|
| Saran & Komentar | updated on 04 February 2012 |
|||||||
|
CahayaPengharapanMinistries Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan |
|||||||
|
|
|||||||
|
Mengapa Kita Berdoa Sebelum Makan? Dwight A. Pryor
Sebagai contoh, perhatikan bahwa ketiga Injil sinoptik memakai
sebuah istilah Ibrani yang lazim ditemukan dalam literatur rabi-rabi
Yahudi kuno: "eat the Passover" (Mat 26:17; Mar. 14:12; Luk. 22:11),
yang merupakan istilah yang mengacu pada Jamuan Paskah (Seder), di mana
jamuan tersebut mencakup acara makan domba Paskah, "Ketika tiba saatnya,
Yesus duduk makan bersama-sama dengan rasul-rasul-Nya. Kata-Nya kepada
mereka: "Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu,
sebelum Aku menderita" (Luk 22:14). Pada perjamuan tersebut,
Yesus menyampaikan ucapan yang nantinya dibakukan di dalam lingkungan
umat Kristen: "Dan ketika mereka
sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat ke atasnya, memecah-mecahkannya
lalu memberikannya kepada
murid-murid-Nya dan berkata, "Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku." (Mat
26:26) Ada tiga pertanyaan penting yang bisa diajukan dari kutipan
ayat ini: 1. Apa dasar alkitabiah bagi tindakan Yesus yang mengucapkan
doa berkat sebelum makan? 2. Mengapa kata it (nya) dicetak miring dalam
terjemahan versi King James? 3. Apa pengaruh peristiwa ini terhadap kebiasaan umat Kristen
yang berdoa sebelum makan? Pertama, jika kita telusuri Alkitab yang dipakai di zaman
Yesus (yakni Perjanjian Lama berbahasa Ibrani), kita tidak akan
menemukan satupun perintah untuk berdoa sebelum makan. Rujukan yang
paling mendekati adalah yang terdapat di dalam Ulangan 8:10: "Dan engkau
akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu,
karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu". Perhatikan bahwa, ternyata, perintah itu menyuruh kita
mengucapkan syukur setelah makan, bukan sebelumnya - dan ini adalah
tradisi yang masih dijalankan oleh umat Yahudi yang taat beribadah,
yakni dalam doa Birkat Hamazon (Ucapan Syukur Setelah Makan) Sebenarnya, dasar
tindakan Yesus mengucapkan syukur
sebelum makan itu bukan dari dalam Alkitab, melainkan dari tradisi. Dia
menghormati tradisi yang diawali oleh para rabi dan kemudian dipelihara
oleh orang-orang Farisi. Pertimbangan mereka adalah: Kita memang
diperintahkan untuk mengucapkan syukur setelah makan, tapi mari kita
melangkah lebih dari perintah tertulis di dalam hukum Taurat di dalam
menyatakan rasa terima kasih kita, mari kita ucapkan syukur sebelum
makan. Kedua, perhatikan bahwa doa syukur yang diperintahkan itu
ditujukan kepada Allah dan bukan kepada makanan itu sendiri. Fokus
kepada Allah dilestarikan dalam dalam doa sebelum makan [di kalangan
Farisi]: "Terpujilah Engkau Tuhan, Allah kami, Raja alam semesta…
yang memberikan roti dari bumi." Para penerjemah Alkitab dari Inggris di abad ke-17 tidak
terbiasa dengan tradisi-tradisi Yahudi abad pertama. Dengan mengambil
tradisi sakramen dari Gereja Inggris dan Katholik Roma, mereka
menganggap bahwa Yesus mengambil roti lalu memberkati roti
itu, mengambil cawan dan
memberkati cawan itu juga. Kata it (nya) dicetak miring di dalam Matius 26:26 di
versi KJV karena kata tersebut tidak terdapat di dalam naskah Yunaninya,
melainkan hanya merupakan hasil pengembangan dari para penerjemah.
