sehingga anda menggigil dan gemetar.

Tetapi rasul Paulus gentar karena ketakutan! Ya, ia merasa takut dan gentar. Ini merupakan satu gambaran bagi seorang yang sangat lemah. Dapatkah anda memahaminya? Sejak semula anda berpikir bahwa kehidupan kekristenan berhubungan dengan kuasa semata-mata. Masa kini kita mendengar begitu banyak tentang kuasa, bahkan "power evangelism". Semua orang merindukan kuasa. Seseorang yang bernama A. Robbins menggunakan kata "Power" di kulit bukunya, dan buku tersebut terjual dengan laris sekali. Ingin menjual buku? Tulislah sesuatu tentang "HOW TO GET POWER" ("Bagaimana untuk mendapatkan kuasa") dan buku tersebut akan laris.

Dan siapa mau membeli sebuah buku tentang kelemahan? Jika sebuah buku diberi judul "Bagaimana untuk menjadi lemah," buku tersebut akan duduk di atas rak buku untuk selama-lamanya, tidak akan dapat dijual. Orang bodoh yang mana yang akan membeli sebuah buku tentang menjadi lemah? Kedengaran tidak masuk akal. Namun begitu, hari ini saya akan menyampaikan satu khotbah yang tak masuk akal tentang kelemahan.

Gereja Menolak Prinsip Kelemahan
Teologia masa kini lebih banyak menangani tulisan-tulisan Paulus. Siapakah yang menulis surat yang sedang kita pelajari hari ini? Tentu saja Paulus. Apa rahasia kekuatannya? Rahasianya ialah kelemahan, dan Paulus sedang membagikan rahasia tersebut dengan kita. Paulus mengatakan, "Aku datang kepada kamu, dan apa yang aku lakukan? Apakah aku berlaga dan meninggikan daguku dan meninggikan diriku - dan menundukkan kamu dengan kehadiranku dan kuasa karismatikku? Apakah di dalam kekaguman kamu semua memandang aku - seorang rasul yang besar dengan satu halo (lingkaran) cahaya di atas kepala?" Gambaran seperti inilah yang diharapkan oleh dunia. Satu penampilan yang mengesankan sangat penting di dunia ini. Jika anda berkelakuan seperti seekor tikus, anda tidak dapat menjadi direktur sebuah perusahaan. Anda harus berjalan dengan penuh kepercayaan, melambai-lambaikan tongkat anda, mempunyai penampilan yang mengesankan, dan tampak penting.

Apa yang dikatakan oleh Paulus? Paulus mengatakan bahwa ia lemah di tengah-tengah mereka. Kita mendapati pernyataan tersebut begitu sulit untuk diterima sehingga kita mencurigai bahwa seseorang telah menyisipkan kata-kata tersebut ke dalam surat Paulus. Maaf, kata-kata tersebut adalah kata-kata Paulus sendiri. Dan sejauh mana Paulus lemah? Sehingga sangat takut dan gentar. Bayangkan, rasul Paulus berdiri di situ dan bergemetar. Dapatkah anda bayangkan Paulus di dalam keadaan ini?

Tetapi kelemahan ialah satu prinsip yang berkaitan dengan keselamatan. Paulus menyuruh kita untuk mengerjakan keselamatan kita. Bagaimana? Dengan takut dan gentar! Kata-kata tersebut mengungkapkan kelemahan yang intens.

Apakah anda mengerjakan keselamatan anda dengan takut dan gentar? Apakah anda merasakan kelemahan yang mendalam di dalam kehidupan anda? Itulah yang menjadi masalah bagi kebanyakan orang. Banyak orang Kristen merasa lemah di dalam, tetapi mereka berpikir bahwa tidak pantas dan tidak-kristiani untuk tampak lemah. Jadi sekalipun mereka tidak ingin senyum, mereka tetap memberikan satu senyuman yang lebar, kalau tidak, saudara-saudara mungkin berkata kepada anda, "Apa sudah terjadi? Kamu pusing atau sakit perut? Istri kamu memarahi kamu?"  Makanya kita berusaha untuk memberikan satu senyuman yang manis sekalipun kita merasa buruk sekali. Kita sudah dilatih untuk memberikan senyuman Colgate (atau, Ciptadent). Tekniknya agak sederhana, anda hanya perlu melonggarkan otot di bibir sedikit, dan kemudian senyum. Dan apa perasaan anda? Anda merasa seperti seorang bodoh dan munafik, bukankah begitu? Anda berkata, "Baik, bagus" sekalipun anda tidak memaksudkannya sama sekali.

Kita tidak berani mengaku bahwa kita lemah atau sengsara. Karena itu kita hidup di dalam kemunafikan. Setiap minggu sore anda kewalahan dari berlakon di dalam gereja. Anda berlakon dengan begitu baik sehingga anda layak mendapatkan pekerjaan di Hollywood. Semua orang berpikir bahwa anda bahagia sekali meskipun sebenarnya anda merasa melarat sekali. Kedengaran familier, bukan? Kita tidak mempunyai keberanian untuk mengaku, "Hari ini saya lemah dan lelah dan muram. Sepanjang minggu saya tidak dapat menjalankan kehidupan kekristenan. Saya kewalahan dari berpura-pura tampil kuat. Lebih banyak saya berpura-pura, lebih capek saya. Sekarang saya telah kehilangan keinginan untuk tampil kuat. Saya tidak lagi peduli apa pendapat orang lain terhadap saya." Jika itu menggambarkan keadaan anda, mungkin anda pada akhirnya telah tiba di mana anda seharusnya sejak dari awal.

Menurut saya suasana di dalam gereja adalah lebih sehat jika kita bisa datang ke persekutuan doa atau perjamuan kudus dan berkata dengan jujur, "Saudara-saudara, saya merasa jelek hari ini. Maafkan saya jika saya tidak senyum. Saya berterima kasih jika anda berdoa untuk saya. Jujur saja, saya tidak dapat hidup dalam kemenangan sepanjang minggu lalu. Saya telah melakukan hal-hal tidak harus dilakukan, dan mengatakan apa yang tidak harus dikatakan. Jadi, maafkan saya jika saya tidak senyum hari ini. Ingatlah saya di dalam doa kalian." Menurut saya, itu jauh lebih ikhlas dari kepura-puraan yang seringkali menjadi ciri kehidupan kekristenan.

