| Saran & Komentar | updated on 16 April 2012

Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan

Halaman Utama

  |  Tentang Kami

  |  Hubungi Kami

  |  Izin Pemakaian Materi 

  |  Dapatkan Buletin Gratis di sini! 

Sumber Damai

Khotbah/PA


Inspirasi

Artikel/Renungan

Kesaksian Hidup


Pelatihan

Discipleship Trainings


Lain-Lain...

Buku-buku Terbitan 

Lagu dan Film 

Bible Study (P.A)

Siaran Mandarin

Buletin Gratis!

Follow Us


BACA ONLINE


KATA PENGANTAR

Budaya Barat, Timur atau "Budaya" Tuhan?

Oleh Redaksi

Baru-baru ini di New York Times, diberitakan tentang seorang ibu yang berusia 73 tahun yang ingin pindah untuk tinggal bersama anaknya karena tertarik dengan properti yang baru dibelinya. Si anak bersama pacarnya sangat keberatan karena ingin menikmati kehidupan mereka berdua sendirian. Tetapi setelah rapat keluarga si anak akhirnya menyetujui ibunya untuk pindah ke rumahnya tetapi dengan satu syarat. Sang ibu hanya diizinkan untuk tinggal bersama mereka ketika usianya mencapai 80 tahun, berarti ibunya harus menunggu 7 tahun lagi sebelum ia diperbolehkan untuk pindah ke kediamannya. Sementara itu, jika sang ibu yang sekarang tinggal sekitar 23 menit dari rumahnya, ingin mengunjunginya, sang ibu harus terlebih dahulu menelpon untuk meminta izin. Wah, saya tidak dapat bayangkan apa yang akan terjadi jikalau saya memberikan syarat-syarat ini kepada orang tua saya! Umur sudah 73 tahun tapi masih harus menunggu hingga 80 tahun! Dan harus menelpon dulu sebelum mampir. Saya kira sangat sulit bagi masyarakat timur menerima hal demikan tetapi sang ibu ini, kelihatannya menyambut baik syarat anaknya dan sudah agak senang karena anaknya mau menerimanya untuk tinggal bersama, sekalipun ia masih harus menunggu 7 tahun lagi.

Peristiwa di atas menunjukkan satu kontras yang sangat mencolok di antara budaya orang timur (Asia?) dengan budaya orang Barat. Jika dibuat satu survei tentang apakah perlakuan demikian dapat diterima, saya yakin hasilnya sangat berbeda tergantung di mana survei tersebut dijalankan. Rata-rata orang Asia akan menemukan hal demikian tidak dapat diterima dan persentase orang yang dapat menerima hal tersebut pasti lebih tinggi di kalangan masyarakat yang berbudaya "barat".

Sebagai seorang percaya, ada kalanya kita sangat dipengaruhi oleh latar belakang budaya dalam menilai suatu hal. Kalau tidak berhati-hati kita bisa saja "menghakimi" sesama orang percaya bukan berdasarkan standar dari Tuhan tetapi menurut tolok ukur budaya. Dalam menaati Alkitab sekalipun, kita harus dapat memilah apa yang merupakan prinsip (nomos) dari Tuhan dan apa yang merupakan budaya orang Yahudi. Ketidakmampuan untuk memilah di antara keduanya bisa saja membuat kita menaati apa yang sebetulnya hanya merupakan hal yang bersifat eksternal. Karena ini, apakah kita lebih mengagumi budaya barat, timur atau timur tengah, sebagai orang percaya, kita haruslah memastikan bahwa semua dasar pernilaian dan juga cara kita menjalani kehidupan kita didasarkan pada kitab pedoman hidup yang diberikan Tuhan bukan pada pengaruh budaya.

Dalam hal hidup bersama umpamanya. Alkitab menggambarkan kepada kita satu masyarakat yang hidup dalam satu hubungan sosial dengan tingkat keakraban yang sangat tinggi. Kita tahu bahwa masyarakat Kristen yang pertama secara khususnya bermula setelah Roh Kudus dicurahkan di hari Pentakosta seperti yang digambarkan di  Kitab Para Rasul pasal 2. Di ayat 46, masyarakat Kristen yang pertama ini digambarkan sebagai orang yang dengan tekun dan sehati berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Secara bergilir mereka juga makan bersama di rumah masing-masing, dengan penuh gembira dan dengan tulus hati. Dari sini jelaslah bahwa rencana Tuhan bagi masyarakat Kristen adalah satu kehidupan dengan tingkat interaksi yang sangat tinggi dan bukan masyarakat yang individulistik. Dan memang tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat modern yang telah dipengaruhi budaya barat lebih condong ke pola kehidupan yang individualistik. Satu contoh yang kecil adalah setahu saya tidak ada frase dalam bahasa Inggris yang dapat menerjemahkan arti dari kata "gotong royong" dengan tepat. Apakah mungkin ini adalah karena konsep "gotong royong" ini memang satu hal yang asing bagi masyarakat barat?

