| Saran & Komentar | updated on 16 April 2012

Menerangi Jalan Anda Menuju Allah Sumber Pengharapan

Halaman Utama

  |  Tentang Kami

  |  Hubungi Kami

  |  Izin Pemakaian Materi 

  |  Dapatkan Buletin Gratis di sini! 

Sumber Damai

Khotbah/PA


Inspirasi

Artikel/Renungan

Kesaksian Hidup


Pelatihan

Discipleship Trainings


Lain-Lain...

Buku-buku Terbitan 

Lagu dan Film 

Bible Study (P.A)

Siaran Mandarin

Buletin Gratis!

Follow Us


BACA ONLINE


KATA PENGANTAR

Apakah gereja benar-benar perlu bagi orang Kristen?

Philip Yancey

Saya besar di dalam lingkungan gereja dengan ajaran fundamentalisme yang sangat keras. Pada waktu saya ke luar untuk merasakan luasnya dunia, saya menolak lingkungan legalistik dari masa kanak-kanak saya. Tiba-tiba kata-kata yang dipakai gereja terdengar seperti tipuan belaka. Mereka berbicara tentang anugerah tetapi sesungguhnya mereka hidup dengan hukum, mereka berbicara tentang kasih tetapi sesungguhnya mereka memperlihatkan tanda-tanda kebencian. Sayangnya, ketika saya keluar dari fundamentalisme bagian Selatan Amerika Serikat tersebut, saya tidak hanya menyingkirkan kemunafikannya tetapi juga tubuh gereja (body of believers).

Pertanyaan yang muncul adalah apakah gereja benar-benar perlu bagi orang Kristen yang sudah percaya? Saya rasa saya tidak sendirian mempertanyakan hal ini. Jauh lebih sedikit orang yang pergi ke gereja di hari Minggu daripada orang yang mengklaim dirinya menjadi pengikut Kristus.

Beberapa orang mempunyai cerita yang sama dengan saya; mereka kecewa atau malah mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan dari gereja mereka. Beberapa orang dengan sederhananya berkata bahwa mereka, "tidak mendapatkan apa-apa dari gereja." Mengikut Yesus adalah satu hal; mengikut orang Kristen lainnya di dalam kebaktian di Minggu pagi adalah hal yang lain.

Setelah saya merenungkan perjalanan ziarah saya, saya bisa menemukan beberapa penghalang yang menjauhkan saya dari gereja. Pertama adalah kemunafikan. Seorang filsuf atheis, Friedrich Nietzche sekali waktu pernah ditanya, apakah yang membuat dirinya berpikiran sangat negatif terhadap orang Kristen. Dia menjawab, "Saya akan percaya pada jalan keselamatan mereka, apabila mereka sedikit lebih terlihat seperti orang yang sudah diselamatkan."

Pada masa kanak-kanak saya, karena ditakuti dengan fundamentalisme yang kuat, saya mendekati gereja dengan sangat berhati-hati. Setiap Minggu pagi, orang-orang Kristen berpakaian rapi dan tersenyum satu sama lainnya, tetapi saya tahu dari pengalaman pribadi saya bahwa wajah-wajah itu menyelubungi hati yang licik. Saya memberikan reaksi yang sangat keras terhadap kemunafikan yang semacam itu sampai satu waktu, satu pertanyaan muncul, "Apakah yang akan terjadi dengan gereja jika setiap anggota jemaatnya seperti saya?"

Dengan rendah hati, saya mulai berkonsentrasi dengan spiritualitas saya sendiri, bukan dengan orang lain.

Pada akhirnya  saya berpikir bahwa Tuhan sendiri yang akan menghakimi kemunafikan yang ada di dalam gereja: saya tinggalkan penilaian tersebut di dalam tangan Tuhan yang cakap. Saya mulai merasa santai dan bertumbuh dengan mulus, lebih dapat mengampuni orang lain. Bagaimanapun juga, siapakah yang pernah mempunyai istri yang sempurna, atau orangtua yang sempurna, atau anak-anak yang sempurna? Kita tidak dapat memutuskan ikatan keluarga hanya karena ketidaksempurnaan. Lalu, mengapa harus berputus asa terhadap gereja?