 "Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar" berarti, setidak-tidaknya, menjadi ikhlas dan mengaku kelemahan kita. (Tentu saja, ia berarti jauh lebih banyak dari itu.) Ikhlas berarti kita mengaku bahwa kita tidak sebesar yang kita bayangkan, atau sebagaimana kita ingin orang lain memikirkan kita.

Paulus Memilih Untuk Menjadi Lemah
Rasul Paulus tidak akan pernah berpura-pura. Bukan saja Paulus telah memutuskan untuk tidak berpura-pura, ia malah meletakkan dirinya di dalam kelemahan. Hal ini sangat sulit untuk dimengerti, bukan? Apabila kita mempelajari cara Paulus melakukan segala sesuatu, kita akan terus-menerus diherankan.

Izinkan saya memberikan satu contoh lagi. Di 2 Korintus 10:10 Paulus mengutip apa yang disebutkan oleh jemaat di Korintus tentang dirinya: "surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti." Kelihatannya, Paulus tidak mempunyai penampilan yang karismatik dan mengesankan. Catatkan kata "lemah" yang dipakai oleh jemaat di Korintus untuk menggambarkan Paulus. Dan Paulus sendiri memberitahu jemaat di Korintus bahwa di tengah-tengah mereka ia berada dalam keadaan yang "lemah". Penampilan jasmaninya lemah dan tidak mengesankan; perkataan-perkataannya tidak berarti, dan cara berbicaranya juga tidak fasih.

Meskipun memiliki ilmu yang banyak dan kecerdasan yang hebat (dan hal ini diakui oleh semua orang), Paulus berbicara dengan cara yang rendah dan tidak mengesankan. Sebenarnya ilmunya begitu banyak sehingga seorang pejabat tinggi pernah berkata kepadanya, "Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila." (Kisah 26:24). Paulus, ilmunya sangat banyak, dan ilmu, tentu saja, adalah dasar bagi kefasihan dan perbendaharaan kata yang luas. Dengan pendidikan yang baik disertai oleh kemampuan intelek yang tinggi, anda dapat mengemukakan maksud dengan fasih dan meyakinkan.

Mengapa perkataan-perkataan Paulus begitu tidak berarti? Terdapat hanya satu penjelasan untuk hal tersebut. Memandangkan kecerdasan Paulus yang begitu tinggi,  terdapat hanya satu penjelasan mengapa perkataan-perkataannya dapat menjadi tidak berarti: yaitu, atas pilihannya sendiri.

 "Aku telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar" (1Kor. 2:3). Paulus memilih untuk menjadi lemah daripada mengesankan orang lain dengan kefasihannya. Mengapa? Ia menjelaskan di ayat berikutnya di ayat 5, "supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah." Itulah sebabnya mengapa Paulus mengesampingkan semua hikmat manusia. Sekarang kita mulai memahami cara bekerja Paulus yang menakjubkan, yang sangat bertolak belakang dengan cara manusia. Pengkhotbah-pengkhotbah yang dilatih di seminari diajar untuk menjadi fasih dan mempamerkan suatu penampilan di atas mimbar, tetapi Paulus berbuat yang sebaliknya.

Di 2 Korintus 10:1 Paulus mengatakan, "Aku, Paulus, merayu kepada kamu....." Apakah ia berkata, "Aku, Paulus, bos dan rasul kepada jemaat di Korintus, memerintahkan kamu"? Tidak, ia berkata, "Aku, Paulus, merayu kepada kamu demi Kristus yang lemah-lembut dan ramah....." Di sini jelas sekali Paulus merujuk lagi kepada Yesus Kristus yang disalibkan. Oleh karena itu, ia merayu  kepada mereka di dalam kelemahlembutan  dan keramahan Kristus yang tersalib demi dosa kita tersebut, dan berkata, "Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan" (yakni, berani di dalam surat-suratnya, menurut jemaat di Korintus dalam ayat 10). Di sinilah letaknya rahasia Paulus. Ia tidak menggunakan teknik-teknik manusia; dan itulah sebabnya Allah dapat memakainya.

Gereja Telah Menjadi Serupa Dengan Dunia
Di Amerika Utara saya suka mengunjungi toko-toko buku, dan seringkali saya menjadi heran melihat bagaimana gereja masa kini menggunakan metode-metode dunia untuk memberitakan Injil. Anda dapat menemukan buku-buku seperti "Keys to Excellence" ("Kunci kepada Keunggulan") atau "Strive for Excellence" ("Mengejar Keunggulan"). Akan tetapi, keunggulan yang mereka cari adalah keunggulan yang berasal dari teknik-teknik dunia, dari administrasi bisnis di dunia, dari prinsip-prinsip kepemimpinan di dunia. Hal-hal seperti inilah yang mereka praktekkan di dalam gereja. Dan buku-buku seperti ini yang dapat ditemukan di toko-toko buku Kristen adalah buku-buku yang termasuk "best-sellers". Beberapa dari penulisnya bahkan bukan orang Kristen, mereka hanya merupakan ahli-ahli dalam bidang bisnis. Kita sudah begitu jauh menyimpang dari Injil sehingga kita tidak lagi menyadari bahwa prinsip-prinsip duniawi tersebut tidak dapat dipraktekkan di dalam gereja. Prinsip-prinsip tersebut bertolak belakang dari cara berfungsi gereja yang seharusnya.

Karena itu, Paulus memilih untuk menjadi rendah. Ia memilih untuk mengesampingkan hikmat manusia ketika berbicara, dan menahan diri dari mengesankan orang lain dengan ilmunya yang banyak dan kemampuan inteleknya yang tinggi. Banyak orang menilai Paulus sebagai seorang jenius. Kepandaiannya jelas kelihatan dari surat-suratnya (misalnya Roma). Akan tetapi pada waktu yang sama, juga jelas kelihatan dari surat-suratnya bahwa ia tidak berusaha untuk mengesankan pembacanya dengan kepandaiannya yang luarbiasa.

Tanpa sikap seperti itu, anda tidak dapat menjalankan kehidupan kekristenan, jangankan mengerjakan keselamatan anda dengan takut dan gentar. Bahkan anda tidak akan pernah tahu apa artinya takut dan gentar. Takut dan gentar adalah satu persoalan yang berkaitan dengan pilihan. Tidak ada orang yang memaksakan hal tersebut ke atas diri anda. Tidak ada orang yang memaksa Paulus supaya menjadi lemah lembut dan ramah. Ia menjadi lemah atas pilihannya sendiri.

