| Saran & Komentar | updated on 09 March 2014

Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan

Halaman Utama

  |  Tentang Kami

  |  Hubungi Kami

  |  Izin Pemakaian Materi 

  |  Dapatkan Buletin Gratis di sini! 

Sumber Damai

Khotbah/PA


Inspirasi

Artikel/Renungan

Kesaksian Hidup


Pelatihan

Discipleship Trainings


Lain-Lain...

Buku-buku Terbitan

Lagu dan Film

Bible Study (P.A)

Siaran Mandarin

Buletin Gratis!

Follow Us


BACA ONLINE


BACA ONLINE


KATA PENGANTAR

Pencobaan sesudah Baptisan 1

Lukas 4:1-4 - Khotbah oleh Pendeta Eric Chang

Minggu yang lalu, kita membahas tentang Roh dan baptisan. Hari ini, sudah selayaknya, setelah pembaptisan, jika kita membahas tentang pencobaan, karena sesudah Yesus dibaptis, Ia lalu dicobai. Jadi, sesudah pembaptisan Yesus, hal apa yang terjadi selanjutnya? Hal berikutnya yang terjadi adalah pencobaan. Dengan demikian, hari ini saya ingin menguraikan kepada Anda (dan khususnya kepada Anda yang baru saja dibaptis) bahan dari Lukas pasal 4 dalam keempat ayatnya yang pertama.

Lukas 4:1-4 berbunyi sebagai berikut, "Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar. Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti." Jawab Yesus kepadanya: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja." Ayat 5, "Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia." Kita bisa menemukan ayat-ayat yang paralel dengan ini di Matius, di mana kutipan tersebut ditulis lebih lengkap. Di Matius 4:4 kita baca, "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah".

Pertama-tama, saya ingin menegaskan dari awal bahwa saya tidak akan membahas tentang Pencobaan Kristus secara Kristologis. Artinya, saya tidak akan membahasnya dari sudut pandang segi-segi kepribadian Kristus, baik dari sisi kemanusiaan ataupun keilahian-Nya. Hal-hal itulah yang tercakup dalam Kristologi - studi tentang pribadi Kristus. Sebaliknya, saya akan membahas ayat-ayat ini dari sudut pandang pemahaman tentang penderitaan Yesus sendiri - seperti yang tertulis di 1 Petrus 2:21 - Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Yaitu, kita ingin melihat hal-hal apa saja yang dapat kita pelajari, khususnya bagi mereka yang sudah dibaptis, pelajaran rohani apa yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari kita. Apa saja yang dapat kita pelajari? Ada beberapa pelajaran yang sangat penting di sini!

Kita Menerima Roh Kudus saat Dibaptis
Pertama, saya ingin melanjutkan pembahasan tentang hubungan antara Roh dan baptisan. Baptisan dan Roh Kudus! Minggu yang lalu kita membahas pertanyaan ini, "Kapan seseorang menjadi Kristen?" Dari Roma 8:9 kita melihat jawabannya. Anda menjadi seorang Kristen pada saat Anda menerima Roh Kudus dari Allah. Karena di ayat itu Paulus berkata bahwa jika Roh Kristus tidak ada di dalam diri Anda, maka Anda bukan milik Kristus: "Orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus." Jadi kita dapat melihat dari sini bahwa pilihan agama tidak membuat seseorang menjadi Kristen. Pergi ke gereja tidak lantas membuat Anda menjadi seorang Kristen. Melakukan hal-hal yang lazimnya dilakukan oleh orang-orang Kristen tidak lantas membuat Anda menjadi seorang Kristen. Giat terlibat dalam persekutuan doa juga tidak membuat Anda menjadi Kristen. Walaupun semua hal itu memang baik dan sangat berguna. Bahkan mempercayai doktrin yang benar juga tidak lantas membuat Anda menjadi seorang Kristen, walaupun hal itu juga baik. Memiliki Roh Kudus, itulah hal yang menjadikan Anda seorang Kristen.

Kemudian kita sampai pada pertanyaan ini: Kapan seseorang menerima Roh Kudus? Apa jawaban yang alkitabiah untuk pertanyaan ini? Kapankah Anda menerima Roh Kudus? Kita sudah melihat bahwa kita semua menerima Roh Kudus dalam cara yang khusus. Dan kita juga sudah melihat bahwa Roh Kudus bekerja di dalam hati setiap orang, termasuk mereka yang bukan orang Kristen. Dalam pengertian itu, Roh Kudus hadir di dalam diri setiap orang, bahkan dalam diri orang non-Kristen. Karena jika Roh Kudus tidak bekerja di dalam hati orang non-Kristen, bagaimana mungkin orang itu menjadi Kristen? Bagaimana mungkin orang itu bisa menerima keselamatan? Atau apakah ia akan menyelamatkan dirinya sendiri? Apakah sesudah ia menyelamatkan dirinya sendiri, baru dia menerima Roh Kudus? Ini jelas bukanlah pengajaran yang alkitabiah. Pertanyaan yang tepat bukanlah, "Kapan Roh Kudus bekerja di dalam hati dan hidup Anda?" karena jawabannya barangkali ialah, "Sejak Anda dilahirkan!" Pertanyaan yang kita diajukan adalah, "Kapan Anda menerima Roh Kudus sebagai jaminan, sebagai meterai dan sebagai pengurapan?" Kapan Anda menerima Roh Kudus di dalam pengertian yang spesifik ini?

Kita juga sudah melihat bahwa Yesus telah memiliki Roh Kudus sebelum Ia dibaptiskan, sebelum Roh Kudus turun ke atas-Nya secara kasat mata dengan rupa seekor merpati, yang menandakan tanda pengurapan-Nya, penegasan bagi pengurapan-Nya oleh Roh. Jelas Ia sudah memiliki Roh Kudus sebelum saat itu. Ini sudah pasti. Akan tetapi kita juga melihat bahwa, sebelum dibaptis, Ia tidak menerima pengurapan Roh untuk memberitakan Injil, atau untuk tugas yang khusus itu. Ia belum diurapi oleh Roh untuk menjadi pembawa Kabar Baik dan menjadi Penyelamat dunia. Jadi, sampai dengan saat dibaptis, apa yang Ia kerjakan? Ia hidup di kampung-Nya. Bekerja sebagai seorang tukang kayu, sebuah profesi yang terhormat, dan Ia menjalani kehidupan pribadi-Nya sehari-hari sampai pada saat Ia diurapi untuk tugas yang menjadi panggilan-Nya.

 "Kapan seseorang menerima Roh Kudus sebagai urapan, sebagai meterai, sebagai jaminan?" Jawaban alkitabiah untuk pertanyaan ini cukup mengejutkan, namun memang alkitabiah - yaitu bahwa kita menerima Roh Kudus pada saat dibaptis, jika baptisan itu dilandasi oleh iman tentunya. Tidak ada satu hal pun yang berharga tanpa iman. Baptisan semata-mata sebagai suatu upacara, tidak lebih baik dari kegiatan mandi! Imanlah yang membuat sesuatu menjadi berbeda. Jika iman ada maka baptisan itu menjadi bermakna; dan bukan sekedar bermakna, tetapi sangatlah vital. Namun masih ada beberapa bukti yang perlu kita amati sebelum kita melanjutkan pembahasan tentang pencobaan nanti.

Seseorang Harus Dilahirkan dari Air dan Roh
Poin yang pertama. Mari kita lihat, sebagai contoh, di Yoh. 3:5, sebuah ayat yang cukup terkenal. Apa yang dikatakan Yesus di sini? Yesus berkata kepada Nikodemus, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah." "Dilahirkan dari air dan Roh" - perhatikan pentingnya air di sini. Saya menekankan hal in secara khusus karena banyak gereja yang menjadikan baptisan sebagai hal yang remeh.

Saya kenal seorang siswa di sekolah Alkitab, Bible Institute di Skotlandia, yang telah mengorbankan karirnya yang bagus di bidang perbankan untuk melayani Tuhan. Ia telah menjadi orang Kristen selama bertahun-tahun, akan tetapi ia belum pernah dibaptis. Pada suatu hari, saudara ini (seorang Jerman) mendatangi saya dan berkata, "Tahukah kamu, Eric, sekarang ini saya sedang mempersiapkan diri untuk melayani Tuhan sepenuh waktu, tetapi saya masih belum dibaptis." Dan saya berkata, "Mengapa belum?" Jawabnya, "Karena saya tidak tahu apa gunanya, apa arti penting dari baptisan. Saya pikir baptisan itu tidak seberapa penting." Anda lihat, seperti inilah keadaan yang menghinggapi banyak gereja sekarang ini. Ada orang yang sedang mempersiapkan diri untuk melayani Tuhan tetapi belum dibaptis, yang secara alkitabiah berarti bahwa orang ini masih belum menerima urapan untuk memberitakan Injil; ia belum dimeteraikan oleh Roh Allah; dan ia masih belum menerima jaminan dari Roh.

Ia adalah seorang yang sangat baik, sangat mengasihi, dan kami masih berhubungan dekat sampai sekarang. Sekarang ini, ia menjadi pendeta di Gereja Pemerintah Jerman, dan ia masih penuh dengan pengabdian kepada Tuhan, penuh kasih dan sangat murah hati. Akan tetapi, sampai dengan saat terjadinya perbincangan itu, ia masih belum dibaptis. Ia sangat akrab dengan saya. Mungkin ia merupakan sahabat terdekat saya selama di sekolah Alkitab. Dan saya dapat melihat kurangnya kuasa di dalam kehidupannya. Memang terlihat bahwa hidupnya kurang memiliki kuasa. Akan tetapi ia selalu berkeras untuk ikut kemana pun saya pergi. Kemana pun saya memberitakan Injil, ia selalu ingin ikut, karena ia sendiri kurang mendapat undangan untuk berkhotbah, tidak jelas karena hal apa. Setiap kali ia berkhotbah, akan terlihat betapa ia sangat kekurangan kuasa untuk itu. Mengapa? Kemudian saya mulai menyadari. Ia berkata bahwa ia belum dibaptis!

