| Saran & Komentar | updated on 24 December 2008

Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan

Halaman Utama

| Tempat Pertemuan

 | Tentang Kami

 | Hubungi Kami

 | Dapatkan Buletin Gratis di sini! 

Sumber Damai

Khotbah/PA


Inspirasi

Artikel/Renungan

Kesaksian Hidup


Pelatihan

Discipleship Trainings


Lain-Lain...

Siaran Mandarin Fu Yin Dian Tai

Bible Study (P.A)

Buku-buku Terbitan

Buletin Gratis!

Lagu dan Film

Kontrak atau Kontak?

oleh Redaksi

Apa yang harus terjadi sebelum seseorang dapat melihat melampaui waktu dan ruang dan dapat dengan sekilas memandang ke kekekalan? Bagaimana untuk tiba kepada perubahan perspektif tersebut? Manusia duniawi hanya melihat apa yang jasmani, yang kasat mata. Apa yang tidak dilihat mata seolah-olah tidak eksis. Menurut A.W Tozer, iman bukanlah melihat pada apa yang tidak ada, tetapi kepada apa yang tidak kelihatan.

Orang buta yang di Yohanes 9 buta sejak lahir. Ia tidak pernah tahu apa itu penglihatan. Atas belas kasihan Yesus, orang buta itu disembuhkan. Buat pertama kali dalam hidupnya ia dapat melihat. Ia tidak diminta untuk disembuhkan, Yesus yang mengambil inisiatif untuk menyembuhkannya. Ini sangat berbeda dengan orang buta yang di Markus 10 yang bernama Bartimeus, di ayat 51, ia dengan suara keras berteriak-teriak meminta untuk dapat melihat kembali. Kata dalam bahasa Yunani di situ adalah avnable,yw, atau yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai "regain", yang jika dibaca ke dalam konteksnya, mempunyai arti mendapat kembali penglihatannya. Sangat berbeda dengan orang buta di Yohanes 9, kita melihat Bartimeus begitu bermati-matian meminta untuk disembuhkan, berseru-seru dengan suara yang keras sehingga orang-orang di sekelilingnya merasa terganggu. Kenapa Bartimeus begitu rindu untuk memperoleh kembali penglihatannya? Karena ia sudah pernah melihat, ia tahu apa yang ia kehilangan. Berbanding dengan orang buta di Yohanes 10 yang buta sejak lahir yang tidak pernah melihat, ia tidak tahu betapa indahnya dunia ini, ia tidak tahu apa itu warna ungu, kuning atau merah, semuanya hitam bagi dia.

Bagaimana dengan mata rohani kita? Kita tahu bahwa tidak ada yang akan melihat hal-hal rohani melainkan mereka yang sudah dilahirkan dari atas (Yoh. 3). Apakah kita sudah melihat atau kita masih dalam kegelapan? Dapatkah kita melihat? Di Yohanes 10, kata Yesus, "Aku datang ke dalam dunia supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta." Orang-orang Farisi merasakan bahwa mereka dapat melihat dan Yesus berkata kepada mereka, "Tetapi karena kamu berkata, "Kami melihat, maka tetaplah dosamu."

Bagaimana jika kita buta dan semua orang di sekeliling kita juga tidak pernah melihat? Kita semuanya masih dalam kegelapan tetapi karena kita berkata kita sudah melihat maka kita tidak lagi mencari kesembuhan dari Tuhan? Kita masing-masing berkubang di dalam kegelapan tanpa menyadarinya, kita sudah terbiasa melihat semuanya dalam warna hitam, dan kita tidak tahu adanya warna merah, ungu dan kuning. Apakah mata rohani kita sudah dicelikkan untuk melihat apa yang tidak kelihatan itu? Pernahkah tirai jasmaniah yang mengelabui kita itu terbelah dan menyingkapkan kepada kita keabadian?

Pernahkah kita berkontak dengan yang Ilahi atau iman kita lebih merupakan iman kontrak? Iman kontrak itu dapat didefinisikan sebagai, aku akan percaya pada Tuhan jika Tuhan berbuat ini atau itu untuk-ku…umpamanya menyembuhkan aku, memberkati aku, memberi aku perkerjaan dst. Iman kita didirikan di atas dasar perjanjian dengan Tuhan, aku akan percaya jika Ia berbuat sesuatu bagiku.

Iman kontak sangatlah berbeda. Iman kontak berarti kita menyerahkan diri kita kepada Tuhan karena kita mempunyai kontak atau hubungan yang langsung dengan Dia. Satu iman yang timbul karena pribadi Tuhan itu sendiri dan bukannya apa yang kita "peroleh" dari Tuhan. Tidaklah dapat disangkali bahwa kebanyakan kita bermula dengan iman kontrak tetapi kita tidak boleh berhenti di situ saja. Kita harus tiba kepada satu hubungan yang hidup dengan Tuhan. Iman kontrak kita harus menjadi iman kontak, tanpa kontak dengan Tuhan tidaklah mungkin kita dapat menjadi seorang pengikut Yesus yang sejati. Kontak dengan Tuhan itulah yang akan membelah tirai jasmani yang selama ini membutai kita. Tanpa kontak dengan roh Allah, kita tidak akan dapat melihat atau memahami hal-hal dari roh, lambat laun semuanya itu akan menjadi suatu kebodohan bagi kita. (1 Ko. 2:14)

[Download]


Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.

