|
|
Di Manakah Tuhan?
Pada tanggal Mei 29 baru-baru ini Paus Benedict yang berasal dari Jerman
mengunjungi kamp maut Auschwitz, Poland dan bertanya mengapa Allah
berdiam diri di saat 1.5 juta orang (kebanyakannya orang Yahudi) dibunuh
di dapur api para tentara Nazi Jerman. Dalam ucapannya beliau berkata,
"Di tempat seperti ini, kata-kata gagal. Pada akhirnya, yang ada
hanyalah keheningan yang menakutkan, keheningan yang merupakan satu
seruan dari hati kepada Tuhan - Mengapa Tuhan, mengapa Engkau tetap
diam? Bagaimana Engkau menolerir semuanya ini?"
Diperkirakan sebanyak 6 juta jiwa yang mati di bawah kekuasaan Hitler.
Paus Benedict melanjutkan dengan bertanya, "Di manakah Tuhan di waktu
itu? Mengapa Ia diam? Bagaimana mungkin Ia mengizinkan pembantaian yang
ngeri ini, kejahatan ini?
Elie Wiesel, pemenang Nobel Peace Prize, yang lolos dari maut di
dapur api tetapi kehilangan ibu, kakak dan ayahnya di Auschwitz, menulis
di dalam bukunya, Night, "Tidak akan pernah saya melupakan malam
itu, malam pertama di kamp, yang telah mengubah hidup saya menjadi satu
malam yang panjang, tujuh kali terkutuk, tujuh kali termeterai. Tidak
akan pernah saya melupakan asap itu. Tidak akan pernah saya melupakan
wajah mungil anak-anak, yang tubuh-tubuhnya saya saksikan berakhir
menjadi lingkaran-lingkaran asap di bawah langit biru yang hening. Tidak
akan pernah saya melupakan api-api yang menghanguskan iman saya buat
selama-lamanya. Tidak akan pernah saya melupakan keheningan malam itu
yang menghilangkan buat selama-lamanya keinginan saya untuk hidup. Tidak
akan pernah saya melupakan saat-saat itu, yang telah membunuh Tuhan saya
dan jiwa saya dan mengubah impian saya menjadi debu. Tidak akan pernah
saya melupakan hal-hal itu, sekalipun jika saya dikutuk untuk hidup
selama Tuhan sendiri hidup. Tidak akan pernah."
Bagi Elie Wiesel, penderitaan yang disaksikannya di Auschwitz membunuh
Tuhannya, tidak lagi ada Tuhan bagi dirinya. Tidak mungkin kita dapat
menyelami perasaan Wiesel, sebagaimana kita tidak akan mungkin
sepenuhnya berkongsi rasa dengan orang yang harus menderita tanpa
mengetahui mengapa mereka harus menderita. Apakah dosa dan kesalahan
anak-anak kecil yang membuat mereka harus berakhir di dapur api kamp
Auschwitz? Tidak mungkin kita tidak bertanya "mengapa" setiap kali kita
melihat penderitaan dahsyat menimpa orang-orang yang menurut kita tidak
layak menerimanya. Ketika Ayub yang tinggal di tanah Us sekitar 4000
tahun dulu harus menderita dengan kejam tanpa mengetahui alasannya, ia
berkata "Tuhan membinasakan yang tidak bersalah dan yang bersalah."
(Kitab Ayub pasal 9, ayat 22)
Apakah yang sebenarnya terjadi di balik tirai surga? Di upacara di
Auschwitz itu, Paus Benedict menyimpulkan, "manusia tidak dapat melihat
ke dalam rencana Tuhan yang misterius, kita hanya dapat berseru dengan
rendah hati namun secara terus menerus kepada Tuhan - 'Bangkitlah!
Jangan melupakan umat manusia, makhlukmu!'"
Mau tidak mau kita harus menanyakan pertanyaan yang sulit ini: Sudahkah
Tuhan melupakan umatnya? Apakah Tuhan sudah mati seperti yang diyakini
Elie Wiesel pada waktu itu? Ataukah Tuhan tidak lagi peduli? Saya kira
setiap dari kita harus mencari sendiri jawaban kepada persoalan ini.
Ayub setelah pergumulan yang panjang dan melelahkan akhirnya menemukan
jawaban tersebut bagi dirinya. Bagaimana dengan kita? |
[Download]
Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.