Ia tidak mempergunakan otoritasnya, apa lagi menyalahgunakannya. Ia tidak menunjukkan pengaruhnya atau suka memerintah orang lain. Ia berkata, "Aku merayu kepada kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah." Ia tidak memukul-mukul mimbar. Siapa saja yang memukul mimbar pasti berpikir ia mempunyai wewenang untuk memukul mimbar dan memarahi orang lain. Pernahkah anda mendengar pengkhotbah seperti itu? Mereka bukan main sombong. Mereka menyamakan memukul mimbar dengan kuasa dan otoritas. Betapa tak masuk akal!

Sekolah Kristus
Pada waktu saya masih seorang pemuda non-Kristen, saya suka membaca majalah-majalah yang diminati oleh pemuda laki-laki. Banyak dari majalah-majalah tersebut mengiklankan program-program olahraga pembentuk tubuh. Mereka akan menunjukkan gambar satu bentuk tubuh yang kurus seperti kerangka hidup, yang layak dijadikan spesimen bagi penelitian medis. Kemudian terdapat satu gambar lagi untuk orang yang sama setelah ia mendaftar menjadi anggota program olahraga tersebut. Wow, sekarang tubuhnya penuh otot-otot yang menonjol dalam segala arah - satu pria yang sejati! Anda memandang tubuh anda dan berkata, "Hei, saya lebih mirip kerangka itu. Jadi saya harus berusaha menjadi serupa seperti gambar yang satu lagi dan menjadi seorang He-man!"

Hal-hal yang bagaimana menarik perhatian anda? Inginkah anda menjadi seperti He-man dengan otot-otot yang menonjol? Mengapa kita begitu tertarik dan menginginkan otot-otot yang menonjol? Karena otot-otot tersebut adalah kekuasaan dan kekuatan. Jika ada yang berani menganggu anda, anda dapat menghajarnya.

Tetapi andaikata iklan tersebut dibalikkan: "Wahai orang-orang berotot, datanglah ke sekolah kami dan kami akan menurunkan anda menjadi batang kayu! Hasilnya dijamin!" Apakah banyak orang akan berantrian dan menunggu untuk menjadi batang kayu? Tentu saja tidak. Kedengaran begitu menggelikan.

Akan tetapi itulah sekolah Kristus. Percaya atau tidak, Tuhan akan menurunkan anda menjadi batang kayu. Apakah ada yang rindu untuk melamar masuk sekolah Kristus? Sudah banyak tahun saya memasuki sekolah itu, dan lihat apa yang terjadi kepada saya. Lihatlah bentuk badan yang cantik ini!

Kekuatan Masa Muda Saya
Ketika saudara Chris Wong menjemput saya dari bandara dalam mobil, saya menceritakan kepadanya tentang masa muda saya. Pada waktu itu, saya adalah seorang olahragawan yang tidak berminat sama sekali dengan subyek-subyek yang membosankan seperti sejarah, kesusasteraan, dan kimia. Siapa mempunyai waktu untuk omong kosong seperti itu apabila anda dapat bermain di lapangan olahraga? Jadi saya meluangkan sepanjang hari di lapangan olahraga. Setelah beberapa tahun berbuat demikian, otot-otot saya menonjol di mana-mana. Saya tidak terlalu iri dengan iklan yang disebutkan tadi karena saya mempunyai otot-otot saya sendiri. Saya selalu mengagumi diri saya di hadapan cermin. Saya akan menegangkan otot berbentuk-V ini, dan menggerakkan dada saya atas bawah. Enak sekali. (Anda tidak dapat membayangkan saya seperti itu sekarang, betul?)

Saya akan melihat ke dalam cermin untuk melihat otot-otot di perut saya - terdapat enam pelat bersegi empat di situ. Saya juga suka beradu tinju, makanya sangat penting untuk saya mempunyai sedikit otot di perut kalau-kalau saya ditinju. Jadi kalau ditinju di perut, itu tidak jadi masalah bagi saya. Saya mengagumi diri saya setiap hari. Bapa saya sering berkata, "kamu buat apa di dalam kamar mandi itu?" Saya akan berkata, "Sikat gigi!" "Mengapa begitu lama?"  Sebenarnya sikat gigi hanya membutuhkan setengah menit; waktu yang sisa saya sedang mengagumi diri saya. Tetapi lihatlah saya sekarang, dan anda mungkin bertanya-tanya bagaimana saya bisa menjadi seperti ini. Tetapi seperti itulah saya sewaktu masih muda.

Sepanjang hari saya berada di lapangan olahraga bermain softbal, baseball, badminton. Olahraga kesukaan saya adalah berenang, baseball, sofbal dan bela-diri.

Bagaimana dengan studi saya? Baik, pada waktu senggang saya berusaha menyelipkan sedikit waktu untuk belajar. Belajar adalah kegiatan waktu-luang. Saya memikirkan satu strategi yang sangat membuahkan hasil, dan saya tidak mengerti mengapa orang lain menghabiskan begitu banyak waktu belajar. Strategi saya agak sederhana. Dengan menguasai dua subyek, saya dapat lulus ujian penerimaan apa saja dan diterima di sekolah manapun. Di Negeri Cina, penerimaan siswa sekolah ditentukan oleh ujian penerimaan. Bapa saya berpikir bahwa anak mudanya ini, yang meluangkan sepanjang hari di lapangan olahraga, tidak akan berhasil masuk sekolah tinggi. Nah, saya mengambil ujian tersebut di empat sekolah yang terbaik di Shanghai, dan diterima oleh keempat-empat sekolah tersebut. Bapa saya menjadi bingung.

