|
| Saran & Komentar | updated on 05 March 2010 |
|||||||
|
CahayaPengharapanMinistries Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan |
|||||||
|
|
|||||||
|
Yesus dan Agama Lain Philip Yancey Sesekali saya diundang ke pertemuan-pertemuan yang tidak biasa sebagai hasil dari tulisan-tulisan saya. Salah satu yang paling tak terlupakan mengambil tempat di New Orleans, atas undangan M. Scott Peck, seorang psikiater dan penulis buku-buku seperti The Road Less Traveled dan People of Lie. Peck memiliki teori bahwa proses pembangunan komunitas harus mendahului upaya penyelesaian konflik, dan ia mengumpulkan tiga puluh orang yang sangat bebeda untuk menguji teori tersebut. Peck mempertemukan sepuluh orang Yahudi, sepuluh orang Kristen, dan sepuluh Muslim, sebuah miniatur dunia yang mungkin mewakili konflik yang paling berkepanjangan dalam peradaban Barat. Isu utama yang membayangi kami adalah, "Bisakah orang-orang dengan pernyataan kebenaran yang secara fundamental berbeda hidup bersama tanpa saling membunuh?" Kami berkumpul di pusat retreat Katolik pada akhir pekan menjelang Mardi Gras. Selama tiga hari kami membicarakan, yah, apa saja yang ingin kami bicarakan. Perbedaan-perbedaan kebudayaan tertentu langsung muncul ke permukaan. Scott Peck menjalankan lokakarya pembangunan komunitasnya menurut formula yang menuntut pernyataan introspektif "saya" ("Saya merasa..." atau "Saya pikir...") dan sharing pribadi, dan kaum Yahudi menyambut hangat pendekatan ini. "Jangan lupa, kami yang menemukan psikoterapi," canda seorang rabi. Namum partisipan Muslim hanya menunjukkan sedikit antusiasme. Seorang imam mencoba menjelaskan, "Kami memiliki keengganan kultural terhadap psikoterapi. Anda akan jarang mendengar seorang Muslim mengungkapkan masalah-masalah pribadi. Hal seperti itu memang tidak dilakukan. Kami menyaksikan kelompok Muslim menanggapi perenungan introspeksi kelompok orang Yahudi dengan membuat lebih banyak pernyataan tegas tentang kebenaran absolut. Terus terang lebih enak rasanya menjadi penonton; orang Kristen tidak memiliki sejarah yang terlalu harmonis dengan kedua agama ini, dan saya jauh lebih suka peran baru kami sebagai mediator daripada kelompok pembantai Yahudi atau prajurit Perang Salib di masa lalu. Saya mempelajari kata baru di New Orleans, super-sesionisme, pemikiran bahwa yang baru mengantikan yang lama. Ini membantu saya memahami kepercayaan diri yang kuat pada kaum Muslim yang tampak jelas. Kelompok Yahudi tidak menyukai pemikiran bahwa iman Kristen menyempurnakan Yudaisme. "Saya merasa seperti obyek keingin-tahuan sejarah, seakan agama saya harus dimasukkan ke rumah jompo," kata salah seorang. "Saya merasa terganggu mendengar istilah Tuhan Perjanjian Lama atau bahkan kata Perjanjian Lama itu sendiri." Saya harus mengakui bahwa Kekristenan memang memiliki aspek supersionis yang terang-terangan. Yesus memperkenalkan "perjanjian baru" ketika Ia mengubah Paskah Yahudi Seder menjadi apa yang dikenal orang Kristen sebagai "Perjamuan Kudus". Belakangan, rasul Paulus menyebut Hukum Perjanjian Lama sebagai "pembimbing" atau "guru" yang mengantar kita kepada Kristus. Namun saya tidak menyadari bahwa Muslim memandang kedua agama ini dengan sikap super-sesionis. Dalam pandangan mereka, seperti Kekristenan tumbuh dari Yudaisme dan mencakup bagian-bagiannya, Islam tumbuh setelah kedua agama itu dan mencakup bagian-bagiannya. Abraham adalah nabi, Yesus adalah nabi, tetapi Muhammad adalah Nabi Besar. Perjanjian Lama memiliki tempatnya, begitu juga Perjanjian Baru, tetapi Al Qu'ran adalah "wahyu terakhir." Mendengar kepercayaan saya dibicarakan dengan pemikiran demikian memberi saya bayangan seperti apa mungkin perasaan orang Yahudi selama dua ribu tahun. Ironisnya, kesamaan bahasa kepedihanlah yang kelihatannya bisa menyatakan ketiga kelompok ini. Banyak partisipan Yahudi kehilangan anggota keluarganya dalam Holocaust, dan beberapa juga pernah menjadi sukarelawan dalam perang Israel melawan tetangga-tetangga Arabnya. Di sisi Muslim, seorang wanita menceritakan kengerian yang melanda lingkungannya yang tadinya indah di Beirut, Lebanon. Seorang Muslim yang lainnya menceritakan penuturan yang membuat bergidik tentang pembantaian Deir Yassin tahun 1948, ketika anggota geng Israeli