Saya menikmati kelompok kecil di mana orang-orang berbicara mengenai kehidupannya, berdiskusi tentang iman, dan berdoa bersama-sama. Dalam kebaktian gereja formal, berbagai rutinitas, pengulangan-pengulangan, warta jemaat, pengumunan, dan acara duduk dan berdiri itu memang bisa sangat mengganggu. Saya tertolong ketika saya membaca tulisan yang ditulis oleh C. S Lewis dan orang Kristen lainnya yang berharap untuk memuji Tuhan tetapi merasakan gereja hanyalah sebagai penghambat daripada penolong. Contohnya Anne Dillard, pemenang Pulitzer Prize pernah menggambarkan gereja seperti ini,

Dari minggu ke minggu saya tergugah dengan perasaan sedih melihat karpet gersang dan juga oleh nyanyian kosong, pembacaan Alkitab yang tidak bersemangat, liturgi yang kosong dengan suara yang diseret-seret, khotbah yang menakutkan, dan juga oleh kabut kejenuhan yang mengiringi semuanya itu. Semuanya itu terus menerus ada dan mungkin hal itu yang justru menyebabkan kita datang, kita kembali lagi, kita muncul lagi, minggu demi minggu, kita terus melewatinya.

Selama bertahun-tahun, rutinitas gereja, rutinitas yang pernah menjengkelkan saya, terasa nyaman, senyaman memakai sepasang sepatu lama. Sekarang saya menyukai lagu-lagu himne, saya tahu kapan harus berdiri dan kapan harus duduk, saya mendengarkan pengumuman karena ini menyangkut aktivitas di mana saya terlibat.

Apa yang sudah mengubah pemikiran saya tentang gereja? Seorang yang skeptis mungkin berkata bahwa saya membuang pengharapan saya, atau mungkin saya 'terbiasa' dengan gereja dan kepalsuannya, saya terbiasa dengan opera ini. Tetapi saya merasakan sesuatu yang berbeda: gereja sudah mengisi hidup saya dengan cara yang tidak bisa saya jumpai di tempat lain. Saint John of the Cross menulis, "Jiwa yang saleh yang sendirian...itu seperti batubara yang sendirian. Batubara itu akan menjadi lebih dingin daripada menjadi lebih panas." Saya percaya bahwa pernyataannya ini benar.

Kekristenan tidak hanya sekadar masalah intelektual dan iman pribadi. Kekristenan hanya dapat hidup di dalam suatu komunitas. Mungkin karena alasan ini, saya hampir tidak pernah menarik diri dari gereja. Jauh di dalam lubuk sanubari saya, saya merasa bahwa gereja memiliki sesuatu yang sangat saya butuhkan. Ketika saya meninggalkan gereja untuk suatu waktu, saya menemukan bahwa sebenarnya sayalah yang paling menderita. Iman saya memudar, dan perasaan kasih yang ada di dalam hidup saya juga turut ikut memudar. Saya menjadi semakin dingin.

Sekarang ini, walaupun kehidupan bergereja saya pasang surut, saya sukar membayangkan kehidupan tanpa gereja. Ketika istri saya dan saya pindah ke daerah lain, prioritas utama kami adalah mencari gereja. Kalau kami melewati satu hari Minggu tanpa gereja, maka kami akan merasakan kehampaan.

Bagaimana caranya saya berubah dari seorang yang skeptis terhadap gereja menjadi seorang yang menyokong gereja, dari seorang penonton menjadi seorang yang turut berpartisipasi? Dapatkah saya mengatakan apa yang sudah mengubah sikap saya terhadap gereja? Saya dapat menjawab dengan mengatakan bahwa selama bertahun-tahun, saya sudah menemukan apa yang harus dicari dalam sebuah gereja.

Di masa kecil saya, saya tidak punya pilihan gereja selain gereja yang biasa saya datangi. Kemudian,  saya berpindah-pindah gereja, mencoba sana sini. Proses ini mengajarkan kepada saya bahwa kunci untuk mencari gereja yang tepat terletak pada diri kita sendiri. Ini melibatkan cara saya memandang dan menilai sesuatu. Sekali saya belajar bagaimana untuk melihat, masalah seperti denominasi, menjadi tidak begitu penting.

Yang saya maksudkan adalah, pada waktu saya ke gereja, saya belajar untuk memandang ke atas, ke sekeliling,  ke luar dan ke dalam. Cara pandang yang baru ini sudah menolong saya untuk berhenti mengkritik, tetapi sebaliknya saya belajar untuk memberi toleransi dan juga untuk mencintainya.

Saya yakin kalau kita memiliki cara pandang ini, kita dapat mengubah pemahaman kita tentang gereja yang seharusnya. Sewaktu kita mempunyai visi yang benar tentang gereja, sebagai seorang yang ikut terlibat di dalamnya, kita dapat menolong untuk mengubah gereja menjadi tempat yang seperti Allah maksudkan.

(Apa yang dimaksudkan dengan memandang ke atas, ke sekeliling, ke luar dan ke dalam akan dijabarkan di artikel yang selanjutnya)

Dikutip dan diedit dari buku "Mengapa Risau karena Gereja?" karangan Philip Yancey

[Download]


Sulit dibaca? Ganti ukuran huruf di sini.