Rahasia saya sangat sederhana. Pertama, saya akan unggul dalam bahasa Inggeris (satu hal yang mudah bagi saya karena saya belajar bahasa Inggeris sejak sekolah dasar). Saya banyak membaca buku-buku bahasa Inggeris, jadi standar saya di Negeri Cina dianggap sangat tinggi. Saya selalu mendapat nilai di atas 90% dalam ujian bahasa Inggeris manapun tanpa perlu mempelajarinya. Karena itu, hanya tinggal satu subyek lagi untuk dikuasai: yaitu, matematika. Saya menyukai matematika karena saya menganggapnya seperti satu permainan. Anda dapat bermain-main dengan matematika dan mendapat nilai yang tinggi. Bermain-main dengan ilmu hitung adalah suatu kesenangan, bukan pekerjaan berat. Saya hampir selalu mendapat nilai 100% dalam mata pelajaran matematika. Ada guru yang tidak akan pernah memberikan nilai penuh, jadi saya harus puas dengan 99%. Dengan kedua subyek tersebut melebihi nilai 90%, saya dijamin mendapat satu tempat di sekolah manapun selagi saya lulus subyek-subyek lain yang membosankan - seperti kimia, di mana saya pada kebiasaannya mendapat kira-kira 70%. Itulah rahasia yang membolehkan saya untuk menghabiskan sepanjang hari di lapangan olahraga dan membina satu bentuk tubuh yang mengesankan.

Allah Mengajar Kita Untuk Menjadi Lemah
Akan tetapi setelah Tuhan menangkap saya, Ia benar-benar bekerja atas diri saya. Sekolah Kristus menuntun saya ke arah yang bertentangan: dari seorang yang berotot menjadi sebatang kayu. Banyak di antara kalian tahu dari kesaksian saya bahwa setelah menjadi seorang Kristen, saya menderita kelaparan selama tiga tahun, dan setelah itu saya hanya tinggal kulit dan tulang. Saya tampak menyedihkan di depan cermin. Di satu sisi, anda dapat bermain gitar, dan di sisi yang lain anda dapat bermain banjo. Apa sudah terjadi kepada semua otot-otot saya? Mereka menyerap ke dalam tubuh; semuanya hilang. Allah benar-benar bekerja dalam arah yang berlawanan, mengubah saya dari seorang yang kuat menjadi seorang yang  lemah (Mazmur 102:23).

Siapa saja yang pernah menjadi kuat akan mengetahui apa dampaknya hal tersebut terhadap kesehatan emosional seseorang. Banyak orang melakukan olahraga pembentuk tubuh bukan saja untuk tampak bagus, tetapi juga untuk mendapatkan manfaat psikologisnya. Tubuh yang berotot memberikan keyakinan diri. Anda merasa seperti berada di puncak dunia. Anda merasa tangkas. Sekarang saya sudah lupa bagaimana rasanya perasaan tersebut. Sekarang untuk kebanyakan waktu, saya merasa lemah. Dan semakin lama saya belajar di sekolah Kristus, semakin lemah saya. Akan tetapi Allah ingin memberi kepada kita kekuatan; karena itu Ia mengajar kita untuk menjadi lemah.  

Ini tidak berarti bahwa Firman Allah mengajar kita untuk mengabaikan kesehatan kita, apa lagi dengan sengaja merusakkannya. Umpamanya, ada banyak orang yang sangat antusias namun tersesat karena mereka merusakkan kesehatan mereka melalui puasa yang terlalu lama. Kita harus sentiasa mengingat bahwa "tubuhmu bukan milik kamu sendiri, sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar" (1 Korintus 6:19-20). Tubuh kita adalah milik Tuhan yang telah membeli kita dengan darah-Nya sendiri, dan karena itu kita tidak mempunyai hak untuk merusakkannya. Hanya Tuhan yang berhak untuk menangani kita karena Dia, di dalam hikmat-Nya yang sempurna, mengetahui apa yang terbaik untuk kita dan untuk gereja-Nya. Hanya Tuhan yang mengetahui bagaimana untuk menangani kita sehingga kuasa dan kemuliaan-Nya dapat diperlihatkan melalui kelemahan kita.

Dalam Kelemahanlah Kuasa-Ku Menjadi Sempurna
Paulus juga melewati pengalaman yang sama. Paulus mengatakan di dalam 2 Korintus 12:7, "Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri." Bahkan rasul Paulus sendiri dapat dicobai dengan kesombongan, sehingga ia harus diberikan satu penyakit. Di ayat 8 dan 9 Paulus berkata, "Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: 'Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.'"

Tiga kali Paulus berdoa, dan tiga kali Tuhan menjawab "tidak". Bagaimana kuasa disempurnakan? Ia disempurnakan di dalam kelemahan. Itulah azas di sebalik pernyataan-pernyataan Paulus yang telah kita baca tadi. Paulus telah mempelajari rahasia bahwa kuasa Allah dinyatakan hanya ketika kita menjadi lemah.

Paulus melanjutkan untuk berkata, "Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." Paulus tidak hanya menerima kelemahan yang dialaminya, ia bahkan bermegah di dalamnya. Ia menerima dengan sukacita duri di dalam daging tersebut.

Cobalah menusukkan satu duri bunga mawar ke dalam daging anda, dan anda akan mengetahui apa yang dialami oleh Paulus. Kata "duri" menyatakan perasaan sakit. Paulus diberikan suatu penyakit yang sangat menyakitkan dia. Tetapi Paulus tidak mengatakan dengan pasrah, "Pada akhirnya aku menerima duri tersebut." Sebaliknya, ia bersukacita di dalam kesakitan dan kelemahan. Apakah Paulus sudah gila? Tidak sama sekali, karena Paulus tahu bahwa pada saat dia lemah, saat itulah kuasa Kristus akan turun menaunginya (kata bahasa Yunani berarti "tinggal di dalam" dia).

Di ayat 10 Paulus mengatakan, "Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus." Kemudian ia menegaskan sekali lagi rahasia tersebut: "Sebab jika aku lemah, maka aku kuat." Sekarang kita tahu mengapa Paulus memilih untuk menjadi lemah. Karena ketika itulah kuasa Allah menjadi sempurna. Andai saja anda mengetahui hal ini, anda tidak akan berpura-pura tampak kuat dan berusaha untuk mengesankan orang lain dengan kekuatan anda.

Apakah anda merasa sedih? Jika jawabnya 'ya', maka anda sedang merasa lemah. Ini merupakan satu kesempatan bagi Allah untuk menunjukkan kekuatan-Nya melalui anda. Jadi mengapa anda berusaha untuk menekan perasaan lemah tersebut? Mengapa tidak menyambut kenyataan bahwa Allah pada akhirnya telah menurunkan anda ke tahap yang lemah, lelah dan bahkan depresi? Depresi adalah keputus asaan, atau kehilangan semangat. Apakah hal-hal yang menyebabkan seseorang putus asa? Salah satu adalah, kegagalan. Apakah kegagalan sesuatu yang buruk? Hanya di dalam kegagalanlah Allah dapat  bekerja di dalam kehidupan anda buat pertama kalinya! Allah harus merendahkan anda terlebih dulu. Ketika Kristus dipaku di atas kayu salib, murid-murid-Nya berpikir bahwa Ia telah gagal sama sekali. Kematian-Nya telah mengakhiri seluruh pelayanan-Nya yang agung menjadi satu kegagalan yang besar. Tidak terbayang di pikiran mereka bahwa "kegagalan" tersebut adalah kemenangan Allah atas dosa dan maut.  

