|
| Saran & Komentar | updated on 06 September 2010 |
|||||||
|
CahayaPengharapanMinistries Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan |
|||||||
|
|
|||||||
|
Kamu akan Mengetahui Kebenaran Dwight A. Pryor
Tidak banyak firman dari Yesus yang lebih terkenal atau lebih banyk dikutip daripada firman yang satu ini: "dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." Firman yang lestari ini terpampang dengan megah di gedung Mahkamah Agung Amerika Serikat di Washington D.C., mendapat tempat yang sangat dihormati di lingkungan kebudayaan barat. Sayangnya, firman tersebut seringkali disalahartikan dalam alam pikiran Kristen kita. Untuk bisa memahaminya dengan lebih baik, kita perlu untuk kembali ke alam pikiran orang Yahudi, di mana Mesias kita dulu pernah menjalankan pelayanannya. Sumber kebudayaan dari masyarakat barat, yakni kebudayaan Yunani, sangat menghargai kebenaran, jauh mengatasi hal yang lainnya. Puncak pencapaian yang dikejar dalam filsafat mereka adalah Kebenaran, Kebaikan dan Keindahan. Sangat jarang di antara kita yang sadar bahwa Yesus dari Nazaret itu bukanlah seorang filsuf Yunani! Dia adalah seorang Rabi Yahudi. Misi-nya lebih sejiwa dengan misi nabi Musa daripada Sokrates. Pandangan hidup dan nilai-nilai yang dipegang oleh Yesus tidak dibentuk oleh paham Helenisme Yunani dan Romawi, melainkan oleh pandangan dunia (worldview) orang Ibrani dari Alkitab dan tradisi-tradisi kaum Yahudi. Dalam pandangan kaum Yahudi zaman Yesus, mengejar pemahaman tentang kebenaran itu tidak sepenting pelaksanaan kebenaran itu sendiri. Kebenaran itu sudah diberikan - dalam wujud petunjuk (Taurat) dan pewahyuan dari Yang Mahakudus, Allah Israel. Dengan demikian, maka tugas terpenting dari para rabi adalah menafsirkan dengan benar wahyu ilahi yang tertuang dalam Kitab Suci Israel, serta mengajarkannya kepada murid-murid mereka melalui ceramah dan teladan, yakni tentang bagaimana menjalankan kehendak Allah. Kegenapan dari hidup - agar bisa mengikuti rencana Allah dan diberkati oleh Dia - terwujud dalam hal mendengar dan mentaati firman-Nya. Belajar Kitab Suci adalah hal yang luar biasa penting dalam tradisi Yahudi karena Taurat (Ajaran) itu sudah diberikan oleh Allah. Kegiatan belajar yang menghasilkan ketaatan dipandang sebagai wujud penyembahan tertinggi pada Yang Mahakuasa. Seorang cendekiawan Yahudi terkemuka, Abraham Joshua Heschel, menjelaskannya sebagai berikut: "Orang Yunani belajar untuk bisa mengerti; orang Israel belajar untuk bisa taat." Talmud Torah (studi Firman Allah) menjadi landasan bagi kehidupan beragama di zaman Yesus - di dunia abad pertama. Berbeda dengan cara pandang orang Yunani kuno, kegiatan belajar orang Yahudi bukan satu 'kegiatan untuk menghabiskan waktu' untuk kalangan tertentu - melainkan suatu kegiatan seumur hidup untuk semua orang. Bukan sekadar untuk memuaskan hasrat ingin tahu kaum tertentu di kala santai, kegiatan belajar, sebagai wujud ibadat adalah peristiwa yang mengubah cara hidup orang yang ingin melayani Allah. Kegiatan belajar adalah pengabdian yang melibatkan segenap keberadaan dari seseorang - mencakup jiwa, hati, pikiran dan kekuatannya. Lebih dari sekadar mengejar sesuatu yang kudus, kegiatan belajar adalah tindakan mengejar yang Kudus itu sendiri. (Dwight A. Pryor adalah Pendiri dan Presiden Center for Judaic-Christian Studies. Dia juga salah satu pendiri Jerusalem School of Synoptic Research di Israel. Ketika sedang belajar di Israel, beliau tiba pada kesadaran betapa penting dan perlunya memahami Kekristenan lewat akar dan dimensi Ibraninya.) |
Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.
