|
| Saran & Komentar | updated on 24 December 2008 |
|||||||
|
CahayaPengharapanMinistries Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan |
|||||||
|
|
|||||||
|
Mengasihi Teman Sekamar Saya, mungkinkah? Paul Buchanan dan Paula Miller Mengasihi tetangga mu seperti diri mu sendiri - Matius 22:39 Ketika saya masih kecil, apabila dapat, saudara perempuan saya dan saya berusaha untuk tidak berbagi mainan kami. Pemikiran kami adalah, "Ini adalah milikku, maka engkau tidak boleh bermain dengannya." Ketika saya pindah ke universitas pada tahun pertama saya, perubahan yang sangat drastis terjadi. Penyesuaiannya sangatlah sulit. Pada saat itu sudah dekat awal tahun, dan saya baru mengenal teman sekamar saya selama dua bulan. Satu hari yang cerah, saya berada di kantin sedang menikmati makan siang saya. Saya sudah menjalani hari dengan baik, sampai pada saat teman sekamar saya masuk ke kantin. Dia memakai sandal, baju atasan, anting-anting dan kalung saya. Biasanya itu bukan suatu masalah yang besar bagi saya apabila dia meminjam baju saya, tetapi hari ini berbeda! Beberapa yang dia pakai itu masih baru yang belum pernah saya pakai. Hati saya langsung bereaksi. Apapun alasannya, saya benar-benar merasa terganggu. Saya menghadapi persimpangan di dalam hubungan kami. Saya memiliki dua pilihan: Saya dapat mendatanginya dan mengatakan betapa marahnya saya karena dia telah memakai pakaian saya, atau saya dapat berpegang teguh pada kekuatan Tuhan dan mengasihi dia seperti mengasihi diri saya sendiri. Duduk di kantin pada hari itu saya memilih untuk mencari jalan Tuhan - tetapi itu tidak mudah. Saya dapat menelan ego saya dan menunggu sampai saya berbicara dengan dia di kamar asrama kami. Ketika waktunya tepat, saya berkata kepadanya mengenai isi hati saya dan rasa hati saya sebenarnya. Saya juga menjelaskan bagaimana cara saya dulu dibesarkan supaya dia dapat mengerti mengapa saya sangat terganggu. Dia tidak mengerti bila apa yang dilakukannya dapat dianggap tidak sopan. Dia dibesarkan dengan cara yang sangat berbeda dengan saya. Di rumahnya, semua orang berbagi barang milik mereka. Dia tidak menganggap barang miliknya adalah miliknya pribadi. Dia beranggapan, karena kita hidup bersama, maka kita dapat berbagi semuanya. Setelah hari itu, saya secara konstan berusaha keras untuk menaruh kepentingan teman sekamar saya ini sebelum saya sendiri, tetapi saya mulai menyadari bahwa sangat penting untuk mengasihi orang lain daripada benda-benda material. Saya juga belajar untuk mengasihi orang lain dengan berbagi dengan orang tersebut apa yang saya miliki. Saya tahu apabila Yesus ingin memakai sandal saya, saya akan membiarkannya tanpa harus berpikir dua kali. Saya akan memberikan semuanya kepada-Nya apabila Dia memintanya. Tuhan secara berlahan-lahan telah mengajarkan kepada saya bahwa saya seharusnya mengasihi orang seperti itu. Kita telah dipanggil untuk mengasihi dan melayani orang lain seperti kita mengasihi dan melayani Kristus-seperti Dia mengasihi dan melayani kita. Tuhan telah memakai teman sekamar saya untuk merendahkan hati saya dan memberi saya sedikit penglihatan dari apa sebenarnya untuk mati dan untuk hidup demi Kristus. (Artikel berikut disadur dari buku berjudul "Students for students" oleh Paul Buchanan dan Paula Miller) |
Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.
Artikel: - Suatu Kelahiran yang Tidak Diperhatikan - Mentalitas Seorang yang Besar - Pendidikan Tanpa Hikmat Tidak Ada Artinya - Anda Ada Bukan Karena Kebetulan - Perlakukan Orang Lain dengan Baik - Mengapa Orang Kristen Tidak Bertumbuh? - Mengasihi Teman Sekamar Saya, mungkinkah? - Kehidupan Rohani ibarat Maraton - 5 Alat Untuk Pertumbuhan Rohani - Apakah Anda Luput dari Kesalahan? - Apakah Semua yang Meminta akan Mendapatkan? - Apa Resolusi Tahun Baru Anda? - Apa yang Akan Kau Minta dari Tuhan? - "Ayo, kita gereja di Starbuck aje deh!" - Bagaimana Mengetahui Kehendak Tuhan? - Berdiam diri di dalam Tuhan - Sumber Kekuatan Sejati - Cara untuk Mengembangkan Sukacita - Calon Pendeta yang Pasti ditolak Gereja - Dengarkan Tuhan Bukan Diri Kita Sendiri - Dunia Kita yang Penuh Kata-kata - Hanya Ketidak-Sempurnaan yang Tidak Dapat Menolerir Ketidak-Sempurnaan - Hari Ini - Jangan Lupa Paspor dan Tiket Pesawat Anda - Jangan Menilai Buku dari Sampulnya - Kejujuran Tidak Pernah Merugikan - Kekurangan Orang Lain Harus Ditanggung Dalam Kasih - Kerendahan Hati, Benar dan Palsu - Kunci menaati Perintah Tuan Empunya Tuaian - Mukjizat Natal - Kisah-kisah Nyata - Menara Api di tengah Kegelapan Dunia - Mengalahkan Kejahatan dengan Kebaikan, Mungkinkah? - Mengasihi Seperti Diri Sendiri - Menggerakkan Orang Lewat Doa - Natal, Musim untuk Berbuat Baik? - Orang yang Melukai kita Harus Dikasihi dan Disambut sebagai Tangan Tuhan - Pendeta diabaikan di Gerejanya Sendiri - Peraturan Umum Dalam Penggunaan Waktu dan Hidup Kudus - Percakapan antara Orang Kudus dan Filsuf - Peringatan tentang Mendambakan Keberhasilan Spiritual - Salib, Sumber Kegembiraan Kita - Sejauh Manakah Anda Rela Melangkah untuk Tuhan? - Sekilas Hikmat dari Billy Graham - Sensitivitas kepada Teguran adalah Tanda Pasti bahwa kita Membutuhkannya - Setinggi-tingginya Tupai Melompat - Siapa Bilang Tidak Ada Sinterklas? |
|||||
|
Copyright 2003-2007. Semua materi di situs ini
adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries. |
|||||||