Paulus mengatakan di 1 Korintus 1:25 bahwa "yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia." Paulus mempelajari rahasia ini dengan baik sekali.

Marilah kita melihat dengan lebih teliti kelima-lima hal yang telah kita bacakan di 2 Korintus 12:10 tadi: "kelemahan, siksaan, kesukaran, penganiayaan, dan kesesakan." Saya ingin menjelaskan dengan singkat kelima-lima hal yang menjadi kesenangan Paulus tersebut.

1. KELEMAHAN
Kata yang diterjemahkan sebagai "kelemahan" mempunyai dua arti, dan kedua arti tersebut berlaku untuk Paulus. Pertama, kata tersebut memang pada dasarnya berarti kelemahan, atau yang kedua, ia juga berarti penyakit.

Sedihkah anda jika Allah mengizinkan anda untuk jatuh sakit? Bila saya mendapat sakit punggung, menyesalkah anda untuk saya? Terima kasih untuk simpati anda, tetapi pernahkah terlintas di pikiran anda bahwa melalui penyakit ini, Allah sedang menjadikan saya kuat secara rohani? Jika anda menyadari akan hal ini, anda akan bersyukur kepada Allah untuk setiap kelemahan dan penyakit. Kita menganggap hal-hal seperti itu sebagai kesialan karena kita masih belum mengerti rahasia untuk berfungsi di dalam kuasa Allah. Ketika kita mendapat sakit kepala, kita bertanya-tanya mengapa Allah begitu tidak bertimbang-rasa. Karena kita masih belum mengerti bahwa di dalam kelemahan kitalah, Allah akan menunjukkan kuasa-Nya. Itulah sebabnya Tuhanlah yang akan dipermuliakan, bukan diri kita sendiri.

Beberapa tahun yang lalu saya berkhotbah di London, Ontario (bukan London di Inggeris), dan saya dijadualkan untuk berbicara di Persekutuan Kristen di Universitas Ontario Barat pada waktu sore. Tetapi ketika saya berusaha untuk bangun pada pagi tersebut, kaki saya melengkung dan saya rebah kembali ke tempat tidur. Saya tidak dapat bangun. Saya berusaha lagi untuk bangun dan saya jatuh sekali lagi. Saya tidak tahu apa yang sudah terjadi kepada saya. Saya merasa lemah sekali, mungkin karena kelelahan dari berkhotbah dari hari ke hari. Saya berusaha beberapa kali lagi, akan tetapi saya masih tidak dapat bangun. Saya tinggal bersama-sama dengan beberapa anggota dari persekutuan tersebut, dan saya memanggil mereka ke dalam kamar. Saya berkata, "Saya minta maaf saya tidak dapat bangun. Kaki saya tidak ada tenaga." Mereka menjadi gelisah dan berkata, "Kami telah mengiklankan engkau sebagai pengkhotbah untuk malam ini, dan banyak orang yang akan datang dari berbagai tempat untuk mendengar engkau berkhotbah, dan kau tidak bisa berkhotbah? Wah, tidak cukup waktu untuk mencari pengkhotbah yang lain. Sekalipun kami dapat menemukan seorang, mereka akan kecewa karena beliau bukan pengkhotbah yang diiklankan." Saya berkata, "Saya mengerti bahwa ini adalah satu masalah." Mereka bertanya kepada saya apa yang harus mereka lakukan. Saya berkata, "Kamu berdoa saja." Mereka ingin memanggil dokter, tetapi saya berkata, "Jangan, jangan panggil dokter, dokter tidak dapat berbuat apa-apa. Berdoa saja. Kalau Tuhan izinkan, saya akan berkhotbah malam ini." Mereka memandang saya terbaring di tempat tidur, dan mereka bertanya-tanya bagaimana saya dapat bangun untuk menghadiri persekutuan tersebut. Akan tetapi saya berkata, "Tinggalkan saja masalah ini di tangan Tuhan."

Sementara waktu berlalu, saya masih tidak dapat bangun. Saya tidak ada kekuatan sama sekali. Ini merupakan satu pengalaman yang tidak pernah saya alami. Saya sudah diubahkan dari seorang yang berotot menjadi seorang yang tidak dapat bangun dari tempat tidur. Kasihan, bukan? Akan tetapi hal tersebut terjadi supaya Allah dapat menunjukkan kuasa-Nya.

Setengah jam sebelum pertemuan dimulai, pemimpin-pemimpin persekutuan kelihatannya sangat kuatir sekali. Saya berkata, "Baik, oleh anugerah Tuhan, saya sekarang bangun dalam iman." Dan saya bangun. "Wow! Ia bangkit! Namun dapatkah dia berjalan ke pintu tanpa rebah?" Saya berjalan ke pintu. "Lumayan, tetapi dapatkah dia berjalan sampai pada mobil?" Saya berjalan sampai pada mobil. Ketika kami sampai di Universitas, saya harus menaiki banyak anak tangga. Saya berjalan naik tangga. Dan sore tersebut saya berkhotbah dengan kuasa yang begitu besar dari Tuhan seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya. Saya berkhotbah dengan tenaga dan kuasa yang begitu besar dan saya dapat melihat wajah pemimpin-pemimpin persekutuan itu terbelalak menatap saya dalam ketakjuban, sambil berpikir, "Apakah ini benar-benar terjadi?"

Peristiwa tersebut menunjukkan bagaimana kuasa Allah menjadi nyata melalui kelemahan saya. Itulah jalan yang dipilih Paulus. "Jadikanlah aku lemah supaya kuasa-Mu dapat dinyatakan." Seringkali saya harus berkhotbah dalam keadaan yang samasekali lemah. Baru-baru ini saja di Singapura, saya merasa sakit dan demam, keringat saya bercurahan. Saya harus menyandarkan diri pada mimbar ketika berkhotbah. Tuhan memelihara saya dalam keadaan lemah supaya Dia dapat menyatakan kuasa-Nya.

