| Saran & Komentar | updated on 30 August 2010

Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan

Halaman Utama

  |  Tentang Kami

  |  Hubungi Kami

  |  Izin Pemakaian Materi 

  |  Dapatkan Buletin Gratis di sini! 

Sumber Damai

Khotbah/PA


Inspirasi

Artikel/Renungan

Kesaksian Hidup


Pelatihan

Discipleship Trainings


Lain-Lain...

Siaran Mandarin Fu Yin Dian Tai

Bible Study (P.A)

Buku-buku Terbitan

Buletin Gratis!

Lagu dan Film

Dampak Pengampunan

Oleh Redaktur

Di dalam karya agung Victor Hugo, Les Miserables, terdapat kisah tentang dua tokoh, Uskup M.Myriel dan Jean Valjean.

Jean Valjean ditangkap polisi, dianiaya dan akhirnya dilempar ke dalam penjara hanya karena ia mencuri roti untuk memberi makan 7 keponakannya yang kelaparan. Akibat dari perlakuan yang tak berperi kemanusiaan selama bertahun-tahun ia berubah dari seorang yang lugu dan baik hati menjadi seorang yang berhati keras, penuh kebencian dan kepahitan. Hatinya sudah lama tidak lagi dapat merasa. Setelah 19 tahun di penjara, ia akhirnya dibebaskan. Surat keterangan dari penjara menggambarkan Valjean sebagai seorang penjahat yang sangat kejam dan berbahaya. Wajahnya saja sudah cukup membuat orang seram.

Selama empat hari ia berjalan dari satu kota ke kota yang lain tetapi tidak ada tempat penginapan yang mau menerimanya dan tidak ada tempat makan yang mau menjualnya makanan, sekalipun ia memiliki uang, hasil dari pekerjaannya di pertambangan penjara. Di suatu kota kecil, seorang wanita yang tidak mau menjual makanan kepadanya berkata bahwa hanya ada satu orang yang akan memberinya tumpangan, Uskup M.Myriel yang tidak pernah mengunci pintu rumahnya, apakah siang atau malam.

Sesuai dengan yang dikatakan, saat ia mendorong pintu rumah Uskup Myriel, pintu langsung terbuka dan ia melihat seorang pria tua bersama adiknya duduk di meja makan. Valjean langsung diundang untuk makan bersama dan disiapkan tempat tidur untuknya bermalam. Uskup di Perancis pada tahun-tahun 1800an mempunyai penghasilan yang cukup besar, sekitar £15,000, tetapi Uskup Myreil menyumbang £14,000 kepada orang-orang yang miskin dan hanya hidup dengan uang £1,000 per tahun. Motto hidupnya adalah, kita hidup bukan untuk melindungi nyawa kita tetapi untuk melindungi jiwa orang lain. Makanan yang disajikan tentunya sangat sederhana jadi Valjean tidak tahu bahwa ia sedang makan bersama seorang Uskup. Tetapi satu-satunya barang berharga di rumah Uskup tua itu adalah peralatan makan dan sepasang tempat lilin yang dibuat dari perak, yang merupakan harta warisan Uskup Myriel.

Sekitar jam 2 pagi, Valjean terjaga dari tidur dan pelbagai pikiran melintasi benaknya tetapi salah satu hal yang muncul terus adalah peralatan makan perak yang bisa saja bernilai sekitar £200. Tanpa berpikir panjang, Valjean dengan berhati-hati meninggalkan tempat tidur dan menghampiri lemari yang tak berkunci di ruang makan. Setelah mengambil peralatan makan yang berharga itu, ia melarikan diri lewat jendela di kamarnya.

Seperti biasa Uskup Myriel bersarapan dengan roti dan susu dari lembu peliharaannya. Pembantunya sebelum itu sudah mengabarkan bahwa peralatan makan peraknya sudah hilang dan Valjean sendiri sudah kabur. Uskup hanya berkata, "Ah, memang aku salah karena telah menyimpan apa yang sebenarnya merupakan milik orang-orang miskin. Valjean orang miskin dan memang barang-barang itu miliknya."

