| Saran & Komentar | updated on 24 December 2008

Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan

Halaman Utama

| Tempat Pertemuan

 | Tentang Kami

 | Hubungi Kami

 | Dapatkan Buletin Gratis di sini! 

Sumber Damai

Khotbah/PA


Inspirasi

Artikel/Renungan

Kesaksian Hidup


Pelatihan

Discipleship Trainings


Lain-Lain...

Siaran Mandarin Fu Yin Dian Tai

Bible Study (P.A)

Buku-buku Terbitan

Buletin Gratis!

Lagu dan Film

Siapa Bilang Tidak Ada Sinterklas?

anonim

Saya masih ingat petualangan Natal pertama saya dengan nenek. Saya masih seorang anak kecil pada waktu itu. Kakak saya menyampaikan suatu hal yang begitu mengejutkan saya, "Tidak ada Sinterklas," katanya mengejek, "Bahkan orang bodoh tahu itu!" Saya langsung keluar rumah dan bersepeda ke rumah nenek. Nenek seorang yang sangat jujur, saya tahu ia akan memberitahu saya apa adanya.

Setiba di rumah nenek, saya menceritakan semuanya kepadanya. Nenek kaget, "Tidak ada Sinterklas?" Ia bergumam... "Tidak masuk di akal! Jangan percaya ngomong kosong seperti itu. Sudah bertahun-tahun kabar angin itu tersebar dan hal ini membuat saya sangat marah!! Nah, sekarang kenakan mantelmu." "Pergi ke mana?" tanya saya.

Ternyata nenek membawa saya ke satu-satunya toko di kota yang menjual beraneka macam barang. Ketika kami masuk ke dalam toko, nenek memberi saya 10 dolar. Suatu jumlah uang yang besar pada waktu itu. "Ambil uang ini", katanya, "dan belilah sesuatu untuk orang yang membutuhkannya. Aku akan tunggu di dalam mobil." Lalu nenek meninggalkan saya sendirian di dalam toko.

Usia saya hanya delapan tahun dan saya selalu berbelanja bersama ibu, saya tidak pernah berbelanja sendirian. Toko itu kelihatannya besar dan penuh dengan orang yang sedang berlomba-lomba untuk menyelesaikan belanjaan buat persediaan Natal. Untuk beberapa saat, saya hanya berdiri di situ, bingung sambil memegang erat uang 10 dolar itu.

Saya berpikir keras tentang apa yang harus saya beli dan saya memikirkan semua orang yang saya kenal: keluarga saya, teman-teman, tetangga dan anak-anak di sekolah dan teman-teman gereja. Tiba-tiba saya teringat Bobby Decker. Seorang anak yang mulutnya berbau dan rambutnya selalu berantakan. Ia duduk di bangku belakang saya di dalam kelas. Bobby Decker tidak memiliki mantel. Saya tahu itu karena saat jam istirahat di musim dingin, ia tidak pernah mau keluar bermain. Ibunya selalu menulis sebuah catatan bahwa ia pilek dan batuk, tetapi semua anak-anak tahu bahwa Bobby Decker tidak sakit tetapi ia tidak dapat keluar bermain karena tidak memiliki mantel yang bagus.

Dengan gairah saya mendekati tempat menjual mantel. Saya akan membelikan Bobby Decker mantel yang bagus. Saya memilih yang berwarna merah. Mantel itu kelihatan hangat dan saya yakin Bobby akan menyukainya.

"Apakah ini kado Natal untuk seseorang?" tanya wanita yang melayani saya ketika saya memberinya uang 10 dolar.

"Ya, nyonya," saya menjawab dengan agak malu-malu. "Itu untuk Bobby."

Wanita yang baik hati itu tersenyum saat saya menceritakan tentang Bobby yang benar-benar membutuhkan sebuah mantel yang bagus untuk musim dingin.  Tidak ada uang kembalian dan ia memasukkan mantel itu ke dalam tas dan menyerahkan ke saya.

Sore itu nenek membantu saya membungkus mantel itu dalam kertas kado. (Kartu harga terjatuh dari mantel itu dan nenek menyimpannya di dalam Alkitabnya.) Nenek menulis di atas kado itu, "Kepada Bobby, Dari Sinterklas".

Nenek lalu memberitahu saya bahwa Sinterklas menuntut kita untuk menjaga rahasia. Setelah itu nenek menyetir mobil dan membawa saya ke rumah Bobby. Dalam perjalanan itu nenek menjelaskan bahwa sejak dari hari itu saya secara resmi dan buat selamanya telah menjadi salah satu dari pembantu rahasia Sinterklas. Nenek memarkir mobil agak jauh dari rumah Bobby, lalu kami dengan perlahan-lahan berjalan ke arah rumah Bobby. Kami mencari tempat di antara pepohonan dan bersembunyi di baliknya. Nenek berbisik, "Baiklah, Sinterklas, sekarang pergi."

Saya menarik napas dalam-dalam dan berlari ke arah pintu, melemparkan kado di depan pintu dan menekan bel rumah lalu dengan cepat saya berlari kembali ke tempat nenek sedang bersembunyi. Kami bersama-sama mengintai dari balik pohon. Akhirnya, Bobby keluar dan berdiri di depan pintunya.