Pernah satu kali saya berkhotbah di Edmonton, Kanada. Saya mengalami demam panas dan sekali lagi mereka berkata, "Kaulah pengkhotbah yang diiklankan dan banyak orang akan datang untuk mendengarkan kau." Saya bertanya kepada seorang pendeta yang lain apakah beliau ingin berkhotbah mengantikan saya. Tetapi beliau berkata, "Mereka tidak datang untuk mendengarkan aku, mereka mau mendengarkan engkau." Jadi saya berkata, "Tapi lihatlah keadaan saya. Saya sedang demam panas dan berkeringat meskipun suhu kamar agak sederhana." Tetapi beliau berkata, "Tidak, aku tidak dapat melakukannya. Mereka semua akan kecewa." Pendeta tersebut sebenarnya adalah seorang pendeta yang terkenal, tetapi beliau enggan mengambil tempat saya. Jadi saya tetap harus naik mimbar dan berkhotbah sambil keringat bercurahan. Pada malam tersebut, saya berkhotbah di dalam kelemahan.

Mengapa Tuhan mengizinkan hal seperti ini terjadi? Tidakkah Tuhan tahu bahwa saya akan berkhotbah, jadi mengapa Ia tidak menyembuhkan saya? Sebaliknya, Tuhan membiarkan saya berkhotbah dalam kelemahan, sekalipun dengan demam yang begitu panas sehingga saya tidak dapat berpikir dengan lurus. Akan tetapi, inilah rahasia kehidupan kekristenan.

Kelemahan tidak terbatas hanya kepada kelemahan secara fisik tetapi juga perasaan lemah di dalam. Di dalam 2 Korintus 11:32-33 Paulus menceritakan bagaimana di Damsyik ia diturunkan di dalam sebuah keranjang melalui sebuah jendela. Begitu memalukan dan tidak terhormat! Dapatkah anda bayangkan seorang rasul yang besar seperti Paulus diturunkan dari tembok kota di dalam keranjang sayur yang kotor? Tidak ada terompet atau karpet merah dipersiapkan untuk rasul yang besar itu. Tidak, Paulus diturunkan di dalam keranjang sayur; mungkin saja dia juga ditutupi dengan sayur supaya pengawal-pengawal tidak dapat melihatnya. Di manakah martabatnya? Kelemahan seperti ini adalah suatu perasaan lemah di dalam.

Ketika anda merasa lemah, dapatkah anda bersyukur kepada Allah? Paulus berkata, "aku senang di dalam kelemahan, dan malah bermegah di dalamnya." Ini merupakan suatu mentalitas yang baru, bukan?

2. SIKSAAN
Paulus juga senang di dalam siksaan. Kata yang diterjemahkan sebagai "siksaan" berarti cercaan, penghinaan, penganiayaan, kebiadaban. Dapatkah anda bersukacita ketika orang menghina anda, mentertawakan anda, atau menganiaya anda? Paulus berkata, "Aku bersyukur kepada Tuhan karena aku dihina."

Saya biasa pergi dari rumah ke rumah untuk memberitakan Injil. Suatu kali di Wales, di UK, saya melakukan penginjilan rumah-ke-rumah. Pernahkah anda mencobanya? Anda mengetuk pintu dan berkata, "Halo nyonya, di sini ada selebaran Injil untuk anda." Bang! Pintu itu dibanting di muka anda. Apa yang dapat anda lakukan? Apakah anda akan berkata, "Tahukah kamu siapa aku ini? Jika kamu tahu, kamu tidak akan berani membanting pintu di mukaku!"

Anda merasa dipermalukan dan dihina. Namun, saya bersyukur kepada Tuhan karenanya. "Terima kasih Tuhan karena pintu dibanting di muka saya. Terima kasih karena saya diizinkan untuk menderita sedikit penghinaan demi Engkau." Bagi seseorang yang datang dari latarbelakang seperti keluarga saya, dibanting pintu di muka bukanlah sesuatu yang mudah diterima. Dulu di Negeri Cina, jika seseorang membanting pintu kepada seorang yang berkuasa, orang tersebut kemungkinan besar akan ditembak. Karena itu, penghinaan seperti ini adalah satu pengalaman yang baru bagi saya.

Kata yang diterjemahkan sebagai "siksaan" juga berarti bencana (malapetaka), kerusakan, atau kesukaran. Kesukaran berarti diusir dari rumah karena kepercayaan anda pada Kristus; dan anda terpaksa tidur di bangku kebun. Atau, anda menjadi sasaran olok-olok bagi teman-teman dan sanak-saudara. Mereka berkata anda sudah menjadi gila karena berubah menjadi orang Kristen. Semua orang memandang anda dengan wajah yang sedih, atau dengan senyum sinis, sambil berkata, "Orang ini seharusnya berada di rumah sakit jiwa." Anda menderita penghinaan demi Kristus.

Suatu hari nanti, anda mungkin harus berterus-terang dengan bos anda, "Maaf, saya tidak dapat memalsukan angka-angka ini." "Apa maksud kamu tidak dapat? Kamu bodoh! Tahukah kamu apa akan terjadi kepada kamu? Kamu tidak akan mendapat kenaikan gaji. Lebih dari itu, aku akan memotong gaji kamu!" Jadi anda merasa dihina. Gaji anda dipotong dan banyak peristiwa yang lain mulai terjadi kepada anda. Apakah perasaan anda? Dapatkah anda berkata bersama Paulus, "Aku senang di dalam penghinaan?"

Saya akan menggunakan satu contoh yang lebih umum. Anda berdoa di tempat umum dan orang berkata kepada anda, "Hey, kami tidak tahu kamu begitu saleh! Apakah kamu mengenakan halo (lingkaran cahaya) pagi ini?" Bagaimana perasaan anda? Tidak ada orang yang menyukai sindiran seperti itu. Tetapi dapatkah anda bersukacita? Hal ini membutuhkan transformasi.

3. KESUKARAN
Kesukaran bersangkut paut dengan kebutuhan kita. "Kesukaran" mempunyai beberapa arti di dalam bahasa Yunani. (Ketika saya menjelaskan arti dari kata-kata ini, saya sebenarnya memberikan artinya dalam bahasa Yunani.) Kata "kesukaran" pada umumnya berarti tekanan dalam bentuk apa saja. Kita hidup di dalam dunia yang penuh dengan tekanan. Kadang-kadang begitu sulit untuk tidur pada waktu malam karena syaraf kita berkecai-kecai (gelisah), dan kita membutuhkan alkohol atau obat untuk menenangkan diri kita. Tetapi di sini Paulus mengatakan bahwa ia senang di dalam stres dan tekanan yang timbul karena kewajiban terhadap Kristus.

