| Saran & Komentar | updated on 24 December 2008

Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan

Halaman Utama

| Tempat Pertemuan

 | Tentang Kami

 | Hubungi Kami

 | Dapatkan Buletin Gratis di sini! 

Sumber Damai

Khotbah/PA


Inspirasi

Artikel/Renungan

Kesaksian Hidup


Pelatihan

Discipleship Trainings


Lain-Lain...

Siaran Mandarin Fu Yin Dian Tai

Bible Study (P.A)

Buku-buku Terbitan

Buletin Gratis!

Lagu dan Film

Natal, Musim untuk Berbuat Baik?

Ai Su

Sepanjang tahun kita begitu sibuk dengan kehidupan kita dan tanpa disadari kita sudah tiba di penghujung tahun 2008. Bagi yang religius bulan Desember seringkali membuat kita berhenti sejenak dan memikir kembali tentang persoalan-persoalan yang sesungguhnya penting dalam kehidupan kita. Utamanya, di hari-hari menjelang Natal, di gereja, di website atau kartu-kartu Natal yang kita terima mengingatkan kita untuk mengasihi, memberi dan menjadi saluran berkat kepada sesama.

Mengasihi, memberi dan memberkati sesama manusia memang merupakan hal yang mulia dan terpuji. Yang memberi, merasa puas dan senang karena telah menjadi saluran berkat, apa tah lagi, jika yang menerima menunjukkan rasa terima kasih dan menghargai pemberian kita.

Setiap orang Kristen bahkan anak-anak sekolah Minggu pasti mengetahui kisah orang Samaria yang baik hati. Orang Samaria yang baik hati ini merupakan contoh unggul untuk kita teladani. Membaca perumpamaan itu di dalam Injil membuat kita begitu kagum dengan orang Samaria itu dan menginspirasi kita untuk berbuat hal yang sama. Tetapi sayangnya, tidak diberitahukan kepada kita apakah orang Yahudi yang dibantunya menghargai apa yang dilakukan oleh orang Samaria itu.

Terkadang saya berpikir, apakah mungkin korban kejahatan yang dibantu orang Samaria itu tergolong umat Yahudi fanatik yang sama sekali tidak mau berhubungan dengan orang Samaria. Jika memang ia tergolong orang yang demikian, apakah ia akan berterima kasih atau, malah ia akan merasa marah karena telah "dicemari" oleh orang Samaria itu. Bisa saja ia bereaksi keras dan merasa jengkel dengan orang Samaria itu karena telah membuatnya najis! Nah, jikalau perbuatan baik kita menuai kemarahan orang lain, apakah kita masih akan berbuat baik?

Baru-baru ini di Jakarta saya mendengar cerita tentang Bapak J yang sedang mengendarai mobilnya dan pas di depannya seorang pengendara sepeda mobil jatuh dan terlempar karena motornya disenggol bis yang melaju. Seperti yang sering terjadi, sopir bis kota itu tidak mungkin mau bertanggung jawab dan dengan secepat mungkin ia melarikan bisnya. Bapak J, yang berumur sekitar 60 tahun langsung keluar dari mobilnya untuk membantu korban yang jatuh itu.

Korban kecelakaan itu hanya mengalami luka ringan tetapi sepeda motornya sedikit rusak dan ada bagian yang harus diganti dan diperbaiki. Di bagian motor yang disenggol bis terlihat dengan jelas bekas cat dari bis itu. Hal yang mengagetkan adalah korban itu langsung menuntut pertanggung-jawaban Bapak J - orang yang berbaik hati yang mau membantu, akhirnya dituduh sebagai pengemudi yang menabraknya! Karena ngotot menuntut gantirugi, polisi akhirnya dipanggil dan keduanya harus berurusan di kantor polisi. Sekalipun Bapak J sudah menjelaskan bahwa mobilnya berwarna merah dan dari bekas cat di bagian motor yang tergores itu adalah jelas bahwa kenderaan yang menabraknya bukanlah yang berwarna merah. Tambahan pula di bagian mobil sama sekali tidak ada bekas goresan.  Mungkin karena penampilan Pak J termasuk orang yang berpunya, bahkan polisi berpihak kepada pengendara sepeda motor yang terang-terang sedang berbohong itu. Pak polisi menggertak bahwa jika Pak J tidak mau membayar ganti rugi maka BPKB mobilnya akan disita.