Saat itu saya sendiri masih kurang mengetahui pengajaran yang alkitabiah. Saya berkata kepadanya, "Saya tidak tahu bagaimana harus menjelaskan perkara ini. Akan tetapi yang saya tahu adalah bahwa Yesus menyuruh kita melakukannya dan itu cukup baik bagi saya. Jika Ia berkata demikian, maka saya akan mengerjakannya, sekalipun saya belum memahami dengan jelas." Lalu ia merenungkan perkataan saya dan berkata, "Oh, yah! Alasan ini kelihatannya cukup baik bagi aku juga!" Lalu ia dibaptiskan. Namun sejak itu, saya melihat, sejalan dengan pendalaman saya terhadap Firman Allah, bahwa baptisan adalah hal yang sangat penting.

 "Jika seorang tidak dilahirkan dari air..." - apa yang dikatakan di situ? - "air dan Roh." Bukan sekedar air! Air saja tidak cukup; peristiwa baptisan itu sendiri masih tidak cukup; harus air dan Roh. "...ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah." Itu adalah kata-kata dari Yesus, bukan dari saya. Anda bisa saja berusaha menghilangkan makna air itu, dan memang ada banyak cara yang dipakai untuk menghilangkan makna air itu. Sebagai contoh, air itu diartikan sebagai Roh Kudus. Jika Anda memahami makna air dalam ayat ini seperti ini, maka artinya Anda dilahirkan dari Roh Kudus dan Roh Kudus lagi - dua kali! Jadi mungkin Anda menganggap bahwa dilahirkan dua kali masih belum cukup; perlu dilahirkan sampai tiga kali - secara rohani! Apa lagi yang diwakili air? Nah, Anda bisa terus memeras akal dan mencari jalan untuk meniadakan kata 'air'. Akan tetapi buat apa menyibukkan diri seperti itu? Jawabannya sangatlah sederhana.

Kita telah melihat apa yang diajarkan oleh Yohanes Pembaptis: "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus" (Mar.1:8). Dan Yesus berkata bahwa Anda membutuhkan keduanya; Anda harus dibaptis dengan air dan Anda perlu dibaptis oleh Roh. Tidak perlu menjadi terlalu rumit untuk bisa memahami Firman Allah. Pada kenyataannya, Yesus sendiri di Kis.1:5 mengungkapkan hal itu: "Yohanes membaptis dengan air - Anda sudah menjalani baptisan air bukan? - "Tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus." Anda membutuhkan kedua baptisan itu. Kecuali Anda dibaptis dengan kedua baptisan tersebut, maka Anda tidak akan dapat masuk ke dalam kerajaan Allah. Sekali lagi, ini adalah poin lain yang dapat kita lihat dengan sangat jelas di dalam Firman Allah.

Saya juga perlu menyatakan kepada Anda bahwa dari segala yang sudah saya sampaikan tentang baptisan dan Roh Kudus, tidak ada satupun hal yang baru. Para cendekiawan Perjanjian Baru mengakui pentingnya kaitan antara baptisan dan Roh. Dan, cendekiawan Perjanjian Baru dari generasi masa kini bahkan lebih menyadari lagi akan hal ini. Umpamanya, The Dictionary of New Testament Theology, jilid yang terakhir yang baru diterbitkan, Anda hanya perlu lihat di bawah 'meterai' dan 'pengurapan', Anda akan melihat semuanya di situ. Setiap cendekiawan Perjanjian Baru sepenuhnya menyadari bahwa baptisan dan Roh Kudus selalu dikaitkan. Sebenarnya jika Anda tidak mendengar khotbah saya minggu lalu, Anda mungkin mengalami kesulitan memahami buku tersebut karena mereka mengasumsikan hubungan tersebut tanpa menjelaskannya. Sebagai contoh, dalam artikel tentang "Dimeteraikan oleh Roh", kamus ini hanya berbicara tentang baptisan, dan Anda mungkin bertanya-tanya di mana letak hubungan keduanya. Nah, setelah mendengarkan khotbah saya minggu yang lalu, Anda seharusnya sudah bisa memahami hubungan itu dengan baik. Ini merupakan petunjuk bahwa para cendekiawan zaman sekarang telah sangat menyadari akan hubungan tersebut. Meluasnya pemahaman ini berkaitan dengan buku yang ditulis oleh Profesor Lampe dari Cambridge beberapa tahun yang lalu, yang berjudul The Seal of the Spirit (Meterai Roh) yang menguraikan tentang hubungan antara baptisan dengan Roh. Saya sama sekali tidak mengklaim keaslian. Yang menjadi keinginan saya hanyalah menyampaikan kepada Anda apa yang dikatakan oleh Firman Allah.

Namun sekarang ini, sayangnya, terlalu banyak pimpinan gereja yang tidak menyadari perkembangan pengajaran Kitab Suci dan kesarjanaan Perjanjian Baru. Jadi mereka mengira bahwa saya sedang menyampaikan hal yang luar biasa. Tidak ada yang luar biasa! Juga tidak ada satu hal pun yang baru. Jadi, adalah sangat penting untuk diketahui bahwa jika Anda tidak dilahirkan dari Roh, dan juga dari air, maka Anda tidak akan masuk ke dalam kerajaan Allah.

Kita Dibersihkan dengan Air Firman di dalam Baptisan
Kita akan melihat contoh lain di Efesus 5:26 di mana baptisan, sekali lagi, disebutkan secara khusus. Jika pengajaran ini dipahami dengan baik di dalam gereja, maka saya tidak perlu sampai meluangkan banyak waktu untuk membahasnya. Akan tetapi hal ini ternyata kurang dipahami, jadi kita perlu menyediakan waktu untuk membahasnya. Di Efesus 5:25-26 kita baca, "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya," - untuk apa? Mengapa Yesus menyerahkan diri-Nya bagi jemaat? - "Untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman." Apakah Anda memperhatikan kata 'air' yang disebutkan di sini? "...dengan air dan firman" - dengan Firman Allah dan iman kepada Firman Allah itu. Sebagaimana yang sudah saya tekankan kepada Anda, bukan hanya airnya saja yang penting, akan tetapi air dengan Firman Allah, dan iman kepada Firman itu. Paulus menjelaskan tentang hal ini dengan baik sekali. Yesus telah mati dengan tujuan utama untuk menguduskan kita. Bagaimana kita akan disucikan? Kita disucikan dengan air pertobatan bersama dengan Firman Allah. Nah, ungkapan ini sudah sangat gamblang, sangat jelas untuk dipahami.

Selanjutnya, bagaimana cara Ia menyucikan kita dengan air? Bagaimana air akan menyucikan kita dengan Firman? Tentu saja di dalam baptisan! Hal ini sudah sangat sering dinyatakan oleh Paulus sendiri di dalam berbagai kesempatan. Sebagai contoh, di Kis. 22:16. Di ayat itu, rasul Paulus menjelaskan secara langsung akan hal ini karena hal ini juga diajarkan kepadanya ketika ia datang kepada Yesus. Apa yang ia sampaikan? Di dalam pasal ini ia menyampaikan kesaksiannya. Di dalam kitab Kisah Para Rasul, Paulus menyampaikan kesaksian sebanyak tiga kali. Di dalam pasal 22 ini, Paulus sedang menyampaikan kesaksiannya dan ia menyampaikan tentang perintah yang diterimanya ketika pertama kali datang kepada Tuhan. Inilah hal yang dikatakan oleh Ananias kepadanya di Kis. 22:16, "Dan sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? - jangan ditunda! - Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!"

Bagaimana Anda disucikan dari dosa-dosa? Dengan dibaptis dan berseru kepada nama Yesus! Ingatkah Anda pada Efesus 5:26 yang baru saja kita baca? Yesus telah mati untuk menyucikan kita dengan air, "disucikan dengan air dan Firman." Air apa? Di sini kita membacanya. Dengan cara apa kita disucikan? "Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!" Di titik itulah iman berperan penting. Saya rasa hal ini sudah menjadi sangat jelas bagi Anda untuk memahaminya sekarang. Inilah ajaran yang alkitabiah. Dengan cara itulah kita disucikan. Kita disucikan dari dosa-dosa kita ketika kita berseru kepada nama Tuhan, dan pada saat itu jugalah kita menerima Roh Kudus, seperti yang kita lihat di Kis. 2:38 pada minggu yang lalu.

Paulus sendiri mengalami hal ini di Kis. 9:17-18 ketika ia dibaptis. Apa yang kita baca di ayat ini? "Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: "Saulus, saudaraku - saat itu Paulus masih bernama Saulus -, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus." Jadi untuk apa Yesus mengutus Ananias? Untuk dua tujuan: (1) supaya Paulus dapat melihat lagi karena ia telah dibutakan dalam peristiwa pertemuannya dengan Yesus di dalam perjalanan menuju Damsyik, dan (2) supaya ia dipenuhi oleh Roh Kudus. Nah bagaimana cara Ananias menolong Paulus agar bisa dipenuhi oleh Roh Kudus? Bagaimana cara ia melakukannya? Baca saja ayat berikutnya, ay.18, "Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis." Itulah cara ia dipenuhi oleh Roh Kudus, ketika Ananias menumpangkan tangan ke atasnya saat baptisan. Dengan cara itulah semuanya dijalankan.

Jadi, segalanya sudah menjadi jelas sejalan dengan pembahasan kita akan isi Alkitab - yaitu pentingnya hubungan antara baptisan dan Roh Kudus. Demikian pula halnya dengan Yesus sendiri, kapan Ia menerima urapan itu? Ingatlah kembali, Ia menerima urapan itu di sungai Yordan ketika dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Dan Roh Kudus turun secara kasat mata ke atas-Nya. Kemudian apa yang terjadi? Yesus kemudian mulai memberitakan Injil. Di beberapa ayat berikutnya, di Lukas 4:18 yang merupakan kutipan dari Yes. 61:1-2, Ia berkata, "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik..." Sekarang Ia memberitakan Injil. Mengapa? Karena sekarang Ia sudah mendapat pengurapan untuk memberitakan Injil. Sebelum itu, Ia tidak memberitakan Injil. Mengapa? Karena Ia belum menerima pengurapan untuk itu. Sesudah Ia mendapat pengurapan itu, Ia segera memberitakan Injil (Luk.4:18). Saya percaya bahwa poin ini sekarang dapat Anda pahami dengan jelas. Dengan demikian, kita bisa segera masuk ke poin berikutnya yang akan kita pelajari dari Lukas pasal 4.