Tetapi apakah ini berarti sebagai masyarakat yang berbudaya timur, kita dapat memberi selamat kepada diri sendiri karena merasa kita kurang individualistik dibandingkan dengan masyarakat yang berbudaya barat, dan karena itu kita "lebih baik"? Pada kenyataannya kita masih jauh dari "budaya" Alktabiah atau menurut standar Alkitab.

Di pasal 2 Kitab Para Rasul yang dikutip tadi, di ayat-ayat 44 hingga 46, melukiskan bagi kita bukan saja satu masyarakat sosial yang tidak individualistik tetapi dikatakan bahwa semua orang yang telah percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. Wah, ini benar-benar mencengangkan! Semua kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama!! Itu berarti tidak ada tembok yang memisahkan yang berpunya dan yang tidak berpunya. Barangmu juga adalah barangku. Tidak ada yang akan kekurangan, semuanya saling membagi.

Apakah hal ini dapat dilakukan oleh manusia yang pada dasarnya lebih mengutamakan diri sendiri? Kalau semua menjadi milik bersama berarti barang kita pasti akan cepat habis dan malah tidak akan pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang. Makanya di ayat 45 kita diberitahu bahwa selalu ada saja di antara mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.

Wah, cara Tuhan ingin kita bermasyarakat ini terlalu tidak manusiawi. Kita harus berani jujur - ayat 44 dan 45 itu bukan saja sulit tetapi sebetulnya mustahil untuk dilakukan! Dan ternyata Tuhan juga sependapat. Ia jauh-jauh hari sudah memberitahu kita di Matius 19 - memang bagi manusia hal ini tidak mungkin(berarti mustahil), tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin (ayat 26). Segala sesuatu adalah mungkin, berarti tidak ada hal yang mustahil. Jika demikian, dengan berkata bahwa hal ini tidak mungkin, bukankah secara tidak langsung kita sedang berkata Tuhan sudah berbohong kepada kita?

Namun yang nyata adalah orang-orang percaya di Kisah Para Rasul pasal 2 itu sudah membuktikan bahwa adalah mungkin untuk hidup dalam kemustahilan. Bagaimana yang mustahil dapat menjadi mungkin dalam hidup mereka? Fokus utama Kisah Para Rasul pasal 2 adalah Roh Kudus. Mereka mampu melakukan hal yang mustahil itu bukan karena mereka hebat tetapi karena Allah. Inilah penggenapan Matius 19 ayat 26, bagi manusia hal ini mustahil tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin. Apa yang gagal dilakukan oleh orang kaya muda itu (yaitu menjual segala miliknya), berhasil dilakukan oleh jemaat gereja mula-mula.

Semoga ini menjadi satu inspirasi bagi kita bahwa kehidupan yang dijalani lewat kuasa Roh Kudus senantiasa akan dapat mengerjakan hal-hal yang bagi manusia tidak mungkin. Dan tidak kira apakah latar belakang kita, yang pasti kita adalah warga kerajaan surgawi, dan hanyalah "hukum" Raja dari Kerajaan surgawi yang berlaku bagi kita. Apakah hukum Raja itu atau yang disebut sebagai the royal law oleh rasul Yakobus? Rasul Yakobus menulis di kitab Yakobus pasal 2, ayat 8 bahwa hukum raja (yang diterjemahkan ITB sebagai hukum utama) adalah, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri". Jadi apakah kita berbudaya barat atau timur, di mata Tuhan tidak ada yang lebih unggul dari budaya kasih.

[Download]


Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.

Standard
Besar
Terbesar

Artikel:

- Apa motivasi kebaikan kita?

- Doa yang menyenangkan Allah

- Apakah berdoa itu suatu beban?

- Bagaimana memuliakan Allah di tempat kerja?

- Apakah Anda bekerja untuk Allah atau bersamaNya?