Terjemahan harfiah dari ayat tersebut berbunyi, "Yesus mengambil roti
dan mengucapkan berkat, Dia memecahkan roti itu, dan Dia membagikan
kepada para murid." Naskah Yunani ini menunjukkan tradisi otentik Yahudi
yang dijalankan oleh Yesus - mengucapkan berkat atau syukur
kepada Tuhan atas makanan
yang telah Dia tumbuhkan dari bumi yang subur. Kita bisa melihat pola ini tersebar di sejumlah bagian dalam
Perjanjian Baru. Sebagai contoh, Kisah 27:35: Sesudah berkata
demikian, ia [Paulus] mengambil roti, mengucap syukur kepada
Allah di hadapan semua mereka, memecah-mecahkannya, lalu mulai makan.
(Perhatikan bahwa
Paulus mengucap syukur kepada
Tuhan dan bukan memberkati makanan itu) Terakhir. perspektif orang Yahudi yang tertuang di dalam
Perjanjian Baru juga bisa menjadi petunjuk bagi kita. Saat kita berdoa
sebelum makan, sebenarnya kita sedang mengikuti tradisi Yahudi (bahkan
tradisi orang Farisi) yang diwariskan kepada kita oleh Yesus dari
Nazareth. Sebagaimana yang digambarkan dengan sangat baik di dalam
tradisi Yahudi, marilah kita menjadi orang yang memusatkan perhatian
kepada Allah dan Raja kita di dalam setiap perbuatan kita. Bahkan para
rabi menganjurkan kita untuk mencari setidaknya seratus kesempatan per
hari untuk mengucap syukur kepada Allah sebagai Tuhan dan Raja kita.
Pola pikir ini tercermin dalam seruan rasul Paulus: "Dan segala
sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah
semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia
kepada Allah, Bapa kita." (Kolose 3:17) Dalam kebiasaan kita mengucapkan doa syukur sebelum makan, marilah kita memusatkan perhatian kepada Sang Sumber, bukannya kepada makanan. Hendaklah kita tidak 'memberkati makanan' melainkan mengucapkan syukur kepada Tuhan' yang telah memenuhi setiap kebutuhan kita. Dengan demikian, kita menguduskan makanan tersebut dan mewujudkan suatu tindakan yang lebih rohani di bawah kemurahan Sang Raja Alam Semesta. (Dwight A. Pryor adalah Pendiri dan Presiden Center for Judaic-Christian Studies di Dayton, Ohio. Dia juga salah satu pendiri Jerusalem School of Synoptic Research di Israel. Ketika sedang belajar di Israel, beliau tiba pada kesadaran betapa penting dan perlunya memahami Kekristenan lewat akar dan dimensi Ibraninya.) |
Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.
Artikel: - Saya suka Kristus Anda. Tapi saya tidak suka dengan orang Kristen Anda - Doa Santo Francis dari Asisi - Bagaimana Anda tidak dapat menjadi Anak Allah - Dipimpin oleh kehendak Allah - Allah bukanlah sebongkah kayu - Kita bukan konsumen. Kita adalah manusia - Allah menanggapi Anda dengan serius - Segenap hati, jiwa, pikiran dan kekuatan kita telah ditebus - Lukisan Last Supper oleh Leonardo Da Vinci - Pesan seorang ateis bagi kita - Semuanya langsung tunduk, kecuali manusia - Sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya. - Billy Graham: Penyesalan dan Himbauannya - Apa yang harusnya menjadi tekad tahun baru orang Kristen? - Natal - Apakah yang menjadikannya penting? - Gereja Eksis bukan untuk Kepentingan Anggotanya - Perbedaan bukan berarti perpecahan - Apakah Anda datang ke gereja sebagai konsumen? - Apakah gereja benar-benar perlu bagi orang Kristen? - Apakah kita kerabatnya Tuhan? - Mengapa seringkali kita menjadi orang bodoh? - Hati yang terarah pada Surga - Bagaimana kita dapat melakukan kehendak Tuhan? - Tuhan, apakah yang harus kuperbuat? - Bagaimana mengenal pengajar