| Saran & Komentar | updated on 12 July 2010

Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan

Halaman Utama

  |  Tentang Kami

  |  Hubungi Kami

  |  Izin Pemakaian Materi 

  |  Dapatkan Buletin Gratis di sini! 

Sumber Damai

Khotbah/PA


Inspirasi

Artikel/Renungan

Kesaksian Hidup


Pelatihan

Discipleship Trainings


Lain-Lain...

Siaran Mandarin Fu Yin Dian Tai

Bible Study (P.A)

Buku-buku Terbitan

Buletin Gratis!

Lagu dan Film

Mangkuk Kayu

oleh Bernard Khoo

Setelah makan siang, seperti biasa saya menyetir untuk pulang ke rumah. Dalam perjalanan saya melihat seorang tua yang berjalan perlahan di tengah-tengah jalan dan kelihatannya ia bingung ia sedang berada di mana. Saya mengikutinya dan saya kira pasti dia akan minggir. Tapi ternyata tidak, ia terus saja menghadang jalan. Menurut perkiraan saya, umur kakek ini sekitar 80an tahun. Saya menghentikan mobil dan bertanya apakah ia sesat? Kakek tua itu berkata bahwa dia tinggal di perumahan itu tapi ia tidak dapat menemukan rumahnya. Saya memintanya masuk ke mobil dan harapan jika saya mengelilingi perumahan itu,  ia akan ingat yang mana satu rumahnya.

Sepanjang perjalanan, ia tidak berkata apa-apa tapi hanya meminta saya mematikan ac karena ia kedinginan. Setelah sekitar 20 menit, kakek tua itu masih belum bisa mengenali rumahnya. Saya sudah memutuskan bahwa saya akan mengetuk pintu dari rumah ke rumah untuk bertanya apakah ada yang tahu di mana rumah kakek tua ini.

Tapi sepertinya tidak perlu karena sebelum saya melakukan itu, saya melihat seorang pembantu bersama dua anak kecil berjalan ke arah saya. Pembantu itu kelihatannya agak cemas dan khawatir. Saat mereka mendekati mobil saya, salah satu anak kecil itu memanggil-manggil kakeknya. Saya menyuruh mereka semua masuk ke dalam mobil dan saya akan menghantar mereka pulang.

Sepanjang perjalanan pembantu itu terus menerus meminta saya untuk tidak memberitahu bosnya bahwa kakek itu ditemukan sesat di jalan. Kedua anak kecil itu, yang berumur delapan dan sepuluh tahun, juga meminta saya untuk tidak memberitahu orang tua mereka. Saya bertanya-tanya di benak saya, mengapa tidak?

Setelah tiba ke rumah, sepanjang hari saya bertanya-tanya, kira-kira apa alasan mereka tidak mau anak kakek itu tahu bahwa ia sesat dan tidak dapat menemukan jalan pulang? Saya diingatkan oleh satu artikel yang dikirm oleh teman saya yang berjudul "Mangkuk Kayu".

Seorang kakek tua pergi tinggal bersama anak, menantu dan cucunya yang berumur empat tahun. Kakek tua ini, tangannya gemetaran, penglihatannya kabur, dan jalannya bertatih-tatih.

Keluarga ini makan bersama di meja. Tapi tangan kakek tua yang gemetaran dan matanya yang kabur membuatnya tidak dapat makan dengan baik. Makanan sering jatuh ke lantai dan saat ia coba minum, airnya tertumpah ke atas meja.

Anak dan menantunya menjadi jengkel karena kakek tua itu sering mengotori meja makan.

"Kita harus berbuat sesuatu tentang ayah," katanya anaknya.

"Aku sudah tidak tahan lagi dengan air yang tumpah ke mana-mana, makanan di lantai dan cara makannya yang membuat orang tidak nyaman."

Lalu, pasangan suami istri ini menyiapkan satu meja kecil di hujung ruangan. Di situ, kakek tua makan sendirian sementara keluarganya menikmati makan bersama di meja makan. Karena kakek tua sering memecahkan piring, makanannya disajikan di atas mangkuk-mangkuk kayu.

Saat keluarganya memandang ke arahnya yang sedang duduk makan sendirian, seringkali mereka melihat air mata di mata kakek. Namun, tetap saja, pasangan suami istri itu dengan keras menegur kakek ketika ia menjatuhkan senduk atau menumpahkan makanan.

Anak kecil berumur empat tahun itu memerhatikan semuanya

Suatu hari sebelum makan malam, sang ayah melihat anaknya bermain dengan serpihan kayu di lantai. Dengan hangat, ayahnya bertanya, "Apa yang sedang kamu lakukan?" Dengan penuh kasih anaknya menjawab, "Oh, saya sedang membuat mangkuk untuk papa dan mama makan setelah saya dewasa." Dengan senyuman di bibir, anak itu melanjutkan apa yang sedang dilakukannya.

Kata-kata anak kecil itu membuat orang tuanya tersentak. Lalu air mata berlinangan di pipi mereka. Sekalipun mereka tidak berkata apa-apa, mereka tahu apa yang harus dilakukan.