Standard
Besar
Terbesar

Artikel:

- Apa motivasi kebaikan kita?

- Doa yang menyenangkan Allah

- Apakah berdoa itu suatu beban?

- Bagaimana memuliakan Allah di tempat kerja?

- Apakah Anda bekerja untuk Allah atau bersamaNya?

- Saya suka Kristus Anda. Tapi saya tidak suka dengan orang Kristen Anda

- Doa Santo Francis dari Asisi

- Bagaimana Anda tidak dapat menjadi Anak Allah

- Dipimpin oleh kehendak Allah

- Allah bukanlah sebongkah kayu

- Orang yang dipakai Allah

- Kita bukan konsumen. Kita adalah manusia

- Kesatuan membawa pemulihan

- Allah menanggapi Anda dengan serius

- Segenap hati, jiwa, pikiran dan kekuatan kita telah ditebus

- Lukisan Last Supper oleh Leonardo Da Vinci

- Pencarian akan Kebahagiaan

- Pesan seorang ateis bagi kita

- Kebangkitan Kristus

- Sedikit Air dan Roti

- Semuanya langsung tunduk, kecuali manusia

- Iman dan keraguan

- Sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya.

- Billy Graham: Penyesalan dan Himbauannya

- Apa yang harusnya menjadi tekad tahun baru orang Kristen?

- Natal - Apakah yang menjadikannya penting?

- Saya percaya...

- Gereja Eksis bukan untuk Kepentingan Anggotanya

- Perbedaan bukan berarti perpecahan

- Apakah Anda datang ke gereja sebagai konsumen?

- Apakah gereja benar-benar perlu bagi orang Kristen?

- Apakah kita kerabatnya Tuhan?

- Rumah di sisi jalan

- Mengapa seringkali kita menjadi orang bodoh?

- Hati yang terarah pada Surga

- Bagaimana kita dapat melakukan kehendak Tuhan?

- Tuhan, apakah yang harus kuperbuat?

- Doa bukan "ban serep"

- Bagaimana mengenal pengajar dan nabi palsu?

- Dosa Kelalaian

- Doa Seorang Anak

- Andai aku dapat menghentikan satu hari merana

- Di mana ada kasih, di situlah Allah ada

- Anggaplah hari itu sia-sia

- Tidak Berarti di Mata Dunia

- Ciri orang yang menghayati doa

- Bagaimana menangani kekhawatiran?

- Rahasia Doa

- Memahami Hukum Taurat dalam Terang Roh

- Bagaimana Kebenaran Memerdekakan?

- Kamu akan Mengetahui Kebenaran

- Jangan Kuatir... Kristus Telah Bangkit!

- Bagaimana Menjadi Seorang Pembangun Umat?

- Waspadalah Terhadap Roh Pasif

- Mengapa Kita Berdoa Sebelum Makan?

- Apakah Hari Sabat Diciptakan untuk Manusia?

- Orang-orang Kristen itu

- Bagaimana Mengendalikan Amarah Kita

- Tujuh Cara untuk Melindungi Pernikahan Anda dari Kejatuhan Moral

- Lima Resolusi Tahun Baru untuk Pemimpin Kristen

- Dalam memberi kita menerima

- Mengapa Allah mengizinkan rasa sakit?

- Pertobatan yang Sejati dan yang Palsu - 2

- Pertobatan yang Sejati dan yang Palsu - 1

- Bagaimana Menghindari Daya Tarik yang Fatal?

- Apakah Anda Masih Tidur dan Beristirahat?

- Bagaimana Memaafkan Orang yang telah Menyakiti Kita

- Cara Yesus Menyembuhkan

- Bagaimana Menangani Amarah?

- Apakah Anda masih dikagumkan dengan Alkitab?

- Kemunduran Agama, Salah Siapa?

- Bagaimana Meminta Pemulihanan dari Allah?

- Yesus Tidak Takut disalah-pahami

- Bagaimana Menangani Keraguan?

- Apakah Kita Terlalu Banyak Bicara?

- Kita Perlu Memperlambat Pekerjaan Kita

- Maut Harus Dialami Setiap Hari

- Penderitaan itu Milik Siapa?

- Melayani Orang yang Mengalami Krisis Pribadi

- Cara Tuhan Bekerja

- Logika yang Sederhana

- Mengapa orang-orang berteriak?

- Paskah: Pengadilan Yesus

- Ahhhh... akhirnya engkau mengerti

- Rencana Sempurna dari Iblis

- Bila aku adalah Iblis

- Ingat Bebek Itu

- Apakah Gubuk-mu Terbakar?