Stern membunuh 250 penduduk desanya dan melemparkan jenazah mereka ke dalam sumur. Ia, yang waktu itu berumur sepuluh tahun, cukup gesit untuk meloloskan diri. Penderitaan kadang-kadang menjadi jurang pemisah dan kadang-kadang menjadi jembatan. Bertahun-tahun kemudian, rekan Muslim yang berhasil lolos dari prajurit di Deir Yassin itu mengalami kecelakaan mobil di Amerika Serikat. Yang berhenti untuk menolongnya adalah seorang perawat Yahudi. Wanita ini memasang torniket dengan saputangannya yang wangi, dan dengan teliti mencabuti pecahan kaca dari wajahnya. Pria Muslim ini percaya perawat itu telah menyelamatnya hidupnya. Istri pria Muslim ini, yang adalah seorang dokter, menyambung dengan berkata ia pernah merawat seorang pasien dengan tato aneh di pergelangan tangannya. Ketika ia bertanya tentang itu, pasiennya bercerita tentang Holocaust, kejadian sejarah yang tidak pernah ia dengar di sekolahnya di negara Arab. Untuk pertama kalinya ia mengerti kepedihan orang Yahudi. Mengapa manusia terus saling melakukan hal itu? Yugoslavia, Irlandia, Sudan, Tepi Barat - apakah tidak ada akhir dalam lingkaran kepedihan atas nama agama? Menurut pengamatan Gandhi, logika "mata bayar mata, gigi bayar gigi" tidak bisa bertahan selamanya; akhirnya kedua pihak akan menjadi buta dan ompong semuanya. Kemungkinan besar, pertemuan kami di New Orleans tidak akan mengubah keadaan di Timur Tengah, atau membuat kemungkinan perdamaian antara tiga agama utama ini menjadi lebih besar. Tetapi itu mengubah kami. Sekali ini kami memusatkan pada titik-titik temu dan hubungan, bukan pada batas-batas pemisah. Kami menjadi mengneal, Hillel, Daud dan Bob, wajah-wajah manusia di balik label Yahudi, Muslim dan Kristen. Selama akhir pekan itu, setiap agama melakukan ibadahnya - Muslim pada hari Jum'at, Yahudi pada hari Sabtu, dan Kristen pada hari Minggu - kelompok-kelompok yang lain diundang sebagai pengamat. Ibadah Yahudi terdiri dari pembacaan Mazmur dan Taurat dan beberapa nyanyian yang menghangatkan hati. Ibadah Muslim terutama terdiri dari doa sembahyang kepada yang Mahakuasa. Kami yang Kristen merayakan Perjamuan Kudus, dan memberitahu bagaimana hal itu membantu kami mengenang kembali kematian Kristus, menanti kedatangan-Nya, dan hidup saat ini di bawah kasih karunia yang dimungkinkan oleh tubuh-Nya, yang dipecah-pecahkan untuk kita. Ketiga ibadah itu memiliki kesamaan yang mengejutkan, dan mengingatkan kami betapa banyak persamaan antara ketiga agama ini. Mungkin intensitas perasaan antara ketiga tradisi ini disebabkan oleh akar warisan yang sama: pertengkaran keluarga selalu paling keras kepala dan perang saudara biasanya paling berdarah. Seorang rabi memberikan respons berikut tentang akhir pekan ini: "Tadinya saya tidak ingin datang ke sini. Saya hampir membatalkannya. Sepuluh hari yang lalu saya mengunjungi Auschwitz. Saya berdiri di tempat ribuan orang mati - dan kejahatan mereka hanyalah karena mereka berkebangsaan Yahudi. Di Auschwitz, beberapa orang Katolik meminta saya berdoa bersama mereka. Bagaimana saya bisa? Saya tahu bahwa gereja Katolik tetap diam ketika anggota-anggota keluarga saya dipaksa untuk menggali kubur mereka sendiri. "Saya tidak siap untuk bertemu orang-orang Kristen dan Muslim secepat ini. Saya tidak bisa melewati kepedihan saya sendiri. Akhir pekan ini berat bagi saya, namun sekarang saya bisa berkata saya senang bahwa saya datang. Yang saya rasakan adalah kepedihan penyembuhan, bukan kepedihan luka baru. "Beberapa dari kita sekarang telah saling mendengar kisah masing-masing. Itu memberi pengaruh bagi kita. Namun lembaga-lembaga yang kita wakili tetap saling membenci, tetap saling membunuh. Bisakah apa yang terjadi akhir pekan ini menghasilkan sesuatu yang lebih daripada sekadar pengalaman indah bagi kita yang telah berkumpul? Apakah ada cara bagi sistem itu sendiri untuk berubah, untuk memutuskan siklus kebencian itu?" Rabi itu telah membawa kami kembali pada pertanyaan awal dalam pertemuan akhir pekan ini: "Bisakah orang-orang dengan pernyataan kebenaran yang secara fundamental berbeda hidup bersama tanpa saling membunuh?" Menyedihkannya, pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan satu akhir pekan di New Orleans. |
Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.