Pencobaan akan datang sesudah Baptisan
Sekarang Anda sudah dibaptiskan, sekarang dosa-dosa Anda sudah dihapuskan, seperti kata Paulus di Kisah 22:16, ketika Anda berseru kepada nama Tuhan, ketika Anda secara total berkomitmen untuk menerima-Nya sebagai Tuhan dan Penguasa atas hidup Anda. Selanjutnya apa? Apa yang akan terjadi? Sesudah baptisan, datanglah pencobaan. Perhatikan hal itu baik-baik. Pencobaan tidak datang sebelum baptisan, bukankah begitu? Pencobaan datang sesudah baptisan.

Tidak adil bagi Anda jika saya tidak memperingatkan Anda akan persoalan-persoalan yang akan timbul sesudah baptisan. Kebanyakan dari Anda, dari pengalaman saya berdoa bersama dan berbincang-bincang dengan Anda menjelang saat baptisan Anda, sangat menyadari bahwa kehidupan Kristen itu bukanlah hal yang mudah. Anda akan mendapati (dan saya harus mengingatkan Anda akan hal ini) bahwa segera sesudah Anda dibaptis, musuh akan segera mengarahkan tekanannya kepada Anda. Inilah alasan mengapa banyak orang Kristen yang sudah dibaptis tetapi tidak mendapat pengajaran yang baik seringkali segera murtad dalam waktu singkat. Ini adalah hal yang sangat memprihatinkan, bagi saya dan banyak pendeta, dan mungkin ini satu alasan mengapa banyak pendeta yang meremehkan kepentingan baptisan. Akan tetapi Anda tidak boleh bermain-main dengan Firman Allah seperti ini. Yang terjadi setelah baptisan adalah bahwa Roh 'membawa' Yesus ke padang gurun untuk dicobai oleh Satan. Tuhan tidak melindungi Anda dengan cara menyingkirkan masalah dari Anda.

Allah Mengijinkan Kita Dicobai supaya Kita Belajar Menjadi Taat lewat Penderitaan
Mengapa Allah membiarkan semua itu terjadi? Mengapa Allah membiarkan Anda dicobai sesudah dibaptis? Ada cukup banyak jawaban untuk pertanyaan ini. Akan tetapi, di atas semua itu, supaya Anda bisa bertumbuh semakin kuat, supaya Anda bisa belajar tentang ketaatan melalui penderitaan. Anda harus belajar melalui penderitaan. Pengakuan Anda tentang komitmen Anda akan diuji. Seperti yang sudah saya sampaikan sebelum Anda dibaptis, jika Anda tidak berkeinginan untuk berkomitmen total, jika Anda tidak ingin bergabung dalam peperangan rohani, jika Anda tidak memiliki keberanian iman, maka jangan minta dibaptis karena baptisan bukan untuk para pengecut. Ingatkah Anda akan kata-kata saya itu? Sekarang Anda sudah dibaptiskan, dan sudah masuk dalam peperangan rohani; arena ini bukanlah tempat untuk para pengecut. Tetapi Anda juga tidak perlu sampai ketakutan. Saya mengatakan hal ini bukan untuk menakuti Anda. Bukan sama sekali. Di dalam pertempuran itulah Anda akan mengetahui seberapa kuat Anda di dalam Kristus. Hanya jika kekuatan Anda diuji baru Anda bisa mengetahui seberapa besar kekuatan yang ada pada diri Anda. Melalui kemenangan-kemenangan dalam peperangan rohanilah Anda akan mengalami pertumbuhan rohani. Yesus tidak menghendaki gereja yang dipenuhi oleh para bayi, yaitu bayi-bayi rohani. Dengan cara apa Anda akan bertumbuh dalam kehidupan rohani? Lewat peperangan rohani! Dengan cara itulah Anda bertumbuh. Yesus segera dibawa ke padang gurun untuk menghadapi pencobaan. Jadi, itulah saatnya untuk menghadapi kenyataan rohani - kenyataan dari peperangan rohani. Jangan takut! Jangan gemetar, karena Anda akan menemukan - dan inilah sukacita dari pengenalan akan Allah - Anda akan menemukan bahwa bala tentara yang berperang di pihak Anda jauh lebih kuat dari pada bala tentara musuh.

Saya selalu membahas tentang Elisa kepada mereka yang mengikuti program pelatihan. Tentang Elisa yang sedang menghadapi kepungan bala tentara Asyur. Ingatkah Anda akan muridnya, yaitu bujangnya? Sebenarnya si bujang itu adalah muridnya. Murid kala itu berperan ganda sebagai hamba juga. Murid Elisa menatap ke arah pasukan Asyur, dengan segala panji-panji mereka yang mengelilingi seluruh tempat, dan berkata, "Tuanku, tamat sudah riwayat kita. Pasukan Asyur sudah mengepung kita!" Ia tidak dapat memahami mengapa Elisa bisa terlihat begitu tenang. Elisa bersikap seolah-olah tidak ada masalah apa-apa, sementara muridnya sudah mulai menggerutu, ketakutan dan mungkin banjir oleh keringat, menyeka dahinya dengan sapu tangan dan berpikir, "Mungkin sekarang saatnya untuk berlutut dan mengucapkan doa yang terakhir karena pasukan Asyur sudah mengepung rapat desa ini." Akhirnya, Elisa berkata, "Ya Tuhan, bukalah matanya sehingga ia bisa melihat bahwa bala tentara yang ada di pihak kami lebih banyak daripada yang ada pada musuh." Murid yang malang. Lebih banyak? Tidak ada satu pun tentara Israel yang ada di desa itu. Jika ada dua atau tiga orang prajurit Israel, di sana kala itu, mungkin hamba ini dapat merasa lebih tenteram. Akan tetapi tidak ada satu pun tentara Israel di sana - apanya yang lebih banyak? Kemudian Tuhan membuka mata orang ini, dan apa yang ia lihat? Ia melihat satu pasukan surgawi yang jumlahnya jauh lebih banyak ketimbang pasukan Asyur yang sedang mengepung mereka. Elisa berkata kepadanya, "Sekarang kamu mengerti apa maksudku?"

Bagaimana Elisa bisa tahu semua itu? Apakah karena ia mempelajari Alkitab lebih lama dibandingkan muridnya? Atau apakah karena ia memiliki kacamata khusus untuk melihat hal-hal rohani? Tidak. Elisa adalah seorang manusia Allah. Ia telah melewati banyak pertempuran rohani. Ia sudah melalui berbagai macam pencobaan. Ia sudah melalui padang gurun. Berdasarkan pengalaman kerohaniannya, ia sadar bahwa Allah tidak pernah mengecewakan umat-Nya. Bergantunglah kepada-Nya dan Anda akan memenangkan semua pertempuran. Ini tidak berarti bahwa Anda tidak akan terluka sedikitpun, melainkan bahwa akan tetap menang - dengan atau pun tanpa luka.

Seperti Pencobaan sesudah Baptisan, Sebuah Serangan akan datang setelah Datangnya Berkat
Inilah poin kedua yang ingin saya sampaikan agar Anda camkan. Sesudah baptisan datanglah pencobaan. Bersiaplah secara mental dan rohani ketika pencobaan itu datang. Sesudah datangnya berkat rohani, maka pihak musuh akan melancarkan serangan. Setiap orang yang terlibat dalam peperangan rohani sangat menyadari akan hal ini. Bagi saya, hal ini sudah mendarah daging. Setiap kali datang berkat rohani, saya akan berkata, "Selanjutnya pasti akan datang serangan. Mari bersiap-siap menghadapinya."

Saya pernah memberi kesaksian ini kepada beberapa dari antara Anda tentang peristiwa yang berlangsung di Chislehurst, Kent - Inggris, sekitar tahun 1960, ketika kami sedang mengadakan perkemahan menjelang Paskah. Di dalam perkemahan menjelang Paskah itu, Roh Allah turun menaungi kami semua dengan kuasa yang begitu luar biasa, kuasa yang mengubah hidup kami semua. Kami mengalami 'Pentakosta'! Ada sekitar 50 orang yang hadir di sana pada saat itu; kami sedang berkumpul di sebuah ruangan. Pada saat kami sedang berkumpul di ruangan itu, di hari terakhir perkemahan kami, Roh Allah turun ke atas kami dan kami semua dikuasai dan dipenuhi oleh Roh Allah. Suatu kebangkitan rohani! Seketika jemaat kami mengalami kebangkitan rohani; dan gereja kecil kami di London segera meledak dalam suasana kebangkitan itu. Dalam waktu beberapa minggu saja, ruangan ibadah di gereja segera penuh sesak, tidak ada lagi tempat untuk menampung jemaat yang datang. Tiba-tiba saja semua orang mendengar bahwa telah terjadi sesuatu di gereja kami: Roh Allah turun!

Segera sesudah pengalaman yang luar biasa itu (dari pengalaman itu saya tahu persis apa yang dicari kaum Pentakosta, walaupun banyak dari mereka belum mengalami apa yang kami alami di Chislehurst, suatu pengalaman yang tak terlupakan), saya segera berkata kepada saudara-saudara di gereja saat itu, "Kita sudah menerima berkat rohani, dan sekarang Satan akan segera melancarkan serangannya. Waspadalah!" Kami tidak perlu menunggu lama. Dalam waktu sekitar dua minggu, serangan itu segera muncul. Saya tidak akan menguraikan bagaimana bentuk serangan itu dalam kesempatan ini. Setiap orang yang melayani Tuhan, seperti Elisa, memahami dengan baik seluk beluk peperangan rohani.

Saya teringat pada waktu saya masih di sekolah Alkitab dulu, di hari doa, saya mendapat pengalaman yang luar biasa. Hari doa berarti kami semua mengkhususkan acara hari itu untuk berdoa saja. Dan di hari doa itu, kehadiran pihak musuh sangat terasa sehingga mereka yang sedang berdoa di gedung itu merasa pernafasannya seperti terhambat. Itu adalah suatu pengalaman yang sangat luar biasa. Saya sudah mengalami pengalaman pencurahan Roh; dan saya juga sudah pernah mengalami kehadiran pihak musuh, yang mampu menekan bahkan secara jasmani. Dan saya juga pernah mengenal orang-orang yang pernah mengalami serangan fisik dari Si Jahat.