Andaikata anda harus memimpin satu Pendalaman Alkitab di gereja. Anda dijadualkan memimpin Pendalaman Alkitab, dan saudara-saudara di gereja menaruh pengharapan yang besar terhadap anda. Oleh karena itu, anda merasa tertekan dan stres. Anda begitu tertekan sehingga anda memutuskan untuk tidak memimpin Pendalaman Alkitab lagi. Lebih buruk lagi, mereka mengkritik Pendalaman Alkitab yang anda pimpin tersebut. Anda bekerja begitu keras, tetapi mereka masih berkata, "Bagaimana anda bisa keliru? Mengapa anda mengutip ayat yang salah dan melihat di halaman yang salah?" Dan anda berpikir sendiri, "Aku telah memberikan yang terbaik, dan lihatlah balasan yang kuterima." Itu adalah stres dan tekanan.

Namun begitu, Paulus bersyukur. Itulah artinya mengerjakan keselamatan anda: yaitu menerima dengan senang hati segala kelemahan, kekurangan, dan penghinaan. Dapatkah anda memahami Paulus? Paulus mempunyai mentalitas yang berbeda. Mengerjakan keselamatan bukan berarti berpura-pura menjadi kuat, atau berusaha menjadi sesuatu yang bukan anda, tetapi dengan sederhana menerima semua tekanan - di luar dan di dalam - dengan sukacita. Itulah kehidupan kekristenan yang sejati.

Di ayat-ayat yang berikutnya, Paulus menyebutkan hal-hal yang lebih besar yang tidak berlaku kepada kita sekarang. Kata bahasa Yunani yang diterjemahkan sebagai "kesukaran" dapat juga berarti penganiayaan atau juga siksaan, menurut kamus Yunani. Paulus bersyukur kepada Allah untuk kesakitan dan penyesahan dan lemparan-lemparan batu yang ditimpakan kepadanya, dan bukan hanya penolakan atau penghinaan (2 Korintus 11:24-27)

4. PENGANIAYAAN
Di 2 Timotius 3:11 Paulus berbicara tentang penganiayaan yang dideritainya di Antiokhia, Ikonium dan Listra, satu rujukan kepada peristiwa-peristiwa yang tercatat di dalam Kisah Rasul 13 dan 14. Penganiayaan yang bagaimana yang paling sulit ditanggung oleh kita? Karena kita tidak tinggal di Negeri Cina, tidak usahlah kita berbicara tentang penganiayaan di Negeri Cina. Penganiayaan yang bagaimana yang anda alami di sini? Salah satu penganiayaan yang paling dahsyat adalah fitnah (apabila orang mengatakan hal-hal yang tidak benar tentang anda). Tidak ada gunanya membela diri karena saat anda berusaha untuk membela diri, keadaan hanya akan bertambah buruk. Paulus mengalami hal ini di Antiokhia dan Ikonium. Ia sentiasa difitnah, dan ajarannya diputarbalikkan. Hal-hal yang jelek dikatakan tentang Paulus dan rekan-rekan sekerjanya (misalnya di Roma 3:8). Di Listra Paulus malah dilempar batu akibat dari fitnah-fitnah yang dilemparkan terhadap dia (Kisah 14:8-20). Fitnah seringkali membuka jalan kepada serangan secara fisik. Dan untuk membenarkan serangan mereka, mereka akan menuduh anda sebagai orang yang jahat dan layak dihukum. Makanya Paulus dilempar batu dan dibiarkan untuk mati. Namun begitu, hal-hal seperti inilah yang disyukuri oleh Paulus.

Bayangkan penderitaan yang dialaminya di Listra. Ia dilempar batu sehingga pingsan dan banyak kehilangan darah. Ia ditinggalkan terbaring di atas tanah, disangka sudah mati. Murid-murid yang mengelilinginya juga menyangka bahwa ia telah mati, tetapi tiba-tiba ia bangkit oleh kuasa Allah dan melanjutkan pelayanannya. Kenyataan bahwa ia disangka telah mati berarti batu-batu tersebut pasti mengenainya dengan keras, mungkin meninggalkan luka-luka yang mengerikan di atas kepalanya. Paulus menanggung semua itu demi Kristus. Bagaimana kalau anda dilukai sehingga muka anda menjadi cacat? Saudara perempuan sangat peka terhadap hal ini, dan saya pikir saudara laki-laki juga sama pekanya. Malukah anda jika terdapat bekas luka di muka akibat dari dilempar batu? Namun Paulus bermegah karena hal-hal seperti itu. Ia tidak malu jika wajahnya menjadi cacat. Tidak dapat disangkal bahwa ia memang dipermalukan, tetapi ia bermegah di dalamnya. Di akhir surat Paulus kepada jemaat di Galatia, Paulus mengatakan, "Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus."

Sekarang kita mulai melihat kebesaran Paulus dan mengapa Allah memakainya dengan begitu luar biasa. Karena Paulus adalah seorang manusia yang senang dan bermegah di dalam setiap kelemahan; dari penyakit sehingga pencacatan; dari kesedihan batin sehingga kesakitan jasmani. Paulus berbicara tentang kesakitan, kekurangan tidur, dan berbagai macam kesukaran seperti kelaparan dan kemiskinan.

5. KESESAKAN
Kata bahasa Yunani "stenochoria" secara harfiah berarti "kesempitan" atau "dikurung di suatu tempat yang sempit"; secara kiasan ia berarti kesesakan atau kesulitan. Paulus menanggung segala bentuk kesulitan, termasuk kelaparan. Apakah anda menikmati kelaparan? Jika anda tidak makan satu kali, anda cukup merasa lemah. Tetapi Paulus sentiasa hidup di dalam kelaparan. Saya sendiri sudah banyak mengalami kelaparan. Saya hidup di dalam kelaparan selama dua setengah tahun. Allah membawa saya melalui sekolah kelaparan, dan menurunkan saya menjadi kulit dan tulang.