Standard
Besar
Terbesar

Artikel:

- Suatu Kelahiran yang Tidak Diperhatikan

- Mentalitas Seorang yang Besar

- Pendidikan Tanpa Hikmat Tidak Ada Artinya

- Menanti Hari Itu

- Yesus dan Agama Lain

- Anda Ada Bukan Karena Kebetulan

- Takut akan Tuhan

- Celana Basah

- Perlakukan Orang Lain dengan Baik

- Kualitas Seorang Pemimpin

- Mengapa Orang Kristen Tidak Bertumbuh?

- Mengasihi Teman Sekamar Saya, mungkinkah?

- Hikmat Secangkir Kopi Panas

- Kehidupan Rohani ibarat Maraton

- Push-Up dan Donut

- 5 Alat Untuk Pertumbuhan Rohani

- 5 Roti dan 2 Ikan

- Adakah Hari Esok Bagimu?

- Apa artinya Natal?

- Apakah Anda Luput dari Kesalahan?

- Apakah Semua yang Meminta akan Mendapatkan?

- Apa Resolusi Tahun Baru Anda?

- Apa yang Akan Kau Minta dari Tuhan?

- "Ayo, kita gereja di Starbuck aje deh!"

- Bagaimana Mengetahui Kehendak Tuhan?

- Berdiam diri di dalam Tuhan - Sumber Kekuatan Sejati

- Cara untuk Mengembangkan Sukacita

- Calon Pendeta yang Pasti ditolak Gereja

- Dampak Pengampunan

- Dengarkan Tuhan Bukan Diri Kita Sendiri

- Di Manakah Tuhan?

- Doa Seorang Nabi Kecil

- Dunia Kita yang Penuh Kata-kata

- Empat Istri

- Hanya Ketidak-Sempurnaan yang Tidak Dapat Menolerir Ketidak-Sempurnaan

- Hari Ini

- Jangan Lupa Paspor dan Tiket Pesawat Anda

- Jangan Menilai Buku dari Sampulnya

- Janganlah Kamu Menghakimi

- Kebaikan dan Kebesaran

- Keheningan

- Ketidak-percayaan Kita

- Kita Tidak Cukup Rendah

- Lepaskan Dulu

- Takut akan Maut

- Kapan Malam Berakhir?

- Kejujuran Tidak Pernah Merugikan

- Kekurangan Orang Lain Harus Ditanggung Dalam Kasih

- Kerendahan Hati, Benar dan Palsu

- Kunci menaati Perintah Tuan Empunya Tuaian

- Mukjizat Natal - Kisah-kisah Nyata

- Menara Api di tengah Kegelapan Dunia

- Mengalahkan Kejahatan dengan Kebaikan, Mungkinkah?

- Mengasihi Seperti Diri Sendiri

- Menggerakkan Orang Lewat Doa

- Natal, Musim untuk Berbuat Baik?

- Nilai sebuah Kehidupan

- Orang yang Melukai kita Harus Dikasihi dan Disambut sebagai Tangan Tuhan

- Pendeta diabaikan di Gerejanya Sendiri

- Pengaruh Kristus

- Pengkhotbah yang Populer

- Pentingnya Pergumulan

- Pentingnya Sikap

- Peraturan Umum Dalam Penggunaan Waktu dan Hidup Kudus

- Percakapan antara Orang Kudus dan Filsuf

- Peringatan tentang Mendambakan Keberhasilan Spiritual

- Persahabatan dengan 'Musuh'

- Praktik lawan Ucapan

- Rangkulan Seorang Bayi

- Resiko seorang Hamba Tuhan

- Salib dan Si Aku

- Salib, Sumber Kegembiraan Kita

- Satu Kisah Cinta

- Sejauh Manakah Anda Rela Melangkah untuk Tuhan?

- Sekilas Hikmat dari Billy Graham

- Sensitivitas kepada Teguran adalah Tanda Pasti bahwa kita Membutuhkannya

- Sesungguhnya Buta

- Setinggi-tingginya Tupai Melompat

- Siapa Bilang Tidak Ada Sinterklas?

- Tidak semua hal dapat dilihat dengan mata

- Tujuan Ciptaan Baru

- Warisan Pengampunan

- Yang Paling Diberkati

- Yang Sudah Berlalu

Copyright 2003-2007. Semua materi di situs ini adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries.
E-mail kami untuk mendapatkan izin untuk menggunakan materi di situs ini.
Best viewed with IE6.0 and 1024 by 768 resolution.