dan nabi palsu? - Andai aku dapat menghentikan satu hari merana - Di mana ada kasih, di situlah Allah ada - Ciri orang yang menghayati doa - Bagaimana menangani kekhawatiran? - Memahami Hukum Taurat dalam Terang Roh - Bagaimana Kebenaran Memerdekakan? - Kamu akan Mengetahui Kebenaran - Jangan Kuatir... Kristus Telah Bangkit! - Bagaimana Menjadi Seorang Pembangun Umat? - Waspadalah Terhadap Roh Pasif - Mengapa Kita Berdoa Sebelum Makan? - Apakah Hari Sabat Diciptakan untuk Manusia? - Bagaimana Mengendalikan Amarah Kita - Tujuh Cara untuk Melindungi Pernikahan Anda dari Kejatuhan Moral - Lima Resolusi Tahun Baru untuk Pemimpin Kristen - Mengapa Allah mengizinkan rasa sakit? - Pertobatan yang Sejati dan yang Palsu - 2 - Pertobatan yang Sejati dan yang Palsu - 1 - Bagaimana Menghindari Daya Tarik yang Fatal? - Apakah Anda Masih Tidur dan Beristirahat? - Bagaimana Memaafkan Orang yang telah Menyakiti Kita - Apakah Anda masih dikagumkan dengan Alkitab? - Kemunduran Agama, Salah Siapa? - Bagaimana Meminta Pemulihanan dari Allah? - Yesus Tidak Takut disalah-pahami - Bagaimana Menangani Keraguan? - Apakah Kita Terlalu Banyak Bicara? - Kita Perlu Memperlambat Pekerjaan Kita - Maut Harus Dialami Setiap Hari - Penderitaan itu Milik Siapa? - Melayani Orang yang Mengalami Krisis Pribadi - Mengapa orang-orang berteriak? - Ahhhh... akhirnya engkau mengerti - Kehidupan Lebih dari Apa yang Tampak - Suatu Kelahiran yang Tidak Diperhatikan - Mentalitas Seorang yang Besar - Pendidikan Tanpa Hikmat Tidak Ada Artinya - Anda Ada Bukan Karena Kebetulan - Perlakukan Orang Lain dengan Baik - Mengapa Orang Kristen Tidak Bertumbuh? - Mengasihi Teman Sekamar Saya, mungkinkah? - Kehidupan Rohani ibarat Maraton - 5 Alat Untuk Pertumbuhan Rohani - Apakah Anda Luput dari Kesalahan? - Apakah Semua yang Meminta akan Mendapatkan? - Apa Resolusi Tahun Baru Anda? - Apa yang Akan Kau Minta dari Tuhan? - "Ayo, kita gereja di Starbuck aje deh!" - Bagaimana Mengetahui Kehendak Tuhan? - Berdiam diri di dalam Tuhan - Sumber Kekuatan Sejati - Cara untuk Mengembangkan Sukacita - Calon Pendeta yang Pasti ditolak Gereja - Dengarkan Tuhan Bukan Diri Kita Sendiri - Dunia Kita yang Penuh Kata-kata - Hanya Ketidak-Sempurnaan yang Tidak Dapat Menolerir Ketidak-Sempurnaan - Hari Ini - Jangan Lupa Paspor dan Tiket Pesawat Anda - Jangan Menilai Buku dari Sampulnya - Kejujuran Tidak Pernah Merugikan - Kekurangan Orang Lain Harus Ditanggung Dalam Kasih - Kerendahan Hati, Benar dan Palsu - Kunci menaati Perintah Tuan Empunya Tuaian - Mukjizat Natal - Kisah-kisah Nyata - Menara Api di tengah Kegelapan Dunia - Mengalahkan Kejahatan dengan Kebaikan, Mungkinkah? - Mengasihi Seperti Diri Sendiri - Menggerakkan Orang Lewat Doa - Natal, Musim untuk Berbuat Baik? - Orang yang Melukai kita Harus Dikasihi dan Disambut sebagai Tangan Tuhan - Pendeta diabaikan di Gerejanya Sendiri - Peraturan Umum Dalam Penggunaan Waktu dan Hidup Kudus - Percakapan antara Orang Kudus dan Filsuf - Peringatan tentang Mendambakan Keberhasilan Spiritual - Salib, Sumber Kegembiraan Kita - Sejauh Manakah Anda Rela Melangkah untuk Tuhan? - Sekilas Hikmat dari Billy Graham - Sensitivitas kepada Teguran adalah Tanda Pasti bahwa kita Membutuhkannya - Setinggi-tingginya Tupai Melompat - Siapa Bilang Tidak Ada Sinterklas? |
|||||
|
Copyright 2003-2012. Semua materi di situs ini
adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries. |
|||||||