Malam itu, sang suami memimpin tangan kakek dengan lembut dan membawanya ke meja makan keluarga. Di sisa hidupnya, kakek itu makan bersama keluarganya. Dan entah mengapa, anak atau menantunya, tidak lagi merasa terganggu saat kakek menjatuhkan senduk, menumpahkan air dan mengotori meja makan.

(Kisah ini pertama kali ditulis oleh Leo Tolstoy The old man and his grandson)

Apakah mungkin, ini merupakan alasan mengapa pembantu dan kedua cucu itu tidak mau keluarga kakek itu tahu tentang apa yang terjadi, untuk melindungi kakek itu?

(Dikutip dan diterjemah dari blog Zorro Unmasked)

-as

[Download]


Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.

Standard
Besar
Terbesar

Kesaksian Hidup:

Nenek Brand: Semangatnya masih hidup

Begitulah Caranya Menjadi Tua

Janganlah Ayah Menjadi Seorang Pengkhianat

Keluarlah dari Zona Nyaman Anda

Rasa Takut Berubah Menjadi Rasa Tenang Ilahi

Tuhan akan Berkerja kalau Kita Setia

Billy Graham: Usia Tua Bukan Untuk Para Penakut

Kertas Dinding yang paling Mahal

Jual rumah untuk memberi kepada orang miskin!

"Siapapun yang mengaku dirinya Kristen patut mati!"

Kesaksian Natal

Yesus, Tuhan dan Juru Selamat saya

Ada Sayap-Sayap Malaikat yang Tersembunyi di dalam Kotak Itu

Kematian yang Memberi Hidup

Kesempatan Kedua bagi Gadis-Gadis Nakal

Kutuk Berubah Menjadi Berkat

Apakah Anda Mangsa yang Mudah bagi Musuh?

Siapa Bilang Allah itu Tidak Nyata?

Mangkuk Kayu

Apakah ada Bedanya Jika Kita Berdoa atau Tidak?

Apakah Saya Menjadi Teladan bagi Anak Saya?

Mimpi Berbicara

Kesaksian Saya - John Sung

Apakah Anda Telah dilahirkan Kembali?

Menjalani Kehidupan Ganda

Dia adalah Pahlawan-ku

Nikolai Khamara dari Rusia

Dua Wanita Membagi Persahabatan dan Ginjal

Missionaris Memaafkan

Doa Abjad

Campur Tangan Ilahi, Menolong Seorang Ayah Menemukan Anaknya

Apakah Anda Alkitab yang dibaca orang lain?

Apa Nilai Firman Bagi Anda?

Ignasius dari Roma

Aku Tidak Akan Melepaskannya

Minumlah Anggur itu

Tidak Ada yang Kebetulan

Diselamatkan Oleh Telpon Selular

Kekuatan dari Doa

Rasa Bersyukur

Kasih Seorang Anak Kecil

Kekuatan di Saat Kita Berserah

Kebangkitan Rohani dan Doa

Hati Seorang Misionaris

Berikan Apa yang Ada

Hidup ini Bukan Milik-ku

Penulis Buku "Basic Instinct" Menulis Tentang Iman

Hapus Air Matamu & Bangkitlah...

Waktu untuk Mendengar

86 Tahun Aku Mengikut-Nya

"Aku dulunya hilang, tetapi sekarang ditemukan" ... Kasih karunia yang ajaib!

Aku Hanya seorang Manusia yang Lemah

Ambil dan Bacalah

Anak Kecil Pemain Drum

Apa Pilihanmu - Surga atau Neraka?

Apakah Allah Nyata?

Arti Penderitaan: Pengalaman Melalui Lembah Bayang-Bayang Kematian Yang Mendatangkan Sukacita

Beritahukan Kepada Dunia untuk Saya

Biarlah Terang itu Datang

Dapatkah Kita Mengubah Diri Kita Sendiri?

Di Saat Semuanya Menjadi Tidak Berarti

Diculik Di Manila!

Ditawan oleh Pengharapan

Doa Menyelamatkan Dua Pilot

Gadis Korban Bom Napalm Menemukan Pengampunan

Hidup Dalam Penyerahan

Hidup yang Bergema

Hukum Emas di dalam Dunia Bisnis

Iman dan Kekhawatiran

Kristen 'Daun' atau Kristen 'Akar'

Kepercayaan-ku pada Yesus

Kuasa Kasih

Matahari dan Pertumbuhan Kita

Menyelesaikan Apa yang Dimulai

Pemberian Spesial dari Tuhan

Pengalaman Misi di Vanuatu

Pengorbanan yang Langka

Pergilah... Aku akan menyertai-mu!

Perjanjian Seorang Anak dengan Tuhan-nya

"Setan Asing" menjadi Wanita Kue

Pengakuan Seorang Ateis

Puasa dari Mengkritik

Jalan Raya Kekudusan

John Paton - Pengabar Injil kepada Suku Kanibal

Sadhu Sundar Singh - The Beginning

Sadhu Sundar Singh - The Journey

Semangat Yang Tak Terkalahkan

Sinar Terang di Afrika

Tidak Akan Saya Lupakan

Yesus atau Mama?

Copyright 2003-2007. Semua materi di situs ini adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries.
E-mail kami untuk mendapatkan izin untuk menggunakan materi di situs ini.
Best viewed with IE6.0 and 1024 by 768 resolution.