|
| Saran & Komentar | updated on 24 December 2008 |
|||||||
|
CahayaPengharapanMinistries Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan |
|||||||
|
|
|||||||
|
Pelukan Seorang Bayi Tetapi jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa - Yakobus 2.9 Kami merupakan satu-satunya keluarga dengan bayi di restoran itu. Saya menempatkan Erik di kursi anak-anak. Suasana rumah makan itu tenang dan nyaman. Tiba-tiba Erik ketawa dengan suara yang keras dan berkata, "Hi" sambil memukul-mukul tangan mungilnya di nampan tempat makan bayi. Matanya penuh dengan keceriaan dan mulutnya tertawa terkikih-kikih penuh sukacita. Saya memandang ke belakang dan melihat apa yang membuat Erik begitu senang. Saya melihat seorang pria yang bercelana longgar, dengan ritsleting yang tidak dikancing dengan baik dan mengenakan sepatu yang sudah berlobang-lobang sedang melambai-lambai ke arahnya. Bajunya kotor dan rambutnya berminyak dan tidak tersisir. Wajahnya sudah lama tidak dicukur. Kami terlalu jauh untuk menciumnya tetapi saya yakin, baunya pasti tidak menyenangkan juga. Pria itu terus mengelepakkan tangannya dan melambai ke arah Eric seolah-olah berkata, "Hi yang di sana, bayi; hi anak kecil. Aku melihat-mu." Saya dan suami saling berpandangan, "Apa yang harus kita lakukan?" Erik terus saja ketawa dan berinteraksi dengan pria itu. Setiap orang di restoran itu memandang ke arah kami dan ke arah pria itu. Pria tua gelandangan itu dan bayi lucu kami sedang menganggu suasana nyaman tempat makan itu. Kami selesai makan dan pria tua itu terus saja bercakap-cakap dengan keras ke arah Erik. Tidak ada yang menganggap hal itu lucu. Yang jelas pria tua itu sedang mabuk. Saya dan suami merasa malu. Kami makan tanpa banyak
berbicara, kecuali Erik yang terus saja dengan gembira menanggapi pria
tua itu. Saya tertegun. Saya melihat seorang pria tua yang kotor dan berbau busuk menjalin suatu pertalian kasih dengan seorang bayi kecil yang manis dan polos. Kepala mungil bayi bersandar gembira di bahu pria tua yang kasar itu. Pria itu memejam matanya dan saya melihat beberapa tetes air mata terbentuk di bulu matanya. Tangannya mengelus-elus punggung Erik. Tidak ada dua insan yang begitu saling mencintai di dalam waktu yang begitu singkat. Pria tua itu mengayun-ayun dan membuai-buai Erik di dalam pelukannya dan setelah ia membuka matanya, ia memandang ke saya dan berkata dengan suara yang tegas, "Engkau jaga bayi ini dengan baik." Entah bagaimana saya mampu bersuara, "Ya, ya, pasti
akan aku lakukan." Saya hanya dapat berbisik, "Terima kasih." Dengan Erik di dalam gendongan saya, saya lari ke mobil sambil menangis. "Ya Tuhan, ampunilah aku." Aku baru saja menyaksikan kasih Kristus lewat kepolosan seorang anak kecil yang tidak melihat dosa, yang tidak menghakimi; seorang bayi yang melihat pada jiwa seseorang dan seorang ibu yang memandang pada pakaian dan tampilan luar. Aku seorang Kristen yang buta yang sedang menggendong seorang anak yang tidak buta. Saya merasakan seolah-olah Tuhan sedang bertanya, "Apakah engkau rela membagikan anak engkau buat sesaat?" Padahal Ia telah membagikan Anak-Nya dengan kita buat kekekalan! (Dirangkum dan diterjemahkan dari www.christianblessings.com, A baby's hug) |
Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.
Artikel: - Suatu Kelahiran yang Tidak Diperhatikan - Mentalitas Seorang yang Besar - Pendidikan Tanpa Hikmat Tidak Ada Artinya - Anda Ada Bukan Karena Kebetulan - Perlakukan Orang Lain dengan Baik - Mengapa Orang Kristen Tidak Bertumbuh? - Mengasihi Teman Sekamar Saya, mungkinkah? - Kehidupan Rohani ibarat Maraton - 5 Alat Untuk Pertumbuhan Rohani - Apakah Anda Luput dari Kesalahan? - Apakah Semua yang Meminta akan Mendapatkan? - Apa Resolusi Tahun Baru Anda? - Apa yang Akan Kau Minta dari Tuhan? - "Ayo, kita gereja di Starbuck aje deh!" - Bagaimana Mengetahui Kehendak Tuhan? - Berdiam diri di dalam Tuhan - Sumber Kekuatan Sejati - Cara untuk Mengembangkan Sukacita - Calon Pendeta yang Pasti ditolak Gereja - Dengarkan Tuhan Bukan Diri Kita Sendiri - Dunia Kita yang Penuh Kata-kata - Hanya Ketidak-Sempurnaan yang Tidak Dapat Menolerir Ketidak-Sempurnaan - Hari Ini - Jangan Lupa Paspor dan Tiket Pesawat Anda - Jangan Menilai Buku dari Sampulnya - Kejujuran Tidak Pernah Merugikan - Kekurangan Orang Lain Harus Ditanggung Dalam Kasih - Kerendahan Hati, Benar dan Palsu - Kunci menaati Perintah Tuan Empunya Tuaian - Mukjizat Natal - Kisah-kisah Nyata - Menara Api di tengah Kegelapan Dunia - Mengalahkan Kejahatan dengan Kebaikan, Mungkinkah? - Mengasihi Seperti Diri Sendiri - Menggerakkan Orang Lewat Doa - Natal, Musim untuk Berbuat Baik? - Orang yang Melukai kita Harus Dikasihi dan Disambut sebagai Tangan Tuhan - Pendeta diabaikan di Gerejanya Sendiri - Peraturan Umum Dalam Penggunaan Waktu dan Hidup Kudus - Percakapan antara Orang Kudus dan Filsuf - Peringatan tentang Mendambakan Keberhasilan Spiritual - Salib, Sumber Kegembiraan Kita - Sejauh Manakah Anda Rela Melangkah untuk Tuhan? - Sekilas Hikmat dari Billy Graham - Sensitivitas kepada Teguran adalah Tanda Pasti bahwa kita Membutuhkannya - Setinggi-tingginya Tupai Melompat - Siapa Bilang Tidak Ada Sinterklas? |
|||||
|
Copyright 2003-2007. Semua materi di situs ini
adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries. |
|||||||