Pintu rumah Uskup Myriel sekali lagi didorong dan terlihat tiga polisi menggiring Valjean. Wajah Valjean sedikit ketakutan. Sebelum sempat polisi itu berkata apa-apa, Uskup Myriel langsung maju ke arah Valjean dan berseru, "Ah, engkau datang kembali juga! Saya senang melihat kamu. Tapi mengapa? Aku memberikan kepada kamu tempat lilin itu juga, yang sama seperti yang lain, diperbuat dari perak. Tempat lilin itu saja bisa dijual dengan harga £200. Kenapa hanya membawa peralatan makan?"

Mata Jean Valjean terbelalak memandang Uskup Myriel.

"Yang Mulia," tanya ketua polisi itu, "jadi apa yang dikatakan orang ini benar? Kami melihat dia berkelakuan seperti orang yang mau melarikan diri. Kami menemukan barang-barang perak ini..."

Uskup sambil senyum memotong percakapannya, "Dan dia memberitahu Anda, bahwa barang-barang ini telah diberikan oleh seorang imam tua yang memberinya tumpangan? Ah, dan Anda membawanya kembali ke sini? Anda telah keliru."

"Maksud Yang Mulia, kami bisa melepaskan dia?"

"Tentu saja," jawab Uskup Myriel.

"Apakah benar saya dibebaskan?" tanya Valjean dengan suara yang hampir tidak kedengaran, seperti orang yang sedang berbicara dalam mimpi.

"Sahabatku," lanjut Uskup Myriel, "sebelum Anda pergi". Uskup Myriel berjalan ke arah lemari dan mengambil tempat lilin itu dan menyerahkan kepada Valjean, "Ini dia, ambillah."

Jean Valjean dengan gemetaran dan tanpa berpikir menghulurkan tangannya mengambil kedua tempat lilin itu.

"Sekarang" kata Uskup itu, "Pergilah dengan damai. Dan lain kali, saat Anda kembali, tidaklah perlu lewat jendela. Pintu tidak pernah dikunci, tidak kira apakah siang atau malam."

Setelah polisi itu pergi, Uskup mendekati Valjean dan dengan suara yang perlahan berkata, "Jangan, jangan pernah lupa, bahwa Anda telah berjanji untuk menggunakan uang ini untuk menjadi orang yang jujur."

Seingat Jean Valjean ia tidak pernah menjanjikan apa-apa. Tetapi lidahnya kelu. Uskup Myriel melanjutkan dengan penuh keseriusan, "Jean Valjean, saudaraku, Anda tidak lagi milik yang jahat tetapi Anda milik yang baik. Yang telah aku beli dari-mu adalah jiwa-mu; Aku telah mengambilnya dari pikiran yang jahat dan roh kehancuran, dan aku memberinya kepada Tuhan."

Dari rumah Uskup Myriel, Jean Valjean meninggalkan kota itu seperti orang yang sedang dikejar bayangannya sendiri. Ia melintasi hutan, lembah, pergunungan seperti orang yang baru disambar petir. Ia tidak berpikir, tidak merasa karena ia tidak tahu apa yang harus dipikirnya. Sesuatu sedang terjadi di dalam hatinya. Terdapat pergolakan yang hebat di dalam jiwa dan sanubarinya. Hatinya yang sekeras batu, pertahanan yang menjadi perlindungannya selama ini mulai terkikis. Pikiran yang menghantuinya adalah "Kamu telah berjanji untuk menjadi orang yang jujur, jiwa-mu sudah kubeli, sudah kuberikan kepada Tuhan."

Di bawah sebuah pohon yang besar, akhirnya pertahanannya luluh dan buat pertama kali dalam 19 tahun ia menangis. Lama sekali Jean Valjean menangis. Ia menangis seperti seorang perempuan, dan dengan penuh ketakutan seperti seorang anak kecil. Terang mulai masuk ke dalam hatinya yang gelap. Hati yang sekeras batu mulai hancur dan hati nuraninya pelahan-lahan mulai hidup kembali.