Artikel:
- Saya suka Kristus Anda. Tapi saya tidak suka dengan orang Kristen Anda
- Doa Santo Francis dari Asisi
- Bagaimana Anda tidak dapat menjadi Anak Allah
- Dipimpin oleh kehendak Allah
- Allah bukanlah sebongkah kayu
- Orang yang dipakai Allah
- Kita bukan konsumen. Kita adalah manusia
- Kesatuan membawa pemulihan
- Allah menanggapi Anda dengan serius
- Segenap hati, jiwa, pikiran dan kekuatan kita telah ditebus
- Lukisan Last Supper oleh Leonardo Da Vinci
- Pencarian akan Kebahagiaan
- Pesan seorang ateis bagi kita
- Kebangkitan Kristus
- Sedikit Air dan Roti
- Semuanya langsung tunduk, kecuali manusia
- Iman dan keraguan
- Sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya.
- Billy Graham: Penyesalan dan Himbauannya
- Apa yang harusnya menjadi tekad tahun baru orang Kristen?
- Natal - Apakah yang menjadikannya penting?
- Saya percaya...
- Gereja Eksis bukan untuk Kepentingan Anggotanya
- Perbedaan bukan berarti perpecahan
- Apakah Anda datang ke gereja sebagai konsumen?
- Apakah gereja benar-benar perlu bagi orang Kristen?
- Apakah kita kerabatnya Tuhan?
- Rumah di sisi jalan
- Mengapa seringkali kita menjadi orang bodoh?
- Hati yang terarah pada Surga
- Bagaimana kita dapat melakukan kehendak Tuhan?
- Tuhan, apakah yang harus kuperbuat?
- Doa bukan "ban serep"
- Bagaimana mengenal pengajar dan nabi palsu?
- Dosa Kelalaian
- Doa Seorang Anak
- Andai aku dapat menghentikan satu hari merana
- Di mana ada kasih, di situlah Allah ada
- Anggaplah hari itu sia-sia
- Tidak Berarti di Mata Dunia
- Ciri orang yang menghayati doa
- Bagaimana menangani kekhawatiran?
- Rahasia Doa
- Memahami Hukum Taurat dalam Terang Roh
- Bagaimana Kebenaran Memerdekakan?
- Kamu akan Mengetahui Kebenaran
- Jangan Kuatir... Kristus Telah Bangkit!
- Bagaimana Menjadi Seorang Pembangun Umat?
- Waspadalah Terhadap Roh Pasif
- Mengapa Kita Berdoa Sebelum Makan?
- Apakah Hari Sabat Diciptakan untuk Manusia?
- Orang-orang Kristen itu
- Bagaimana Mengendalikan Amarah Kita
- Tujuh Cara untuk Melindungi Pernikahan Anda dari Kejatuhan Moral
- Lima Resolusi Tahun Baru untuk Pemimpin Kristen
- Dalam memberi kita menerima
- Mengapa Allah mengizinkan rasa sakit?
- Pertobatan yang Sejati dan yang Palsu - 2
- Pertobatan yang Sejati dan yang Palsu - 1
- Bagaimana Menghindari Daya Tarik yang Fatal?
- Apakah Anda Masih Tidur dan Beristirahat?
- Bagaimana Memaafkan Orang yang telah Menyakiti Kita
- Cara Yesus Menyembuhkan
- Bagaimana Menangani Amarah?
- Apakah Anda masih dikagumkan dengan Alkitab?
- Kemunduran Agama, Salah Siapa?
- Bagaimana Meminta Pemulihanan dari Allah?
- Yesus Tidak Takut disalah-pahami
- Bagaimana Menangani Keraguan?
- Apakah Kita Terlalu Banyak Bicara?
- Kita Perlu Memperlambat Pekerjaan Kita
- Maut Harus Dialami Setiap Hari
- Penderitaan itu Milik Siapa?
- Melayani Orang yang Mengalami Krisis Pribadi
- Cara Tuhan Bekerja
- Logika yang Sederhana
- Mengapa orang-orang berteriak?
- Paskah: Pengadilan Yesus
- Ahhhh... akhirnya engkau mengerti
- Rencana Sempurna dari Iblis
- Bila aku adalah Iblis
- Ingat Bebek Itu
- Apakah Gubuk-mu Terbakar?