Sanggupkah Anda Bersukacita Di Dalam Kelemahan?
Saya akan mengakhiri khotbah ini sekarang. Kita harus mengerti dengan jelas bahwa kuasa Allah disempurnakan hanya dalam satu cara: yaitu, di dalam kelemahan kita. Oleh karena itu, langkah yang pertama adalah untuk menerima kelemahan kita. Paulus bersukacita atas kelemahannya. Karena gereja kita mempunyai begitu banyak kelemahan, kita mempunyai banyak alasan untuk bersukacita.

Apakah anda merasa terganggu karena tingkat pendidikan anda tidak setinggi orang lain? Apakah anda merasa minder karena itu? Sahabatku, jika anda merasa terganggu, ini menunjukkan bahwa anda masih belum mengerti prinsip kelemahan ini. Allah tidak peduli akan tingkat pendidikan anda. Manusia peduli, anda peduli, tetapi Allah tidak peduli. Allah tidak peduli apakah anda memiliki sarjana-sarjana akademis, atau tidak. Di dalam tubuh Kristus, siapa saja yang merasa minder karena taraf pendidikannya masih belum mengerti bahwa kita harus mengerjakan keselamatan kita di dalam kelemahan dan dengan takut dan gentar. Hanya apabila anda lemah, kuasa Allah dapat dinyatakan.

Banyak orang kuatir tentang hal-hal yang sepele. Ada yang merasa terganggu jika mereka terlalu tinggi atau terlalu pendek. Ada orang yang merasa minder karena dia hanya setinggi 5'1" dan orang lain 5'2". Karena itu, ia membeli sepatu yang mempunyai tumit yang lebih tinggi, seolah-olah menjadi lebih tinggi sedikit sangat penting. Saya masih belum mengerti mengapa menjadi tinggi begitu penting. Pernah satu kali saya berada di Toko Departemen di Kuala Lumpur, dan saya melihat seorang pria yang tingginya kira-kira 6 kaki 5 inci. Saya memperhatikan orang tersebut untuk beberapa waktu, dan kemudian saya menyadari bahwa dia adalah detektif toko. Orang ini begitu tinggi sehingga ia dapat melihat ke atas rak, jangan-jangan ada yang mencuri. Setidak-tidaknya terdapat satu kelebihan jika anda tinggi: anda bisa menjadi monitor TV yang berjalan!

Mengapa begitu banyak orang menyusahkan diri dengan hal-hal seperti itu?! Mereka merasa menghinakan jika mereka harus menengadah untuk berbicara dengan seorang yang lebih tinggi. Teman baik saya, Clark Pinnock, seorang professor Teologia Sistematis di Universitas McMaster (Hamilton, Kanada), tingginya 6 kaki 6 inci. Saya harus mengakui bahwa sangat sulit untuk berbicara dengan dia karena leher saya menjadi sangat capek. Tetapi itulah satu-satunya kerepotan yang ada. Selain dari itu, apa masalahnya? Mengapa ketinggian anda menyebabkan anda begitu tidak bahagia? Ada banyak orang yang sangat terganggu karena hal ini. Mereka menderita sekali, terutamanya saat berada di tengah-tengah orang-orang yang tinggi. Apakah ketinggian anda menimbulkan perbedaan? Apakah Allah peduli akan ketinggian anda? Apakah Ia akan mengukur ketinggian anda di pintu surga? "Maaf, kamu terlalu pendek untuk bisa masuk." Mungkin sebaliknya yang benar. Mungkin ada orang yang terlalu tinggi untuk dapat masuk pintu kerajaan!

Saya menyebutkan hal-hal ini karena sangat mengherankan mengapa begitu banyak orang yang  diganggu oleh tingkat pendidikan mereka, atau ketinggian mereka, atau mobil yang mereka miliki. Mobil yang saya miliki itu milik musium! Saya membelinya dengan harga $100. Di Amerika Utara, pada kebiasaannya mobil tidak dapat bertahan lama karena garam yang dipakai pada musim salju merusakkan badan mobil. Jadi mobil tahun 1977 tersebut ialah satu barang antik. Mobil saya ini sudah berusia 16 tahun tetapi masih berjalan dengan baik sekali. Saya bersyukur kepada Allah untuk mobil itu.

Cara kita menentukan nilai harus dibalikkan. Dapatkah kita belajar untuk bersukacita dengan cara yang berbeda dari dunia? Terdapat hanya satu jalan untuk mengalami kuasa Allah, dan jalan tersebut adalah: bersukacita di dalam kelemahan, menjadi rendah, dan menjadi tidak berarti. Paulus mengalami kuasa Allah, dan saya berharap anda juga akan mengalaminya.

"Tuhan, saya lemah. Saya tidak ada kekuatan sendiri. Saya bukan apa-apa; saya tidak dapat berbuat apa-apa; saya tidak tahu apa-apa. Biarlah kuasa-Mu masuk ke dalam hidup saya." Saudara-saudara sekalian, anda tidak akan diselamatkan hanya dengan menerima anugerah keselamatan-Nya, tetapi dengan mengizinkan keselamatan-Nya bekerja di dalam diri anda. Itulah satu-satunya cara keselamatan dapat dikerjakan.

Pernahkah anda mendengar pokok ini dijelaskan dengan baik kepada anda? Saya belum pernah. Saya sendiri masih berada dalam proses mempelajari pelajaran ini. Saya bersyukur kepada Tuhan karena mengajar saya bagaimana untuk menjadi lemah, dan bagaimana untuk hidup di dalam kelemahan Kristus. Secara alami saya tidak lemah, dan begitu juga dengan Paulus. Jadi kelemahan adalah sesuatu yang harus kita pelajari. Kita belajar bukan sekedar untuk menerimanya, tetapi justru untuk berbahagia di dalamnya. Kemudian orang lain yang mengenal anda akan berkata, "Sekarang saya melihat kuasa Allah dan kemuliaan-Nya di dalam kehidupan anda!"

[Download]


Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.

Standard
Besar
Terbesar

Kekuatan dalam Kelemahan:

- Anak Domba Atau Serigala

- Keselamatan Dan Kelemahan

- Hidup Adalah Kristus

- Kehidupan Kristen Yang Tak Terkalahkan

Copyright 2003-2014. Semua materi di situs ini adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries.
E-mail kami untuk mendapatkan izin untuk menggunakan materi di situs ini.
Best viewed with IE6.0 and 1024 by 768 resolution.