Pengampunan Uskup yang tak diharapkannya itu merupakan serangan yang paling hebat ke atas kekerasan dan kebencian yang ada di dalam hatinya. Pengampunan itu juga yang mengembalikan kembali pengharapan dan terang di dalam hidupnya yang selama 19 tahun dijalani di dalam kegelapan. Sesuai dengan pesan Uskup Myriel, sejak hari itu Valjean menjalani hidupnya sebagai seorang yang jujur dan berintegritas.

(Perjalanan hidup Jean Valjean yang seterusnya dapat dibaca di dalam novel klasik sastrawan Perancis, Victor Hugo yang berjudul  Les Miserables)

[Download]


Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.

Standard
Besar
Terbesar

Artikel:

- Doa Seorang Anak

- Andai aku dapat menghentikan satu hari merana

- Di mana ada kasih, di situlah Allah ada

- Anggaplah hari itu sia-sia

- Tidak Berarti di Mata Dunia

- Ciri orang yang menghayati doa

- Bagaimana menangani kekhawatiran?

- Rahasia Doa

- Memahami Hukum Taurat dalam Terang Roh

- Bagaimana Kebenaran Memerdekakan?

- Kamu akan Mengetahui Kebenaran

- Jangan Kuatir... Kristus Telah Bangkit!

- Bagaimana Menjadi Seorang Pembangun Umat?

- Waspadalah Terhadap Roh Pasif

- Mengapa Kita Berdoa Sebelum Makan?

- Apakah Hari Sabat Diciptakan untuk Manusia?

- Orang-orang Kristen itu

- Bagaimana Mengendalikan Amarah Kita

- Tujuh Cara untuk Melindungi Pernikahan Anda dari Kejatuhan Moral

- Lima Resolusi Tahun Baru untuk Pemimpin Kristen

- Dalam memberi kita menerima

- Mengapa Allah mengizinkan rasa sakit?

- Pertobatan yang Sejati dan yang Palsu - 2

- Pertobatan yang Sejati dan yang Palsu - 1

- Bagaimana Menghindari Daya Tarik yang Fatal?

- Apakah Anda Masih Tidur dan Beristirahat?

- Bagaimana Memaafkan Orang yang telah Menyakiti Kita

- Cara Yesus Menyembuhkan

- Bagaimana Menangani Amarah?

- Apakah Anda masih dikagumkan dengan Alkitab?

- Kemunduran Agama, Salah Siapa?

- Bagaimana Meminta Pemulihanan dari Allah?

- Yesus Tidak Takut disalah-pahami

- Bagaimana Menangani Keraguan?

- Apakah Kita Terlalu Banyak Bicara?

- Kita Perlu Memperlambat Pekerjaan Kita

- Maut Harus Dialami Setiap Hari

- Penderitaan itu Milik Siapa?

- Melayani Orang yang Mengalami Krisis Pribadi

- Cara Tuhan Bekerja

- Logika yang Sederhana

- Mengapa orang-orang berteriak?

- Paskah: Pengadilan Yesus

- Ahhhh... akhirnya engkau mengerti

- Rencana Sempurna dari Iblis

- Bila aku adalah Iblis

- Ingat Bebek Itu

- Apakah Gubuk-mu Terbakar?

- Kehidupan Lebih dari Apa yang Tampak

- Potret Seorang Anak

- Yesus Seorang Pecundang

- Suatu Kelahiran yang Tidak Diperhatikan

- Mentalitas Seorang yang Besar

- Pendidikan Tanpa Hikmat Tidak Ada Artinya

- Menanti Hari Itu

- Yesus dan Agama Lain

- Anda Ada Bukan Karena Kebetulan

- Takut akan Tuhan

- Celana Basah

- Perlakukan Orang Lain dengan Baik

- Kualitas Seorang Pemimpin

- Mengapa Orang Kristen Tidak Bertumbuh?