Akhirnya, karena tidak mau urusan berpanjangan, Pak J setuju untuk membayar ganti rugi. Sepeda motor dibawa ke bengkel. Si pengendara sepeda motor meminta bagian-bagian yang rusak diganti dengan yang paling mahal dan meminta perawatan yang terbaik bagi bagian yang rusak itu. Setelah itu diminta lagi biaya perobatan, walaupun lukanya agak ringan. Pak J akhirnya harus mengeluarkan biaya sekitar Rp1.5 juta gara-gara karena ia punya niat baik mau membantu.

Setelah menceritakan kisah ini kepada teman-teman, Pak J ditanya, "Apakah Bapak akan berhenti lagi jika menemukan korban tabrak lari?"

Jawabnya, "Ya pasti."

"What? Mengapa?"

"Karena itu merupakan hal yang benar untuk dilakukan."

Saya kira Bapak J merupakan jenis manusia langka di planet Bumi ini!

Begitu juga dengan orang baik Samaria di dalam perumpamaan yang diberikan Yesus itu. Tidak lazim menemukan orang yang mau membantu jikalau dalam memberi bantuan kita harus menanggung kerugian, belum lagi harus mempertaruhkan nyawa kita.

Orang Levi dan ahli Taurat, yang dapat disejajarkan di masa kini, bukan saja sebagai orang percaya tetapi pekerja full time di gereja, pada akhirnya memutuskan untuk tidak membantu, bukan karena mereka tidak punya kasih. Saya yakin mereka juga memberitakan pesan kasih di dalam pengajaran mereka, tetapi mereka khawatir harus menanggung resiko jika berhenti dan membantu orang yang luka itu.

Jalan melintasi pergunungan ke Yeriko itu memang terkenal sebagai tempat mangkal para penyamun. Belum lagi, jika orang yang luka itu mati, bisa-bisa saja mereka lebih direpotkan. Bisa saja mereka terlambat untuk pelayanan di gereja/bait Allah. Memanglah wajar setelah mempertimbangkan faktor-faktor tertentu, mereka tidak berhenti untuk membantu.

Rata-rata manusia memang punya kasih dan mau membantu. Persoalannya adalah sejauh mana?

Sayangnya, perintah Tuhan bagi umat-Nya bukanlah sekadar "Kasihilah sesama manusia". Jika hanya masalah mengasihi, kita semua dapat melakukannya. Memberi uang Rp1000 ke pengemis sudah mengasihi. Sekali-kali memberi sumbangan ke panti asuhan sudah mengasihi. Tetapi yang membuat kita tidak habis pikir adalah Tuhan bukan saja berkata, "Kasihilah sesama manusia", tetapi Ia menambah tiga kata lagi, "seperti dirimu sendiri."

Dalam hal mengasihi diri kita sendiri, kita tidak pernah takut repot. Kita tidak pernah khawatir kita akan rugi. Kita mengasihi diri kita sampai kita berani mempertaruhkan segalanya. Diri kita sendiri bukanlah orang yang menyenangkan untuk dikasihi, tetapi tetap saja kita sangat mengasihi diri kita. Dan dengan cara inilah Tuhan mau kita mengasihi sesama - sebagaimana kita mengasihi diri kita sendiri - tanpa syarat, tanpa pamrih dan tanpa menghitung untung rugi.

Itulah juga caranya bagaimana Yesus telah mengasihi kita, dari 2000 tahun yang lalu sampai ke hari ini. Ia tidak pernah lelah melakukannya - demikian jugalah kehendak-Nya bagi kita.

[Download]


Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.

Standard
Besar
Terbesar

Artikel:

- Suatu Kelahiran yang Tidak Diperhatikan

- Mentalitas Seorang yang Besar

- Pendidikan Tanpa Hikmat Tidak Ada Artinya

- Menanti Hari Itu

- Yesus dan Agama Lain

- Anda Ada Bukan Karena Kebetulan

- Takut akan Tuhan

- Celana Basah

- Perlakukan Orang Lain dengan Baik

- Kualitas Seorang Pemimpin

- Mengapa Orang Kristen Tidak Bertumbuh?