Artikel: - Andai aku dapat menghentikan satu hari merana - Di mana ada kasih, di situlah Allah ada - Ciri orang yang menghayati doa - Bagaimana menangani kekhawatiran? - Memahami Hukum Taurat dalam Terang Roh - Bagaimana Kebenaran Memerdekakan? - Kamu akan Mengetahui Kebenaran - Jangan Kuatir... Kristus Telah Bangkit! - Bagaimana Menjadi Seorang Pembangun Umat? - Waspadalah Terhadap Roh Pasif - Mengapa Kita Berdoa Sebelum Makan? - Apakah Hari Sabat Diciptakan untuk Manusia? - Bagaimana Mengendalikan Amarah Kita - Tujuh Cara untuk Melindungi Pernikahan Anda dari Kejatuhan Moral - Lima Resolusi Tahun Baru untuk Pemimpin Kristen - Mengapa Allah mengizinkan rasa sakit? - Pertobatan yang Sejati dan yang Palsu - 2 - Pertobatan yang Sejati dan yang Palsu - 1 - Bagaimana Menghindari Daya Tarik yang Fatal? - Apakah Anda Masih Tidur dan Beristirahat? - Bagaimana Memaafkan Orang yang telah Menyakiti Kita - Apakah Anda masih dikagumkan dengan Alkitab? - Kemunduran Agama, Salah Siapa? - Bagaimana Meminta Pemulihanan dari Allah? - Yesus Tidak Takut disalah-pahami - Bagaimana Menangani Keraguan? - Apakah Kita Terlalu Banyak Bicara? - Kita Perlu Memperlambat Pekerjaan Kita - Maut Harus Dialami Setiap Hari - Penderitaan itu Milik Siapa? - Melayani Orang yang Mengalami Krisis Pribadi - Mengapa orang-orang berteriak? - Ahhhh... akhirnya engkau mengerti - Kehidupan Lebih dari Apa yang Tampak - Suatu Kelahiran yang Tidak Diperhatikan - Mentalitas Seorang yang Besar - Pendidikan Tanpa Hikmat Tidak Ada Artinya - Anda Ada Bukan Karena Kebetulan - Perlakukan Orang Lain dengan Baik - Mengapa Orang Kristen Tidak Bertumbuh? - Mengasihi Teman Sekamar Saya, mungkinkah? - Kehidupan Rohani ibarat Maraton - 5 Alat Untuk Pertumbuhan Rohani - Apakah Anda Luput dari Kesalahan? - Apakah Semua yang Meminta akan Mendapatkan? - Apa Resolusi Tahun Baru Anda? - Apa yang Akan Kau Minta dari Tuhan? - "Ayo, kita gereja di Starbuck aje deh!" - Bagaimana Mengetahui Kehendak Tuhan? - Berdiam diri di dalam Tuhan - Sumber Kekuatan Sejati - Cara untuk Mengembangkan Sukacita - Calon Pendeta yang Pasti ditolak Gereja - Dengarkan Tuhan Bukan Diri Kita Sendiri - Dunia Kita yang Penuh Kata-kata - Hanya Ketidak-Sempurnaan yang Tidak Dapat Menolerir Ketidak-Sempurnaan - Hari Ini - Jangan Lupa Paspor dan Tiket Pesawat Anda - Jangan Menilai Buku dari Sampulnya - Kejujuran Tidak Pernah Merugikan - Kekurangan Orang Lain Harus Ditanggung Dalam Kasih - Kerendahan Hati, Benar dan Palsu - Kunci menaati Perintah Tuan Empunya Tuaian - Mukjizat Natal - Kisah-kisah Nyata - Menara Api di tengah Kegelapan Dunia - Mengalahkan Kejahatan dengan Kebaikan, Mungkinkah? - Mengasihi Seperti Diri Sendiri - Menggerakkan Orang Lewat Doa - Natal, Musim untuk Berbuat Baik? - Orang yang Melukai kita Harus Dikasihi dan Disambut sebagai Tangan Tuhan - Pendeta diabaikan di Gerejanya Sendiri - Peraturan Umum Dalam Penggunaan Waktu dan Hidup Kudus - Percakapan antara Orang Kudus dan Filsuf - Peringatan tentang Mendambakan Keberhasilan Spiritual - Salib, Sumber Kegembiraan Kita - Sejauh Manakah Anda Rela Melangkah untuk Tuhan? - Sekilas Hikmat dari Billy Graham - Sensitivitas kepada Teguran adalah Tanda Pasti bahwa kita Membutuhkannya - Setinggi-tingginya Tupai Melompat - Siapa Bilang Tidak Ada Sinterklas? |
|||||
|
Copyright 2003-2007. Semua materi di situs ini
adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries. |
|||||||