Lima puluh tahun sudah berlalu dan saya masih dapat merasakan sensasi pada malam dingin itu saat saya berdiri kedinginan di balik pepohonan di depan rumah Bobby bersama nenek. Malam itu menyakinkan saya bahwa kabar angin tentang tidak adanya Sinterklas adalah suatu hal yang tidak masuk di akal. Sinterklas masih hidup dan baik-baik saja dan kita semua berada di dalam timnya.

Saya masih memiliki Alkitab dengan kartu harga mantel itu, $19.95.

SELESAI

[Download]


Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.

Standard
Besar
Terbesar

Artikel:

- Suatu Kelahiran yang Tidak Diperhatikan

- Mentalitas Seorang yang Besar

- Pendidikan Tanpa Hikmat Tidak Ada Artinya

- Menanti Hari Itu

- Yesus dan Agama Lain

- Anda Ada Bukan Karena Kebetulan

- Takut akan Tuhan

- Celana Basah

- Perlakukan Orang Lain dengan Baik

- Kualitas Seorang Pemimpin

- Mengapa Orang Kristen Tidak Bertumbuh?

- Mengasihi Teman Sekamar Saya, mungkinkah?

- Hikmat Secangkir Kopi Panas

- Kehidupan Rohani ibarat Maraton

- Push-Up dan Donut

- 5 Alat Untuk Pertumbuhan Rohani

- 5 Roti dan 2 Ikan

- Adakah Hari Esok Bagimu?

- Apa artinya Natal?

- Apakah Anda Luput dari Kesalahan?

- Apakah Semua yang Meminta akan Mendapatkan?

- Apa Resolusi Tahun Baru Anda?

- Apa yang Akan Kau Minta dari Tuhan?

- "Ayo, kita gereja di Starbuck aje deh!"

- Bagaimana Mengetahui Kehendak Tuhan?

- Berdiam diri di dalam Tuhan - Sumber Kekuatan Sejati

- Cara untuk Mengembangkan Sukacita

- Calon Pendeta yang Pasti ditolak Gereja

- Dampak Pengampunan

- Dengarkan Tuhan Bukan Diri Kita Sendiri

- Di Manakah Tuhan?

- Doa Seorang Nabi Kecil

- Dunia Kita yang Penuh Kata-kata

- Empat Istri

- Hanya Ketidak-Sempurnaan yang Tidak Dapat Menolerir Ketidak-Sempurnaan

- Hari Ini

- Jangan Lupa Paspor dan Tiket Pesawat Anda

- Jangan Menilai Buku dari Sampulnya

- Janganlah Kamu Menghakimi

- Kebaikan dan Kebesaran

- Keheningan

- Ketidak-percayaan Kita

- Kita Tidak Cukup Rendah

- Lepaskan Dulu

- Takut akan Maut

- Kapan Malam Berakhir?

- Kejujuran Tidak Pernah Merugikan

- Kekurangan Orang Lain Harus Ditanggung Dalam Kasih

- Kerendahan Hati, Benar dan Palsu

- Kunci menaati Perintah Tuan Empunya Tuaian

- Mukjizat Natal - Kisah-kisah Nyata

- Menara Api di tengah Kegelapan Dunia

- Mengalahkan Kejahatan dengan Kebaikan, Mungkinkah?

- Mengasihi Seperti Diri Sendiri

- Menggerakkan Orang Lewat Doa

- Natal, Musim untuk Berbuat Baik?

- Nilai sebuah Kehidupan

- Orang yang Melukai kita Harus Dikasihi dan Disambut sebagai Tangan Tuhan

- Pendeta diabaikan di Gerejanya Sendiri

- Pengaruh Kristus

- Pengkhotbah yang Populer

- Pentingnya Pergumulan

- Pentingnya Sikap

- Peraturan Umum Dalam Penggunaan Waktu dan Hidup Kudus

- Percakapan antara Orang Kudus dan Filsuf

- Peringatan tentang Mendambakan Keberhasilan Spiritual

- Persahabatan dengan 'Musuh'

- Praktik lawan Ucapan

- Rangkulan Seorang Bayi

- Resiko seorang Hamba Tuhan

- Salib dan Si Aku

- Salib, Sumber Kegembiraan Kita

- Satu Kisah Cinta

- Sejauh Manakah Anda Rela Melangkah untuk Tuhan?

- Sekilas Hikmat dari Billy Graham

- Sensitivitas kepada Teguran adalah Tanda Pasti bahwa kita Membutuhkannya

- Sesungguhnya Buta

- Setinggi-tingginya Tupai Melompat

- Siapa Bilang Tidak Ada Sinterklas?

- Tidak semua hal dapat dilihat dengan mata

- Tujuan Ciptaan Baru

- Warisan Pengampunan

- Yang Paling Diberkati

- Yang Sudah Berlalu

Copyright 2003-2007. Semua materi di situs ini adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries.
E-mail kami untuk mendapatkan izin untuk menggunakan materi di situs ini.
Best viewed with IE6.0 and 1024 by 768 resolution.