| Saran & Komentar | updated on 24 December 2008

Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan

Halaman Utama

| Tempat Pertemuan

 | Tentang Kami

 | Hubungi Kami

 | Dapatkan Buletin Gratis di sini! 

Sumber Damai

Khotbah/PA


Inspirasi

Artikel/Renungan

Kesaksian Hidup


Pelatihan

Discipleship Trainings


Lain-Lain...

Siaran Mandarin Fu Yin Dian Tai

Bible Study (P.A)

Buku-buku Terbitan

Buletin Gratis!

Lagu dan Film

Praktik lawan Ucapan

oleh Redaksi

Baru-baru ini di Amerika, seorang bapa yang merampok bank dilaporkan ke polisi oleh anaknya sendiri. Saat anaknya iseng-iseng mengakses arsip polisi di internet ia terlihat rekaman video satu perampokan yang sedang berlangsung di dalam bank. Walaupun perampok yang sedang beraksi itu memakai topeng tetapi sang anak dapat mengenal bahwa yang sedang merampok bank itu ayahnya. Kecurigaannya terbukti saat ia melihat mobil yang dipakai perampok untuk melarikan diri, model mobil itu sama persis dengan mobil milik ayahnya. Sang anak berada dalam keadaan dilematis dan ia langsung meminta semua saudaranya untuk berkumpul. Setelah mereka mendiskusikan hal itu dengan saksama, mereka dengan hati yang berat dan sedih memutuskan untuk melaporkan sang ayah yang sudah berusia 60-an tahun itu ke pihak kepolisian. Akhirnya terbongkar bahwa ayahnya sudah beberapa kali melakukan perampokan di kota yang jauh dari tempat tinggalnya. Ternyata ia membutuhkan uang untuk berjudi di kasino dan berfoya-foya dengan teman wanitanya. Saat anaknya ditanya apa yang memotivasinya untuk melaporkan ayahnya, ia berkata bahwa ia melakukan hal itu justru karena ayahnya sejak kecil telah menanamkan nilai-nilai yang baik ke dalam dirinya, termasuk menjadi warga yang baik dan taat hukum. Adalah sangat sulit baginya untuk tidak melakukan hal yang benar.

Kisah nyata ini dengan baik menggambarkan kepada kita satu hal yang lazim terjadi dalam kehidupan kita, yakni apa yang kita katakan atau ajarkan seringkali tidak sesuai dengan apa yang kita lakukan! Bukankah begitu? Sang ayah sejak kecil sudah mendidik anak-anaknya dengan baik dan ia berhasil menanamkan nilai-nilai yang positif ke dalam diri anak-anaknya, namun dirinya sendiri gagal menerapkan ajarannya sendiri.

Hal ini membuat saya mengintrospeksi diri. Sebagai seorang pengikut Kristus kita sudah menerima begitu banyak ajaran tentang apa yang baik. Sejak kecil mengikuti kelas minggu dan saban minggu mendengar khotbah. Kita tahu apa yang baik dan kita bahkan akan dengan bersungguh-sungguh dan penuh kegairahan mengatakan apa yang baik saat kita diminta untuk memberikan nasihat. Saat teman kita merasa diperlakukan tidak adil, kita akan menasihatinya untuk bersabar dan mengampuni orang yang telah menyakitinya. Namun saat kita sendiri menjadi korban ketidak-adilan, belum tentu kita dapat mengampuni. Terjadi kesenjangan di antara apa yang kita katakan dengan apa yang kita lakukan.

Orang Kristen seringkali tidak mempunyai kekuatan moral untuk memberi nasihat kepada orang lain justru karena kita hanya seperti gong yang berkumandang tetapi tidak ada isinya. Saya sendiri seringkali merasa sangat malu saat merenungkan kegagalan kita untuk hidup sesuai dengan ajaran Kristus. Tidaklah heran mengapa walaupun banyak orang yang kagum dengan Yesus dan ajaran-Nya tetapi mereka tetap tidak mau memberikan diri menjadi pengikut-Nya. Salah satu tokoh yang berkata demikian adalah Mahatma Gandhi. Dalam hidupnya ia mempunyai banyak kesempatan untuk bergaul dengan orang Kristen, walaupun ada yang memberikan dampak yang baik kepadanya, namun sayangnya banyak juga yang menjadi batu sandungan baginya.

Gandhi terkenal sebagai sosok yang tidak akan mengatakan apa yang ia sendiri tidak lakukan. Sekali peristiwa, seorang wanita di kampungnya meminta Gandhi untuk menyuruh putranya untuk berhenti mengudap gula karena kebiasaan itu tidak baik bagi kesehatannya. Anaknya tidak mau mendengar larangannya, namun wanita itu tahu ia akan mendengarkan perintah Gandhi. Jadi suatu hari ia membawa anaknya untuk bertemu Gandhi. Dalam pertemuan pertama itu,Gandhi mengatakan, "Bawa kembali anakmu ke sini dalam waktu satu minggu, dan aku akan menyuruhnya untuk tidak makan gula lagi." Sesuai janji, seminggu kemudian wanita itu kembali dengan putranya. Gandhi menatap mata anak tersebut dan berkata kepadanya untuk tidak lagi memakan gula. Setelah anaknya meninggalkan ruangan, sang ibu bertanya ke Gandhi, "Bapu, mengapa Bapu harus menunggu sampai seminggu? Bukankah Bapu bisa mengatakannya minggu lalu? "Tidak bisa", jawab Gandhi. "Minggu lalu aku sendiri makan gula." Itulah kekuatan moral dari seorang Gandhi.

