|
| Saran & Komentar | updated on 01 March 2010 |
|||||||
|
CahayaPengharapanMinistries Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan |
|||||||
|
|
|||||||
|
Puasa dari Mengkritik oleh Catherine Marshall Tuhan terus menangani saya tentang kebiasaan saya yang suka mengkritik. Ia menginsafkan saya bahwa adalah salah untuk saya menghakimi orang atau situasi.
Suatu pagi, Ia memberi saya satu tugas: untuk satu hari ini saya harus puasa dari kritikan. Saya tidak boleh mengkritik sesiapapun atau hal apa pun. Pikiran saya mulai menimbulkan berbagai macam bantahan. ‘Tetapi bagaimana dengan penilaian. Engkau sendiri berbicara tentang “penilaian yang benar” (righteous judgment). Bagaimana suatu masyarakat dapat beroperasi tanpa standar dan batasan?’ Semua bantahan saya tidak ditanggapi. ‘Taatilah Aku tanpa banyak bertanya: suatu puasa yang mutlak dari semua pernyataan kritis untuk satu hari ini.’ Di saat saya merenungkan tugas ini saya melihat suatu sisi yang lucu. Apa yang ingin Tuhan tunjukkan kepada saya? Buat beberapa jam yang pertama hari itu, saya merasa kosong, seolah-olah kepribadian saya terhapus. Hal ini benar-benar terasa waktu saya makan siang bersama keluarga dan sekretaris saya. Beberapa topik pembicaraan muncul, tentang praktek doa di sekolah, aborsi dan beberapa hal lain tentang amendmen undang-undang negara. Saya mempunyai opini yang sangat pasti tentang hal-hal tersebut. Saya mendengarkan diskusi di sekitar meja makan dan tidak memberikan komentar apa-apa. Beberapa komentar tajam tentang beberapa pemimpin dunia sudah ada di hujung lidah saya, tetapi saya mengurung niat saya untuk mengungkapkannya. Karena keluarga saya semuanya senang berbicara, tidak ada yang menyadari bahwa saya tidak seperti selalunya. Saya melihat bahwa tidak ada yang merasa kehilangan karena saya tidak berkomentar. Pemerintahan, sistem perundangan dan institusi gereja kelihatannya baik-baik saja tanpa observasi saya yang tajam. Tetapi saya masih tidak melihat apa yang dapat dicapai dengan puasa dari mengkritik ini. Tetapi di siang hari sesuatu mulai terjadi. Untuk beberapa tahun saya telah berdoa untuk seorang anak muda yang sangat berbakat tetapi kehidupannya menjadi agak kacau belakangan. Mungkin doa saya baginya terlalu negatif. Di siang hari itu, satu visi yang khusus dan positif tentang hidupnya tiba-tiba diberikan kepada saya dari Tuhan. Saya tahu visi itu dari Tuhan karena ia datang bersamaan suatu tanda pasti yaitu sukacita. Ide-ide mulai berdatangan, suatu hal yang belum pernah saya alami selama bertahun-tahun. Sangatlah jelas sekarang apa yang Tuhan ingin saya lihat. Sifat kritis saya tidak pernah dapat mengoreksi pelbagai hal yang saya lihat sebagai kurang beres. Tetapi hal yang telah terjadi adalah, sifat kritis saya telah menghambat kreativitas saya, apakah dalam hal berdoa, dalam relasi saya dan bahkan dalam tulisan saya. Sifat kritis saya telah membuat Tuhan tidak dapat menyampaikan kepada saya ide-ide dari-Nya. Kelemahan karakter saya yang suka mengkritik ini tentu saja tidak dapat dikoreksi dengan begitu saja. Tetapi setelah merenungkan hal ini, utamanya membaca apa yang diajarkan oleh Yesus dari Khotbah di Bukit, saya melihat bahwa Yesus begitu jelas meminta kita jangan memandang orang atau situasi dengan lensa yang negatif. Apa yang Ia tunjukkan kepada saya dapat disimpulkan sebagai berikut:
Setelah diinsafkan oleh efek kebinasaan dari pemikiran yang kritis, saya berlutut dan mendoakan doa ini: ‘Tuhan, saya bertobat dari dosa menghakimi ini. Saya minta maaf karena selama ini secara terus menerus saya telah melakukan suatu perlanggaran yang begitu besar terhadap Engkau dan diri saya sendiri. Saya mengklaim pengampunan dari Engkau dan meminta untuk diberikan suatu kesempatan yang baru.’ (Catherine Marshall adalah penulis Kristen yang terkenal di Amerika. Artikel di atas dikutip dari catatan hariannya.) |
Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.
Kesaksian Hidup: - Billy Graham: Usia Tua Bukan Untuk Para Penakut - Kertas Dinding yang paling Mahal - Jual rumah untuk memberi kepada orang miskin! - "Siapapun yang mengaku dirinya Kristen patut mati!" - Yesus, Tuhan dan Juru Selamat saya - Ada Sayap-Sayap Malaikat yang Tersembunyi di dalam Kotak Itu - Kesempatan Kedua bagi Gadis-Gadis Nakal - Kutuk Berubah Menjadi Berkat - Apakah Anda Mangsa yang Mudah bagi Musuh? - Siapa Bilang Allah itu Tidak Nyata? - Apakah ada Bedanya Jika Kita Berdoa atau Tidak? - Apakah Saya Menjadi Teladan bagi Anak Saya? - Apakah Anda Telah dilahirkan Kembali? - Dua Wanita Membagi Persahabatan dan Ginjal - Campur Tangan Ilahi, Menolong Seorang Ayah Menemukan Anaknya - Apakah Anda Alkitab yang dibaca orang lain? - Aku Tidak Akan Melepaskannya - Diselamatkan Oleh Telpon Selular - Kekuatan di Saat Kita Berserah - Penulis Buku "Basic Instinct" Menulis Tentang Iman - Hapus Air Matamu & Bangkitlah... - "Aku dulunya hilang, tetapi sekarang ditemukan" ... Kasih karunia yang ajaib! - Aku Hanya seorang Manusia yang Lemah - Apa Pilihanmu - Surga atau Neraka? - Arti Penderitaan: Pengalaman Melalui Lembah Bayang-Bayang Kematian Yang Mendatangkan Sukacita - Beritahukan Kepada Dunia untuk Saya - Dapatkah Kita Mengubah Diri Kita Sendiri? - Di Saat Semuanya Menjadi Tidak Berarti - Gadis Korban Bom Napalm Menemukan Pengampunan - Hukum Emas di dalam Dunia Bisnis - Kristen 'Daun' atau Kristen 'Akar' - Matahari dan Pertumbuhan Kita - Menyelesaikan Apa yang Dimulai - Pemberian Spesial dari Tuhan - Pergilah... Aku akan menyertai-mu! - Perjanjian Seorang Anak dengan Tuhan-nya - "Setan Asing" menjadi Wanita Kue - John Paton - Pengabar Injil kepada Suku Kanibal - Sadhu Sundar Singh - The Beginning - Sadhu Sundar Singh - The Journey |
|||||
|
Copyright 2003-2007. Semua materi di situs ini
adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries. |
|||||||