Artikel: - Mengapa Kita Berdoa Sebelum Makan? - Apakah Hari Sabat Diciptakan untuk Manusia? - Bagaimana Mengendalikan Amarah Kita - Tujuh Cara untuk Melindungi Pernikahan Anda dari Kejatuhan Moral - Lima Resolusi Tahun Baru untuk Pemimpin Kristen - Mengapa Allah mengizinkan rasa sakit? - Pertobatan yang Sejati dan yang Palsu - 2 - Pertobatan yang Sejati dan yang Palsu - 1 - Bagaimana Menghindari Daya Tarik yang Fatal? - Apakah Anda Masih Tidur dan Beristirahat? - Bagaimana Memaafkan Orang yang telah Menyakiti Kita - Apakah Anda masih dikagumkan dengan Alkitab? - Kemunduran Agama, Salah Siapa? - Bagaimana Meminta Pemulihanan dari Allah? - Yesus Tidak Takut disalah-pahami - Bagaimana Menangani Keraguan? - Apakah Kita Terlalu Banyak Bicara? - Kita Perlu Memperlambat Pekerjaan Kita - Maut Harus Dialami Setiap Hari - Penderitaan itu Milik Siapa? - Melayani Orang yang Mengalami Krisis Pribadi - Mengapa orang-orang berteriak? - Ahhhh... akhirnya engkau mengerti - Kehidupan Lebih dari Apa yang Tampak - Suatu Kelahiran yang Tidak Diperhatikan - Mentalitas Seorang yang Besar - Pendidikan Tanpa Hikmat Tidak Ada Artinya - Anda Ada Bukan Karena Kebetulan - Perlakukan Orang Lain dengan Baik - Mengapa Orang Kristen Tidak Bertumbuh? - Mengasihi Teman Sekamar Saya, mungkinkah? - Kehidupan Rohani ibarat Maraton - 5 Alat Untuk Pertumbuhan Rohani - Apakah Anda Luput dari Kesalahan? - Apakah Semua yang Meminta akan Mendapatkan? - Apa Resolusi Tahun Baru Anda? - Apa yang Akan Kau Minta dari Tuhan? - "Ayo, kita gereja di Starbuck aje deh!" - Bagaimana Mengetahui Kehendak Tuhan? - Berdiam diri di dalam Tuhan - Sumber Kekuatan Sejati - Cara untuk Mengembangkan Sukacita - Calon Pendeta yang Pasti ditolak Gereja - Dengarkan Tuhan Bukan Diri Kita Sendiri - Dunia Kita yang Penuh Kata-kata - Hanya Ketidak-Sempurnaan yang Tidak Dapat Menolerir Ketidak-Sempurnaan - Hari Ini - Jangan Lupa Paspor dan Tiket Pesawat Anda - Jangan Menilai Buku dari Sampulnya - Kejujuran Tidak Pernah Merugikan - Kekurangan Orang Lain Harus Ditanggung Dalam Kasih - Kerendahan Hati, Benar dan Palsu - Kunci menaati Perintah Tuan Empunya Tuaian - Mukjizat Natal - Kisah-kisah Nyata - Menara Api di tengah Kegelapan Dunia - Mengalahkan Kejahatan dengan Kebaikan, Mungkinkah? - Mengasihi Seperti Diri Sendiri - Menggerakkan Orang Lewat Doa - Natal, Musim untuk Berbuat Baik? - Orang yang Melukai kita Harus Dikasihi dan Disambut sebagai Tangan Tuhan - Pendeta diabaikan di Gerejanya Sendiri - Peraturan Umum Dalam Penggunaan Waktu dan Hidup Kudus - Percakapan antara Orang Kudus dan Filsuf - Peringatan tentang Mendambakan Keberhasilan Spiritual - Salib, Sumber Kegembiraan Kita - Sejauh Manakah Anda Rela Melangkah untuk Tuhan? - Sekilas Hikmat dari Billy Graham - Sensitivitas kepada Teguran adalah Tanda Pasti bahwa kita Membutuhkannya - Setinggi-tingginya Tupai Melompat - Siapa Bilang Tidak Ada Sinterklas? |
|||||
|
Copyright 2003-2007. Semua materi di situs ini
adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries. |
|||||||