Jika setiap dari kita, pengikut Yesus, menerapkan apa yang kita ucapkan, niscaya kata-kata kita juga akan berdampak ke atas orang yang mendengarkan kita. Janganlah kita menjadi seperti orang Farisi yang tidak menjalankan apa yang mereka ajarkan (Matius 23:3).

[Download]


Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.

Standard
Besar
Terbesar

Artikel:

- Suatu Kelahiran yang Tidak Diperhatikan

- Mentalitas Seorang yang Besar

- Pendidikan Tanpa Hikmat Tidak Ada Artinya

- Menanti Hari Itu

- Yesus dan Agama Lain

- Anda Ada Bukan Karena Kebetulan

- Takut akan Tuhan

- Celana Basah

- Perlakukan Orang Lain dengan Baik

- Kualitas Seorang Pemimpin

- Mengapa Orang Kristen Tidak Bertumbuh?

- Mengasihi Teman Sekamar Saya, mungkinkah?

- Hikmat Secangkir Kopi Panas

- Kehidupan Rohani ibarat Maraton

- Push-Up dan Donut

- 5 Alat Untuk Pertumbuhan Rohani

- 5 Roti dan 2 Ikan

- Adakah Hari Esok Bagimu?

- Apa artinya Natal?

- Apakah Anda Luput dari Kesalahan?

- Apakah Semua yang Meminta akan Mendapatkan?

- Apa Resolusi Tahun Baru Anda?

- Apa yang Akan Kau Minta dari Tuhan?

- "Ayo, kita gereja di Starbuck aje deh!"

- Bagaimana Mengetahui Kehendak Tuhan?

- Berdiam diri di dalam Tuhan - Sumber Kekuatan Sejati

- Cara untuk Mengembangkan Sukacita

- Calon Pendeta yang Pasti ditolak Gereja

- Dampak Pengampunan

- Dengarkan Tuhan Bukan Diri Kita Sendiri

- Di Manakah Tuhan?

- Doa Seorang Nabi Kecil

- Dunia Kita yang Penuh Kata-kata

- Empat Istri

- Hanya Ketidak-Sempurnaan yang Tidak Dapat Menolerir Ketidak-Sempurnaan

- Hari Ini

- Jangan Lupa Paspor dan Tiket Pesawat Anda

- Jangan Menilai Buku dari Sampulnya

- Janganlah Kamu Menghakimi

- Kebaikan dan Kebesaran

- Keheningan

- Ketidak-percayaan Kita

- Kita Tidak Cukup Rendah

- Lepaskan Dulu

- Takut akan Maut

- Kapan Malam Berakhir?

- Kejujuran Tidak Pernah Merugikan

- Kekurangan Orang Lain Harus Ditanggung Dalam Kasih

- Kerendahan Hati, Benar dan Palsu

- Kunci menaati Perintah Tuan Empunya Tuaian

- Mukjizat Natal - Kisah-kisah Nyata

- Menara Api di tengah Kegelapan Dunia

- Mengalahkan Kejahatan dengan Kebaikan, Mungkinkah?

- Mengasihi Seperti Diri Sendiri

- Menggerakkan Orang Lewat Doa

- Natal, Musim untuk Berbuat Baik?

- Nilai sebuah Kehidupan

- Orang yang Melukai kita Harus Dikasihi dan Disambut sebagai Tangan Tuhan

- Pendeta diabaikan di Gerejanya Sendiri

- Pengaruh Kristus

- Pengkhotbah yang Populer

- Pentingnya Pergumulan

- Pentingnya Sikap

- Peraturan Umum Dalam Penggunaan Waktu dan Hidup Kudus

- Percakapan antara Orang Kudus dan Filsuf

- Peringatan tentang Mendambakan Keberhasilan Spiritual

- Persahabatan dengan 'Musuh'

- Praktik lawan Ucapan

- Rangkulan Seorang Bayi

- Resiko seorang Hamba Tuhan

- Salib dan Si Aku

- Salib, Sumber Kegembiraan Kita

- Satu Kisah Cinta

- Sejauh Manakah Anda Rela Melangkah untuk Tuhan?

- Sekilas Hikmat dari Billy Graham

- Sensitivitas kepada Teguran adalah Tanda Pasti bahwa kita Membutuhkannya

- Sesungguhnya Buta

- Setinggi-tingginya Tupai Melompat

- Siapa Bilang Tidak Ada Sinterklas?

- Tidak semua hal dapat dilihat dengan mata

- Tujuan Ciptaan Baru

- Warisan Pengampunan

- Yang Paling Diberkati

- Yang Sudah Berlalu

Copyright 2003-2007. Semua materi di situs ini adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries.
E-mail kami untuk mendapatkan izin untuk menggunakan materi di situs ini.
Best viewed with IE6.0 and 1024 by 768 resolution.