- Mengasihi Teman Sekamar Saya, mungkinkah?

- Hikmat Secangkir Kopi Panas

- Kehidupan Rohani ibarat Maraton

- Push-Up dan Donut

- 5 Alat Untuk Pertumbuhan Rohani

- 5 Roti dan 2 Ikan

- Adakah Hari Esok Bagimu?

- Apa artinya Natal?

- Apakah Anda Luput dari Kesalahan?

- Apakah Semua yang Meminta akan Mendapatkan?

- Apa Resolusi Tahun Baru Anda?

- Apa yang Akan Kau Minta dari Tuhan?

- "Ayo, kita gereja di Starbuck aje deh!"

- Bagaimana Mengetahui Kehendak Tuhan?

- Berdiam diri di dalam Tuhan - Sumber Kekuatan Sejati

- Cara untuk Mengembangkan Sukacita

- Calon Pendeta yang Pasti ditolak Gereja

- Dampak Pengampunan

- Dengarkan Tuhan Bukan Diri Kita Sendiri

- Di Manakah Tuhan?

- Doa Seorang Nabi Kecil

- Dunia Kita yang Penuh Kata-kata

- Empat Istri

- Hanya Ketidak-Sempurnaan yang Tidak Dapat Menolerir Ketidak-Sempurnaan

- Hari Ini

- Jangan Lupa Paspor dan Tiket Pesawat Anda

- Jangan Menilai Buku dari Sampulnya

- Janganlah Kamu Menghakimi

- Kebaikan dan Kebesaran

- Keheningan

- Ketidak-percayaan Kita

- Kita Tidak Cukup Rendah

- Lepaskan Dulu

- Takut akan Maut

- Kapan Malam Berakhir?

- Kejujuran Tidak Pernah Merugikan

- Kekurangan Orang Lain Harus Ditanggung Dalam Kasih

- Kerendahan Hati, Benar dan Palsu

- Kunci menaati Perintah Tuan Empunya Tuaian

- Mukjizat Natal - Kisah-kisah Nyata

- Menara Api di tengah Kegelapan Dunia

- Mengalahkan Kejahatan dengan Kebaikan, Mungkinkah?

- Mengasihi Seperti Diri Sendiri

- Menggerakkan Orang Lewat Doa

- Natal, Musim untuk Berbuat Baik?

- Nilai sebuah Kehidupan

- Orang yang Melukai kita Harus Dikasihi dan Disambut sebagai Tangan Tuhan

- Pendeta diabaikan di Gerejanya Sendiri

- Pengaruh Kristus

- Pengkhotbah yang Populer

- Pentingnya Pergumulan

- Pentingnya Sikap

- Peraturan Umum Dalam Penggunaan Waktu dan Hidup Kudus

- Percakapan antara Orang Kudus dan Filsuf

- Peringatan tentang Mendambakan Keberhasilan Spiritual

- Persahabatan dengan 'Musuh'

- Praktik lawan Ucapan

- Rangkulan Seorang Bayi

- Resiko seorang Hamba Tuhan

- Salib dan Si Aku

- Salib, Sumber Kegembiraan Kita

- Satu Kisah Cinta

- Sejauh Manakah Anda Rela Melangkah untuk Tuhan?

- Sekilas Hikmat dari Billy Graham

- Sensitivitas kepada Teguran adalah Tanda Pasti bahwa kita Membutuhkannya

- Sesungguhnya Buta

- Setinggi-tingginya Tupai Melompat

- Siapa Bilang Tidak Ada Sinterklas?

- Tidak semua hal dapat dilihat dengan mata

- Tujuan Ciptaan Baru

- Warisan Pengampunan

- Yang Paling Diberkati

- Yang Sudah Berlalu

Copyright 2003-2007. Semua materi di situs ini adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries.
E-mail kami untuk mendapatkan izin untuk menggunakan materi di situs ini.
Best viewed with IE6.0 and 1024 by 768 resolution.