- Mengasihi Teman Sekamar Saya, mungkinkah?

- Hikmat Secangkir Kopi Panas

- Kehidupan Rohani ibarat Maraton

- Push-Up dan Donut

- 5 Alat Untuk Pertumbuhan Rohani

- 5 Roti dan 2 Ikan

- Adakah Hari Esok Bagimu?

- Apa artinya Natal?

- Apakah Anda Luput dari Kesalahan?

- Apakah Semua yang Meminta akan Mendapatkan?

- Apa Resolusi Tahun Baru Anda?

- Apa yang Akan Kau Minta dari Tuhan?

- "Ayo, kita gereja di Starbuck aje deh!"

- Bagaimana Mengetahui Kehendak Tuhan?

- Berdiam diri di dalam Tuhan - Sumber Kekuatan Sejati

- Cara untuk Mengembangkan Sukacita

- Calon Pendeta yang Pasti ditolak Gereja

- Dampak Pengampunan

- Dengarkan Tuhan Bukan Diri Kita Sendiri

- Di Manakah Tuhan?

- Doa Seorang Nabi Kecil

- Dunia Kita yang Penuh Kata-kata

- Empat Istri

- Hanya Ketidak-Sempurnaan yang Tidak Dapat Menolerir Ketidak-Sempurnaan

- Hari Ini

- Jangan Lupa Paspor dan Tiket Pesawat Anda

- Jangan Menilai Buku dari Sampulnya

- Janganlah Kamu Menghakimi

- Kebaikan dan Kebesaran

- Keheningan

- Ketidak-percayaan Kita

- Kita Tidak Cukup Rendah

- Lepaskan Dulu

- Takut akan Maut

- Kapan Malam Berakhir?

- Kejujuran Tidak Pernah Merugikan

- Kekurangan Orang Lain Harus Ditanggung Dalam Kasih

- Kerendahan Hati, Benar dan Palsu

- Kunci menaati Perintah Tuan Empunya Tuaian

- Mukjizat Natal - Kisah-kisah Nyata

- Menara Api di tengah Kegelapan Dunia

- Mengalahkan Kejahatan dengan Kebaikan, Mungkinkah?

- Mengasihi Seperti Diri Sendiri

- Menggerakkan Orang Lewat Doa

- Natal, Musim untuk Berbuat Baik?

- Nilai sebuah Kehidupan

- Orang yang Melukai kita Harus Dikasihi dan Disambut sebagai Tangan Tuhan

- Pendeta diabaikan di Gerejanya Sendiri

- Pengaruh Kristus

- Pengkhotbah yang Populer

- Pentingnya Pergumulan

- Pentingnya Sikap

- Peraturan Umum Dalam Penggunaan Waktu dan Hidup Kudus

- Percakapan antara Orang Kudus dan Filsuf

- Peringatan tentang Mendambakan Keberhasilan Spiritual

- Persahabatan dengan 'Musuh'

- Praktik lawan Ucapan

- Rangkulan Seorang Bayi

- Resiko seorang Hamba Tuhan

- Salib dan Si Aku

- Salib, Sumber Kegembiraan Kita

- Satu Kisah Cinta

- Sejauh Manakah Anda Rela Melangkah untuk Tuhan?

- Sekilas Hikmat dari Billy Graham

- Sensitivitas kepada Teguran adalah Tanda Pasti bahwa kita Membutuhkannya

- Sesungguhnya Buta

- Setinggi-tingginya Tupai Melompat

- Siapa Bilang Tidak Ada Sinterklas?

- Tidak semua hal dapat dilihat dengan mata

- Tujuan Ciptaan Baru

- Warisan Pengampunan

- Yang Paling Diberkati

- Yang Sudah Berlalu

Copyright 2003-2007. Semua materi di situs ini adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries.
E-mail kami untuk mendapatkan izin untuk menggunakan materi di situs ini.
Best viewed with IE6.0 and 1024 by 768 resolution.