- Saya suka Kristus Anda. Tapi saya tidak suka dengan orang Kristen Anda

- Doa Santo Francis dari Asisi

- Bagaimana Anda tidak dapat menjadi Anak Allah

- Dipimpin oleh kehendak Allah

- Allah bukanlah sebongkah kayu

- Orang yang dipakai Allah

- Kita bukan konsumen. Kita adalah manusia

- Kesatuan membawa pemulihan

- Allah menanggapi Anda dengan serius

- Segenap hati, jiwa, pikiran dan kekuatan kita telah ditebus

- Lukisan Last Supper oleh Leonardo Da Vinci

- Pencarian akan Kebahagiaan

- Pesan seorang ateis bagi kita

- Kebangkitan Kristus

- Sedikit Air dan Roti

- Semuanya langsung tunduk, kecuali manusia

- Iman dan keraguan

- Sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya.

- Billy Graham: Penyesalan dan Himbauannya

- Apa yang harusnya menjadi tekad tahun baru orang Kristen?

- Natal - Apakah yang menjadikannya penting?

- Saya percaya...

- Gereja Eksis bukan untuk Kepentingan Anggotanya

- Perbedaan bukan berarti perpecahan

- Apakah Anda datang ke gereja sebagai konsumen?

- Apakah gereja benar-benar perlu bagi orang Kristen?

- Apakah kita kerabatnya Tuhan?

- Rumah di sisi jalan

- Mengapa seringkali kita menjadi orang bodoh?

- Hati yang terarah pada Surga

- Bagaimana kita dapat melakukan kehendak Tuhan?

- Tuhan, apakah yang harus kuperbuat?

- Doa bukan "ban serep"

- Bagaimana mengenal pengajar dan nabi palsu?

- Dosa Kelalaian

- Doa Seorang Anak

- Andai aku dapat menghentikan satu hari merana

- Di mana ada kasih, di situlah Allah ada

- Anggaplah hari itu sia-sia

- Tidak Berarti di Mata Dunia

- Ciri orang yang menghayati doa

- Bagaimana menangani kekhawatiran?

- Rahasia Doa

- Memahami Hukum Taurat dalam Terang Roh

- Bagaimana Kebenaran Memerdekakan?

- Kamu akan Mengetahui Kebenaran

- Jangan Kuatir... Kristus Telah Bangkit!

- Bagaimana Menjadi Seorang Pembangun Umat?

- Waspadalah Terhadap Roh Pasif

- Mengapa Kita Berdoa Sebelum Makan?

- Apakah Hari Sabat Diciptakan untuk Manusia?

- Orang-orang Kristen itu

- Bagaimana Mengendalikan Amarah Kita

- Tujuh Cara untuk Melindungi Pernikahan Anda dari Kejatuhan Moral

- Lima Resolusi Tahun Baru untuk Pemimpin Kristen

- Dalam memberi kita menerima

- Mengapa Allah mengizinkan rasa sakit?

- Pertobatan yang Sejati dan yang Palsu - 2

- Pertobatan yang Sejati dan yang Palsu - 1

- Bagaimana Menghindari Daya Tarik yang Fatal?

- Apakah Anda Masih Tidur dan Beristirahat?

- Bagaimana Memaafkan Orang yang telah Menyakiti Kita

- Cara Yesus Menyembuhkan

- Bagaimana Menangani Amarah?

- Apakah Anda masih dikagumkan dengan Alkitab?

- Kemunduran Agama, Salah Siapa?

- Bagaimana Meminta Pemulihanan dari Allah?

- Yesus Tidak Takut disalah-pahami

- Bagaimana Menangani Keraguan?

- Apakah Kita Terlalu Banyak Bicara?

- Kita Perlu Memperlambat Pekerjaan Kita

- Maut Harus Dialami Setiap Hari

- Penderitaan itu Milik Siapa?

- Melayani Orang yang Mengalami Krisis Pribadi

- Cara Tuhan Bekerja

- Logika yang Sederhana

- Mengapa orang-orang berteriak?

- Paskah: Pengadilan Yesus

- Ahhhh... akhirnya engkau mengerti

- Rencana Sempurna dari Iblis

- Bila aku adalah Iblis

- Ingat Bebek Itu

- Apakah Gubuk-mu Terbakar?