Akan tetapi ingatlah hal ini, kata-kata yang disampaikan oleh rasul Yakobus: "Lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!" (Yak.4:7). Jangan beri dia tempat berpijak satu milimeter pun. Anda adalah seorang anak Allah. Jika Anda berdiri teguh maka tidak ada satu pun hal yang dapat ia lakukan terhadap Anda. Ia akan mencoba untuk menakuti Anda. Mencoba mengintimidasi Anda. Akan tetapi tidak ada satu pun hal yang dapat ia lakukan untuk menjatuhkan Anda, atau mengalahkan Anda. Mungkin dalam beberapa kesempatan ia bisa menjatuhkan Anda, akan tetapi ia tidak akan bisa mengalahkan Anda. Ia tidak memiliki kuasa untuk melakukan itu karena Allah tidak akan membiarkannya untuk melakukan hal itu. Seperti yang dikatakan oleh Paulus di 1 Korintus, "Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu" (1 Korintus 10:13). Ia sangat menyayangi Anda. Ia akan membawa Anda berlatih, mungkin leher Anda akan sedikit terkilir, jika hal itu memang dibutuhkan, dalam rangka mempelajari medan perang. Akan tetapi Ia tidak akan membiarkan Anda dibinasakan. Tidak. Ia tidak menyerahkan nyawa-Nya untuk melihat kebinasaan Anda. Ia akan mengawasi Anda seperti biji mata-Nya. Pahamilah hal ini dengan baik - kita berada dalam peperangan rohani yang nyata. Hal ini membawa kita kepada poin berikut yang ingin saya bagikan kepada Anda.

Pahamilah Hakekat Serangan Iblis supaya Kita dapat Mengantisipasinya
Mari kita perhatikan hakekat dari serangan setan. Bagaimana cara setan menyerang kita? Maksud saya, kita bisa saja berbicara tentang pencobaan, akan tetapi tetap saja kita tidak tahu apa arti dari pencobaan itu. Kita bisa saja berbicara tentang serangan Iblis, akan tetapi bagaimana persisnya? Jadi sangat penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana cara dia menyerang, supaya Anda bisa tahu bagaimana menangkal serangannya.

Mengapa orang berlatih bertinju? Apa beda antara orang berlatih tinju dengan yang tidak? Anda belajar bagaimana menggerakkan tangan Anda menghadapi serangan lawan. Anda belajar cara untuk menyerang balik. Tentunya Anda tidak perlu masuk ke sasana tinju jika Anda hanya ingin memukul seseorang. Jadi apa yang Anda pelajari di sasana tinju? Atau mungkin di perguruan karate? Atau pun di perguruan judo? Semua orang tahu bagaimana cara mencengkeram orang lain. Anda tidak usah belajar judo jika hanya ingin mencengkeram orang lain. Sebenarnya, hal yang Anda pelajari adalah bagaimana mengantisipasi hal-hal yang akan dilakukan oleh pihak lawan. Itulah tujuan dari pelajaran bela diri. Latihan untuk mengantisipasi lawan. Jika Anda tahu apa yang akan dilakukan oleh lawan saat ia mengambil posisi tubuh tertentu, maka Anda akan tahu bahwa gerakan selanjutnya pasti begini atau begitu, dan Anda sudah siap untuk menghadapinya. Tetapi jika Anda belum terlatih, maka Anda tidak akan tahu gerakan macam apa yang akan dilakukan lawan. Dengan demikian lawan Anda akan mendapat keuntungan; apalagi jika ia cukup terampil. Ia tahu apa yang akan ia lakukan, sementara Anda tidak tahu apa-apa. Ia akan menjatuhkan Anda.

Jadi sangatlah penting untuk mengetahui bukan saja fakta bahwa Anda akan dicobai. Tidak ada gunanya sekedar berkata, "Kita akan diserang". Apa gunanya sekedar mengetahui bahwa serangan akan datang? Akan tetapi jika saya tahu dengan cara apa serangan itu akan datang, maka saya akan tahu bagaimana cara menghadapinya. Mari kita pelajari prinsip-prinsip serangan Iblis.

Iblis Ingin Anda Menyalahgunakan Hak Anda sebagai anak Allah
Pertama-tama, apa yang dikatakan oleh Iblis di Lukas pasal 4? Ia mengatakan hal ini, "Jika Engkau Anak Allah..." Nah, kalimat pembuka ini tidak disampaikan dengan maksud meragukan Yesus sebagai Anak Allah. Maksud saya, Iblis bukan pribadi yang bodoh. Ia tahu persis bahwa Yesus adalah Anak Allah. Kalimat itu dapat lebih baik diterjemahkan seperti ini, "Karena Engkau adalah Anak Allah..." sebab ia ingin menarik sebuah kesimpulan dari situ. Jika ia tidak yakin apakah Yesus memang Anak Allah, maka ia tidak akan mencoba menarik kesimpulan dari situ. Anda bisa saja menutup perkara dengan meletakkan tanda tanya di situ. Jika Engkau adalah Anak Allah, maka saya dapat mengharapkan bahwa Engkau pasti bisa melakukan beberapa hal yang khusus. Atau, lebih tepatnya, karena Engkau adalah Anak Allah, maka Engkau pasti bisa melakukan hal-hal tertentu. Lalu bagaimana penerapannya bagi kita? Kita juga adalah anak-anak Allah. Anda lihat, Yesus tidak menjalani semua pencobaan ini untuk kepentingan diri-Nya sendiri. Ia menjalani semua ini, sebagaimana yang telah kita lihat, untuk memberi kita contoh supaya kita bisa mengikuti jejak-Nya. Contoh-contoh ini berlaku bagi kita karena kita juga adalah anak-anak Allah.

Ingat apa yang kita bicarakan tentang pengurapan minggu lalu? Salah satu dari makna pengurapan adalah bahwa Allah memberi kita otoritas tertentu. Seorang raja diurapi dan dengan demikian ia telah menerima mandat dari Allah untuk menjadi raja. Seorang imam diurapi dan dengan demikian ia telah menerima kuasa untuk melayani di bait Allah dan di mezbah persembahan. Seorang nabi diurapi dan demikian ia menerima pengurapan untuk memberitakan Firman Allah dengan kuasa yang berasal dari Allah. Jadi ketika Anda diurapi, apa yang Anda terima? Di antara semua hal yang Anda terima itu, Anda menerima hak untuk menjadi anak Allah, kuasa untuk menjadi anak Allah. Itulah yang dikatakan Yohanes di Yoh. 1:12, "Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah." Anda menerima kuasa. Anda diberi hak untuk menjadi anak-anak Allah. Dan Anda boleh memakai hak itu. Dan justru Iblis ingin Anda memakai hak itu, dengan cara yang salah tentunya. Ada cara yang benar dan yang salah di dalam menjalankan hak sebagai anak Allah. Maksud pencobaan Iblis adalah supaya Anda memakai hak Anda dengan cara yang salah. Pahamilah hal ini dengan sangat seksama.

Lalu apa itu cara yang salah? Nah, Iblis melanjutkan kata-katanya kepada Yesus, "...suruhlah batu ini..." Perhatikan kata 'batu ini'. Anda dapat membayangkan Iblis sedang menunjuk ke arah sebuah batu dan berkata, "...suruhlah batu ini menjadi roti." Iblis sangat teliti. Ia menarik perhatian pada keinginan mata. Di sana ada sebuah batu; dan Anda sedang kelaparan; "Suruhlah batu ini." Ia tidak berbicara dengan cara yang samar-samar dan ia tahu semua cara untuk mendekati Anda. Ia menggoda mata Anda, ia juga menggoda perut Anda. Itulah maksud utama dari pencobaan. Apa itu pencobaannya? Pencobaannya adalah mendorong Anda untuk memanfaatkan kedudukan rohani Anda yang baru demi keuntungan jasmani Anda. Perhatikan: demi keuntungan jasmani! Memanfaatkan kuasa rohani yang Anda peroleh dari pengurapan itu demi keuntungan material. Dapatkan keuntungan material darinya.

Nah, ini adalah suatu pencobaan yang sangat berbahaya. Ia ingin mendorong agar daging kembali mendominasi roh, menjadikan daging sebagai dasar segala motivasi Anda. Dan jika Anda jatuh di dalam pencobaan yang ini, maka Anda akan jatuh kembali pada keadaan Anda yang semula. Anda kembali ke dunia. Masuk ke dalam perbudakan dosa lagi. Anda jatuh kembali ke dalam kendali daging. Ini adalah sebuah pencobaan yang sangat rapi dan halus dari Iblis; menjadikan daging sebagai penentu tindakan Anda!

Ia Mencobai Kita dengan Memanfaatkan Kebutuhan Jasmani Kita yang Normal
Bukan itu saja; pencobaan yang dilancarkan oleh Iblis bahkan lebih halus lagi! Ini adalah pencobaan untuk memanfaatkan kebutuhan jasmani yang normal sebagai dasarnya. Perhatikanlah baik-baik akan hal ini. Jika Anda merasa lapar, Anda tidak berdosa karena merasa lapar. Dan jika rasa lapar itu bukan dosa, maka kebutuhan untuk memuaskan rasa lapar itu juga tidak salah. Jadi, godaan untuk makan jelas bukanlah dosa. Lalu, logika yang disusunnya itu kemudian dilanjutkan seperti ini, "Nah, kita sekarang sedang di padang gurun, dan di sekitar sini tentunya tidak ada toko roti, bukan? Juga tidak akan ada orang lain yang datang menggendong dagangan serta menawarkan makanan. Jadi, jika engkau merasa lapar, dan kebutuhan untuk makan adalah hal yang wajar, dengan cara apa engkau akan mendapatkan roti? Nah, karena engkau adalah anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti." Perhatikan betapa Iblis menyusun godaannya dengan landasan yang sangat masuk akal. Pencobaan untuk berbuat dosa itu tidak jelas sama sekali dan kita akan melihat bahwa inilah pencobaan yang paling berbahaya. Pencobaan yang berbahaya bukanlah pencobaan yang jelas-jelas mendorong kita untuk berbuat sesuatu yang jahat. Yang berbahaya itu adalah yang memakai hal-hal yang pada hakekatnya tidak berdosa untuk menarik, secara perlahan, kehidupan rohani Anda di bawah kendali hasrat dan kebutuhan jasmani. Sekali lagi, saya peringatkan Anda akan hal ini.