- Kehidupan Lebih dari Apa yang Tampak

- Potret Seorang Anak

- Yesus Seorang Pecundang

- Suatu Kelahiran yang Tidak Diperhatikan

- Mentalitas Seorang yang Besar

- Pendidikan Tanpa Hikmat Tidak Ada Artinya

- Menanti Hari Itu

- Yesus dan Agama Lain

- Anda Ada Bukan Karena Kebetulan

- Takut akan Tuhan

- Celana Basah

- Perlakukan Orang Lain dengan Baik

- Kualitas Seorang Pemimpin

- Mengapa Orang Kristen Tidak Bertumbuh?

- Mengasihi Teman Sekamar Saya, mungkinkah?

- Hikmat Secangkir Kopi Panas

- Kehidupan Rohani ibarat Maraton

- Push-Up dan Donut

- 5 Alat Untuk Pertumbuhan Rohani

- 5 Roti dan 2 Ikan

- Adakah Hari Esok Bagimu?

- Apa artinya Natal?

- Apakah Anda Luput dari Kesalahan?

- Apakah Semua yang Meminta akan Mendapatkan?

- Apa Resolusi Tahun Baru Anda?

- Apa yang Akan Kau Minta dari Tuhan?

- "Ayo, kita gereja di Starbuck aje deh!"

- Bagaimana Mengetahui Kehendak Tuhan?

- Berdiam diri di dalam Tuhan - Sumber Kekuatan Sejati

- Cara untuk Mengembangkan Sukacita

- Calon Pendeta yang Pasti ditolak Gereja

- Dampak Pengampunan

- Dengarkan Tuhan Bukan Diri Kita Sendiri

- Di Manakah Tuhan?

- Doa Seorang Nabi Kecil

- Dunia Kita yang Penuh Kata-kata

- Empat Istri

- Hanya Ketidak-Sempurnaan yang Tidak Dapat Menolerir Ketidak-Sempurnaan

- Hari Ini

- Jangan Lupa Paspor dan Tiket Pesawat Anda

- Jangan Menilai Buku dari Sampulnya

- Janganlah Kamu Menghakimi

- Kebaikan dan Kebesaran

- Keheningan

- Ketidak-percayaan Kita

- Kita Tidak Cukup Rendah

- Lepaskan Dulu

- Takut akan Maut

- Kapan Malam Berakhir?

- Kejujuran Tidak Pernah Merugikan

- Kekurangan Orang Lain Harus Ditanggung Dalam Kasih

- Kerendahan Hati, Benar dan Palsu

- Kunci menaati Perintah Tuan Empunya Tuaian

- Mukjizat Natal - Kisah-kisah Nyata

- Menara Api di tengah Kegelapan Dunia

- Mengalahkan Kejahatan dengan Kebaikan, Mungkinkah?

- Mengasihi Seperti Diri Sendiri

- Menggerakkan Orang Lewat Doa

- Natal, Musim untuk Berbuat Baik?

- Nilai sebuah Kehidupan

- Orang yang Melukai kita Harus Dikasihi dan Disambut sebagai Tangan Tuhan

- Pendeta diabaikan di Gerejanya Sendiri

- Pengaruh Kristus

- Pengkhotbah yang Populer

- Pentingnya Pergumulan

- Pentingnya Sikap

- Peraturan Umum Dalam Penggunaan Waktu dan Hidup Kudus

- Percakapan antara Orang Kudus dan Filsuf

- Peringatan tentang Mendambakan Keberhasilan Spiritual

- Persahabatan dengan 'Musuh'

- Praktik lawan Ucapan

- Rangkulan Seorang Bayi

- Resiko seorang Hamba Tuhan

- Salib dan Si Aku

- Salib, Sumber Kegembiraan Kita

- Satu Kisah Cinta

- Sejauh Manakah Anda Rela Melangkah untuk Tuhan?

- Sekilas Hikmat dari Billy Graham

- Sensitivitas kepada Teguran adalah Tanda Pasti bahwa kita Membutuhkannya

- Sesungguhnya Buta

- Setinggi-tingginya Tupai Melompat

- Siapa Bilang Tidak Ada Sinterklas?

- Tidak semua hal dapat dilihat dengan mata

- Tujuan Ciptaan Baru

- Warisan Pengampunan

- Yang Paling Diberkati

- Yang Sudah Berlalu

Copyright 2003-2012. Semua materi di situs ini adalah milik eksklusif Cahaya Pengharapan Ministries.
E-mail kami untuk mendapatkan izin untuk menggunakan materi di situs ini.
Best viewed with IE6.0 and 1024 by 768 resolution.