- Kehidupan Lebih dari Apa yang Tampak

- Potret Seorang Anak

- Yesus Seorang Pecundang

- Suatu Kelahiran yang Tidak Diperhatikan

- Mentalitas Seorang yang Besar

- Pendidikan Tanpa Hikmat Tidak Ada Artinya

- Menanti Hari Itu

- Yesus dan Agama Lain

- Anda Ada Bukan Karena Kebetulan

- Takut akan Tuhan

- Celana Basah

- Perlakukan Orang Lain dengan Baik

- Kualitas Seorang Pemimpin

- Mengapa Orang Kristen Tidak Bertumbuh?

- Mengasihi Teman Sekamar Saya, mungkinkah?

- Hikmat Secangkir Kopi Panas

- Kehidupan Rohani ibarat Maraton

- Push-Up dan Donut

- 5 Alat Untuk Pertumbuhan Rohani

- 5 Roti dan 2 Ikan

- Adakah Hari Esok Bagimu?

- Apa artinya Natal?

- Apakah Anda Luput dari Kesalahan?

- Apakah Semua yang Meminta akan Mendapatkan?

- Apa Resolusi Tahun Baru Anda?

- Apa yang Akan Kau Minta dari Tuhan?

- "Ayo, kita gereja di Starbuck aje deh!"

- Bagaimana Mengetahui Kehendak Tuhan?

- Berdiam diri di dalam Tuhan - Sumber Kekuatan Sejati

- Cara untuk Mengembangkan Sukacita

- Calon Pendeta yang Pasti ditolak Gereja

- Dampak Pengampunan

- Dengarkan Tuhan Bukan Diri Kita Sendiri

- Di Manakah Tuhan?

- Doa Seorang Nabi Kecil

- Dunia Kita yang Penuh Kata-kata

- Empat Istri

- Hanya Ketidak-Sempurnaan yang Tidak Dapat Menolerir Ketidak-Sempurnaan

- Hari Ini

- Jangan Lupa Paspor dan Tiket Pesawat Anda

- Jangan Menilai Buku dari Sampulnya

- Janganlah Kamu Menghakimi

- Kebaikan dan Kebesaran

- Keheningan

- Ketidak-percayaan Kita

- Kita Tidak Cukup Rendah

- Lepaskan Dulu

- Takut akan Maut

- Kapan Malam Berakhir?

- Kejujuran Tidak Pernah Merugikan

- Kekurangan Orang Lain Harus Ditanggung Dalam Kasih

- Kerendahan Hati, Benar dan Palsu

- Kunci menaati Perintah Tuan Empunya Tuaian

- Mukjizat Natal - Kisah-kisah Nyata

- Menara Api di tengah Kegelapan Dunia

- Mengalahkan Kejahatan dengan Kebaikan, Mungkinkah?

- Mengasihi Seperti Diri Sendiri

- Menggerakkan Orang Lewat Doa

- Natal, Musim untuk Berbuat Baik?

- Nilai sebuah Kehidupan

- Orang yang Melukai kita Harus Dikasihi dan Disambut sebagai Tangan Tuhan

- Pendeta diabaikan di Gerejanya Sendiri

- Pengaruh Kristus

- Pengkhotbah yang Populer

- Pentingnya Pergumulan

- Pentingnya Sikap

- Peraturan Umum Dalam Penggunaan Waktu dan Hidup Kudus

- Percakapan antara Orang Kudus dan Filsuf

- Peringatan tentang Mendambakan Keberhasilan Spiritual

- Persahabatan dengan 'Musuh'

- Praktik lawan Ucapan

- Rangkulan Seorang Bayi

- Resiko seorang Hamba Tuhan

- Salib dan Si Aku

- Salib, Sumber Kegembiraan Kita

- Satu Kisah Cinta

- Sejauh Manakah Anda Rela Melangkah untuk Tuhan?

- Sekilas Hikmat dari Billy Graham

- Sensitivitas kepada Teguran adalah Tanda Pasti bahwa kita Membutuhkannya

- Sesungguhnya Buta

- Setinggi-tingginya Tupai Melompat

- Siapa Bilang Tidak Ada Sinterklas?

- Tidak semua hal dapat dilihat dengan mata

- Tujuan Ciptaan Baru

- Warisan Pengampunan

- Yang Paling Diberkati

- Yang Sudah Berlalu

Copyright 2003-2012. Semua materi di situs ini adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries.
E-mail kami untuk mendapatkan izin untuk menggunakan materi di situs ini.
Best viewed with IE6.0 and 1024 by 768 resolution.