Sebagai contoh, mengambil dari cara hidup di abad sekarang ini, bagaimana jika kita menempatkan karir di atas pelayanan kepada Allah? Lagi pula, semua orang membutuhkan karir. Kita semua harus mencari nafkah. Jadi, tempatkanlah karir sebagai prioritas yang nomor satu. Jadikan pertimbangan akan kesejahteraan materiil sebagai penentu atas perjuangan rohani Anda. Saya tidak tahu sudah berapa banyak orang Kristen yang jatuh dalam pencobaan macam ini dan telah diperbudak kembali oleh daging.

Saya sendiri telah banyak mengalami pencobaan seperti ini. Saya dapat mengatakan hal ini kepada Anda sejujurnya. Saya pernah berpikir, "Saya bisa melayani Allah sambil mengejar karir yang bagus." Jika Anda bisa melakukannya, mengapa saya tidak bisa? Apa bedanya antara Anda dengan saya? Apakah saya sudah diseret keluar dan dicap: "Pemberita Injil, dan tidak diperkenankan untuk mengerjakan hal yang lain"? Apakah saya dibatasi dan tidak boleh mengejar pekerjaan lain? Jika Anda bisa melakukannya, mengapa saya tidak? Saya mengamati kehidupan teman-teman saya, dan saya melihat orang yang satu memperoleh gaji sekian setiap bulannya, sedangkan yang lain memperoleh gaji dua kali lipat penghasilan saya. Yang lain lagi memperoleh tiga kali lebih besar. Saya berkata, "Apa yang saya kerjakan di sini? Saya pasti satu-satunya orang yang tidak waras di sini." Mereka berkata, "Oh, kalau Anda lain. Anda sudah ditetapkan untuk mengerjakan hal ini." Lalu, mengapa mereka tidak ditetapkan untuk pekerjaan yang sama dengan saya? Mengapa saya yang ditetapkan untuk itu? Adakah ayat di dalam Alkitab yang berkata, "Eric Chang hanya boleh memberitakan Injil"? Adakah tertulis ayat seperti itu? Saya tidak pernah menjumpai ayat seperti itu. Dan saya sendiri sebenarnya juga cukup mahir bekerja di bidang lain. Justru di sinilah Iblis mulai mendapatkan Anda.

Saya teringat ketika masih berada di Inggris, saya menghadapi pencobaan seperti ini: tawaran pekerjaan - menjadi dosen - di sebuah universitas jelas sangat cocok dengan latar belakang pendidikan saya. Saya berpikir, "Nah, mengapa tidak dirangkap saja, menjadi dosen sambil melayani Tuhan? Mengapa tidak? Adakah alasan untuk menolak secara manusiawi? Tidak ada. Ini adalah hal yang paling masuk akal yang bisa dikerjakan. Dan lagi, saya tidak akan membebani lagi keuangan gereja. Saya akan berada pada kedudukan yang lebih baik dari sekedar pengkhotbah. Seorang pengkhotbah menjadi beban bagi keuangan gereja, sedangkan saya - jika menerima pekerjaan itu - tentu tidak akan membebani keuangan gereja." Anda - para jemaat - tidak membebani gereja secara finansial. Hanya saya di sini yang menjadi beban gereja. Jadi, Anda dapat melihat bahwa dilihat dari segi ini, kedudukan Anda masih lebih baik dari pada saya. Jadi, mengapa saya tidak mencari pekerjaan rangkap? Saya bisa mengajar di universitas sambil melayani serta berkhotbah di gereja.

Saya ingat ketika saya membicarakan iklan pekerjaan tersebut dengan Helen (istri saya), saya berkata kepadanya, "bagaimana kalau saya mengambil pekerjaan sebagai dosen di Edinburgh ini? Mereka sedang membuka jurusan baru di sana. Setahu saya, di Inggris tidak banyak orang yang menguasai bidang ini. Peluang saya untuk bisa bekerja di sana sangat besar." Lalu saya berpikir, "Ya! Saya akan menulis surat lamaran ke University of Edinburgh dan melamar lowongan itu." Anda tahu, sebelum saya sempat mengambil pena untuk menulis surat lamaran itu, datang teguran dari Roh Kudus, "Eric, apa yang kau lakukan?" Dan saya berkata, "Ah, Engkau lihat Tuhan, seperti ini..." "Seperti apa?" "Ya, aku pikir seperti... daging yang mendominasi roh." Saya tidak pernah menyelesaikan surat lamaran itu.

Seorang teman baik saya dari Hong Kong mengirim satu daftar panjang formulir lamaran di University of Hong Kong. Ia berkata, "Hei, ada lowongan untukmu di Hong Kong." Lalu saya mengamati tumpukan formulir pendaftaran itu. Anda tahu hal apa yang selanjutnya saya lakukan? Saya membuang semua formulir itu ke tong sampah. Saya tidak dapat melanjutkan. Saya tahu bahwa Iblis sedang mencobai saya untuk menempatkan kebutuhan normal sebagai prioritas utama - ingat, kebutuhan normal! Saya tidak berbuat dosa dengan berusaha memenuhi kebutuhan jasmani atau materiil saya, namun dengan menjadikannya sebagai prioritas utama di atas pelayanan kepada Allah.

Jangan salah sangka. Saya tidak menyuruh Anda untuk menuduh setiap orang yang tidak menjadi pemberita Injil sebagai orang yang materialistis. Bukan itu maksudnya. Dalam kesempatan yang lain, saya sudah pernah menjelaskan bahwa melayani Tuhan berkaitan dengan karunia. Anda mungkin sangat ingin melayani Tuhan dengan cara seperti saya, akan tetapi mungkin itu bukan karunia Anda. Atau bisa saja karena waktunya belum tiba bagi Anda. Bagi saya, karunia dan waktunya sudah sampai kepada saya. Jadi bagi saya memang tidak ada jalan keluar tanpa berbuat dosa, yaitu membiarkan daging mendominasi roh. Bisa saja waktu dan karunia bagi Anda bukan dalam pelayanan seperti saya. Suatu hari nanti, mungkin waktunya akan tiba bagi Anda, atau mungkin juga tidak akan pernah tiba. Tuhan bisa saja berkeinginan agar Anda tetap pada kedudukan Anda yang sekarang ini. Sekalipun Anda berkata kepada-Nya, "Tuhan, aku bersedia untuk mengikuti-Mu setiap saat." Tuhan mungkin akan menjawab, "Baiklah, Aku tahu bahwa engkau bersedia untuk mengikut Aku. Tapi sekarang ini tetaplah berada di sana." Jadi saya tidak bermaksud untuk mengkritik siapapun. Saya berada di sini bukan untuk menghakimi orang lain. Tugas saya adalah untuk menjabarkan suatu prinsip rohani.

Prinsip Lain dari Pencobaan - Memanfaatkan Kedudukan Rohani Kita untuk Memperoleh Keuntungan Materi
Prinsip dari pencobaan, perhatikan, adalah godaan untuk menempatkan hal-hal duniawi di atas yang rohani dan memanfaatkan kedudukan rohani Anda untuk mencapainya. Contohnya, jika saya memberitakan Injil untuk mendapatkan penghasilan yang lumayan untuk diri sendiri.

Saya biasanya menerima kiriman majalah-majalah dan jurnal-jurnal Kristen. Beberapa waktu yang lalu say menerima sebuah jurnal yang berisi iklan: "Pendeta Dibutuhkan". Saya mengamati iklan itu, dan di sana tertulis, "Gaji..." Wow! Saya perhatikan lagi angka gaji yang tertera di sana, dan saya berkata, "Hei, saya bisa mengisi lowongan ini. Lagi pula, saya masih tetap melayani Tuhan. Buat apa saya bertahan di Montreal sedangkan di gereja sana mereka memerlukan seorang pendeta dan mereka akan membayar saya dua kali lipat lebih dari gaji di sini?" Apakah Anda akan keberatan jika saya melamar untuk menjadi pendeta di sana? Apakah saya berdosa dengan melamar ke sana? Mengapa saya tidak boleh ke sana? Jadi mengapa saya tidak mengirim lamaran ke sana? Lagi pula, mereka membutuhkan pendeta dengan syarat pengalaman yang cukup. Saya pikir, saya akan memenuhi persyaratan untuk semua kategori pengalaman yang mereka inginkan. Peluang saya untuk diterima di sana sangat besar. Akan tetapi saya tidak menulis lamaran ke sana. Mengapa? Karena saya tahu bahwa tugas dari Allah kepada saya sekarang ini adalah di sini, bukan karena menerima gaji dua kali lipat itu salah, atau karena tinggal di tempat yang lebih cocok iklimnya itu salah. Tahukah Anda seperti apa keadaan musim dingin di Montreal? Kalian yang akan kembali ke Hong Kong mungkin lebih beruntung. Kami yang masih tinggal di Montreal ini harus menghadapi cuaca bersalju selama enam bulan setiap musim dingin. Enam bulan dengan salju? Mari kita pergi ke wilayah Florida, atau setidaknya ke Hong Kong saja!

Tapi Anda bisa lihat, saya selalu menegaskan hal ini: jangan biarkan keinginan jasmani dan materiil kita untuk mengendalikan kehidupan rohani kita, atau bahkan memanfaatkan kedudukan rohani kita untuk memperoleh keuntungan materiil. Kita semua bisa melakukan hal itu. Dan itulah yang disebut pencobaan. Saya harap Anda bisa memahami hal ini dengan baik, karena Iblis akan terus mencobai Anda di sepanjang jalur ini setiap saat. Dan Anda akan terus berada dalam pergumulan sampai nanti, suatu saat, Anda bisa berkata, "Tuhan, saya akan mengerjakan segala yang Kau kehendaki."