- Kehidupan Lebih dari Apa yang Tampak
- Potret Seorang Anak
- Yesus Seorang Pecundang
- Suatu Kelahiran yang Tidak Diperhatikan
- Mentalitas Seorang yang Besar
- Pendidikan Tanpa Hikmat Tidak Ada Artinya
- Menanti Hari Itu
- Yesus dan Agama Lain
- Anda Ada Bukan Karena Kebetulan
- Takut akan Tuhan
- Celana Basah
- Perlakukan Orang Lain dengan Baik
- Kualitas Seorang Pemimpin
- Mengapa Orang Kristen Tidak Bertumbuh?
- Mengasihi Teman Sekamar Saya, mungkinkah?
- Hikmat Secangkir Kopi Panas
- Kehidupan Rohani ibarat Maraton
- Push-Up dan Donut
- 5 Alat Untuk Pertumbuhan Rohani
- 5 Roti dan 2 Ikan
- Adakah Hari Esok Bagimu?
- Apa artinya Natal?
- Apakah Anda Luput dari Kesalahan?
- Apakah Semua yang Meminta akan Mendapatkan?
- Apa Resolusi Tahun Baru Anda?
- Apa yang Akan Kau Minta dari Tuhan?
- "Ayo, kita gereja di Starbuck aje deh!"
- Bagaimana Mengetahui Kehendak Tuhan?
- Berdiam diri di dalam Tuhan - Sumber Kekuatan Sejati
- Cara untuk Mengembangkan Sukacita
- Calon Pendeta yang Pasti ditolak Gereja
- Dampak Pengampunan
- Dengarkan Tuhan Bukan Diri Kita Sendiri
- Di Manakah Tuhan?
- Doa Seorang Nabi Kecil
- Dunia Kita yang Penuh Kata-kata
- Empat Istri
- Hanya Ketidak-Sempurnaan yang Tidak Dapat Menolerir Ketidak-Sempurnaan
- Hari Ini
- Jangan Lupa Paspor dan Tiket Pesawat Anda
- Jangan Menilai Buku dari Sampulnya
- Janganlah Kamu Menghakimi
- Kebaikan dan Kebesaran
- Keheningan
- Ketidak-percayaan Kita
- Kita Tidak Cukup Rendah
- Lepaskan Dulu
- Takut akan Maut
- Kapan Malam Berakhir?
- Kejujuran Tidak Pernah Merugikan
- Kekurangan Orang Lain Harus Ditanggung Dalam Kasih
- Kerendahan Hati, Benar dan Palsu
- Kunci menaati Perintah Tuan Empunya Tuaian
- Mukjizat Natal - Kisah-kisah Nyata
- Menara Api di tengah Kegelapan Dunia
- Mengalahkan Kejahatan dengan Kebaikan, Mungkinkah?
- Mengasihi Seperti Diri Sendiri
- Menggerakkan Orang Lewat Doa
- Natal, Musim untuk Berbuat Baik?
- Nilai sebuah Kehidupan
- Orang yang Melukai kita Harus Dikasihi dan Disambut sebagai Tangan Tuhan
- Pendeta diabaikan di Gerejanya Sendiri
- Pengaruh Kristus
- Pengkhotbah yang Populer
- Pentingnya Pergumulan
- Pentingnya Sikap
- Peraturan Umum Dalam Penggunaan Waktu dan Hidup Kudus
- Percakapan antara Orang Kudus dan Filsuf
- Peringatan tentang Mendambakan Keberhasilan Spiritual
- Persahabatan dengan 'Musuh'
- Praktik lawan Ucapan
- Rangkulan Seorang Bayi
- Resiko seorang Hamba Tuhan
- Salib dan Si Aku
- Salib, Sumber Kegembiraan Kita
- Satu Kisah Cinta
- Sejauh Manakah Anda Rela Melangkah untuk Tuhan?
- Sekilas Hikmat dari Billy Graham
- Sensitivitas kepada Teguran adalah Tanda Pasti bahwa kita Membutuhkannya
- Sesungguhnya Buta
- Setinggi-tingginya Tupai Melompat
- Siapa Bilang Tidak Ada Sinterklas?
- Tidak semua hal dapat dilihat dengan mata
- Tujuan Ciptaan Baru
- Warisan Pengampunan
- Yang Paling Diberkati
- Yang Sudah Berlalu
|