Sebagai contoh, bagi Anda yang akan lulus sarjana pada tahun ini. Perlukah Anda melanjutkan ke jenjang Master atau bahkan ke Doktor? Apakah salah melanjutkan ke jenjang Master? Tidak. Apakah melanjutkan ke jenjang Master itu berdosa? Tidak. Apakah melanjutkan sampai ke jenjang Doktor itu berdosa? Tentu tidak. Jadi, saya boleh melanjutkan sampai ke tingkat Doktor, benar? Bisa 'ya' bisa 'tidak'; itu semua tergantung pada hubungan Anda dengan Tuhan. Nah, saya ingin mengajukan satu pertanyaan, "Ketika Anda dibaptis, ingatkah Anda akan janji Anda kepada Tuhan untuk berkomitmen total?" Apa artinya pernyataan itu? Itu berarti bahwa Anda berkata kepada Tuhan, "Saya akan mengerjakan apa yang Kau kehendaki saja, jika Engkau menghendaki saya untuk melanjutkan ke tingkat Master, saya akan melanjutkan ke tingkat itu. Jika Engkau menghendaki saya untuk melanjutkan ke tingkat Doktor, saya akan mengerjakannya. Jika Engkau tidak menghendaki saya untuk melanjutkan ke tingkat Master dan Doktor, kuatkanlah saya untuk tidak membiarkan ambisi keduniawian saya mendominasi kehidupan rohani saya. Keputusan hanya di tangan-Mu saja, ya Tuhan." Dapatkah Anda melihat apa maksud saya? Mungkin Tuhan akan membawa Anda untuk melanjutkan ke jenjang Master, atau mungkin Doktor. Jangan pernah beranggapan bahwa karena menempuh pendidikan ke jenjang Doktor itu kurang rohani dibandingkan dengan memberitakan Injil, maka Allah tidak akan membawa Anda melanjutkan pendidikan Anda. Memberitakan Injil mungkin tidak atau belum menjadi panggilan Anda, jadi Ia mungkin saja menyuruh Anda melanjutkan pendidikan Anda. Allah punya alasan sendiri untuk menyuruh Anda menempuh jalur pendidikan tertentu. Sementara bagi beberapa orang di antara kita, jalur tersebut mungkin justru salah.

Anda lihat, yang saya inginkan hanyalah melakukan apa yang Tuhan kehendaki atas diri saya. Melanjutkan atau tidak melanjutkan pendidikan sama saja bagi saya. Tidak ada pengaruhnya sedikitpun. Apakah gelar kesarjanaan itu hal yang duniawi atau tidak? Bisa ya dan bisa tidak. Bergantung pada apa yang menjadi kehendak Allah. Sebagaimana yang terjadi di dalam hidup saya, Allah menghendaki saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas, walaupun saya tidak mengejarnya (Allah menjadi saksi akan hal ini, saya tidak pernah mengejarnya sama sekali). Kehendak Allah-lah yang membawa saya masuk ke universitas. Saat itu saya berkata, "Ya Tuhan, jika Engkau tidak menghendaki saya untuk melanjutkan ke universitas, saya akan sangat senang untuk tidak melanjutkan pendidikan ini." Tuhan berkata, "Lanjutkan!" Jadi saya segera melanjutkan pendidikan saya.

Ketika saya masih di bangku kuliah sebenarnya saya cukup senang jika tidak tamat dengan gelar sarjana. Tidak ada artinya bagi saya. Bahkan dua bulan menjelang ujian kesarjanaan, saya masih sibuk memberitakan Injil di sebuah konferensi. Seharusnya saya saat itu sedang mempersiapkan diri menghadapi ujian dan mengejar nilai kelulusan tertinggi (first class honors), hal yang sangat diharapkan oleh profesor yang membimbing saya. Namun apa yang saya kerjakan? Saya malah berkhotbah memenuhi undangan untuk berkhotbah. Saya harus memilih: apakah akan memenuhi undangan berkhotbah, atau mengutamakan persiapan ujian kesarjanaan untuk mengejar first class honors? Nah, jika saya membiarkan pilihan pribadi mendominasi, tentu saja saya akan memilih mengejar penghargaan akademik, dan berkata, "Tahun depan saja saya berkhotbah di konferensi Anda. Sekarang ini saya sedang bersiap-siap untuk ujian kesarjanaan." Saya terjepit di antara kedua pilihan itu, apa yang harus saya lakukan? Kebutuhan rohani orang banyak atau sukses akademik? Saya memilih untuk memberitakan Injil. Akhirnya yang saya dapatkan adalah medali penghargaan kelas dua, bukan yang kelas satu. Ya sudah. Bagi saya tidak ada bedanya, bahkan sekali pun saya tidak mendapat medali penghargaan apa pun. Tidak ada bedanya bagi saya. Yang saya inginkan hanyalah melakukan kehendak Allah - kehendak-Nya atas diri saya.

Setelah saya lulus, saya berpikir, "Sekarang ini saya tidak tahu apa yang Tuhan kehendaki untuk dikerjakan. Mungkin saya harus melanjutkan ke tingkat Doktor." Lalu saya melamar ke Swiss untuk melanjutkan ke tingkat Doktor dan diterima di sana. Pada saat itu, Tuhan berkata, "Jangan." Dan saya berkata, "Tapi ini bagus, Tuhan. Pikirkan saja, saya akan menjadi Doktor Chang. Wow, Doktor Chang! Jika saya berkhotbah, mereka akan memanggil saya, 'Doktor Chang.' Sekarang ini, mereka hanya memanggil saya, 'Bapak Chang.'" Jadi saya berpikir, "Saya harus belajar ke sana." Saya sangat berambisi saat itu, sampai-sampai saya sudah menulis tesis saya sebelum berangkat ke sana. Bayangkan! Seperti itu ambisi saya saat itu. Sekitar 330 atau 340 halaman tesis yang saya tulis, saya lupa persisnya. Akan tetapi tesis itu saya tulis bahkan sebelum saya memulai pendidikan tingkat Doktor itu. Seperti itulah hasrat saya saat itu. Saya menyusun tulisan untuk tingkat Doktor di sela-sela waktu belajar saya sebagai seorang mahasiswa tingkat sarjana! Segala pemikiran saya, saya tuangkan di sana. Beberapa tahun kemudian, ada orang lain yang menempuh jenjang Doktor dengan bidang bahasan yang persis seperti isi tulisan saya. Saya berkata kepadanya, "Saya bisa saja memberikan Anda materi tulisan saya, dan Anda dapat menghemat waktu untuk menyusun tesis Anda di sana." Namun ketika saya diterima di Zurich, Tuhan menutup semua pintu. Ia berkata, "Tidak. Sampai di sini saja." Saya beritahukan kepada Anda, hal ini menjadi beban pergumulan yang cukup berat bagi saya. Kedagingan dan ambisi pribadi saya menyuruh untuk pergi, tetapi Tuhan berkata, "Tidak." Dan saya tunduk kepada Tuhan, "Baiklah, memang harus begini jalannya."

Ini saya sampaikan sejujurnya kepada Anda, Anda sekalian yang sudah dibaptis. Allah mungkin akan membawa Anda ke jenjang pendidikan yang tinggi; atau mungkin juga tidak. Ia mungkin akan membawa Anda ke jenjang Master atau Doktor, atau apa pun, atau mungkin juga tidak. Bersediakah Anda membiarkan Dia yang memutuskan? Jika Anda berkomitmen total, tentu saja jika hal itu memang merupakan kehendak-Nya, maka Anda akan mengerjakannya. Jika suatu hari nanti, tiba-tiba Tuhan berkata, "Sekarang saatnya bagimu untuk menempuh jenjang Doktor", maka saya akan segera menurut. Anda tidak akan melihat saya di sini lagi. Saya akan berangkat. Saya akan mengeluarkan tesis saya dari tumpukan di gudang - membersihkan debu-debu yang mengotorinya - karena tertimbun selama bertahun-tahun, berangkat ke sebuah kampus dan berkata, "Ini tesis saya. Serahkan Doktorat itu. Gantungkan gelar itu di leher saya."

Tapi Anda dapat melihat, Allah mengenali setiap orang dari kita dengan baik dan Ia tahu bagaimana mengurusi kita. Dan Anda akan jatuh ke dalam pencobaan Iblis jika Anda tidak teguh mengikuti jalan-Nya dan membiarkan hasrat duniawi menguasai diri Anda. Ingatlah, inilah caranya Iblis akan menyerang Anda. Inilah pesan dari ayat-ayat ini.

Bagaimana Menghadapi Pencobaan itu? Tuhan, Jadilah Kehendak-Mu
Bagaimana cara kita untuk menghadapi hal ini? Nah, saya sudah memberikan sebagian dari jawaban itu kepada Anda. "Tuhan jadilah kehendak-Mu. Tiada yang kuinginkan kecuali kehendak-Mu." Saya beritahukan, jika Anda melangkah ke arah yang bertentangan dengan kehendak Allah, jika saya melawan kehendak Allah dan terus saja melanjutkan pendidikan sampai menjadi Doktor, tahukah Anda apa yang akan terjadi pada saya? Riwayat saya tamat sudah. Allah tidak akan pernah melirik saya lagi. Dan jika Allah sudah menyingkirkan Anda, tamatlah riwayat Anda. Anda bisa saja memiliki lima gelar Doktor, tetapi Anda tidak akan dipakai oleh Allah. Saya mengenal banyak orang yang memiliki gelar Doktor dan Allah bahkan tidak melirik mereka. Mereka tidak berguna bagi Allah sama sekali, dan saya tidak sedang membesar-besarkan masalah. Saya mengenal beberapa orang yang bergelar Doktor, yang mengajar di beberapa gereja tanpa ada jemaat yang beribadah ke sana. Saya pernah datang ke sebuah gereja dengan pendeta yang bergelar Doktor, yang jumlah jemaatnya hanya tiga orang, karena tidak ada kuasa di sana. Anda lihat, ketika kuasa Anda dicabut, semuanya berakhir bagi Anda - tidak peduli seberapa banyak gelar Doktor yang telah Anda kumpulkan.

Anda mungkin bukan seorang Doktor, bahkan bukan sarjana, bahkan tingkat pendidikan Anda mungkin sangat rendah, tetapi jika Anda memiliki Roh Allah, dunia akan berguncang. Itulah D.L. Moody. Ia bahkan tidak tamat SD, tetapi apa yang terjadi? Jika ia mengkhotbahkan Firman Allah, orang-orang akan bertobat. Roh Allah bekerja di dalam hati pendengarnya. Orang-orang diinsyafkan akan dosa-dosa mereka. Mereka jatuh berlutut di hadapan Allah. Anda tidak butuh gelar Doktor untuk memberitakan Injil, percayalah. Yesus memilih sekumpulan nelayan sebagai murid-Nya, dan Ia mengguncangkan dunia dengan para nelayan ini. Tak seorang pun dari para nelayan ini yang memiliki gelar sarjana. Mungkin tidak seorang pun dari mereka yang pernah melihat sekolah. Jika Anda ingin melayani Allah, satu-satunya hal yang penting pada diri seorang murid adalah keberadaan Allah di dalam hidupnya. Jangan iri jika ada orang lain yang dipanggil dengan sebutan, "Pendeta Anu, PhD, Master ini dan itu." Tidak ada artinya! Anda bahkan tidak usah membaca gelar-gelar yang tertulis di sana! Perhatikanlah keberadaan Roh. Perhatikanlah kuasa Roh di dalam orang tersebut. Hal itulah yang saya kejar. Ituah yang saya inginkan.

Saya tahu, jika saya tidak mentaati Allah dan berkeras untuk pergi, maka saya akan mendapat gelar D. Theo. di belakang nama saya, dan Allah akan menempatkan saya di dalam tong sampah di sepanjang sisa hidup saya. Riwayat saya akan tamat. Apa yang akan saya perbuat dengan gelar D.Theo. ini jika Allah sudah tidak punya waktu untuk saya lagi? Saya akan hanyut di saluran pembuangan. Lenyap! Pahamilah hal ini dengan baik. Harga dari ketidaktaatan sangat berat, tak terukur! Jangan pernah melanggar kehendak Allah. Anda tidak akan sanggup menanggungnya.

Puasa sebagai Alat untuk Mengendalikan Kedagingan Anda
Hal selanjutnya yang perlu kita pelajari dari peperangan rohani melawan pencobaan ini adalah kata "berpuasa". Berpuasa! Di dalam gaya hidup kekristenan kita sekarang ini yang sangat manja, kebanyakan orang tidak mau berpuasa. Kehidupan rohani orang Kristen mayoritas sangat tidak disiplin. Jemaat dipenuhi oleh orang-orang manja yang hanya tahu masalah datang untuk mendapat sesuatu saja. Orang Inggris punya istilah khusus untuk ini, mereka biasa berkata, "Kami datang untuk minum bir. Saya datang ke sini hanya untuk minum bir." Mereka datang hanya untuk mengejar apa yang bisa mereka peroleh. Tidak ada disiplin pribadi. Tidak ada tekad rohani. Tidak ada pendorong rohani! Apa yang dilakukan oleh Yesus dalam menghadapi pencobaan? Pelajari contoh yang diberikan-Nya. Ia dicobai selama empat puluh hari dan Ia berpuasa selama empat puluh hari.

Jika Anda masih belum mengerti makna puasa, Anda mungkin akan mengira bahwa puasa akan membuat pencobaan menjadi semakin berat dihadapi. Barangkali tujuannya untuk mempermudahkan tugas Iblis mencobai Dia. Sebenarnya, ketika masih baru menjadi Kristen, seperti itulah jalan pikiran saya. Saya berkata, "Lucu sekali, Yesus berpuasa dan memperlemah diri-Nya sehingga memberi kesempatan bagi Iblis untuk mencobai-Nya karena Iblis dapat menggoda rasa lapar-Nya dengan lebih efektif. Dengan perut yang terasa sangat lapar, bagaimana Engkau akan bertahan menghadapi godaan?" Jika seperti itu cara berpikir Anda, maka Anda sudah keliru. Yesus berpuasa bukan untuk memberi Iblis kesempatan untuk mencobai-Nya. Itu konyol. Kehidupan Kristen sudah cukup berat tanpa ditambah dengan kegiatan yang tidak perlu. Tujuan utama dari berpuasa adalah untuk melemahkan efektifitas pencobaan Iblis terhadap-Nya.

Nah, jika Anda sudah memahami poin yang sebelum ini, Anda akan dapat memahami hal yang sedang saya bicarakan ini. Iblis menyerang melalui daging Anda; apakah Anda sudah mulai mengerti? Lalu bagaimana Anda akan menghadapi serangan ini? Dengan melatih kendali atas daging. Itulah tujuan dari berpuasa. Secara sederhananya, puasa menempatkan daging di bawah kendali Anda. Dengan berpuasa Anda belajar untuk mengendalikan daging, maka sarana yang bisa dipakai Iblis untuk menyerang Anda akan sangat jauh berkurang karena Anda sudah mengendalikan daging Anda. Daging yang tidak disiplin adalah senjata yang mematikan di tangan Iblis. Itu sebabnya ia dapat dengan mudah menjatuhkan banyak orang Kristen karena mereka tidak mendisiplin dagingnya. Iblis dapat memanfaatkan kedagingan Anda. Dan ia memang selalu memanfaatkan itu untuk menyerang Anda.

Manusia rohani mendisiplin dagingnya! Paulus berkata di 1 Kor. 9:27 bahwa ia sendiri selalu melatih dirinya. Ia menempatkan dagingnya di bawah kendali yang mantap. Saya katakan kepada Anda, belajarlah untuk berpuasa! Anda tidak akan mati karenanya. Jangan kuatir, Anda tidak akan mati. Sebaliknya, Anda akan hidup, dan hidup lebih baik daripada keadaan Anda yang sekarang. Sangat tragis melihat betapa kurangnya disiplin diri di zaman sekarang ini. Saya tidak tahu berapa banyak orang yang menjalankan puasa. Dan saya seringkali membahas akan hal ini di dalam beberapa KKR atau ibadah mingguan. Belajarlah untuk menempatkan daging Anda di bawah kendali. Hal itulah yang dicontohkan oleh Yesus.

Beberapa Tips tentang Puasa
Akan tetapi saya juga perlu memperingatkan beberapa hal. Saya tidak menyarankan Anda untuk langsung berpuasa selama empat puluh hari. Mungkin kita tidak akan bertemu lagi jika Anda langsung berpuasa selama itu, dan saya tidak mau kehilangan Anda! Jangan terburu-buru! Perhatikan bahwa Yesus disebutkan tidak makan selama empat puluh hari. Penjelasan ini sangat penting. Tidak disebutkan bahwa Yesus tidak minum selama empat puluh hari itu. Itu artinya bahwa pada saat berpuasa, Anda masih minum air sebagaimana biasanya. Dan saya sarankan untuk tidak langsung mencoba yang empat puluh hari - jangan terburu nafsu. Mulailah dengan satu hari saja. Atau, jika yang satu hari itu masih terlalu berat, cobalah melewati setengah hari dulu. Saya yakin, ketika tiba waktu untuk makan malam, Anda mungkin merasa bahwa Anda sedang mati kelaparan. Tetapi Anda tidak akan mati. Jangan kuatir, Anda pasti selamat. Sesudah itu, cobalah, untuk waktu satu hari. Anda pasti akan merasa tidak sanggup bertahan lagi pada malam harinya, akibat tekanan rasa lapar itu. Anda akan merasakan lutut Anda gemetar dan lengan Anda terkulai lemas. Tenang saja, Anda pasti bisa bertahan sampai keesokan harinya. Akan tetapi saya tidak menganjurkan Anda untuk langsung berpuasa dalam waktu yang lama sebagai permulaan!

Yesus berpuasa sampai empat puluh hari karena Ia sudah terlatih untuk berpuasa dalam waktu yang lama. Anak Allah tahu apa artinya mendisiplin daging. Itu sebabnya Ia dapat menghadapi peperangan rohani melawan Iblis dengan sangat berhasil. Ia dicobai selama empat puluh hari itu - bacalah ayat-ayatnya dengan teliti. Dan di sepanjang saat pencobaan itu, Ia berpuasa, menutup pintu serangan yang diarahkan ke daging-Nya: dengan demikian melunturkan efektifitas serangan Iblis terhadap-Nya. Manusia Allah sangat sulit diserang karena ia menempatkan dagingnya di bawah kendali dan disiplin yang baik.

Mereka yang sudah mengikuti pelatihan tentunya sudah belajar sesuatu tentang arti berpuasa. Mereka sudah belajar untuk berpuasa untuk beberapa hari dan di dalam beberapa kesempatan belajar untuk mengendalikan kedagingannya. Secara bertahap, Anda akan mendapati bahwa Anda bisa memperpanjang masa puasa Anda. Bersikaplah realistik. Jangan menetapkan target yang terlalu jauh, hal yang akhirnya tidak dapat Anda penuhi. Mungkin Anda berkata, "Saya akan berpuasa selama seminggu." Dua hari kemudian, Anda sudah merasa akan mati kelaparan. Anda berkata, "Masih ada lima hari yang harus dilewati," dan Anda sudah berkeringat dingin; Anda lalu gagal menuntaskannya. Bersikaplah realistik. Jangan memulai dengan target yang mustahil. Jangan berlari sebelum bisa berjalan. Memulai dengan satu hari mungkin cukup baik.

Dan tentu saja, jangan melakukannya jika kesehatan Anda buruk. Saya tidak ingin bertengkar dengan para dokter. Jangan melakukannya jika kesehatan Anda sedang buruk. Kesehatan saya sendiri tidak begitu baik, akan tetapi puasa ternyata tidak membahayakan kesehatan saya. Malahan, saya mengalami dampak yang baik.

Puasa, sebagaimana yang sudah saya sampaikan, adalah pokok yang sulit dipahami di masa yang bercirikan sikap manja ini. Kita belum memiliki bala tentara Kristen. Yang kita miliki sekarang ini adalah kerumunan turis di dalam gereja. Mereka berdatangan untuk melihat-lihat keadaan. Mereka datang bukan untuk terlibat di dalam peperangan rohani. Kita butuh orang-orang dengan rohani yang disiplin.

Ada beberapa buku yang membahas tentang puasa. Sebuah di antaranya ditulis oleh Arthur Wallis, dengan judul God's Chosen Fast (Puasa Pilihan Allah) yang dapat Anda temukan di toko-toko buku. Saya tidak tahu apakah ada lagi buku lain yang membahas tentang puasa. Hanya ada sedikit buku yang membahas tentang hal ini di tengah jemaat yang manja dan ceroboh seperti sekarang ini. Jika Anda tinggal di negara-negara barat, Anda tidak akan tahu apa-apa tentang disiplin rohani.

Jika Anda menduga bahwa berpuasa itu berbahaya, jangan berpikir seperti itu. Berpuasa tidak akan membahayakan diri Anda sama sekali. Sebenarnya, hal ini malah akan memberi beberapa manfaat bagi diri Anda. Ada seorang dokter yang menulis sebuah buku tentang manfaat dari puasa dengan judul The Best Diet is No Diet (Diet yang Terbaik Adalah Tiada Diet). Berpuasa memang ada gunanya bagi kesehatan. Ada lagi ahli gizi yang menulis sebuah buku yang bagus - saya katakan bagus karena saya sudah mempelajari isinya - berjudul The Miracle of Fasting (Mukjizat dari Puasa). Orang ini sama sekali bukan Kristen. Ia tidak berkata bahwa berpuasa akan sangat baik bagi kerohanian Anda. Yang ia sampaikan justru bahwa berpuasa itu bermanfaat baik bagi kesehatan tubuh Anda. Ia membersihkan tubuh Anda. Anda akan merasa lebih sehat dan kuat.

Kenyataannya, saya mendapati bahwa setelah beberapa hari berpuasa, pikiran saya menjadi lebih jernih. Sungguh pengalaman yang sangat luar biasa! Otak Anda sepertinya bekerja dengan lebih cepat dari biasanya, dan Anda seperti bisa melihat atau memahami sesuatu dengan lebih cepat. Saya kira, di dunia yang sudah dipenuhi dengan gula dan kolesterol ini, otak kita mengalami kemacetan dan susah bekerja. Sulit untuk berpikir dengan jernih. Sungguh luar biasa hasil yang didapat dari berpuasa, bahkan menjangkau ke daya pikir Anda, tentunya jika Anda dapat melewati puasa beberapa hari. Tidak akan membahayakan kesehatan Anda, minum saja air yang banyak.

Akan tetapi saya tidak tertarik pada manfaat jasmaninya. Yang saya pentingkan adalah perkara menempatkan tubuh ini di bawah kendali yang kuat - seperti yang dibicarakan oleh Paulus. Jika Anda ingin berlomba seperti seorang atlet, apa yang harus Anda tiru dari atlet itu? Cara ia mendisiplin tubuhnya. Itulah hal yang dibicarakannya di 1 Korintus 9. Saya sudah pernah membahas hal ini dalam beberapa kesempatan. Hari ini, saya menyebutkannya lagi untuk kepentingan mereka yang baru saja dibaptis.

'Manusia Hidup Bukan dari Roti saja, tetapi dari Setiap Firman yang Keluar dari Mulut Allah'
Sekarang kita sampai pada poin yang terakhir. Apakah poin yang terakhir dari Lukas 4:1-4 ini? Inilah dia: Yesus menjawab Iblis dengan menggunakan Firman Allah, yaitu dari Ulangan 8:3, dan ia menjawab dengan kata-kata berikut, "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah" (Mat.4:4). Ini adalah ayat yang sangat penting, dan saya tidak punya banyak waktu untuk menguraikannya sekarang ini, jadi saya akan menyinggung beberapa butir saja.

1.   Kehidupan Rohani Anda bergantung pada Firman Allah
"Manusia hidup bukan dari roti saja..." Butir yang pertama adalah ini: Sama halnya dengan tubuh jasmani Anda yang bergantung pada makanan untuk bisa hidup, kehidupan rohani Anda bergantung pada Firman Allah untuk bisa bertahan hidup. Anda bukan sekedar sebuah tubuh, tetapi Anda juga adalah roh. Jika lebih suka menyebutnya dengan istilah 'jiwa', tidak apa-apa, Anda boleh memakai istilah itu. Kata 'roh' lebih alkitabiah di sini dan saya sudah pernah membahas makna kata 'roh' di dalam Perjamuan Kudus. Nah, di sini kita mendapati bahwa sama halnya dengan tubuh jasmani Anda membutuhkan makanan untuk bisa hidup, maka roh Anda membutuhkan makanan juga, dan makanan itu adalah Firman Allah. Ini adalah hal yang penting untuk dipahami.

2. Anda Harus Makan untuk Bisa Tetap Hidup
Kedua, perhatikanlah. Tidak cukup sekedar dilahirkan untuk bisa hidup. Jika Anda ingin tetap hidup dan bertumbuh, maka Anda harus makan. Ini adalah perkara yang sangat penting untuk dipahami. Di dalam kehidupan rohani, Anda tidak cukup dengan sekedar dilahirkan kembali. Kadang kala ada pengkhotbah yang berbicara seolah-olah dilahirkan kembali adalah kesimpulan dari segalanya; jika Anda sudah dilahirkan kembali maka ceritanya sudah selesai! Maksud saya, Anda akan baik-baik saja sampai selamanya. Bukan begitu! Seperti yang Anda ketahui, seorang bayi butuh makanan untuk bisa bertumbuh. Jika Anda tidak makan, apa yang akan terjadi pada diri Anda? Anda akan mati. Maksudnya, Anda mungkin sudah dilahirkan, akan tetapi Anda akan mati jika tidak makan. Dan hal yang sama berlaku di sini. Anda sudah dilahirkan kembali, itu sangat baik. tetapi jika Anda ingin bertahan hidup, Anda harus makan. Anda harus makan dari Firman Allah. Ini tentunya sangat jelas. Apa yang akan terjadi pada diri Anda jika Anda tidak makan dari Firman Allah? Anda akan mati! Itulah hal yang akan terjadi. Rasul Petrus berkata, "Bayi memerlukan susu" (1 Pet.2:2). Apa itu susu? Firman Allah! Begitulah cara Anda bertumbuh dan hidup. Jika Anda tidak makan, maka Anda akan mati. Ingatlah akan hal ini dengan baik.

3. Makan dari Firman Allah Berarti Menjalani Hidup Sesuai dengan Firman Allah
Lalu apa arti dari makan Firman Allah? Kebanyakan dari kita cenderung untuk memahami segala sesuatu secara intelektual, dan saya perlu memperingatkan Anda akan hal ini. Jangan berpikir bahwa makan dari Firman Allah berarti sekedar membaca dan memahaminya. Terlalu sering dikatakan bahwa makan dari Firman Allah berarti bahwa Anda hanya perlu membaca dan memahami apa yang tertulis di sana. Itu hanya sebagian dari proses makan dari Firman Allah. Makan dari Firman Allah berarti menjalankannya, bukan sekedar membacanya. Anda masih belum makan dari Firman Allah jika belum menjalankannya. Ini sangat penting. Anda mungkin sudah membaca Firman Allah; Iblis juga melakukan hal yang sama. Ia juga hapal isi Alkitab, lalu mengapa Iblis tidak bertumbuh? Mengapa ia tidak hidup secara rohani? Karena ia tidak melakukannya. Makan dari Firman Allah tidak sekedar membaca dan memahaminya. Hiduplah sesuai dengan apa yang sudah Anda pahami!

Jadi, saya tegaskan bagi Anda semua yang baru saja dibaptis: sesuaikan hidup Anda dengan Firman Allah. Ini lebih penting ketimbang mempelajari buku-buku tafsiran. Apa yang harus Anda lakukan? Ketika Anda membaca sebuah ayat, tanyakanlah, "Apakah kehidupan saya serupa dengan ayat ini? Bagaimana menerapkan ayat ini ke dalam hidup saya?" Jika Anda melakukan hal itu, maka Anda sudah benar-benar hidup dari Firman Allah. Anda sudah makan Firman Allah. Jadi bacalah Firman Allah. Seberapa banyak pasal yang Anda baca dari Alkitab bukanlah pokok permasalahannya. Banyak orang yang terpusat perhatiannya pada perkara jumlah pasal yang telah dibaca. Saya lebih suka jika Anda hanya membaca tiga kalimat dan menjalankannya. Apa gunanya membaca tiga pasal tetapi Anda tidak tahu bagaimana mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari Anda? Lebih baik hanya membaca tiga kalimat saja tetapi langsung menjalankannya seketika itu juga. Dengan demikian Anda sudah makan dari Firman itu. Sekarang kita sampai kepada kesimpulannya.

Rangkuman
Lalu bagaimana cara kita menghadapi pencobaan? Pertama, dengan dipenuhi oleh Roh Kudus. Ingatlah kalimat pertama di Lukas 4:1, "Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun." Kita menghadapi peperangan rohani ini tidak dengan kekuatan kita sendiri. Kita menerima Roh Kudus untuk mengalahkan pencobaan. Lalu, apa poin yang selanjutnya? Kedua adalah: Tempatkan tubuh jasmani Anda di bawah kendali yang kokoh. Berpuasa adalah sarana yang ampuh untuk maksud itu. Bukan satu-satunya sarana, melainkan sarana yang ampuh. Anda bisa tambahkan latihan disiplin ini dengan kegiatan olah raga. Erobik, bersepeda, atau bina raga adalah beberapa contoh yang baik. Berolah raga membantu Anda mendisiplin tubuh. Apakah Anda terbiasa membiarkan tubuh Anda menjadi manja? Berolah-ragalah! Apa pun olah raga itu, yang penting latihlah diri Anda untuk berdisiplin. Seorang atlet melatih dan mengendalikan tubuhnya dengan baik. Akan tetapi, di dalam menjalankan puasa, Anda perlu melatihnya dengan hati-hati dan berangsur-angsur. Tempatkanlah diri Anda di bawah kendali yang baik. Dan yang terakhir adalah, secara teratur makanlah selalu dari Firman Allah. Terapkan Firman Allah di dalam hidup Anda. Maka Anda akan tahu seperti apa kuasa Allah di dalam kehidupan sehari-hari Anda.

[Download]


Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.

Standard
Besar
Terbesar

Arti Baptisan:

Yoh 4:18-23 Aku Akan Menyatakan Diriku Kepadamu

Penyatuan dengan Kristus

Karunia Roh Kudus melalui Baptisan

Pencobaan sesudah Baptisan 1

Pencobaan sesudah Baptisan 2

Ikrar dari Hati Nurani yang Baik kepada Allah

Biarkanlah Umatku Pergi

Copyright 2003-2014. Semua materi di situs ini adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries.
E-mail kami untuk mendapatkan izin untuk menggunakan materi di situs ini.
Best viewed with IE6.0 and 1024 by 768 resolution.